Reyhan meninju keras dinding rumah sakit dengan kepalan tangannya. Menghadirkan sensasi nyeri yang tak tertahankan. Bahkan kini buku-buku jari itu terlihat lecet dan sedikit berdarah.
Dia tidak tahu harus kemana lagi meluapkan emosinya saat ini. Dia sungguh frustasi. Dia sudah mendengar semua percakapan antara Luwi dan Hardin di halaman kontrakan tadi. Tapi sampai detik ini, baik Luwi maupun Hardin sendiri tidak ada yang mau berkomentar apalagi menjawab dengan jujur pertanyaan-pertanyaan yang Reyhan ajukan pada mereka.
Itulah sebabnya Reyhan melampiaskan amarahnya pada dinding-dinding rumah sakit itu.
Dia kecewa pada Luwi yang masih saja tidak mau berterus terang dan berkata jujur padanya, pada Kakaknya sendiri. Dan justru seolah menutupi s
Penasaran nggak? Vote dan kasih ulasan yg banyak ya biar aku cepet lanjut...
Jodie keluar dari pintu lift. Dia mencari ruang rawat inap dengan nomor 005. Tapi seorang laki-laki di ujung lorong rumah sakit itu yang sedang duduk tepekur seorang diri justru lebih menarik perhatiannya."Puaskan lo sekarang?" ucap Jodie sinis. Dia berdiri tepat di hadapan laki-laki itu sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.Hardin mendongakkan kepalanya. Menatap tanpa ekspresi ke arah wanita bernama Jodie dihadapannya. Tangisnya sudah reda sejak tadi. Jejak-jejak air matanya masih terlihat samar di balik wajahnya. Bahkan kelopak matanyapun masih terlihat berkaca-kaca."Satu bulan yang lalu, Luwi yang harus bertaruh nyawa demi seorang pecundang yang bisanya cuma bersembunyi dari kesalahannya sendiri. Dan hari ini, Gibran yang harus jadi korban ata
Suasana di rumah itu kian mencekam sejak kedatangan Hardin, Katrina serta Omah dan Opah. Tepatnya setelah mereka menceritakan maksud kedatangan mereka ke sana. Yaitu, ingin membicarakan tentang rencana pernikahan Hardin dan Luwi.Semua orang di sana terkaget-kaget mendengarnya terkecuali Nini yang memang sudah sejak awal mengetahui masa lalu Hardin.Kak Zaenab berhambur ke sisi Katrina. Dia mengelus-elus bahu Katrina yang sedari tadi hanya tertunduk dalam diam.Opah baru saja selesai dengan ceritanya. Namun sampai sepuluh menit setelah Opah selesai bicara, tak ada satupun yang terlihat berminat untuk menanggapi. Hingga akhirnya Nini selaku yang paling dituakan disana merasa wajib untuk menengahi."Kalau memang renc
Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Tinggal satu hal yang perlu Luwi lakukan besok, yaitu meminta restu dari sang Ayah di Lapas. Sebelumnya Luwi sudah menelepon sang Ayah dan Hadi sudah merestui, tapi Omah dan Opah bilang kalau Hardin wajib datang langsung untuk menyampaikan niat baiknya pada calon mertuanya itu. Dan Hardin baru ada waktu besok untuk berangkat ke Jakarta.Entah mengapa, sampai saat ini, hati Luwi justru masih dilema. Dia jadi merasa seperti seorang pelakor. Wanita perusak rumah tangga orang. Wanita yang sangat tidak tahu diri. Wanita bodoh. Wanita cengeng.Meski ada satu titik di dalam hati kecilnya yang tak menampik perasaan bahagia, namun tetap saja itu tidak merubah perasaan bersalahnya pada Katrina. Wanita itu sangat baik, rasanya tidak sampai hati Luwi tega menjadi orang ketiga di tengah-tengah kebah
Sebelumnya, pihak keluarga sudah meminta izin pada pihak lapas untuk meminta Bapak Wibowohadi agar bisa menghadiri prosesi akad nikah anaknya di Bandung, tapi ternyata hal itu tidak disetujui oleh pihak Lapas Cipinang.Maka jadilah, Ijab Kabul Hardin dan Luwi dilaksanakan di Mushola Lapas Cipinang.Meski terkesan sederhana, namun kecantikan Luwi dalam balutan busana kebaya pengantinnya tak mampu terelakkan.Bersanding dengan Hardin dihadapan penghulu, pasangan pengantin itu sukses mencuri perhatian para penghuni lapas.Mushola lapas yang memang ukurannya tidak terlalu besar tampak sesak oleh para keluarga inti yang ikut mengantar, di antaranya Omah dan Opah Hardin, Katrina, Reyhan, Gibran da
