Beranda / Lainnya / Catatan Rumi / Penenangan Bi Nia 2

Share

Penenangan Bi Nia 2

Penulis: Siti Maisyaroh
last update Terakhir Diperbarui: 2021-06-04 18:02:27

Sepertinya, hanya orang-orang langka yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas semua kesalahan yang menimpanya.

Berbeda dari seorang Rumi yang mungkin hidupnya tengah berada diambang hidup atau pun mati.

Dia tidak menyalahkan dirinya sendiri saat ini. Mungkin kalau bisa kita teori kan, justru dia yang selalu disalahkan untuk semua permasalahan padahal dirinya tidak melakukan apa-apa ataupun berbuat sesuatu, tapi hanya hal sepele saja.

Pernyataan tadi tidak berlaku bagi Rumi.

Justru yang benar, adalah manusia langka karena benar-benar diperlakukan tidak buruk di dunia ini.

Bukan oleh orang jahat ataupun orang lain.

Justru yang paling menyakitkan, kesakitan itu berasal dari keluarganya sendiri.

Bahkan tak jarang, seorang Rumi selalu mengeluh dan berdoa kepada Tuhan agar bisa mematikan dirinya di suatu tempat.

Dia ingin mencapai kedamaian, yang mana dalam kedamaian itu tidak ada satu orang pun yang bisa mengganggunya lagi. Dia ingin hidup bebas.

Menjalani kehidupan dengan nyaman dan bahagia seperti orang-orang yang selalu ditemui di setiap jalanan.

Sederhana saja.

Rumi ingin 'ada'.

"Kapan aku mati, bi?" lirihnya pelan dan menghanyutkan. "Rumi udah capek tinggal di sini. Rumi udah nggak mau lagi debat sama siapapun."

Bi Nia melepas pelukan. "Adek enggak boleh nanya gitu. Kita sebagai manusia harus bisa pasrah sama ketentuan Allah. Adek jangan nyerah. Semua ini hanya ujian. Adek juga harus yakin bahwa setelah hujan ada pelangi."

"Tapi enggak selamanya setiap hujan ada pelangi, bi. Rumi bener-bener capek." suaranya terdengar gemetar lemas. "Aku beneran pengen pergi dari sini. Bunuh saja Rumi, bi. Bunuh Rumi."

"Jangan, dek. Jangan ngomong gitu. Kamu harus yakin sama diri kamu sendiri. Kamu harus berusaha menjadi pribadi yang tak boleh nyerah gitu aja. Kamu harus tahu bahwa orang yang mati karena bunuh diri, adalah orang yang tak disukai oleh Allah. Mereka telah melakukan suatu hal melebihi kodratnya. Percayalah sama Bibi. Mati bukan menjadi alasan seseorang bisa lepas dari permasalahan dunia. Justru di situlah permasalahan kamu akan dimulai. Ketika kamu memutuskan untuk mati, maka di situ juga kamu memutuskan untuk memperberat masalah hidup yang dibuat oleh diri kamu sendiri."

Rumi hanya menangis. 

Isakannya telah memecah keheningan suasana yang sudah perlahan mencapai fajar.

Pria itu tertunduk lesu.

Ketika suasananya sudah agak mereda, diajaknya Rumi oleh Bi Nia untuk kembali ke kamar.

Karena kondisi bajunya yang basah, Bi Nia mengambilkan beberapa baju untuk kemudian Rumi akan menggantinya di kamar mandi.

Tangis wanita itu seketika meledak ketika melihat anak majikannya menutup pintu untuk mengganti baju di sana.

Dia berusaha menutupi semua rasa sakit yang tadi ia lihat sendiri, saat Rumi berusaha memberontak dan ingin membenarkan pendapatnya di hadapan sang ibu.

Namun bukan maaf atau kelembutan yang ia terima. Justru, Letty semakin membabi buta seperti tidak mau melihat anaknya sendiri berada di bumi ini.

Andai kalau tidak ada Rumi, mungkin dia akan menjerit kesakitan di sini.

Walau memang bukan keluarganya, tapi Bi Nia sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Apa-apa yang saat ini dihadapi oleh seorang Rumi sendirian, tentunya mengundang penderitaan penuh bagi orang-orang yang tahu kehidupan sebenarnya seperti apa.

