Aku mengalah, Mas. Demi Ibumu! 5
Mas Yusuf baru datang saat aku, Ratih, dan ibu sedang melihat televisi bersama. Sekalipun hati terasa sakit, tetap kupaksa untuk menjaga hubungan baik kami. Sekalipun aku tidak pernah menunjukkan muka masamku pada ibu. Rumi sudah tidur lebih dulu karena lelah bermain tadi sore.
"Bu, ini obat yang tadi Ibu minta," ucap Mas Yusuf seraya menyerahkan kantong plastik berisi obat pereda nyeri untuk ibu.
"Iya."
Ibu hanya menerima obat itu dari tangan Mas Yusuf tanpa memindahkan pandanganya dari layar televisi.
Tak heran jika sikap ibu seperti itu, sejak sore juga sudah diam dan manyun gara-gara kejadian tadi. Apalagi soal gelas-gelas kotor itu, ternyata dicuci sendiri oleh ibu. Sudah sakit karena kesandung mainan, ditambah cuci gelas sendiri. Oh ibu ... maafkan aku, salah sendiri ibu marah-marah dari tadi, membuatku enggan membantumu.
Sedang Mas Yusuf, tampak aneh melihat ibu bersikap demikian setelah menerima pemberiannya. Tidak biasanya memang.
Dipandanginya sang ibu lama, tidak ada tanda-tanda ibu akan berbicara pada Mas Yusuf. Pandangannya beralih pada Ratih, hanya dengan isyarat kedipan mata, Mas Yusuf faham bahwa ibu tidak sedang baik-baik saja. Kemudian ia berbalik, berjalan keluar ruangan menginggalkan kami.
Kuikuti langkah Mas Yusuf menuju kamar kami, mengabaikan sikap ibu kepadanya. Kemudian ia membuka dompetnya, menyerahkan beberapa lembar uang hasil ia narik ojek sejak sore tadi.
"Ini, Dik. Diterima ya? Ada lebihan sedikit, bisa untuk bawa Rumi ke tukang urut," ucapnya setelah aku menerima uang pemberiannya.
Mas Yusuf lantas melepas jaket dan bajunya, berganti memakai kaos oblong sehari-hari.
"Mas Yusuf, sudah makan?" tanyaku melihat ia mendekati putri kami, bibirnya mencium lembut kening Rumi. Tampak wajah lelah tersirat dari sorot matanya yang sayu. Namun masih ia sempatkan untuk mencium pucuk kening putrinya.
"Sudah tadi, kuambil sedikit uang itu untuk beli makan, takut masuk angin kalau nunggu makan di rumah," ucapnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Ya, sudah, cuci kaki dulu, baru kemudian tidur."
"Iya."
Mas Yusuf kemudian berdiri, memaksa tubuh lelahnya untuk sekedar cuci kaki dan tangan, nggak baik jika langsung tidur setelah bekerja. Apalagi pekerjaannya yang tiap hari berada disepanjang jalan, tapi bukan sepanjang jalan kenangan.
Kubawa jaket dan pakaian yang telah ia lepas itu ke dalam bak cuci. Kurendam baju-baju kotor keluarga kecilku untuk kucuci esok pagi.
Kulihat ibu bersama Ratih masih asik dengan acara televisi di hadapan mereka. Tanpa pamit, kukunci pintu ruang tamu, sebelum aku beristirahat malam ini. Mengembalikan tenaga agar besok bisa kembali melakukan rutinitas yang melelahkan.
***
"Tumben, Al, kamu belanja sendiri pagi ini?" tanya Bulek Sri saat kami bersama-sama menuju tukang sayur langganannya."Iya, Bulek. Kemarin Rumi nggak kebagian lauk, kubelikan bakso juga ibu marah-marah sama aku. Mending aku belanja aja sendiri," jawabku jujur.
"Kenapa memang sama bakso? Kok pake acara marah segala?" sahut bulek.
"Katanya anak kecil nggak boleh kebanyakan micin."
"Iya kali dimakan setiap hari, kalo jarang-jarang mah nggak apa-apa!"
"Itu buktinya marah-marah, ya sudah, aku diam saja. Nanti aku jawab, salah lagi."
"Repot mertuamu itu emang. Sabar aja, deh!"
"Harus bisa sabar Bulek, Mas Yusuf diajakin pindah nggak mau. Berat jauh sama ibunya."
"Ya selama kamu mampu, turuti aja apa maunya. Nanti kalo sudah ada masalah sama ibunya, pasti baru mau diajakin pindah."
"Semoga saja, Bulek. Aku cuma bisa mengalah saja, dari pada rumah tangga ini kenapa-kenapa."
"Iyalah! Harus ada yang mengalah salah satu, tapi mengalah bukan berarti kalah, Al. Makanya sabar saja dulu."
Kami lantas memilih aneka sayur segar yang sudah tertata rapi diraknya. Juga aneka ikan segar tersedia di sana. Jika belanja pagi hari memang pelanggan masih bisa memilih aneka macam menu, namun jika terlambat datang sedikit saja, pasti sudah habis dibeli sama orang-orang. Kebanyakan tetangga dekat sini masih memiliki putra putri yang masih duduk di bangku sekolah, sehingga jika pagi hari, pasti berebut belanja untuk menyiapkan sarapan.
Aku membeli sepotong ayam, akan kumasak menjadi ayam goreng tepung saja. Karena itu merupakan makanan kesukaan Rumi.
Sekembalinya aku dari tukang sayur, buru-buru kumasak ayam ini. Agar jika ibu datang, pekerjaanku telah selesai. Belum tahu bagaimana reaksinya, saat ibu tahu aku belanja sendiri. Karena sejak awal menikah, ibu meminta untuk masak jadi satu bersamanya. Aku hanya perlu memberi sedikit tambahan uang untuk belanja hariannya.
Saat aku tengah sibuk mencuci perabotan bekas aku masak, Mas Yusuf datang menghampiri.
"Kamu tumben masak sendiri pagi ini?" tanyanya saat melihat sepiring ayam goreng tepung yang kuletakkan di atas meja dapur.
"Kemarin Rumi nggak kebagian lauk, ibu juga masaknya pedes. Pas kubelikan bakso untuk makan, ibu marah. Katanya masak anak dikasih makanan yang banyak micinnya? Iya kali tiap hari kukasih bakso, sesekali aja udah gitu responnya."
Meskipun kujawab, tetap kulanjutkan aktifitasku tanpa menoleh sedikitpun.
"Namanya juga nenek sayang sama cucu, wajarlah kalau marah, cucunya kamu kasih makan bakso," sahutnya lagi.
"Mau bagaimana lagi? Rumi sudah minta makan, lapar katanya. Buru-buru kuajak makan setelah mandi sore, biar dia tenang. Kasihan juga, dia habis dimarahi sama neneknya."
"Dimarahi?" tanyanya penuh selidik.
"Iya, dimarahi. Mainan Rumi berserakan di ruang tamu, nggak sengaja kaki ibu kesandung mainan sampai ibu hampir jatuh," ungkapku.
"Kamu gimana jaga dia kok sampai bikin ibu mau jatuh?" tanyanya penuh selidik.
"Mas pikir, aku di rumah ini cuma duduk santai aja? Kerjaanku cuma ngawasi Rumi aja? Bisa keluar tanduknya ibumu itu!" pekikku. Tak kuasa lagi aku menahan gejolak didalam dada ini. Sudah kupaksa untuk menahan amarah dari kemarin, sekarang malah nada bicaranya terkesan menghakimi. Sudah bagus aku mau bantu-bantu membersihkan rumah juga warung milik ibunya.
"Jaga bicaramu!" ucapnya sambil mengayunkan tangan kanannya, hendak menamparku.
"Mas mau apa? Mau nampar aku? Tampar, Mas! Ayo tampar!" teriakku sambil mendekatkan pipiku ke arahnya. Sudah lelah aku bekerja tanpa henti, masih juga disalah-salahkan.
Matanya nyalang menatapku, wajahnya tampak merah bak penuh dengan kobaran api. Tak gentar aku dengan emosinya. Terus kutatap, hingga ia sendiri yang menurunkan tangannya dan mengalihkan pandangannya dari wajahku. Kemudian berlalu meninggalkanku sendirian di dapur.
Seketika tubuhku luruh ke lantai. Air mata mengalir bak air terjun yang mengalir dari atas bebatuan. Deru napasku kian sesak, hampir susah untuk sedikit saja menghirup udara segar.
Kusandarkan kepalaku ke atas lengan yang bertumpu pada lutut. Menyesali keberanianku melawan ucapan suami. Bukan dengan sengaja, hanya saja, aku lelah dengan semua ini. Sudah cukup aku mengalah, namun masih saja disalah-salahkan. Ya Allahhh ... kuusap dadaku agar himpitan perasaan ini sedikit berkurang. Namun, nyatanya masih saja tetap sama.
Bersambung🌸🌸🌸Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 6Pertengkaran tadi pagi, sukses membuat moodku hancur. Hampir setengah hari aku hanya berdiam diri di kamar. Sedang Mas Yusuf, entah kemana perginya. Beruntung Rumi tipe anak yang tidak banyak tingkah. Melihat mamanya tiduran di kamar, ia sangka bahwa aku sedang sakit. Ia pun terus menemaniku di kamar sambil mengajak main boneka kesayangannya."Mama belum sembuh?" tanyanya saat aku mengamati ia yang sedang bermain boneka."Sudah sembuh, Sayang," jawabku seraya tersenyum lembut. Sekuat tenaga kututupi hati yang sedang sakit ini di depan anakku."Mama nggak mau bangun?""Kakak mau ke mana?""Kakak bosan di kamar, Ma.""Kakak mau main ke mana memangnya?""Mau main ke Rumah mbak Maya,"ucapnya penuh semangat."Mama mau ngantar aku main ke sana?" tanyanya lagi saat aku tak memberi respon atas permintaannya."Boleh."Tergerak hatiku untuk bangun, kasihan bila anak seke
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 7"Mas juga minta maaf, Dik. Terlalu keras selama ini," ucapnya sambil duduk di sebelahku. Diraihnya tanganku untuk ia genggam erat. Tampak sekali raut wajah menyesal dari wajahnya."Nggak apa-apa, Mas. Asal jangan diulangi lagi main tangan. Beruntung Mas Yusuf nggak jadi nampar, coba kalo tangan itu sudah nempel di sini," ucapku sambil menunjuk pipiku dengan tangan kananku."Maaf, ya, Dik. Sungguh, Mas nggak sadar kayak gitu tadi."Kepala Mas Yusuf menunduk, mungkin malu karena hampir melakukan kekerasan dalam rumah tangga.Diraihnya pucuk kepalaku, kemudian ia cium lembut. Lalu ia rangkul pundakku dengan penuh cinta. Ini yang membuat aku tak bisa lepas darinya. Sikapnya yang penuh cinta kepadaku, meskipun terkadang membuatku sakit karena ibunya."Nggak usah sedih, Mas. Aku sudah maafin," ucapku setelah pelukan itu terurai."Mas Yusuf, sudah makan? Biar aku siapkan.""Sudah, tadi. O
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 8"Sampai mati pun, ibu nggak akan kasih restu. Masih banyak laki-laki yang belum pernah menikah, kenapa kamu bisa dekat dengan duda? Sudah nggak laku, hah?!" teriak ibu pada Ratih saat teman lelaki Ratih baru saja pamit pulang. Matanya menatap Ratih nyalang, dadanya naik turun menujukkan bahwa jantungnya sedang berusaha keras mengatur udara yang keluar masuk dalam hidungnya. Wajahnya merah padam menujukkan bahwa emosi sedang berada ditingkat tertinggi. Tangan ibu berpegangan pada ujung sofa, untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak sampai jatuh.Barusan memang Ratih kedatangan temannya, aku nggak tahu siapa. Karena memang baru pertama kali ia datang kemari. Kebetulan aku yang mempersilakannya masuk, karena saat itu aku sedang melayani pembeli."Kalau Ratih cinta, ibu mau apa? Toh dekat dengan yang belum pernah menikah, tidak menjamin akan memberi kebahagiaan. Biarpun duda, tapi dia mapan, Bu!
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 9Kulawan ego dalam hati agar tetap bisa berbakti pada mertua sebagai bentuk baktiku pada suami. Meskipun sering terluka karena ucapannya, aku masih punya hati untuk merawat ibu saat sedang seperti ini.Mas Yusuf adalah laki-laki yang peduli terhadap ibunya. Lebih tepatnya sangat menyayangi ibu, tak jarang hal itu membuat aku memiliki sedikit rasa cemburu pada ibu. Mungkin terkadang aku tak bisa mengontrol diri, sehingga rasa cemburu itu menjadi sesuatu hal yang pada akhirnya menyakitiku sendiri.Entah mengapa, justru sikap penyayangnya itulah yang membuatku bertahan. Rasa perhatiannya tidak diungkapkan dengan buaian kata-kata, namun diungkapkan dengan sebuah sikap tanggap terhadap sesuatu.Rumi, ya, Rumi jugalah yang terkadang menjadi penguat hati untuk terus bertahan dengan semua ini. Bagaimana mungkin aku tega membiarkan anakku kehilangan kasih sayang seorang ayah diusianya yang masih terlalu kec
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 10Mentari sudah menepi di ufuk barat. Berganti dengan rembulan yang kian memancarkan sinarnya. Bintang bertaburan memenuhi angkasa. Ibu berjalan mondar-mandir ke sana ke mari menunggu anak bungsunya kembali, namun, tak jua kembali. Mendung menyelimuti hatinya. Hati yang semula membeku itu, nampaknya mulai mencair."Ya Allah Ratih ... kemana kamu pergi, Nak?" ucapnya lirih. Lelah berjalan, sejenak ia meletakkan pantatnya di atas kursi ruang tamu. Pandangannya lurus ke arah pintu, dengan bibir komat kamit, entah apa yang ia baca.Aku hanya duduk terdiam menemani ibu. Sambil berdoa dalam hati agar dimanapun Ratih berada tetap dalam keadaan baik-baik saja. Terkadang, seseorang hanya butuh teman, bukan nasihat. Ah gini amat anak perawan jika tak mendapatkan restu. Semua merasakan dampak akibat ulahnya.Mas Yusuf pun tak bisa tenang, ia sedang menunggu di teras rumah setelah menghubungi teman Ratih yang
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 11"Saat menikah saya sedang fokus untuk kuliah. Pemasukan hanya dari pekerjaan sampingan saya sebagai penjaga kafe saat malam hari. Awalnya mantan istri saya bisa menerima keadaan saya, namun karena kebutuhan rumah tangga juga kebutuhan pribadinya yang semakin banyak, membuat ia pada akhirnya sering menuntut. Keadaan saya yang belum mampu itulah yang membuat saya akhirnya memilih untuk berpisah.""Punya anak dengannya?" tanya ibu tegas."Belum, Bu.""Surat cerai?" tanya ibu lagi. Pertanyaannya bak hakim yang sedang menghakimi tersangka."Ada, Bu. Semua jelas dan lengkap.""Lantas, pekerjaan kamu apa? Guru?""Iya, Bu. Alhamdulillah saya sudah pengangkatan. Saya resmi menjadi ASN tahun lalu.""Apa kamu bisa menjamin bahwa jika saya merestui kalian, tidak akan ada perpisahan seperti pada mantan istrimu?"Ah ibu ... bagaimana mungkin bisa memberi pertanyaan seperti itu pada seseo
Aku Mengolah, Mas. Demi Ibumu! 12"Ma, ayo ke rumah nenek Risma," pinta Rumi padaku saat tengah menemaninya tidur siang. Istirahat di siang hari sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Selain menjaga pola makan, istirahat juga wajib dijaga agar tubuh Rumi tidak mudah sakit."Iya, boleh. Minta izin sama ayah dulu, ya? Nunggu ayah pulang kerja dulu.""Kalau nggak boleh, Rumi mau nangis aja," ucapnya pura-pura merajuk."Nangis? Kayak adik bayi itu ya?" godaku sambil menoel pipinya."Cantik-cantik masa nangis? Kalau nangis malah nggak dikasih izin sama ayah," imbuhku.Seketika ia menoleh menghadapku."Jadi, nggak boleh nangis ya? Iya deh, Rumi nggak nangis. Kan Rumi pinter ya?" jawabnya lugu."Iya dong. Anak mama kan pinter.""Sekarang bobok dulu, ya? Habis ini ayah datang, nanti Mama sampaikan kalau Rumi minta ke rumah nenek Risma."Kuusap rambutnya lembut. Kemudian ia berbalik memunggungi
Aku mengalah, Mas. Demi Ibumu! 13"Sabarlah, Nak. Tidak ada hidup tanpa ujian."Ibu mengusap lembut rambut panjangku di atas pangkuannya. Turut merasakan kesedihan yang kurasakan. Tidak ada solusi selain bersabar, sebab perpisahan bukan jalan terbaik."Aku lelah, Bu. Setiap hari seperti pembantu, tapi masih saja ibu mertua bicara seenaknya padaku.""Bahkan soal makanan Rumi pun, ibu masih menyalahkanku," ucapku dengan suara parau. Emosiku kembali naik saat mengingat kejadian lalu yang menyesakkan dada. Biarlah kuceritakan semua beban dihatiku, agar lega dada ini, daripada kuceritakan kepada orang lain."Jika segala ucapan orang tua kamu anggap menyalahkanmu, lantas bagaimana kamu akan belajar berbaik sangka?""Maksud Ibu?""Setiap manusia punya watak dan sifat yang berbeda. Juga punya cara sendiri-sendiri untuk menyampaikan pendapat mereka, tidak bisa disamaratakan. Kalau segala ucapannya kamu anggap menyakitimu, l
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 83"Untuk apa Ayah kesini? Ayah kan sudah punya adik baru?" Rumi melanjutkan ucapannya. Matanya menatap sang ayah dengan tatapan tajam. "Nak, Ayah sayang sama Kakak. Ayah mau kita hidup bersama lagi seperti dulu. Kakak mau kan ya?" Mas Yusuf berdiri dengan semangatnya lalu berjalan mendekat ke arah Rumi. Ia mencoba memegang tangan gadis kecilku itu. Tapi Rumi segera menepisnya. "Pergi Ayah! Aku benci sama Ayah!" teriak Rumi keras. Ia lantas berlari ke dalam rumah menuju kamar tidurnya. Aku kaget melihat sikap Rumi yang sedemikian kerasnya. Sebenarnya ada apa yang membuat gadis polos itu tiba-tiba saja berani membentak Ayahnya dengan keras. Aku mengabaikan Mas Yusuf yang sedang terisak. Ini bukan masalah sepele. Aku harus mencari tahu penyebab Rumi sampai sedemikian keras menolak ayahnya. Saat kakiku hendak melangkah, Mas Azam memegang pergelangan tanganku. "Biar aku saja. Kamu urus masalahmu dengan ayahnya."Mas Yusuf melihat kedekatanku dengan Mas
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 82"Ketika kamu sakit, Bapak melihat kepedulian dari sikapnya padamu dan Rumi. Begitu perhatian, berbeda dengan Yusuf dulu." Telingaku kembali terngiang kata-kata Ibu saat bersama tadi. Benar saja, lelaki di depanku ini lebih peduli dan peka terhadap keadaan yang menimpaku. Tanpa kukabari dan kuminta kehadirannya ia sudah datang dan lebih dulu berjibaku dengan masalah yang sedang menempaku. Masihkah aku butuh bukti lagi untuk menerima cintanya padaku?Badan Mas Azam sudah basah oleh cipratan air. Kaos dalam berwarna putih yang dikenakannya sudah tak lagi berwarna putih. Baju itu sudah bercampur tanah dan kotor. Sesekali ia gunakan lengannya untuk mengusap peluh di keningnya dan membuat warna lengan kaos itu tak lagi putih. Wajahnya menyiratkan rasa cemas dan sikapnya sungguh cekatan menyelamatkan apapun yang bisa diselamatkan. Ia berlari kesana-kemari mengangkat barang-barang yang masih bisa ditolong. Hatiku berdenyut nyeri bak ditampar kenyataan yan
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 81"Aku mau pulang saja!""Rumi di sini dulu sama Tante," sergah Mas Yusuf. Ia berusaha menarik lengan Rumi tapi segera ditepis dengan kasar oleh Rumi. "Nggak mau! Rumi mau pulang saja!" Rumi memberengut. "Maaf ya, Nak. Ayah harus bantu Bundamu yang mau melahirkan," lirih Mas Yusuf. Wajahnya memelas di sisi kanan Rumi. Aku mendekat ke tubuh Rumi. Ia langsung saja memelukku saat aku berada di dekatnya. "Maafkan aku, Dek. Aini mau melahirkan, jadi aku ngga bisa fokus sama Rumi," jelasnya saat aku berusaha menenangkan Rumi yang bersedih. Aku hanya tersenyum. "Nggak apa-apa, Mas." "Anakmu aja yang manja! Orang bapaknya lagi sibuk urus istrinya mau lahiran, dianya nempel aja!" hardik Ibu Mas Yusuf tiba-tiba. Ia baru saja keluar dari ruang tamu dan turut berdiri di depan di dekat Mas Yusuf. "Bu! Jangan ikut campur!" hardik Mas Yusuf cepat. Ibu pun berjingkat kaget mendapati teriakan Mas Yusuf yang sedikit keras itu. "Kamu itu! Dibela malah Ibu dibentak
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 80"Aku harus cepat ke butik, Mas. Tapi," ucapku sambil melirik jam di pergelangan tangan. Sebentar lagi jam jemput Rumi juga. Aku bingung. "Kenapa?""Harus jemput Rumi kan sebentar lagi, semoga aja perempuan itu mau nunggu. Siapa ya kira-kira?" tanyaku bingung. "Biar kamu aku antar ke butik, terus aku yang jemput Rumi. Gimana?" tawarnya seraya menatapku dalam. "Apa ngga ngerepotin Mas Azam?" sungkanku. Sejak kemarin lagi-lagi aku merepotkannya. Ini semakin membuatku tak enak hati. "Enggak lah, aku ngga repot. Kamu tenang aja." Mas Azam memanggil satu pelayan hanya dengan satu ayunan tangan dan tak butuh waktu lama pelayan datang menghampiri kami. Kami segera pergi setelah Mas Azam membayar bill yang diberikan oleh pelayan tersebut. Kali ini aku berjalan mendahului Mas Azam karena tak mau kejadian seperti tadi terulang kembali. Selama dalam perjalanan Mas Azam hanya diam saja. Tak seperti ketika berangkat yang tak henti mengajakku bicara. "Mas ngg
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 79Suasana rumah sunyi senyap. Tak ada penghuni selain aku sendiri dalam rumah. Zahra sudah berangkat ke butik satu jam yang lalu. Hanya ada aku yang sedang sibuk melihat tingkah ikan dalam kolam yang tampak lucu. Mataku sibuk mengikuti gerak ikan mengitari tiap sudut kolam. Sesekali ikan yang lebih besar itu menerobos kolong jembatan yang sengaja dipasang di tengah kolam. Dan ikan yang kecil terus saja mengikutinya. Saling mengejar satu sama lain. Meskipun sedikit adu kekuatan tapi ikan yang lainnya masih terus saja saling mengikuti. Gelombang air tercipta saat aku melempar sejumput makanan ikan dalam kolam. Langsung saja ikan-ikan itu saling berebut mendahului ikan yang lainnya agar bisa mendapatkan jatah. Seketika bibirku tersungging melihat tingkah mereka yang aktiv. Mataku nanar menikmati pemandangan di hadapanku karena mengingat kembali cerita Zahra soal masa lalunya. Sungguh aku tak ingin menjadikan Rumi sebagai korban keegoisan kedua orangtuan
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 78Aku menatap nanar plafon kamar tidur yang bercat putih. Lampu yang sudah berganti temaram tak kunjung membuat mataku memejamkan mata. Pikiranku terus kembali mengingat apa yang Ibu sampaikan tadi sore selepas Bapak menggendongku ke kamar. "Perceraian seharusnya tak membuatmu menjadi trauma. Hidup terus berlanjut. Masa depanmu masih panjang. Rumi juga masih kecil. Jangan kerdilkan pikiranmu dengan rasa trauma." Ibu menatap mataku dalam. Aku merasakan ketulusan dalam ucapannya. "Alina belum sanggup, Bu." Kepalaku menunduk, mataku nanar menatap ujung kuku yang kumainkan. "Belum sanggup bukan berarti tidak mau. Hanya saja kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu. Lihatlah bagaimana Azam menantimu hingga ia rela melepas gadis yang baru saja dijodohkan dengannya."Pikiranku kembali mengingat apa yang pernah Adelia tanyakan dulu. Juga keputusan Mas Azam untuk membatalkan pertunangannya dengan Adel setelah rumah tanggaku diterpa badai. Jadi semuanya ka
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 77Tak mau merasa kepedean aku lantas kembali bertanya untuk memastikan. "Berubah status? Status apa?" tanyaku cepat. "Iya. Dia sendiri sekarang.""Memang dulunya gimana? Jadi pacar orang lain?""Enggak. Jadi istri orang lain.""Istri?""Iya.""Janda dong?""Iya, janda.""Aku juga janda sekarang?""Iya, kamu.""Aku? Maksudnya?" tanyaku tak mengerti. "Iya kamu.""Kenapa sama aku?"Mas Azam tak lagi membalas ucapanku. Ia malah tersenyum tipis sambil memandangku sendu. Duh kesambet apa ini orang. Aku tak lagi meneruskan pertanyaanku. Kuputuskan untuk sibuk menghabiskan kue dalam tanganku saja. Namun perasaanku mendadak tak enak. Tiba-tiba aku merasa ada yang sedang mengamatiku.Kepalaku mendongak melihat apa yang dilakukan oleh manusia di sebelahku ini. Seketika mata kami beradu. Bibirnya tersungging tipis menampakkan deretan giginya yang rapi. Duh. Aku geragapan. Mendadak salah tingkah mendapati dirinya tengah memindai wajahku sedemikian rupa. "Kam
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 76Mataku nanar memandang surat yang baru saja diantar oleh pengacaraku. Tak kusangka kini aku resmi menjadi janda. Tak pernah terbersit dalam benakku aku akan menyandang status ini. Sungguh sakit melihat surat itu tertera namaku di atasnya. Air mataku sudah lelah mengalir saat mataku mulai terasa berat. Sejenak kurebahkan badanku agar kembali segar saat menjemput Rumi nanti. Perlahan mataku mulai terpejam menelan luka yang kembali terasa perih karena status resmi yang baru saja kudapatkan. Beruntungnya aku tinggal di perumahan yang tak banyak orang ikut campur atas masalah pribadi yang sedang kunikmati. Jika mereka membicarakanku dibelakangku, itu terserah mereka. Dering ponsel membuatku tersentak kaget. Segera kuraih benda yang kuletakkan di atas nakas itu. Tertera nama wali kelas Rumi dalam layar ponsel yang bergetar. "Waalaikumsalam, Bu," jawabku cepat. "Arumi belum dijemput ya, Bund? Sudah lewat setengah jam tapi dia masih nunggu di sekolah."M
Aku Mengalah, Mas. Demi Ibumu! 75"Mbaak," rengeknya setelah berhasil duduk di kursi kosong di depanku. Ia lantas menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikanku yang kebingungan melihat tingkahnya. Kuletakkan ponselku lalu kutatap wajahnya penuh tanda tanya. "Kamu kenapa?" Aku yang sedang bingung makin mencondongkan tubuh agar bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya saat ini. "Mas Azam, Mbak," lirihnya lagi sambil terisak. Kedua tangannya menangkup wajahnya menghalau air mata yang terus mengalir dari kelopak matanya. "Kenapa Mas Azam?" tanyaku ikut panik. Tangisnya membuatku ikut merasakan bagaimana perasaannya saat ini. "Mas Azam tiba-tiba saja memutuskan pertunangan kami, Mbak," jelasnya lirih. Suaranya hampir tak terdengar karena diiringi dengan tangisan. "Bagaimana bisa? Alasannya?" tanyaku penasaran. Sebab tak mungkin lelaki seperti Mas Azam tiba-tiba saja memutuskan hubungan tanpa sesuatu yang jelas dan besar. "Alasannya dia tak siap dengan perjodohan ini, Mbak. Menurutk