"Kamu bicara apa sih, Mas, aku nggak ngerti." Jasmin berpura-pura tidak tahu. Ia meraih kursi dan duduk di depan meja Xabiru. Mencoba bersikap sedatar mungkin tidak ingin dicurigai. "Jangan sampai aku mencari tahu kalau kamu juga terlibat dengannya dalam mengerjai istriku.""Istriku? Oh, jadi sekarang kamu mengakuinya sebagai istri, gitu Mas?" Tatapan tajam diarahkan Jasmin ke Xabiru. Ia tidak suka mendengar kalimat tersebut. Perasaannya juga mendadak tak enak. Jasmin merasa Xabiru mulai menyukai Aira dan melupakan janji mereka. "Bukankah sekarang dia memang istriku? Ada yang salah? Tidak kan?" Laptop ditutup Xabiru dan ia beralih menatap lekat Jasmin yang berada di hadapannya. Brak!!! Beberapa berkas yang berada di atas meja Xabiru terlempar ke bawah karena ulah Jasmin. Membuat Lola tersentak kaget karena suaranya sampai terdengar ke luar. "Mau kamu itu apa sih Mas? Tiba-tiba putusin aku. Tiba-tiba ingin mencoba berumah tangga dengan wanita itu dan melupakan rencana indah kita
"Halo." Dengan ragu dan sedikit takut Aira menghubungi Xabiru. Ia ragu apakah teleponnya akan diangkat dan takut kalau bakal dimarahi Xabiru karena menghubunginya di saat lagi kerja. "Ya, ada apa?" Xabiru menjawab telepon Aira. Namun nadanya terdengar datar membuat Aira mencebik di ujung telepon. "Ehm, anu. Aku boleh izin keluar? Cuma sebentar." "Kemana?" tanya Xabiru sedikit penasaran. "Ke salon."Jawaban Aira membuat Xabiru menghela napas. Ternyata ke salon. Xabiru pikir mau kemana. Rupanya wanita mau seperti apapun bentuknya tetap menyukai yang namanya salon dan kecantikan. "Terserah." Singkat, Xabiru menjawab. "Terima kasih Mas. Kuusahakan pulang cepat kok sebelum Jingga pulang.""Ya," balas Xabiru dengan netra fokus ke layar laptop. Ia menerima telepon sambil bekerja. "Syukurlah. Kukira Mas Xabiru bakal melarang. Ternyata tidak. Malah sepertinya tidak peduli," rutuk Aira setelah sambungan terputus. "Ah, aku saja yang terlalu berharap kalau dia telah berubah dan mulai m
"Cantik. Iya kan Mang?" Jingga bertanya pada Mang Ihwan mencari dukungan kalau apa yang dikatakannya benar. "Iya, Mbak, eh, Bu Aira. Ibu keliatan lebih cantik dari biasanya." Mang Ihwan membenarkan seraya menatap lekat Aira. Kebiasaan memanggil Mbak di tempat Bu Laila membuat Mang Ihwan lupa kalau Aira bukan teman sesama pekerja lagi. Status mereka sudah berubah. "Terima kasih Jingga. Terima kasih Mang. Kalau bisa panggil Mbak aja, Mang, kayak biasanya. Saya masih Aira yang sama," balas Aira menolak dipanggil Ibu. Ia merasa panggilan itu terlalu tinggi baginya. Ia tidak mau hanya karena berbeda status, lalu dianggap harus dihormati. "Jangan Bu. Saya yang nggak enak dengarnya. Ya sudah saya pamit Bu, Jingga sudah diantar pulang dengan selamat. Mari Bu," pinta Mang Ihwan pamit pergi. "Iya Mang. Terima kasih. Hati-hati di jalan Mang." Setelah memastikan Mang Ihwan telah pergi, Aira menuntun Jingga masuk ke dalam rumah. "Memang benar ya, Bunda cantik?" Penasaran, Aira menanyakan ke
"Itu Mas Xabiru." Aira bergegas menuju pintu utama karena mendengar suara deru mobil suaminya baru saja memasuki halaman rumah. Ia tak sabar menunggu reaksi suaminya atas perubahan penampilannya saat ini. Apakah sama seperti Jingga dan Mang Ihwan atau malah sebaliknya. Namun ia optimis kalau reaksi Xabiru sama seperti mereka, akan memujinya. "Assalamualaikum, Mas," sapa Aira lebih dulu dan selalu begitu. Dialah yang lebih awal menyapa setelah pintu dibuka. "Waalaikumussalam." Xabiru sedikit tersentak kaget karena wanita di depannya berbeda. Terlihat lebih elegan dari biasanya. Tampilan wajah dan cara berpakaiannya berbeda. Lebih terlihat menarik dan tentu saja cantik. "Bagaimana penampilanku, Mas? Cantik?" tanya Aira yang sudah membuka lebar kedua sudut bibirnya hingga menampilkan barisan gigi putihnya yang rapi. Ia sedang menyiapkan diri untuk mendengar pujian dari suaminya. Xabiru yang sempat terkesima cuma mengangkat alis dan berlalu masuk tanpa komentar. "Lah, kok cuek? Apa
Aira memiringkan badannya memunggungi Xabiru setelah malam panas usai mereka lakukan. Ia menarik selimut hingga batas leher. Demikian juga Xabiru. Laki-laki itu menghadap ke arah berlawanan dengan istrinya karena didera rasa yang aneh. Antara lega karena hasratnya telah terpuaskan tapi malu karena harus mengingkari janjinya tidak akan menyentuh wanita tersebut. Suasana hening seketika. Keduanya tiba-tiba jadi sama-sama canggung. Aira bingung apakah dia harus senang atau bersedih dengan apa yang barusan terjadi. Bukan maksud menyesali, hanya saja ia tidak tahu apakah kejadian yang barusan akan berujung baik atau malah merenggangkan hubungannya dengan Xabiru. "Maaf untuk yang barusan. Aku … aku tidak tahu ada apa denganku. Malam ini hasratku tak terbendung. Aku tidak tahan untuk tidak menyentuhmu," ucap lirih Xabiru merasa bersalah. Namun tak berani berbalik menatap lawan bicaranya. Aira mengerjap, membulatkan matanya mendengar permintaan maaf Xabiru. Ia yang mencoba tidur heran k
"Hah?!" Xabiru terkejut. Mobil diberhentikannya seketika. Lalu menatap Aira tajam. "Nggak bisa kan? Ya sudah. Maka lupakan! Tidak perlu membahas itu lagi," tukas Aira ingin menyudahi obrolan seputar aktivitas semalam. "Kamu aneh. Mana mungkin bisa Ai. Kalaupun ada, bakal banyak wanita akan melakukan hal tersebut.""Katanya ada kok. Lewat operasi apa itu," balas Aira sok tahu. "Oh, jadi kamu mau operasi seperti itu? Baik. Akan kupenuhi." Xabiru malah menantang. Ia ingin tahu segigih apa Aira melawannya. "Nggak. Aku nggak mau. Rasanya tetap saja beda," tolak Aira. Ia sadar salah bicara. Xabiru mengulum bibir menahan senyum. Dia tidak menanggapi lagi. Baginya ucapan Aira barusan sudah menjelaskan kekalahannya. Suasana mendadak hening. "Mas menyesal telah menyentuhku, begitu?" Aira membuka obrolan kembali dan masih seputar pembahasan tadi."Bukan menyesal. Aku tidak mau melukaimu.""Kalau Mas tidak mau melukaiku, maka perlakukan lah aku seperti istrimu sesungguhnya, itu akan mengo
"Apa penampilanku sejelek itu ya jadi harus di-make over?"Aira membatin."Yah, pake nanya. Jadi kan ikut Xabiru ke pesta relasinya? Xabiru sudah cerita dan minta Ibu carikan butik yang bagus buat kamu. Bagaimanapun juga kamu harus tampil beda Ra. Biar mereka tahu kamu itu istrinya Biru.""Oh, itu. Iya, jadi Bu. Terima kasih ya, Bu. maaf jadi merepotkan." Aira baru ngeh. "Nah, itu! Kamu jangan kemana-mana dan nggak usah pergi ke salon. Nanti orang salon pilihan Ibu yang mendatangimu. Soal baju juga sudah disiapkan. Kamu nanti tinggal terima beres saja. Pokoknya mereka datang buat kamu secantik mungkin hingga Xabiru tak kan melirik wanita lain.""Iya Bu. Terima kasih.""Eh, manjur kan obat yang Ibu kirimkan itu? Makanya Xabiru sekarang terlihat jadi berbeda. Jadi klepek-klepek gitu sama kamu." Aira hanya mampu tersenyum tipis menanggapi ucapan Ibu mertuanya. Sedikit kagum juga dengan kosakata gaul yang dimiliki Bu Laila. Walaupun sudah berumur, Bu Laila tidak ketinggalan zaman dan se
Aira menggelengkan kepalanya isyarat tidak bisa mengingat siapa laki-laki yang barusan menegurnya ini. "Maaf, saya lupa. Kamu siapa ya? Kok kenal saya?" tanya Aira yang merasa aneh dikenali seseorang di tempat pesta yang masih terasa asing baginya sekarang ini. Ia merasa tak yakin pernah mengenal laki-laki di hadapannya saat ini karena terlihat bukan seperti seorang teman lama atau kenalannya. Laki-laki di depannya ini malah terlihat mirip suaminya. Seorang pekerja kantoran yang tentunya dari dandanan dan baju yang dikenakan tampak seperti orang kaya. Sedangkan Aira sadar darimana dia berasal hingga tidak mungkin mempunyai teman seperti laki-laki tersebut. "Astaga! Aku dilupakan," tukas laki-laki tersebut menepuk jidat menanggapi pertanyaan Aira. Padahal dia sudah berharap sangat Aira masih mengenalinya. Aira mengernyit melihat tingkah lelaki tersebut. "Wings? Sayap ayam di supermarket. Ingat?" Laki-laki tersebut mencoba mengingatkan Aira akan pertemuan pertama mereka. "Sayap ay
"Mas, kopinya." Aira masuk ke kamar membawakan secangkir kopi untuk Xabiru. "Terima kasih ya, maaf merepotkan." Segera meraih cangkir tersebut dari tangan Aira. "Masih sibuk, Mas?" Aira mengamati suaminya yang masih fokus ke layar laptop. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hubungan keduanya makin baik pasca kecelakaan yang menimpa Xabiru. Sesuai dengan janji yang disepakati, Xabiru ingin memulai hubungan layaknya suami-istri pada umumnya. Surat perjanjiannya bersama Aira sudah dimusnahkannya. "Iya, banyak yang harus diselesaikan, besok ada meeting." Xabiru menjawab tanpa menoleh ke Aira. Ia terlalu fokus ke layar laptop. "Oh, tapi besok sidang 'kan, Mas? Mas nggak datang?" Aira mencoba mengingatkan. Xabiru menoleh sebentar. "Datang, kok. Masih bisa. Meetingnya sore. Kalau pun sidangnya lama, biar Pak Burhan saja yang urus."Aira manggut-manggut mendengarkan."Menurut Mas, gimana? Apa Mbak Jasmin bakal di penjara atau?" Aira membuka obrolan tentang sidang Jasmin yang a
Semalaman Aira dan Bu Laila di rumah sakit menjaga keadaan Xabiru. Sebenarnya Bu Laila tak tega pada Aira karena menantunya itu dalam keadaan hamil muda. Kesehatannya juga tak baik. Bu Laila sempat meminta Aira untuk pulang saja, tapi Aira menolak. Ia ingin menemani suaminya sampai sadar. Pulang tak kan membuat perasaannya tenang. Justru membuatnya tak bisa tidur dan kepikiran terus. ***"Ra, Aira," lirih Xabiru memanggil istrinya. Ingin mengusap kepala Aira, tapi tak bisa. Tenaganya tak kuat. Ia merasa sangat lemah. Saat matanya mengerjap, orang yang pertama dilihatnya adalah Aira yang duduk tertidur sambil merebahkan kepalanya di ranjang yang ditempatinya. Ia merasa bersalah. "Ra.""Mas! Kamu sudah sadar? Ada yang sakit? Tunggu! Biar Aira panggilkan dokter dulu." Aira terkesiap melihat Xabiru yang telah sadarkan diri. Aira bangkit dari duduknya dan tampak kebingungan. Namun ia akhirnya ingat harus memanggil dokter segera. Xabiru tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Meno
Pantas saja perasaan Aira tak enak sejak kepergian suaminya. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal, tapi tak tahu apa itu, ternyata Mas Xabiru. Suaminya itu mengalami kecelakaan. Bergegas Aira menyiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit. Ia berganti pakaian dulu, baru setelah itu mengambil beberapa baju buat suaminya. Ia tak tahu seberapa parah keadaan Xabiru, tapi pasti akan membutuhkan beberapa lembar pakaian ganti untuk berada di sana. Ia berharap, suaminya tidak apa-apa. Hanya luka ringan saja. Aira masuk ke dalam kamar putrinya, Jingga. Memeriksa keadaan putrinya itu sebelum ditinggal pergi. Nanti ada Bi Siti yang akan menemani Jingga sementara ia pergi ke rumah sakit. Jingga tertidur pulas. Rasanya enggan kalau membangunkan anaknya itu apalagi memberitahukan keadaan ayahnya. Memang lebih baik, Jingga tak perlu tahu dulu dan tetap berada di rumah. Hampir setengah jam Aira menunggu, baru Mang Diman dan Bi Siti tiba di rumahnya. Bergegas Aira menghampiri dengan setengah ber
"Nikahi aku, Mas. Jadi kedua pun tak masalah asal bisa bersamamu." Jasmin tampak pasrah. Apa pun akan dilakukannya meskipun harus tersakiti. Xabiru menghela napasnya. Terasa berat memenuhi keinginan wanita di sampingnya ini. "Aku tak bisa, Jas. Aku sudah membuat keputusan untuk menjalankan pernikahanku bersama Aira. Apalagi sekarang dia sedang mengandung anakku."Brug! Xabiru tersentak kaget mendapati serangan tak terduga. Jasmin memukulkan bantal sofa ke arahnya. Wanita itu kesal karena Xabiru tak bisa menepati janjinya. Katanya dulu tidak akan tergoda atau meniduri istrinya, tapi sekarang, wanita itu malah hamil juga. "Dasar lelaki! Omongannya tidak bisa dipercaya!""Ya, memang laki-laki itu egois. Seperti yang dulu kulakukan padamu. Aku tahu kamu menyukaiku, Jas. Namun sayangnya aku lebih menyukai kakakmu."Jasmin mendelik tak suka. Kembali bantal di tangannya, dihantamkan ke tubuh Xabiru. "Sudah, Jas. Hentikan!" Xabiru meminta Jasmin berhenti, karena rasanya tak enak dipuku
Xabiru akhirnya pergi. Terpaksa karena ia pikir ini adalah kesempatan terakhirnya bertemu Jasmin. Ia ingin memperbaiki semuanya. Ingin juga mengakhiri dengan benar hubungan mereka yang sempat terjalin meskipun ia telah menikah. Ia ingin membatalkan janjinya untuk menikahi wanita tersebut. meski terdengar egois, tapi itu adalah jalan terbaik. Daripada tetap bersama dengan perasaan yang telah berubah. Bagaimanapun juga Xabiru sadar ia telah mencintai Aira, bukan Jasmin. Bahkan nama wanita tersebut sulit untuk ia masukkan ke dalam hatinya. ***Xabiru sekarang sudah berada di depan pintu unit apartemen Jasmin. Ia menunggu dibukakan pintu oleh wanita tersebut. "Masuk, Mas." Pintu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya tanpa terlihat sosok Jasmin di depan pintu. Hanya suaranya yang terdengar mempersilakan masuk. Xabiru sedikit heran tapi dia tetap masuk ke dalam. Baru berjalan beberapa langkah, Tiba-tiba dia tersentak kaget mendengar pintu apartemen tertutup. Ia berbalik dan melihat Jasmi
Xabiru tertegun membaca pesan yang baru saja dikirim Jasmin. Dia baru tahu kalau Jasmin ingin pergi keluar negeri, tapi dalam rangka apa? Setahu Xabiru, tidak ada kunjungan ke luar negeri dari kantor dan kalaupun urusan pribadi, kenapa terkesan mendadak? "Mas.""Mas Xabiru." "Mas ....""Ya, a--apa?" jawab Xabiru tergagap baru tersadar karena panggilan Aira. Ia sedang memikirkan Jasmin. "Mas kenapa? Dari tadi kupanggil nggak jawab. Mas kayak mikirin sesuatu." Aira heran dan mulai berpikir negatif kalau suaminya tersebut tidak begitu senang dengan kehamilannya ini. Xabiru seperti banyak pikiran. Banyak termenung sedari tadi diperhatikannya. Wanita itu ingat kalau Xabiru berharap pernikahan mereka hanya berumur setahun dan akan segera berpisah secepatnya. apa itu pemicunya? apa suaminya kebingungan untuk mengakhiri semuanya setelah tahu ia hamil? "Tidak. Tidak apa," jawab Xabiru datar. Menambah kepiluan hati Aira. "Kalau begitu, habiskan makanan Mas, biar secepatnya kubereskan." Ai
Yusi menggeleng lemah. "Maaf, Bu, saya tidak tahu.""Hm … apa Ibu perlu sesuatu? Apa Ibu mau minum? Biar saya ambilkan." Dengan takut-takut Yusi menawarkannya. Ia merasa tak enak pada majikannya tersebut karena perintah untuk menahan Jasmin tak mampu dilakukannya. Jangankan untuk menahan, bertanya Jasmin mau kemana saja tak mampu keluar dari mulutnya. Ia sudah gemetaran saat melihat raut wajah tak bersahabat yang ditunjukkan Jasmin padanya saat keluar dari kamarnya. Bu Mita menggeleng. "Saya mau ke kamar saja." Wanita tersebut mengubah posisi rebahan menjadi duduk. Lalu kemudian beranjak bangun ingin menuju ke kamar. Bu Mita merasa perlu istirahat sebentar karena kepalanya sungguh terasa pusing. Entah tensinya naik mendengar kelakuan Jasmin atau kondisi badannya yang memang sejak kemarin sudah tidak sehat. "Baik, Bu."***"Tunggu, Bu! Jangan masuk!" Lola–sekretaris Xabiru melonjak terkejut dari tempat duduknya melihat Jasmin tiba-tiba berjalan menuju ruangan atasannya–Xabiru dengan
"Aaargh!" Jasmin mengamuk kembali. Kamarnya seperti kapal pecah hingga kalau ada yang masuk ke dalamnya, harus hati-hati melangkah karena banyak serpihan kaca pecah berserakan di lantai. Yusi dan Anggi saling tatap kala mendengar suara keributan dari lantai atas rumah Bu Mita. "Non Jasmin kenapa lagi, Mbak Yus? Aku takut ke atas," ujar Anggi seraya menatap ke atas tangga yang menghubungkan lantai atas dan bawah. Dadanya berdegup kencang seiring terdengar suara benda-benda berbunyi tak enak di telinganya. Apalagi saat ini Bu Mita–majikannya lagi di luar, tidak ada di rumah. "Huuussst! Kalau nggak penting, nggak usah ke atas. Kamu nyari mati kalau pergi ke sana terus masuk ke kamarnya Non Jasmin. Itu sama saja seperti masuk ke kandang harimau. Seram," balas Yusi sambil bergidik ngeri membayangkannya. "Mbak enak sudah terbiasa karena sudah lama tinggal di sini. Lah, saya baru hitungan bulan sudah spot jantung saja tiap dengar suara prang-prang kedubrak dari kamar Non Jasmin." Anggi y
"Aira, kamu baik-baik saja?" Bu Laila datang menghampiri menantunya dengan raut khawatir. Wanita paruh baya tersebut memeluk Aira dengan erat. "Nggak papa kok, Bu. Aira baik-baik saja." Senyum terulas di bibir pucat Aira setelah mengurai pelukan mertuanya. Dia senang diperhatikan mertuanya. "Nenek, kata Ayah, Bunda punya dede bayi, loh di perutnya. Jingga katanya bakal jadi kakak, Jingga senang dengarnya." Jingga berceloteh menghampiri Bu Laila sembari memeluknya. "Iya, Jingga bakal jadi kakak. Nanti harus sayang ya sama dedenya, nggak boleh marah atau bertengkar." Bu Laila menasihati seraya mencubit pelan pipi Jingga. Lalu mengusap pucuk kepalanya. Gadis kecil tersebut mengiakan dengan anggukkan kepala. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia kesenangan. Tak sabar menunggu adiknya lahir. "Tapi Jingga jangan ganggu Bunda ya? Bunda lagi sakit.""Iya, Nek. Kata Ayah, Jingga nggak boleh minta ini minta itu sama Bunda. Harus ambil sendiri. Harus kerjakan sendiri. Jangan nyusahin Bunda,"