Tak ada yang namanya resepsi pernikahan atau acara kumpul keluarga bersama di Podomoro. Semuanya selesai begitu saja saat prosesi ijab kabulpun selesai. Hardin sendiri yang meminta supaya acara pernikahannya dengan Luwi tanpa harus resepsi. Dia tidak ingin hal itu menimbulkan buah bibir di media terlebih dia ingin menjaga perasaan Katrina.Bahkan kalau bisa Katrina dan Luwi tidak usah tinggal satu rumah. Tapi permintaan itu di bantah mentah-mentah oleh Omah dan Opah. Mereka sudah sangat paham dengan sifat Hardin diluar kepala, jika hal itu sampai dituruti yang ada akan membuat Luwi semakin terasingkan. Hardin itu umurnya saja yang dewasa tapi pikirannya tak lebih dari anak kecil. Yang ada dia tidak akan menengok Luwi sama sekali jika Katrina dan Luwi harus tinggal di rumah yang berbeda. Dan hal itu jelas akan semakin menyulitkan Luwi sendiri. Jadilah Opah dan Omah tetap menyuruh Luwi tinggal di podomoro bersama-sama dengan K
"Astaghfirullah, Hardin! Apa yang kamu lakukan pada Luwi!" Teriak Katrina saat dia mendengar sebuah teriakan Luwi dari dalam kamar utama.Katrina yang penasaran langsung membuka pintu kamar itu dan dia jadi terperangah hebat saat dilihatnya Luwi sedang tidur dalam posisi tengkurap dengan kaki dan tangan yang terikat di belakang tubuhnya. Sementara Hardin tidur dengan sangat pulas di samping Luwi. Tanpa sedikitpun mendengar teriakan Luwi sejak tadi. Bahkan saat Katrina berkali-kali berteriakpun Hardin tetap terlelap dalam buaian mimpi basahnya.Setelah selesai membantu Luwi melepas seluruh ikatan di tubuhnya, Katrina yang emosi mengambil seember air dari kamar mandi dan menyiram tubuh suaminya hingga basah kuyup.Hardin bangun dengan wajah gelagapan dan pani
"Wah menu baru? Kelihatannya enak," ucap Hardin ketika dihampirinya meja makan. Dia baru saja pulang mengantar Katrina ke Cimahi. Dan dia sangat lapar."Eh, diam saja, ambilkan makanannya untukku," bentak Hardin pada Luwi yang duduk di sampingnya. "Begitu saja masih harus di suruh,"Luwi menghela nafas. Kenapa sih, laki-laki ini tidak bisa bicara baik-baik sedikit saja. Huh! Gerutunya dalam hati, kesal. Diapun mengambilkan piring dan menyendokkan nasi beserta lauk pauknya untuk Hardin."Gibran kemana? Tidak ikut makan?" tanya Hardin lagi."Gibran sudah tidur. Kamu terlalu lama pulangnya, kalau aku membiarkan dia makan menunggu sampai kamu pulang, yang ada dia sudah kelaparan duluan. Jadi aku
Malam ini Katrina terpaksa mengasingkan diri ke kediaman keluarganya di Cimahi. Meski awalnya dia pikir bahwa dia akan kuat, tapi kenyataannya dia tidak sekuat yang dia pikir.Malam itu Katrina terus menangis di pelukan Kak Zaenab. Dia tidak tahu harus kemana lagi mencari tempat untuk bersandar. Hatinya kini sudah hancur lebur berkeping-keping. Tanpa tahu caranya untuk mengumpulkan kembali kepingan-kepingan yang patah itu. Seandainyapun bisa menyusunnya kembali seperti menyusun sebuah puzle, Katrina tidak yakin puzle hatinya itu akan bisa utuh tanpa ada yang hilang pada bagian-bagiannya."Trina, keluarga disinikan tidak memaksakan padamu untuk tetap bertahan. Kamu bisa memilih jalan keluar yang menurutmu baik. Baik untukmu, baik untuk Hardin. Jangan memaksakan diri bila tidak mampu, nanti imbasnya berujung pada kesehatanmu sendiri,"
Bagi kalian yang ingin tahu gimana romantisnya kisah kehidupan rumah tangga Reyhan dan Katrina selepas menikah, kalian bisa baca di karya Herofah yang berjudul SANG PENGGODA ya... Dan... Bagi kalian yang mau tau gimana serunya kisah cinta Gibran anak Hardin dan Luwi setelah dewasa, bisa kalian baca juga di karya Herofah yang berjudul THE DEVIL WIFE... Selain itu, Herofah baru aja memposting dua karya On Going baru dengan Judul THE BRIDAL SHOWER DAN BURONAN... Kalau mau tau karya-karya Herofah yang lain yang tidak terposting di Good Novel, kalian bisa Follow akun I*******m @Herofah untuk tahu spoiler-spoiler karya Herofah yang lain... YUK MAMPIR, AKU TUNGGU KEHADIRAN KALIAN DI SANA... SALAM SAYANG AUTHOR...
