Ayana mulai membuka mata perlahan, menangkap semburat cahaya matahari yang masuk pada celah-celah ventilasi. Sial, hari ini ia bangun kesiangan setelah tadi subuh ia memutuskan untuk tidur kembali tak peduli akan omelan Candra yang menyuruhnya untuk belajar memasak bersamanya sebelum sang ibu mertua bangun.
"Astaga!" pekik Ayana saat mengingat ibu mertua. Ia lupa jika saat ini ibunya Candra masih tinggal bersama mereka.
"Argh, kenapa gue bisa lupa sih" geram Ayana mengacak rambut kasar. Segera ia menyibak selimbut yang menutupi separuh tubuhnya dan beranjak pergi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Seusai membersihkan tubuhnya, lagi-lagi ia menggeram saat tak mendapati pakaian yang selalu ia pakai dilemari Candra.
Ia lupa, jika saat ini hampir semua pakaiannya masih berada dikamar tamu. Kamar yang sudah lama ia tempati.Kamar yang sekarang dihuni ibu mertuanya.
"Terus gue pake baju mana" gerutunya menatap malas dua stel pakaian miliknya yang
Mentari mulai bersinar begitu terang seolah memberikan pesan bahwa kehidupan masih akan berlanjut sampai ia meredup digantikan dengan sang puranama yang terang redup seolah memberikan pesan jika kehidupan dunia butuh di istirahatkan.Kali ini, seterik apa pun cahaya matahari tak menyulutkan semangat Candra untuk pergi ke kampus demi memberikan sebuah ilmu yang ia dapat pada anak didiknya.Bibir tipisnya tak pernah lepas melengkungkan senyuman hangat pada siapa pun yang berpapasan dengan dirinya membuat semua orang terheran-heran. Dosen yang terkenal dengan wajah dinginnya kini berbeda, begitu hangat seolah cahaya matahari telah menghangatkan hatinya."Selamat siang," sapa Candra saat memasuki kelas yang akan ia ajari."Siang pak ..." serempak mereka menjawab dengan hangat seakan kehangatan yang Candra berikan telah menular pada mahasiswa/i nya.Netranya memicing saat melihat salah satu siswinya tak menjawab sapaan darinya bahkan terkesan menghindar
"Tumben lo Ya gak bawa motor? Disita bokap ya?" sindir Guntur saat mereka baru saja keluar dari kampus setelah asik nongkrong di kantin sebelah."Gue jual," jujurnya dengan menjitak kepala Guntur."Lah, kenapa dijual?" kaget Marteen.Ayana menggeleng,sebagai jawaban. Tidak mungkinkan jika harus memveverkan alasannya.Asep yang mendengar hal itu nampak tenang mendekat kearah Ayana. "Lo lagi butuh duit? Kenapa gak bilang sama kita?" tanya Asep lembut."Enggak kok, gue bosan aja sama tuh motor" jawab Ayana cepat.Marteen tersenyum jail, sebelah matanya mengerling. "Kode nih, udah bosan bawa motor sendiri" sindir Marteen."Oh neng Aya pengen ya di bonceng sama Aa Guntur" sela Guntur dengan tersenyum puas."Sial! Enggak-enggak," ucap Ayana cepat."Aduh, gak usah malu. Bilang aja, Aa Aya pengen diboncengin gitu" goda Guntur membuat tawa mereka pecah."Apaan lo Tur, gue gak selebay itu!" protes Ayana dengan tangan mengep
Malam kian melarut, kulihat Ayana begitu gelisah dalam tidurnya. Bahkan berkali-kali kurasakan jika ia bolak-balik ke kamar mandi, ada apa dengannya? Apa hanya gara-gara tidak menonton sepak bola, ia tidak bisa tidur?"Bisa gak sih, kamu diam" ucapku merangkulnya erat."Buset, awas gak lo? Berat ini," ucapnya menepis tanganku yang kini merangkulnya erat."Terus kenapa belum tidur? Apa ucapan saya tadi menyinggung perasaanmu?" tanya Candra yang masih kepikiran dengan ucapannya tadi sore.Ayana menggeleng cepat, lalu ia berusaha bangkit dari tidurnya."Mau kemana?" tanya Candra mencegahnya pergi."Boleh gak gue nonton bola, sebentar saja" mohonnya dengan kedua tangan yang ia tangkupkan di dada.Candra berpikir sejenak, lalu ikut bangkit dari pembaringan."Nonton bola dimana? Dirumah Guntur?" tanyanya. Kedua mata Ayana berbinar menatap Candra, detik kemudian ia mengangguk pelan."Ini sudah malam, tidurlah. Saya tidak akan i
