LOGIN"How about your actions when you sexually h... Uhmm, I mean you harassed him?" "Harassed him? Me? When did I?" "You tore off his clothes and tried to take advantage of him... Should I remind you more?" Swallowing hard, she tilted her head to the right in embarrassment. 'Celeste. Oo, Celeste. What did you do? How come he is everywhere? If he is really the man I married then he is very dangerous, there's no way I will survive if I stay near him. Death won't be my only choice either, he might want to torture me like some criminal...' ***** A beautiful wedding dress, a simple ring and a tiara, with her family members present and with the man she loved always... Celeste Banks imagined such a wedding so many times but they say, we don't always get what we wish for. Finding her boyfriend cheating was not enough, she was forced to accept a marriage proposal from an old baldie. When Celeste finds out that it was a conspiracy against her to get married, she runs away from her wedding. To save herself from getting caught, she uses a mysterious man as a shield and not only that, she even rips apart his expensive black shirt then makes an escape only to end up as his bride. ***** "We were checking the cctv footage to find out about Mrs. Weston, then we saw that... That woman actually escaped before the wedding. We have got the surveillance footage of her escaping, she was already in the flight during the wedding." "Then the woman..." Celeste's voice resounded in his head as he remembered the time of the wedding, trying to imagine how she looked. "Who is the woman I got married to?"
View MoreMalam mulai tinggi ketika hana berjalan menegarkan langkah, menapaki lantai loby hotel mewah di bilangan Jakarta Selatan yang baru saja didatanginya. hana menarik nafas panjang, dia langsung menuju ke arah lift. hana berjalan lurus, tanpa melirik ke kanan atau ke kiri sedikitpun. Perasaannya terasa tak karuan ketika berdiri menanti pintu lift itu membuka.
Ting!Denting suara lift membuyarkan lamunannya. Hana menarik nafas panjang. Setiap tarikan nafasnya terasa sama sekali tak melunasi sesak di dadanya. Hana rasanya ingin menangis.Hana melangkahkan kaki ke dalam lift itu. Dia segera memencet tombol lift untuk menuju ke lantai 25. Jantung Hana rasanya berdebar semakin kencang. Hana berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya, berusaha memudarkan air mata yang terasa hendak menyelinap keluar dari pelupuknya. Dia menengadahkan kepala, hana tahu, dirinya tak mau kelihatan sedih atau takut. Semua ini sudah menjadi keputusannya.Hana memandang bayangan dirinya yang dibiaskan oleh pintu lift berwarna perak. Wanita cantik itu berdiri kikuk. Gaun hitam tujuh per delapan yang dikenakan Hana membalut tubuh tinggi semampainya. Hana tampak anggun dalam balutan busana itu. Tapi tidak, bukan itu alasan Hana mengenakan warna hitam hari ini, hana sedang merasa berduka.Sekali lagi Hana menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat. Di dalam hati, hana merasa sedikit beruntung karna hanya dirinya yang ada di dalam lift itu.Ting!Suara lift yang kembali berdenting membuat Shana otomatis memejamkan mata. Rasanya setiap langkah akan sangat sulit baginya. hana menguatkan diri. Dia melangkah keluar dari lift itu. Sekilas melihat papan penunjuk dan berbelok ke kanan.Hana melangkah dengan tegar. Sesaat dia memuji kemampuan dirinya memainkan peran itu. Kalau saja Hana menuruti keinginan hatinya, dia mungkin merangkak pada selasar di antara kamar-kamar presidential suite itu.Semakin mendekati kamar yang dituju, langkah Hana berubah pelan. Seketika perasaan takut menyerang dirinya, 'Haruskah aku masuk ke dalam sana?' Hana bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ada sebuah keraguan yang menghampiri pikiran wanita itu.'Ya, aku harus masuk ke dalam dan menyelesaikan segalanya!' Seketika ia teringat akan bocah kecil berusia 3,5 tahun itu. Bocah yang sekarang tak berdaya menunggunya. Hana pun memantapkan hatinya kembali, melangkah tanpa rasa takut ke arah yang ditujunya.Kamar 2509! Sesuai dengan nomor kamar yang dikatakan sahabatnya pagi tadi. Hana berhenti tepat di depan kamar itu. Dia menarik nafas panjang sebelum jemari lentiknya dengan ragu memencet tombol bel pintu.Hana menundukkan kepalanya, wanita itu merasa sangat gugup sekali. Ingin rasanya ia berlari