Beranda / Romansa / DOSA TERINDAH / Bab 171 - Bab 180

Semua Bab DOSA TERINDAH: Bab 171 - Bab 180

476 Bab

Bab 170

Jariku masih aktif menggeser-geser layar ponsel ketika kutemukan sebuah foto yang membuatku terpana.“Thank you for the gift.”Tulis Nindya di sertai foto tangannya sedang memakai jam tangan.Mataku buru-buru mencari kotak yang kemarin kutemukan di atas meja rias. Tak ada lagi kotak itu di sana. Itu artinya, jam tangan mahal yang ada di dalam kotak berpita merah kemarin adalah hadiah buat Nindya.Rasa penasaran membuatku mencari tau lebih banyak, lalu kembali kutemukan foto yang lain yang menjelaskan semuanya.“Diculik buat dinner, padahal sudah nolak mati-matian. Happy Birthday!”Kali ini story WA Mas Adam yang menampilkan gambar meja kecil berbentuk bulat dengan beberapa peralatan makan di atasnya.Aku menelan ludahku. Jam tangan mahal itu hadiah ulang tahun buat Nindya.🍁🍁🍁Hari ini, aku pulang lebih malam dari biasanya. Selain karena menemani Iin menyusun stok barang tadi, aku juga memilih berlama-lama di butik. Mobil Mas Adam sudah terparkir di garasi saat aku tiba, dan sosokn
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-06
Baca selengkapnya

Bab 171

“Misi kita untuk kembali mencoba ternyata tidak mudah, Ay. Hubungan ini sudah terlanjur koyak, sangat sulit untuk menyulamnya agar kembali utuh. Hatimu sudah tertaut dengan kuat padanya, bahkan ikatan pernikahan pun tak mampu lagi mengembalikanmu.”Dia hanya membahas tentangku. Hanya aku.“Lalu bagaimana denganmu?” Kuberanikan diri untuk bertanya.Dia mengeryitkan keningnya menatapku.“Aku tau semalam kamu bersama Nindya. Aku tau kamu memberikan jam tangan mahal untuk hadiah ulang tahunnya.”Dia mengangguk. Mataku mulai memanas.“Iya, semalam aku bersama Nindya, meski aku harus susah payah memaksanya.” Dia sedikit menggumam. Kemudian melanjutkan.“Aku tak perlu mengatakan lagi bagaimana hubunganku dengan Nindya. Toh aku sudah pernah mengakuinya langsung padamu waktu itu. Dan bukankah Nindya juga sudah pernah mengakuinya padamu?”Aku mengangguk.“Abaikan Nindya, abaikan Ivan. Mari kita bicara tentang kita, Cahaya. Kita berdua hanya saling menyakiti satu sama lain dalam hubungan ini. Ak
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-07
Baca selengkapnya

Bab 172

Aku menelan saliva berkali-kali. Apakah ini akhir dari hubungan kami?“Bagaimana dengan Mama, Papa, juga keluargaku?”“Aku akan berusaha meyakinkan mereka bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita.”“Bagaimana jika ....”Aku tak meneruskan kalimatku, karena pria itu menarik kepalaku, menenggelamkannya dalam peluknya.“Jangan khawatir, Aya. Aku akan meyakinkan mereka. Karena bukan hanya kita, bukan hanya kamu dan aku yang berubah. Mereka juga sudah berubah perlahan-lahan.”Aku menengadah, menatapnya meminta penjelasan.“Belakangan ini, Candra mengembalikan semua uang yang kutransfer ke rekeningnya. Itu artinya, keluargamu sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk terjadi pada hubungan kita.”Aku kembali menangis, membahas keluargaku, membahas tentang adik-adikku, tidak akan pernah bisa menahanku untuk tak menangis. Candra, adik bungsuku, adik lelakiku satu-satunya, selalu ada dan selalu mengerti dengan keadaanku.“Aya.”Aku kembali menengadah.“Tadi malam tidur di ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-07
Baca selengkapnya

Bab 173

Pagi ini, kami masih sarapan bersama. Aku membuat nasi goreng dan segelas teh untuknya. Selama tinggal di rumah ini, kurasa ini adalah pagi yang paling menyedihkan bagiku. Sebentar lagi aku akan bercerai dengan pemilik rumah ini, dan mungkin setelah ini tak akan pernah lagi ada aktifitasku di dapur ini. Tak akan pernah ada lagi segelas teh untuknya setelah ini. Karena aku sudah merencanakan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Aku memasak sambil sesekali menyusut mata.“Hari ini ke butik?” Mas Adam bertanya, mengusir susana canggung di antara kami saat sarapan.“Iya.”“Sepertinya butikmu sekarang lebih ramai, ya.”Mendengarnya membahas butik, aku jadi ingat kedatangannya ke sana kemarin.“Kemarin ... tumben Mas Adam datang ke butik?” Aku bertanya dengan sedikit ragu.Dia tersenyum datar.“Mau ajakin makan siang.”Aku masih menatap, menunggunya menjelaskan.“Kemarin aku pulang ke rumah, ada barang yang ketinggalan. Suprised liat kamar udah rapi, jadi pengen balas ngasih surprise ke kamu
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-07
Baca selengkapnya

Bab 174

Mama Indah kehilangan kata-kata saat Mas Adam menyampaikan maksud kedatangan kami. Meski sudah tak ada lagi bantahan seperti dulu, namun air mata yang mengalir tanpa kata cukup menggambarkan kekecewaan yang mendalam. Begitu pun Papa, pria paruh baya yang penuh wibawa itu hanya menepuk-nepuk bahu putranya sambil sesekali menyeka mata.Aku dan Mas Adam berkali-kali memohon maaf atas ketidakmampuan kami menyelamatkan rumah tangga kami. Berkali-kali memohon ampun atas luka dan kecewa yang telah kami torehkan. Lalu ketika Mama Indah memelukku dengan sangat erat, aku menyadari jika keputusan yang kami ambil ini sudah tepat. Tak dapat kubayangkan sedalam apa lagi kehilangan mama jika kami masih bertahan dengan topeng masing-masing, jika kami masih berusaha baik-baik saja demi membahagiakan mereka. Padahal kami berdua hanya sedang menyimpan bom waktu, yang makin lama disimpan ledakannya akan semakin dahsyat.“Mama nggak nyangka bakal seperti ini. Maafin Adam ya, Nak. Maafin anak Mama jika sel
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-07
Baca selengkapnya

Bab 175

“Aku akan daftarkan gugatan.”“Kalau ada panggilan dari pengadilan, kamu nggak usah datang.”“Kata pengacaraku itu trik nya agar cepat putusan.”Aku hanya mendengarkan dia berbicara.“Mungkin beberapa kejadian tak menyenangkan akan dibahas dalam sidang nanti.”“Tak perlu membantah, toh kita memang sudah sepakat untuk berpisah.”Aku mengangguk.“Aku masih akan menanggung nafkahmu sampai masa iddahmu.”“Tidak perlu, Mas. Aku bisa ....”“Aku tidak akan lepas dari tanggungjawabku, Aya.” Dia memotong kalimatku.Akhirnya aku kembali mengangguk.Lalu pria itu meraih tanganku, mengenggamnya dengan sedikit meremas.“Maaf tak pernah bersikap romantis padamu selama ini, walau hanya dengan menggenggam tanganmu seperti ini.” Ia masih meremas tanganku sebelum kemudian melepasnya.“Terima kasih sudah pernah mencintaiku.”“Terima kasih sudah pernah mengandung anakku.”Kalimatnya yang terakhir berhasil membuat mataku menganak sungai. Ingatan dan kenanganku akan kehamilan yang hanya sekejap kurasakan m
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-08
Baca selengkapnya

Bab 176

Aku kembali mengabaikan butikku dan berkonsentrasi merawat ibu, meski ibu masih enggan berkomunikasi dengan baik padaku. Sayangnya, di saat-saat seperti ini, Iin justru menyampaikan kabar jika butik menerima orderan dalam jumlah yang banyak dan desain yang berbeda-beda. Maka karena tak ingin mengecewakan pelanggan, aku mengerjakan beberapa desain dan tetap mengontrol butik melalui Iin disela-sela menjaga ibu di rumah sakit, bergantian dengan adik-adikku yang juga sibuk dengan urusan masing-masing.Aku bahkan tak sempat lagi mengurus diriku sendiri. Beberapa kali Mas Adam mengirimiku pesan mengabarkan perkembangan sidang cerai. Beberapa kali pula Candra membawa berkas-berkas yang katanya keperluan sidang untuk kutandatangani. Aku tak sempat lagi menyimak semuanya. Hingga pagi ini, saat akan mengurus kepulangan ibu dari rumah sakit. Mas Adam menelponku.“Iya, Mas.”“Kita ... sudah resmi bercerai, Aya. Sidang putusan baru saja selesai.”Mas Adam masih bicara namun telingaku dan otakku ta
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-08
Baca selengkapnya