Jangan jauh-jauh saja.

Bi Nia, orang yang hanya sekedar menjadi pekerja di rumah ini, selalu saja mendapatkan kejadian yang tak menyenangkan tatkala melihat Rumi ada di rumah.

Kalau saja dia memiliki kekuatan lebih, maka dia tidak akan membiarkan anak itu tetap tinggal di sini. Dia akan membawa anak itu sejauh mungkin dan mengenalkannya apa arti kebahagiaan.

Ceklek.

Suara pintu terbuka sejurusnya terdengar.

Bi Nia seketika mengelap air matanya kemudian menuntun Rumi untuk bisa duduk di kasur.

"Kamu tunggu di sini, ya. Biar bibi bawakan obat dulu." ujarnya ketika melihat hidung Rumi yang merah dan sesekali masih meneteskan darah karena mungkin benturan guci yang tadi dilemparkan oleh ibunya terlalu keras.

"Tidak, bi." seru Rumi sambil menahan tangan pembantunya itu. "Bibi enggak usah repot-repot bantuin Rumi."

"Kenapa?" bi Nia duduk di sampingnya.

"Rumi udah nggak ada artinya lagi di dunia ini. Semua orang udah nggak ada yang sayang Rumi. Mereka nggak peduli Rumi mau nangis, berdarah, dan mungkin kalau Rumi mati pun engga akan ada orang yang mau lihat jasad Rumi yang terakhir kali."

"Kata siapa? Kata siapa enggak ada orang yang sayang sama kamu? Kata siapa enggak ada orang yang peduli sama kamu? Bibi peduli, dek. Meskipun keluarga kamu sendiri enggak nganggep kehadiran kamu di sini, Tapi kamu jangan sekali-kali lupakan bibi. Karena Bibi sangat sayang sama kamu. Bibi nggak mau ngelihat kamu nangis kayak gini."

Bi Nia lantas beranjak membuka laci untuk mengambil beberapa obat agar bisa meredakan luka yang ada di hidung Rumi.

Pria itu hanya bisa melamun. Tidak banyak kata yang dia ucap selain sorot matanya yang benar-benar kosong. Tak ada harapan dan semangat yang terlihat.

Bi Nia pun sampai tak tega dan tak mau melihat mata sang anak. Karena dia tahu ketika menatap Rumi, maka air matanya akan jatuh.

Dan kalau nanti keduanya sama-sama menangis, lalu siapa yang akan menguatkan Rumi?

"Maaf ya dek kalau sakit." Bi Nia menekan pelan luka Rumi dengan alkohol.

Ujung hidungnya lecet entah karena apa.

Tapi, tak tahu kenapa keanehan ini justru muncul ketika bi Nia mengobati luka-luka yang ada di Rumi.

Dia sama sekali tak memberikan reaksi apa pun selain diam dengan tatapan yang kosong. 

Alkohol yang sengaja Bi Nia tempelkan pada lukanya, tak membuat anak itu merintih sedikitpun.

"Dek, kamu masih dengar bibi kan?"

Rumi mengangguk pelan. 

"Tapi kenapa kamu engga ngerasa sakit?"

Pria itu mendongakkan wajahnya pada bi Nia. Matanya sembab berkaca-kaca.

Tidak ada sedikitpun raut yang menunjukkan bahwa anak itu memiliki semangat hidup.

"Bagi Rumi, luka seperti ini nggak ada apa-apanya bi. Rumi sama sekali nggak ngerasain sakit sedikitpun. Terserah Bibi mau tekan kuat luka Rumi atau sengaja bunuh Rumi, Rumi engga akan ngerasain sakit."

"Itu tandanya kamu anak yang kuat, dek." Bi Nia menyimpan obat-obatannya. "Semenjak Bibi hidup, Bibi belum pernah nemuin anak sekuat dan sehebat kamu. Adek anak yang pintar. Adek hanya perlu bersabar dan jangan pernah takut untuk melangkah. Biarkan orang-orang memandang adek seperti apa tapi adek harus ingat, bahwa masih ada orang yang sayang sama adek. Khususnya bibi. Setidaknya adek harus hidup demi Bibi, ya."

Rumi tersenyum kecil. 

