Home / Romansa / Bayi Miliarder Yang Tak Terduga / Bab 90. Tetap hidup dalam kenangan

Share

Bab 90. Tetap hidup dalam kenangan

Author: Miarosa
last update Last Updated: 2025-03-28 17:11:01

Pagi itu, langit masih kelabu. Hujan semalam meninggalkan sisa embun di jendela, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Rumah keluarga Brisa masih sunyi, seolah masih larut dalam duka yang belum usai.

Di dalam kamar, Brisa terbangun perlahan. Matanya terasa berat, seakan semua air matanya telah terkuras habis semalam. Tubuhnya terasa lemas, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kehampaan yang masih menggantung di dadanya.

Saat ia menoleh, ia melihat sosok Brian duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Pria itu tidak tertidur, hanya bersandar dengan mata terpejam. Wajahnya tampak lelah, tetapi tetap terlihat waspada.

Seolah merasakan tatapannya, Brian membuka mata. Ketika melihat Brisa sudah bangun, ia segera bangkit dari kursinya. "Kau sudah sadar?"

Brisa hanya mengangguk pelan.

"Kau merasa pusing?" Brian bertanya sambil memeriksa denyut nadinya. Sentuhannya lembut, penuh perhatian.

"Sedikit," jawab Brisa jujur.

Brian mengangguk dan meraih segelas air di meja samping. "Minuml
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 91. Bertemu orang tua

    Setelah berbicara beberapa saat dengan Pak Rendra, Brian berpamitan dan melanjutkan kunjungannya ke pasien lain. Pasien Pascaoperasi Ia menuju ruang perawatan bedah, tempat seorang wanita berusia lima puluhan yang baru saja menjalani operasi jantung kemarin sedang beristirahat. Perawat yang berjaga di sana menyambutnya. "Bagaimana kondisi Ibu Sinta?" tanya Brian sambil mengecek catatan medisnya. "Tekanan darahnya stabil sejak pagi tadi, dan ia sudah mulai bisa mengonsumsi makanan lunak," jawab perawat. Brian mengangguk sebelum masuk ke dalam ruangan. Ibu Sinta sedang berbaring dengan posisi kepala sedikit ditinggikan. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding kemarin, meskipun masih sedikit pucat. "Selamat siang, Bu Sinta," sapa Brian. Ibu Sinta membuka matanya dan tersenyum tipis. "Dokter Brian, terima kasih atas operasinya kemarin. Saya merasa lebih baik hari ini." "Itu kabar baik, Bu," kata Brian sambil memeriksa pergelangan tangannya untuk mengecek denyut nadi. "Ada rasa nye

    Last Updated : 2025-03-30
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 92. Kembalinya Brian

    Brian menggeleng. “Aku datang untuk berdamai, dengan kalian dan dengan masa lalu. Aku tahu kita punya banyak perbedaan, tapi aku ingin menunjukkan bahwa kita bisa berjalan bersama tanpa harus saling meniadakan.” Keheningan menyelimuti ruangan untuk beberapa saat. Brian menunggu, tak terburu-buru, memberi waktu bagi ayahnya untuk mencerna semua ini. Akhirnya, pria tua itu mendengus pelan, matanya melunak meski tetap menunjukkan harga diri yang tinggi. Sang ibu mendekat, memegang tangan Brian dengan lembut. “Kami merindukanmu. Apa kau benar-benar akan pulang?” Brian menatap ibunya dengan lembut. “Ya, Bu. Aku pulang.” Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar diterima. Setelah percakapan yang cukup emosional itu, Brian akhirnya duduk bersama orang tuanya. Ibunya masih terlihat terharu, sementara ayahnya tetap mempertahankan sikap dinginnya, meskipun ada kilatan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dari matanya. “Kalau kau ingin mengambil alih posisi Sa

    Last Updated : 2025-04-01
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 93. Penerima donor

    Setelah rapat selesai, Brian berjalan keluar dari gedung kantor dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini bukan hal yang mudah, tetapi ia sudah bertekad untuk menjalankan tugasnya. Malam itu, setelah hari yang panjang, Brian kembali ke rumah Brisa dan Sagara. Begitu memasuki rumah, ia langsung merasakan kekosongan yang begitu mencengkeram. Ruang tamu sunyi hanya ada bayangan perabotan yang tampak seperti saksi bisu dari kebahagiaan yang dulu pernah ada. Rumah itu masih sama, tetapi rasanya berbeda. Seperti kehilangan jiwanya. Langkah Brian terasa berat saat ia berjalan ke dalam. Meja makan yang dulu sering mereka gunakan untuk berkumpul kini tertata rapi, tak tersentuh. Di sudut ruangan, foto pernikahan Sagara dan Brisa masih berdiri kokoh di atas meja kecil. Brian mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh bingkai itu. Sagara tersenyum dalam foto itu, begitu bahagia, begitu hidup. Brian menarik napas dalam, mencoba menekan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyerangnya. Hari-hari

    Last Updated : 2025-04-01
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 1. Hamil

    Ruangan itu terasa sesak oleh keheningan yang mencekam. Tatapan tajam Pak Aryan menusuk Brisa, membuat gadis itu semakin menunduk. Wajah Bu Tara yang biasanya lembut kini tampak murung, matanya berkaca-kaca."Brisa, siapa laki-laki itu?" Suara Pak Aryan menggelegar, memecah keheningan.Brisa terisak, tubuhnya gemetar hebat. "Pa... Papa, aku nggak tahu.""Tidak tahu? Bagaimana bisa tidak tahu, Brisa?" Pak Aryan semakin marah."Kamu sudah melakukan hal memalukan seperti ini, tapi masih berani bohong!""Papa, aku beneran nggak tahu. Aku belum pernah... belum pernah tidur sama siapa-siapa." Suara Brisa teredam oleh isakannya.Pak Aryan tertawa sinis. "Jangan berbohong lagi, Brisa! Kamu hamil? Kamu pikir Papa bodoh? Hasil medical check up menyatakan kamu hamil.""Papa, aku... aku nggak bohong!" Brisa memohon, air matanya mengalir deras.Bu Tara mendekat, mengelus bahu Brisa. "Brisa, coba ingat-ingat lagi. Mungkin kamu lupa?"Brisa menggelengkan kepala putus asa. "Bu, aku udah berusaha inga

    Last Updated : 2025-02-14
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 2. Tes

    Brisa menatap layar ponselnya, jari-jarinya gemetar saat hendak menekan tombol panggilan. Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian, ia menekan tombol hijau."Halo, Van?" sapa Brisa dengan suara lirih."Brisa, kamu kenapa sih?" tanya Ivana khawatir.Brisa menarik napas dalam-dalam. "Van, aku... aku hamil."Seketika terdengar suara teriak dari ujung telepon. "Apa? Kamu hamil? Seriusan, Brisa?"Brisa mengangguk, meskipun Ivana tidak bisa melihatnya. "Iya, Van. Aku beneran hamil.""Tapi siapa ayahnya, Brisa? Kamu harus jujur sama aku," desak Ivana.Brisa terdiam sejenak. "Aku nggak tahu, Van. Aku beneran nggak tahu siapa ayahnya.""Hah? Kamu nggak tahu? Maksudnya gimana?" tanya Ivana tak percaya."Aku belum pernah tidur sama siapapun, Van," jawab Brisa dengan suara bergetar."Brisa, kamu jangan bohong. Masa iya kamu nggak tahu siapa ayahnya?""Aku beneran nggak bohong, Van. Aku nggak pernah melakukan hal yang macam-macam. Aku masih perawan."Ivana terdiam sejenak. Ia mengenal Brisa dengan

    Last Updated : 2025-02-14
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 3. Benih yang salah

    "Iya, Pa. Ivana menyarankan agar aku melakukan tes itu," jawab Brisa."Untuk apa kamu melakukan tes itu?" tanya Pak Aryan, suaranya meninggi."Aku ingin membuktikan pada Papa kalau aku masih perawan," jawab Brisa.Pak Aryan terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. Ia tidak menyangka putrinya akan meminta untuk melakukan tes seperti itu."Tidak perlu," ujar Pak Aryan."Tapi, Pa....""Sudah, tidak usah diperpanjang lagi," potong Pak Aryan.Bu Tara yang sedari tadi mengamati mereka, akhirnya angkat bicara. "Aryan, biarkan saja Brisa melakukan tes itu. Ini penting untuk membuktikan bahwa dia tidak berbohong."Pak Aryan menatap istrinya, kemudian kembali menatap Brisa. "Baiklah, kalau itu maumu, tapi ingat, jangan pernah berbohong lagi."Brisa merasa lega mendengar persetujuan ayahnya. Ia segera memeluk ayahnya erat. "Terima kasih, Pa!"Setelah sarapan, Brisa dan Ivana berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam. Brisa merasa gugup dan cemas, sedangkan Ivana ber

    Last Updated : 2025-02-14
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 4. Jatuh cinta

    Sinar mentari sore menyisir lembut rambut gadis itu, menciptakan halo emas di sekeliling wajahnya yang sayu. Pria itu terpaku di tempatnya, jantungnya berdebar kencang seolah hendak keluar dari rongga dada. Sejak pandangan pertama, ia tahu bahwa hidupnya takkan pernah sama lagi.Gadis itu duduk di bangku taman, sebuah buku terbuka di pangkuannya. Angin sore menghembus lembut, membolak-balik halaman buku itu. Mata pria itu tak berkedip, mengamati setiap gerakan gadis itu. Rambutnya yang terurai bebas tertiup angin, matanya yang berkilau seakan menyimpan sejuta rahasia, dan senyum tipis yang sesekali menghiasi bibirnya membuat pria itu terpukau.Sejak dulu, pria itu bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada gadis ini. Tatapannya yang dalam seolah menembus jiwa, aura misterius yang mengelilinginya, dan kecantikannya yang alami membuatnya merasa tertarik secara mendalam.Dengan hati berdebar, pria itu mendekati gadis itu. Ia ragu-ragu sejenak, lalu me

    Last Updated : 2025-02-14
  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 5. Pertemuan

    Hati Brisa terasa diremas. Perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Ada kekecewaan, ketakutan, dan sedikit rasa penasaran. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan seperti ini."Pa, aku belum siap untuk menikah," ujar Brisa lirih.Pak Aryan menghela napas panjang. "Papa tahu kamu belum siap, Nak, tapi pernikahan ini akan sangat menguntungkan kita. Keluarga Hendratama adalah keluarga yang sangat berpengaruh. Pernikahan dengan putra mereka akan membuka banyak peluang baru untukmu."Brisa terdiam. Ia tahu ayahnya hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Namun, ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk mencintai seseorang hanya karena perjodohan."Tapi, Pa, bagaimana jika aku tidak menyukai orang itu?" tanya Brisa.Pak Aryan tersenyum tipis. "Tentu saja kamu berhak untuk tidak menyukainya. Papa sudah membicarakan hal ini dengan keluarga Hendratama. Mereka setuju jika kamu ingin mengenal calonmu lebih dulu. Jika setelah beberapa kali pertemuan, kamu merasa tidak cocok, kamu tidak perlu melan

    Last Updated : 2025-02-14

Latest chapter

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 93. Penerima donor

    Setelah rapat selesai, Brian berjalan keluar dari gedung kantor dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini bukan hal yang mudah, tetapi ia sudah bertekad untuk menjalankan tugasnya. Malam itu, setelah hari yang panjang, Brian kembali ke rumah Brisa dan Sagara. Begitu memasuki rumah, ia langsung merasakan kekosongan yang begitu mencengkeram. Ruang tamu sunyi hanya ada bayangan perabotan yang tampak seperti saksi bisu dari kebahagiaan yang dulu pernah ada. Rumah itu masih sama, tetapi rasanya berbeda. Seperti kehilangan jiwanya. Langkah Brian terasa berat saat ia berjalan ke dalam. Meja makan yang dulu sering mereka gunakan untuk berkumpul kini tertata rapi, tak tersentuh. Di sudut ruangan, foto pernikahan Sagara dan Brisa masih berdiri kokoh di atas meja kecil. Brian mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh bingkai itu. Sagara tersenyum dalam foto itu, begitu bahagia, begitu hidup. Brian menarik napas dalam, mencoba menekan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyerangnya. Hari-hari

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 92. Kembalinya Brian

    Brian menggeleng. “Aku datang untuk berdamai, dengan kalian dan dengan masa lalu. Aku tahu kita punya banyak perbedaan, tapi aku ingin menunjukkan bahwa kita bisa berjalan bersama tanpa harus saling meniadakan.” Keheningan menyelimuti ruangan untuk beberapa saat. Brian menunggu, tak terburu-buru, memberi waktu bagi ayahnya untuk mencerna semua ini. Akhirnya, pria tua itu mendengus pelan, matanya melunak meski tetap menunjukkan harga diri yang tinggi. Sang ibu mendekat, memegang tangan Brian dengan lembut. “Kami merindukanmu. Apa kau benar-benar akan pulang?” Brian menatap ibunya dengan lembut. “Ya, Bu. Aku pulang.” Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar diterima. Setelah percakapan yang cukup emosional itu, Brian akhirnya duduk bersama orang tuanya. Ibunya masih terlihat terharu, sementara ayahnya tetap mempertahankan sikap dinginnya, meskipun ada kilatan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan dari matanya. “Kalau kau ingin mengambil alih posisi Sa

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 91. Bertemu orang tua

    Setelah berbicara beberapa saat dengan Pak Rendra, Brian berpamitan dan melanjutkan kunjungannya ke pasien lain. Pasien Pascaoperasi Ia menuju ruang perawatan bedah, tempat seorang wanita berusia lima puluhan yang baru saja menjalani operasi jantung kemarin sedang beristirahat. Perawat yang berjaga di sana menyambutnya. "Bagaimana kondisi Ibu Sinta?" tanya Brian sambil mengecek catatan medisnya. "Tekanan darahnya stabil sejak pagi tadi, dan ia sudah mulai bisa mengonsumsi makanan lunak," jawab perawat. Brian mengangguk sebelum masuk ke dalam ruangan. Ibu Sinta sedang berbaring dengan posisi kepala sedikit ditinggikan. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding kemarin, meskipun masih sedikit pucat. "Selamat siang, Bu Sinta," sapa Brian. Ibu Sinta membuka matanya dan tersenyum tipis. "Dokter Brian, terima kasih atas operasinya kemarin. Saya merasa lebih baik hari ini." "Itu kabar baik, Bu," kata Brian sambil memeriksa pergelangan tangannya untuk mengecek denyut nadi. "Ada rasa nye

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 90. Tetap hidup dalam kenangan

    Pagi itu, langit masih kelabu. Hujan semalam meninggalkan sisa embun di jendela, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Rumah keluarga Brisa masih sunyi, seolah masih larut dalam duka yang belum usai. Di dalam kamar, Brisa terbangun perlahan. Matanya terasa berat, seakan semua air matanya telah terkuras habis semalam. Tubuhnya terasa lemas, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kehampaan yang masih menggantung di dadanya. Saat ia menoleh, ia melihat sosok Brian duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Pria itu tidak tertidur, hanya bersandar dengan mata terpejam. Wajahnya tampak lelah, tetapi tetap terlihat waspada. Seolah merasakan tatapannya, Brian membuka mata. Ketika melihat Brisa sudah bangun, ia segera bangkit dari kursinya. "Kau sudah sadar?" Brisa hanya mengangguk pelan. "Kau merasa pusing?" Brian bertanya sambil memeriksa denyut nadinya. Sentuhannya lembut, penuh perhatian. "Sedikit," jawab Brisa jujur. Brian mengangguk dan meraih segelas air di meja samping. "Minuml

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 89. Tidak perlu memikirkan hari esok

    Bu Tara, matanya penuh kekhawatiran melihat kondisi putrinya. "Brisa, Sayang. Kita hampir sampai di rumah. Kau ingin minum sesuatu? Atau apakah ada yang bisa Ibu lakukan untukmu?" suaranya lembut, berusaha menenangkan. Brisa tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, bahkan tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Brian. Pak Raditya yang menyetir pun sesekali melirik melalui kaca spion. "Brian, kalau kita harus ke rumah sakit, bilang saja." Brian mengusap punggung Brisa dengan lembut. "Sejauh ini dia hanya syok berat. Aku akan memeriksanya lebih lanjut begitu sampai di rumah." Bu Tara mengangguk, meski kecemasannya belum hilang. "Terima kasih, Brian." Brian hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia tidak butuh ucapan terima kasih. Ia hanya ingin memastikan bahwa Brisa baik-baik saja. Ketika mobil akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Brisa, semua orang masih dalam kondisi yang sama dipenuhi kesedihan, kepedihan yang mencekik, dan kehilangan yang begitu nyata. Pak Aryan turun leb

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 88. Takut melupakan

    Detik berikutnya Brisa menggeliat pelan, kelopak matanya sedikit berkedut. "Brisa?" Brian segera mendekat, menatapnya penuh harap. Brisa mengerang pelan, matanya membuka sedikit. Pandangannya tampak buram, tetapi ketika ia melihat wajah Brian di depannya, air matanya langsung jatuh tanpa suara. "Sagara," suaranya lirih, hampir seperti gumaman. Brian mengepalkan rahangnya. "Brisa, dengar aku. Kau pingsan, tapi kau akan baik-baik saja. Coba tarik napas dalam." Brisa tidak menjawab, tetapi napasnya mulai tidak teratur, seakan masih berada dalam kepanikan yang mendalam. Brian segera menaruh telapak tangannya di punggung Brisa, mengusapnya perlahan. "Tenang, aku di sini! Tarik napas pelan, buang perlahan." Brisa mengikuti arahannya, meski tubuhnya masih gemetar. Napasnya mulai sedikit lebih stabil, tetapi wajahnya tetap pucat. Bu Tara langsung memeluk putrinya erat-erat, terisak dalam dekapan Brisa. "Sayang, kau membuat kami semua ketakutan." Pak Aryan juga mengusap punggung putri

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 87. Area pemakaman

    "TIDAK!"Jeritan Bu Arini memecah keheningan, menggema di seluruh ruangan. Tubuhnya langsung melemas, nyaris terjatuh jika tidak ditahan oleh Pak Raditya yang refleks meraih bahunya."Kamu bohong!" Isaknya penuh kepedihan. "Sagara tidak mungkin, dia tidak mungkin meninggal! Tidak mungkin!"Pak Raditya tampak terpukul. Wajahnya yang selama ini selalu tegar mendadak tampak lebih tua, lebih lelah. Ia memejamkan matanya, seakan berharap saat ia membukanya kembali, ini semua hanyalah mimpi buruk.Ruang tamu masih diselimuti kesunyian yang mencekik. Tangis Bu Arini mulai mereda, meski sesekali masih terdengar isakannya yang lirih. Pak Raditya duduk dengan wajah tegang, kedua tangannya bertaut di pangkuannya, seakan sedang mencoba menguatkan diri. Brisa tetap diam, menatap lantai dengan tatapan kosong. Sejak Brian mengucapkan kata-kata itu bahwa Sagara sudah meninggal, dunia di sekitarnya terasa kabur.Di tengah keheningan itu, suara lirih Bu Tara akhirnya terdengar."Brian."Semua orang men

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 86. Hancurnya perasaan

    Bu Arini yang sejak tadi terisak tiba-tiba menegang. Wajahnya berubah seolah sesuatu baru saja terlintas di benaknya. “Bella,” bisiknya pelan. Brisa tersentak mendengar nama itu. Bella? Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Lalu sebuah bayangan muncul dalam pikirannya—seorang wanita yang datang di hari pernikahannya, dengan senyum ramah dan tatapan penuh arti. “Sepupu Sagara,” gumam Brisa. Bu Arini mengangguk cepat. “Ya, Bella. Dia sangat dekat dengan Sagara sejak kecil. Jika ada orang yang tahu sesuatu tentangnya, itu pasti Bella.” Pak Raditya tampak tidak setuju. “Kenapa harus memanggil Bella? Kenapa tidak langsung menelepon Brian dan menyuruhnya datang ke sini?” Bu Arini menoleh ke suaminya dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Kita tetap bisa melakukan itu, tapi aku merasa Bella mungkin tahu sesuatu yang tidak kita ketahui.” Pak Raditya menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah, tapi sebelum itu, telepon

  • Bayi Miliarder Yang Tak Terduga   Bab 85. Serpihan kepalsuan

    Air matanya jatuh tanpa suara, merembes ke bantal yang sudah basah oleh kepedihan yang tak terlihat. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang berat menghimpitnya, membuatnya sulit bernapas. Di balik kelopak matanya yang terpejam, kenangan tentang "Sagara" berputar seperti film lama yang dipaksa untuk terus diputar ulang tanpa henti, tanpa belas kasihan. Setiap senyum yang dulu terasa hangat, setiap pelukan yang pernah memberinya rasa aman, setiap bisikan lembut yang menenangkan hatinya, semuanya kini terasa seperti serpihan kepalsuan yang menghancurkan dari dalam. Apakah pria yang bernama Brian mencintainya? Ataukah setiap tatapan penuh kasih, setiap sentuhan lembutnya hanyalah bagian dari kebohongan yang sudah dirancang sejak awal? Dan yang lebih menakutkan dari semuanya di mana Sagara? Brisa jadi mengkhawatirkan keadaan Sagara yang entah ada di mana. Brisa memejamkan matanya semakin erat, seolah ingin melindungi dirinya dari kenyataan yang terlalu menyakitkan. Dalam hatiny

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status