dari sana. Tapi tidak, tentu saja dia tidak boleh lari. Hana datang karena kemauannya sendiri, karena keputusan yang telah diambilnya.Pintu itu terbuka, Hana yang menunduk seketika mengangkat wajahnya pelan. Matanya menyusuri sebuah sosok yang ada di hadapannya dari kaki hingga mata bertemu mata. "Masuklah," ujar lelaki berparas tampan yang sedang berdiri di depannya saat ini.Lelaki itu adalah Devan, bos besar dari perusahaan tempat sahabatnya bekerja. Wajah rupawan lelaki itu memang tersenyum tipis, namun senyuman itu tampak seperti seringai bagi hana.Hana terdiam menatap wajah tampan nan dingin itu. Sebuah rahang kokoh yang sedikit di tumbuhi cambang tipis, sorot matanya yang tajam dengan bola mata berwarna hazel itu seharusnya bisa membuat setiap wanita yang melihatnya terpesona, tapi tidak bagi Hana. Bagi hana, lelaki itu hanyalah sebuah jalan keluar yang dapat membantu dirinya."Hemm ...."Lelaki itu berdeham seketika membuyarkan lamunan Hana, Hana langsung mengubah raut wajahnya yang tegang. Dia mengangguk pelan. Tanpa menunggu, Hana melangkah menjejakkan kakinya di kamar hotel itu ketika sang lelaki di hadapannya sedikit mundur, memberikan hana jalan untuk masuk.Lelaki itu kini duduk di sebuah sofa besar di tengah ruangan. "Duduklah," ucapnya sambil terus menatap ke arah wanita cantik di hadapannya."Kau mau minum? Kau sudah tahu namaku kan? Aku--" Lelaki itu bertanya sambil mengulurkan tangannya namun ucapannya disela oleh Hana."Aku tidak mau minum, juga tak ingin mengetahui siapa dirimu, kita lakukan saja apa yang sudah kita sepakati." Hana memotong ucapan Devan, ia ingin segera menyudahi segalanya agar bisa pergi dari tempat itu.Devan tersenyum sinis, sebelah tangannya mengusap rahang kokoh miliknya. Devan berdiri lalu berjalan ke arah Hana.Semakin dekat lelaki itu pada dirinya, semakin gugup pula perasaan hati Hana. Ketika Devan sudah berjarak hanya beberapa jengkal dari Hana, lelaki itu menghentikan langkahnya. Kedekatan lelaki itu membuat jantung Hana berdetak dengan kencang.Devan memegang dagu Hana menariknya ke atas, lelaki itu memperhatikan wajah cantik dengan mata sayu dan bulu mata yang lentik menatap ke arahnya, perlahan pandangannya turun ke bawah, ke bibir mungil berwarna peach yang begitu menggoda.Hana merasa sangat gugup saat perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya. Sekarang denyut jantungnya Hana sudah tidak karuan.Perlahan Devan mendekatkan bibirnya, mata itu sempat melihat ke arah wajah Hana memperhatikan raut mukanya yang mulai tegang, Devan tau jika saat ini wanita yang ada di hadapannya tengah gugup.Lelaki itu langsung melihat ke arah bibir Hana dan mulai menciumnya, ciuman yang hanya menempel di bibir Hana. Devan sengaja karena ia ingin tau reaksi apa yang diberikan oleh wanita itu.Namun setelah sepersekian detik tak ada pergerakan apapun, Devan mulai kembali, dia melumat bibir itu, satu tangannya ia lingkarkan kebelakang tengkuk Hana, ia sedikit mendorong kepala Hana untuk memperdalam ciumannya.Hana hanya diam saja, ia bingung harus membalas atau tidak. Hana merasa begitu malu, jijik, dan enggan melakukannya. Namun saat lumatan itu bertambah dalam, tubuh Hana tak mampu lagi menolaknya. Devan terus saja melumat bibir Hana Hingga wanita itu membuka sedikit mulutnya, lidahnya mulai masuk ke dalam dan bermain dengan leluasa di sana, ia semakin menekan tengkuk Hana sesekali meremas rambutnya dengan lembut."Mmmhhh ...."Satu desahan indah lolos begitu saja dari mulut Hana, ia sendiri terkejut mendengarnya. Pikiran dan hatinya menolak, namun hasrat di dalam dirinya sebagai seorang wanita dewasa seakan bertolak belakang dan merespon apa yang dilakukan lelaki itu.Mendengar suara indah itu lolos begitu saja, Devan semakin bersemangat. Dia memperdalam ciumannya, hingga hana kehabisan nafas, Devan segera melepas pangutannya.Nafas keduanya memburu, hana mengambil banyak udara agar dia bisa merasa lega namun Devan sepertinya tak membiarkan itu berlangsung lama. Lelaki itu sudah menciumnya kembali dan melumat bibir itu dengan penuh gairah. Bibir tipis lelaki itu lalu turun ke leher jenjang milik Hana, di ciumnya leher itu, satu tangannya meremas salah satu bukit kembar milik Hana."Ah ...."Suara indah itu kembali melompat dari bibir hana, Devan jadi begitu bersemangat. Devan melepaskan retleting gaun yang