Home / Urban / Audacity / 134. Rekaman dan Foto

Share

134. Rekaman dan Foto

Author: WarmIceBoy
last update Last Updated: 2021-11-11 16:47:32

[POV Fany]

------

Aku masuk ke dalam selimut kasur, pura-pura tidur, tapi siapapun yang berada di luar tak mau mengerti.

Suara ketukan berulang diikuti suara pria terus mengusik. "Nona, aku masuk."

Dia membuka pintu membuat cahaya menerobos masuk menerpa wajahku. Berani sekali dia masuk tanpa izin. 

Aku duduk mengucek mata. "Aduh silau, tutup pintunya!"

"Maaf, tapi--"

"Ada apa?" tanyaku dengan nada mengantuk. "Hei, kenapa malah masuk?"

"Maaf mengganggu, tapi pintu balkon Anda terbuka." Aduh, dia menutup rapat pintu balkon. Sekarang akan lebih sulit bagi Joshua untuk masuk.

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Audacity   135. Pengadilan Khianat

    [POV Adrian]-----Aku duduk di kursi bersebelahan dengan Tuan Trustword mendengar Hakim membuka persidangan di ruang tenang penuh wartawan yang menonton. Mungkin karena ini melibatkan Alex si jahanam, semua menjadi antusias. Sayang sekali dia tidak datang, hanya lima pengacaranya yang hadir.Aku sesekali menilik belakang, banyak orang yang aku kenal duduk berbaris, bahkan Ibu dan Kim ada di sana bersama Alfred. Mana Fany? Semoga dia baik-baik saja.Semenjak kejadian di Texas kami kehilangan kontak. Aku tidak bisa menghubunginya, begitu pula Fany seperti tidak peduli padaku--tidak, dia peduli, pasti ada jawaban untuk semua itu."Kami panggil saksi pertama, para gangster Mexican," ujar pria bersetelan jas, pengacara sewaan Alex. Mau apa dia memanggil anak

    Last Updated : 2021-11-12
  • Audacity   136. Para Saksi

    [POV Adrian]-----Kira-kira siapa saksi selanjutnya, kenapa lama sekali datang ke mari? Apa dia--Pintu dibuka dari luar diikuti suara kamera dipencet ketika cahaya flash mengguyur sosok itu. Bedebah, Alex! Kenapa dia jadi saksi?Dia berdiri gagah seperti calon Presiden akan kampanye, senyumnya menyebalkan, wajah pun menjijikkan. Harusnya kuhajar dia dulu ketika pertama kali bertemu.Sebelum Hakim bicara, dia menyela. "Saya di sini ingin menarik laporan tentang mesin yang dicuri karena memang, saya yang salah menawari Adrian mesin mobil. Semua salah paham."Semua orang berbisik-bisik, kilatan flash menyilaukan, keadaan tidak kondusif hingga Hakim mengetuk palu.

    Last Updated : 2021-11-12
  • Audacity   137 Kecewa Berat

    [POV Adrian]------Suara tamparan menggema dalam ruang lertemuan khusus. Ibu benar-benar murka memberi tatto telapak tangan merah ke pipiku."Kenapa kau tidak mengerti, arti kalimat jangan membuat masalah!" Suara beliau seperti letusan gunung Pompey, meluluhlantakkan hatiku.Aku harus apa? Semua memang salahku karena terlalu bodoh hingga tertelan perangkap hina Alex, yang bocah kecil pun bisa melihat dengan jelas. Aku tak berani memandang balik reaksi Ibu, juga Al dan Kim. Aku bagai sampah yang mencemari keluarga Bened, ini kali oertama aku merasa demikian hina."Ibu, cukup," pinta Alfred, menarik Ibu hingga wajah beliau terbenam ke dada berbalut kemeja, disusul suara sesenggakan pilu. "Semua akan baik-baik saja, semua akan--"

    Last Updated : 2021-11-13
  • Audacity   138. Bimbang

    [POV Fany]------"Apa salah jika ingin ke gereja?" sentakku padanya, kingkong berkemeja hitam yang berdiri gagah mencegat di depan kamar.Oh Tuhan dia benar-benar tuli. Aku dorong sekuat tenaga tubuh kekarnya, tapi hanya mendapat lelah. "Minggir!""Ada apa teriak-teriak?" Suara langkah mendekat. Kali ini pria besar membuka jalan untuk Alex.Rambut kuningnya berminyak, sesuatu yang kubenci. Jentikan jarinya dengan mudah mengusir pria berkulit hitam pergi. Sekarang hanya ada aku dan dia."Alex, kenapa aku dikurung beberapa hari di rumah--di kamar?""Ini perintah Ibumu, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Wajahnya terlihat serius, juga

    Last Updated : 2021-11-16
  • Audacity   139. New York

    [POV Fany]-----Alex membatalkan tuntutan, sekarang giliranku menepati janji. Menikahinya, apa ini benar?Berita di TV menayangkan Alex membatalkan tuntutan secara langsung. Ketika kamera beralih pada Adrian, aku merangkak maju mengelus layar.Jariku menyentuh tepat di bibir, hingga tak sadar air mata mengalir. Andai bisa ke sana, pasti kurangkul erat dia, menangis di dadanya yang empuk nyaman.Ya Tuhan, baru beberapa Minggu tidak bertemu, hatiku seperti merindu kasih bertahun-tahun. Setidaknya melihat wajah segar, tanpa luka, membuatku sedikit tenang.Dia baik-baik saja, itu yang utama. Tiba-tiba berita berganti dengan berita pemilihan senator negara bagian California. Muka Yuan Zulvian mendomi

    Last Updated : 2021-11-17
  • Audacity   140. Darting

    [POV Fany]-----Musik jazz smooth mendominasi ruang megah berkarpet merah. Aroma wine dan keju sayup menyapa hidung dari arah bar classic.Pria tua itu menantiku. Dari jauh tampak keriput di wajah tirusnya, sisa ketampanan masa muda. Mungkin dulu dia seperti Alex. Kasihan dia, memiliki istri sejahat Ibuku. Aku tidak mengada-ngada, jika cerita Alex benar dua wanita itu sejenis dengan Iblis.Senggolan lembut di lengan menyadarkanku dari lamunan. Wajah Alex sedikit condong ke samping menghampiri telingaku. Lembut hangat menyentuh telinga ketika dia berbisik,"Maju, jangan membuatnya menunggu.""Dia Ayahmu?""Ya, kamu kira siapa, kakekku? Kumohon Fany jangan m

    Last Updated : 2021-11-18
  • Audacity   141. Bukan Bened

    [POV Adrian] ----- Trustword seperti bocah sekolah ketahuan merokok oleh kawanan guru, bedanya dengan murid, Trustword melawan. "Keluar, atau aku panggil--" "Tuan Trustword jika kamu ingin disidang kelompok advokasi Amerika, teruslah menusuk dari belalang." Aku tak tahu apa maksud perkataan pria berjas putih, tapi Trustword bermandi keringat dingin. Dia mengelap kening dan leher, terlebih ketika pria berjas putih mengoper stopmap hingga foto dan dokumen tumpah ke meja. Aku memungut selembar foto terdekat. Foto Trustword berbicara dengan si bedebah Alex. "Apa maksudnya ini Tuan Trustword?" Jakunnya seperti bola bekel memantul-mantul di kerongkongannya. "Itu, sebenarnya--"

    Last Updated : 2021-11-21
  • Audacity   142. Seorang Don

    [POV Adrian] ----- Situasi ruang bertahan dalam hening seperti di pemakaman. Mereka berusaha santai, tapi dari raut wajah mereka hanya terlukis ketegangan yang nyata. Bukan hanya mereka, aku pun susah bernapas dalam keadaan mencekam. Mancini mengecek jam tangan mewah miliknya. "Waktu istirahat pengadilan sudah lewat sepuluh menit Santino." Santino tetap bungkam, netranya tak beranjak menyorotiku. Andai bisa membaca isi hati dan pikirannya, pasti lebih enak. Hatiku berkata mereka cahaya yang membimbingku keluar dari kelam masalah pekat. Sementara pikiranku bilang, tiada manusia saling bantu kecuali punya mau, kecuali dia manusia setengah dewa atau keluarga baik, atau orang spesial--hei jangan salahkan aku untuk ragu. Dunia i

    Last Updated : 2021-11-24

Latest chapter

  • Audacity   -Epilog-

    [Pov Adrian]-----"Terima kasih Tuhan!" Paman berpelukan dengan Bibi seperti menang undian bernilai Milyar dollar. Sesuatu yang menyentuh hati, tapi juga membuatku merasa tak enak.Alfred melangkah pergi dari ruang, membiarkan pintu terbuka tanpa berucap satu kata pun. Mungkin dia kecewa?Berdiri merapikan jas, aku sengaja tidak berkata apa pun, enggan merusak kebahagiaan Fany dan keluarganya. Mereka jarang seperti ini. Melangkah keluar, Santino dan yang kain mengikutiku."Keputusanmu sudah tepat, tapi bagaimana dengan Alfred, apa dia menerima semua ini?" selidik Santino."Itu yang ingin aku ketahui."&nb

  • Audacity   157. Akhir Dari Keputusan

    [POV Fany] ----- Aku memeluknya dalam harap. Ya, dia harapanku satu-satunya. "Aku mohon Adrian, kabulkan permintaanku yang ini. Aku berjanji akan melayanimu selamanya." Memandang wajahnya yang datar, aku yakin dia mulai goyah. "Tolong, jangan hukum orang tuaku." Melepas hari-jariku di punggungnya, wajah Adrian lekat memandangku. Jakunnya naik lalu turun dengan berat. Dia pasti mengerti apa yang aku inginkan, karena dia Adrian. "Maaf,Fany. Aku tidak bisa." "Apa? Kenapa? Aku tahu mereka salah, tapi mereka baik, semua hanya kesalahpahaman--" "Maaf. Mike Bened ayahku, juga ayah Alfred. Akan adil jika aku menghukum mereka."

  • Audacity   156. Asa

    [POV Fany]-----Para bened pergi, merubah situasi menjadi sunyi seperti Texas di malam hari. Ayah dan Ibu berusaha saling menguatkan.Anak mana yang tega melihat orang tua menderita? Bahkan ketika diriku melihat Ibu terhisak seperti seorang anak kehilangan orang tua, hatiku perih. Apa aku harus ke sana? Apa aku berhak bersama mereka?Suara santino di sebelahku terdengar mengiba. Mungkin melihat situasi ini mengguncang jiwanya? "Aku mendengar banyak cerita tentangmu dari Bibi Nicole.""Apa maksudmu?"Aku perhatikan dia memandang redup ke orang tuaku. Dia pria misterius, tapi entah mengapa aku merasa dia tahu banyak hal, melebihi apa yang aku tahu.

  • Audacity   155. Di Rumah Tuhan

    [POV Adrian]-----Masih dalam mantra kesunyian, tiada satu pun suara dalam ruang kecuali hisak tangis Fany di lengan Alfred. Hisak yang membuat mataku basah dan tangan bergetar ingin menghampirinya untuk berkata, 'jangan menangis'.Ini pasti berat untuk Fany, mengetahui realita panas yang menyiksa dalam kurun waktu nyaris bersamaan. Bagaimana lagi, realita adalah obat dari segalanya."Aku tidak sanggup lagi."Melepas Fany, Alfred beranjak bangkit dari duduknya, membuka pintu hendak pergi dari ruang yang hampa.Fany menarik tangannya. "Al, mau ke mana?"Melepas genggaman, Alfred pergi dari ruang bersama isi hatinya yang pasti tersiksa, t

  • Audacity   154. Hukum

    [POV Adrian]-----Hening dalam ruang menambah ketegangan yang ada. Semua menanti apa yang selanjutnya aku inginkan. Bahkan Mancini si biang gaduh berdiri di tepi meja, memandang lurus ke wajah Tuan Reine yang tertunduk.Bibi meremas tangan Paman, memandang suaminya dengan netra basah. Terdengar suara tangis yang tertahan ketika berbisik. "Yang sabar." Suara pilu yang memancing rasa ingin tahuku untuk menggali kebenaran."Paman, Bibi, mau minum sesuatu?"Mereka berdua diam tanpa memandangku, seperti diriku yang enggan mengontak mata Fany. Mereka membuatku tidak enak hati. Walau jalang tua itu murni iblis, tapi Paman baik. Entah berapa kali dia membelikan mainan kala natal tiba.

  • Audacity   153. Perubahan Adrian

    [POV Fany]-----Setelah membentak, Alfred bergumam sambil mengusap wajah. Senyumnya berat padaku. Netra yang berkaca-kaca, apa artinya? "Maaf, aku terlalu terbawa suasana."Mengangguk, aku menjawab, "Tidak apa-apa. Sebenarnya ada apa? Siapa mereka, dan kenapa Adrian seperti itu?""Aku ceritakan sambil jalan, ayo, ikut ke ruang sebelah."Sebelum kami melangkah, orang tua Alex menghampiri. Tua renta, memelas dengan wajahnya. "Nak, sebenarnya ada apa? Siapa orang-orang tidak sopan tadi?"Kasihan. Apa pun masalah yang terjadi, ayah Alex orang baik. Bagaimana jika dia jantungan. Aku memberi senyum sambil menenangkan. "Paman tenang saja, ini hanya--"

  • Audacity   152. Basilika

    [POV Fany]-----Pintu kayu besar berukiran bunga terbuka. Suara musik organ mengiringi langkah kami di karpet merah panjang bertabur bunga menuju altar. Kiri dan kanan tamu undangan berdiri memberi senyum untuk kami. Ini dia, ini sesuatu yang penting bagi kehidupan kami.Pernikahan adalah kegiatan sakral dan disinilah aku. Memakai gaun putih nampak pundak, bagian bawah menyentuh karpet merah basilika, berdiri bersama orang yang dalam mimpi pun tidak terbayang akan menjadi suamiku. Ya Tuhan, semoga yang aku lakukan ini benar.Sesampainya di depan altar, aku menilik ke belakang, Ayah dan Ibu berpakaian setelan jas hitam duduk bersebelahan pada kursi panjang baris terdepan, menangis. Bahagia? Mungkin, bisa saja sedih. Setelah mendengar rekaman Ayah, aku yakin kemungkinan mereka sedih lebih besar dari bahagia

  • Audacity   151. Darah Kotor

    [POV Adrian]-----Dingin masuk melalui jendela mobil yang terbuka. Di luar sana langit batuk-batuk. Semoga tidak hujan, tidak sebelum urusanku selesai. Sepertinya ini akan menjadi hari panjang.Tidak terbayang, bahkan dalam mimpi sekalipun untuk duduk di sebelah pria yang mungkin mengirim penembak membunuh ayah.Kami berdua dalam mobil SUV. Di luar para Carlone dan Broxn mengelilingi mobil. Bisa saja aku nekat membunuhnya, tapi apa kata dunia? Aku tidak takut mati, bagaimana dengan Alfred? Bagaimana dengan Fany dan Alex? Siapa yang menjaga Ibu?Dingin kaleng bir menerpa kulit jari tangan, membuyarkan lamunan yang membuatku fokus pada ujung sepatu.Ramah Pak Tua tersenyum. "Ja

  • Audacity   150. Don bertemu Don

    [POV Adrian]-----Kakiku membeku dalam mobil, enggan melangkah keluar. Bukan karena padatnya penjagaan di pintu gerbang mansion megah, tapi karena rasa bimbang ketika akan membuka kotak pandora."Lihat di sana." Mancini menunjuk jajaran mobil SUV hitam. "Plat nomor BL. Bronx datang ke pesta."Menoleh ke sebelah, kudapati dia tersenyum tanpa dosa. Mungkin mendekati wajahku yang bingung. "Bronx?"Dari kursi depan, Santino menjawab, "Mereka dulu berkuasa di California, tapi Carlone dan Mancini mengusir mereka. Mereka yang mengirim penembak untuk Ayahmu.""Apalagi yang kita tunggu?" Jarang Alfred gagal mengontrol emosi seperti sekarang. Berusaha mendorong Mancini keluar dari pintu Limosin, dia didorong du

DMCA.com Protection Status