Share

Bab 50

Penulis: Lin shi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-02 21:02:55

"Sedikit, ada. Tapi, tidak sampai berlarut-larut. Kita harus melanjutkan kehidupan. Yang sudah pergi, biarkan pergi," kata Endang dengan santainya.

Dinda dan Danang saling berpandangan, tidak percaya dengan ucapan Endang. Mereka merasa bahwa sikap Endang terlalu berlebihan, seolah-olah kehilangan Papa tidak berarti apa-apa baginya.

"Tapi, Ma, kita kan harus bersedih. Itu wajar, kan?" ucap Dinda dengan nada yang sedikit kecewa.

"Oh, Dinda, kamu ini terlalu cengeng. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Hidup itu harus terus berjalan," jawab Endang dengan nada yang sedikit meremehkan.

Dinda merasa kesal dengan sikap ibunya. Ia merasa bahwa Endang tidak memahami kesedihan yang mereka rasakan.

"Mama, Kak Dina pasti sedih sekarang. Dia baru saja kehilangan ayahnya," kata Dinda dengan nada yang sedikit emosi.

"Oh, Dinda, kamu ini terlalu sentimental. Jangan ikut-ikutan sedih. Kamu kan masih muda, banyak hal yang bisa kamu lakukan," jawab Endang dengan nada yang cuek.

Dinda t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 51

    Tapi persetujuan mamanya untuk memberikan modal kepada Danang mendapat pertentangan dari Dinda. "Mama, jangan begitu saja memberikan modal kepada Mas Danang. Mama harus bertanya apa usaha Mas Danang yang akan didirikannya. Jangan sampai modal Mama nanti terbuang dengan sia-sia ya," kata Dinda dengan nada khawatir.Danang dan mamanya memandang Dinda. "Usaha yang akan Mas dirikan sudah Mas pikirkan dengan matang-matang, Dinda. Mas tidak akan pernah gagal," kata Danang dengan suara yang keras, berusaha meyakinkan adiknya."Oh ya? Sudah Mas memikirkan matang-matang usaha apa yang Mas ingin dirikan?" tanya Dinda dengan nada penasaran, berusaha untuk menggali lebih dalam tentang rencana kakaknya."Restoran. Mas ingin membuka usaha restoran, bekerjasama dengan seorang teman," jawab Danang dengan penuh keyakinan."Restoran? Apa yang tahu Mas mengenai restoran? Mengenai masak-memasak, menu yang disukai orang?

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 52

    Setelah selesai bicara dengan Dina, Deni keluar dan berhenti depan pintu kamar bundanya. Ia mendengar suara bundanya yang seperti berbicara, nada suaranya terdengar sedikit sedih. Deni kemudian membuka pintu kamar bundanya sedikit dan melihat sang bunda duduk dengan memegang pigura foto. Deni tahu, pasti gambar ayahnya yang bundanya pegang.Deni menutup pintu kamar bundanya dengan lembut. Ia merasa sedih melihat bundanya yang berusaha untuk tegar di depannya, padahal bundanya pura-pura kuat."Apa yang dikatakan Kak Dina benar, Bunda pura-pura tegar?" gumam Deni dalam hati, matanya berkaca-kaca.Deni merasakan kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan sosok ayahnya yang sangat ia cintai. Ia merasa bahwa hanya dirinya dan Kakaknya yang benar-benar merasakan kehilangan yang mendalam, sedangkan sang bunda sudah iklas, karena ia tidak melihat raut wajah sedih sang bunda. Ternyata, bundanya berusaha untuk tegar di depan mereka, dengan menunjukkan raut wajah biasa-biasa saja dihadapan mereka.D

