MasukSang perawat pun bergegas memeriksa Alexa lalu dengan cepat ia berlari memanggil dokter yang bertugas. Para dokter baik pria maupun wanita berhamburan menuju ruangan tempat Alexa di rawat. Pemeriksaan reguler segera dilakukan, penglihatan, pendengaran dan juga suara, hingga tiba pada tanya jawab yang telah menjadi prosedur utama pada pasien yang baru sadar dari tidurnya. "Bu, kami akan memberikan beberapa pertanyaan, tidak perlu ibu jawab cukup beri kode, satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak. Ibu sudah paham?"Alexa menjawab dengan mengedipkan matanya sebanyak satu kali.Dokter pun melanjutkan, "Apakah ibu sekarang ibu berada di mana?"Alexa tidak segera menjawabnya, matanya berkeliling ke segala arah, lalu ia kembali mengedipkan matanya sebanyak satu kali dan juga pada pertanyaan, "Ibu tahu nama ibu?""Ibu mengenal bapak ini?"Kali ini Alexa tidak segera menjawabnya, ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Kaki Karel mendadak
Adzan Dzuhur berkumandang bersahutan, menandakan matahari telah tinggi dan waktunya bagi manusia untuk beristirahat. Sementara bagi para muslim, ini adalah penanda untuk melepas dari kesibukan duniawi dan kembali merecharge tenaga dan pikiran mereka dengan bersujud kepada sang Pencipta. Begitu juga dengan Aldryn dan para jajaran di polres Jakarta Utara yang beragama Islam, mereka menunaikan shalat dzuhur berjama'ah, di masjid yang tak jauh dari lokasi kantornya. Setelahnya, Aldryn kembali berbincang dengan Alan, guna menemukan titik terang atas kasus yang dialami Alexa. "Pasti ada yang terlewat dari penyidikan ini, pasti ada, karena nggak mungkin...""Kami juga mikirnya gitu, Dryn. Sudah berapa kali aku sama tim, buka-buka video CCTV-nya, lihat foto-fotonya, dengerin and baca lagi keterangan para saksi, tapi tetep hasilnya big zero," potong Alan. "Aaarrggh sungguh menyebalkan!" geram Aldryn setengah frustasi. Aldryn menunduk, ia mengacak-acak rambutnya dan memejamkan mata, otaknya
Matahari telah berada tepat di atas kepala dan bersinar sangat terik, membuat orang-orang enggan keluar. Tetapi, butik Relax tetap ramai oleh pengunjung, entah untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat. Kendaraan roda dua dan empat terlihat memenuhi area parkiran di halaman depan hingga ke area parkir di bahu jalan raya. Aldryn pun memarkirkan kendaraannya pada bahu jalan. Ia berjalan menuju butik dengan memakai kaca mata hitamnya untuk menangkis cahaya matahari yang menyilaukan. Ia pun tersenyum, saat melewati parkiran kendaraan di depan butik, karena itu menandakan keramaian pengunjung di dalam butik Relax. Tanpa menunggu lama, ia memasuki butik Relax dan sesaat itu, udara panas berganti dengan kesejukan dan wangi harum aroma lavender, yang merupakan aroma kesukaan Alexa. Aldryn berdiri di tengah ruangan dengan matanya yang mencari sang manajer butik, tetapi tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang dan terdengarlah suara wanita yang akrab di telinganya. "Mas, ngapain? Kok tumb
Dengan wajah pilu, Karel memandangi Alexa yang masih enggan bangun dari tidurnya. Ia menggenggam erat tangan istri yang sangat ia rindukan dengan mata berkaca-kaca. Kerinduan untuk bercanda dan bergurau, saling melemparkan banyolan ringan dan konyol, semakin membuncah. Tetapi, tidak ada yang dapat ia lakukan selain menunggu dan berdo'a. Karel mendekatkan bibirnya ke wajah Alexa, ia pun mencium lembut pipi dan keningnya, lalu ia berucap lirih, "Al, my love, my lovely soulmate, why don't you open your eyes? Don't you miss me? Don't you miss our kids?""Are you happy in your dream? Is there me in your dream?""Open your eyes, my love. Open it, you'll find me waiting for you."Sayangnya, Alexa masih belum merespon apapun dari semua usaha Karel untuk membangunkannya. Rasa yang nyaris putus asa pun menghampiri Karel, terlebih keluarga dari Alexa semakin hari semakin memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Karel. Ini semua dipicu oleh peristiwa demi peristiwa yang merugikan Alexa, yang diaw
Kedatangan Donny di ruang perawatan tempat Alexa dirawat, mengejutkan sang bunda dan Nisa, yang juga masih berada di ruangan dan Nisa yang sama sekali tidak pernah mendengar nama Donny sebelumnya pun merasa perlu untuk tetap berada di ruangan."Maaf Bu, beberapa hari yang lalu saya ke butiknya Al, dari sanalah saya tahu kalau Al mengalami kecelakaan dan dirawat disini," tutur Donny."Maaf Pak, tapi Anda siapa, ya?" tanya Nisa yang tidak mendapatkan informasi apapun akan Donny.Kalau aku jujur, aku akan mengundang masalah baru, tapi aku juga lelah menjadi pria bayangannya Al, tapi aku belum gila, batin Donny.Tetapi, demi menjaga perasaan semua pihak, akhirnya Donny hanya dapat menjawab dengan jawaban teraman."Saya cuma teman lamanya Al. Saya juga datang ke resepsi pernikahan Al dan Karel," jawab Donny sambil memperlihatkan foto-foto kebersamaannya bersama Karel dan Alexa saat berada di resortnya."Maaf, saya baru tahu kalau Al terkena musibah. Makanya begitu saya tahu, saya langsung
Sepekan telah berlalu dan tanda-tanda akan kesadaran Alexa belum juga terlihat. Semuanya masih terlihat sama seperti pada hari pertama, hal ini pada akhirnya membuat Karel gelisah. Ia pun berulang kali menanyakannya kepada dokter yang bertanggung jawab menangani Alexa, walaupun ia hanya mendapatkan jawaban yang sama setiap kali ia menanyakannya. "Semua ikhtiar telah kami coba, Pak. Untuk saat ini, kita hanya dapat menunggu kapan ibu Alexa akan sadar. Maaf, hanya itu yang kami dapat lakukan. Mungkin dengan memperbanyak istighfar dan do'a, semuanya akan dimudahkan oleh Allah. Kita tunggu saja, apa rencana Allah dibalik ini semua." Rekaman murottal tiga puluh juz pun bergantian diputar dengan tilawah Al-Qur'an yang dilantunkan Karel atau anggota keluarga lainnya, dengan harapan kesadaran Alexa akan segera terjadi. Bayangan akan kehilangan Alexa untuk selamanya, mulai menghantui Karel dan membuatnya terlihat sangat kusut dan menjadi perhatian dari ibu dan kedua adiknya. "Bang, istirahat