"Makasih banyak atas semuanya bi. Rumi seneng banget ada orang yang masih perhatian dan sayang sama Rumi. Walau perhatian dan sayang itu, Rumi enggak dapatkan dari keluarga sendiri. Kadang Rumi pengen hidup kayak orang-orang yang harmonis sama keluarganya. Jujur, Bi. Rumi iri sama mereka. Kenapa hidup Rumi nggak kayak gitu?"

"Bukan engga, dek. Tapi belum. Kamu harus percaya bahwa Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Ketika Allah menguji kamu sampai saat ini, itu artinya Dia percaya bahwa kamu masih bisa menghadapi semuanya dengan sabar. Adek harus sabar. Hidup engga akan selamanya memberi kita kesakitan. Adek tinggal nunggu, kapan kebahagiaan itu akan menghampiri adek. Kamu harus yakin ya."

...

Bab terkait

  • Catatan Rumi   Diperbudak Tuan

    Warna Fajar semakin terlihat terang.Aku memutuskan untuk bangun dari tempat tidur, dengan kondisi tubuh yang benar-benar pegal seperti remuk.Apalagi jika aku memegang area wajah, rasa sakitnya terasa sekali.Seperti biasa aku selalu membuka jendela kamar agar bisa menghirup udara sejuk di sini.Aku terdiam sesaat sambil memperhatikan warna indahnya matahari yang akan terbit.Angin sejuk menyelinap masuk ke dalam tulangku yang hampir tak berdaging.Sebelum memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah, aku selalu terdiam beberapa menit di sini.Menetralkan seluruh pikiran buruk dan melupakan kejadian tadi malam yang begitu menyakitkan.Pernah sekali saja aku bisa tenang diam di rumah.Atas segala kejadian yang terjadi, aku kemudian memutuskan untuk diam dan tak banyak bicara daripada membuat Ibu lebih murka.Walau memang sejatinya hatiku meronta dan ingin memberontak, tapi percuma saja.Dia tidak akan

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-05
  • Catatan Rumi   Membeli Nasi Goreng

    Setelah berputar-putar mengelilingi jalanan depan rumah, akhirnya Rumi menemukan satu penjual nasi goreng di seberang posisinya saat ini.Dia kurang tahu penjual itu karena belum pernah membelinya.Karena tukang nasi goreng yang biasa dia beli tutup, akhirnya Rumi memutuskan untuk membeli nasi gorengnya di sana saja.Lagi pula dia berpikir, semua nasi goreng itu sama. Jadi dia yakin ibunya pasti tidak curiga karena dia membeli nasi gorengnya di tempat yang berbeda.Sedikit tenang.Rumi menghampiri penjual itu kemudian memberikan uang lima belas ribu.Porsi lima belas ribu, adalah porsi yang cukup spesial untuk sekedar nasi goreng di sini."Dibungkus atau dimakan di sini dek?" tanya sang penjual."Dibungkus aja pak."Penjual itu melirik sedikit ke arah orang yang membeli dagangannya saat ini. Dia sedikit keheranan dan kaget tatkala melihat pergelangan tangan Rumi yang benar-benar kecil dan kurus sekali.Muncul rasa

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-06
  • Catatan Rumi   Pergi ke Pasar

    Sebuah pagi yang begitu menyeramkan dari pagi-pagi di hari sebelumnya.Awan yang mendung dan langit yang menghitam, seperti cukup memberi isyarat kepada orang-orang bahwa salah satu rumah dari banyaknya rumah yang indah di sana tengah terjadi kehebohan yang luar biasa.Tak akan ada orang yang mampu memahami selain tetangganya sendiri.Lagipula mana ada orang yang mau menikmati luka yang justru dia terima dari keluarganya?Sudah terlalu muak bagi seorang Rumi mendengar kata sakit, semangat, patah, hancur dan kata-kata menyebalkan lainnya.Dia tidak membutuhkan kata itu.Bahkan untuk sekadar menginterpretasikan rasa sakitnya, dia tidak tahu harus dengan apa karena rasa sakitnya itu benar-benar terasa sakit.Andai dia bisa pergi ke suatu bukit yang tinggi kemudian berteriak sehingga orang-orang dunia mendengarnya.Dia akan bertanya,"Akankah ada orang-orang yang lebih malang daripada aku? Akankah ada orang yang hidupnya di

