“Baiklah, tapi kamu tidak akan bilang pun, Keano punya sejuta cara untuk tahu. Hmmm, setidaknya kamu katakana siapa yang melakukannya?” Hafiza menoleh ke arah sahabatnya itu.
Keano berdiri di balik jendela untuk memandang indahnya suasana pagi itu lelaki berambut cepak itu masih memegang gelasnya untuk disesap, setidaknya menenangkan pikirannya.
***Meyyis***
Keano pula dari bertugas pada esok harinya. Seharian ini, Hafiza memilih mengenkan syal untuk menutupi lehernya. Lelaki bermata lebar itu langsung ke antor saat pulang, karena belum waktunya bubar kerja. Istrinya pasti masih di perusahaan. Lelaki bertinggi menjulang itu langsung ke ruangan sang istri.
“Hai,” sapa Keano. Tangannya memeluk sang istri untuk memberi tahu bahwa dirinya merindukan. Hafiza kaget bukan kepalang. Wanita itu hanya tersenyum segaris karena takut suaminya mengetahui.
“Tumben pakai syal?” Jantung Hafiza bagai
“Kamu mau mati muda? Keluar!” sarkas Keano. Gilang hanya tertawa dan menutup kembali pintunya. Setelah kepergian Gilang, Keano bangkit untuk mengunci pintunya.“Kita lanjutkan?” Hafiza hanya tersenyum. Bagai membangkitkan singa lapar, sekarang Keano yang bergairah untuk memberikan pengalaman berharga pada istrinya. Kini mereka larut dalam gairah yang menggila.***Meyyis***Tanpa di suruh orang-orang Keano sudah mencari Siska. Kali ini, tuntutannya lebih ganas dari sebalumnya. Dia di dakwa dengan pasal berlapis karena sudah berani mendekati istri bos. Keano hanya mempercaayakan hal ini pada pengacaranya agar sang istri tidak mengetahuinya.Gilang yang mendengar ibu tirinya terseret dalam kasus segera menghubungi sang papa. Meskipun dirinya sangat benci dengan sang ibu tiri, akan tetapi masih punya Nurani untuk hal itu. Papanya Gilang segera ke kantor polisi untuk mengetahui kebenarannya.
“Bunga apa yang Anda inginkan, Pak?” tutur sang penjual.“Bunga mawar, Nona.” Lelaki itu menunggu sebentar sang penjual merangkai bunga tersebut. Sebuket bunga sudah ada di tangan. Sekarang membelikan makanan. Mungkin, martabak lebih ringan untuk dimakan malam hari. Terpilih martabak asin dengan telur ganda. ***Meyyis***Gilang pulang ke rumah dengan mengedap-endap karena sudah tengah malam. Sang istri pasti sudah lelap. Lelaki itu meletakkan makanan di dapur, sedangkan kakinya menuju ke kamar untuk memberikan buket bunga tersebut sekaligus membangunkan sang istri. Lelaki berjas abu-abu itu membuka pintu, terlihat sang istri sudah lelap dengan gaun kebangganannya yang membuat lelaki itu selalu mabuk kepayang karena tubuh indah sang istri akan nampak jelas di matanya.“Sayang, bangun.” Gilang membisikkan kata pada sang istri. Rani langsung membuka matanya, terlihat sebuket bunga kesukaan di d e
“Pa, aku tidak bersalah,” ucap Vita ibu tirinya Gilang.“Bukankah aku sudah peringatkan sebelumnya jangan mendekati istriku? Kenapa malah berusaha mencelakainya?” Gilang kali ini yang bicara.***Meyyis***Pagi hari, Gilang memnajakan istrinya dengan membuatkan sarapan walau hanya sepotong roti bakar. Lelaki itu tidak membiarkan sedetik pun istrinya bergerak.“Sayang, jangan … sudahlah biar semua aku yang kerjain.” Gilang mencuci semua piring bekas semalam makan. Selain itu, membersihkan tempat tidur yang memang Rani hanya membersihkan sendiri ruang pribadinya walau sudah ada pekerja yang beres-beres rumah.Rani hanya duduk diam saja, sambil memandang sang suami mengerjakan semuanya. “Aku bisa bantu. Dari pada duduk diam begini.” Rani bangkit ingin membantu. Tapi Gilang langsung memberhentikannya.“Stop! Hari ini biar kamu jadi t
