Dew berjalan dengan lesu menapaki tangga kos menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Ia bersyukur karena jarak kos dan kampusnya lumayan dekat. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki sehingga ia bisa menghemat uang bulanan untuk hal – hal tak terduga. Kosannya ini terletak dekat dengan kampus dan berada di area yang memang banyak bangunan kos – kosan. Ia tak perlu dipusingkan dengan keperluan perut, mandi, dan kuliah karena hampir semuanya tersedia. Cukup sediakan uang.
Ia melangkah masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur busa sederhana. Kamarnya tak terlalu besar tidak juga sempit. Cukup untuk satu orang dengan satu buah lemari pakaian, satu buah rak buku, dispenser, dan penanak nasi. Itu sudah lebih dari cukup. Ingatannya melayang pada kejadian siang tadi di pinggir danau. Dew tersenyum mengingat kejadian tadi. Ia berharap laki – laki itu tidak menyadari perubahan warna pada wajahnya yang terlalu terkejut dan malu saat itu. Cukup Dew, jangan kebanyakan ngelamun. Mandi, mandi … sedikit menggerutu Dew menuju kamar mandi.
“Wira, gue duluan yah? Ayah dah nunggu di depan fakultas, ngejemput.” ujar Wina.
“Oh, oke deh. Salam sama om, “ Jawab Alvis yang ditanggapi Wina dengan jempolnya. Bersahabat dengan Wina sejak SMA membuat Alvis telah mengenal dekat keluarga Wina. Ayah Wina adalah guru Fisika di SMAnya dulu. Sedangkan ibu Wina seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha kue. Alvis selalu merasa iri dengan keluarga Wina yang sederhana dan harmonis. Mereka selalu tersenyum dan menyambut Alvis atau siapapun yang bertandang ke rumah itu dengan ramah. Keluarga yang hangat.
Alvis merapikan kembali barang – barangnya agar tak ada yang ketinggalan. Jadwal kuliah hari ini lumayan melelahkan karena ada beberapa mata kuliah yang mengharuskan presentasi dan tentu saja tak lupa dengan tambahan tugas yang menggunung menanti untuk diselesaikan. Setelah memastikan semua barang – barangnya, Alvis pamitan dengan beberapa temannya yang masih nyaman nongkrong di ruang sekretariat himpunan. Ia berjalan perlahan dengan pikiran yang mengembara. Wajahnya terlihat datar dan penglihatan yang tampak hampa. Alvis merasa seluruh jiwa dan raganya mulai lelah menghadapi keluarganya terutama ayahnya. Ditambah lagi akan perasaannya pada Bela. Ia menghembuskan nafasnya perlahan mengingat sikap ibunya tak bisa diharapkan dan seolah tak peduli. Ia kadang berpikir apa yang ibunya pikirkan hingga masih bisa hidup dengan tenang, makan, dan tidur dengan keadaan rumah yang terasa redup. Memikirkan ia harus kembali ke rumah sekarang membuatnya menghela nafas panjang. Ia pun menjalakan motornya menuju yang orang kebanyakan sebut itu rumah. Ia memilih menikmati apa saja yang ia lewati sepanjang perjalanan. Motor lain yang melaju di samping dan belakangnya. Mobil – mobil yang memacu seakan berlomba untuk sampai terlebih dahulu ke garis finish. Klakson kendaraaan yang tiada hentinya berbunyi karena pengendara yang tak sabaran. Kerumunan pelanggan di warung kaki lima dan semerbak aroma makanan yang menggugah selera membuat perutnya bergejolak minta diisi. Ia tersadar bahwa ia belum sempat makan siang dikarenakan kesibukan yang tiada henti. Ia pun memutuskan untuk singgah sejenak di warung langganannya. Bersyukur bahwa motornya masih belum terlalu jauh dari kompleks kampus. Alvis memarkirkan motornya dan bergegas menuju warung langganannya. Beruntung tempat parkir sudah mulai sepi karena waktu telah menunjukkan pukul 10.00 malam Sehingga tidak butuh waktu lama baginya mencari tempat parkir. Ia berjalan dengan riang sambil bersenandung kecil memasuki warung dan segera memesan.
