LOGINThe story depicts two parallel worlds, namely the Italian state in the present and the Italian state in the form of a constitutional monarchy. The Kingdom of Italy is led by a lycan king named King Alano Dante. Where all the residents in it are lycans. The king could not forget the death of the queen or his wife who had died, until a law prohibiting marriage appeared. For any lycans who violate the rules of the king, they will be killed without mercy. Once upon a time, there was a human woman named Alexandria who avoided her bad luck, and got lost in another world. A world that looked so different from the world of ordinary people. Alexa, who is only an ordinary human, is forced to get used to being able to live in the Kingdom of Italy, which is full of lycans. Rules prohibiting marriage, made Alexa set up a matchmaking agency secretly. Will King Alano Dante maintain the prohibition against marriage?
View More"Memalukan, bongkar semua ini, Arin!" Aku terkejut ketika Ibu mertuaku datang dan melempar semua bahan yang akan kujadikan martabak telur. Kedua mataku memanas ditambah rasa kesal karena ulah mertuaku.
"Kita mau makan apa jika aku tidak membantu berjualan, Bu? Mas Angga tidak pernah mencukupi kebutuhanku!" Ibu mertua melihat sekelilingnya, memastikan tidak ada yang memperhatikan kami."Alah, sudah seminggu kamu menjadi bahan gunjingan tetangga dan membuatku malu! Lebih baik di rumah seperti biasa dan kerjakan semua pekerjaan rumah!"Aku, Arin. Aku adalah menantu dari keluarga cukup terpandang. Aku sengaja membuat usaha sendiri dengan berjualan martabak telur di depan sekolahan. Semua kulakukan karena kebutuhan semakin mencekik, sedangkan suamiku Mas Angga, lebih suka memberikan setengah dari uang bulanan kepada Ibu Mertuaku. Sedangkan, aku hanya mendapat uang sisa bahkan terkesan ala kadarnya. Mas Angga bekerja di salah satu pabrik menjadi supervisor dengan gaji di atas enam juta. Namun, semua itu tidak pernah kunikmati. Melainkan Ibu mertuaku dan adik iparku."Dasar, istri tidak tahu diri! Sudah diberi hidup enak masih juga mempermalukan suami dengan berjualan martabak!" Semua mata tertuju pada kami berdua. Ada rasa malu karena menjadi pokok pembicaraan Ibu-ibu yang mengantar anak-anaknya ke sekolah.Kuraih beberapa alat masak yang terjatuh karena ulah Ibu mertua. Kukumpulkan satu persatu dalam sebuah karung yang biasanya kugunakan untuk tempat duduk jika semua anak-anak sudah masuk kelas atau sepi pembeli. Aku memasukkan semua alat sekenanya tanpa memperhatikan lagi mau pecah atau tidak. Yang jelas aku merasa sakit hati karena Ibu mertuaku menghina usaha kecilku."Cepat pulang! Harusnya kamu masak dan beberes rumah daripada jualan begini!" Ocehan mertuaku masih belum juga selesai. Posisiku jauh dari orang tua, sehingga aku jarang bisa berkumpul dengan keluargaku. Hanya melalui sambungan telepon yang bisa kulakukan untuk menghubungi mereka. Kulihat sekeliling lapakku, terdapat adonan martabak yang sudah berantakan. Ku ambil sapu dan membersihkannya terlebih dahulu. Mendapat tempat untuk membuka lapak, aku juga harus bertanggung jawab kebersihannya juga. Bukankah begitu yang harus dilakukan?Ibu mertuaku sudah terlihat menjauh dari lapakku. Tangisku hampir saja pecah, hanya saja tetap kutahan untuk membuktikan jika aku wanita kuat. Tidak masalah terlihat kuat meski nanti aku akan mencari tempat yang sepi untuk meluapkan kesedihanku."Rin, sabar ya?" Pak Parno, salah satu pedagang cilok menenangkan aku. Selama ini aku selalu bercerita mengenai kehidupan rumah tanggaku kepada lelaki seusia ayahku di kampung. Kenal dengan Pak Parno, seperti dekat dengan ayahku."Iya, Pak. Arin kan kuat!" Aku mencoba tersenyum meski ada hati yang cukup tersakiti."Rin, mending kamu lempat saja lelaki kayak si Angga! Bisa-bisanya bikin kamu kayak gini!" Bu Asti, salah satu penjual mainan ikut kesal karena ulah keluarga suamiku."Bu, Arin bisa saja pergi. Tapi apa kata orang tuaku nanti, yang pasti akan menjadi beban pikiran orang tuaku!" Bu Asti manggut-manggut mendengar penjelasanku. Benar-benar pilihan yang sulit.Usai berkemas, aku melajukan motor butut yang kugunakan untuk mengangkut bahan-bahan jualanku. Sesampai aku di rumah, aku dikejutkan dengan keberadaan motor Mas Angga di halaman rumah. Motor berbodi besar keluaran produk H"nd* yang kini menjadi tren beberapa kalangan menengah ke atas. Sangat berbeda dengan motor butut yang ku pakai. Motor bekas adik ipar yang diberikan kepadaku. Sebenarnya bukan diberikan begitu saja, melainkan