“Ma, aku bawakan menantu yang baik hati untukmu. Dia sangat aku cintai. Hari ini akan aku perkenalkan denganmu. Mama tunggu, ya.” Gilang menutup kembali buku tersebut dan meletakkan di rak buku. Lelaki itu bergegas menuju kamarnya untuk menilik istrinya sudah selesai atau belum mandinya. Lelaki itu membuka pintu kamarnya, ternyata sang istri belum selesai. kebetulan, dia akan menyiapkan kejutan untuk sang istri agar sedikit memberikan kebahagiaan. Lelaki itu mengirim pesan kepada salah satu tempat untuk mempersiapkan kejutannya. Lelaki itu tersenyum setelah pesan terkirim.***Meyyis***Hari ini setelah berbusana Rani dan Gilang pergi ke rumah sakit ibu dan anak. Rani diperiksa semuanya tentang kesehatan alat reproduksi. Demikian juga dengan Gilang. Keduanya melakukan program kehamilan. Gilang sangat bahagia ketika dokter bilang bahwa mereka subur dan dapat segera punya anak jika benar melakukan instruksi dokter. Sekaligus juga berdoa kepada sang maha kuasa.
“Ini istri, Mang. Bukan lagi kekasih. Mari.” Lelaki yang dipanggil mang itu mengangguk dan tangannya memepersilakan Gilang untuk pergi. Mereka berdua terus jalan sampai ke depan dan akhirnya sampai ke tempat parkir.***Meyyis***Gilang akan melaksankkan janjinya yang sudah dikatakan di depan makam ibunya. Kali ini, lelaki dua puluh tujuh tahun itu datang ke kantor untuk bicara pada Keano.“Masuk!” Suara itu memberikan mandate pada dirinya untuk masuk ke dalam ruangan lelaki itu. Keano menyambutnya dengan baik. Setelah duduk, Gilang mengutarakan niatnya.“Kamu serius?” tanya Keano. Lelaki itu menghentikan pekerjaannya karena sang sahatabt sedang bicara hal yang penting.“Serius, Ke. Selain ini permintaan istriku, sudah tidak ada alasan untukku menjauhi papa. Dia sebatangkara sekarang. Aku akan memimpin perusahaan semoga belum terlambat.” Keano mengangguk. Lelak
“Kamu lupa bercukur?” tanya Hafiza merasakan gatal sekaligus sensasi menusuk dari janggut sang suami.“Kenapa? Kamu suka?” Keano malah sengaja mengulangi menggesekkan janggut tersebut pada leher sang istri sehingga Hafiza sedikit mendesis.***Meyyis***Gilang menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya karena ingin mengajak istrinya ke rumah papanya. Ia sudah memberi tahu istrinya bahwa akan mengunjungi sang papa. Demikian juga dengan Rani merasa sangat bahagia, akhirnya suaminya itu luluh juga. Wanita itu kini juga semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih dini.“Kamu sudah selesai?” tanya Gilang ke ruangan wanita pujaan hatinya tersebut.“Sudah, aku akan siap-siap.” Rani memasukkan perlengkapanya ke tas. Gilang menunggunya di samping pintu dengan menyandarkan tubuhnya pada pintu tersebut. Rani sudah menyelesaikan beres-beres, setelahnya bangkit dan menggandeng sang kekas
“Beri aku waktu sampai bulan depan, Pa. Keano sudah sangat baik padaku. Tidak mungkin aku tinggal begitu saja.” Papanya Gilang mengangguk-anggukan kepala.“Papa tunggu, selain itu … kembalilah, ajak istrimu.” Rani tersenyum.“Terima kasih, Pa.” Rani mengucapkan terima kasih. Lelaki paruh baya itu bangkit dan menepuk pundak Rani.***Meyyis***Keano sedang memasang iklan untuk posisi manager yang ditinggalkan oleh Gilang. Meskipun lelaki itu masih berada di sampingnya, maka harus segera siap-siap. Gilang juga berjanji akan mengajari penggantinya itu sampai bisa. Sudah puluha pelamar yang diwawancarai, akan tetapi belum sesuai dengan kriteria yang cocok.“Gilang, hanya butuh dedikasi saja. Jangan memaksakan diri harus seperfek kamu.” Keano memperingatkan sahabatnya itu. sedang mereka berbincang. Ada suara sepatu mentutuk ke arah mereka diikuti dengan suara Hafiza yang sepertinya mencegah ses
“Terima kasih, dengan seperti ini kamu sudah membantu. Aku merasa tenang jika bersamamu.” Hafiza berputar untuk berada di depan sang suami. Dengan manja wanita berbaju merah mud aitu memeluknya dan menyandarkan pipinya di dada. Keano mengelus rambut panjang sang istri yang kini terurai.“Kita berkemas siap pulang. Bagaimana kalau malam ini nginep di rumah papa?” Hafiza terlihat gembira. Dia mencium pipi sang suami. ***Meyyis***“Pa, Ma.” Keano berteriak memanggil Damian dan Zahwa.“Kayak di hutan saja, ada apa, Sayang?” Zahwa yang muncul dari tangga.“Aku pulang.” Zahwa tersenyum melihat putra kesayangannya pulang.“Pa, Keano dan istrinya pulang.” Damian yang baru saja sedang bersantai di balkon kamarnya juga datang menyambut mereka.“Tumben tidak akhir minggu kalian datang. Istirahatlah! Ma, bikin minum untuk mereka.” Damian mengajak Kean
“Kamu yakin dengan keputusanmu? Brenda, tolong jangan memutuskan sambungan. Tetap hubungi aku,” tutur Keano.“Dari dulu, kamu memang baik. Aku tidak janji, tapi akan kuusahakan.” Brenda pergi dari ruangan Keano setelah pamit. Keano masih tidak menyangka, jika saudaranya berubah sedrastis itu.***Meyyis***Hafiza masuk ke ruangan suaminya, mendengar Brenda sudah meminta maaf dan akan melepaskan semua tentang perusahaan. Mendengar hal itu, Hafiza memeluk sang suami karena merasakan senang yang teramat. Kali ini, tujuan yang dilakukan suaminya untuk membawa Brenda kembali ke jalan yang benar, sudah tercapai. Memang seharusnya begitu sebagai seorang kakak memperlakukan adiknya.“Baiklah, karena aku sedang bahagia, dedek bayi mau minta apa dari papa?” tanya Keano sambil memeluk sang istri dari belakang.“Aku pingin nasi megono,” ucap Hafiza.“Nasi megono? Siap!” Keano bangkit, mencari se
“Aku akan mandi dulu.” Brenda meninggalkan ruangan itu, kemudian mandi di kamarnya. Air matanya luruh bersama air yang mengalir. Belum pernah ada, seseorang yang memperhatikannya seperti itu. Kehadiran Andy malam ini membuatnya menyadari bahwa jalan selalu akan terbuka lebar. Bahwa Tuahan masih ada untuknya.Brenda keluar dari kamar untuk berganti baju. Wanita itu keluar kembali untuk mencari Andy. Lelaki itu tidur di kursi yang dihimpitkan, dijajar. Brenda membangunkannya.“Ada kamar tamu di sana. Kamu bisa menggunakannya.” Bagaimana lelaki itu bisa meluluhkan hati Brenda, bahkan membuatnya percaya pada lelaki itu. padahal, baru saja mengenalnya. Wanita itu tidak lagi berprasangka buruk pada orang asing, ada apa dengan Brenda? Mungkinkah … ah, tidak mungkin jatuh cinta dengan pria asing yang baru setengah jam dikenalnya.***Meyyis***Brenda sudah bisa tidru, wanita itu bahkan tidur sudah beberapa jam
