All Chapters of Kesalahpahaman yang Berujung Kehilangan Anakku: Chapter 1 - Chapter 8

8 Chapters

Bab 1

Pada tahun ketujuh pernikahan kami, Ravel Yanuar, suamiku dan aku akhirnya dikaruniai anak pertama kami.Ketika aku memberi tahu tes kehamilan dengan senang hati padanya, dia mengerutkan kening sambil bertanya kepadaku ...."Anak siapa ini?"Aku menjawab sambil tertegun, "Tentu saja anakmu.""Kita sudah menikah selama tujuh tahun dan belum dikaruniai anak juga. Saat aku bekerja ke luar kota selama dua bulan, kamu tiba-tiba hamil. Kamu pasti bohong, 'kan?"Saat aku mendengar kalimat ini, hatiku langsung terkesiap.Anak ini sudah berumur dua bulan. Bagaimana mungkin tidak sesuai dengan waktunya?Ibu mertuaku tertawa sinis di sebelah sambil menyahut, "Aku bertanya-tanya kenapa kamu sering keluar malam. Ternyata kamu pergi mencari pria lain."Aku sering keluar pada malam hari karena aku bekerja lembur.Aku pun dibuat menangis karena kesal oleh pasangan ibu dan anak itu.Akhirnya aku menyahut keras, "Kalau kamu nggak percaya, kita lakukan tes DNA saja!"Tanpa diduga, Ravel langsung menyetuj
Read more

Bab 2

Aku mengangkat ponsel Ravel, lalu segera melihatnya.Layarnya menunjukkan riwayat obrolan antara Ravel dan istrinya Edo.Edo Tanjaya adalah teman kuliah Ravel.Aku sudah pernah bertemu dengan istri Edo beberapa kali. Kami juga bisa dianggap sebagai teman.Dalam riwayat obrolan tersebut, istri Edo memberi tahu Ravel bahwa aku dan Edo sudah berselingkuh.Ravel awalnya tidak percaya, sampai istri Edo mengirimkan sebuah foto.Foto sebuah pakaian dalam yang seksi.Aku sangat tidak asing dengan pakaian dalam tersebut. Aku pernah memakainya pada malam sebelum Ravel melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.Aku pikir ini mungkin kesalahpahaman.Aku segera menjelaskan padanya, "Ravel, ini bukan pakaian dalamku."Saat mendengar ini, Ravel menjadi makin geram.Dia mendekat, mengambil ponsel itu, lalu mengetuk dua kali di layarnya.Kemudian, Ravel menjambak rambutku dan menempelkan ponsel itu langsung ke mataku."Sialan, perhatikan baik-baik. Kalau ini bukan punyamu, lalu punya siapa?"Terlihat ad
Read more

Bab 3

Cambuk itu menimpa ibuku, tapi ibuku tidak kelihatan kesakitan.Dia berbalik, lalu menatap langsung ke arah Ravel."Ravel, kamu benar-benar salah paham kepada Clara. Jangan pukul dia. Sekarang duduk dan bicarakan dengan baik-baik. Kalau kamu terus seperti ini, kamu pasti akan menyesalinya.""Menyesal? Aku menyesal nggak memukulnya lebih awal. Seharusnya aku menamparnya saat melihat hasil tes kehamilannya.""Tua bangka, kamu pikir kamu bisa melindunginya? Kamu selalu memintaku untuk melepaskannya. Kenapa kamu nggak mengajari putrimu menjadi seorang wanita yang benar?""Hari ini aku akan menegakkan keadilan dan juga akan menghabisimu."Ravel mengangkat tangannya, lalu mencambuk beberapa kali lagi.Ibuku takut aku akan terluka.Jadi, dia maju seraya memelukku erat-erat.Dia menahan cambuk itu dengan sekuat tenaga.Saat mendengar teriakan kesakitan ibuku, seluruh hatiku terkoyak.Demi melindungi ibuku, aku rela mengorbankan martabatku.Aku memohon pada Ravel dengan putus asa."Berhenti mem
Read more

Bab 4

Pengeras suara ponsel Ravel dinyalakan, jadi aku juga mendengar kalimat ini.Aku melihat Ravel berdiri di sana, memegang ponselnya sambil tercengang.Wajahnya dipenuhi dengan ketidakpercayaan."Bagaimana mungkin?"Darah yang mengalir di bawah tubuhku makin deras.Aku merasa bahwa anak yang susah payah aku dapatkan ini, perlahan-lahan mulai meninggalkanku.Aku merasa sangat sedih.Jika panggilan telepon ini datang satu menit lebih awal, apakah anakku bisa diselamatkan?Namun, meski demikian, Ravel masih tidak percaya bahwa anak ini adalah anaknya.Dia berlutut, menjambak rambutku dengan tangannya, memaksaku untuk mendongak."Clara, apa yang kamu berikan pada orang-orang di Pusat Tes DNA, sampai mereka membantumu untuk berbohong padaku?"Aku tersenyum sedih seraya menjawab, "Ravel, apa menurutmu aku semampu itu? Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa mengujinya sendiri lagi."Saat dia hendak mengatakan sesuatu, sekelompok orang bergegas masuk ke rumahku.Orang pertama yang bergegas masuk ad
Read more

