Pagi hari ini Hera akan menjenguk cucunya, dia sudah mempersiapkan banyak mainan untuk sang cucu sejak kemarin. Selama beberapa hari ini tidak bertemu membuatnya merasa rindu. Bagaimana pun juga Kenzie adalah cucunya.Dia memang kesal terhadap David, tapi tidak lantas membuatnya menjadi benci pada Kenzie. "Ini apa, Ma?" tanya David saat melihat ada banyak paperbag di atas meja makan. Biasanya di atas meja hanya untuk meletakkan makanan saja, namun sepertinya kali ini sedikit berbeda. "Mainan," jawab Hera kemudian kembali melanjutkan sarapannya. David pun ikut duduk di bangku lainnya untuk sarapan pagi bersama seperti biasanya. "Mainan untuk siapa, Ma?" tanyanya lagi. Hera pun menatapnya dengan tajam, mungkin Hera kesal pada pertanyaan sang anak. "Minum yang banyak, minumlah sepuasnya, sepuas hati mu!" sinis Hera yang menyinggung David. Tentunya Hera membahas tentang semalam dimana David di dipergokinya tengah minum-minum beralkohol. "Tentu saja untuk cucu ku! Per
"David, kamu baik-baik saja?" tanya Wina yang merasa khawatir karena yang membuat David babak belur adalah Zidan tak lain putranya sendiri. Apapun alasannya apa yang dilakukan oleh putranya salah, namun dia juga tahu anaknya seperti ini karena memiliki alasan yang begitu kuat. Untuk yang kesekian kalinya David dihajar oleh Zidan, akan tetapi tidak membuatnya menyerah untuk terus saja mendapatkan Ayunda. "Saya baik-baik saja, Tante." "Yunda, tolong obati David," perintah Wina. Tapi David malah merasa senang karena bisa diobati oleh Ayunda. "Kok Yunda, Ma?" tanya Ayunda tidak percaya. Sekaligus tidak ingin melakukannya sama sekali. "Ayunda, tolong ya, Nak," pinta Wina lagi. Wina merasa bersalah karena Zidan telah melakukan hal ini. Akhirnya dengan terpaksa Ayunda pun menurut. Dia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil es batu dan handuk. Semetara David mengikutinya dari belakang. "Kamu ngapain sih, ngikutin aku Mulu?!" tanya Ayunda dengan nada suara yang begi
David yang tengah mengemudikan mobilnya terlihat hanya diam saja, ia akan mengantarkan ibunya pulang ke rumah terlebih dahulu, setelah itu baru pergi menuju kantor. Tapi Hera yang terus menatapnya dengan penuh tanya. "Apa kamu benar-benar mencintai dia?" tanya Hera. Setelah apa yang dia lihat tadi benar-benar menjadi beban pikirannya. Dia tak mengerti mengapa bisa anaknya berbuat demikian. Merendahkan dirinya, sedangkan selama ini David begitu keras menjaga harga dirinya yang menurutnya adalah harga mati. "Mama tidak tahu bagaimana, tapi apakah dia begitu istimewa hingga kamu seperti ini?" tanya Hera yang tampak putus asa. David lagi-lagi hanya diam, dia tak berkeinginan untuk berbicara sama sekali. *** "Yunda, apa kamu tidak ingin mempertimbangkan untuk kembali dengan David?" tanya Wina. Ayunda pun menatap wajah sang ibu dengan penuh tanya, dia kecewa dengan pertanyaan ibunya. "Maksud Mama mencoba untuk memberikan kesempatan kedua pada David, Mama rasa dia benar
"Selamat pagi, Bos," sapa Ayunda saat tiba di kantor. "Aku ingin mengucapkan terimakasih," kata Yusuf. "Terimakasih?" Ayunda pun penasaran hal apa yang membuat Yusuf mengucapkan kata terimakasih padanya. "Mama sudah membatalkan perjodohan ku dengan wanita pecicilan itu, aku sangat berterimakasih padamu," Yusuf benar-benar tersenyum bahagia karena usahanya berhasil. "Apakah kita tidak keterlaluan sudah membohongi orang tua?" Ayunda pun mulai merasa bersalah karena telah membohongi Rika. "Tidak masalah, karena aku belum siap menikah dengan seorang wanita seperti dia," terang Yusuf. Ayunda pun tersenyum mendengar ucapan Yusuf. "Padahal dia orangnya baik banget, soalnya kami dulunya sama-sama tinggal di rumah David, tepatnya bekerja di sana," ucap Ayunda. "Aku mencari wanita yang peminim, bukan pecicilan." "Baiklah, terserah kamu saja," Ayunda pun menyerahkan semua keputusan pada Yusuf, sebab pilihan ada di tangannya sendiri. Drettt. Suara ponsel Ayunda pun berbunyi,
"Bisa-bisanya kamu selingkuh sama sahabatku, Erwin!” seru Ayunda dengan suara cukup keras. Hati istri mana yang tidak sakit melihat sendiri dengan mata kepalanya saat sang suami tengah bermesraan dengan sahabatnya sendiri di kantor? Tubuh Ayunda bahkan sampai gemetaran karena tidak menyangka akan menyaksikan sendiri hal kotor ini. Dia pikir kedekatan keduanya selama ini sebatas sekretaris dan atasan saja. Siapa sangka, keduanya berkhianat? Di sisi lain, Erwin tampak tidak merasa bersalah. Pria itu bahkan menatap Ayunda sinis. "Cukup Ayunda! Nggak usah teriak-teriak!" ucap pria itu dengan suara pelan, tetapi penuh penekanan. Ayunda sontak tertawa kehilangan akal. "Aku udah berusaha jadi istri yang baik buat kamu, tapi apa yang kamu lakukan ke aku?" kecewa wanita itu. "Alah! Nggak usah mendramatisir keadaan, Ayunda atau kamu mau semua orang tahu bahwa anak itu adalah anak haram, hah?!" ucap Erwin sambil menunjuk perut buncit Ayunda, “kamu wanita murahan yang bahkan tak t
Beberapa bulan lalu … keadaan Ayunda sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu mabuk berat setelah merayakan hari ulang tahun salah satu sahabatnya di sebuah apartemen.Sepertinya, ada yang sengaja menukar koktail tanpa alkohol miliknya dengan minuman yang seharusnya tak ia minum."Ayunda…." Samar-samar, ia merasakan David–sahabat dan asisten kakaknya itu–sedang menepuk-nepuk pipinya.Pria itu memang ditugaskan untuk menjemputnya malam ini. Tentu, dia tak menolak karena Ayunda dan dirinya diam-diam menjalin hubungan.Ya, mereka terpaksa menyembunyikannya karena David terlahir dari keluarga sederhana, sementara keluarga Ayunda mencari calon menantu yang setara. Meski demikian, Ayunda berjanji akan membuka rahasia itu setelah lulus S2 di tahun depan!"Kak David, kok ganteng banget sih?" ucap Ayunda tanpa sadar. Tubuhnya yang panas seolah mendamba sentuhan David yang tampak terkesiap.Untungnya, pria itu berhasil mengendalikan diri.Setelah memastikan tidak ada yang melihat seperti apa
"Itu, Kak. Soalnya Yunda kesulitan buat thesis, Ayunda kan biasanya dibantuin Kak David, atau Kakak aja yang bantuin?" ucap Ayunda memberi alibi dengan cepat. Mendengar itu, kecurigaan Zidan pun lenyap. "Kerjain aja sendiri! Oh iya, kalau David, dia pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin dia mau dijodohkan dengan pilihan Ibunya," jawab Zidan. "Dijodohkan?" kaget Ayunda sambil berusaha untuk terlihat tetap baik-baik saja. "Iya, sudah lama dia itu dijodohkan. Bahkan, dari kecil kayanya deh sama anak sahabat Ibunya. Tunangan sejak kecil pokoknya," kata Zidan lagi. Deg! Ayunda pun kehabisan kata-kata saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kakaknya. Tanpa bersuara lagi, dia pun segera pergi dari sana. Sementara Zidan hanya menatap punggung Ayunda dengan santai karena adiknya itu memang datang dan pergi sesukanya selama ini. Sayangnya, pria itu tak tahu ada rasa yang berkecamuk di dada Ayunda saat ini. Bertapa runtuhnya dunia Ayunda karena mendengar ucapan sang Kakak yang tidak men
Ayunda kembali terkesiap kala menyadari tatapan David begitu dingin padanya.Kini keduanya tampak sangat asing, padahal dulunya pernah saling mencinta dan tak jarang bergenggaman tangan dengan erat. Bahkan, ucapannya juga terdengar kasar dan asing di telinga wanita itu….. Jauh berbeda dengan yang dulu. Tapi, apa yang dapat Ayunda harapkan dari suami orang? Ayunda tersenyum getir. Namun, tiba-tiba ada gerakan dari dalam perutnya membuat Ayunda terkesiap. Mata David juga tertuju pada perut Ayunda. Akan tetapi, seperti ada kebencian terhadap apa yang dia lihat saat ini.David mengepalkan tangannya menahan rasa bencinya. "Terima kasih, aku permisi," ucap Ayunda memilih tak peduli. Dicopotnya selang infus di tangannya dengan terburu-buru. Ada setitik darah yang keluar, tapi tidak masalah. Sebab, itu tidak seberapa dibandingkan luka di hati yang terpaksa wanita itu sembunyikan dari semua orang, termasuk David. Brugh! Ayunda perlahan turun dari atas ranjang. Namun, seoran
"Selamat pagi, Bos," sapa Ayunda saat tiba di kantor. "Aku ingin mengucapkan terimakasih," kata Yusuf. "Terimakasih?" Ayunda pun penasaran hal apa yang membuat Yusuf mengucapkan kata terimakasih padanya. "Mama sudah membatalkan perjodohan ku dengan wanita pecicilan itu, aku sangat berterimakasih padamu," Yusuf benar-benar tersenyum bahagia karena usahanya berhasil. "Apakah kita tidak keterlaluan sudah membohongi orang tua?" Ayunda pun mulai merasa bersalah karena telah membohongi Rika. "Tidak masalah, karena aku belum siap menikah dengan seorang wanita seperti dia," terang Yusuf. Ayunda pun tersenyum mendengar ucapan Yusuf. "Padahal dia orangnya baik banget, soalnya kami dulunya sama-sama tinggal di rumah David, tepatnya bekerja di sana," ucap Ayunda. "Aku mencari wanita yang peminim, bukan pecicilan." "Baiklah, terserah kamu saja," Ayunda pun menyerahkan semua keputusan pada Yusuf, sebab pilihan ada di tangannya sendiri. Drettt. Suara ponsel Ayunda pun berbunyi,
David yang tengah mengemudikan mobilnya terlihat hanya diam saja, ia akan mengantarkan ibunya pulang ke rumah terlebih dahulu, setelah itu baru pergi menuju kantor. Tapi Hera yang terus menatapnya dengan penuh tanya. "Apa kamu benar-benar mencintai dia?" tanya Hera. Setelah apa yang dia lihat tadi benar-benar menjadi beban pikirannya. Dia tak mengerti mengapa bisa anaknya berbuat demikian. Merendahkan dirinya, sedangkan selama ini David begitu keras menjaga harga dirinya yang menurutnya adalah harga mati. "Mama tidak tahu bagaimana, tapi apakah dia begitu istimewa hingga kamu seperti ini?" tanya Hera yang tampak putus asa. David lagi-lagi hanya diam, dia tak berkeinginan untuk berbicara sama sekali. *** "Yunda, apa kamu tidak ingin mempertimbangkan untuk kembali dengan David?" tanya Wina. Ayunda pun menatap wajah sang ibu dengan penuh tanya, dia kecewa dengan pertanyaan ibunya. "Maksud Mama mencoba untuk memberikan kesempatan kedua pada David, Mama rasa dia benar
"David, kamu baik-baik saja?" tanya Wina yang merasa khawatir karena yang membuat David babak belur adalah Zidan tak lain putranya sendiri. Apapun alasannya apa yang dilakukan oleh putranya salah, namun dia juga tahu anaknya seperti ini karena memiliki alasan yang begitu kuat. Untuk yang kesekian kalinya David dihajar oleh Zidan, akan tetapi tidak membuatnya menyerah untuk terus saja mendapatkan Ayunda. "Saya baik-baik saja, Tante." "Yunda, tolong obati David," perintah Wina. Tapi David malah merasa senang karena bisa diobati oleh Ayunda. "Kok Yunda, Ma?" tanya Ayunda tidak percaya. Sekaligus tidak ingin melakukannya sama sekali. "Ayunda, tolong ya, Nak," pinta Wina lagi. Wina merasa bersalah karena Zidan telah melakukan hal ini. Akhirnya dengan terpaksa Ayunda pun menurut. Dia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil es batu dan handuk. Semetara David mengikutinya dari belakang. "Kamu ngapain sih, ngikutin aku Mulu?!" tanya Ayunda dengan nada suara yang begi
Pagi hari ini Hera akan menjenguk cucunya, dia sudah mempersiapkan banyak mainan untuk sang cucu sejak kemarin. Selama beberapa hari ini tidak bertemu membuatnya merasa rindu. Bagaimana pun juga Kenzie adalah cucunya.Dia memang kesal terhadap David, tapi tidak lantas membuatnya menjadi benci pada Kenzie. "Ini apa, Ma?" tanya David saat melihat ada banyak paperbag di atas meja makan. Biasanya di atas meja hanya untuk meletakkan makanan saja, namun sepertinya kali ini sedikit berbeda. "Mainan," jawab Hera kemudian kembali melanjutkan sarapannya. David pun ikut duduk di bangku lainnya untuk sarapan pagi bersama seperti biasanya. "Mainan untuk siapa, Ma?" tanyanya lagi. Hera pun menatapnya dengan tajam, mungkin Hera kesal pada pertanyaan sang anak. "Minum yang banyak, minumlah sepuasnya, sepuas hati mu!" sinis Hera yang menyinggung David. Tentunya Hera membahas tentang semalam dimana David di dipergokinya tengah minum-minum beralkohol. "Tentu saja untuk cucu ku! Per
Hera memasuki ruang pribadi sang anak, maksud Hera adalah mempertanyakan keberadaan Adel. Selama beberapa hari ini Adel tidak pulang ke rumah, bahkan saat dihubungi juga tidak bisa. Hera kecewa atas keputusan Adel dan David yang bercerai secara diam-diam. Akan tetapi Hera juga masih begitu mengkhawatirkan keadaan Adel. Baginya Adel bukanlah seorang menantu, ataupun mantan menantu. Tidak. Dia adalah anak perempuannya, dia bagian dari keluarga andaipun David bukan lagi suaminya dan itu akan berlanjut sampai kapanpun juga. Tapi apa yang didapati oleh Hera saat ini? Dia melihat wajah sang anak begitu kacau, dia duduk bersandar sambil menadahkan wajahnya pada langit-langit ruangan. Di atas meja ada banyak minuman. Kenapa anaknya jadi seperti ini? "David?" David pun tersadar ternyata Hera telah berdiri di hadapannya. Matanya tampak memerah, dengan tubuh yang sangat kacau. "Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Hera tak habis pikir. "David cuman butuh istirahat,
Ayunda duduk di balkon kamarnya sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang dipasang langsung oleh Rika sebagai tanda hubungannya dan Yusuf sudah sangat serius. Cincin tersebut terlihat sangat cantik dan juga begitu pas di jari-jari Ayunda. Hanya saja semuanya hanya pura-pura, Ayunda juga tidak tahu sampai kapan dia bisa membuka hatinya untuk pria. Jatuh cinta dan bahagia. Namun, untuk sekarang ini tidak terpikirkan untuk jatuh cinta lagi pada lelaki manapun. Traumanya masih begitu dalam hingga sulit untuk bisa sembuh kembali. Huuuufff. Ayunda pun menarik napas panjang sambil menikmati udara malam yang cukup dingin, rintik hujan membasahi bumi seakan tahu bahwa Ayunda tengah berada di dalam kesunyian malam. Hingga saat itu terbesit di pikirannya untuk melakukan sesuatu. Dia pun memotret cincin di jarinya dan mengirimkan di aplikasi berwarna hijau. Siapun bisa melihatnya, tapi tujuannya adalah David. Dia sangat berharap David melihatnya.
"Hey, kamu!" terdengar suara Zidan membuat Ayunda dan Tere pun menoleh. Tentu saja yang dia panggil adalah Tere. Tapi Ayunda yang kesal saat mendengarnya. "Kak Zidan, manggil siapa? Kami punya nama!" sinisnya Tapi Zidan tidak perduli dengan ucapan sang adik yang dia ingin temui adalah Tere. "Kenapa kau belum menyetrika pakaian ku?!" tanyanya. Tere pun merasa bingung mendengar ucapan Zidan, karena sebelumnya sudah mengerjakan apa yang diminta oleh pria yang tak lain suaminya itu. Seorang suami yang benar-benar tidak dia inginkan. Pernikahan tanpa cinta dan perkenalan lebih dalam, keduanya benar-benar asing. Namun, mengapa Zidan mengatakan belum menyetrika pakaian yang dia minta? Jelas-jelas Tere sudah melakukannya. "Kamu mendengar saya bicara atau tidak?!" tanya Zidan lagi karena Tere masih diam saja. "Maaf, Kak. Tapi, tadi Tere udah ngerjain kok. Sekarang bajunya ada di atas ranjang," jawab Tere. "Udah kamu bilang? Udah apanya?!" "Kak Zidan, apa sih? Biasan
Ting! Suara ponsel Ayunda dan ternyata Yusuf yang mengirimkan sebuah pesan. [Yunda, Mama ngotot pengen ketemu dengan Mama kamu, bisa tolongin aku nggak?] Yusuf. Ayunda pun tersenyum setelah membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Yusuf padanya. Tentu saja ini adalah cara untuk membuat David menjauhinya. [Datang aja ke rumah, Mama di rumah juga] Yunda. Ayunda tersenyum bahagia karena merasa ide kali ini akan berjalan dengan baik. "Kenapa?" tanya David yang melihat Ayunda tersenyum sambil memegang ponselnya. "Apaan sih, mau tau banget urusan orang!" *** Yusuf dan Rika pun telah tiba di kediaman orang tua Ayunda. Mereka datang dengan membawa banyak buah tangan. Wina pun cukup terkejut melihat kehadiran Yusuf dan sang ibu yang tidak memberitahukan padanya sebelumnya. Akan tetapi Wina tentunya merasa bahagia atas kehadiran Yusuf dan ibunya. "Silahkan masuk," Wina pun mempersilahkan keduanya untuk masuk. "Terimakasih," balas Rika sambil berjalan masuk. "Ayo du
Ayunda pun memasuki toko kosmetik. Dia langsung saja melihat beberapa make-up di sana. Kemudian dia pun menatap wajah David. "Mana bibirnya, aku mau nyobain yang warna ini," kata Ayunda. "Aku?" tanya David tak percaya. "Iyalah, siapa lagi?" "Tapi....." "Nggak mau?!" "Mau," David pun kembali menurut pada perintah Ayunda. Dia pun sedikit berjongkok dan Ayunda pun mulai memakai lipstik di bibirnya. Kacau! Gila! Aneh! Bukan lagi hal itu yang dipikirkan oleh David. Tapi rasanya begitu nyaman berdekatan dengan Ayunda seperti ini. Wajah Ayunda begitu dekat dengan dirinya, andai saja dia tidak memikirkan kemarahan Ayunda dia sudah melumat bibir itu. Meski sadar di tempat umum, tapi wanita ini benar-benar mudah membuatnya panas dingin. "Udah! Sana jauh-jauh!" ketus Ayunda. Saat itu Ken juga memegang hidung David, akhirnya David pun kembali menetralkan dirinya. "Mbak, kok dipakein ke suaminya?" ucap pramuniaga. "Ha?" Ayunda syok berat mendengar apa yang d