Home / Rumah Tangga / Bukan Dokter Cinta / Bab 37 Kuda Betina

Share

Bab 37 Kuda Betina

Author: Sisca W.
last update Last Updated: 2022-06-16 22:33:43

David menyalakan keran shower dan air pun mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya. Kejadian semalam tak mau hilang begitu saja dari ingatannya. Meski air ini mengalir deras mengguyur kepalanya. Wenda si gadis kalem dan pendiam berubah menjadi kuda betina yang liar di kala ia tidur.

David ingat betul bagaimana Wenda memeluknya erat seolah tubuh David adalah sebuah guling empuk nan besar. Tidurnya menjadi terganggu, padahal ia baru mau masuk menuju ke alam mimpinya. David berusaha melepaskan pelukan itu, namun yang terjadi kaki kanan Wenda malah naik ke atas kakinya hingga hampir menyentuh kejantanannya.

David kesal karena sepele membuat salah satu anggota tubuhnya menjadi tegang malam itu. Ia pun beranjak dari tidurnya dan keluar kamarnya. Mengendap-endap menuju kamar Mila yang sudah ditinggal oleh penghuninya. Ia mengambil guling dan membawa ke kamarnya. Padahal ada selimut di sana, mengapa ia tak mengambilnya kalau kedinginan?

David terlalu lelah dan mengantuk m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 38 Program

    "David, setelah makan malam kamu ke ruang kerja Papa ya." perintah Pak Johan sambil mengelap mulutnya dengan selembar tisu. "Baik, Pa." sahut David mengangguk. Makan malam hari itu telah selesai. Wenda membantu Bu Tina membereskan piring untuk di bawa ke dapur. Meskipun ada Bi Darmi, Bu Tina tetap melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga. Bi Darmi hanya menjadi pelengkap bagi Bu Tina untuk meringankan pekerjaan itu. Mengingat Bi Darmi sudah tak muda lagi seperti dulu, Bu Tina pun inisiatif untuk mengurangi beban pekerjaan itu. Toh, anak-anak Bu Tina kini sudah besar dan mandiri. Berbeda waktu mereka masih kecil, Bu Tina secara khusus menaruh perhatian kepada mereka seratus persen dan Bi Darmi bagian mengurus pekerjaan rumah tangga. "Letakkan saja di situ saja, Non. Biar Bibi yang cuci." pinta Bi Darmi. "Wenda bisa cuciin piringnya, Bi. Biar Bibi istirahat aja." ucap Wenda yang sudah mengambil spons cuci piring. "Jangan, Non! Nanti saya kena tegur Tuan

    Last Updated : 2022-06-17
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 39 Surat

    David masih saja penasaran bagaimana Pak Johan bisa semudah itu mengetahui titik kelemahannya. David pun mencari tahu walaupun papanya sudah melarangnya. Ia menghela napasnya di depan daun pintu ruangan kerja Pak Johan yang sudah tertutup. Bersamaan dengan itu, Wenda keluar dari kamar utama sambil membawa sesuatu. Tatapan mereka bertemu dan Wenda langsung menyembunyikan benda berbentuk kotak itu di balik tubuhnya. David mengernyitkan wajahnya karena penasaran. Wenda kemudian tersadar, untuk apa menyembunyikan benda ini. Toh tidak akan mempengaruhi apapun dalam hubungan ini. Anggap saja ini adalah hadiah dari seorang ibu yang baik hati kepada anaknya. Nikmati saja benda ini yang akan berguna untuk hidupnya kelak bersama orang yang ia cintai. Wenda pun berjalan menuju anak tangga dan menaikinya tanpa mempedulikan David yang masih terpaku di sana. David pun mengekor kepadanya dan bertanya, "Itu apa?""Bukan apa-apa." jawab Wenda tak acuh. David yang penasaran merebut

    Last Updated : 2022-06-17
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 40 Berdamai?