"Tik, lo tau gak. Kucing kalau turun, yang duluan apanya?" tanya Leo memberikan tebak-tebakan pada Tika yang tengah asik menyantap cemilan bersama geng Aster.Mulut Tika berhenti mengunyah, matanya menyipit sembari berpikir keras."Alah gampang itu, gue juga tau" seru Marteen."Ya kalau tau diam aja, inikan pertanyaan buat si Tika" ujar Leo cepat membungkam mulut Marteen."Emang apa?" tanya Tika polos."Jawab aja, siapa tau lo dapat hadiah dari Leo" celetuk Asep yang masih saja fokus menatap layar laptop."Oh ya, Leo yakin mau ngasih hadiah sama Tika kalau Tika menjawabnya dengan benar?" tanya Tika kegirangan. Leo tersnyum, ia duduk diseblah Tika dengan memperhatikan wajah cantik nan polos itu sebagai daya tariknya saat ini."Apapun yang Tika inginkan, pasti Leo turuti" ucapnya dengan tak lepas memandang Tika.Dengan semangatnya Tika menghadap kearah Leo menjadikan dua wajah itu nyaris beradu."Beneran?" tanya Tika mengu
Senyum menyeringai tercipta pada wajah Tika saat melihat Ayana begitu akrab dengan dosen yang bernama Candra, yang Ayana sebut dengan musuh.Ia begitu mulai penasaran akan hubungan keduanya saat netranya tak sengaja melihat tangan Candra menggenggam tangan Ayana dengan mesra."Ck, wanita murahan" cacinya.Ya, saat ini Tika tengah berdiri tak jauh dari keberadaan Ayana dan Candra. Niat hati ingin melihat bagaimana Ayana memperlakukan Bisma hingga memvuat Bisma terjatuh dalam pesonanya. Ia malah dikagetkan dengan suguhan pemandangan tak biasa, Ayana begitu akur dengan Candra bahkan keduanya seperti saling melemparkan candaan.Terbukti dengan tawa ringan yang menyelimuti kebersamaan keduanya."Lo, lihat aja bagaimana gue akan membongkar kebusukan lo pada geng Aster" gumamnya dengan senyum sinis.Tika pun berlalu pergi begitu saja, membiarkan kemesraan yang ia lihat hanya untuk hari ini saja. Sementara hari selanjutnya ia akan berusaha men
Ada tiga jenis nafkah yang wajib bagi suami memberikannya pada istri. Yakni nafkah keluarga, nafkah barang pribadi istri serta nafkah batin.Candra sadar tiga jenis nafkah tersebut belum ia penuhi seutuhnya, bahkan uang yang seharusnya Candra berikan untuk kebutuhan Ayana pun malah ia simpan sendiri dikarenakan Ayana yang selalu menolaknya mentah-mentah.Prihal nafkah batin? Candra pun belum sepenuhnya memberikan, bukan apa. Tapi setiap ingin memberikan tawa bahagia, ia selalu saja ingat pada perempuannya dimasalalu. Tapi malam ini, Candra akan menguatkan diri untuk bisa belajar mencintai Ayana sepenuhnya."Ya harus," gumam Candra dengan mengepalkan jari-jari tangannya.Ia pun kini tengah terduduk dimeja kerjanya sembari fokus memainkan keyboard laptopnya agar pekerjaannya cepat selesai.Kret ...Ekor matanya sebilah cahaya masuk kedalam ruangan bersamaan dengan decitan pintu yang terbuka. Ia mendongak, menatap kedepan, gadis yang
Gadis berperangai jahat itu kini tengah tertawa bahagia, menatap dua insan yang tengah bercanda ria saling berpegang tangan penuh mesra, sungguh dirasa tak percaya. Untuk kedua kalinya ia memergoki sahabatnya begitu mesra dengan laki-laki yang ia anggap sebagai musuhnya sendiri, sungguh ia tak percaya.Tapi itulah nyatanya, itulah buktinya yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Tak jarang beberapa momen romantis ia potret dengan mencuri-curi untuk ia menjadikan bukti.Beberapa iblis yang mengelabui hati dan pikirannya membuat sebuah ide buruk terbersit dalam dirinya. Pikiran picik lagi kotor kini mendominasi dirinya. Akankah ia menjadi pengkhianat demi membalas setiap rasa sakit yang ia rasakan saat ini?Usai mengambil beberapa gambar, ia berlalu pulang dengan wajah bersembunyi dibalik kupluk hodie yang ia pakai agar kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu tak mengetahui dirinya."Tunggu pembalasanku," gumamnya dengan senyum menyeringai."