Alvis mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang di dalamnya hanya ada tiga buah meja yang terisi, hanya dia yang makan sendiri, dan ada empat orang pembeli yang sedang menunggu pesanannya dibungkus. Pandangannya tertuju pada salah satu pembeli dalam balutan hoodie biru muda yang terlihat kebesaran sedang menunggu dengan wajah lelah dan mata menahan kantuk. Sesekali tangan gadis itu terangkat menutupi wajahnya karena menguap.
Ujung bibir Alvis sedikit terangkat membentuk senyuman tipis di wajahnya melihat kelakuan gadis itu. Tapi, kemudian keningnya berkerut karena merasa seperti pernah melihat wajah gadis itu sebelumnya. Otak lelahnya mulai mengurai dan mengingat perlahan di mana ia pernah melihat wajah itu. Ah, suara Alvin dalam hati setelah berhasil mengingat siapa gadis yang berdiri beberapa meter di hadapannya.
Gadis kikuk di danau siang tadi, sepertinya dia juga baru akan makan malam karena kelelahan mengerjakan tugas yang diberikan dari seniornya, ucap Alvis dalam hati sembari masih terus memperhatikan gadis itu hingga pandangannya teralihkan oleh suara pegawai warung yang membawakan pesanannya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pegawai warung, Alvis segera mengarahkan pandangannya lagi pada gadis kikuk itu tapi ia hanya bisa menelan rasa kecewanya karena gadis itu sudah tidak ada di tempatnya berdiri.
“Lah, ngapain juga gue harus kecewa coba? rutuk Alvis pelan. Ia pun kembali memusatkan perhatiannya pada makanan yang ada di depannya.
Jam telah menunjukkan pukul 10.00 malam saat Dew tersadar dengan suara perutnya yang minta diisi. Tak sadar waktu telah mulai larut karena terlalu serius membuat properti untuk Ospek nanti. Sambil menahan mata yang sudah mulai terasa berat maklum ini adalah pertama kalinya Dew akan tidur sangat jauh dari rumah dan pertama kalinya ia begadang. Saat SMA dulu ia adalah yang termasuk disiplin akan jam tidurnya demi kesehatan. Saat ini ia sedang berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dew berjalan sambil memakai hoodie biru kesayangannya dengan mata yang hampir terpejam. Agak terseok menuruni tangga hingga menuju warung yang secara acak ia pilih. Ia menyebutkan makanan pesanannya sembari menunggu dengan menahan kantuk, sesekali menguap lebar. Setelah membayar makanan ia kembali berjalan kembali menuju kosannya dan mulai duduk makan dengan khidmat. Dew duduk dan membuka bungkusan makannya dengan hati – hati dan menatap makanan yang ia pesan tadi. Ia seperti setengah sadar menyebutkan makanan apa yang akan ia beli saking mengantuk. Dew hanya bisa berharap semoga makanan ini cocok di lidahnya. Walaupun ia bukanlah tipe pemilih dalam urusan makanan tapi tetap saja akan mubadzir kalau ternyata tak sesuai dengan selera.
“Bismillah,” ucapnya lirih sembari menyendokkan makanan ke mulutnya. Alhamdulillah, rasanya lumayan. Sejurus kemudian Dew pun makan dengan lahap. Sambil mengunyah Dew mengingat di warung tadi saat dia membeli makanan. Ia merasa seperti ada yang memperhatikannya dari kejauhan. Hanya saja karena lelah dan mengantuk Dew tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Tapi, ekor matanya seperti menangkap seseorang yang tak asing. Siapa ya?