    "Wen, aku minta maaf. Please dengerin penjelasan aku dulu." ujar David sangat menyesal sambil mengikuti Wenda membereskan barang-barangnya. "Aku mau pulang!" kata Wenda ketus. "Jangan, Wen. Aku masih butuh kamu!" ucap David sambil memegang kedua lengan Wenda agar dia berhenti memasukkan baju ke dalam kopernya. Wenda menatapnya tajam dengan mata yang berkaca-kaca, "Butuh untuk nafsumu?""Oh, come on, Wen. Tinggal selangkah lagi aku dapat jabatan itu. Please, hm?" rayu David dengan wajah penyesalannya, "I'm sorry, mulai malam ini aku akan tidur di kamar Mila. Oke?"David mengacungkan jari kelingkingnya. Seperti anak kecil di saat ingin mengikat perjanjian bersama kawan terbaiknya. Tetapi Wenda bukan kawannya. Wenda pun hanya tertunduk dan tak membalas perlakuan David."Tidurlah, aku tidak akan menganggumu lagi." David menurunkan tangannya yang tak dibalas oleh Wenda dan menuntunnya agar duduk di ranjang. Ia pun pergi meninggalkan kamarnya dan berjalan mengendap-endap ke kamar Mila. D

    Last Updated : 2023-03-21
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 41 Hadiah

    Pak Johan meminta David dan Wenda untuk berkumpul di ruang keluarga usai sarapan di pagi hari itu. Kedua orang tua itu ingin menyampaikan hal penting yang berkaitan dengan kedua pengantin baru tersebut. David dan Wenda pun menurut saja dan mereka berempat di sofa dengan posisi Wenda dan David berdampingan begitu pun Pak Johan dan Ibu Tina. "Wenda, terimalah. Ini adalah hadiah pernikahan untukmu dari Papa." ucap Pak Johan sambil meletakkan kunci mobil di atas meja beserta kelengkapan surat-suratnya. Betapa terkejut hati Wenda ketika mendapatkan hadiah semewah itu dari papa mertuanya. Ia hanya bisa terdiam sambil membelalakkan matanya sedangkan David bersikap biasa saja karena ia sudah mengetahui niat kedua orang tuanya. "Dan ini hadiah pernikahan untuk kalian dari Mama." lanjut Bu Tina sambil meletakkan sebuah amplop bewarna coklat ke sebelah kunci mobil itu. Wenda menduga amplop itu berisi selembar cek dengan nominal yang mungkin cukup besar. "Terima kasih, Pa, Ma. Wenda sudah terla

    Last Updated : 2023-03-23
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 42 Mual

    "Kenapa, Lang?" tanya David telah sadar jembali dari rasa terpesonanya karena penampilan Bianca. "Buruan noh, lu ke sono foto sama bini lo." Gilang mendorong tubuh David agar berjalan mendekati Bianca."Oh, Ehem." David berdeham dan pura-pura merapikan jasnya. Ia berjalan mendekati Bianca yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan Wina dan Widya. "Kak David, nanti untuk gaya pertama Kakak peluk istrinya dari belakang untuk stok shoot video kami, ya!" pinta Sahrul. "Oh, oke." jawab David singkat lalu menatap Bianca yang kini sudah melihat kehadirannya."Ayo Wen." David mengajak Wenda sambil menengadahkan tangan di depannya. Wenda pun meraih tangannya. Sahrul dan Dicky berusaha mengarahkan gaya yang pas agar foto dan video yang dihasilkan menjadi paripurna.David merasa canggung ketika harus bergaya memeluk Wenda dari belakang. Begitu pun Wenda yang risih ketika nafas David berhembus ke seluruh tengkuknya. Momen ini membuat perut Wenda terasa bergejolak. Sepert

    Last Updated : 2023-03-27
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 43 Koper

    "Sial!" desis Wenda yang gemas pada kebodohan dirinya sendiri. Ia baru saja ingat bahwa ia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Tubuhnya sudah terlanjur basah dan ia pun telah selesai mandi. Untung saja ada handuk kimono di sini. Setidaknya mampu menutup sebagian besar tubuhnya. Wenda juga membalut rambutnya dengan sehelai handuk lain yang telah tersedia. Wenda membuka sedikit pintu kamar mandi untuk memberinya celah agar ia bisa memantau keadaan sekitar. Tuan Muda sedang ada di balkon. Ia duduk membelakangi kamar. Baik! Ini sempurna! Wenda pun berjalan perlahan sambil terus menatap ke arah punggung David. Ia tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari sosok David. 'Semoga saja Tuan Muda itu tetap di posisinya sampai aku selesai mengambil baju.' Begitulah doa yang Wenda panjatkan di dalam benaknya. Wenda duduk bersimpuh dan membuka koper yang terletak di bawah meja, namun sayang, koper itu kenapa sulit sekali dibuka? Ritsleting kopernya macet di tengah jalan.

    Last Updated : 2023-03-28
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 44 Obrolan Malam

    David berlalu pergi tanpa sepatah kata pamit dan meninggalkan Wenda sendirian di kamar hotel. Ia ingin mengusir bayang-bayang wajah Wenda yang terus muncul di dalam otaknya. Ambisinya untuk mendapatkan tahta kerajaan di dalam perusahaan Ayahnya telah membuat David menjadi pribadi yang lain. Ia seperti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diimpikannya. David mengemudikan mobilnya dan melaju kencang seakan ingin membelah jalanan kota di malam itu. Ia tak tahu harus ke mana dan tidur di mana malam ini. Pulang ke rumah pun percuma karena pasti Bi Darmi akan curiga. Tiba-tiba ia teringat akan koper Wenda yang sudah rusak. Ia pun memutuskan untuk mengambil koper lain miliknya yang ada di rumah. Ia harus mengganti koper itu karena besok siang mereka akan terbang ke lombok untuk melaksanakan skenario honey moon. "Lho, Tuan kok sudah pulang?" tanya Bi Darmi heran melihat Tuan Mudanya tiba di rumah lebih cepat. Rumah itu malam ini hanya dihuni oleh

    Last Updated : 2023-03-29
  • Bukan Dokter Cinta   Bab 45 Private Breakfast

    "Mbak Wenda!" Santi menyapa Wenda dan langsung memeluknya erat ketika ia dan David masuk ke dalam sebuah kamar di mana inilah satu-satunya kamar yang paling besar di hotel ini, yaitu kamar President Suite. "Selamat Pagi semuanya." sapa Wenda kepada seluruh penghuni di kamar itu. Ada Pak Johan, Bu Tina, Pak Agus, Dimas, Monic dan Santi. Mereka semua menginap di dalam satu kamar ini, sedangkan David dan Wenda di kamar terpisah. Mereka ternyata sudah menyiapkan diri untuk private breakfast di kamar ini. "Pagi. Ayo duduk sini, Nak." ajak Bu Tina ramah sambil menepuk-nepuk bangku di sampingnya. Wenda pun membalas dengan anggukan dan tersenyum. "Ayo San. Kita duduk di san!" ajak Wenda sambil menggandeng Santi. David pun melangkah terlebih dahulu dan menyiapkan kursi untuk Wenda dan Santi duduk. "Makasih, Mas." David hanya membalasnya dengan senyuman ala kadarnya dan alis terangkat sedikit. Mereka duduk melingkari meja oval yang sangat besa

    Last Updated : 2023-03-30

Latest chapter

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 77 Aku Minta Maaf

    "Minum obat itu, kalau nyawamu masih mau selamat."Nicho mengancam Wenda yang masih terus membuat ulah. Wenda pun hanya bisa bergeming."Cepat ambil, Kirana!" bentak Nicho dan membuat kedua wanita itu terkejut. Kirana dengan cepat mengambil pil dari lantai dan menyodorkannya ke mulut Wenda."Telan obat itu!" titah Nicho sambil menarik pelatuknya karena Wenda masih saja menutup rapat mulutnya."WENDAAAAAAA!"Suara gaduh tiba-tiba terdengar dari luar, membuat aktivitas mereka terhenti. Wenda mengenali suara tersebut dan seketika juga berteriak."Mas David, aku ada di dalam!!"Nicho terkejut karena teriakan Wenda dan menyuruh Kirana membekap mulut Wenda. Kirana pun menurut. Ia mengambil kain dari dalam tasnya untuk menutup mulut Wenda yang berisik. Ia kemudian membetulkan posisi tubuh Wenda yang sejak tadi tergeletak di lantai.Nicho berjalan keluar. Ia mendapati David dan Gilang tengah bergelut dengan kedua anak buahnya. David melihat sosok Nicho diteng

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 76 Pencarian

    David baru saja memasuki area parkir di rumah sakit tempat Wenda bekerja. Di saat ia sibuk berkeliling mencari lahan kosong untuk parkir, ia melihat Wenda masuk ke dalam sebuah mobil. Mobil yang tak asing baginya."Nicho?" gumam David. Ia pun segera mengambil ponsel dan menelepon Wenda. Panggilannya ditolak."Sial! Kenapa ditolak?" geram David sambil meletakkan ponselnya dengan kasar. Bukan perselingkuhan yang dikhawatirkan David. Sesuatu hal lain terkait keselamatan istrinya. David merasa, jika Pak Johan saja bisa sampai turun tangan mengawasi Nicho secara diam-diam, berarti ada sesuatu yang Nicho sembunyikan atau rencanakan.Ponsel David berdering. Gilang meneleponnya."Halo, Bos. Sorry baru ngabarin, ini gue ngikutin Nicho tapi kok masuk ke area rumah sakitnya Wenda ya?" ucap Gilang di telepon."Iya, gue tau. Ini gue lagi jemput Wenda. Tapi dia sekarang lagi sama Nicho." jelas David singkat karena ia sibuk mengemudi untuk membuntuti Nicho yang baru saja keluar

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 75 Pertarungan

    Cukup lama Kirana menanti wanita di depannya ini sadar dari pingsannya. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Kirana menatap Wenda lekat-lekat dengan gelisah. Wajahnya cantik meskipun tubuhnya terlampau mungil jika dibanding dengan tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dan berisi. Wenda duduk disebuah kursi. Kepalanya tertunduk lemas, tubuhnya terikat pada sandaran kursi, begitu juga kedua tangan terikat di belakang dan kakinya."Heh bangun!" Kirana sudah tak sabar. Ia menepuk-nepuk pipi Wenda dengan kasar. Tak lama, Wenda mengerang lemah. Ia membuka matanya yang masih kabur. Kirana yang tahu bahwa Wenda sudah sadar, mulai memegang dagu Wenda dengan kasar dan mendongakkan kepalanya. Wajah mereka begitu dekat.Kirana menatap tajam ke wajah Wenda. Wenda yang masih lemah hanya bisa meringis kesakitan karena Kirana mencengkram dagunya sangat kencang."Jangan kasar-kasar, Kirana."Wenda yang pandangannya masih kabur, melihat sosok perempuan yang tidak ia kenal berada

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 74 Hilang

    Poli kandungan siang ini tak begitu ramai. Wenda segaja memilih hari ini karena kebetulan ia berdinas pagi. Ia ingin segera mengecek kandungannya karena sudah telalu lama ia terlambat haid."Selamat ya, Wenda, atas kehamilanmu. Perkembangan janinmu bagus." Dokter Pandu menyelamati Wenda selagi alat USG tertempel di perutnya."Terima kasih, Dok." ucap Wenda sedikit tegang. Ia melihat layar monitor yang tergantung di dinding. Sebuah kantong kehamilan beserta janin di dalamnya tergambar jelas di sana. Haruskah ia merasa bahagia atas kehidupan yang tak diduga ini? Memang sudah sewajarnya, kehidupan ini mungkin akan hadir setelah apa yang ia dan David lakukan selayaknya suami istri pada umumnya."Kita kontrol lagi bulan depan ya, Wen."Dokter Pandu melepaskan alat USG dan perawat membersihkan gel yang masih tersisa di perut Wenda."Saya beri vitamin-vitamin, diminum satu kali sehari saja." lanjut Dokter Pandu sambil berjalan ke mejanya dan mengetikkan sesuatu di kompu

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 73 Masih Rahasia

    Widya menghela napas panjangnya, sedangkan Wina terus menggenggam kedua tangan Wenda dengan mimik wajah sendu. Wenda telah menceritakan kisah 'cinta' antara dirinya dengan David."Gue tau, gue salah menaruh harapan ke laki-laki ini. Yang gue kira bakal balas perasaan cinta gue. Gue tau, gue cuma dimanfaatin karena situasi yang keluarga gue alami." Wenda menarik napasnya sejenak, "Tapi perasaan gue nggak bisa bohong, kalau gue suka.. cinta.. sama dia sejak pertama kali gue ketemu lagi setelah dewasa.""Kalau boleh gue saranin. Menurut gue, lo jangan lepasin David gitu aja sih. Lo mau anak lo ini nggak punya bapak? Lo harus perjuangin apa yang jadi hak lo dan si jabang bayi ini, Wen." ucap Wina dengan tatapan mata dari yang muram dan sendu berubah menjadi berkilat-kilat penuh amarah."Kalau menurut gue, gue sih setuju sama sebagian saran Wina, Wen. Lo emang harus perjuangin hak lo dan anak lo ini. David emang harus tanggung jawab sepenuhnya atas anak lo ini. Tapi, lo juga

