“Randi.” Mataku membulat sempurna ketika lelaki itu masuk ke dalam kamarku. Untuk apa ia ke sini? Bukankah ini pesantren? Kenapa ia bisa seenak saja memasuki kamar.“Untuk apa kamu ke sini? Kamu gak boleh masuk!” Aku mendorong tubuhnya agar tak masuk lebih dalam. “Aku bawakan pakaian ganti untukmu. Apa kamu gak ingin mandi dan ganti pakaianmu?” Randi menampakkan tas kresek besar ke hadapanku. “Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu, ingat itu.” Ia bergegas pergi meninggalkan kamar.“Randi, tunggu!” teriakku.“Ada apa lagi?” ia menoleh, hanya mukanya saja.“Kamar mandinya di mana?” Randi menunjuk salah satu bangunan dan ia kembali melanjutkan langkahnya. Aku menutup kamar, kembali menjatuhkan ke ranjang yang tertutup kasur tipis dan seprei bergambar bunga. Untuk sesaat aku melupakan tentang Mas Zul dan Mbak Zahra. Aku buka plastik kresek itu, hendak mengambil pakaian dan menyegarkan tubuhku. Ku ciumi tubuhku sendiri, yang kini baunya luar biasa, untung saja Randi
Meskipun aku terheran , aku tetap nurut apa yang di perintah, membaca surat All Fatihah hingga kurang lebih 7x.Para santriwati kini memandang ke arahku, hanya aku yang di perintah Ustadzah membaca surat yang sama hingga beberapa kali. Apakah bacaanku terlalu buruk? Aku malu menatap tatapan-tatapan wanita itu ke arahku.“Surat Al Fatihah adalah induknya Al Qur’an, di surat tersebut mencakup banyak keutamaan-keutamaan. Bahkan Surat Al Fatihah di wajibkan dalam tiap bacaan sholat.” Ustadzah cantik itu bersuara, hingga para santriwati memandang ke arah yang sama sepertiku.“Bahkan, dalam hadis yang di riwayat kan Imam Bukhori, seagung-agungnya surat dalam Al Quran ialah Alhamdulillahi robbil Alamin.”Para santriwati mendengar ucapan Ustadzah dengan seksama.“Dalam Al Fatihah, meliputi prinsip Agama Islam. Aqidah, ibadah, syariah, keyakinan atas hari akhir,keimanan, keesaan serta permohonan pertolongan. Maka dari itulah Ustadzah minta kalian semua memperbanyak bacaan Al Quran, terutama S
POV. Zulkifli“Mas, kenapa perasaanku tidak enak ya? Apa sebaiknya Mas tanya kabar, Dek Aisyah dulu.”Aku yang kini fokus menyetir, merasakan hal yang sama seperti Zahra. Apalagi saat kami berangkat, ia masih di liputi kesedihan. Aku berjanji membawanya pergi tapi meninggalkannya begitu saja. Aku menghentikan laju mobilku, melipir ke tepi jalan dan mematikan Mesin kendaraan beroda empat ini. Ku pegang layar pipihku, menghubungi Aisyah. Tak ada jawaban. Memang kebiasaan Aisyah membiarkan ponselnya begitu saja hingga terkadang ia tak sadar ponselnya mati kehabisan baterai. “Bagaimana, Mas?” tanya Zahra yang tampak khawatir.Aku menggeleng.“Coba hubungi ibu, Mas!”Benar juga ucapan Zahra, aku bahkan sampai lupa jika di rumah ada ibu. Kembali ku sentuh layar pipihku, mencari nama ibu dalam kontak panggilan dan segera kulayangkan panggilan. Tak ada jawaban. Kenapa mereka kompakan tak angkat telfon ku? Baru saja kuletakkan ponsel itu di dashboard mobil, terdengar dering menyapaku.
“Mas, kita cari Dek Aisyah pelan-pelan. Yang terpenting Mas Zul tenang dulu, jangan sambil emosi,” ucap Zahra sambil memegang pundakku. “Bagaimana aku bisa tenang, Dek? Aisyah pergi? Ia bahkan tak pernah tahu jalan sini, ia juga tak memiliki keluarga selain kita. Mau ke mana dia? “ Aku semakin frustasi kala mengingat istri kedua ku itu. Aku seperti lelaki yang paling gagal tak pernah mampu menjaga istri-istriku. Terlalu sering aku menyiratkan luka di hatinya dan kini ia pergi tanpa ku tahu ada di mana.“Mas, sebaiknya kamu ambil air wudhu dulu. Tenangin diri dulu, biar Zafran bersamaku. Mas Zul tak akan bisa mengambil keputusan dengan emosi seperti ini.” Aku menurut dengan ucapan Zahra, aku serahkan Zafran ke pangkuannya dan kini aku membasuh muka ku dengan air wudhu. “Astagfirullah,” ucapku sambil memegang dadaku, berharap emosi ku yang menggebu kini semakin meredam.“ini, Mas. Minum teh hangatnya dulu.” Zahra meletakkan secangkir teh di atas meja di depanku. “Mas mau cari Aisya
Aku segera berlalu, tak sabar bertemu Aisyahku.Baru saja aku melajukan motor ini, kulihat kerumunan yang membawa seseorang memasuki mobil. Ya, sudahlah. Orang itu sudah banyak yang menolong, aku tak ingin membuang waktuku untuk menemukan istriku. Ku tarik gas di motor matic ku lebih kencang. Laju motorku berhenti di sebelah mushola kecil yang di sebutkan Rahman temanku, aku menatap sekitar mencari keberadaan Aisyah. “Assalamualaikum, Ustad Zulkifli.” “Waalaikumsalam,” ucapku. Ku arahkan pandangan ke sumber suara. Wanita berkulit sawo matang dan berjilbab hitam ini menyapa dan menghampiriku. “Maaf anda siapa? Kenal saya dari mana?” “Siapa yang tidak kenal ustad kondang seperti, Ustad. Jika Ustad ke sini untuk menjemput Mbak Aisyah, ustad telat. Ia sudah pamit beberapa waktu yang lalu.”‘Ya Allah, Ya Robbi. Kenapa kamu harus pergi, Dek? Kenapa kamu tak menunggu lebih lama?’“Kalau boleh tahu, ke mana istriku pergi?” “Pamitnya, ia mau pulang menemui Ustad.” Lantas kenapa sampai
Aku memutar gagang pintu kayu itu. Membuka nya perlahan , kulihat Umi Syafaah duduk bersama Abi Maimun. Di depannya ada ...Aku mematung, tak mampu berucap.Lelaki berkulit putih dengan janggut tipis ini berdiri tepat di hadapku, ia memangku Zafran. Dua lelaki yang begitu ku cintai, dua lelaki yang menjadi pemilik hatiku ini.“Dek Aisyah,” ucap Mas Zul.Aku tersenyum tipis, menampakkan kerinduan ku kepada mereka berdua.Oek.. Oek ... Tangisan Zafran mengisi ruangan, pipi chubby dan tubuh gemoy yang begitu kurindukan. Kamu terlihat sedikit lebih kurus, Nak.“Zafran.” Mas Zul memberikan bayi itu kepadaku, kupeluk ia, ku ciumi ia. Air mata yang dari tadi ku tahan kini tumpah, merasakan keharuan dalam situasi ini. Aku masih tak percaya bisa kembali melihat mereka kembali.“Abah sama Umi permisi dulu ya, Nak.” Ucap Abah Maimun dan istrinya meninggalkan ruangan.Perasaan takut menyelimuti tubuhku, bagaimana mungkin Mas Zul bisa ke sini bersama Zafran? Apa ia akan menghardik ku seperti yang
Aku mengasihi Zafran dan Mas Zul terus saja menemaniku dan turut serta mengelus rambut Zafran. “Mbak Zahra mana, Mas? Apa dia tidak ikut?” tanyaku sesaat setelah menyadari tidak adanya wanita cantik bertubuh semampai itu. “Pamitnya ke belakang, kenapa lama sekali.” Mas Zul memandang lorong jalan menuju ke kamar kecil. Mbak Zahra berjalan maju dengan hidung dan mata yang memerah. Entah sejak kapan wanita cantik itu berdiri di situ. “Alhamdulillah, Dek. Kamu baik-baik saja,” ucap Mbak Zahra sambil memelukku. “Kamu tahu bagaimana khawatirnya Mas Zul tanpamu? Ia bahkan jarang tidur hanya untuk memintamu dalam sudutnya.”Aku melirik ke arah Mas Zul, tampaknya lelaki itu memang kelelahan dan kurang tidur. “Zafran pun tak kalah rewel tanpamu,” Mbak Zahra mengusap lembut rambut lelaki kecil itu. Aku tersenyum mendengar ucapan Mbak Zahra. Begitupun aku yang merindukan mereka.Zafran kini tertidur dan melepas sumber asinya, seperti nya lelaki kecilku itu memang sudah kekenyangan.“Mari,
“Jadi kamu pikir ibu sengaja menjebakmu?” Wanita paruh baya itu menatapku dengan sengit sambil menunjuk ke arahku. “Bukan, Bu. Maksud Aisyah tidak seperti itu.” Aku menggeleng, menolak prasangka ibuku.“Ya Allah Gusti, Nduk. Kenapa kamu tega sekali menuduh ibu seperti itu. Ibu memang kurang suka kamu karena masa lalu mu buruk. Tapi bukan berarti ibu buat fitnahan sekejam itu.”‘Dari perkataan ibu justru membuatku yakin, mungkin ini semua adalah perbuatan beliau. Ibu yang sengaja mengunciku dari luar, dan ia mendatangkan lelaki itu, serta masuk ke kamarku di waktu yang tepat. Kalau bukan ibu siapa lagi? Aku bahkan tak memiliki teman ataupun musuh di sini. ‘‘Astagfirullah, kenapa prasangka buruk itu datang, ibu telah bilang kalau ini semua bukan perbuatannya. Kenapa kamu harus memutar balik fakta, Aisyah. Kamu hidup di pesantren selama seminggu. Kenapa rasa ikhlas dan jiwa dengkiku tidak juga berkurang.’Hatiku kini saling bertaut. Mengungkap opini masing-masing. “Bukan mencari sia
Dalam kebingungan aku menatap wajah lelaki yang kini berada di sampingku. Dia tersenyum manis menyimpulkan kebahagiaan di dalamnya. Apa maksudnya? Ia membiarkan Arini pergi begitu saja dalam keadaan hamil? Bukankah Mas Zul itu suaminya? Ia wajib menafkahi lahir batin kepada dua istrinya secara adil.“Alhamdulillah, Dek! Satu persatu masalah keluarga kita telah menghilang.”“Apa maksudmu, Mas? Masalah? Arini itu istrimu, Mas! Istigfar, Mas. Jangan sampai kamu menyesal dengan membuang Arini begitu saja. Ia seorang wanita, dan ia tengah hamil, Mas.”“Nanti Mas jelaskan sambil makan bakwan hangat buatanmu.”Mas Zul mengalungkan lengannya ke pundakku.“Bakwan?” Aku melepas pelukan itu dan berlari menuju dapur, benar seperti dugaanku. Bakwan di penggorengan sudah berkepul asap dengan warna gelap. “Gosong, Mas,” ucapku sambil melirik ke arah Mas Zul yang kini berdiri di sebelahku.Ia tertawa dan diikuti Zafran yang turut serta memamerkan gigi dengan tawa riangnya.**Aku menatap luar dari
Brangkar rumah sakit menyambut kami, segera dibawanya tubuh tak berdaya itu memasuki ruang IGD, sedangkan aku berdiri mematung menunggu kabar Randi. “Maaf, Bu. Ini ponsel bapak Randi.” Seorang perawat berseragam putih itu memberikan sebuah ponsel serta dompet kepadaku.Aku melihat layar pipih itu hendak memberi kabar keluarganya. Sementara ponselku tertinggal di kamar, aku lupa membawanya. Aku memencet tombol on untuk mengaktifkan handphone yang mati ini, berharap layar pipih ini kembali menyala. Ada sebuah sandi di dalamnya. Ya Tuhan, bagaimana aku mengisi sandi itu. Beberapa kali aku mencoba memasukkan kode umum seperti 123456 dan yang lainnya. Namun, selalu sandi salah tertulis di dalamnya. Apa aku harus kembali menuju gedung tadi untuk memberi tahu keadaan Randi? Ditambah lagi hujan deras masih enggan untuk berhenti. Aku kembali memasukkan sandi yang bagiku tak masuk akal. Hari kelahiranku. Ponsel itu terbuka memasuki beranda depan. Ada rasa sakit di dalamnya, apakah sampai se
“Akadnya apa belum mulai, Umi?”“Randi, Syah. Randi ....”“Randi kenapa, Umi?”“Randi pergi.”Aku menatap Anisa yang masih duduk menunggu pengantin lelakinya datang. Aku tak tahu bagaimana perasaan wanita cantik itu saat ini, namun kuyakin pasti hatinya hancur berkeping menerima kenyataan pahit yang hampir tak terpikir oleh logika. Bagaimana mungkin lelaki itu pergi? Kenapa Randi begitu tega memberikan noda gelap dalam keluarga Anisa, wanita baik nan cantik itu.Seorang wanita paruh baya mendekati tubuh Anisa yang dari tadi duduk mematung di depan meja akadnya, sepertinya perempuan itu meminta Anisa berdiri meninggalkan ruangan. Namun, wanita cantik itu tampak enggan. Ia menggeleng dan tetap bertahan di posisinya, membuat hati ini pilu melihat kejadian itu. Kulihat beberapa kali ia mengusap matanya. Aku yakin saat ini air bening keluar dari sudut matanya. ‘Maafkan aku, Anisa!’Beberapa jam yang lalu.“Abi mana, Umi?’“Abi di kamar Umi Arini, Sayang.”“Umi Arini lagi. Ya sudah, Zafran
Suara adan saling bertaut antar mushola, kupanjatkan doa kepada sang pemilik semesta, tak lupa syukur atas nikmat sehat, nikmat anak Soleh, nikmat kebahagiaan dan nikmat rejeki. Aku kembali berkutat dengan meja dapur yang terus menemaniku beberapa tahun ini. Tak lupa seusai itu aku selalu membawa bekal untuk makan siang di tempat kerja dan untuk Zafran di kelasnya.“Dek, besok pagi kan akadnya Randi. Apa Mas pantas memakai pakaian ini?” Mas Zul mengenakan salah satu kemeja yang di ambilnya dari toko, ia mengenakan pakaian baru itu sambil menatap cermin datar yang memantul ke arahnya. Mengenakan kemeja berwarna coklat muda serta celana panjang berwarna coklat tua, membuat lelaki itu begitu sempurna.Tak sepeti biasanya, lelaki itu biasanya selalu cuek masalah penampilan, baik saat menghadiri pengajian maupun undangan pernikahan, biasanya aku atau Mbak Zahra lah yang dulu sering rusuh sendiri memilih pakaian untuk lelaki yang kita sayang. “Bagus, Mas,” ucapku sambil mengacungkan jemp
“Aisyah,” teriakan itu membuatku bergidik ngeri. Suara dari lelaki yang begitu aku kenal. Aku mendongakkan wajahku ke sumber suara.“Mas Zul,” ucapku lirih.Ia berjalan bersama wanita yang akan menjadi pendamping hidup Randi.“Ini istriku, namanya Aisyah,” ucapnya sambil menatap wanita yang mengekorinya. Mas Zul memegang pundakku dan mendekatkan tubuhku ke dalam pelukannya. Aku menatapnya dengan heran. Ada hubungan apa ia dengan Anisa, kenapa ia tiba-tiba berubah dan kembali hangat. Atau ini hanya penutup hubungan yang sudah tak harmonis lagi.“Ka – kalian saling kenal?” tanya Randi yang tak kalah kaget dariku.Wanita itu hanya tersenyum, tanpa jawaban. Setelah Anisa melihat baju yang kupilih, ia langsung mengiyakan tanpa terlebih dulu mencobanya, hingga akhirnya beberapa menit kemudian mereka pamit pulang.Aku duduk di ruang Mas Zul sambil mengibaskan kertas kecil di meja Mas Zul, AC ruangan ini belum mampu mendinginkan hatiku yang masih terasa kacau balau. Mas Zul yang terkadang b
Kepalaku teras semakin berat ketika Arini terus saja meminta haknya sebagai istri. Dari segi materi aku memang menyamakan ia dengan Aisyah tapi dari nafkah batin aku belum mampu melakukannya. “Aku belum bisa, Ar. Bukankah kamu pernah bilang kamu tak akan meminta hak istri dariku?”Arini tertawa dan menatapku sinis.“Aku ini istrimu, Mas. Aku punya hak atas dirimu dan kamu juga punya kewajiban kepadaku. Bukankah dalam Islam pernikahan itu tak boleh dijadikan permainan?”Ucapan wanita itu justru membuatku terasa di jebak olehnya. Tentang aksi bunuh dirinya, kehamilannya, dan permintaan dinikahi. Sekarang ia meminta lebih dari itu. “Ah, sudahlah,” ucapku melangkah keluar dari kamarnya. Aku memasuki kamar Aisyah yang kini sunyi, mencarinya di seluruh penjuru rumah namun tetap saja tak kudapati wanita Solehah ku itu! Apakah teguranku itu terlalu keras hingga membuatnya pergi? Aku mengambil ponselku dan mencoba melakukan panggilan ke ponselnya. Namun, lagi-lagi suara ponselnya terdengar
“Umi, kenapa Abi marah-marah? Bukankah sebelum kita berangkat Umi sudah berpesan kepada nenek untuk ijin ke luar memberi brownies!” “Abi enggak marah, Sayang! Abi Cuma salah paham.”“Abi itu marah, Umi. Abi sekarang sering marah-marah.”Aku membenamkan tubuh kecilnya ke dalam pelukan, memintanya untuk menunaikan empat rakaatnya dan kemudian tidur. Mas Zul dari tadi tak masuk ke kamar, sedangkan aku belum berani keluar, nyaliku masih ciut jika harus kembali melihat amarah suamiku. Apalagi malam ini adalah jadwalnya bersama Arini, tak mungkin juga aku meminta waktunya untuk bersamaku. Terdengar adzan subuh, aku lebih memilih berjamaah dengan Zafran di kamar. Entah kenapa hatiku masih sakit dengan suara sumbang Mas Zul yang diutarakan kepadaku. Aisyah? Ia mudah sekali memanggilku dengan nama saja tanpa ada kata dek di depannya. Seusai berjamaah, Zafran seperti biasanya mandi dan bersiap untuk sekolah sedangkan aku berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini.“Tumben gak ikut
“Ehem...,” deheman itu membuat tak sengaja menyentuh gelas kaca hingga terjatuh.Pyarr ....“Astagfirullah,”Wajahku pucat pasi, ketika melihat Mas Zul kini berdiri di ambang pintu, tangannya membawa piring dan gelas yang kotor. Segera ia meletakkan barang tersebut ke bak cucian. “Au ...,” kurasakan jari manisku tersayat serpihan kaca. Perih. Mas Zul menghampiriku dan memasukkan jari itu ke mulutnya, setelah itu ia membilas dengan air keran dan membalutnya dengan plaster. “Ada apa, Mas?” Mbak Zahra menghampiri saat aku dan Mas Zulkifli tak sengaja saling beradu pandang. Mendadak tubuhnya terlihat gemetar, hingga tubuhnya terlihat terhuyung tak kuat menahan berat badannya. “ Mbak Zahra,” ucapku kagetMas Zul dengan sigapnya mengangkat tubuh itu ke dalam pelukannya.“Sudah aku bilang, istirahat dulu di kamar.” Mas Zul membopong tubuh Mbak Zahra ke kamar sedangkan aku bergegas membersihkan serpihan kaca dengan sapu. ‘Apa yang terjadi dengan Mbak Zahra? Ia tampak tak sehat!’“Buat
"Ini juga kenapa brownis panggang, Mbak. Aku pengennya brownis kukus," ucap wanita itu lagi.'Sabar, Aisyah. Kamu wanita yang kuat,' batinku sambil memegang dada yang terasa sesakAku menaruh brownis itu di meja di dekatnya dan berlalu begitu saja. Rasa di hatiku sedang tidak baik, pertengkaran dengan Mas Zul, tentang pernikahan Randi dan kini Arini menambah beban di pikiranku.Aku bergegas ke kamar dan memasuki kamar mandi mengguyur tubuhku dengan dinginnya air keran saat ini. Aku menangis sejadinya, meluapkan emosiku yang terus saja aku tahan. Setelah aku menemukan bahagia kini kembali lara dengan munculnya orang ketiga. Bahkan Mas Zul lelaki yang selalu menjadi panutan ku sekarang berubah acuh dan dingin. Aku Aisyah, wanita yang dulunya jadi yang kedua dan sekarang merasakan bagaimana namanya diduakan. Aku bukan Mbah Zahra yang memiliki hati lapang untuk menerima madunya. Aku belum bisa!Tangisku semakin pecah seiring dengan gemericik air yang kini menjadi peredam suara tangisan.