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 53

    Dina terdiam,hatinya terasa hancur mendengar ucapan ayahnya. Ia merasakehilangan arah,tidak tahu harus berbuat apa. Iamencintai Danang dengan sepenuh hati,namunia merasatakutkehilangan Danang."Ayah, aku takut kehilangan Danang," kata Dina, suaranya bergetar menahan tangis."Tidak ada yang harus ditakutkan, Nak. Kamu harus berani menghadapi kenyataan. Jika dia tidak lagi mencintaimu, maka lepaskanlah dia. Carilah kebahagiaanmu sendiri," kata ayahnya."Ayah, aku tidak mau kehilangan Danang," kata Dina, suaranya bergetar menahan tangis."Kamu harusberanimenentukan pilihanmu sendiri,Nak," kata ayahnya dengan suara yang lembut, namun terdengar tegas."Ayah, aku takut," kata Dina, suaranya bergetar menahan tangis."Janga

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 54

    "Kenapa dia pulang tidak bilang-bilang? Apa aku pulang sekarang?" Danang melirik jam."Sudah jam setengah satu malam.""Biarlah, sudah malam." Danang meletakkan ponselnya dan kemudian mengambil guling untuk dipeluknya. Ia mengabaikan pesan Dina, ia tidak ada niat membalas atau menghubungi Dina. Ternyata masih ada rasa kesal dalam hati Danang, karena Dina yang tidak mau meminta bagian tanah.Pagi harinya, suara mesin mobil dan motor yang berlalu lalang mulai terdengar membuat Dina membuka matanya."Mas Danang tidak pulang juga," gumam Dina, begitu terbangun ia menyadari bahwa hanya ada dia dalam rumah. Kecewa dan sedih menyergapnya."Apa Mas Danang tidak membaca pesanku ?" Dina mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirimnya pada Danang sudah centang dua yang menandakan pesannya sudah di baca Danang."Sudah di baca, tapi tidak dibalas

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 55 Pertengkaran

    Dina terdiam sejenak, ia masih merasa sedih dan kecewa. Ia tidak percaya dengan alasan yang diberikan Danang."Kenapa Mas tidak menghubungi aku?" tanya Dina lagi."Aku sudah mengatakan bahwa aku lupa, Din ! Aku lupa ! Apa kau tidak percaya?" Kata Danang dengan nada suara yang sedikit keras."Mas berbohong," kata Dina."Aku tidak berbohong," jawab Danang lantang."Aku tidak percaya ! Mas berbohong, aku tahu," kata Dina."Din, percayalah, aku tidak berbohong," kata Danang dengan suara yang melembut."Mas berbohong," kata Dina."Din, aku..." Danang terdiam, ia merasa kesal dengan sikap Dina. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menahan emosinya. "Aku tidak berbohong, Din. Aku memang lupa menghubungimu," kata Danang dengan nada yang sedikit meninggi."Pekerjaanku begitu banyak, Din. Kau tidak akan mengerti, kalau aku katakan pekerjaanku banyak. Karena kau hanya di rumah saja !"Dina terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh Danang."Mas menganggap aku tidak mengerti dunia kerj

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 56 bangkit

    Ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi."Alma," gumam Dina, suaranya masih bergetar karena sisa tangis.Ia menjawab telepon itu. "Halo, Al," kata Dina dengan suara yang parau, mencoba untuk terdengar tenang."Din, kamu baik-baik saja kan?" tanya Alma dengan nada yang khawatir, suaranya terdengar cemas."Iya, Al. Kenapa?" jawab Dina,suaranya masih sedikit gemetar."Kenapa aku teriak-teriak di depan rumahmu, kau tidak keluar? Kau sudah balik dari kampung, kan?" tanya Alma."Kau sudah datang?" tanya Dina, suaranya terdengar terkejut."Iyaa! Aku di depan rumahmu seperti seorang penagih hutang ini, Din... ! Cepat keluar, nyonya," Kata Alma,suaranya terdengar sedikit bercanda.Alma menambahkan, "Din, cepat buka pintu!