meminta modal balik kepadaku sebesar dua juta rupiah untuk motor butut yang mengeluarkan asap di bagian knalpotnya jika dihidupkan.BrukSuara karung berisi semua alat usahaku terdengar saat aku tidak kuat lagi mengangkatnya dan terjatuh."Itu dia istri yang tidak tahu diuntung!" Suara Ibu Mertuaku sangat sumbang bahkan nadanya terkesan sangat buruk. Kulihat Mas Angga keluar dan menghampiriku. Aku yakin, pasti dia akan memberikan tamparan padaku. Begitulah kira-kira yang akan terjadi jika aku melakukan kesalahan hingga membuat Ibunya marah.PlakSudah bisa kutebak. Satu tamparan mendarat manis di pipi kananku. Aku hampir tidak bisa lagi merasakan sakit karena tamparan suamiku ini karena bagiku ini sudah menjadi makanan sehari-hari."Dasar istri durhaka! Mau mempermalukan suamimu ini, hah?" Tatapannya begitu nyalang. Bibirku bergetar hebat, sungguh aku kecewa dengan sikapnya. Dulu dia berjanji akan memberikan kebahagiaan padaku . Namun, nyatanya hanya neraka yang dia ciptakan padaku."Anggaplah aku istri durhaka, Mas! Biar aku bisa lepas dari pernikahan bagai neraka ini!" Aku berteriak dan masuk ke kamar. Kubiarkan semua barang-barangku di luar.Tangisku pecah seketika usia aku berteriak padanya. Awalnya aku ragu untuk meninggalkannya, namun melihat sikapnya semakin memuakkan membuatku semakin ingin mengakhirinya."Angga, kau harus ceraikan Arin! Buat apa menikah dengan wanita kampungan itu! Lagian apa yang bisa dibanggakan dari dia!" Aku mendengar suara Ibu mertuaku dari kamar. Pintu masih terbuka sedikit lebar hingga semua masih terdengar begitu jelas."Bu, Angga rasa itu tidak bisa. Angga mencintai Arin, Bu!" Rasa cinta yang dulu membuatku tergila-gila, kini sudah hilang dan hambar. Seolah-olah aku sudah muak dengan semuanya."Tapi, Ngga! Ibu nggak kuat lagi harus memiliki menantu seperti Arin!" Ibu mertuaku masih mengeyel ingin menyingkirkanku. Segera aku beranjak dan menghampiri mereka berdua."Mas Angga tidak perlu terbebani oleh cinta. Menurutlah pada Ibumu jika memang menginginkanku pergi! Aku bisa menerimanya sekalipun aku menjadi janda!" Mas Angga sepertinya tercengang karena ucapanku.Selama ini aku hanya diam dan diam ketika Ibu mertua mengucapkan hinaan dan kebencian padaku. Mungkin nanti saat aku memiliki seorang anak, Ibu mertua bisa berubah. Pernikahan kami baru tiga tahun dan belum memiliki anak. Efek pandemi yang membuatku berputar otak untuk menutupi kebutuhan karena terjadi pengurangan karyawan pabrik sepatu, termasuk aku salah satunya. Hanya saja, pesangon yang kudapat sengaja kutabung tanpa sepengetahuan siapapun termasuk suamiku sendiri.Aku gegas mengemas beberapa bajuku ke dalam sebuah tas bututku. Tidak ada koper yang kumiliki, hanya sebuah tas jinjing berbahan dasar plastik yang sudah lama kulipat dan kusimpan di atas lemari.Sungguh aku dibuatnya kecewa dengan keluarga suamiku saat ini. Aku berharap bisa mendapatkan kehidupan lebih baik setelah keluar dari rumah ini, tanpa campur tangan siapapun."Mau kemana kamu?" Kulihat Mas Angga sudah berada di ambang pintu kamar. Tak kupedulikan keberadaannya dan sibuk mengemas bajuku."Terserah aku, yang jelas aku pergi dari pernikahan ini!" Aku mengusap air mata yang berkali-kali menetes begitu saja."Tidak akan kubiarkan kamu pergi dengan alasan apapun, Arin. Cepat kembalikan semua barang-barangmu!" Sama sekali aku tidak gentar dengan ucapannya. Malah semakin ingin aku mengakhirinya."Apa hakmu, Mas? Aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, jadi aku harus melepaskannya!" Aku sudah bersiap membawa tak jinjing dan aling bag yang kulingkarkan di leher.BrakMas Angga meraih paksa dan melempar tasku ke sembarang tempat. Aku kesal karena tidak berhasil pergi dari rumah ini. Aku pasti akan menjadi bahan hinaan serta menjadi pembantu di rumah ini."Was what I did a few hours ago with him a mistake?"Alexa looked at King Alano's sleeping face. She stared at her body, covered only by the blanket. Hot events full of desire from a few hours ago are still vivid in her mind.'Am I dreaming? I can sleep with the Lycan King. The strongest king in this world,' said Alexa to herself while looking at the king's handsome face. It is late. It didn't feel like she spent about seven hours in the king's room. She smiled to herself, remembering how strong King Alano was in bed."Don't stare at me, Alexa." Suddenly, the king's hoarse voice was heard. Slowly, the king's eyes opened.Alexa didn't move at all. She was still awkward around the king, even though she had given up her body for the man beside her.The king smiled at Alexa's innocent face. His hand slowly touched her lips. The man's soul wakes up again just because he touches her lips. "I think I'm getting addicted to you."Alexa blinked her eyes a few times. King Alano's words made her