dikenakan Hana. Dia meremas bahkan memainkan puncak milik Hana, wanita menengadahkan kepalanya ke atas, perlahan Devan membuka gaun yang di kenakan oleh Hana hanya dengan satu tarikan, gaun itu meluncur bebas menuju lantai.Devan tertegun melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya. Tubuh polos Hana dengan lekukan tubuhnya yang begitu menggiurkan membuat hasrat Devan semakin bergejolak.Tanpa menunggu lama, Devan langsung saja menyambar bibir Hana dan menciumnya. Ia lalu menuntun Gadis itu untuk ke arah ranjang tanpa melepas pangutannya. Devan dengan pelan menidurkan Hana. Setelahnya, Devan dengan begitu bersemangat melepas pangutannya dan turun ke arah leher. Dia mengecup seluruh bagian itu menimbulkan rasa geli menjalar di seluruh tubuh Hana.Belum lagi permainan jemari Devan pada dua gunung kembar miliknya, membuat hana menggeliat merasakan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bibir Devan lalu turun kearah bukit kembar milik hana memainkan, bibir lelaki itu dengan buas melahapnya. Lidahnya bermain indah di atas puncak gunung kembar itu, membuat Hana terus mendesah mengeluarkan suara indahnya.Satu tangan Devan mengarah pada lembah milih Hana, mencari titik sensitif milik wanita itu, kemudian ia pun bermain-main disana membuat Shana merasa tak berdaya. Hana merasa malu dan merutuki dirinya sendiri karena menikmati setiap permainan yang diberikan oleh lelaki itu.Devan sudah tak sabar ingin menikmati lembah milik Hana, ia pun mengarahkan pusakanya kesana. Hana memalingkan wajahnya saat tanpa sengaja ia melihat pusaka milik Devan yang sudah menjulang tinggi dan siap menghujam miliknya. Pipi wanita itu seketika merona merasa malu akan apa yang dilihatnya.Perlahan tapi pasti, Devan mulai masukkan miliknya pada lembah Hana. Ia memaju mundurkan pusakanya dengan ritme pelan namun perlahan ritme itu berubah semakin cepat, sampai ia mencapai puncaknya.Lelaki itu langsung jatuh ke pelukan Hana. Wanita itu hanya diam saja tanpa membalasnya, hana hanya berusaha mengatur nafasnya. Hingga tak berselang lama, ia terlelap karena kelelahan.Devan lalu berguling ke samping tubuh hana, memperhatikan wajah cantik yang saat ini berada di sampingnya. Devan menutupi tubuh Hana dengan selimut dan mulai memejamkan matanya. Devan tersenyum tipis, dia menikmati semuanya hingga tertidur.Ketika mentari pagi menyapa, Hana terbangun dari tidurnya. Hana mendapati lelaki itu sedang mengenakan pakaiannya. Devan memang baru saja selesai mandi. Hana masih berbaring membelakangi Devan, ia tak ingin melihat wajah lelaki itu.Melihat Hana bergerak, Devan menyadari kalau Hana sudah tidur. "Aku sudah meletakkan cek sejumlah yang kau inginkan di atas meja. Maaf aku harus pergi karena pagi ini ada proyek yang harus aku kerjakan," ujar lelaki itu sambil memakai jasnya.Hana hanya diam saja tak menjawab, seolah ia tak perduli. Hana tengah menangis tanpa suara. Air mata bergulir di pipinya ketika ia mengingat semua yang di lakukannya semalam bersama Devan.Devan yang tak mendapat jawaban dari Hana pun segera keluar dari kamar hotel tersebut. Dia meninggalkan Hana sendirian di sana.Setelah mendengar suara pintu yang membuka dan tertutup kembali, Haha yakin kalau Devan sudah pergi. Perlahan Hana bangun, ia melihat cek yang ada di atas meja lalu beranjak untuk mengambilnya."Akhirnya aku mendapatkan uang ini," gumamnya lirih sambil menatap nominal yang tertera didalam cek tersebut.Ding! Heading out of the elevator absentmindedly, Celeste kept scrolling through the gallery of her phone, "I have taken a lot of shots but his face is not clear enough. With these photos, I won't be able to provide enough evidence, I need to collect some more. But how do I..."Beep!Celeste still focused on the phone screen walked in the room and the door shut behind her, the sound of the door closing hit her ears gently yet her focus remained consistent. Putting down the packages on the table, she casually looked around and suddenly she was taken aback. For a moment, her gazes shifted across the room before stopping on her phone. "I got so preoccupied with my phone that I didn't notice the time. It's already past 10 pm. I was supposed to spend time with him but I... There's no noise at all. Is he taking a shower?" With such thoughts lingering in her mind, Celeste headed towards his room. "Rhodes, are you inside?"Opening the door, she called out his name but the subtle darkness in
Her eyes enlarged in shock and her hands shuddered in restlessness, Xyria held onto her breath as she gazed at the person who was standing so close to her. As there came a heavy knock on the door again, her gazes quickly altered to the direction toward the door and they shifted back to the person to her nearest. "M...""Shhh! Don't make a sound, ok?" Before she could utter anything, the familiar voice asked her.Xyria nodded her head in agreement with her alarmed gazes fixated on him. The moment he let go of her, she rested her head against the wall and patted her chest as gently as she could without making any sound. The slow knock soon became aggressive knockings and he grabbed her hand restlessly. Taking a look around suddenly he started dragging her towards a room. Bewildered at his actions, Xyria gripped his hand and he paused at the track.As he turned in her direction, she asked, "What do we do now?" "I know that you are scared but please, don't worry. With me around, nobod
"Sir Atlas." Upon seeing her walk towards him, Atlas looked away in annoyance as he murmured, "There we go.""Where is Rhodes?" Celeste asked curiously, her gazes scanning the surroundings."How can I know where he is?""Huh? But I heard that you know where he is.""Who told you that?" A little annoyed, he inquired."That's not important. Anyway, where is he?" Since getting the same attitude from him for the past few months, it was not shocking for her to see him being annoyed most of the time. Celeste gazed at her wristwatch, anticipating his reply."I don't know." Saying so as he took a step forward, Celeste blocked his way. "Sir Atlas..""You heard me, I don't...""We both know the answer, don't we? So, you should just tell me the truth instead of playing childish here." Atlas gazed into the distance and cleared his throat. "Even if you know, what are you going to do about it? He is there for some important b...""That shouldn't be any of your concern, I will take care of it." Sh
Knock! "Come in." Tyler murmured some words mindlessly, his eyes glued to the computer screen. The creaking sound of the door opening reached his ears but he remained unbothered by the unexpected presence of the person in his office. "Put those on the table and take out the blue one. Make a copy of it then bring it to me.""Uhmm... " Hearing the female tone of voice, his gazes shifted at her and he looked a little taken aback. "Miss Lopez, why are you here?""I wanted to see you so..." Xyria answered, standing at a close distance from him."Ahh, I see. What's wrong? Why did you want to see me?""Well, I found a lead in my brother's case. I wanted to talk to... You about it but since... I don't have your number, I couldn't reach you that's why..." As she voiced so, her gazes moved across the room aimlessly.Tyler nodded his head in understanding and added, "That's great. What did you find?"That night, Tyler not only saved her brother from getting attacked but he also let that assass
As his shirt dropped on the floor, he hugged his arms and hissed in pain. Taking a few breaths as he headed towards the cupboard, suddenly her voice came through. "Were you giving me a cold-shoulder because you don't want me to see your scars?"Upon hearing her voice, Rhodes quickly rushed to pick hi
Rolling on the bed relentlessly, Celeste suddenly opened her eyes. She stared at the ceiling with a grumpy look on her face and sat on the bed. "It's been quite late, he should have come back by now. Is he going to stay outside tonight?" Celeste sneaked a peek at the wall clock and a sigh of gloomin
As soon as he mentioned water, her feet paused at the spot. Celeste swallowed hard and her hand tightly clenched into a fist. "I guessed that you didn't want to talk about it so I didn't ask but as we are in a relationship now, I need to know certain things about you."Celeste stood there quietly, he
"My brother might look cold outside but he is really sensitive inside, he was not like this before though. A lot of things happened to him when he was young so they must have affected him so badly for him to turn out to be such a person that everyone wants to hate."Standing outside for the car to co
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.