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-07
  • Catatan Rumi   Kebahagiaan yang Sederhana

    Hiruk pikuk keadaan pasar begitu menggegarkan suasana.Orang-orang tampak sibuk membeli kebutuhan hidupnya masing-masing.Ada yang membeli ikan, beras, telur, daging, sayuran bahkan buah-buahan.Hampir semua dari mereka berkumpul di tempat-tempat yang ingin mereka beli dagangannya.Ketika sampai, Rumi hanya bisa ternganga melihat keindahan yang baginya terasa langka.Meskipun tanah yang ia pijak begitu becek dan kotor, bahkan kalau kita mau berjalan ke belakang untuk membuang sampah, selalu ada banyak belatung yang berserakan di atas tanah itu.Menjijikkan sekali memang.Namun justru yang membuat perhatian anak itu teralih, bukan karena kotor dan kumuhnya tempat itu.Justru karena dia sedikit senang bisa melihat orang-orang bisa mengekspresikan dirinya di sini.Pasar sebagai tempat bebas bagi mereka untuk mengobrol, saling tawar-menawar antara penjual dengan pembeli, bahkan kita juga bisa menemukan orang yang diajak meng

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-08
  • Catatan Rumi   Mengobrol Bersama Anak-anak

    Aku tercengang bukan main tatkala mendengar penjelasan dari Bi Nia tentang anak-anak yang begitu hebat dan kuat ini.Bahkan kalau boleh aku jelaskan kepada kalian, anak-anak di sini adalah anak yang riang dan tak pernah mengeluh sedikitpun.Meskipun harus ku akui tinggal di sekitaran sampah itu tak sehat dan tentunya tidak akan bisa membuat anak berkembang baik, tapi mereka benar-benar memanfaatkan apa yang ada selagi itu bisa membuat dirinya bahagia, maka tak masalah.Aku sampai tak bisa berkata apa-apa lagi selain takjub dan bangga dengan anak-anak ini.Bahkan meskipun mereka makan dari makanan yang tidak selayaknya dimakan, tetapi mereka tetap ceria."Kakak sini!" tiba-tiba ada satu anak yang menarik tanganku.Dia perempuan. Wajahnya cantik dan putih. Tapi sayang, bajunya kotor dan kumal.Mungkin karena faktor keadaan di rumahnya juga yang seperti itu."Apa?" tanyaku berusaha mengakrabkan diri."Kakak coba lihat kapal

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-09
  • Catatan Rumi   Dengan Alya

    Aku benar-benar dibuat terkejut tatkala mendengar penjelasan dari anak ini.Ha? Mana mungkin sekarung besar itu kita hanya mendapatkan upah yang kecil sekali?Aku sampai dibuat heran dan tak percaya dengan kenyataan ini."Alya, kamu nggak bohong kan? Masa kamu dapat upah sekecil itu?"Dia tersenyum. "Emang kakak kira, kita bakal dapat berapa?""Ya barang kali aja bisa nyampe dua puluh ribu atau tiga puluh ribu."Alya seketika tertawa. "Aduh, kak. Kalau misal aku bisa dapat sampai segitu, mungkin kita nggak akan tinggal di sini."Suasana masih terlihat cerah sekali. Aku melihat anak-anak tampak riang bermain di halaman depan rumah.Mereka sama sekali tak terganggu dengan aroma busuk yang menyengat di sini. Apalagi kalau tiba-tiba ada angin yang lewat, bau itu malah semakin membuatku ingin memuntahkan isi perut.Aku melihat Alya sebagai anak yang begitu tangguh. Umurnya memang masih kecil. Tapi dia sudah terlihat dew

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-10
  • Catatan Rumi   Kembali Pulang

    Pria itu terdiam sesaat tatkala mendengar sebuah pertanyaan yang mampu membuat hatinya tertegun. Pertanyaan itu hanya terucap dari seorang anak yang mungkin bagi orang lain, pertanyaan yang keluar dari anak kecil hanyalah hal biasa dan tidak usah terlalu dipikirkan.Tapi, semuanya akan lain lagi bagi seorang Alya. Dia anak yang begitu aktif dan kritis terhadap suatu hal.Bahkan dia tak segan untuk menanyakan langsung jika ada sesuatu yang masih mengganjal pada hatinya.Alya adalah anak yang sangat pintar di sekolah. Maka tak heran jika dia seringkali menjadi juru bicara ketika lomba cerdas cermat. Karena dirinya mampu merangkai kata ataupun menjelaskan suatu hal dari materi tersebut.Sesaat suasana hening.Sebenarnya diamnya Rumi bukan hanya sekedar diam. Saat ini dia tengah merangkai kata yang bagus agar Alya bisa memahami maksudnya seperti apa."Kak?" Alya memegang tangannya hingga membuat pria itu tersentak kaget.

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-12
  • Catatan Rumi   Sebuah Kecelakaan

    Pria itu masih bolak balik berputar mengelilingi jalan raya karena dia kebingungan mencari penjual sosis dan bakso keinginan ibunya itu.Masih banyak tempat-tempat yang ditutup karena biasanya, para penjual sudah mulai menjajakan dagangannya dari sore hari sampai larut malam.Kalau pagi, dia hanya menemukan beberapa penjual seperti tukang bubur, tukang nasi kuning, nasi uduk dan gorengan hangat.Sudah dua kali dia memutar balikkan motornya, tapi tidak ada satupun penjual yang dia dapat.Tapi Rumi tak berhenti sampai sana. Dia akan terus mencari keberadaan penjual itu meskipun dalam hatinya masih ada firasat tidak mungkin ada yang jual.Lagi pula percuma kalau dia pulang ke rumah. Karena Letty tak akan pernah mau mendengar alasan anaknya bagaimana.Dia ingin semua keinginannya terpenuhi apa pun caranya atau seperti apa.Sudah sekitar sepuluh menit dirinya berlalu-lalang di jalanan yang sama. Jalanan ini adalah jalanan yang dipenuhi ban

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-13

Bab terbaru

  • Catatan Rumi   Flashback

    "Di, itu anak siapa?" tanya Reksa ketika melihat Hamdi membawa seorang anak pria bersamanya ke kafe.Anak itu terlihat murung dan tak banyak bicara. Wajahnya selalu menunduk kebawah tentang berani melihat orang-orang.Dia terlihat manis. Karena jarang keluar rumah, membuat kulit anak itu begitu putih dan tinggi semampai.Ada lesung pipi di pipi kirinya. Terlihat manis ketika tersenyum. Ditambah lagi ada beberapa tahi lalat di bawah bibir dan pelipis kanannya, membuat anak itu terlihat tampan dan mencuri perhatian banyak orang yang ada di cafe itu.Sedari tadi dia tak berbicara satu katapun. Apa yang Ayahnya katakan, cara dia menjawab hanya mengangguk atau berbisik kepadanya.Anak itu juga tak tertarik melemparkan pandangan ke segala arah. Matanya hanya tertuju pada sebuah piring yang ada di depannya sambil memakan makanan di atasnya."Ah ini?" Hamdi memperjelas sementara Reksa mengangguk. "Ini anakku satu-satunya. Namanya Rumi.""Oh R

  • Catatan Rumi   Terhalang Sadar

    Dokter itu menangis ketika melihat kondisi Rumi semakin membaik.Tak tahu kenapa saat dia mendapati anak itu berbaring, kenangannya bersama Hamdi seketika mencuat ke permukaan.Iya.Dokter spesialis bernama Reksa Adi yang telah membantu Rumi, ialah teman dekat sekaligus teman seperjuangannya Hamdi Alana.Mereka sudah bersama-sama sejak kecil. Dan tentunya mereka pun sudah saling tahu sikap masing-masing bagaimana.Reksa selalu mengobati keluarganya. Bahkan dia sendiri yang yang melihat secara langsung tatkala temannya, Hamdi menghembuskan napas terakhirnya di sini.Kejadian beberapa tahun lalu itu masih membekas di dalam hatinya. Apalagi ketika mereka berdua saling mengobrol di cafe waktu itu, Hamdi sering bercerita tentang sikap istrinya yang begitu ketus terhadap Rumi.Dulu ketika dirinya bertemu dengan dia, Rumi terlihat sebagai anak yang memiliki tubuh bagus, terawat dan ceria.Jauh berbeda saat dirinya bertemu lagi d