Kerutan mendalam kini tercetak jelas pada dahi Candra saat melihat Ayana yang tiba-tiba menjadi pendiam sejak kepulangannya dari kampus tadi.Luka memar diwajah istrinya pun membuat sejuta tanya dibenaknya. Apa ia sudah berkelahi? Apa jiwa premannya kembali menjadi? Dari pada memendam tanya sendiri, ia lebih baik bertanya dan menghampiri Ayana yang kini tengah duduk dengan tatapan kosong pada arah jendela."Kamu kenapa?" Tanya Candra yang tak digubris olehnya."Sakit atau ada yang menyakitimu?" Tanyanya lagi berusaha memahami perasaan Ayana.Bukannya menjawab Ayana malah mendelik kesal, bahkan tubuhnya bergeser sedikit menjauh dari Candra."Kenapa sih, yaampun. Kenapa jutek lagi, ada yang salah dalam diri Mas?" Candra kembali bertanya, ia berusaha mendekati Ayana yang kini tengah menghindar darinya."Gara-gara lo gue jadi dituduh sebagai wanita malam" to the pointnya Ayana membuat Candra semakin kebingungan.Apa yang sebenarnya terjad
"Bunda! Bangun, shalat subuh yuk"Teriakan dua orang yang berbeda nada suara itu begitu mengganggu waktu tidur Ayana pagi ini. Bukannya bangun, Ayana malah sengaja menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya membuat kedua laki-laki beda usia itu berkacak pinggang tak terima. Keduanya saling menatap lekat seolah memberi pesan jika keduanya telah merencanakan sesuatu. SatuDuaTiga"Ayo bangun Bunda, nanti subuhnya telat!"Keduanya kembali berteriak dengan menarik kuat selimut yang tengah Ayana kenakan. Sabiru sudah tidak sabar, ia menaiki ranjang dan memeluk Ayana erat. "Bunda, ayo dong" Sabiru kembali membangunkan Ayana dengan mencium wajah cantiknya. Menyadari ada yang tidak beres membuat Ayana segera membuka mata, ia memeluk Sabiru erat. "Sayang, Ummah masih ngantuk. Kalian duluan aja ya nanti Ummah nyusul" Sabiru menggeleng, ia menarik lengan Ayana untuk segera bangun dari pembaringan. "Ayo bunda, kita berjamaah sama Ayah"Kedua mata Ayana memicing, indra pendengarann
Mata Bisma menyala, jarum suntik yang ia pegang pun mampu dipatahkannya. Ia semakin tersulut emosi, dimana otak Ayana kali ini? Bukankah telat satu jam saja nyawa Sabiru taruhannya sementara jarak pesantren dan rumah sakit ini bisa ditempuh tiga puluh menit belum proses pengecekan golongan darah dan kesehatan. "TOLONGLAH PAHAM, AYA! DIA AYAHNYA, DIA YANG PALING BERHAK MENOLONG SABIRU!" teriak Bisma begitu kencang. Candra begitu syok mendengar pernyataan Bisma, ia pun turun dari ranjang pasien menghampiri Ayana yang berdiri kaku diambang pintu."Apakah yang Bisma katakan itu benar?" tanya Candra tak percaya. Ayana masih membeku enggan menjawab. Kedua tangan Candra terangkat, ia mengguncang tubuh Ayana. "Jawab Aya, apakah itu benar?"Melihat pemandangan tersebut membuat Bisma semakin geram, ia tidak mau membuang banyak waktu hanya karena ini. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah Sabiru, ia ingin Sabirunya selamat. "Aya aku tidak akan pernah memaafkamu jika Sabiruku tidak selamat," lir
Selepas kepergian Candra, Ayana menangis sesenggukan dengan Sabiru yang sudah tertidur dipelukannya. Dengan datar Bisma mengambil sabiru untuk ia tidurkan lalu menyuruh Ayana untuk menjauh agar tidak mengganggu Sabiru. Ayana menurut, ia menjauh dari Sabiru dan terduduk di kursi tunggu yang tersedia diruangan tersebut. "Kenapa tidak jujur saja? pernyataan yang kamu lontarkan itu suatu kebohongan yang suatu saat akan merugikan kamu sendiri" Bisma menyodorkan tisu pada Ayana dengan kecewa. Kenapa Ayana seolah-olah kembali memberikan harapan besar padanya padahal jelas-jelas ia akan kembali merasakan sakitnya kembali ditolak oleh Ayana. Ayana mendongak, ia menerima tisu tersebut untuk menghapus ingusnya. Bisma duduk disampinya, mendengarkan tangis Ayana yang tidak mau berhenti itu dengan setia."Kenapa dia datang disaat aku hampir saja berhasil melupakannya?" tanya Ayana disela tangisnya. "Yang dia bilang itu benar Ya, pertemuan kalian itu sudah menjadi takdir Tuhan. Kamu tidak bisa
Tiga tahun berlaluSenja, kelabu masih saja menjadi peneman hari-hari Candra sejak tiga tahun terakhir setelah ia tidak pernah menemukan Ayana dimana pun. Kedua orangtua pun tidak ada yang memberitahu kemana perginya Ayana sebenarnya. Sejak tigak tahun terakhir pula, hidup Candra diambang keputus asaan. Ia begitu bingung ingin melanjutkan hidupnya seperti apa sementara kehidupan telah berakhir sejak penyesalan terbesarnya itu."Sudah tiga tahun loh, lu gak mau bangkit melupakannya? Gue aja udah punya anak tiga loh" sindir Haris menemui Candra yang tengah terduduk di balkon kantornya. Ya, Candra kembali bekerja di rumah sakit miliknya sebagai CEO sejak ayahnya mengetahui jika Candra sudah putus dengan Hanin. Candra tak tergerak untuk menjawab, ia masih saja menikmati senja yang akan kembali digantikan dengan gelapnya malam. "Gue masih menunggu dia balik, sekali pun dia sudah bukan jadi istri gue tapi gue akan tetap menjadi miliknya. Gue gak mau nikah dengan siapa pun kecuali dengan
Hari-hari berikutnya adalah penderitaan bagi Candra, sesak yang menggunung dihatinya tidak akan pernah runtuh sebelum ia meminta maaf pada Ayana dan Ayana memaafkannya. Menyesal, merasa bersalah dan rindu yang amat besar membuat hari-hari Candra menjadi sangat kelabu.Untuk menuntaskan semuanya pagi ini bahkan Candra bergegas untuk menjemput Ayana dan meminta maaf padanya, wajah yang sayu itu kini sudah menatap sendu pekarangan rumah Herlan. Disana nampak begitu sepi pagi ini dan Candra tidak begitu yakin kalau Herlan akan mengizinkannya masuk. Namun bukan Candra namanya kalau tidak mencoba. Ia berusaha menguatkan hatinya, bersikap bodo amat memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah tersebut. Beberapa penjaga bahkan menyambutnya dengan ramah. Menghela nafas dalam, Candra keluar dari mobil dan berjalan menuju depan pintu rumah tersebut. Belum sempat Candra mengetuk pintu tiba-tiba Adinda keluar dari rumah tersebut dengan pakaian dinasnya. "Kamu, sedang apa disini?" tanya Adinda beg
Sudah hampir tiga bulan sejak perpisahan Candra dengan Ayana, kini dirinya sudah kembali terbiasa menjalani hari-hari. Melakukan pekerjaan rumah tanpa di bantu oleh Ayana. Keterbiasaan itu entah kenapa menjadikan hatinya suram untuk menjalani hari-hari. Ia merasa harinya kurang lengkap tanpa ada pengganggu di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Ayana. Sudah hampir tiga bulan juga Candra tak lagi menjadi seorang CEO dirumah sakit miliknya atau pun di perusahaan milik ayahnya. Hidup Candra kembali lagi kemassa dimana ia hanyalah seorang pegawai rumah sakit biasa di salah satu rumah sakit swasta. Haris, yang merupakan sahabatnya pun tak peduli dengannya. Entah, mungkin ini memang hukuman baginya atas apa yang ia lakukan pada Ayana dulu. Candra menarik napas dalam, menatap kearah sebrang rumah sakit. Dimana ia melihat seseorang yang tidak asing baginya, perempuan yang sedari dulu ia cintai tengah menunggunya duduk santai menikmati secangkir kopi andalan yang disajikan di kafe tersebut.