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 57

    Danang yang berada di kantin pada jam makan siang, mendapatkan ledekan temannya Yoga yang heran melihat pakaian yang dikenakan oleh Danang begitu lusuh."Tumben pakaianmu begitu lusuh, Dan? Sepertinya kau sudah seharusnya memiliki seorang istri, Dan, biar ada yang mengurus dirimu," kata Yoga. Ia mencoba bercanda, namun di balik candanya, ia merasa prihatin dengan keadaan Danang.Danang melihat pakaiannya, "Aku tidur di rumah mama, ini pakaian lamaku," kata Danang. Ia berusaha menjelaskan kondisi pakaian yang dikenakannya."Menikah Dan, biar ada yang membelikan baju untukmu," kata Yoga. Ia masih menganggap Danang masih lajang dan memberikan saran agar Danang segera menikah."Loh...! Bukannya kamu sudah menikah, Dan?" Toni yang datang, heran dengan apa yang dikatakan oleh Yoga. Ia merasa curiga dengan perkataan Yoga."Sudah menikah?" Yoga juga terkejut dengan apa yang d

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 58

    Deni yang sangat penasaran dengan orang yang mengirimkan gambar Danang dengan seorang wanita pada ayahnya, merasa curiga dengan orang yang mengirim gambar itu."Siapa yang mengirim gambar itu pada ayah? Orang itu pasti mengenal ayah," kata Deni seraya melihat gambar Danang yang tersimpan di ponsel ayahnya. Matanya mengerjap, berusaha menangkap detail wajah wanita di samping Danang. Ia mencoba mengingat detail wanita tersebut. Siapa gerangan wanita itu?Deni kemudian mencoba menebak-nebak siapa yang mengirim gambar itu. Ia mengingat orang-orang yang dekat dengan ayahnya. Ingatannya berputar, mencoba mengingat wajah-wajah yang sering terlihat di rumah. "Apakah itu tetangga? Atau teman ayah? Atau mungkin...?" Deni bingung."Orang yang mengirim ini pasti sering ke kota? Tapi siapa?" Deni berpikir dengan keras untuk menemukan orang yang telah mengirim gambar Danang, suami kakaknya tersebut kepada ayahnya. Kepalanya mendongak, matanya menatap langit-langit, seolah mencari jawaban di sana."

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10

Bab terbaru

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 78

    Emosinya semakin memuncak. Dalam hati, Danang menyalahkan Dina atas keterlambatannya, meskipun ia tahu bahwa sebenarnya dirinya yang terlambat bangun. Namun, rasa frustrasi tidak memberinya ruang untuk berpikir jernih."Aku harus cepat! Aku tidak boleh terlambat. Ah... ada rapat pagi ini!" pikir Danang tiba-tiba, ingatannya muncul seperti kilatan yang semakin memperparah kekhawatirannya. Ia menambah kecepatan motornya, berharap waktu berpihak kepadanya."Dina, kau benar-benar membuatku kesal!" gumam Danang, suaranya menggeram penuh emosi. Meski jauh di lubuk hati, ia tahu bahwa kesalahannya sendiri yang membuatnya terlambat, bukan sepenuhnya salah Dina.Gas motor ditarik semakin kuat, Danang melaju dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian jalan kota yang sibuk. Suara klakson kendaraan lain menyatu dengan deru mesin motornya, namun Danang tak peduli. Fokusnya hanya satu—mencapai kantor secepat mungk

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 77

    Danang terbangun dengan terkejut saat sinar mentari yang terang langsung menerpa wajahnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan yang masih buram. Pandangannya segera tertuju ke jam dinding, dan matanya melebar saat melihat angkanya."Sudah siang!" serunya dengan nada panik, hampir melompat dari tempat tidur. "Jam setengah delapan!"Ia bangkit dengan tergesa-gesa, satu tangannya menyisir rambut yang acak-acakan, dan wajahnya terlihat tegang. Sambil menghela napas frustrasi, ia berseru dengan nada sedikit meninggi, "Dina! Kenapa aku tidak dibangunkan?"Di dapur, Dina mendengar suara teriakan Danang. Ia menghentikan sejenak gerakannya yang sedang mengaduk secangkir kopi. Dengan ekspresi datar, ia mengedikkan bahunya santai, seolah tak peduli. "Emang aku pengasuh," gumamnya pelan, bibirnya menyunggingkan senyum kecil yang tampak sinis. Tanpa mengubah langkahnya, ia kembali melanjutkan kegi

