"Kirimkan helikopter, kami akan menunggu di lokasi proyek EN Company." Ethan segera menutup teleponnya lalu menatap Emma."Kita harus pulang sekarang," ucap Ethan panik lalu menarik tangan Emma dan berlari ke mobil."Ada apa?" tanya Emma ikut panik."Aku tidak tahu pasti, tapi kata Tony sesuatu yang buruk terjadi pada orangtuaku."Ethan mengendarai mobilnya ke lokasi proyek pusat perbelanjaan milik EN Company yang hampir selesai sambil terus melirik jam tangannya.Emma memeriksa berita online tapi tidak ada satu beritapun tentang keadaan Jonathan dan Vivi Navarro. Dia tidak berani bertanya apapun karena melihat kepanikan di wajah Ethan.Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya helikopter pun tiba. Emma dan Ethan segera naik dan pulang ke ibukota."Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ethan kepada Tony begitu mereka tiba di rumah sakit."Sepertinya seseorang mencoba meracuni Tuan dan Nyonya," jawab Tony pelan sambil menundukkan kepala."Bagaimana keadaan mereka?""Sebaiknya Tuan langsun
"Apakah sesuatu terjadi kepada orangtua Ethan?" tanya Emma balik dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Dia khawatir Dods akan mengetahui kebohongannya karena aktingnya yang buruk.Dods adalah bagian dari keluarga Lucero yang merupakan ipar keluarga Navarro. Apakah keadaan kedua orangtua Ethan sudah terbongkar diantara keluarga mereka, ataukah keadaan kedua orangtua Ethan berhubungan dengan mereka.Emma ingat Ethan menduga kalau yang memberi racun pasti orang yang dipercayai oleh ibunya, hingga wanita itu mau menerima teh herbal itu bahkan ikut meminumnya."Ayahku mengatakan sudah hampir seminggu paman dan bibiku tidak terlihat, mereka juga tidak mengangkat teleponnya. Memang Ethan mengumumkan kalau mereka berdua sedang liburan ke luar negeri tapi ayahku khawatir ada hal lain yang terjadi," jawab Dods, membuat Emma semakin curiga."Kalau Ethan mengatakan kedua orangtuanya sedang berlibur, mengapa ayahmu khawatir?" sahut Emma berpura-pura acuh."Aku juga tidak tahu, tapi ayahku ter
"Saya ... Saya ... " Emma terbata-bata tidak tahu harus mengatakan apa. Dia benar-benar tidak menyangka selalu bertemu Dods di waktu dan tempat yang salah."Anda sendiri, apa yang anda lakukan disini tuan?" tanya Emma segera mencoba mengalihkan pembicaraan."Aku mau melakukan medical check-up rutin."Emma mengangguk berusaha mencari cara agar bisa menemui Ethan tanpa ketahuan oleh Dods."Jadi ada urusan apa hingga kau datang ke rumah sakit sepagi ini?" ulang Dods bertanya."Saya mau mengunjungi keluarga saya," jawab Emma sambil menunjukkan tas tentengannya."Kalau begitu aku akan mengantarmu.""Eh, tidak usah, Tuan. Silakan anda melakukan urusan anda, saya bisa pergi sendiri.""Tidak apa-apa, aku masih punya waktu untuk mengantarmu. Sini biar kubawa tentenganmu, kelihatannya berat," sahut Dods tidak memedulikan penolakan Emma."Tuan, tidak usah. Saya bisa pergi sendiri," tegas Emma yang sudah mulai terganggu dengan sikap memaksa Dods."Sudah kukatakan tidak apa-apa, ayo berikan itu,"
