Keesokan harinya, ketika aku sedang mencoba menghilangkan nuansa sedih yang menggantung sepanjang malam di toko kelontong—dengan duduk di hadapan batu nisan kakakku—aku memikirkan banyak hal.
Aku sering menceritakan banyak hal pada batu berukiran nama kakakku ini seolah dia mendengar semua yang kukeluhkan sepanjang empat tahun terakhir. Dan kali ini bukan salah satunya karena aku tidak ingin diketahui siapa pun. Laura bilang Kawasan Normal tahu aku ditangkap, jadi kalau tiba-tiba aku berkeliaran, rasanya situasi akan semakin tidak terkendali. Jadi, dengan penyamaran tertutup ala Rena, aku hanya membisu seolah sedang bersama Kakak.
Kemudian karena aku tidak ingin terlarut dalam kesedihan, aku memainkan bunga, mengayunkannya bak tongkat sihir. “Yah, andai kita bisa melakukan sihir—astaga, menyenangkan sekali mengayunkan bunga ini.” Aku tertawa seorang diri.
Sensasi ini seperti menunjukkan sisi idiot di depan penghuni makam
Dan
[Aku percaya Alicia Redrich meninggalkan sesuatu. Dia perencana hebat. Jadi, aku yakin, atau setidaknya aku berharap Alicia Redrich meninggalkan suatu informasi di suatu tempat. Aku tahu Rumah Pohon peninggalan ayahku, tapi rumah itu diberikan pada Charlie Redrich, bukan padaku. Brengsek memang. Tapi ayahku bukan tipe yang melakukan itu tanpa alasan. Ada sesuatu di balik ini yang kurasa tidak bisa dimengerti banyak orang. Termasuk aku.][Aku tahu kalau sejak awal di luar garis. Alicia Redrich sadar kalau ayahku sengaja tidak memberikan kode akses itu padaku, padanya, atau tidak dibuang. Dia mewariskannya pada orang yang dia percaya sebagai pemegang obor pergolakan terakhir. Erwin Hood percaya Charlie Redrich menjadi pelari terakhir dari estafet obor pergolakan mengerikan ini. Bahkan sebelum dia meninggal.][Jadi, aku memikirkan ini. Bagaimana kalau Rumah Pohon ternyata salah satu kunci menemukan peninggalan Alicia Redrich? Dia tahu pola ayahku, ja
Kalau aku mengingat rekam jejak kakakku di Akademi Grinover, aku yakin dia sudah melakukan banyak hal lebih dari kata luar biasa. Daya tangkapnya bisa melebihi logika normal. Kecerdasannya tidak bisa diukur—secara teknis, dia sudah menjadi idola, bahkan bagi orang-orang Distrik Lockwood itu sendiri.Di Akademi Grinover, terdapat satu sistem yang dapat diduduki oleh orang-orang tertentu. Mereka bisa menggerakkan suara mayoritas dan berhak memerintah sebagai eksistensi tertinggi kedua setelah kepala sekolah. Sistem itu bernama OSIS, yang dipimpin Ketua OSIS—yang dalam artian lain, Ketua OSIS adalah eksistensi tertinggi dari pihak siswa yang bisa menggerakkan suara satu sekolah.Hal tergila yang dilakukan kakakku pada sistem itu: dia mengukir sejarah.Secara teknis, kakakku diawasi Lockwood, bahkan secara terang-terangan. Dia menerima beasiswa penuh di Akademi Grinover—sejak tahun pertama, beda denganku yang dari tahun kedua—dan hidup dengan
4 Desember 2021.Aku terdiam di ruangan seorang diri. Tengah malam.Aku berniat menghubungi Helva. Biasanya dia tiba-tiba tahu, tetapi Tokio Eki Furuzawa bilang itu mustahil. Jadi, aku berusaha keras menghubunginya, dan setelah delapan kali mencoba, akhirnya Helva mengangkat.“Sebaiknya kau meneleponku bukan karena tidak bisa tidur dan meminta sang Ratu Helva bercerita dongeng kancil karena ada teknologi canggih bernama kotak suara. KAU PIKIR INI JAM BERAPA?”Aku melirik jam. “02.53.”“02.23,” koreksinya. “Dari mana kau tahu nomorku?”“Ada sistem canggih bernama buku tahunan sekolah yang secara insidental berhasil kudapatkan setelah memeras Bu Hiroko. Kebetulan aku melihat foto Rena dan kau tahu—wow, di sini wajahnya tersenyum lebar dan aku—”“Seperti ikan mati,” potongnya. “Paman Tokio punya nomorku.”“Aku tahu itu. Tapi tadi
Ada banyak desakan aneh menguasai kepalaku.Rasanya seperti akan muntah. Tokio Eki Furuzawa mematung. Helva juga berusaha meyakinkan dirinya. Dia mengerjapkan mata berulang kali.Dan kakakku tertawa. [Charlie. Aku di sini.]Aku mengedarkan pandangan. Tidak ada siapa pun. Aku menatap layar lagi, dan—tidak. Dia sudah meninggal. Tidak seharusnya dia memasang ekspresi itu.“Dia belum meninggal?” tanya Tokio Eki Furuzawa.[Tapi aku tidak di sana.] Kakak tersenyum, tetapi seperti tidak tersenyum. [Kuharap yang menonton ini Charlie karena ini pesan untuknya. Kau di sana?]Aku menggeleng, mencoba menerima itu.Dan, ya, sepintas aku berharap kecil. Barangkali dia memang tidak pernah meninggal. Dia hanya memalsukan kematian, bersembunyi layaknya gerakan tidak terduganya—aku berharap khayalan fiktif itu terjadi.[Ini pertama kali untukku.] Kakak duduk, memikirkan kata-kata. [
Sebelum membongkar ruangan kakakku, kami sepakat membongkar lantai bawah yang kurang lebih membuat kami heran karena rumahku ditinggal selama empat tahun, tetapi cukup bersih dibanding rumah Tokio Eki Furuzawa. Maksudku, rumahku tetap kotor. Barang-barang tetap berdebu, kusam, dan hampir tidak layak pakai. Namun, beberapa bagian—seperti ruang tengah dan dapur—kelihatan bersih seolah seseorang baru memakainya sebagai tempat tinggal.“Kurasa ada yang kebetulan menebak kode akses,” cetus Helva.Aku dan Tokio Eki Furuzawa terdiam. Kami sempat bertautan mata dan aku yakin kesepahaman timbul di antara kami. Kode akses hanya diketahui tiga orang. Dan dengan eliminasi karena satu orang sudah tiada, maka jelas, hanya satu orang yang mungkin. Aku mengerti kalau Tokio Eki Furuzawa juga menduga itu.“Sebaiknya kita berkeliling,” katanya.Pada dasarnya, ini rumah standar. Ada enam ruangan. Dapur, kamar mandi, kamarku, kamar kakakku,
“Bagaimana rumahmu masih punya akses listrik?” tanya Helva. “Entahlah,” jawabku. “Aku tidak bertanya-tanya waktu kecil. Dan aku juga takkan paham. Tapi kalau kau memikirkan ada alat yang bisa memindai kode akses, lalu ruangan secanggih itu di atap, aliran listrik bukan lagi masalah.” Aku menemukan Tokio Eki Furuzawa masuk toilet, dan tiba-tiba dia mulai memanggilku. Katanya meminta bantuan memutar keran. Sebenarnya aku hampir mengumpat—bagaimana bisa orang yang bisa mengerti obat-obatan sekali pandang tidak bisa memutar keran?—tetapi ternyata keran memang sulit diputar. Jadi, kami mencetuskan memutar keran sambil mengunci siku pada wastafel. Bersama-sama kami menopang kaki pada dinding agar mendapat tenaga ekstra, kemudian memutar keran dengan kekuatan penuh. Tidak sampai tiga detik, keran berhasil diputar, dan kami terlempar. Keseimbanganku hilang, kepalaku membentur pinggiran wastafel, dan semburan air menyerang kepalaku. Untuk beberapa saat, aku berpikir mengapa a
Ketika Tokio Eki Furuzawa dan Helva memutuskan menyelidiki ruang kerja kakakku, aku memilih berdiam di kamar dengan tiga pesan terakhir Rena.Sebenarnya ada banyak gagasan yang bisa kulakukan. Barangkali aku bisa ikut membongkar loteng dan mulai menemukan petunjuk baru. Namun, tidak. Aku masih cukup kacau. Aku tidak bisa menerima fakta bahwa selama beberapa tahun terakhir, kegelisahan di kepalaku justru membuat kenangan masa laluku mengabur. Begitu sentakan mural dan rekaman membangkitkan itu, segala emosi yang selama ini terpendam justru membuatku sangat terpukul.Jadi, aku hanya terdiam, menatap radio kecil bersama earphone yang Helva sebut sebagai: “Itu perekam suara, Idiot.”“Aku benci sekali perekam suara,” kataku, merujuk pada kakakku. Jadi, di depan Helva, aku memasang earphone, dan memutarnya.Bodohnya, aku langsung mengeras dengan mata membeliak.“Sepertinya bukan sekadar pesan,” kata Helva. Dia menyahut
Baru saja menginjakkan kaki di loteng, Helva menyambutku tanpa menoleh. “Selamat datang, Kuda Jantan. Begitu cara menyebutnya? Kau menemukan sedikit pencerahan?” Dia memainkan Solitaire di meja komputer. “Kupikir aku harus turun karena kau tidak segera naik. Baik-baik saja?”“Jati diriku menangis,” kataku. “Di mana Paman?”“Kurasa sedang menangisi jati diri juga.”Aku mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Tokio Eki Furuzawa—dan ketemu. Dia membaca arsip Koran Bawah Tanah. Kami cukup terpisah, tetapi aura di sekitarnya bisa kurasakan. Aura yang keras, seolah dia memusatkan seluruh perhatiannya. Jadi, ya, barangkali aku tahu apa yang dia cari. Dia pasti mencarinya. Sudah sewajarnya dia mencari kejelasan masa lalunya.“Kalian menemukan sesuatu?” tanyaku, duduk di samping Helva.“Komputer di depanmu,” katanya.Aku menggerakkan kursor di komputer depanku
18 Desember. Hari Sabtu.Suasananya ramai. Banyak orang lalu-lalang dengan boneka. Aku ingat ada yang menyebut Sandover seperti kota mati, tetapi ketika melihat taman bermain ini, segalanya berbanding terbalik. Padat, penuh, bahkan tidak ada jeda.“Sudah lama aku mau ke sini bersamamu!” seru Rena antusias, menarikku ke menara tinggi itu. “Waktu di Rumah Pohon, aku berpikir apa kita bisa setinggi itu. Ayo coba—HEI! JANGAN KABUR!”Sekarang dia tidak ragu lagi menggamit—mencengkeram jemariku.Aku melihat menara—tidak, itu bukan menara. Itu wahana roket. Meninggi dengan tenang, lalu meluncur cepat seolah ditimpa gravitasi. Aku pernah menatap itu dari kamera pengawas. Itu tempat yang sama sekali tidak ingin kudekati.Melihat raut wajahku, Rena menyeringai jail. “Takut, ya?”“Tidak, kok,” kataku. “Aku cuma takut hantu.”Jadi, akhirnya kami naik—meski aku ben
Tokio Eki Furuzawa dan Helva serempak menyambutku di gerbang.Tentu saja gerbang pemakaman. Saat itu hampir gelap, dan aku sudah cukup kaget dengan gerbang yang—sungguh, berhiaskan bunga-bunga seolah ada ratusan orang dikubur. Kami berjalan dan sepanjang itu jalan penuh karangan bunga.“Mewah, bukan?” tanya Helva.Aku melihat wajahnya, dan—kalau dipikirkan, iringan bunga ini juga yang mengantarkan ayahnya ke peristirahatan terakhir.“Kau mau menangis?” tanyaku.“Tutup mulutmu. Dan aku tidak menangis.”Tidak sulit menemukan Rena karena kerumunan orang benar-benar terlihat mencolok dari gerbang. Makam Tracy Lockwood memang tidak akan sepi. Dan—bukan main. Batu nisan Tracy Lockwood kelihatan bak pusaka perjuangan. Dilapisi marmer putih mengkilap, sampai bayangan orang-orang terpantul sempurna dalam tekstur marmer—yang secara insidental juga membuat Rena menemukanku.Dia menoleh,
Keesokan harinya, aku dihakimi Tokio Eki Furuzawa dan Helva.Aku punya gagasan menghadiri pemakaman Tracy Lockwood dan Malvia Lockwood, tetapi mereka kompak melarangku habis-habisan.“Pertama, kau lupa baru saja diperiksa polisi kemarin?” tanya Helva. “Kau mungkin hanya dicurigai terlibat dan beruntungnya kau memang tidak terlibat, tapi kau pasti bertemu Malvia Lockwood beberapa hari sebelum ini, kan? Tunggu. Kau tidak perlu menjawabnya. Yang mau kukatakan: sekarang yang harus kau pikirkan bukan hanya kau dan Lockwood. Tapi pers, dan juga masa depanmu!”“Betul,” kata Tokio Eki Furuzawa, mendukung.“Dan, menurutmu apa yang akan muncul di berita utama ketika kau hadir di sana? Oke, aku tahu kalau kau tidak datang juga akan memunculkan berita utama, tapi kau tidak perlu datang karena, jelas, kau akan membuat suasana pemakaman aneh. Bayangkan orang yang ditindas datang ke pemakamannya—itu aneh!”&ld
13 Desember. Kembali bersekolah, aku berjalan layaknya selebritis.Semua orang menyapaku, mengajakku bercanda—yang benar saja, mereka yang dulunya memberi hadiah sampah, kini benar-benar memberi hadiah berharga yang layak dipegang. Sungguh, aku tidak habis pikir. Dan ketika aku berhasil duduk di tempatku—yang kuingat sebagian waktuku habis dengan melakukan hukuman—kini tidak ada lagi surat kematian, melainkan mereka yang bersuara menggoda bak ingin menggapai tubuhku bersama kaum gosip yang menduga aku kencan dengan bidadari bernama Rena Lockwood.“Maaf karena aku menjelekkanmu, Redrich,” kata salah satu gadis. “Saat itu sepertinya mataku buta. Sekarang aku rekanmu.”“Mm... kurasa kau perlu ke dokter bukan minta maaf,” kataku.“Hei. Hei. Kapan kau jadian dengannya—maksudku, dengan....” Dia seperti sulit mengucapkan nama Rena, dan benar. Dia menggeleng. “Astaga. Aku belum sanggup
12 Desember. Minggu pagi.Aku kembali ke rumah untuk menunjukkan ruang kerja kakakku pada Bu Hiroko. Sebenarnya sebelum pesan Tristan Lockwood ditemukan—saat aku masih di lantai bawah bersama bantal beraroma Rena—Helva menemukan rekaman yang dibuat kakakku untuk Bu Hiroko. Disimpan dalam CD, dengan kotak plastik yang bertuliskan: BU HIROKO YANG KUCINTAI.Jadi, aku memberikan itu pada Bu Hiroko, dan dia memintaku agar segera memutarnya. Maka aku memasukkan itu ke salah satu komputer, melihat senyum khas kakakku di dalam layar untuk kedua kalinya.Bu Hiroko menggeleng. “Aku merasa dia di sini, menatap mataku.”“Aku juga merasakan itu,” kataku.Rekaman itu berisi permintaan maaf dan penyesalan kakakku karena tidak bisa memberitahu Bu Hiroko apa yang akan terjadi. Bahkan, kakakku tahu kalau barangkali Bu Hiroko akan menyaksikan detik-detik kematiannya. Itu membuatku bergejolak, dan Bu Hiroko menangis. Aku merasa bahw
“Kau menggapai pesan,” sambut Malvia Lockwood. Dia melempar pistol, mengulas senyum yang tidak pernah kubayangkan. Air matanya mengalir. “Anak Muda, kau mau duduk di sisiku untuk terakhir kali?”Maka aku juga melempar pistol, menatap jasad Olso Bertoin yang penuh darah. Dia berubah. Maksudku, Malvia Lockwood. Setidaknya, itu yang kuyakini. Dia tidak lagi berdandan menor layaknya ibu-ibu di pesta murahan. Hanya alami—meskipun lusuh, debu, kotoran, dan keringat menghiasi sebagian besar wajahnya.“Aku selalu mempelajari tipe pembunuhan yang terjadi pada Lockwood.” Aku duduk cukup dekat darinya sampai aku sendiri tidak percaya. “Yang pertama, terstruktur. Itu metode Louist Hood. Yang kedua, area pembunuhan selalu steril.” Aku mengedarkan pandangan, tersenyum konyol. “Hanya perasaanku, atau situasi memang menyisakan aku dengan Malvia Lockwood?”Dia mendengus. Kupikir mengejek, tetapi dia tersenyum miri
11 Desember. Pukul 17.57Aku bilang ke Rena kalau mau jalan-jalan sore menuju gelap, dan—secara teknis—mengajaknya, tetapi dia bilang, “Aku harus mengurus administrasi.”“Sekolah?”“Rumah sakit,” gumamnya, seperti enggan. “Kondisinya buruk.”Aku ingin bilang kalau tidak akan ada yang terjadi pada Tracy Lockwood, tetapi benakku melarangku bicara.Dan Rena mengerti. “Tenanglah. Kita bisa jalan-jalan kapan saja.”“Rasanya tidak sopan bilang begini. Tapi—”“Kami hanya berikatan darah, Charlie. Tapi apa yang ada pada kami sudah tidak ada. Maksudku... kau tahu apa yang kubilang. Kalau memang ada yang bisa mengurusnya, dengan senang hati aku menyerahkan itu.”Kupikirkan begitu saja kalau Rena tidak mau berurusan lagi dengan segala hal tentang keluarganya. “Mau kutemani?”Dia tersenyum. “Kita punya banyak hal y
11 Desember. Sabtu pagi.Aku berniat keluar—untuk pertama kali dari rumah Tokio Eki Furuzawa. Saat itu masih pukul tujuh. Dan Rena menghentikanku tepat di pintu keluar.“Mau ke mana?” tanyanya, dengan mata menahan kantuk.“Tumben melihatmu bangun siang,” kataku.“Mau ke mana?” ulangnya, tidak peduli.“Jalan-jalan sebentar. Cuci mata. Mau ikut?”Dia tak menjawab, hanya terdiam, sebelum akhirnya bicara, “Kemarin aku menemui kakek. Dia belum siuman, tapi Olso Bertoin menitip pesan untukmu.”“Untukku?”“Ada yang menunggumu. Di tempat yang hanya kau yang tahu.”***Pagi itu cuacanya tidak terlalu buruk, yang dalam artian lain juga tak terlalu baik. Cerah berawan. Tidak terlalu terik dan tak terlalu mendung. Cuaca yang cocok untuk berjalan-jalan dan merefleksikan diri.Sebenarnya aku punya gagasan pulang ke rumah, melihat mu
Malam itu juga Tokio Eki Furuzawa mengajakku pesta minum kopi di sudut rumahnya—paling sudut, memang. Area yang tak terjangkau Rena—yang menurut keterangan Tokio Eki Furuzawa, ruangannya berada di sudut berseberangan. Kami duduk di gubuk kecil. Tanaman hias mengelilingi kami. Dan malam terasa tenang.“Kau tukang onar nomor satu, Sobat Kecil.” Dia memuji. “Bersulang.”Kami bersulang dengan cangkir kopi.“Aku tak mengira kasus berakhir seperti ini.” Dia menyalakan cerutu. “Tapi Malvia Lockwood masih dalam pencarian meski pengikutnya diasingkan. Tapi itu tidak mengubah ketegangan yang terjadi. Polisi perlu dirombak.”“Karena itu kau langsung mengamankan Rena kemari,” kataku.“Orie Cottland juga kabur.” Tokio Eki Furuzawa mengembuskan asap. “Dia pasti dapat ganjarannya. Omong-omong, bagaimana traumamu?”“Sudah pergi ke ahli. Lumayan membantu. Ak