Bandung. Perumahan Summarecon. Dua Tahun Kemudian. Mengabadikan momen bersama keluarga bagi sebagian orang itu penting. Tak cuma mengenang kebersamaan, tapi juga dijadikan dokumentasi pribadi. Sebagai bukti di masa depan bahwa dulu mereka pernah menjadi bagian terindah di dalam sebuah keluarga yang berbahagia. Seluruh sarana dan prasarana untuk melakukan sesi foto keluarga sudah dipersiapkan dan harusnya semua ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan kalau saja penerbangan dari Amerika menuju Indonesia tidak diundur secara tiba-tiba. Harusnya, Hardin, Luwi, Gibran, Omah, Opah dan dua balita kembar anggota baru keluarga mereka sudah berada di Indonesia sejak kemarin, hanya saja tiba-tiba Reyhan m
Jakarta.Bandara Soekarno Hatta.Dua Hari Kemudian.Hari ini, Hardin, Luwi, Gibran, Omah dan Opah rencananya akan berangkat ke Amerika bersama-sama. Kepergian mereka di antar oleh Reyhan, Katrina dan Pak Hadi."Ayah, jaga diri baik-baik ya. Obat jantung Ayah jangan lupa diminum," ucap Luwi setelah melepas pelukannya dari Hadi yang terlihat agak pucat hari ini. Sepertinya dua hari belakangan ini tubuh sang Ayah terlalu di forsir untuk bekerja. Dia terlihat lelah. Wajahnya yang terlihat mulai keriput menandakan Ayahnya kini sedang banyak pikiran. Luwi yakin sang Ayah masih terus berusaha mendapatkan maaf dari Reyhan, sang kaka
"Nggak ada suara apa-apa, Pa?" ucap Gibran yang baru saja menempelkan telinganya di depan perut Luwi yang sengaja dia buka sebagian. Saat sang Papa menyuruhnya untuk mengajak adiknya bicara.Hardin tertawa melihat tampang polos Gibran. Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar pengantin mereka. Kejadian menegangkan yang terjadi selepas makan malam tadi sudah berlalu. Kini waktunya mereka beristirahat di kamar masing-masing."Gibran mau aja dibohongin sama Papa," ucap Luwi seraya menutup kembali perutnya."Gibrankan mau cepet-cepet ajak dedenya ngobrol terus main kayak Gibran biasa ajak dede Yumna main di rumah Papa."celoteh Gibran. Dia terus berjingkrak-jingrakkan tubuhnya di atas kasur yang dianggapnya sangat empuk itu. Seperti sebuah pegas.