"Mama tenanglah, aku akan mengurusnya. Sekarang beristirahatlah," ucap Ethan sambil memperbaiki selimut ibunya, lalu menutup tirai dan meredupkan lampu."Ayo, kita keluar," bisik Ethan sambil menarik pelan tangan Emma.Ethan langsung memanggil Tony dengan wajah serius."Ibuku baru saja mengatakan kalau Francis Lucero yang memberikan teh herbal itu. Dia pasti sengaja memberikan teh herbal karena tahu itu kesukaan ayahku dan ibuku tidak menyukainya. Cari bukti pertemuan mereka sehari atau beberapa jam sebelum kejadian. Lalu besok malam, umumkan kalau ibuku sedang dalam keadaan gawat di rumah sakit karena keracunan teh herbal."Emma melihat Ethan berbicara dengan Tony dari jauh dan merasa sangat kasihan kepada pria itu. Dia pasti sangat terpukul mengetahui kalau pamannya sendiri mencoba membunuh ayah dan ibunya. Emma bisa merasakan rasa sakitnya dikhianati oleh orang terdekat seperti itu. Emma masih ingat dengan jelas rasanya ketika paman kandungnya mencoba menjualnya, lalu menipu dan m
"Emma, maukah kau menemaniku menemui pamanku?" tanya Ethan ragu."Tentu saja," jawab Emma yakin.Hari ini Ethan sudah berniat untuk menemui pamannya di tahanan. Meski seharusnya pamannya tidak boleh dikunjungi siapapun, tapi Ethan sudah mendapat izin khusus untuk itu. Namun, berbagai hal muncul dalam pikirannya, membuatnya tidak benar-benar siap untuk mendatangi Francis Lucero.Meminta Emma menemaninya adalah salah satu cara untuk mempersiapkan dan meyakinkan dirinya untuk menemui sang paman.Setelah mereka berdua selesai makan, Emma segera bersiap dan berangkat bersama Ethan."Apa yang akan kau katakan setelah bertemu dengan pamanmu nanti?" tanya Emma di dalam mobil menuju ke tahanan."Entahlah, berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Tapi mungkin ketika bertemu nanti satu-satunya hal yang harus aku katakan adalah bertanya mengapa dia melakukan itu kepada kedua orangtuaku," jawab Ethan sambil menatap keluar jendela. Emma membiarkan Ethan mengambil waktu untuk menenangkan diri. Kar
"Ada apa? Siapa yang mengirimkan pesan?" tanya Ethan menyadari perubahan air muka Emma."Dods, dia mengancamku," jawab Emma pelan. Ethan langsung menghentikan mobilnya mendadak dan mengambil telepon genggam Emma yang masih tampak shock dan membacanya."Pria ini benar-benar pengecut!" maki Ethan sambil mengembalikan telepon genggam Emma."Tapi dia agak gila dan nekat, bahkan Hazel sempat takut kepadanya.""Kau tidak perlu takut. Berkonsentrasilah dengan penampilanmu untuk kompetisi bernyanyi besok. Aku akan meminta Tony untuk mengawasi dan menjagamu. Dia akan mengantar dan menjemputmu bila aku tidak bisa melakukannya. Selain itu akan ada orang yang menjaga di sekitar rumahmu selama 24 jam penuh. Aku akan memastikan bahwa kau aman dan ada yang akan menyakitimu."Emma melirik Ethan dengan tidak percaya."Bukankah itu sedikit berlebihan?" tanya Emma pelan."Tidak," jawab Ethan singkat.Emma tersenyum kecil merasa sangat tersentuh dengan perhatian Ethan yang berlebihan padahal dia hanya me
"Apa katamu?" tanya Emma terkejut."Aku difitnah? Siapa yang melakukannya dan untuk apa? Aku bahkan bukan siapa-siapa," lanjut Emma bingung."Karena ... ah sudahlah, lebih baik kau memeriksanya sendiri. Kau akan tahu mengapa."Emma segera memeriksa link yang dikirimkan Hazel setelah mereka selesai bicara."Ada apa? Siapa yang memfitnahmu?" tanya Ethan khawatir.Emma menyerahkan berita yang dikirimkan oleh Hazel, Ethan membacanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.[Emma, finalis kompetisi bernyanyi, ternyata merebut kekasih Lea sang Diva][Alasan mengapa Lea selalu mengkritik Emma, kekasih sang Diva direbut oleh sang pendatang baru.]Ethan menghela napas perlahan setelah membaca judul artikel yang muncul di internet. Dia segera menghapus pesan yang dikirimkan oleh Hazel lalu mengembalikan telepon genggam Emma."Jangan membacanya dan jangan khawatir. Aku akan membereskan semuanya," ucap Ethan berusaha menenangkan Emma."Ayo pulang.""Kau tidak akan menghabiskan makananmu?""Aku sudah ke