Rembulan malam telah tenggelam, menghilang di gantikan dengan sinar matahari yang terbit dengan malu-malu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Candra masih asik duduk melamun di kursi meja makan. Ada hati kecil yang menyesal saat ini, luka di wajahnya bahkan masih terasa perih. Setelah malam itu, sepertinya Candra akan benar-benar kehilangan Ayananya. Kemarahan Herlan nampaknya akan mengibarkan bendera permusuhan. Pikirnya. Candra meringis saat melihat pemandangan rumah yang begitu acak-acakan tidak seperti biasanya yang nampak rapi dan harum. Ia menghembuskan nafas kasar ketika cucian yang menggunung seperti melambai-lambai kearahnya. Ini baru beberapa hari Ayana pergi dari rumahnya namun Candra sudah dibuat stres dengan pekerjaan rumah yang menggunung. Kenapa harus takut jika Ayana pergi kan ada Hanin yang akan merawatnya, menggantikan posisi Ayana. Pikirnya Candra begitu dulu tapi Candra salah. Setelah malam itu, Hanin malah seperti terkesan menjauh. Ia begitu sulit d
Mobil berplat nomor dinas itu berhenti tepat di pekarangan rumah Candra. Nampak Herlan bersama kedua ajudannya keluar dari mobil tersebut, mata Herlan memejam lama saat kakinya hendak melangkah ke depan pintu rumah yang sedikit terbuka. Samar-samar Herlan mendengar suara perempuan yang tengah asik berbincang dengan menantunya itu, tentu saja bukan Ayananya. Tangan Herlan terangkat hendak mengetuk pintu, namun dihalangi oleh kedua ajudannya."Izin komandan, sebaiknya jika memang komandan ingin memastikan benar tidaknya jika menantu komandan itu berselingkuh sebaiknya kita tunggu dulu jangan dulu masuk, kita intip saja dari jendela dan dengarkan percakapannya" ujar Roni salah satu ajudan yang paling keluarga Herlan percayai.Herlan menurunkan tangannya, ia menuruti apa yang dikatakan Roni. "Ayo tuan sebaiknya kita intip disini," ajak Roni sedikit menjauhi pintu utama tepat pada jendela besar yang hanya di tutupi kain gorden yang sangat tipis. Dari sana terlihat jelas Candra tengah du
Lantunan surat Al-Baqarah terdengar melangalun lembut menghiasi kamar kos-koasan berukuran 2.5 m kali 3 m itu.Si pembaca begitu menjiwai setiap ayat demi ayat yang ia lantunkan. Apalagi saat ia membaca dan merenungi salah satu arti dari surat al-baqarah ayat 216 yang berbunyi :كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”Melalui surat Al Baqarah 216 Allah telah menjelaskan bahwa kewajiban perang harus dilaksanakan meski hal tersebut bukan sesuatu yang menyenangkan. Dalam ayat tersebut menyebutkan bahwa “boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu” yang berarti peperangan