Share

86: Sekuter

last update Last Updated: 2024-11-23 10:43:20

Sofie memandangi foto Doza Fahmi di layar ponselnya, lalu tiba-tiba mencibir.

"Ini desainer yang ngetop saat ikut berantem bela Alya Dildo, artis dangdut seksi penuh sensasi yang gundik menteri itu kan?"

Sesco menoleh,"Entahlah, eike nggak urusi sekuter dan tukang pansos!"

"Mereka berantem hebat dengan sekuter lainnya sampe saling lapor polisi. Karena si Doza Fahmi ngaku diancam via DM, haha...Kok yang begini bisa disebut Desainer sih, nggak ada aura profesionalnya. Gaun karyanya udah kek baju model waria semua, kelewat rame!"

"Oh, sudah eike dugong nek!"

"Kaum munafikun, Madam."

"Muka-muka palsu kek deise mau berkarya, aiii sutralah!"

"Kayaknya dia gak ada basic mode, atau minimal menambah pengetahuan gitu?"

"Tapi banyak Desainer kita yang memang awalnya bukan punya basic sekolah mode, kadang ada yang cuma pernah main sinetron satu dua kali, mendadak loncat pura-pura mendesain baju hasil contekan busana luar yang ditambahi. Apapun itu, minimal tambahlah wawasan pengetahuan di bidang
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App

Related chapters

  • Bisikan Tengah Malam   87: Kebaya Berdarah

    Sukemi, tak pernah menceritakan alasan itu pada Dayuh, apalagi Sarmini. Dia tak tega. Lagi pula, Sukemi senang disuruh mengunjungi rumah itu. Pertama banyak makanan, kedua dia bisa bermain puas bersama Samiran, anak Pak Muntarso, pesuruh Bu Gayatri.Mereka teman sejak kecil, karena Kinasih ibu Samiran, dulu pernah dititipkan Mbah Cipto kepada Mbah Kunto. Katanya, Kinasih anak temannya yang yatim piatu. Tetapi Mbah Kunto tahu, jika Kinasih adalah anak hasil perselingkuhannya dengan seorang gundik bernama Kuni. Mbak Cipto adalah tuan tanah. Dulu, dia centeng Belanda. Banyak tanah warga yang direbutnya dengan semena-mena, atau membuat mereka seakan-akan dituduh sedang berkomplot melawan Belanda. Salah satu tanah Mbah Cipto adalah Kawasan Hitam. Dimana dia kerap gunakan untuk mengeksekusi orang-orang tak berdosa. Usai kejayaan Belanda berakhir, Mbah Cipto sempat kehilangan Kawasan Hitam karena dikuasai penjajah Jepang untuk jadi salah satu markas. Bahkan tempat itu, dikenal sebagai San

    Last Updated : 2024-11-24
  • Bisikan Tengah Malam   88: Austin Tua

    Sukemi banyak melihat keanehan pada guru menarinya itu. Tetapi dia tetap selalu datang untuk menari. Selanjutnya, tempat menari itu juga terasa aneh, mereka cuma menari sampai jelang maghrib dan anak-anak malah lanjut bermain Hoom Pim Pah. Setiap hari datang, Sukemi melihat wajah teman-temannya berubah. Tak ada senyuman. Semua diam. Dan semuanya mengeluh sakit jika sedang buang air kecil."Aku yang selalu kebelet pipis saja tidak merasa sakit," kata Sukemi."Kau sih enak, tak pernah kebagian main Hoom Pim Pah!" Kata teman-temannya dengan raut wajah sedih."Lho, apa hubungannya? Kalian kesal aku tak bisa di sini sampai sore? Baiklah, suatu saat aku akan minta izin untuk tidak ke surau. Aku akan bermain Hoom Pim Pah bersama kalian di sini..."Hari itu, Sukemi menepati janjinya untuk bermain Hoom Pim Pah. Bersama belasan anak-anak itu, mereka membentuk lingkaran kecil. Mereka membolak-balikan tangan. Siapa yang paling banyak posisi pilihan tangan, baik telapak atas (hitam) atau telapak

    Last Updated : 2024-11-24
  • Bisikan Tengah Malam   89: Mertua Tergoda Menantu

    Atikah datang jelang sore, tetapi rumah itu kosong. Kata tetangganya, Hendra sering pulang sejak Lolita di penjara dan dia sudah pergi bekerja sejak pagi. Sebuah kunci serep ditemukan Atikah di bawah pot kaktus, persis seperti yang dikatakan Lolita. "Huh, berantakan!" Gerutu Atikah, saat melihat bagian dalam rumah itu. Dia berniat kembali ke hotelnya, ketika tiba-tiba dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumah itu. "Pasti itu Hendra, akan kubuat hancur lebur dia!" Teriak Atikah dalam hati.Dia sudah berniat akan menghantam wajah menantunya itu dengan asbak rokok saat pintu terbuka. Tapi dia malah kaget ketika pertama kali melihat sosok itu.Wow! Atikah memeluk asbak rokok itu dengan manja. Hmm... inikah suami Lolita itu? Bisik hatinya terpesona. Sungguh tampan dan perkasa terlihat. Cukup dewasa, dan tampak begitu keren. Postur tubuh tinggi tegapnya, membuat rahim hangat menyapa gelora."Kamu siapa?" Tanya Hendra, yang kaget setengah mati melihat ada orang di rumah.Atikah b

    Last Updated : 2024-11-25
  • Bisikan Tengah Malam   90: Dimanfaatkan

    Ustadz Hanif memegangi pundak Samiran yang berguncang-guncang hebat. Isak tangis kakek tua itu terdengar begitu memilukan. Istri Ustadz Hanif menjauh sambil menggendong anaknya yang mulai ketakutan. Samiran, datang sebelum maghrib. Langsung tersungkur menangis di depan pintu rumah Ustadz Hanif yang baru saja akan berangkat ke masjid. Entah apa yang terjadi padanya, sehingga tampak sangat terpukul. Meski belum berucap, Ustadz Hanif tahu jika Samiran ingin mengungkapkan sesuatu.Benarlah, Samiran memang ingin berkeluh kesah. Sambil tetap menangis, dia mulai banyak bercerita. Kedatangannya menemui Sukemi hari itu, ternyata semakin menimbulkan luka. Bukan karena harus melihat lokasi kuburan massal tempat anak-anak yang pernah ikut dibunuhnya, tetapi juga karena ucapan terakhir Sukemi yang justru sangat menggoncang jiwanya. "Bapakmu Si Muntarso itu, orang yang paling bodoh di dunia. Dia menceraikan Bibi Kinasih, hanya agar bisa menikahi Bu Gayatri demi meraup hartanya. Segala cara dia la

    Last Updated : 2024-11-25
  • Bisikan Tengah Malam   91: Pesona Ibu Mertua

    Lolita mengeluh, sebab Atikah tidak datang lagi hari itu. Sudah 4 hari tak berkunjung. Entah kemana ibunya. Tak ada kabar. Sementara seorang polwan mengatakan, bahwa sebentar lagi dia akan segera dititipkan ke Lapas khusus wanita. Dia sudah dianggap cukup sehat, perban dikepalanya juga akan dibuka."Saya menunggu Mama saya dulu, Bu. Mungkin sebentar lagi," kata Lolita."Iya, nanti kita hubungi Mamanya Mbak. Jangan khawatir," sahut Polwan tersebut.Lolita memejamkan matanya. Dia mulai kesal memegangi perutnya yang kini mulai jelas terlihat buncit. Hamil 6 bulan, dengan cobaan seberat 6 ton, jelas membuatnya sangat terpukul.Kemana Papanya? Kemana Mamanya? Kemana pula Si Hendra yang tidak bertanggung jawab itu?Dia merasa sendiri, bahkan tanpa di dampingi seorang pengacara untuk menghadapi kasusnya. Tingkat kesedihannya sudah sangat jauh melambung, yang justru berbanding terbalik dengan kondisi ibunya yang sedang berbunga-bunga.Atikah sudah membawa kopernya di hotel pindah ke rumah Hen

    Last Updated : 2024-11-26
  • Bisikan Tengah Malam   92: Dihina!

    "Tapi dada yey terlalu gede, oplas apa suntik nih? Soalnya muka yey juga oplas kan? Serem gitu," komentar Sesco sinis, sambil mempehatikan Alya Dildo dari ujung rambut sampai kaki.Alya tersenyum pahit, dia tak menyangka bakal dihina dina. "Maaf Madam, tapi saya memang sangat berniat untuk menjadi model gaun Madam...""Peragawati yang bakal pake baju eike, itu bukan model sembarangan. Deise harus elegan sama seperti eike punya busana cantak menggelora. Muka dan body kudu asli, karena karya eike semua ori dari pikiran sendiri. Yey, bagusnya jadi model majalah dewasa untuk pria-pria yang otaknya ada di selangkangan. Nggak pantes yey berada di dunia mode yang penuh profesionalisme dan keanggunan!"Rasanya sesak mengenang itu. Mulut Sesco yang pedas kejam, hampir membuatnya bunuh diri. Dia nyaris kehilangan kendali. Itulah terakhir kali dia menjajal dunia peragawati. Selanjutnya dia lebih senang memeragakan tutorial berhubungan seksual di depan puluhan pasang mata dalam pesta-pesta menjij

    Last Updated : 2024-11-26
  • Bisikan Tengah Malam   93: Tertangkap Basah

    Abdul akhirnya datang ke rumah sakit Polri, setelah Inoy membujuknya untuk mendampingi Lolita pada saat proses penyerahan dari pihak Polda, untuk dititipkan sementara ke pihak Lapas Wanita. Soalnya kondisi Lolita sedang hamil besar, khawatir tidak begitu nyaman untuk mengisi sel tahanan Polda. Meski kasusnya kini masih dalam proses penyidikan atau belum P-21, kode form yang digunakan dalam proses penanganan dan menyelesaikan perkara sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian. Berkas perkara Lolita masih belum dinyatakan siap untuk dilimpahkan ke Kejaksaan.Ternyata tak ada Atikah yang mendampingi anak Lolita, wanita itu mendadak tak bisa dihubungi. Termasuk Hendra. Sehingga pihak Polda meminta Abdul untuk hadir pada saat pengiriman anaknya ke Lapas, sekaligus menanyakan kemungkinan Lolita akan mendapatkan pengacara baru pengganti Petrus. Tidak mudah menangani tersangka yang sedang sakit berat atau hamil, ada kebijakan yang dilakukan pihak kepolisian dalam proses penanganan. Bukan h

    Last Updated : 2024-11-27
  • Bisikan Tengah Malam   94: Gadis Tercantik di Kampus

    Sesco tak bicara, dia menyingkirkan ponsel yang diberikan Sofie dengan berat. Pikirannya kembali kalut. Alangkah begitu cepatnya berita tersebar. Sepertinya tak butuh televisi lagi zaman ini. Segala hal bisa ditayangkan secara live. Termasuk kasus perzinahan yang dilakukan Hendra."Wan, kontrol bagian depan butik. Jangan sampai ada banyak wartawan berkeliaran bukan untuk beli baju, tapi cuma mau tanya Si Hendra" kata Sofie."Siaap!" Wawan langsung tergesa keluar.Sementara Sofie, sibuk memijat punggung Sesco dan mengipasinya. Terlihat pula Leonard yang tampak mondar-mandir menelepon seseorang."Tinta disangka praduga, ternyata butik kita makin terkenal gara-gara Si Hendra. Teringat dulu deise pas pertama kali ngelamar di sindang yes? Kayaknya baik dan lugu. Udah punya istri dan anak bayi Si Aurora itu. Cakep sih kerjanya deise, rapi. Jujur pula pegang duit. Tetapi ternyata deise nggak jujur kalo sama bininya sendiri. Rupanya penjahit kelamin deise! Nggak kurang-kurang, mertua sendiri

    Last Updated : 2024-11-27

Latest chapter

  • Bisikan Tengah Malam   179: Hoom Pim Pah Alaiom

    Astari, melihat mobil Syahreza yang ke luar dari pintu gerbang rumahnya. Dia lalu kembali duduk, dan Nunung meneruskan tugas untuk menyisir rambut majikannya. "Mas Prana itu..." Suara Astari tercekat. "Sebenarnya yang duluan naksir Dena, Nung. Waktu zaman kuliah. Cuma duluan diserobot Hendra. Kau tahu, Nung? Mas Prana itu selalu memuji Dena. Dia bilang wanita itu cantik sekali, seperti bunga kaca piring yang disinari cahaya matahari. Katanya kelak ingin punya anak perempuan secantik itu. Kau tahu rasanya mendengar itu, Nung? Mas Prana bahkan tak pernah memujiku sama sekali..."Nunung tak menjawab, dia terus menyisir rambut majikannya sambil menatap wajah Astari di cermin."Ketika dia berusaha menolong wanita itu, aku mencoba berdamai dengan hatiku. Sebab makin kularang, dia ternyata makin berusaha untuk selalu berada di samping wanita itu. Mengirimmu bersama Yusuf, sebenarnya hanya upaya menjaga keyakinanku jika mereka tidak berselingkuh..."Nunung terlihat menunduk, sambil melepas h

  • Bisikan Tengah Malam   178: Rekaman Suara Zeta

    Bagaimana mungkin ada ponsel yang bisa aman disembunyikan dalam sebuah gaun? Namun Sesco mengatakan, dia memang sempat mendesain korset pada gaun yang bisa menempel dengan ketat."Jangankan ponsel, pistol juga bisa nyelip itu. Eike terinspirasi dengan Mbah-Mbah zaman dulu yang suka menyelipkan barang berharga di bagian kutang atau stagennya..." kata Sesco, sambil memamerkan gaun hijau brokat besar, dengan korset hitam yang hampir menyentuh bagian dada."Gaun ini jadi bau dan lembab, seperti pernah disiram air. Ada banyak helaian rambut pirang!"Syahreza terdiam memandang ponsel Iphone 6 Plus itu. Sudah ketinggalan zaman untuk era Iphone jenis terbaru. Tapi dia ingat, itu jelas ponsel milik Julianna. Dia tak melupakan casing warna pink. Julianna beberapa kali mengeluarkan barang itu dari tas coklatnya. Lalu, di mana tasnya?"Kita cas dulu itu ponsel, jika benar itu milik Julianna. Oh, eike sedikit terkejut dengan penemuan ini. Tetapi Pak Syahreza, bisakah kita merahasiakan ini? Soalnya

  • Bisikan Tengah Malam   177: Shumb dan Nishumb

    Syahreza membuka lemari yang penuh gaun tua, dia sempat menahan diri untuk menggesernya, karena beberapa waktu lalu sempat berusaha menutupi lempeng besi yang menuju ruangan bawah tanah. Namun dia berpikir, kapan lagi bisa ke tempat itu? Sebab Prana sudah tidak lagi berkenan untuk membongkar misteri masa lampau itu. Tapi dia sudah sedikit membongkar beragam arsip dan catatan lampau yang masih terhimpun rapat di perpustakaan nasional. Terutama tentang misteri dari data-data "yang konon kabarnya", mitos sekian abad yang sulit diterima nalar, sehingga tak ada satupun ahli yang berminat untuk mengungkapnya, namun catatan tentang legenda tersebut kadang tercantum pada batu-batu, serat kayu dan kulit hewan peninggalan abad silam."Kita akan ke bawah lagi."Zulfan tak menjawab, hanya bantu menggeser lemari dan membuka lempeng besi. Dia sudah semakin paham soal misteri lain dari rumah ini, setiap bertemu Syahreza, mereka kadang mengulas tentang kasus pembunuhan, juga soal ruangan misterius y

  • Bisikan Tengah Malam   176: Dewi Kali

    Masuk!Itulah keputusan Syahreza dan Zulfan saat mulai menuruni tangga. Sepi pastinya, juga menyeramkan. Mereka mulai mengarahkan senter melewati lorong panjang, sebelum menemukan tangga yang menuju pintu di bawah ranjang tempat dulu kamar Dena berada. Pintu-pintu jendela rumah itu terbuka, membuat cahaya matahari bebas masuk. Syahreza mengelilingi setiap kamar, sebelum memasuki ruang perpustakaan. Sementara Zulfan berdiri mematung menatap 2 lukisan: Dewa dan Dewi."Apa itu, Pak?" Tanyanya bingung.Satu lukisan dewa itu bertangan empat, bermata tiga, lehernya berkalung ular kobra. Ini seperti wujud lukisan Dewa Siwa, Sang Dewa Pelebur, versi keyakinan orang India. Siwa, merupakan satu dari tiga dewa utama dari satu kesatuan Trimurti dalam keyakinan agama Hindu, selain Brahma dan Wisnu. Sementara penganut Hindu Bali, memuja Dewa Siwa atau Btara Guru di Pura Dalem, sebagai dewa yang diyakini mampumengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsur asalnya, yakni Panca Mahabhuta,

  • Bisikan Tengah Malam   175: Cerita Zeta

    Zeta mengirimkan email padanya, usai satu minggu dia kembali ke Paris, tanpa Leonard. Karena pria itu ditahan polisi, dengan tuduhan kasus percobaan upaya penipuan dan pemerasaan kepada Sesco. Kasus ini terungkap dari pengakuan Doza Fahmi, sekutu Alya Dildo. Saat mengantar Zeta di bandara, Sesco yang begitu patah hati, meminta Zeta untuk menyelidiki sesuatu. Lalu hal tersebut, diungkapkan Zeta pada Syahreza: Wanita itu datang ke Rumah Mode Sesco Paris yang belum launching. Dia mengaku bernama Lane, teman Leonard. Aku melihat dia begitu gugup, saat kuberitahu tentang kasus penangkapan Leonard di Indonesia. Dia pamit terburu-buru, namun aku bisa mengikutinya. Dia menuju Hotel Prince de Galles, tempatnya menginap, sebelum tergesa-gesa membawa tasnya seperti hendak pergi. Seorang pria tampan, berwajah khas Amerika Latin tampak menjemputnya di lobby, mereka berciuman bibir. Kemudian mereka naik taksi menuju suatu tempat. Aku terus mengikuti mereka dengan taksi juga, sampai mereka berhen

  • Bisikan Tengah Malam   174: Nunung Kembali

    Tapi niat baik itu, justru ditanggapi Leonard dengan sangat emosional. Pria yang sedang mempersiapkan kepulangannya ke Paris bersama Zeta itu, malah mengamuk tidak karuan. Pribadinya yang selama ini terkesan lembut dan sopan, malah mendadak berubah mengerikan."Salope!" Leonard meneriaki Sesco dengan kasar, hingga tega menyebutnya: JALANG. Belum puas, segala barang dia lempar ke arah Sesco yang cuma bisa pasrah itu."Aku masih di sini, mencoba untuk berdamai dengan Si Pemerasmu. Tapi kau malah mengembalikan gaun-gaun itu! Apa... apa kau tidak berpikir soal Paris Fashion Week? Soal masa depan Rumah Mode Sesco Paris? Aku masih di sini, Sesco. Tapi kau malah mengambil keputusan sepihak!""No... Leonard, baby... yey tidak mengerti. Ini situasi darurat. Kita harus...""Harus apa?! Kita sudah menyusun rencana yang luar biasa, lalu kau seenaknya menghentikannya di tengah jalan?""No! Bukan begitu. Yey tidak mengerti. Lupakan soal gaun itu. Eike masih bisa ngetop dengan karya eike sendiri. S

  • Bisikan Tengah Malam   173: Gaun Tua

    Prana sudah bisa membuka mata, namun dia tampak lemah dan enggan bicara. Terbaring lemah di ranjang bersprei putih, membuatnya malah seperti pasien yang sedang menunggu mati. Astari ada di sampingnya, tapi seakan tidak membuatnya bersemangat untuk sekedar tersenyum. "Semuanya sudah diketemukan menjadi mayat, kecuali Austin. Jadi sejauh ini, tersangkanya mengarah pada dia. Apalagi polisi mendapat laporan dari Pak RT wilayah rumah Pak Samiran, katanya lagi heboh ada hantu pria bule di rumah almarhum. Diperkirakan itu Austin. Cuma ketika diperiksa, rumah itu kosong... " kata Syahreza, sambil memandangi Prana.Perlahan, Prana menoleh. Dia mencoba menghela nafasnya, namun yang terdengar seperti sesuatu yang berat tercekik. "Mengerikan, semuanya mati. Jadi..apakah Austin bekerja sama dengan Garneta dan Yusuf?" Tanya Astari.Syahreza mengangkat bahu,"Kita belum tahu ujung tragedi ini. Yusuf mengatakan dia bekerja sama dengan Garneta untuk membunuh, tapi nyatanya Garneta juga mati. Jadi si

  • Bisikan Tengah Malam   172: Terjebak

    Doza Fahmi sepakat bertemu dengan bule itu, di Hotel Forma de Myorne. Tempat itu dipilih Doza, karena merupakan hotel baru yang berbintang lima. Sekalian ingin jajal pelayanan, juga sekaligus mengetes kemampuan finansial seseorang yang nekat ingin menemuinya."Anda sangat berani, tapi jangan coba-coba bawa polisi. Saat saya menuju penjara, maka seluruh dunia langsung bisa mengakses aib Sesco dengan sekali klik! Ingat, saya tak mungkin bekerja sendiri untuk bisnis 10 miliar..." ancam Doza, sebelum pria itu datang.Dan Leonard memang berani datang sendirian. Dadanya yang bidang tampak terlihat jelas dari kemeja ketat berwarna biru, membuat Doza mulai berpikiran lain. Mendadak gairahnya membanjir, dari memikirkan besaran nominal uang, sampai mengkhayalkan hal kotor bersama pria tampan tersebut."Mengapa anda sampai terpikir untuk memeras seorang Sesco?" Tanya Leonard, sambil duduk di kursi dengan tenang."Jangan anda, panggil saja Ocha," sahut Doza Fahmi genit.Leonard tersenyum,"Baik, O

  • Bisikan Tengah Malam   171: Julianna Selalu Bersama Minna?

    Syahreza lalu perlahan mengangguk, dan itulah yang membuat mereka melangkah menjauh mencari rimbunan pohon untuk berteduh, sambil duduk di atas tanah yang sudah mengering. Hujan sempat deras, tapi Kawasan Hitam ini malah mirip padang gurun tandus. Jejak hujan seperti tak bersisa. Lalu, bagaimana dengan jejak kejahatan?Zeta menghapus sudut matanya dengan tisu, seakan tak kuasa untuk melanjutkan cerita Syahreza yang detil sejak awal. Inilah yang paling ditakutkannya: kehilangan. Melihat begitu mayat yang terus ditemukan, Zeta mulai bersiap mental jika kelak akan betul-betul melihat mayat adiknya. Jiwanya seakan hancur. Serasa tak ada tempat untuk berlindung. Suaminya tidak mengomentari pesannya tentang Julianna, dia sedang berlibur dengan selingkuhannya di benua tropis, meninggalkan musim salju yang beku atas catatan cinta mereka yang makin kelabu. Kedua anaknya juga cuma mengucapkan kalimat basa-basi. Sedikitpun tidak terdengar nada yang bersifat kesedihan dan kekhawatiran. "Jadi ya

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status