Melihat botol minuman yang melayang, Emma segera melindungi kepalanya dengan kedua tangan dan bersiap untuk basah.-Buk-Emma mendengar suara yang cukup keras, tapi dia tidak terkena apa-apa."Apa kau baik-baik saja?"Emma membuka matanya dan melihat Ethan berdiri sambil melebarkan kedua tangannya dan melindungi Emma dengan tubuhnya."Kalian akan kami laporkan ke polisi karena sudah menyerang seseorang." Emma menegakkan tubuhnya dan mengintip dari balik tubuh Ethan. Dia melihat Tony dan Hazel sedang berbicara dengan gadis-gadis yang tiba-tiba kehilangan kegarangannya itu."Ayo, kita pulang. Biar Tony yang mengurus mereka," ajak Ethan sambil merangkul Emma.Mereka berjalan dengan cepat menuju ke apartemen Emma."Bukankah biasanya kau punya pakaian di mobilmu? Aku akan mengambilnya agar kau bisa berganti pakaian dan tidak terkena flu," ucap Emma begitu mereka tiba di depan apartemennya."Tidak usah, nanti aku akan meminta Tony mengantarkannya," tolak Ethan sambil menatap Emma."Kau cukup
Emma kembali ke rumah sakit saat malam. Dia benar, keadaan sekarang sudah sepi jadi Emma bisa dengan leluasa menemui Ethan. Dia masuk ke dalam kamar Ethan dan sangat bahagia begitu melihat Ethan yang sedang duduk sambil bersandar tersenyum padanya."Apa kau benar baik-baik saja?" tanya Emma sambil berlari ke arah Ethan."Aku baik-baik saja, tapi aku merindukanmu. Mengapa kau baru datang sekarang?""Tadi banyak sekali orang yang ingin menemuimu. Karena itu aku menunggu mereka pulang, agar bisa berduaan denganmu," jawab Emma sambil tersenyum menggoda.Emma melihat sekelilingnya."Mengapa kau sendirian? Apa tidak ada orang yang menjagamu di sini?" "Aku akan pindah malam ini, Tony sedang mengurusnya dan kedua orangtuaku menunggu di rumah sakit Atlantis.""Malam ini?" tanya Emma terkejut."Ya, kau cukup beruntung karena masih sempat bertemu denganku," goda Ethan.Tidak lama kemudian Tony masuk bersama rombongan paramedis. Mereka memindahkan Ethan ke kursi roda dan membawanya."Tuan Tony,
"Keluarga pasien Ethan," panggil perawat dari pintu masuk UGD.Emma segera berdiri dan mendekati perawat, karena kedua orangtua Ethan belum datang. Hazel sudah pulang duluan agar dapat mengistirahatkan kakinya dan Tony sedang menghubungi rumah sakit milik Atlantis meminta mereka untuk mengurus kepindahan Ethan kesana."Ya, saya," jawab Emma."Ada beberapa tindakan yang harus kami lakukan namun membutuhkan izin dari dari keluarga. Apakah anda istrinya?" tanya sang perawat.Emma menggelengkan kepala."Adiknya?"Emma kembali menggeleng."Sepupu? Ibu? Tante?" tanya perawat lagi.Emma terus menggeleng sambil menangis."Kalau begitu anda tidak bisa menandatangani surat ini. Saya mohon, tolong hubungi keluarganya dan minta mereka datang untuk menandatanganinya, kami akan menunggu," ucap sang perawat kepada Emma.Emma benar-benar putus asa dia sedang berbalik ketika melihat ayah dan ibu Ethan berlari ke arahnya."Itu! Itu ayah dan ibunya!" seru Emma senang.Jonathan dan Vivi segera mendekati