Bab 5

Atas isyarat dari dokter, perawat mengambil janin itu lagi.Janinnya berumur dua bulan dan sudah berbentuk mirip seperti manusia.Ia meringkuk di sana dengan tenang.Anakku.Inilah anak yang kutunggu-tunggu selama tujuh tahun.Aku menangis tersedu-sedu sejenak.Dokter menghiburku dengan berkata bahwa aku akan memilikinya lagi suatu hari nanti.Aku ingin menyimpan janin itu, tetapi dokter mengatakan bahwa itu adalah limbah medis dan tidak bisa dibawa pulang.Sampai pada akhirnya aku keluar dari ruang operasi dan melihat ayahku.Setelah memberitahunya tentang hal itu ....Ayahku memberi tahu dokter bahwa itu adalah barang bukti, dokter pun memberikannya kepada kami.Aku bertanya kepada ayahku, "Di mana Ibu? Bagaimana keadaannya?""Ibumu baik-baik saja, cuma sedikit terluka di bagian luar. Dia pingsan karena tekanan darah tinggi," jawab ayahku. Ayahku tampak menua beberapa tahun. Dia tersenyum padaku dan menyuruhku untuk menjaga diriku sendiri, "Tunggu kamu agak membaik, aku akan menganta
Read more

Bab 6

Setelah melampiaskan emosinya, Ravel mengangkat kepalanya lagi."Walaupun dia nggak selingkuh dengan Edo, Clara masih berhubungan dengan orang lain. Kalau nggak begitu, dari mana asal anak dalam perutnya itu?"Aku menyahut dengan dingin, "Percaya atau nggak, itu anakmu.""Nggak mungkin, sama sekali nggak mungkin," bantah Ravel. Dia masih membela dirinya, "Dokter bilang aktivitas spermaku rendah, jadi aku nggak mungkin bisa punya anak.""Aktivitas sperma rendah bukan berarti nggak memiliki sperma, cuma berarti sulit hamil, tapi masih ada kemungkinan hamil." Mendengar hal tersebut, seorang petugas polisi di dekatnya langsung mengeluh, "Kamu menemui di dokter mana? Kenapa nggak kompeten sekali."Ravel tidak memercayai hal ini, lalu menjawab, "Aku memeriksanya di rumah sakit khusus pria, Rumah Sakit Bahagia di Jalan Bahagia. Para dokter di sana jauh lebih hebat darimu.""Rumah Sakit Bahagia?" Petugas polisi itu tertawa setelah mendengarnya, lalu menyahut, "Kalau begitu, kamu pergi ke tempa
Read more

Bab 7

Sampai Ravel dibawa pergi, dia tetap mengatakan bahwa dia mencintaiku.Saat memikirkan tujuh tahun yang kuhabiskan bersamanya ....Kemudian, pukulannya yang menghantamku ....Aku tidak tahu apakah cinta ini benar atau salah.Ketika mengetahui bahwa Ravel akan dipenjara, ibu mertuaku yang sudah lama tidak terlihat, tiba-tiba datang.Begitu bertemu, dia mulai memohon padaku."Clara, aku tahu ada kesalahpahaman antara kamu dan Ravel. Kesalahpahaman ini dimulai karena aku. Ibu minta maaf padamu, seharusnya aku nggak memakai pakaian dalammu."Dia berkata sambil menampar wajahnya sendiri.Sikapnya tampak sangat tulus."Kamu dan Ravel sudah bersama selama bertahun-tahun. Jangan merusak pernikahan kalian hanya karena masalah sepele ini."Aku menjadi marah ketika mendengarnya, "Apa ini masalah sepele? Ravel memukul punggung ibuku dan menggugurkan anakku. Kalau kamu bilang ini masalah sepele, kalau begitu aku akan mencambuk punggungmu juga."Ibu mertuaku mundur.Dia mulai menghindari hal yang se
Read more

Bab 8

Pembawa acara memang profesional.Dalam situasi ini, informasi dari ibu mertua jelas lebih menarik.Dia segera bertanya padaku apa yang terjadi.Aku tidak punya pilihan selain mengikuti kata-katanya dan menceritakan keseluruhan cerita.Termasuk fakta bahwa ibu mertuaku yang mencari seorang pria, tetapi membiarkan aku yang disalahkan. Kemudian, aku juga mengatakan tentang putranya yang memukulku sampai keguguran.Ruang siaran langsung heboh."Memukul istri sendiri sampai keguguran? Memangnya ini sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia?""Saat aku melihat bibi ini, aku sudah merasa kalau dia bukan orang baik. Dia kelihatan galak.""Ini sangat menarik, selingkuh dengan memakai pakaian dalam menantu sendiri. Benar-benar di luar nalar."Ibu mertuaku sangat cemas sehingga dia menutupi kamera dengan tangannya.Dia tidak bisa mengalahkan juru kamera.Dia pun mengalihkan fokusnya padaku."Clara, kamu sudah keterlaluan. Sudahlah kalau ayahmu memanfaatkan kekuasaannya untuk memenjarakan anakku,
Read more
DMCA.com Protection Status