Bab 177

“Kenapa bisa ada di sini?”Ini sudah pertanyaanku yang kesekian kalinya, namun pria di hadapanku ini tetap tak menanggapi. Itu membuatku serasa ingin bangkit dari tempat tidur rumah sakit dan memukulinya sampai puas. Ah, bukan. Kurasa bukan ingin memukulnya, tapi ingin memeluknya.Mataku mulai berkabut saat dia hanya memandangiku setelah tadi memperbaiki letak selang infus di tangan kananku. Suara pintu terbuka membuat kami berdua menoleh, seorang dengan jubah dokter masuk diikuti dua orang perawat di belakangnya. Sepertinya ini waktu visit pasien. Dokter yang memeriksa menjelaskan beberapa hal padaku, dan sekali lagi menekankan agar aku banyak beristirahat dan menghindari stress karena ternyata asam lambungku naik sementara tekanan darah menurun. Itu yang menyababkanku jatuh pingsan waktu itu.Salah seorang perawat meletakkan obat-obatan di atas nakas lalu menjelaskan dosisnya pada Ivan yang berdiri di samping. Aku ingin protes agar perawat menjelaskan padaku saja, tapi dokter pun ma
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-09
Baca selengkapnya

Bab 178

Bukannya menjauh, dia justru bangkit dari kursinya dan ikut duduk di ranjang pasien. Aku menunduk, hanya untuk menghindari tatapan matanya. Lalu tangan itu tiba-tiba saja sudah berada di daguku, membuatku terpaksa mendongakkan kepala.Oh, ya Tuhan! Tak sanggup rasanya bertatapan mata dengan pria yang sudah berbulan-bulan pergi dari hidupku ini.“Makan, ya,” ucapnya lembut.Aku menggeleng, lalu kembali menunduk. Dan lagi, dia kembali meraih daguku, memaksaku kembali menatap tepat di manik matanya.“Mau nanya apa? Mau nanya kenapa aku bisa ada di sini? Kamu sendirian, Aya. Dengan kondisi kesehatanmu seperti ini. Aku nggak mungkin membiarkanmu sendiri. Jangan tanya aku tau dari mana, aku tau semua tentangmu.”Dia menekankan kalimat terakhirnya, seolah ingin menegaskan jika dia memang tau segalanya tentangku. Mungkin juga tau tentang perceraianku. Dia masih menatap mataku, aku pun begitu. Kami saling menatap dengan isi kepala masing-masing. Lalu, kusadari tatapannya turun ke bibirku. Kuli
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-09
Baca selengkapnya

Bab 179

“Pergilah. Jangan mempermainkan perasaanku lagi.”Matanya memejam sesaat.“Aku tak pernah berniat mempermainkanmu, Aya. Aku tak tau kalau Adam akhirnya menyerah dan melepasmu. Aku justru melakukan ini demi kamu.”Senyumnya mengembang menjadi lebih lebar.“Maaf, aku harus mengatakan ini. Aku senang mendengar kabar perceraianmu!”Dia menggerakkan alisnya naik turun dengan ekspresi nakalnya.“Jangan main-main, Van! Aku sudah nggak mau menantang bahaya.”“Tapi aku senang bermain-main denganmu, Ay.”Dia terkekeh. Lalu, sebelum sempat kutepis, tangannya bergerak mengaca-acak rambutku. Tapi, bukan hanya rambut. Karena kini dia telah kembali mengacak-acak hatiku.“Aku akan mengurus semuanya. Kamu nggak usah mikir yang berat-berat. Cepatlah pulih. Kamu sakit gini hanya bikin hatiku sakit.”Aku menautkan alisku.“Kamu jatuh sakit setelah tau hubunganmu dengan Adam berakhir, Aya. Tadinya itu membuatku berpikir kalau kamu menyesali perpisahanmu dengannya. Tapi ....”Aku menunggunya bicara.“Tapi
last updateTerakhir Diperbarui : 2022-12-09
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1617181920
...
48
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status