"King Alano?"Alexa was surprised to see King Alano's whereabouts. She immediately let go of Reynold's embrace.Reynold looked back. He stood up and saluted the king. "King, I'm sorry. I didn't heed your call," Reynold said, feeling guilty."What happened to you?" asked King Alano when he saw Alexa's body covered in blood."Erm, earlier I accidentally slipped while carrying a bucket of blood," Alexa answered quickly.King Alano couldn't believe Alexa's answer. However, he couldn't read her mind. He turned to Reynold. "Why did you bring her to your room?" His face looked dissatisfied."I just want to help her, King." Reynold didn't dare look the king in the face.King Alano managed to read Reynold's mind. His eyes suddenly turned yellow, a sign that he was angry. "Who's involved in a fucking act like this?"Reynold and Alexa looked directly into the king's face. They both panicked, seeing the change in King Alano's eyes."King, it's not what you imagined. I'm fine. I was just careless
"Alexa, what have you been doing?"Alexa held her lips. She still couldn't believe it. She dared to kiss the king on the cheek."Alexa! What are you doing there? Come on, hurry up and help clean up!" shouted one of the maids who didn't like Alexa.Alexa immediately approached. She took a cloth and then cleaned up the traces of blood in the palace kitchen.Suddenly, there was a maid who splashed Alexa's body with blood from behind. The maids burst out laughing after successfully bullying Alexa. Alexa was in shock. The stench of blood was so overpowering that it made her feel nauseous."This is the first time I know that there are lycans who don't like to drink blood," said a female servant."Plus, she can't walk fast, and she is very weak," added another maid."Why are you glaring at me like that? You dare?" snapped the maid.Alexa wiped the blood from her face with her hand. The maids' treatment was too much for her. Even though she had never looked for trouble with those servants."W
"What do you mean, Orlando?"King Alano had already expected this to happen. However, he did not expect that Orlando would move this fast.Orlando smiled, looking at King Alano. "Alexandria, the woman the king saved from the death penalty, is not a citizen of the Kingdom of Italy. Is it possible that the king already knows about this?"All the royal officials' gazes were on King Alano. They seemed to be asking the king for an explanation.'Oh shit! Looks like Orlando wants to play with me,' King Alano muttered to himself. He tried to read Orlando's mind. However, it can't. He was getting annoyed."Why are you silent, King?" Orlando spoke again.King Alano chuckled. "You have so much fun accusing me, Orlando." The king's attitude looked relaxed, making the officials there confused about the truth of Orlando's statement.Olrando smiled too. "I'm not accusing the king. I'm just asking. Moreover, that woman is so weak and not like a lycan. It's getting suspicious."King Alano then stood u
"King, what are you doing?"Alexa's body shivered violently. The king's breath hit her face."Why are you so scared to see me hurt?" King Alano's hand held Alexa's chin so she wouldn't look away from him."Because taking care of the king is my duty," replied Alexa, not daring to meet King Alano's eyes.
"King, what are you doing?" Reynold followed closely behind.King Alano had just seen such a place. He looked angry to see so many lycans breaking the rules and interacting between women and men.King Alano continued to walk deeper into the place. Reynold followed behind him. King Alano's steps immedi
"It's quite hot today." Alexa walks around town. When she saw several female and male lycans silently looking at each other, an idea suddenly appeared in her brain."If only I could connect to the internet here, my work would definitely be easier." Alexa immediately looked for an empty seat in the
"OMG! You’re so funny. Come on, come with us! You’ll be safer with us compared to other lycans.” Now Alexa is at Berta and Carlo's house. The journey only takes one minute from the park. "Why do they have cars when they go faster than cars?" muttered Alexa in a low voice. Berta and Carlo smiled.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore