Share

Membuka Diri

Penulis: LinDaVin
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-27 20:28:53

"Aku nggak tanya," jawabku sambil menarik toples menjauh dari Roni. Hm … isinya sudah tandas lebih dari separuh.

"Kenapa nggak ngajak marketing headnya, malah ngajak kamu. Kalau aku yang ngajak kamu masih wajar. Kalau dia kan harusnya sama marketing headnya. " Roni terlihat berbeda, mungkin tidak suka atau apa, entahlah.

"Ya aku kan nggak tau, Mas Satria bilangnya gitu, tadi."

"Mas? Kamu pangil dia mas?" Roni mengernyitkan dahi melihat kearahku. Aku keceplosan lagi, ih … kadang memang loss begitu saja di luar kesadaran.

"Em … Bapak," ralatku kemudian.

"Tadi …."

"Ran …." Kalimat Roni terpotong oleh panggilan Mas Satria yang telah berdiri di ambang pintu.

"Iya, Pak," jawabku seraya berdiri dari tempat duduk.

"Laporan kamu sudah selesai semua kan?" tanya Mas Satria kemudian.

"Iya, Pak. Barusan sudah saya emailkan, tinggal laporan ke grup saja," jawabku menerangkan.

"Aku tunggu di bawah," ucap Mas Satria.

"Sekarang?" tanyaku bingung, tadi katanya selepas Magrib. Ini baru jam berapa, belum
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Ria lestari
Baca ini spt mengenang masa lalu, so sweet
goodnovel comment avatar
Trinovi
seneng bgt Ama cerita ini lucu n gemesin
goodnovel comment avatar
Isnia Tun
Cieee mas Satria masih berharap hihihihi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Samakah Rasa Kita

    Aku tidak segera menjawab, jujur aku bingung dengan perasaanku sendiri. Ada rasa takut, mungkin juga gengsi. Meskipun ada, aku juga enggan mengakui apalagi aku cewek. Iya kalau Mas Satria masih punya rasa yang sama kalau tidak dia akan menertawakanku pastinya."Sudah nggak ada yah?!" Mas Satria menimpali ucapannya sendiri. Menarik kesimpulan dari sikap diamku. "Apa itu masih ada artinya?" tanyaku kemudian. "Sedangkan kondisi kita sudahlah tidak lagi sama seperti dulu pastinya.""Iya … aku lupa. Empat tahun pasti bisa merubah segalanya. Termasuk perasaanmu kepadaku." Mas Satria tersenyum masam."Hanya aku? Bagaimana dengan mas sendiri. Semua memang salahku dan penyesalan juga tidak akan bisa merubah hal yang sudah terjadi. Empat tahun … hmm pasti sudah banyak hal yang berubah bukan. Termasuk perasaan Mas Satria juga." Aku menggigit pelan bibir bawah, ada sebah terasa hadir di dada."Sok tau," cetus Mas Satria ketus."Ya kan gitu kenyataanya. Mas sudah punya kehidupan baru dan berbahag

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-28
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Menguak Tabir

    Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Jam digital yang menunjukkan waktu hampir jam enam terpampang di layar yang masih terkunci. Telunjukku mengusap pelan dan kemudian membentuk pola untuk membuka ponselku.Menu kamera aku buka dan mulai mengarahkan bidikan ke beberapa sudut ruangan. Area teras juga tidak lepas dari tangkapan kamera ponselku. Biasanya aku akan berselfie di tempat sekeren ini. Hanya saja suasana hatiku sedang kacau.Sudah cukup lama Mas Satria pergi sekitar lima belas menit sudah. Seorang pelayan datang dengan nampan berisi minuman dan menu ringan di atasnya. "Silahkan," ucap mas pelayan kemudian beranjak keluar.Aku menghela napas setelah dua puluh menit waktu berlalu dan Mas Satria belum kembali juga. Pembicaraan kami tadi terhenti dan banyak hal mengantung yang harus di urai kejelasannya."Maaf lama." Akhirnya Mas Satria datang juga. Entah dari mana aku engan menanyakannya. Pria itu meminta maaf lalu menarik kursi dan duduk dindepanku."Kok nggak diminum? Makan

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-28
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Rasa Itu masihkah sama?

    Aku terdiam tidak mampu berkata apa-apa lagi. Air mata menggenang di sudut mataku. Segera aku raih tisu yang ada di depanku untuk mengusap air mata yang tengah bersiap meluncur. "Maafkan aku," lagi-lagi hanya itu kata yang sanggup aku ucap."Aku ingin menebus semuanya, katakan! Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?" "Aku tidak ingin dikasihani," balas Mas Satria kemudian. "Dan tidak ingin sebuah penebusan, kenapa kamu belum mengerti juga.""Aku minta maaf, aku tidak pandai merangkai kata. Atau memberi penjelasan atas apa yang ada dalam hatiku. Apakah masih ada kesempatan untukku?" Aku benar-benar bingung, ini bukan rasa kasihan atau penebusan atas rasa bersalahku. Ini rasa yang sama yang aku miliki hanya untuknya. Bertahun-tahun aku memendamnya, menahtakan cintanya di tempat tertinggi dalam hatiku. Tidak bisa digantikan oleh siapapun, meski rasa itu menyiksaku."Aku mencintaimu, tidakkah kamu melihat itu semua?" Mas Satria menatapku lekat."Iya, aku bisa melih

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-29
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   CLBK?

    "Apa?" Setelah sekian lama, mendengar panggilan itu kembali pipiku terasa menghangat."Kangen aja manggil kamu dengan sebutan itu," jawab Mas Satria dengan senyum terulas tipis."Mas …." Sekarang gantian aku yang memanggil pria dengan sepasang alis tebal tersebut."Hm?" Dagu Mas Satria terangkat sebagai respon dari panggilanku. Tangan kanannya meraih cangkir kopi dan mengangkatnya."Apa hal ini tidak terlalu cepat?" tanyaku ragu."Maksudnya?" Mas Satria urung meneguk kopinya dan meletakkan kembali di meja."Hubungan ini," jelas ku kemudian."Kita bukan yang baru saja saling mengenal. Kita sudah melewati begitu banyak hal, terutama aku. Entah denganmu, mungkin kebersamaan kita dulu tak berarti apa-apa." Terdengar embusan napas kasar dari Mas Satria. "Kan sudah minta maaf." Aku membela diri, "Sudah jelas juga kan gimana perasaanku.""Iya, maaf."Aku terdiam tidak membalas apa-apa. Meski kami sudah saling jujur atas perasaan kami masing masing. Tetap saja Mas Satria belum bisa menepis

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-30
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Sebuah Pilihan

    "Ran … mama cuma mau yang terbaik untuk kamu. Harapan setiap orang tua adalah melihat anaknya bahagia tidak salah pilih, begitu juga dengan mama. Pengalaman dulu kita jadikan pelajaran." Mama memberikan alasan."Siapa yang salah pilih? Rania?" Aku menghela napas dalam dan mengembuskan perlahan kemudian. "Mama juga tau apa yang terjadi, kesediaan Rania waktu itu demi bakti tidak lebih. Itu pilihan kalian sebagai orang tua, dan Rania hanya bisa menerima karena tidak mau disebut sebagai anak durhaka." Setidaknya mama juga tidak akan lupa, apa yang mendasari keputusanku atau alasanku menerima perjodohan itu. Semua aku lakukan tidak lebih dari perwujudan bakti seorang anak. Bukan karena cinta atau hal lainnya. Bahkan aku tidak berharap apapun untuk diriku sendiri, harapanku hanya kebahagiaan orangtua. Selebihnya hanya rasa hambar yang aku harap memudar seiring waktu."Iya, kami juga tidak tau akan seperti itu jadinya. Karena itulah mama tidak mau hal seperti itu terulang kembali. Pikirkan

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-30
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Kata Hati

    "Yakin, Ma. Rania mohon restu dari mama, agar bisa jalanin hubungan ini. Mas Satria orang baik, dan Rania sangat mengenalnya." Tidak ada yang lebih baik dari sebuah restu dari seorang Ibu dan juga keluarga yang lain."Apa dia serius dengan kamu?" Sebuah pertanyaan kembali mama lontarkan."Iya," jawabku singkat sambil menarik bantal untuk bisa aku dekap."Ya … meski mama belum sepenuhnya yakin dan menerima, tapi, mama bisa apa. Jujur mama lebih suka kalau kamu dengan Roni. Hanya saja ini hidupmu, sebuah kesalahan telah mama dan papa lakukan dulu. Mama tidak akan memaksakan apapun, tapi, ingat anak perempuan seusiamu bukan waktunya lagi cuma pacaran, gandengan rentang renteng ke sana ke mari. Paham maksud mama kan?"Meski belum sepenuhnya, tapi, aku merasa lega atas keputusan mama. Aku juga yakin seiring waktu berjalan, pandangan mama pada mas Satria akan berubah. Ini hanya soal kebiasaan dan juga soal waktu."Mama … terima kasih." Aku berucap pelan sambil menatap mata mama yang duduk

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-31
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Salah Paham

    "Ngapain?" tanyaku pada Roni yang crngar cengir saat aku sampai di ruang tamu."Jemput kamu," jawab Roni kemudian."Makasih ya, Nak. Harusnya nggak perlu repot-repot." Mama bicara dengan senyum lebar. Di tangannya terlihat satu ikat besar kelengkeng jumbo."Nggak repot, tant. Panen sendiri juga kok." Roni tersenyum dengan sedikit menurunkan bahu saat bicara dengan mama."Dah siang, ayok." Roni beralih fokus padaku, dagu pria berkulit putih itu terangkat."Lah … aku bawa motor, ya sudah sana duluan." Aku menjawab kemudian mengerucutkan bibir, manyun. Ada-ada saja kelakuan, orang aku nggak minta jemput juga. Pagi - pagi sudah nongol buat jemput."Barengan aja kenapa? Biasanya juga gitu," ajak Roni lagi."Dah sana bareng aja," suruh mama. "Ayok." Mendapat dukungan Roni langsung tersenyum lebar."Iya … iya." Aku bersungut kesal. "Assalamualaikum," ucap salamku seraya mencium punggung tangan mama.

    Terakhir Diperbarui : 2023-10-31
  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Cemburu tanda Cinta?

    Aku kurang fokus pada apa yang Pak Agus dan yang lain sampaikan pagi ini. Masih kepikiran dengan kejadian barusan serta tatapan dingin Mas Satria di ruang absen tadi. Harusnya aku tadi memberitahunya saat perjalanan, tapi, semua sudah terlanjur."Ran … Rania." Mbak Wiwid karyawan divisi operasional menyenggol lenganku sambil memanggilku. Membawa kesadaranku kembali dari lamunan yang datang begitu saja. Karyawan yang lain juga ikut melihat ke arahku. Keningku sedikit mengkerut mencoba memahami apa yang terjadi.Astaga, aku segera beranjak merangsek ke depan sambil merogoh ponsel di saku. Giliranku menyampaikan pencapaian per hari kemarin. Sesaat aku mengatur napas sebelum semua menyadari kalau aku sedang tidak fokus. Layar ponsel aku usap dan membuka laporan di grup WA yang biasa aku kirim selepas closing alias penutupan."Terima kasih, ada yang perlu ditanyakan?" tutupku setelah membacakan pencapaian cabang. Mataku mengedar, tidak ada yang bertanya ataupun bicara. "Kalau tidak ada,

    Terakhir Diperbarui : 2023-11-01

Bab terbaru

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Danta 2 End

    Pandanganku terhenti pada sosok yang cukup aku kenal, meski mungkin dia tidak mengenalku. Satria, pria dari masa lalu Rania istriku terlihat berada di depan ruang praktek dokter Anna. Di sampingnya terlihat seorang perempuan berperawakan kecil seperti anak SMA, yang jelas itu bukan istrinya yang dulu. Karena kalau istrinya yang dulu aku sempat tahu saat dirawat disini.Tidak mungkin adiknya juga karena setahuku adiknya sudah meninggal, itu aku dapat dari cerita Rania. Apa mungkin itu istrinya dan Satria sudah menikah lagi, tetapi, perempuan itu terlihat sangat muda. Keduanya seperti sedang menunggu antrian periksa di dokter Anna di poli kandungan.Hamil?Kenapa jadi aku yang kepo dan ingin tahu, sudahlah. Aku melanjutkan langkah untuk menuju ruang praktekku. Kalau pun itu memang benar istrinya dan sekarang hamil itu akan lebih baik. Berarti Satria sudah menemukan kebahagiaannya sekarang. Aku tahu masih ada rasa bersalah atau apalah yang Rania rasakan selama ini

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   End Danta Pov 1

    PoV Danta Aroma wangi masakan menguar dan menghampiri Indera penciumanku saat aku berjalan mendekat ke arah dapur tempat Rania berada sekarang. Selepas salat Subuh tadi dia sudah berkutat di dapur untuk mengeksekusi resep masakan yang baru dilihatnya semalam di sebuah channel youtube. Wanita yang sudah hampir setahun aku nikahi itu memang punya kegemaran baru sekarang, yaitu mencoba resep masakan. “Wangi banget,” ucapku saat memasuki dapur, Rania menoleh dan tersenyum.“Semoga nggak keasinan lagi seperti kemarin,” jawab Rania dan kembali menarik pandangannya ke arah panci di depannya.Aku tersenyum mengingat kejadian kemarin, entah berapa sendok garam yang dia masukkan ke dalam masakannya. Kalau ada pepatah buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, hal ini tidak berlaku untuk Rania. Mama mertuaku pintar memasak dan enak bahkan pernah membuka catering juga cerita Rania, tetapi, berbenda dengan anak perempuannya yang juga istriku ini. Tetapi, R

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 22

    Duda itu Mantan PacarkuPart xtra 22*** Ketukan di kaca mobil sontak membuat dua insan yang tengah terbuai dalam debar asmara itu saling menjauhkan diri satu dengan yang lain. Wajah keduanya menghangat seketika dengan debaran di dada yang semakin kencang terasa. Aletha lekas menurunkan kaca mobil saat melihat keluar telah berdiri sahabatnya, Titan yang mengetuk pintu mobil Satria.“Ada apa?” tanya Aletha yang masih sedikit gugup kaget.“Jangan lewat sepanjang jalan Plaosan Timur ada kegiatan warga nutup jalan katanya, nanti lurus aja terus masuk ke kiri selepas lampu merah dekat pom bensin.” Titan memberi tahu kondisi jalan yang akan mereka lewati nanti ke tempat acara syukuran yang diadakan di sebuah restoran.“Oh … gitu, okay. Ya udah ini mau langsung ke sana.” Aletha mengangguk mengerti, Satria yang duduk di belakang kemudi ikut mengangguk.Sepasang pengantin baru itu tengah menetralisir perasaannya masing-masing karena

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 21

    Sepertinya ini adalah persiapan pernikahan tercepat dari sebelumnya yang pernah aku lakukan, karena setelah aku melamar Aletha hanya butuh waktu kurang dari 2 minggu saja sampai hari yang di tentukan, yaitu hari ini. Aku dan Aletha sepakat untuk menikah di Masjid samping KUA dengan disaksikan keluarga dekat saja, tidak ada resepesi yang akan digelar karena Aletha tidak menghendakinya. Keluarga Aletha hanya mengundang kerabat dekat untuk syukuran selepas ijab kabul.Ini bukan yang pertama, bukan juga yang kedua aku akan mengucapkan kalimat sakral sebuah janji suci, tetapi, aku berdoa ini menjadi yang terakhir aku melakukannya. Aku tidak ingin mengulang lagi untuk suatu masa nanti, biarlah kegagalan pernikahanku dulu menjadi sebuah pelajaran yang berharga untukku. Hari Sabtu jam 9 pagi ini kesendirianku akan aku akhiri dan aku akan membuka sebuah lembaran baru dengan cerita baru.Aku menyetir sendiri dan mempersiapkan semuanya sendiri, kemeja putih dengan jas d

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 20 Aletha

    Pov Aletha *** [Dari kantor aku langsung ke rumahmu] [Aku sudah OTW] Aku membuka aplikasi chat berlogo warna hijau di ponselku, dua pesan masuk dari Mas Satria yang biasa aku panggil dengan sebutan Om itu beberapa waktu yang lalu. [Iya, hati-hati di jalan] Sebuah kalimat balasan aku kirimkan kemudian, belum terbaca setelah beberapa detik. Mungkin dia sedang menyetir. Aku kemudian meletakkan ponselku di meja dan beranjak ke lemasri untuk memilih baju yang akan aku kenakan. Masih merasa aneh dengan semuanya, serasa mimpi, tapi, bukan mimpi. Bahkan beberapa hari yang lalu pria itu masih sangat ketus padaku, tapi, entah apa yang terjadi padanya hinga dia sampai mengatakan hal itu. Lalu bagaimana denganku? Aku juga tidak tahu kenapa mengatakan iya, tapi, aku juga sedang tidak main-main denga

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 19

    “Tidak.” Aku menggeleng meski Pak agus juga tidak akan melihatnya. “Kami tidak sedang mencari tempat pelarian, tetapi, mencari tempat untuk kami bisa saling mengisi dan melengkapi,” jawabku kemudian. “Aku mengerti, aku senang dengan hal ini. Aku menganggapmu bukan hanya rekan kerja, lebih dari itu dan Aletha adalah keponakan kesayanganku. Yang aku minta jangan pernah membuatnya patah lagi dan berbahagialah kalian. Aku akan bicara dengan mamanya Aletha setelah ini. Lebih cepat juga lebih baik daripada ada apa-apa nanti kalau ditunda- tunda.” Pak Agus memberikan dukungannya dan aku merasa lega untuk itu. Sekarang tinggal bicara lagi dengan Aletha untuk mempersiapkan semuanya dengan lebih matang. Mungkin aku hanya bisa pergi sendiri saat nanti mengutarakan niatku kepada keluarga Aletha karena di kota ini aku tidak memiliki keluarga selain Ibu saja. Aku menutup panggilan selepas mengucapkan salam, sudah jam 6 lebih dan aku haru

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 18

    “Iya,” jawabku sambil mengangguk. “Rania?” tanya Ibu ragu. “Bukan, Dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Mungkin sekarang waktunya aku untuk bisa menata kembali kehidupanku. Ibu pernah meminta aku untuk kembali mendapatkan hati Rania karena dia tidak tahu kalau Rania sudah menikah. Aku mengatakan pada Ibu kalau Rania sudah menikah dengan pria lain dan hal itu membuat Ibu merasa semakin bersalah padaku dan juga Rania. “Kamu yakin bisa mencintai perempuan lain?” tanya Ibu kemudian. Sebuah pertanyaan yang wajar karena Ibu tahu aku sangat mencintai Rania dan betapa terpuruknya aku karena patah hati. “Aku harus bisa meski semua membutuhkan waktu. Rania … sampai saat ini aku masih mencintainya, tetapi, aku juga harus melanjutkan kehidupanku. Dia juga sudah bahagia dengan kehidupannya dan tidak seharusnya aku masih berharap untuk dapat bersamanya.” Aku lega melihat Rania bahagia deng

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 17

    “Kamu serius?” tanyaku yang sedikit merasa kaget dengan pertanyaan Aletha. “Nggak,” jawab gadis itu enteng. “Ya seriuslah, Om.”“Beneran?” tanyaku lagi, padahal aku yang membuat pembicaraan ini dan aku sendiri pula yang masih merasa belum percaya.“Iya, ada beberapa point yang aku sepakat dengan pemikiran, Om. Karena dunia akan tetap berjalan bagaimanapun keadaan kita. Tidak akan ada yang peduli pada diri kita selain diri kita sendiri dan hidup juga sebuah pilihan bukan? apakah kita akan tetap berdiam membenamkan diri dalam kesakitan atau kita mulai berusaha membebaskan diri dari sebuah belenggu luka.” Aletha terlihat serius dengan bicaranya.“Sebuah hal baik katanya harus disegerakan, setidaknya untuk menghindari fitnah dan membuang waktu hanya untuk sekedar pengenalan. Setidaknya kita memiliki niat yang sama, sama-sama ingin lepas dari masa lalu dan melangkah ke depan untuk kehidupan baru. Aku berharap ini sebuah keputusan yang tepat dan aku ha

  • Atasan Duda Itu Mantan Pacarku   Xtra 16

    Pov Satria “Nggak suka becandanya, bisa bahas hal lainnya.” Raut wajah Aletha berubah. Wajar saja dia berpikir demikian sedangkan kami memang belum lama saling mengenal, apalagi aku selalu bersikap ketus padanya selama ini. Aku juga belum yakin denga napa yang aku katakana, tetapi, ada sebuah dorongan yang tidak aku mengerti untuk aku mengatakan hal ini padanya. Aku merasa tidak ada yang buruk dengan pemikiran dari Pak Agus meski aku tidak tahu dia sedang serius atau hanya mencandaiku. Kami sama-sama terluka oleh masa lalu dan kami butuh seseorang untuk saling menguatkan. Tetapi, aku tidak yakin juga apa dia bisa menerimaku. Tetapi, akan lebih baik aku ungkapkan apa yang menjadi keinginanku masalah diterima atau ditolak itu urusan nanti. Setidaknya aku sudah berusaha keluar dari kubangan nestapa masa lalu yang selalu membayangi perjalanan hidupku. “Aku serius,” jawabku kemudian. “Tapi kenapa?” tanya Aletha, kedua tangannya mengenggam gelas minumnya dengan pandangan mata yang me

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status