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 72 A New Life Has Grown

    David menutup pintu mobil dan memasang sabuk pengaman. Dilihatnya Wenda juga sudah siap dengan sabuk pengaman di tubuhnya. Wenda duduk terdiam dan menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong."Are you okey, Wen?" tanya David khawatir. Bukan tanpa sebab, itu karena Wenda hanya menyantap sarapannya dengan porsi yang sedikit sekali. Berbeda dari hari biasanya."Aku nggak papa." jawab Wenda datar.Santi dan Monic menyusul masuk ke mobil kemudian. Mereka sangat berisik khas anak-anak yang sedang bersenda gurau. Hari ini David berinisiatif mengantar Wenda, Santi dan Monic karena ia bingung harus mengisi waktunya dengan kegiatan apa."Kalian sudah siap?" tanya David menoleh ke belakang."Siap, Mas." ucap Santi dan Monic bersamaan. Mereka juga telah memasang sabuk pengamannya."Ayo kita berangkat!" seru David dan disambut dengan riang oleh Santi serta Monic.David memutar lagu anak-anak di dalam mobil. Santi dan Monic pun bernyanyi dengan riang hingga sampai di s

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 71 Sekamar Lagi

    Wenda masih duduk di tepi ranjang ayahnya. Ia begitu bingung dan canggung bagaimana harus menghadapi pria yang sedang mengambil koper dari bagasi mobil. Mengapa pria itu tiba-tiba datang ke rumahnya hampir tengah malam? Padahal sudah berulang kali ia menolak untuk bertemu bahkan pernah suatu kali ia mengusir pria itu saat datang ke rumahnya pagi hari. Waktu itu ayahnya tidak ada di rumah dan Wenda hanya sendirian karena usai dinas malam. Jadi, tidak ada yang bisa menghalagi Wenda untuk mengusir pria ini.Jadi, percuma rasanya jika Wenda mengusirnya di kedatangannya malam ini, ayahnya pasti akan curiga karena tak tahu apa-apa mengenai permasalahan mereka yang sebenarnya. Sungguh pintar pria ini memanfaatkan situasi. Dia datang di tengah malam saat orang yang bisa mempersilakan dia masuk ke dalam ada di rumah. Wenda berdecak kesal.Suara berisik terdengar di luar, membuat Wenda penasaran. Ia mengintip dari ambang pintu dan dilihatnya David sedang menarik sebuah koper sangat be

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 70 Pergi Kamu!

    Gilang baru saja memasukkan mobil yang ia kendarai ke dalam garasi di kediaman Pramono. Dilihatnya mobil milik Pak Johan tidak ada di sana."Bokap lo pergi, Vid?""Hm?" David yang sedari tadi membaca proposal dalam perjalanan pulang dari berbagai rekanan perusahaannya di tabletnya, mulai mendongakkan kepalanya. Memandang sekeliling garasi. Hanya tertinggal mobil miliknya, ibunya, dan 2 mobil cadangan lainnya."Nah, tuh bokap lo pulang." tunjuk Gilang ke arah pagar rumah yang tertutup rapat. Garasi itu terbuka otomatis dan mobil Pak Johan mulai memasuki area kediamannya. David pun keluar dari mobil dan membereskan barang-barang miliknya di jok penumpang belakang."Papa sama Mama abis dari mana? Tumben nggak ngabarin David kalau pergi." tanya David setelah kedua orang tuanya keluar dari mobil."Kamu sendiri kenapa baru pulang?" tanya Pak Johan tak menjawab pertanyaan David. Ia heran mengapa anaknya itu pulang larut, padahal tadi siang baru saja mendapatkan sanksi s

  • Bukan Dokter Cinta   Bab 69 Ibu, Aku Harus Bagaimana?

    Wenda berjalan memasuki sebuah restoran yang mewah. Ia merasa rendah diri memasuki restoran itu dengan pakaian casual yang saat ini ia kenakan. Blouse biru muda dengan aksen rumbai di bagian dada dan celana kain berwarna krem. Ia sama sekali tak tahu jika restoran ini termasuk dalam golongan restoran yang sangat mewah.Sebenarnya, Wenda memiliki gaun indah hasil pemberian dari calon mantan mertuanya. Namun, tak ia bawa saat kepergian di hari keributan itu karena ia merasa itu bukan miliknya."Selamat malam. Sudah pesan tempat, Bu?" tanya seorang pelayan yang menghampirinya."Mmm.. sudah." Wenda berpikir sejenak, "Atas nama Kristina.""Baik, mari silakan di sebelah sini, Bu."Wenda mengikuti pelayan itu ke sebuah ruangan yang lumayan jauh masuk ke dalam restoran itu. Pelayan membuka pintu dan Wenda melihat Bu Tina sudah berada di sana. Ia bangkit dari duduknya dan tersenyum sumringah saat menatap Wenda. Di sebelah Bu Tina, ada Pak Johan yang juga ikut berdiri dan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status