  • Catatan Rumi   Kritis

    "Ha? Apa?" Letty seketika membulatkan mata ketika mendengar penjelasan dari Bi Nia bahwa Rumi kecelakaan.Semua orang terdiam ketika melihat reaksi ibunya Rumi yang tak bisa ditebak ini.Entah terkejut karena kasihan atau bagaimana, tapi Bi Nia merasa bahwa Letty akan bersikap baik-baik saja terhadap anak itu.Bahkan sebenarnya Letty sendiri tak peduli kalau Rumi akan seperti apa. Kehadirannya di rumah itu pun hanya menjadi beban dan tidak ada yang lebih baik lagi dari sebuah beban.Jahat memang apalagi yang menganggap dirinya adalah ibunya sendiri.Letty seakan menganggap kalau apa yang dilakukan Rumi, maka bukanlah menjadi bagian dari tanggung jawabnya.Mungkin dari sekian banyak ibu yang ada di dunia ini, hanya Letty ibu yang memiliki hati tega dan tak peduli melihat anaknya menderita."Nyonya, pokoknya kita harus ke sana. Kasihan dek Rumi." pinta bi Nia sambil menangis.Wanita itu merebut plastik yang dipegang oleh Bi Nia.

  • Catatan Rumi   Kabar Terburuk

    Suara sirine ambulans menggemakan jalan raya. Lajunya yang cepat membuat kendaraan memiliki kesadaran diri untuk menepi dan membiarkan mobil itu berjalan lebih dulu dari mereka.Memang.Suara sirine itu menandakan bahwa ada keadaan darurat di dalamnya.Banyak orang yang berhamburan keluar dari rumah karena mereka mendengar suara sirene itu keras sekali.Bahkan di tempat kejadian, masih ada banyak orang yang mengerumuni sambil berusaha membersihkan darah-darah yang berceceran di sana.Untungnya ada beberapa orang yang peduli dan membersihkan darah itu, tak hanya menimpakan pasir saja ke atasnya.Mereka menyiramnya dengan air kemudian menyikatnya dengan sabun agar nanti darahnya tidak berbekas.Suara sirene itu masih terdengar sampai bermeter-meter.Orang-orang yang rumahnya berada di gang dalam pun, masih bisa mendengar samar suara itu dari telinga mereka.Ada banyak orang yang bingung sebenarnya apa yang terjadi. T

  • Catatan Rumi   Sebuah Kecelakaan

    Pria itu masih bolak balik berputar mengelilingi jalan raya karena dia kebingungan mencari penjual sosis dan bakso keinginan ibunya itu.Masih banyak tempat-tempat yang ditutup karena biasanya, para penjual sudah mulai menjajakan dagangannya dari sore hari sampai larut malam.Kalau pagi, dia hanya menemukan beberapa penjual seperti tukang bubur, tukang nasi kuning, nasi uduk dan gorengan hangat.Sudah dua kali dia memutar balikkan motornya, tapi tidak ada satupun penjual yang dia dapat.Tapi Rumi tak berhenti sampai sana. Dia akan terus mencari keberadaan penjual itu meskipun dalam hatinya masih ada firasat tidak mungkin ada yang jual.Lagi pula percuma kalau dia pulang ke rumah. Karena Letty tak akan pernah mau mendengar alasan anaknya bagaimana.Dia ingin semua keinginannya terpenuhi apa pun caranya atau seperti apa.Sudah sekitar sepuluh menit dirinya berlalu-lalang di jalanan yang sama. Jalanan ini adalah jalanan yang dipenuhi ban

  • Catatan Rumi   Kembali Pulang

    Pria itu terdiam sesaat tatkala mendengar sebuah pertanyaan yang mampu membuat hatinya tertegun. Pertanyaan itu hanya terucap dari seorang anak yang mungkin bagi orang lain, pertanyaan yang keluar dari anak kecil hanyalah hal biasa dan tidak usah terlalu dipikirkan.Tapi, semuanya akan lain lagi bagi seorang Alya. Dia anak yang begitu aktif dan kritis terhadap suatu hal.Bahkan dia tak segan untuk menanyakan langsung jika ada sesuatu yang masih mengganjal pada hatinya.Alya adalah anak yang sangat pintar di sekolah. Maka tak heran jika dia seringkali menjadi juru bicara ketika lomba cerdas cermat. Karena dirinya mampu merangkai kata ataupun menjelaskan suatu hal dari materi tersebut.Sesaat suasana hening.Sebenarnya diamnya Rumi bukan hanya sekedar diam. Saat ini dia tengah merangkai kata yang bagus agar Alya bisa memahami maksudnya seperti apa."Kak?" Alya memegang tangannya hingga membuat pria itu tersentak kaget.