[Aku harus kembali ke ibukota karena ada hal mendesak yang harus aku kerjakan. Aku sudah meminta Tony untuk mengurus kalian berdua.]Emma membaca pesan yang dikirimkan Ethan kepadanya. Dia bisa merasakan ada yang berubah dari cara Ethan bicara dengannya meski hanya melalui pesan. Meski berusaha tetap memberikan perhatiannya, tapi seperti ada jarak yang diciptakan oleh pria itu."Ada apa?" tanya Hazel melihat perubahan wajah Emma."Ethan pulang duluan ke ibukota, karena ada pekerjaan mendesak," jawab Emma berpura-pura baik-baik saja."Apa benar karena pekerjaan, atau dia menghindarimu karena kejadian semalam?""Tidak mungkin. Kami bicara baik-baik dan dia sangat bisa menerima penjelasanku. Aku yakin dia benar-benar bekerja," jawab Emma yang sebenarnya juga tidak yakin.Sebenarnya Emma ingin tetap berada di Calamba dan berencana membiarkan Tony dan Hazel pulang berdua saja. Namun Hazel mengancam tidak akan ke rumah sakit kalau bukan Emma yang menemaninya. Gadis itu sangat takut disuntik
Ethan berdiri mematung dengan tangan yang masih menggenggam sebuah cincin berlian di dalam kantongnya."Apa maksudmu?" tanya Ethan bingung dan berusaha keras mencerna maksud perkataan Emma."Mengapa kau tidak mau menikah denganku? Apa kau tidak mencintaiku?" lanjut Ethan mulai sedikit kecewa.Emma menghela napas dalam sambil menatap Ethan sungguh-sungguh."Aku sangat mencintaimu dan kau tahu itu. Tapi ... pernikahan adalah hal lain, dan aku belum siap untuk menjalaninya," jawab Emma sambil berdiri hingga berhadapan dengan Ethan."Apa kau ragu kepadaku? Kau takut tidak akan bahagia bila menikah denganku?""Ethan, ini sama sekali tidak seperti yang kau duga. Bukannya aku tidak percaya kepadamu, aku hanya belum siap menjalani pernikahan," jawab Emma hampir putus asa karena melihat wajah kecewa Ethan."Bagaimana kalau aku memberimu pilihan menikah atau kita putus?" tanya Ethan dengan wajah serius.Emma menatap Ethan dengan tatapan tidak percaya, lalu kembali duduk. Dia tidak menyangka Eth
Tony berdiri mematung begitu pintu dibanting oleh Hazel."Apa? Apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya pelan. Dia meremas rambutnya dengan keras, karena menyesali kebodohannya. Dia sangat menyukai Hazel, bahkan dia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis itu.Dia mencari tahu semua tentang Hazel dan itu membuatnya semakin menyukai gadis itu. Tapi dia juga sadar akan kedudukannya dan merasa tidak percaya diri mendekati Hazel.Pada saat Hazel mengatakan kalau dia menyukai Tony, pria itu hampir pingsan. Dia tidak menyangka kalau Hazel juga akan menyukainya. Tapi sistem pertahanan diri yang dia miliki, membuatnya mengeluarkan reaksi yang bertolak belakang dengan yang dia rasakan.Kini, dia mengulanginya lagi. Dia kembali mengatakan hal yang tidak dia maksud karena ketakutan. "Aku harus bagaimana sekarang?" Tony menghela napas dalam dengan penuh penyesalan, lalu tiba-tiba teringat kalau Emma dan Ethan belum kembali, jadi Hazel pasti tidak punya tempat menginap. Tony segera keluar
Tony menatap Hazel yang berlari begitu cepat. Dia tidak mengerti mengapa Hazel tiba-tiba mengamuk dan meninggalkannya. Setelah beberapa saat, Tony menyadari gadis itu berlari tanpa tujuan dan dia pasti akan tersesat.Tony segera mengejar Hazel, tapi dia sudah menghilang. Tony mulai merasa khawatir dan mencari Hazel dengan panik. Tiba-tiba dia mendengar suara minta tolong dan segera berlari ke arah suara itu. Tony terkejut ketika melihat Hazel duduk di tanah sambil menangis."Nona Hazel, anda tidak apa-apa?" tanya Tony khawatir dan langsung berjongkok mendekati Hazel.Hazel yang ketakutan dan kesakitan langsung memeluk Tony dan menangis dengan kuat."Ayo, kita kembali ke penginapan," ajak Tony sambil melepaskan dekapan Hazel yang masih menangis."Kakiku sakit, aku tidak bisa berdiri," jawab Hazel sambil menangis.Tony kembali berjongkok."Letakkan tangan anda di leher saya," perintah Tony lalu langsung mengangkat tubuh Hazel seperti mengangkat seorang bayi.Hazel begitu terkejut hingga
"Maksudmu kau akan berpisah dengan Ethan?" tanya Hazel kaget. Emma tersenyum lalu menjawab dengan tenang."Tentu saja tidak. Aku sudah katakan aku sangat mencintainya dan tidak mungkin hidup tanpa dirinya.""Lalu apa maksudmu kau akan pindah ke Calamba? Sementara sudah jelas kehidupan Ethan ada di ibukota."Emma menghela napas panjang, lalu mengembuskannya. Dia tidak menjawab Hazel dan malah mengalihkan pembicaraan."Sudahlah, itu hanya rencanaku. Sekarang katakan padaku, bagaimana dengan kau dan Tony?"Hazel mendengus lalu memajukan bibirnya begitu mendengar nama Tony. Emma tersenyum, dia lega karena pembicaraan tentang dia dan Ethan akhirnya berhenti."Entahlah, aku tidak peduli. Aku sedang berusaha melupakannya.""Mengapa? Kalian bahkan belum memulai apa-apa, kenapa langsung berakhir?" "Emma, kau tahu aku menurunkan harga diriku hingga ke tanah dengan menyatakan perasaanku kepadanya. Tapi dia malah mengkritikku karena mengungkapkan rasa sukaku kepadanya, dan hingga hari ini dia sa
Emma menghela napas sambil menatap punggung Lea. Dia yang dulunya adalah penggemar berat Lea, berubah menjadi musuh sang diva dan berakhir menjadi orang asing yang saling memaafkan kemudian melupakan.Setelah menunggu beberapa saat, Emma bangkit dan keluar dari kafe itu. Kini dia tidak punya tujuan. Pulang ke rumah hanya akan membuatnya meringkuk kembali di atas tempat tidur, tapi dia tidak punya tujuan lain, selain pulang atau ke Calamba."Emma!" teriak Hazel yang sangat terkejut karena bertemu Emma di tempat yang tidak dia duga."Hazel, apa yang kau lakukan disini? Bukankah ini masih jam kerja?""Aku baru selesai menemui klien di restoran itu," jawab Hazel sambil menunjuk sebuah restorang yang tidak begitu jauh."Kau sendiri apa yang kau lakukan disini?""Aku baru saja bertemu Lea.""Apa? Untuk apa kau menemui wanita itu? Apa yang dia katakan? Apa dia mengatakan hal-hal yang buruk kepadamu?" cecar Hazel yang tidak suka kepada Lea."Jangan khawatir, kami hanya menyelesaikan apa yang
"Lea? Ada apa?" tanya Emma sambil duduk dengan wajah tegang."Apa kita bisa bertemu?" tanya Lea pelan."Sekarang?" "Ya, kalau kau tidak keberatan. Kalau kau sibuk aku bisa menemuimu siang, sore atau malam hari nanti," jawab Lea membuat Emma mengernyitkan dahi."Mengapa kau ingin bertemu? Setahuku tidak ada urusan apapun lagi diantara kita.""Ada yang ingin aku bicarakan. Jangan khawatir aku tidak akan menyerangmu. Kau tentukan saja dimana tempat yang membuatmu nyaman untuk kita bertemu," jawab Lea tenang."Aku ... Aku akan menghubungimu," sahut Emma lalu segera mematikan teleponnya.Emma menatap layar teleponnya sambil menyipitkan mata."Aku hanya ingin tidur seharian dan menenangkan tubuhku. Mengapa hal itupun tidak bisa kudapatkan? Mengapa kau harus bertemu denganku? Dan bodohnya, mengapa aku tidak langsung menolakmu?" gumam Emma sambil meletakkan teleponnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.Emma memikirkan beberapa saat lalu mengirimkan pesan kepada Lea.[Mari bertemu sian