Alvis berlari kecil menuju gudang pusat kegiatan mahasiswa yang sudah terlihat di depan matanya. Ia semakin mempercepat langkhanya dikarenakan hujan yang semakin deras sambil mendekap erat Notebook yang ia sembunyikan di balik jaketnya. Pekerjaannya sedikit terganggu dikarenakan hujan yang turun saat ia tengah berada di tempat favoritnya di sebuah kursi panjang dekat danau. Tempat biasa ia mencari ide dan inspirasi menulis dan mengerjakan artikel yang akan ia kirimkan ke beberapa koran dan majalah. Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa atau mereka biasa menyebutnya PKM tinggal beberapa langkah lagi saat Alvis secara spontan memicingkan matanya untuk mempertajam indera penglihatannya, tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Sejak pertemuan pertama mereka di danau, Alvis sempat beberapa kali sengaja melewati tempat itu berharap mungkin saja ia akan bertemu lagi dengan gadis itu tapi selalu saja berakhir dengan
Alvis berlari kecil menuju gudang pusat kegiatan mahasiswa yang sudah terlihat di depan matanya. Ia semakin mempercepat langkhanya dikarenakan hujan yang semakin deras sambil mendekap erat Notebook yang ia sembunyikan di balik jaketnya. Pekerjaannya sedikit terganggu dikarenakan hujan yang turun saat ia tengah berada di tempat favoritnya di sebuah kursi panjang dekat danau. Tempat biasa ia mencari ide dan inspirasi menulis dan mengerjakan artikel yang akan ia kirimkan ke beberapa koran dan majalah. Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa atau mereka biasa menyebutnya PKM tinggal beberapa langkah lagi saat Alvis secara spontan memicingkan matanya untuk mempertajam indera penglihatannya, tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Sejak pertemuan pertama mereka di danau, Alvis sempat beberapa kali sengaja melewati tempat itu berharap mungkin saja ia akan bertemu lagi dengan gadis itu tapi selalu saja berakhir dengan
September 2018 Dew tersadar dari kenangan yang tanpa seiinnya menyeruak masuk. Mengingatkannya kembali pada sosok itu. Sosok yang sampai saat ini terkadang masih ia rindukan. Dew merasa miris pada dirinya sendiri yang hingga detik ini masih belum sepenuhnya move on. Dew mengedarkan pandangan di dalam lift yang isinya tak hanya ia sendiri. Ada seorang laki-laki kira-kira berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan postur tubuh tinggi untuk ukuran orang Indonesia, wajah yang bersahabat, dan dilihat dari gerak-geriknya sepertinya dapat dikategorikan playboy, pikir Dew yang sedari tadi matanya sibuk memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dew berharap tindakannya tidak terlihat mencolok karena ia tau itu sangat tidak sopan. Mereka sempat saling berbalas senyum ketika sama-sama memasuki lift. Sementara di samping Dew berdiri dua orang yang ia taksir usia mereka sepantaran dengan dirinya. Pakaian yang mereka kenakan terlihat sangat berg
Galen masih tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Gadis itu ada di hadapannya. Dew ada di sini, brdiri di hadapannya. Ia tak berubah, masih sama seperti dulu. Tinggi badannya masih tetap sama, Suaranya, cara ia berkenalan, Dew yang kikuk, Dew dengan senyumnya yang menenangkan. Semuanya masih terasa sama. Ia hampir saja lepas kendali. Ingin rasanya ia menghampiri dan mebawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Betapa ia sangat merindukan Dew. Setelah bertahun-tahun pencariannya yang berakir nihil. Galen sudah mulai menyerah dan saat ia sudah hampir mencapai batasnya, ia dipertemukan dengan gadis yang selama ini selalu mengisi pikiran dan hatinya. Ia yakin gadis itu sama terkejutnya dengan dirinya. Dilihat dari ekpresi gadis itu tadi. Galen maklum dan paham benar mengapa Dew berpura-pura tak mengenalnya. Menurutmu bagaimana reaksimu ketika bertahun-tahun menghindar dan bersembunyi dan kemudian bertemu dengan orang yang ingin kau
Di hari pertama bekerja, Dew berusaha menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang baru dan jenis-jenis pekerjaan yang akan ia handle nantinya di bawah pengarahan bang Agus. Walaupun diwarnai insiden sedikit keterlambatan tapi tim di divisinya tak mempermasalahkan hal itu. Ditambah lagi mereka adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya dan orang-orang yang seru menurut Dew. Tapi, diantara semua itu ia bertemu kembali dengan Galen. Seniornya dulu semasa kuliah dan merupakan salah seorang yang ia hindari dan membuatnya harus bersembunyi selama tiga tahun sekaligus mengobati trauma yang ia derita. Dew tak bisa berbuat apa-apa selain menguatkan hati dan pikirannya untuk menyambut jabatan tangan itu. Sebenarnya, ia masih belum siap bertemu kembali dengan orang-orang yang membuatnya mengalami hal terburuk dalam hidupnya yang sangat ingin ia lupakan. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar dan mudah ia lalui. Tapi, tak lucu k
“Udah ngetehnya, Dew?” tanya Tara tanpa mengalihkan tatapannya pada layar komputer. “Iya, Ra. Sempet ngobrol-ngobrol tadi di belakang sama Yono sama pak Galen juga.” “Oh, iya. Si Bos sempat ke sini tadi nanyain kamu. Trus aku jawab kamu lagi di pantry.” “Pak Galen nanyain saya? Emang ada apa?” “Ya ampun, Dew. Bahasamu pake saya. udah biasa aja sama gue juga ini.” “Pak Galen nanyain? Emang ada apa?” “Lah, emang tadi waktu ngobrol di pantry si Bos gak ngomong apa-apa? &n
Dew meregangkan badannya yang terasakaku karena duduk berjam-jam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh bang Agus. Sekembalinya dari kantin ia langsung disibukkan dengan membuat draft iklan untuk salah satu merek shampoo yang cukup ternama yang akan meluncurkan produk barunya empat bulan ke depan. Dew melirik arloji di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjuka angka lima, Dew segera menyimpan file yang telah dikerjakannya ke komputer kemudian membereskan meja kerjanya yang berantakan oleh kertas-kertas berisi draft iklan sebagai referensi. Setelah rapi ia kemduian mencangklongkan tasnya kemudian memindai kembali kalaukalau ada barang yang tertinggal. “Ra, kamu belum selesai? Mau aku tungguin ngga?’ tanya Dew “Iy
Galen tersenyum melihat tingkah Dew yang dalam sekejap melesat berlari meninggalkan dirinya sendiri di dalam lift. Galen paham Dew tak nyaman berada di dekatnya ataupun berada di tempat yang sama dengannya. Terlihat dari sikap Dew sejak pagi ketika mereka bertemu. Melihat dari sikap Dew dan keenggananya serta sebuisa mungkin menghindarinya adalah tanda tanya besar bagi Galen. Ia yakin sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada Dew tiga tahun yang lalu sehingga Dew memutuskan untuk menghilang bak ditelan bumi. Ia menjalankan BMW X6nya perlhana meninggalkan area parkir membelah jalanan kota yang sibuk dipenuhi kendaraan dikarenakan ini adalah jam pulang kantor. Galen kesal pada dirinya sendiri karena menolak untuk menjadi salah satu pewawancara pada penerimaam karyawan baru. Jika saat itu ia menerimanya ia pasti sudah tahu dimana alamat Dew tinggal sekarang. Sebenarnya bisa saja ia menghubungi bagian HRD untuk memi
Mobil yang dikendarai Alvis melaju membelah jalanan yang basah diguyur air hujan. Ia merutuki dirinya karena tidak dapat mengendalikan diri hingga terbawa emosi. Seharusnya ia bisa menahan diri. Terpaksa ia harus melewati hari ini dengan sendu. Padahal seharusnya hari ini ia bisa menikmati waktu yang berkualitas dengan Ai-nya. Kesempatan yang hanya bisa ia nikmati dan ia dapatkan di akhir pekan. Memang ada yang mengganggu pikirannya semenjak pertemuan keluarga besar. Tapi, sebisa mungkin ia sembunyikan tak ingin ia tunjukkan pada Dew. Larena pasti Dew akan menyalahkan diri sendiri jika mengetahuinya. Sejak pertemuan keluarga besar Komunikasi dengan ayahnya semakin sengit ditambah lagi keluarga besar ayahnya yang mengetahui apa yang ia lakukan selama hampir dua bulan di kantor cabang. Ayahnya masih bersikeras dengan pemikiran dan tindakannya. Alvis bersumpah kali ini dia tidak akan mengalah. Dulu ia tak bisa berkutik karena tak memiliki kekuatan dan pengaruh. Dia tak akan melepas apa ya
Minggu pagi yang mendung membuat joging yang sudah direncanakan batal. Dew, Tari, Galen, dan Alvis memang berencana akan mengisi minggu pagi dengan joging bersama di taman kota. Sebenarnya ini semua adalah ide dari Tari. Karena melihat perkembangan Dew dan juga kegigihan Alvis yang luar biasa. Dew memang sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Alvis tapi ia masih takut jika hanya berdua saja. Ketakutan dan kegelisahan kalau-kalau ada wartawan yang mengenali Alvis dan memotret mereka berdua. Bayang-bayang kamera membuatnya tiba-tiba mual. Jadi, disinilah dia duduk di dekat balkon sambil memandangi hujan yang terus turun tak ada tanda-tanda untuk berhenti. Tari masih sibuk video call an dengan suaminya. Tak terasa sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah Tari. Dew merasa bersalah karena ia sudah sering merepotkan. Karena kondisinya, Tari memutuskan untuk memperpanjang liburnya di Indonesia tentu saja atas izin suaminya. Walaupun sebenarnya Tari tak perlu melakukan itu. Dew merasa dirin
Tak terasa sudah seminggu berlalu sejak kejadian ia tiba-tiba izin sakit. Dew bersyukur orang-orang yang sedivisi dengannya tidak heboh bertanya macam-macam. Entah seperti apa Galen menyampaikan kepada mereka dan apa yang Galen sampaikan ke mereka. Berbicara tentang Galen, Dew bisa bernafas lega karena sampai saat ini ia maaih mempertahankan profesionalitasnya. Bosnya itu hanya akan bertibgkah dan mengusilinya jika hanya ada mereka berdua saja. Saat ini, bosnya itu dan bos besar siapa lagi kalau bukan Alvis tengah berada di ruangan Galen. Mereka sedang berbincang tentang keberhasilan salah satu proyek yang kantor ini tangani. Sesekali terdengar gelak tawa dari dalam ruangan. Sepertinya mereka berdua sedang bahagia. Tak lama kemudian pintu ruangan Galen terbuka dan keduanya keluar dari ruangan. "Perhatian-perhatian untuk merayakan keberhasilan proyek desain logo dan branding Mall Kerinci Mass pulang kantor kita adakan makan bersama di Sky Lounge Resto Palm Tree." ucap Galen yang disamb
Dalam perjalanan menuju rumah Dew, Alvis memandang sekotak kue rasa vanilla kesukaan Dew dengan senyum lebar. Sedari tadi ia menyusun kata-kata apa yang akan ia ucapkan jika sampai di rumah Tari tapi otaknya buntu. Mobilnya perlahan memasuki halaman rumah Tari. Ia telah menelfon Tari sebelumnya, memberi kabar akan kedatangannya sekaligus meminta izin. Tari memperbolehkannya datang tapi tidak menjamin Dew akan menemuinya.Alvis diarahkan oleh Mang Dedi menunggu di ruang tamu. Tak lama berselang minuman segar dihidangkan di hadapannya. Ia terlihat gelisah, harap-harap cemas dengan reaksi Dew. Sepuluh menit menunggu yang terasa seperti selamanya terlihat sosok Tari menuruni tangga tanpa Dew. Alvis tau jika hari ini bukan hari keberuntungannya."Sori," ucap Tari."Gak masalah. Aku ngerti, kok. Aku gak berharapa banyak di percobaan pertama langaung berhasil.""Diminum, gih." Tari mempersilahkan Alvis menikmati minuman dingin yang nampaknya belum disentuh sedari tadi.
Sudah sejam lebih Alvis duduk termenung memikirkan pertemuannya dengan Tari. Alvis tak menyangka akan seberat ini dramanya. Pengaruh ayahnya tidak main-main. Masih jelas dalam ingatan tentang kejadian itu. Setelah orang tuanya dan orang tua Bela mengumumkan pada publik bahwa mereka telah berkencan membuatnya serasa mendidih. Ia hendak menjelaskan semuanya pada Dew agar tidak ada kesalahpahaman. Tapi, bahkan ia tak pernah lagi ketemu dengan Dew, seperti ditelan bumi. Hilang tanpa jejak. Usahanya untuk menghubungi teman-teman atau keluarga Dew menanyakan keberadaan Dew tapi selalu nihil. Dew, gadis polos dan penuh semangat. Dengan segala kesederhanaannya dan tingkah yang agak unik menurut Avis terlihat begitu nampak diantara beberapa gadis yang pernah membuatnya jatuh hati. Dewnya yang rapuh, ingin rasanya memeluknya dan menjaganya. Melindungi dari berbagai orang-orang jahat di luar sana.Sekarang, ia bertekad akan kembali membuat Dew jatuh cinta untuk kedua kalinya. Ia memikir
*Flashback*Sepanjang perjalanan menuju rumah Tari, Dew terus menerus membujuk Tari untuk menceritakan ada apa sebenarnya. Tapi Tari bersikukh untuk menjelaskan semuanya ketika mereka sudah sampai di rumah. "Sekarang tolong jelasin ke gue ada apa sebenarnya", tuntut Dew begitu mereka bertiga baru saja mendaratkan bokong di kursi ruang keluarga Tari. Tari dan Galen saling berpandangan mereka khawatir bagaimana reaksi Dew nantinya."Semalam Alvis kebingungan karena kamu gak bisa dihubungin..." Galen memulai pembicaraan dengan gugup. "Ia akhirnya menghubungi Taro dan minta tolong untuk nyariin kamu karena kondisi semalam mengharuskan dia berasa di Rumah Sakit menemani Bela. Itu bukan keinginannya tapi dia dipaksa untuk melakukan itu.""Iya gue paham, kok. Bela lebih penting dari segalanya bahkan gue.""Gak, bukan gitu. Alvis hanya panik aja. It's always you.""If it's always me, dia gak bakal ninggalin gue nunggu kayak orang bego hampir dua jam gak ada kabar."
FlashbackKeesokan harinya mereka berdua berangkat ke kampus karena hari ini hari terakhir ujian semester. Sepanjang jalan Tari mengamati ekspresi Dew yang tanpa ekspresi sejak keluar dari rumah. Tari sengaja menyuruh Dew untuk menonaktifkan ponselnya menghindari agar tidak dihubungi oleh Alvis dan membuat keadaan semakin keruh. Ia pun menonaktifkan gawainya setelah pembicaraannya dengan Galen semalam. Setelah memarkir mobilnya keduanya segera menuju ruang kelas. Sepanjang jalan seperti ada yang tak beres. Tari merasa sepanjang jalan menuju kelas hampir semua orang memperhatikan mereka berdua tapi ditepisnya hal itu dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kelas. Memasuki ruang kelas keadaan yang sama juga terjadi. Tari tak tau entah Dew sadar atau tidak tapi melihat dari keadaan dan reaksi Dew sepertinya gadis itu tak memperhatikan sekitar. Mereka memilih duduk di barisan tengah tidak terlalu menonjol tidak terlalu ke belak
FlashbackSecepat kilat Tari bangkit dan segera menyambar kunci mobilnya, “Lu di mana sekarang?” Kakinya tergesa-gesa menapak turun dari lantai dua dan berlari menuju basement tempat mobilnya terparkir dan menjaankan mobilnya menuju tempat yang Dew sebutkan. Sepanjang jalan dia sibuk menyumpahi Alvis. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi tapi tidak dengan meninggalkan Dew menunggu lama tanpa memberi kabar. Padahal hari ini Dew seharusnya bersenang-senang menikmati waktu yang bahagia. Hujan di luar masih deras, mobilnya memasuki area parkir sebuah pasar loak. Tempat ini adalah tempat healing bagi Dew. Dew selalu kesini jika sedang banyak pikiran dan juga untuk menenangkan diri. Hanya dia saja yang Dew beritahu tempat healingnya.Diparkirnya mobilny dengan tergesa-gesa dan seger berlari ke arah dalam pasar. Ia tau tepatnya dimana Dew menunggunya. Tempat itu sebuah taman kecil yang terl
BAB 22Alvis berjalan dengan terburu-buru. Semalam ia tak dapat memejamkan mata, akibatnya ia tak dapat fokus ke pertemuan penting yang membicarakan kontrak senilai milyaran rupiah. Alvis bersungut dalam hati pada sekretarisnya di kantor pusat karena dengan liciknya menyelipkan jadwal di tengah waktu lengang yang sudah lama ia rancang demi mengistirahatkan hati, otak, dan pikirannya sembari melanjutkan misinya mencari Dew. Mencari Little Ai-nya yang ternyata semesta mempertemukan mereka di sini. Di kota yang tak terpikirkan oleh Alvis. Untung saja ketidakfokusannya bisa diisi oleh Galen yang cepat tanggap membaca situasi dan keadaan. Ia terlambat tiga puluh menit dari waktu janjiannya dengan Tari. Hampir semua meja di restoran terisi penuh karena masih jam makan siang. Segera ia langkahkan kakinya menuju meja yang sudah lebih dulu dipesan oleh Tari.“Hai, maaf. Aku terlambat.” ucap Alvis merasa tidak enak.“Tak apa. Ak