  • Catatan Rumi   Dengan Alya

    Aku benar-benar dibuat terkejut tatkala mendengar penjelasan dari anak ini.Ha? Mana mungkin sekarung besar itu kita hanya mendapatkan upah yang kecil sekali?Aku sampai dibuat heran dan tak percaya dengan kenyataan ini."Alya, kamu nggak bohong kan? Masa kamu dapat upah sekecil itu?"Dia tersenyum. "Emang kakak kira, kita bakal dapat berapa?""Ya barang kali aja bisa nyampe dua puluh ribu atau tiga puluh ribu."Alya seketika tertawa. "Aduh, kak. Kalau misal aku bisa dapat sampai segitu, mungkin kita nggak akan tinggal di sini."Suasana masih terlihat cerah sekali. Aku melihat anak-anak tampak riang bermain di halaman depan rumah.Mereka sama sekali tak terganggu dengan aroma busuk yang menyengat di sini. Apalagi kalau tiba-tiba ada angin yang lewat, bau itu malah semakin membuatku ingin memuntahkan isi perut.Aku melihat Alya sebagai anak yang begitu tangguh. Umurnya memang masih kecil. Tapi dia sudah terlihat dew

  • Catatan Rumi   Mengobrol Bersama Anak-anak

    Aku tercengang bukan main tatkala mendengar penjelasan dari Bi Nia tentang anak-anak yang begitu hebat dan kuat ini.Bahkan kalau boleh aku jelaskan kepada kalian, anak-anak di sini adalah anak yang riang dan tak pernah mengeluh sedikitpun.Meskipun harus ku akui tinggal di sekitaran sampah itu tak sehat dan tentunya tidak akan bisa membuat anak berkembang baik, tapi mereka benar-benar memanfaatkan apa yang ada selagi itu bisa membuat dirinya bahagia, maka tak masalah.Aku sampai tak bisa berkata apa-apa lagi selain takjub dan bangga dengan anak-anak ini.Bahkan meskipun mereka makan dari makanan yang tidak selayaknya dimakan, tetapi mereka tetap ceria."Kakak sini!" tiba-tiba ada satu anak yang menarik tanganku.Dia perempuan. Wajahnya cantik dan putih. Tapi sayang, bajunya kotor dan kumal.Mungkin karena faktor keadaan di rumahnya juga yang seperti itu."Apa?" tanyaku berusaha mengakrabkan diri."Kakak coba lihat kapal

  • Catatan Rumi   Kebahagiaan yang Sederhana

    Hiruk pikuk keadaan pasar begitu menggegarkan suasana.Orang-orang tampak sibuk membeli kebutuhan hidupnya masing-masing.Ada yang membeli ikan, beras, telur, daging, sayuran bahkan buah-buahan.Hampir semua dari mereka berkumpul di tempat-tempat yang ingin mereka beli dagangannya.Ketika sampai, Rumi hanya bisa ternganga melihat keindahan yang baginya terasa langka.Meskipun tanah yang ia pijak begitu becek dan kotor, bahkan kalau kita mau berjalan ke belakang untuk membuang sampah, selalu ada banyak belatung yang berserakan di atas tanah itu.Menjijikkan sekali memang.Namun justru yang membuat perhatian anak itu teralih, bukan karena kotor dan kumuhnya tempat itu.Justru karena dia sedikit senang bisa melihat orang-orang bisa mengekspresikan dirinya di sini.Pasar sebagai tempat bebas bagi mereka untuk mengobrol, saling tawar-menawar antara penjual dengan pembeli, bahkan kita juga bisa menemukan orang yang diajak meng

DMCA.com Protection Status