MasukWhen Serena finds herself mated to her oppressor, she knew she was one of the few wolves that the moon goddess hated. She has resolve, bring down her old mate and make sure everybody pays for what they have done to her. Lycan king Ardan has to find his mate before he turns thirty and time is running out. He feels betrayed when his mate turns out to be a lowlife omega who was rejected by her first mate for infidelity. Ardan would rather die than go within an inch of Serena but mate bonds have a way of bringing even he strongest of men to their knees, and Ardan will not be an exception.
Lihat lebih banyak"Berikan aku ragamu, maka akan aku kabulkan segala keinginanmu, Rengganis.” Suara melantun itu membuat wanita berparas rupawan yang dipanggil Rengganis, menengadah dari posisi bersimpuh, menatap sosok wanita setengah tembus pandang yang melayang di hadapannya dengan kabut tebal menyelimuti tubuh wanita itu.
Manik hitam segelap malam milik Rengganis terlihat basah, memancarkan kesedihan yang begitu dalam. Debu dan kotoran tebal menghiasi wajahnya, menunjukkan betapa tersiksa dan terabaikan dirinya untuk waktu yang cukup lama.
Melihat keterpurukan Rengganis, wanita itu menyeringai, kakinya turun menapak tanah. “Aku bisa membantumu membalaskan dendam, entah kepada jalang bernama Madhavi … ataupun bajingan yang kau panggil Kakang Prabu Abra itu.”
Rengganis mengepalkan tangan, membayangkan wajah kedua orang yang membuat hidupnya terasa bak neraka. Namun, melihat kabut hitam yang menyelimuti wanita di hadapannya, Rengganis merasa bahwa menyetujui mungkin saja bukan keputusan baik.
“Aku tak percaya padamu,” balas Rengganis dengan pandangan waspada, dia mengepalkan tangan menahan tubuh bergetarnya.
Jari-jari lentik wanita tersebut mengangkat dagu Rengganis, memaksa untuk menatap dalam-dalam manik merah miliknya bak menghipnotis. “Tidakkah kau teringat bagaimana kepala ibumu itu terpisah dari lehernya untuk melindungimu?” ujar sang wanita dengan nada suram seraya mengibaskan selendang merah saat membalikkan tubuh. “Bagaimana suamimu, Gusti Prabu Abra, memenggalnya tanpa belas kasihan setelah semua kebaikan yang kalian curahkan padanya?”
‘Tidak!’ teriak Rengganis dalam hatinya, membayangkan jelas kematian sang ibunda dalam benaknya. Bagaimana Abra mengayunkan pedang, menyayat kulit dan mematahkan tulang. Bau anyir darah menguar di udara masih teringat jelas membuat Rengganis mual dan marah.
Tawa wanita di hadapan Rengganis menggema. “Kau lemah, tapi aku bisa mengubah hal itu,” ujarnya dengan sebuah senyum menggoda terlukis di bibir. “Raih uluran tanganku, akan aku ajarkan ilmu milikku juga ajian Jaran Goyang padamu. Balas rasa sakit hati, berikan hukuman setimpal untuk para pengkhianat," tekan wanita berselendang merah itu.
Rengganis menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Ucapan wanita itu membakar tekad yang sudah bulat, "Hukuman yang pantas untuk pengkhianat adalah kematian!" cebik Rengganis seraya meraih uluran tangan wanita tersebut.
*KarRa*
Beberapa waktu yang telah lalu.
Terjadi kegaduhan di kerajaan Baskara, suara teriakan orang-orang terdengar ricuh di depan istana permaisuri. Beberapa orang yang berada di dalam istana ketakutan bukan main. Seorang wanita cantik tengah duduk di ranjang berlapis emas, tubuhnya gemetaran dalam pelukan sang bunda.
“Kanjeng Ibu Leena, Gusti Prabu Abra sudah berada di depan pintu,” seorang wanita bertubuh gempal lari tergopoh masuk kamar.
Wanita yang dipanggil 'Kanjeng Ibu' tersebut menoleh ke arah dayang lalu menatap putrinya. “Aku yakin ini sebuah konspirasi,” geram Leena. “Apa Senapati Khandra belum pulang dari berperang?” tanyanya.
“Belum Kanjeng Ibu,” jawab seorang dayang bertubuh gempal. Leena menggunakan gerakan mata agar wanita tersebut mendekat.
“Mbok Berek," bisiknya. "Aku takut kita tersudut, suruh seseorang menyusup dalam diam keluar dan haturkan ini kepada Senapati Khandra!” titahnya berbisik. Kanjeng Ibu Leena menyelipkan secarik kain yang tergulung.
“Baik Kanjeng Ibu,” jawab Mbok Berek gelagapan. Jantung terpompa lebih cepat, tidak ada hal menakutkan dari hari ini. Wanita itu menyembunyikan kain tersebut di balik jarik yang dikenakan.
“Jangan sampai ketahuan, berhati-hatilah!” Kanjeng Ibu Leena memperingatkan.
Mbok Berek paham benar, dia pun khawatir akan tuduhan tidak berdasar di mana antek-antek selir Madhavi begitu keji memfitnah permaisuri Rengganis membunuh calon penerus dengan menaruh racun di dalam minuman yang disajikan beberapa saat lalu saat acara minum teh di Istana Permaisuri. Wanita gempal tersebut pun menyelinap keluar.
“Bangkit Permaisuri Rengganis! Tidak pantas kau ketakutan seperti ini. Tegakkan tubuhmu, tunjukkan harga diri sebagai calon ratu masa depan kerajaan Baskara!” lontar wanita paruh baya yang mengenakan kebaya warna merah dengan rambut disanggul.
Wanita ayu dipanggil Rengganis tersebut bangkit berdiri, menekan ketakutan pada dirinya, dia menggenggam erat selendang sutra warna putih yang menyelempang di pundak ke lengan yang putih bersih.
“Geledah istana Permaisuri Rengganis!” teriak seorang lelaki.
Brak! Pintu istana permaisuri didobrak, seorang lelaki yang mengenakan mahkota yang melambangkan kekuasaan diiringi gerombolan prajurit masuk ke dalam. Para prajurit tanpa permisi melenggang mengobrak-abrik ruangan. Melaksanakan titah dari penguasa kerajaan Baskara yang baru beberapa bulan lalu diangkat menjadi raja.
“Sungguh sopan sekali Prabu Abra, menyuruh orang mengobrak-abrik Istana Permaisuri!” sindir Kanjeng Ibu Leena.
“Mohon Kanjeng Ibu tidak salah dalam beranggapan, saya sedang menjalankan tugas sebagai raja untuk menangkap penjahat yang sudah melenyapkan calon penerus,” kata lelaki itu lantang.
“Jadi kau menganggap putriku yang berambisi melenyapkan bayi dalam kandungan Selir Madhavi? Sungguh buta sekali matamu!” ejek wanita tersebut.
Raja Abra mengepalkan tangan marah, ingin sekali dia menampar wanita tua tersebut. namun, dia urungkan mengingat banyak mata memandang. Raja Abra menatap nyalang wanita yang berdiri di samping Kanjeng Ibu Leena. Tatapan jijik dan ambisi membunuh sangat kental, siapa melihat pun tahu akan hal tersebut.
‘Wanita iblis, tidak pantas menjadi ratu!’ umpat Raja Abra dalam benak.
“Gusti Prabu kami menemukannya!” teriak salah seorang. Beberapa orang berlari dari dalam ruangan menuju depan, “Kami menemukan ini,” ujar salah seorang prajurit menyerahkan sebuah benda kecil tempat obat, seperti tempat arak namun lebih kecil, terbuat dari bahan terakota, bergelembung pada bagian tengah dan satu ujung berlubang kecil, mengerucut.
“Kami juga membawa perkakas tempat jamuan tadi untuk diamankan Gusti Prabu,” kata seorang prajurit lagi. Permaisuri Rengganis dan sang ibu saling pandang, bingung.
Raja Abra menarik kayu kecil yang menutup benda tersebut, dia mendekatkan tempat obat itu pada hidung. Keningnya berkerut, lelaki tersebut kemudian menyerahkan pada seorang lelaki tua berjubah hitam, dengan tubuh membungkuk.
“Periksa ini, tabib istana!”
Lelaki tua berbungkuk membolak-balik sebentar lalu mencium aroma, menutup mata sejenak, meresapi. Wajahnya pias, memandang Permaisuri Rengganis juga Kanjeng Ibu Leena. “Mohon ampun, ini racun ular, Gusti Prabu.” Suara lelaki tua terdengar serak.
Raja Abra tersenyum, tatapan berubah gahar seketika, “Seret Permaisuri ke Istana Dingin!” perintahnya.
“Abra, kau gila, tidakkah kau selidiki lebih lanjut hal ini?” teriak Kanjeng Ibu Leena.
“Bukti apa lagi Kanjeng Ibu, semua ini sudah berada di tangan kami. Satu hal lagi, semua orang juga tahu jika Permaisuri Rengganis tidak suka dengan Selir Madhavi, banyak yang melihat Permaisuri bertindak tidak baik terhadapnya.” Suara Raja Abra semakin emosi. “Seret Permaisuri sekarang!” teriak Raja Abra memberi perintah sekali lagi.
“Jangan berani menyentuh putriku!” Kanjeng Ibu Leena berteriak.
Para penjaga dan prajurit kebingungan saling pandang, kerajaan Baskara milik keluarga Permaisuri Rengganis, sebagian pengikut masih mendukung Permaisuri, sebagian lagi dimonopoli dan beralih mendukung Raja Abra.
“Sungguh kau anj*ng yang lupa pada asal-usulmu, Abra!” pekik kanjeng Ibu Leena tanpa takut, wajah Raja Abra memerah seketika. “Kau menggigit Tuanmu yang memberi rumah,” lanjutnya lagi.
Bersambung….
@lovely_karraEvelyn PoVAt first, I had not thought that Gilly's story would turn out to be so tragic. I thought I was merely doing my mother a favour: I was releasing a spirit and giving peace to the pack. But every single step I took in the direction of solving was heavy with shadows that just threw more secre
Authors PoVThey started like whispers in the night.In the stillness of sleep, they forced their way into her brain to take her through dark and twisted visions. Some shadows curled around her, cold and snake-like; their touch glided over the rippling skin and left frosted impressions behind. The d
Evelyn PoVThe truth sat heavy on my chest, a stone sinking into dark waters. Gilly's voice lingered in my mind, a soft, desperate whisper threading through my thoughts even as I went through the motions of daily life. The blood of the betrayed will break the chains.Those words had been haunting me
Evelyn PoVWas this a mere figment of my imagination?… Gilly’s voice had become an echo that trickled into the stillness, catching me unawares. The torment did not even allow me peace in sleep. I would close my eyes, and her voice would take me into shadowed dreams-corridors layered in darkness, cha
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan