"Sayang, Aku sangat mengkhawatirkanmu, Maaf kan kalau aku telat datangnya, Ya." Reynaldi mengeryit binggung," Siapa kamu?" "Sayang kan sudah aku bilang kemarin, aku Fanny istri yang sangat kamu cintai." Fanny pura-pura tersenyum meskipun didalam hatinya menahan marah. "Aku istrimu, Fanny. Dan aku akan selalu berada disisimu, kamu nggak usah takut ya, Rey." katanya sambil mengusap pipi pria itu. Lina mengepalkan tangannya menahan diri untuk tidak berteriak. Tapi akhirnya dia tidak bisa menahan emosinya juga." Berhenti berbohong Fanny, dia bukan suamimu lagi!" "Kalau begitu kamu jadi anak pintar dan baik, ya. Fanny menoleh sambil tersenyum licik, dia mendekat ke wajah Lina, Lalu berkata."Tapi dia tidak ingat bukan? Bagaimana kalau aku yang akan mengisi ingatannya kembali?" Apa kamu keberatan?" Lina terdiam, nafasnya memburu, dia tahu betul kalau Fanny pasti akan memanfaatkan situasi ini. Tidak lama kemudian Dokter datang dan melarang terlalu banyak orang ada did
Ruangan itu terlihat sangat berantakan, ada gelas pecah di lantai. Sofa yang miring tidak karuan, yang lebih mengejutkan ponsel pengasuh Bima yang jatuh dan retak dilantai. Pengasuh Bima terikat di kursi, di pojok ruangan, dengan mulut tersumpal tirai jendela yang terpaksa disobek. "Bu! B_Bima...Bu!" ucap pengasuh Bima terbata-bata. Terburu-buru Lina melepaskan tali ikatan di tangan, dan membuka sumpalan dimulutnya. "Apa yang terjadi, kemana Bima?" Belum sempat pengasuh Bima bicara, ponsel Lina kembali berdering, kali ini kembali ada pesan masuk di ponselnya. " Bima bersamaku, Jika kamu ingin tetap selamat jangan coba mencari kami." Fanny Ponsel itu hampir jatuh dari tangannya. Fanny Tubuh Lina bergetar hebat, darahnya serasa mendidih matanya merah penuh dengan kemarahan dan ketakutan. "Wanita itu benar-benar sudah gila." Lina cepat menyebar tas nya dan pergi meninggalkan pengasuh Bima yang masih syok ketakutan. "Kamu mau kemana, Nak?" tanya pengasuh Bima "Ak
Jadi kamu mau jadi anak baik, kan?""bisik Fanny dengan nada menyeramkan. Bima hanya mengangguk menahan tangisnya. Sementara Fanny mengusap wajah anak itu dan tersenyum puas, karena semua dalam genggamannya. Ditempat lain Lina duduk dikantor polisi dengan wajah putus asa dan lelah. Matanya lelah, rambutnya berantakan. Penampilannya sudah acak-acakan. Tubuhnya sudah mulai kehilangan tenaga, karena sudah lebih dari 24 jam sejak Bima menghilang, belum juga ada khabar apa-apa. Tidak ada satupun petunjuk tentang keberadaannya. "Jadi anda yakin, mantan istri suami anda yang menculik anak anda?" tanya petugas dengan nada tegas. "Ya, saya yakin. Dan dia juga yang sudah membawa mantan suami saya pergi. Tolong lakukan sesuatu." pintanya dengan nada putus asa. Petugas saling berpandangan. " Bu, kami sudah mengecek sistem imigrasi, tidak ada catatan keberangkatan atas nama Fanny atau Reynaldi. Sepertinya mereka tidak meninggalkan negara ini." Lina menggigit bibirnya, menahan air m
Di Dalam kamar di sebuah villa di pegunungan, Reynaldi duduk ditepi ranjang. tatapannya kosong, Kepalanya masih terasa berat. Ingatannya masih berantakan.Seakan ada yang sengaja membuat ingatannya kabur.Yang pria itu tahu sekarang, Fanny adalah istrinya, Dan bocah kecil bernama Bima adalah anaknya.“Kenapa aku ada disini?” tanya pria itu linglung.“Kenapa bocah itu terus memandangi aku?” Dari sudut ruangan itu juga, Fanny masuk dengan membawa segelas air minum untuk pria itu, dan mendengar langsung omongannya dan keluhannya.Senyumnya sedikit terpaksa,berusaha mengontrol emosinya. “Kamu masih butuh istirahat, sayang.”katanya mendekat, berbisik dan menyentuh bahu Reynaldi dengan lembut.“Kamu mengalami kecelakaan sayang…makanya kamu lupa ingatan, Mas.”Reynaldi memejamkan mata, merasa frustasi.” Tapi aku merasa ada sesuatu hal yang tidak benar.” Fanny memeluk erat bahu Reynaldi, dan berkata,”Tenang sayang, jangan pikirkan itu dulu, aku disini, aku istrimu, aku akan menjagamu.”Di
“Ada pergerakan disana, Bos! Sepertinya nya ada yang mau keluar!” lapor salah satu anak buah Rakha yang ada di posisi paling dekat dengan villa.Rakha langsung menghidupkan mesin mobil, “ Ayok kita harus lebih dekat dengan sasaran.”Sementara di dalam VillaBima memang betul-betul anak yang cerdas dan pemberani. Kali ini bocah laki-laki itu mencoba kabur lagi. Bocah itu merayap lewat pintu belakang. Dia sudah hafal setiap celah dalam villa itu. Dan ini adalah saat yang tepat. Semua sibuk di kamarnya masing-masing. Kesempatan yang bagus buat Bima.Dengan mengendap-endap Bima mulai menjalankan aksinya.Tapi baru beberapa langkah, ada tangan kasar yang menarik kerah bajunya“Kamu mau kemana?” Bimaa tersentak kaget, wajahnya berubah ketakutan, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.Fanny menarik kerah bajunya, hingga hampir saja Bima tidak bisa nafas karena tercekik kerah bajunya.Wajah Fanny merah menahan marah.“Kamu pikir bisa kabur begitu saja, ha!?” ujar Fanny di telinga Bima
“LEPASKAN AKU! AKU TIDAK BERSALAH!” Fanny berteriak histeris, berusaha melawan, tapi petugas dengan cepat memborgol tangannya. Lina langsung berlari ke arah Bima, memeluk anaknya erat, sambil berkata, “Sayang kamu nggak apa-apa kan? Kamu tidak terluka kan?” Bima menggeleng, wajahnya masih terlihat sangat takut. Tapi susah payah dia bicara,”Aku nggak apa-apa,Mama.” Reynaldi menghampiri Bima, lalu berlutut dan berdiri sejajar dengan bocah itu. Mata pria itu berkaca-kaca. Pria itu mengangkat tangannya mengusap rambut anaknya, sambil mengusap air mata, dia menepuk lembut pipi Bima yang empuk. Bima menatap Papa nya dengan sedikit bingung dan ragu. Tapi Reynaldi tersenyum lembut dan berbisik,”Kamu anak yang hebat. Papa bangga padamu.” Tiba-tiba Bima memeluk Reynaldi sangat erat, bocah laki-laki itu tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang selama ini berusaha dia tahan. Berkali- kali bocah kecil itu memanggil papanya sambil terisak sedih. “Pa
“Rey, kita harus membawa Bima ke rumah sakit.” seru Lina dengan suara gemetarSuatu malam, Bima demam tinggi. Lina panik. Tanpa berpikir panjang, dia mengetuk kamar Reynaldi.Tidak butuh waktu lama, pria itu membuka pintu kamarnya dan menghampiri putranya nya yang terbaring lemah di ranjangnya.Reynaldi mengompres dahi Bima, menenangkannya, juga memberikannya obat yang ada di kotak p3k di rumahnya.Pria itu terlihat berusaha tenang, menjaga Bima dengan sabar sepanjang malam.Melihat semua itu hati Lina bergetar. Dia melihat sisi lain dari Reynaldi. Seorang ayah yang penyayang.Saat Bima mulai tertidur. Mereka duduk disamping tempat tidur Bima. Lina berkata dengan pelan sedikit berbisik, “ Kita bisa mencoba lagi semuanya.” Reynaldi menoleh, matanya membelalak kaget mendengar ucapan Lina,” Maksudmu…?” Lina tersenyum tipis, “Aku tidak ingin kita seperti orang asing lagi, aku ingin kita mencoba lagi semuanya.Bukan hanya untuk Bima, tapi untuk kita berdua.” Pria itu menatap mata Lina l
“Bagus! Pastikan mereka tidak bisa menemukan, Tuti!” “Jangan khawatir Nyonya, semua jejak sudah di hapus.” Fanny tersenyum sinis, saat menerima laporan dari anak buahnya.“Rasakan Lina, kamu pikir aku sudah berhenti! Kalau aku tidak bisa menghancurkan mu, aku akan menghancurkan orang-orang yang kamu cintai, anakmu….Bima.” katanya tersenyum licik di balik jeruji besi.Fanny memang kuat, karena dia mempunyai banyak koneksi, selain orang tuanya berasal dari orang yang berada, keluarganya juga banyak yang mempunyai pangkat tinggi dan berpengaruh di daerahnya.Proses sidangnya belum juga digelar. Tapi keluarga nya sudah mulai bergerak untuk membebaskannya, bahkan berniat membalas dendam pada Lina dan Reynaldi.Sementara di rumah sakitBima masih terbaring lemah. dokter sudah memberikan penawar untuk menetralisir racun. Tapi reaksi obat itu masih berjalan perlahan pada tubuh Bima.Walaupun begitu Lina sudah bisa bernafas lega, karena Bima sudah mulai dipindahkan di ruang rawat inap. Lin
Nasha memandang tubuh dan penampilannya di cermin ruang ganti. Mengenakan gaun sederhana tapi elegan.Malam itu adalah pesta tahunan perusahaan keluarga.Pesta pertama sejak Bima resmi menggantikan Reynaldi sebagai CEO.Bima putra satu-satunya Reynaldi Setiawan tampil menjadi pemimpin muda yang berwibawa.Sementara Nasya yang dulunya adalah seorang seniman galeri sekarang tiba-tiba jadi pusat perhatian ibu-ibu sosialita, dan para istri petinggi perusahaan.**Diantara keramaian tamu, Nasya berdiri disamping Rakha. Bibir nya tersenyum, sopan, baik tapi senyum yang sulit diartikan.Rakha cepat menyadari pandangan Nasha. Lalu menyalami lebih dulu.“Selamat ya, sekarang kamu sudah jadi istri seorang CEO.” ujarnya. “ Siap-siap”katanya datar.Nasha hanya tersenyum,”Aku hanya belajar dari pengalaman, terutama dari…kamu dan Kezia.Kalimat itu sebenarnya biasa saja, tapi mengandung arti sangat dalam.Rakha terdiam sebentar, matanya mencoba mencari masa lalu, tapi kemudian dia cepat tersadar,
Nasha adalah sosok wanita yang sederhana, mandiri dan cerdas dan penuh empati. Dia juga tahu bagaimana menenangkan Bima. Mungkin karena perbedaan umur yang sangat jauh diantara mereka.Namun, tidak semua orang menyambut hubungan mereka dengan tangan terbuka. Lina merasa keberatan karena umur Nasha hanya berbeda 5 tahun darinya. Sedangkan Kezia tidak menyetujuinya, karena Nasha adakah orang masa lalu Rakha suaminya. Dan hampir saja perkawinan mereka hancur di tengah jalan.“Mama nggak setuju!” kata Lina suatu malam, saat Bima baru saja pulang.Bima terdiam,”Kenapa, Ma. Apa karena perbedaan usia kami yang cukup jauh?” “Itu salah satunya, kamu juga nggak tahu pasti asal, usulnya, oh iya, satu lagi…. Adik kamu juga pernah bilang kalau perkawinannya hampir hancur karena Nasha.” ujar Lina tegas“ Ma… Itu dulu. Dan semua orang punya masa lalu.” Bima menarik nafas. “ Aku mencintai dia. Bukan masa lalunya.” Lina menunduk diam. Reynaldi, Yang mendengar dari ruang makan hanya berkata singkat.
Rakha diposisi yang sulit, dia tahu Kezia istrinya, dan dia juga tahu Kezia istri yang baik, meskipun terkadang menyebalkan karena sifatnya yang manja.Tapi dia juga masih menyimpan rasa dengan Nasha.Semua sudah dijelaskan pada Nasha semalam di cafe.“Aku harus bagaimana, Rakha?” tanya Nasha datar.“Aku harus jujur pada Kezia, aku nggak bisa menutupinya lagi.”“Kalau kamu jujur, kamu harus siap dengan semua akibatnya.” ujar Nasha mengingatkan.____Pagi itu Kezia berdiri didepan cermin dengan mata sembab.Rakha sudah pergi ke kantor nya lebih awal. Tidak ingin membangunkan Kezia yang masih pulas tidurnya. Air matanya turun dengan deras, ketika dia bangun dan mendapatkan pesan singkat dari suaminya.“Aku berangkat lebih awal, maaf tidak membangunkan mu. Sekali lagi aku minta maaf, Semalam aku bertemu dengan Nasha. Aku tidak bisa bisa menutupi semuanya lagi. Aku akan bicara jujur semuanya malam ini.” Kezia memejamkan mata, baginya Rakha adalah tempat pulang, tapi sekarang rumah itu s
Beberapa bulan kedepan setelah Kematian Keyko. Masalah baru pun datang menimpa pernikahan Kezia dan Rakha.Rakha baru saja mau pulang dari dinas luar kota saat Kezia menelpon nya. Suaranya terdengar manja, seperti biasa. Tapi kali ini telinga Rakha menangkap sesuatu yang berbeda, bahkan terdengar tidak tulus, berlebihan.“Kamu nggak kangen sama aku?” tanya Kezia.Rakha menghela nafas pelan.” Kezia, bisa kita ngobrol nanti dirumah.” Kezia malah mengeluh dan merajuk karena dia merasa diabaikan. Rakha diam. Dia capek, Untuk pertama kalinya dia merasa lelah. Bukan hanya karena pekerjaan. Tapi karena hubungannya yang sekarang dipenuhi oleh tuntutan. Sesekali dia melirik sopir yang membawa mobilnya. Kemudian melanjutkan percakapannya dengan Kezia di telpon. Malam itu Rakha sedang duduk di balkon apartemen nya. Matanya tidak sengaja tertuju ke seberang rumahnya. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok cantik yang cukup dia kenal. Dan dia ternyata salah satu stafnya di kantor.“Apa aku ti
Sirine ambulans meraung, berbunyi kencang, sepanjang jalan. Bima duduk di samping Keyko yang mulai melemah.Nafasnya memburu dan tatapannya mulai kosong.Tangan nya menggenggam erat jari tangan Bima yang gemetar ketakutan.“Bim…” Keyko berbisik lemah, suaranya hampir tidak terdengar.“Kalau aku pergi, jangan salahkan dirimu sendiri. Tetaplah hidup demi aku.”“Jangan ngomong begitu, kamu pasti selamat. Bertahanlah. Keyko bertahanlah demi aku.” suara Bima semakin parau menahan tangisnya. Panik.Keyko tersenyum lirih.” Setidaknya aku masih lihat, kamu memilih aku.” Bima meraup wajah Keyko.” Jangan tutup wajah kamu, kita hampir sampai.. Kita masih punya banyak waktu, kita masih punya banyak rencana yang belum terwujud. Buka mata kamu, sayang.”Tapi…pelan-pelan genggaman tangannya melemah dan terlepas.Bima menjerit histeris. Reynaldi dan Rakha, ada di mobil lain, mengikuti dari belakang.Ambulan berhenti di ruang IGD. Tapi semuanya sudah terlambat.Tapi Dokter menggeleng frustasi.“ Maa
Bima berdiri di depan ruang kerja Reynaldi. Wajahnya tegang dan rahangnya mengeras. “Jadi Papa percaya kalau Keyko melakukan semua ini?” tanya nya dengan wajah tak percaya.Reynaldi membuka layar laptop di depan mejanya. Terlihat jelas rekaman cctv disana.“Lihat sendiri, dia ada di ruang server jam 2 pagi. Ini bukan kebetulan, Bima…” “Itu belum tentu dia, Pa! Wajahnya tidak kelihatan, walaupun itu dia, kita nggak tahu apa motif dan maksudnya disana.” Reynaldi menatap tajam kearah putranya,”Dan kamu siap mempertaruhkan perusahaan demi wanita yang baru kamu kenal?” “Papa, aku tahu dia. Aku kenal dia, dan aku percaya dia.” “Percaya?”Reynaldi menepuk meja. “Percaya itu butuh waktu Bima. Dan mungkin dia bagian dari orang yang ingin menghancurkan kita!” Bima menahan nafasnya. Lalu menariknya dalam-dalam seakan-akan menahan emosi.Sementara itu, Keyko duduk di balkon apartemennya. Hening. Sepucuk amplop terbuka lebar di atas pangkuannya.Surat dari seseorang, yang memberitahunya, kala
Setelah sekian lama bergelut dengan luka dendam, dan masa lalu, akhirnya kehidupan Reynaldi , Lina, Rakha, Kezia, dan Bima perlahan kembali tenang. Tapi seperti bayangan senja yang datang diam-diam. Sebuah kehadiran baru kembali mengusik ketenangan. Perusahaan milik Reynaldi sedang membuka peluang kerjasama internasional dengan sebuah perusahaan teknologi besar dari Jepang. Kitsuki cooperation. Salah satu urusan dari perusahaan mereka bernama Keyko Kanzaky. Hadir sebagai perwakilan dari kepala proyek merger. Cantik, cerdas, dan mempunyai aura yang sangat kuat dan misterius. Kezia yang mempunyai jabatan yang cukup penting di perusahaan milik ayahnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Keyko nampak terlalu familiar dengan seluk beluk internal perusahaan. Bahkan yang seharusnya dia tidak mengetahuinya. Sementara Bima yang sudah mulai pulih hatinya berhasil menyelesaikan pendidikan nya dengan cepat. Lalu kembali lagi ke Indonesia. Dia mulai membangun hubungan yang dengan Keyko.
Hubungan Aqila dengan Bima awalnya seperti hubungan kisah cinta anak muda biasa. Bima yang lulusan luar negeri,walaupun kuliahnya belum selesai tercatat sebagai karyawan di perusahaan Reynaldi sebagai Staf Keuangan.Begitupun Aqila, dia wanita cerdas yang masuk lewat jalur tes, sampai akhirnya ditempatkan sebagai manager marketing.Mereka terlihat sering bersama di acara formal perusahaan.Menghadiri pertemuan bisnis, hingga makan malam di tempat eksklusif.Pribadi Aqila yang cerdas, ceria, dan pintar berkomunikasi membuat Bima tertarik dan merasa nyaman dengannya.Aqila juga selalu tahu bagaimana caranya menenangkan Bima saat ada masalah, baik dengan pekerjaannya maupun dengan Papanya.Namun semua berubah, ketika Kezia yang masih satu kantor dengan mereka menyelidiki keberadaan Aqila. Awalnya hanya sekedar ingin tahu, siapa calon kakak iparnya ini. Walaupun sudah ada beberapa kejanggalan dari sikapnya.Dari dokumen lama di sebuah arsip ternyata ayah Aqila dulu juga pernah bekerja di
Beberapa minggu setelah kejadian di cafe, Kezia dan Rakha memenuhi panggilan polisi untuk menjawab beberapa pertanyaan. Sebagai warga negara yang baik mereka pun datang. Tanya jawab memakan waktu hampir dua jam. Setelah selesai mereka menyempatkan diri melihat keadaan Fanny didalam sel. Tapi kali ini bukan untuk menghakimi atau menyalahkan dia, hanya ingin memastikan kalau sepupu ibu kandungnya ini menyesali semua perbuatannya.“Kezia.” ucapnya pelan.” Maaf, meskipun mungkin kamu tidak bisa memaafkan.” “Aku datang bukan untuk menghukummu, tapi aku hanya ingin memastikan, apa benar hubungan darah itu tidak berlaku untukmu, sampai kamu benar-benar membenci aku dan ibuku.” “Kezia…” ucap Fanny lirih.Kezia berusaha kuat dan tidak mengeluarkan air mata. Tangan Rakha menggenggam tangannya kuat. “Aku ingin semuanya berakhir.” Kezia berjalan keluar sel sambil bergandengan tangan dengan Rakha. Meninggalkan Fanny yang diam dan frustasi.Sementara dirumah Reynaldi, masih saja syok dengan k