Terletak di kawasan kota Bandung Timur perumahan elit berdiri di sana. Dimana di dalam kawasan itu berdiri rumah megah di salah satu cluster utamanya.Btari Extension Resindence begitulah yang tertulis di pintu gerbang perumahan itu.Pintu gerbang besi berwarna putih dengan ornamen keemasan terlihat menghiasi pintu gerbang utama.Di halaman parkirnya yang luas terlihat beberapa mobil mewah yang kebanyakan mobil-mobil dinas kepemerintahan terparkir dan berjajar rapi di sana.Acara Ijab dan kabul baru saja selesai dilaksanakan dan sekarang pengantin pria terlihat sedang berdiri di atas pelaminan yang dibuat sederhana di taman belakang rumah itu sambil menunggu mempelai wanitanya berganti pakai
"Malam ini juga Ayah kembali ke Bandung. Besok Ayah ada pekerjaan keluar kota. Jaga Katrina baik-baik. Ayah berharap kamu bisa memaafkan Ayah, Reyhan. Dan Ayah sangat berharap kamu dan Katrina bisa tinggal bersama di rumah Ayah sekembalinya dari sini. Karena Luwi sudah setuju untuk kembali tinggal bersama Ayah nanti," ucap Pak Hadi saat dia meminta Reyhan menemuinya di Loby hotel malam itu."Aku sudah kredit rumah di Bandung. Aku dan Katrina akan tinggal di rumahku sendiri." jawab Reyhan jelas, singkat dan padat. Dia tidak mau berbasa-basi lagi."Tapi aku maunya kita tinggal bersama Ayah sementara waktu, Kak. Bagaimana?" tiba-tiba Katrina menyela dan dia juga datang dengan tiba-tiba, membuat Reyhan sedikit kaget, padahal tadi sewaktu Reyhan turun ke loby Katrina sedang di kamar mandi di dalam kamar hotelnya.
Luwi terus memeluk Gibran yang masih menangis. Gibran terlihat sangat kacau. Luwi jadi ikutan menangis. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Gibran seperti ini. Sungguh dia tidak pernah bermaksud untuk melukai hati siapapun sebab sikapnya. Apalagi itu hati darah dagingnya sendiri. Luwi benar-benar menyesal."Gibran, udah ya sayang jangan menangis lagi. Mama janji nggak akan pisahin Gibran sama Papa lagi. Ini kita lagi di jalan mau susul Papa. Kalau memang Gibran mau sama Papa, Mama Luwi nggak apa-apa kok. Yang penting, Gibran bahagia. Gibran senang. Mama Luwi juga ikut senang. Mama Luwi juga ikut sedih kalau Gibran sedih terus. Udah ya sayang nangisnya. Gibran sayangkan sama Mama?" Luwi kembali mengajak Gibran bicara. Meski awalnya dia ragu untuk mengatakan hal itu, tapi apa boleh buat? Luwi tidak punya pilihan lain dibanding dia harus tetap memaksa Gibran untuk bersamanya sementara Gibran
Serang, Banten.Aula Hotel Santika.Acara Ijab Kabul Reyhan dan Katrina.Kehadiran Reyhan dalam hidup Katrina mampu merubah dunianya yang biasa menjadi seindah pelangi. Sementara kehadiran Katrina dalam hidup Reyhan mampu merubah segala-galanya. Reyhan sudah berjuang hingga titik darah penghabisan. Dan kini waktunya dia memetik hasilnya.Reyhan sudah duduk di tengah-tengah altar aula dimana dirinya akan berjanji kepada seluruh makhluk dan sang penciptanya. Dengan mengucapkan kalimat pendek sarat makna yang akan menjadi pembuka lembaran kehidupan barunya kelak bersama Katrina. Kalimat ajaib nan sakral yang kini masih terpaksa tertahan di teng
Satu kejutan luar biasa yang diperoleh Reyhan satu hari sebelum hari pernikahannya sungguh membuatnya tidak mempercayai ini semua.Ketika sore itu, beberapa mobil mewah pribadi datang dengan pengawalan sirine kepolisian. Seperti sebuah arak-arakan presiden. Mobil-mobil mewah itu kini terlihat memenuhi lapangan parkir hotel Santika yang kini menjadi destinasi utama pernikahan Reyhan dan Katrina.Mobil-mobil mewah itu datang bersama rombongan keluarga dari mempelai wanita. Yaitu keluarga Ustadz Maulana.Seorang laki-laki setengah baya berkumis tipis dengan setelan dinasnya keluar dari salah satu mobil toyota land cruiser hitam. Diikuti beberapa awak pegawainya yang juga bersetelan dinas pemerintahan. Beberapa elit politik yang cukup terkenal juga terlihat kel