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 76

    Dina tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh Danang. Tubuh dan pikirannya menolak sentuhan Danang. Pikirannya menyuruh Dina untuk mendorong tubuh Danang menjauhinya. Pelukan dan ciumannya, yang biasanya menjadi sumber ketenangan, sekarang terasa seperti sangkar, menjebaknya dalam labirin perasaan yang tak terucapkan.Kehadiran Danang, yang dulunya menjadi sumber kenyamanan, sekarang terasa seperti pengingat konstan tentang kebencian yang tak terucapkan. Dia adalah teka-teki yang tidak bisa dia pecahkan, melodi yang tidak bisa dia uraikan. Dan seiring berjalannya malam, Dina tahu bahwa satu-satunya cara untuk melarikan diri dari siksaan ini adalah dengan menghadapi kebenaran, menghadapi emosi yang menawannya, dan menemukan keberanian untuk mengucapkan kata-kata yang terjebak di hatinya. Tapi, Dina tidak ingin melakukannya, di saat dia begitu letih dengan apa yang dialaminya hari ini.Tubuh Dina tiba-tiba meronta, "Lepas!!" serunya dengan

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 75

    Dina masuk ke dalam kamar dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam."Belum pulang juga," gumamnya. Dina kemudian merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, tubuhnya lelah, dan pikirannya kosong. Ia tertidur tanpa menunggu kepulangan Danang, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Sekarang, ia tidak ingin melakukan itu lagi. Hatinya sudah penuh terisi dengan kekecewaan, tidak ada lagi nama sang suami di dalam pikirannya.Sejak pagi, Dina disibukkan dengan berbagai aktivitas. Ia berlari dari satu tempat ke tempat lain, berusaha menyelesaikan semua apa yang menjadi target masa depannya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk masa depannya. Dia ingin meraih kesuksesan setelah perpisahannya dengan Danang terjadi. Namun, di balik semua itu, ada rasa lelah yang tak tertahankan.Suara orang membuka pintu pagar. Dan suara motor juga tidak berhasi

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 74

    Deni sedang asyik belajar dalam kamarnya. Buku-buku terbuka di mejanya, pena bergerak cepat menorehkan huruf di atas kertas. Cahaya lampu meja menyinari wajahnya yang kusut karena lelah."Den, jangan tidur terlalu larut, ya," ujar bundanya dengan suara lembut, penuh perhatian. Ia masuk ke kamar Deni dengan langkah tenang, membawa segelas susu hangat di tangannya. Ia meletakkan susu itu dengan hati-hati di atas meja belajar Deni."Minumlah, selagi hangat," lanjut bundanya, senyum hangat menghiasi wajahnya."Terima kasih, Bun," sahut Deni dengan senyum lebar. Ia mengambil gelas itu, meneguk susu hangat tersebut dengan lahap. Rasanya begitu nikmat, menghangatkan tubuhnya dan membuat perutnya terasa nyaman."Sudah malam, Den. Istirahatlah sebentar," kata bundanya sambil mengusap rambut Deni dengan lembut, penuh kasih sayang. "Besok kamu harus bangun pagi untuk sekolah.""Iya, Bun," j

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 73

    "Sudah lama menunggu, Mas? Maaf ya, tadi boss masih sibuk kerja, jadi aku nggak bisa pulang lebih cepat," kata Sinta, suaranya lembut, penuh rasa penyesalan. Nada bicaranya yang tenang membuat hati Danang sedikit terasa nyaman.Danang tidak langsung menanggapi ucapan Sinta. Matanya tertuju pada rambut Sinta yang terlihat sedikit basah, menarik perhatiannya. Ia mengerutkan dahi, seolah mencoba mencari alasan di baliknya.Sinta menyadari tatapan Danang yang begitu lekat mengamatinya. "Ada apa, Mas?" tanyanya, penasaran dengan sorot mata Danang."Rambutmu basah? Kenapa?" tanya Danang akhirnya dengan nada ingin tahu, matanya tertuju pada rambut Sinta yang tampak lembap, sementara alisnya sedikit berkerut."Ah, tadi kehujanan sedikit pas keluar kantor. Ada urusan mendadak, dan aku lupa bawa payung," jawab Sinta sambil tersenyum tipis. Tangannya bergerak mengipas-ngipaskan rambutnya, mencoba