“Kenapa menolongku?” tanya Brenda.“Karena melihatmu.” Brenda memejamkan mata. Untuk sesaat wanita itu merasakan ketenangan batin. lelaki itu membuka matanya untuk mempercayai hidup.***Meyyis***Lelaki itu menuntun Brenda masuk ke dalam rumah. Di sebuah meja, ada air putih juga gelas. Lelaki dengan jaket jeans itu menuangkan air tersebut. “Minumlah agar lebih tenang.” Brenda menenggak air putih itu hingga tandas. Keringatnya membanjiri kening hingga ke leher. Wanita itu duduk lemas di kursi tersebut.“Masih banyak yang membutuhkan kita,” ucap lelaki itu.“Kamu bukan aku, bagaimana bisa berkomentar?” ketus Brenda.“Baiklah, kamu tahu kaki ini?” Lelaki itu menunjukkan kaki kanannya yang sudah tersambung dengan … mungkinkah kaki robot? Brenda menoleh ke arah lain setelah melihatnya.“Aku putus ada karenanya. Namun, kaki ini yang menuntunku ke arah kesuk
Mereka kembali memberikan kenyamanan pada masing-masing di kamar mandi itu. Aura romantic semakin terasa ketika membilas di bawah pancuran shower. Keduanya saling melepaskan lagi rasa cinta.***Meyyis***Brenda duduk termenung di balkonnya. Jika tidak diselamatkan, mungkin saja perusahaan kali ini jadi benar-benar hancur. Tidak ada lagi yang dapat dimintai tolong. Semua kenalannya sudah tidak ada lagi yang dapat dihubungi. Brenda menjadi frustasi. Wanita itu belum pernah mengalami krisis seperti ini.“Brenda, gunakan otakmu seperti biasa,” ucap Cassandra datang dengan minuman di tangannya.“Tidak ada yang bisa kulakukan, Ma. Semuanya tidak bisa melawan Keano. Masih sama, semua perusahaan yang aku hubungi di bawahnya,” tutur Brenda.“Kamu tidak bisa memikat Keano? Tidak ada pria yang menolak kesenangan,” tutur Cassandra.“Ma, apakah mama baru mengenal Keano? Bahkan seluruh dunia sudah berada di sampin
“Kamu benar, tapi anak kita lelaki yang kuat seperti sang papa. Dirinya tetap ingin membantu orang tuanya, bukankah itu seksi?” Keano tidak lagi berdebat dengan sang istri, karena semuanya akan percuma jika wanita itu sudah berkeinginan.***Meyyis***Langkah kecil Keano membuat perusahan Arsan kalang kabut. Keputusannya untuk menarik dana suplay perusahaan miliknya tersebut, terbukti ampuh. Arsan sudah lupa, bahwa dibalik berdirinya perusahaan miliknya tersebut, ada andil Damian, pastilah lelaki itu tidak bersih melepaskan. Hal itu diketahui Keano juga lewat arus bank dan finansial papanya, tidak butuh penjelasan dari lelaki yang berjuluk macan bisnis tersebut.“Tenang, Sayang. Kita akan melihat pertunjukan sebentar lagi. Jika mama dan papa berhati lembut selama ini, tidak dengan Keano. Aku bisa jadi singa daratan yang menyeramkan. Bukankah begitu?” Keano menarik tangan sang istri agar berada di depannya. Kedua pahanya mengapit kaki
Brenda duduk termenung ketika sang papa sudah pulang. Hatinya bingung harus menerima tugas tersebut. Papanya memang berkata benar, akan tetapi membujuk Direktur berhati batu macam direktur DAC sangat membuatnya sakit kepala. Tangannya menjambak rambut sendiri.***Meyyis***Mendengar kesulitan yang dihadapi oleh sang istri, Keano tidak bisa tinggal diam, hari ini, ellaki itu akan datang ke kantor dan sibuk menyelesaikan beberapa kesepakatan. Keano menjadi sangat marah, kali ini akan bertarung bahkan menghabisi Brenda dan Arsan. Sudah cukup, selam ini diam dan tidak melakukan hal yang semestinya.Dirinya bukan sang ibu yang memiliki hati selembut sutra. Keano akan menjadi seorang singa ganas jika sudah diusik. Lelaki bermata colakat itu masih dengan bantuan tongkatnya, siang ini menemui Arsan dan akan mengintimidasinya.“Siang, Om. Masih ingat saya.” Keano sudah sampai di perusahaan milik Arsan.“Maaf, Tuan. Bapak ini menerobos masu
Keano tersenyum mendengarnya. Mereka melanjutkan makan dengan lahap. Sesekali, Keano mengusap bibir sang istri yang terkena saos barbeque. Mereka tersenyum bersama, hingga makanan tandas tidak tersisa. Malam ini, rasa tidak nyaman yang sudah dipendam beberapa saat lepas sudah.***Meyyis***Brenda tiba di kantor dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan amarah. Sampai mejanya, wanita itu mengamuk dan menyisir mejanya hingga bersih, akan tetapi benda yang ada di mejanya berantakan ke lantai. Wanita itu sangat marah bahwa dirinya dikalahkan oleh Hafiza yang notabennya hanya pimpinan pengganti.“Bodoh kalian semua! Untuk apa aku bayar mahal kalau berakhir gagal. Enyah kalian! Enyah! Perbaiki semuanya. Jangan muncul di hadapanku kalau belum benar.” Brenda melempar barang yang tersisa ke arah beberapa pegawainya.“Aku sungguh tidak tahan lagi.” Pegawainya berbisik pada temannya, setelah keluar dari ruangan Brenda.“Sama,
“Mari makan,” ajak Keano.“Aku sudah makan dengan klien dan Rani. Aku akan menemanimu makan,” ucap Hafiza.“Lupakan.” Keano berbalik dan meninggalkan ruang makan itu. Perutnya tidak lagi lapar. Hafiza merasa sangat bersalah, karena suaminya mempersiapkan semuanya.***Meyyis***Hafiza masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju. Sedangkan Keano masih berdiri di depan jendela kamar mereka. Lelaki itu memandang ke arah luar jendela itu. sedangkan Hafiza baru saja selesai mandi, bahkan masih mengenakan handuk kimononya.“Kita makan sekarang?” Hafiza memeluknya dari belakang.“Aku sudah tidak lapar.” Keano hanya diam memandang ke arah luar jendela.“Tidak bisa, harus makan. Aku ganti baju dulu. Nanti kusuapi. Maafkan aku.” Hafiza mencium puncak kepala sang suami. Wanita itu berganti pakaian untuk menemani suaminya makan malam. Meskipun sekarang sudah tengah malam,
“Malam ini, mau makan mi bareng? Kita makan mi ayam sepuasnya, begadang dan makan sosis.” Hafiza tertawa mendengarnya.“Aku ingin, tapi Keano masih membutuhkanku. Oke, aku pamit. Besok kutunggu. Aku akan segera revisi kalau ada yang Kurang pas.” Rani mengacungkan jempolnya dan memeluk sang sahabatn***Meyyis***Hafiza mengembuskan napas berat, wanita itu harus presentasi menyampaikan proposalnya di depan banyak orang untuk memenangkan tender ini. Gilang sebenranya sudah menawarkan diri, akan tetapi wanita itu menolak sebab, menurutnya jika presentasinya berhasil kali ini berarti dirinya memiliki nilai lebih karena CEO pengganti sementara saminya sedang memulihkan diri di rumah. Sebagai pemimpin, tentu para dewan direksi akan percaya padanya, meskipun Keano tidak ada.Sorot lampu mulai hanya fokus kepada dirinya. Hafiza mengembuskan napas panjang. Setelah salam dan mengatakan pembuka, wanita itu mulai presentasi dengan peralat