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 72

    Begitu Dina tiba di rumah, Dina langsung membersihkan tubuhnya. Dina berdiri depan cermin dan menatap pantulan tubuhnya dalam cermin, "Pegal sekali," kata Dina sambil memijat pinggangnya yang terasa pegal. Lalu dia kemudian melihat ke arah jam dinding. "Sudah jam 5 sore, aku belum masak. Ahh... untuk apa masak, masak juga tidak ada yang makan," kata Dina."Beli makanan siap saja. Untuk apa capek-capek masak, tidak ada yang makan. Mulai hari ini, jangan pikirkan orang lain. Aku harus memikirkan diri sendiri. Untuk apa memikirkan orang, jika kita tidak dihargai."Lalu Dina mengambil ponselnya dan mencari makanan yang ingin dipesannya. Setelah mendapatkan apa yang ingin dimakannya untuk makan malam, Dina memesan dan kemudian meletakkan ponselnya.Tiba-tiba, Dina terpikir untuk mulai mengumpulkan syarat-syarat untuk mengajukan perceraian. "Aku harus mengumpulkan berkas-berkas untuk mengajukan perceraian. Aku harus mencari buku nikah, sebelum Mas Danang pulang."Dina kemudian melangkah men

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 71

    Dina sibuk merencanakan masa depan setelah perpisahan dengan Danang terjadi, sementara di sisi lain, Danang tenggelam dalam pikirannya yang dipenuhi kegelisahan akibat permintaan cerai dari Dina. Ia terus mencari cara agar bisa membujuk Dina untuk membatalkan niatnya berpisah."Dina harus segera hamil secepatnya," gumam Danang dengan wajah penuh tekad, sambil melamun di ruang kerjanya, memutar otak untuk mencari solusi.Bagaimana bisa hamil, belakangan ini dia tidak mau aku sentuh. Hemmm... Apa aku beri dia obat, agar mau ku sentuh." Danang tersenyum memikirkan idenya yang cemerlang menurutnya."Tok tok " bunyi pintu ruang kerja Danang diketuk, diikuti dengan suara pintu yang terbuka perlahan sebelum Danang sempat memberikan izin. Danang mendongak dari meja kerjanya dengan wajah sedikit terganggu."Dan, sudah daftar untuk ikut family gathering?" tanya Yoga sambil melangkah

  • Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta    Bab 70

    "Bagaimana kalau kita kembali untuk nego harga sewa?" kata Alma."Ya, baiklah. Aku mau coba nego lagi," kata Dina. Ia berharap bisa mendapatkan harga sewa yang lebih rendah."Kita coba aja, Din," kata Alma. "Yang penting kita berusaha dan tidak menyerah."Keduanya kemudian kembali ke toko milik Bu Linda. Dina mencoba mengumpulkan semua keberaniannya untuk bernegosiasi dengan Bu Linda.Tiba di ruko, Bu Linda masih berada di rukonya tersebut dan tersenyum ramah melihat kedatangan Alma dan Dina."Permisi, Bu," kata Dina. "Kami ingin menanyakan tentang harga sewa toko lagi. Apakah bisa dikurangi?""Ya, Bu. Kami mencoba menghitung biaya yang dibutuhkan. Dan ternyata harga sewanya sedikit tinggi untuk kami. Apakah bisa dikurangi sedikit?" tanya Dina."Hmm, kalau ambil setahun bisa saya berikan diskon 10%. Tapi kalau hanya sebulan, maaf ya, saya

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status