Taman itu sangat ramai, meskipun tak lagi berteman sang Surya. Banyak keluarga yang sedang bercanda tawa melepas penat, ada yang berjalan beriringan, bahkan tak terkecuali pasangan-pasangan yang bergandeng tangan, saling memeluk, memadu kasih tanpa rasa malu sedikit pun.
Sean menggenggam tangan Kesya begitu erat, keraguan tiba-tiba melanda benaknya tak kala melihat keramaian. Ketidaknyamanan begitu jelas di wajahnya. Kesya yang berdiri di samping Sean dapat menyadari bahwa pria itu benar-benar tidak nyaman."Jika kau tidak nyaman, lebih baik kita pulang." Kesya berujar lembut menatap khawatir wajah Sean yang sudah memucat. Kesya sangat paham bagaimana kehidupan Kingston yang harus terperangkap di dalam istana bersama pengawal dan pelayan. Wajar saja Sean terlihat gelisah.Sean tersenyum tipis mengusir kekhawatiran di wajah Kesya."Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, ayo kita masuk." Sean menarik tangan Kesya memasuki gerbang."Kau tidaPlease Don't Go!Happy reading 😘Malam menyingsing berganti dengan sang Surya, bersinar terang membawa harap. Mengintip di balik celah kecil, menerpa sang putri yang tertidur lelap. Seakan tak puas dengan menggoda, sang Surya mulai merangkak naik, menggelitik kenyamanan.Kesya membuka kelopak mata perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya yang memasuki ruangan.Detik itu juga Kesya menyadari keberadaannya tak lagi di taman melainkan dikamar yang baru sehari ditempati. Mata Kesya menyipit mendapati sepucuk surat di samping nakas. Rasa penasaran membuatnya segera menyibakkan selimut yang sedari tadi membungkus tubuh lalu mengambil surat itu."Surat siapa ini?" Kesya membolak-balik sebelum kemudian membaca isinya.Dear My Kesya, My Future Wife...Selamat pagi Tuan Putri...Cerita semalam sudah berakhir, jangan biarkan kesedihan mu kemarin merenggut kebahagiaan mu hari ini.Aku tahu ini k
Don't Leave Me Alone"Kesya, kau mendengar ku? Jangan tutup matamu, pegang erat tanganku. Kau tidak boleh meninggalkan ku, sama sekali tidak boleh." Sean memberikan rentetan kalimat lirih, berusaha menjaga Kesya agar tetap sadar. Menggenggam kuat tangan pucat dan lemah Kesya, dengan berurai air mata Sean merapalkan doa penuh harap pada Sang Pemilik Hidup."Sean, rasanya sakit sekali." Kesya berucap dengan nada sangat pelan, darah yang tak hentinya mengucur deras membuat tubuhnya melemah. Samar-samar Kesya melihat Sean menangis terisak-isak."Aku mengerti sayang. Tetaplah bertahan, aku sangat membutuhkan mu." lanjut Sean menanamkan kecupan bertubi-tubi di punggung tangan Kesya. Walau bajunya sudah berlumur darah, Sean sama sekali tidak menghiraukan semua itu. Keselamatan Kesya yang terutama baginya."Kau... menangis?" Kesya sekuat tenaga mengukir senyum lembut di tengah rasa sakitnya, lalu perlahan melepaskan tangannya untuk mengusap lembut
Keheningan membentang seisi ruangan itu. Sean mendudukkan diri di sebuah kursi yang berada tepat di samping kepala ranjang Kesya. Lagi, sungai kecil hangat membasahi kedua pipinya. Sambil terisak, Sean membawa matanya menelusuri seluruh tubuh Kesya, tangannya terulur mengusap lembut bekas luka di wajah Kesya."Apa disana begitu menyenangkan? Kenapa kau masih saja menutup matamu? Apa kau tidak merindukanku Kesya? sedangkan aku, tidak sedetik pun aku melewatkan waktu tanpa merindukanmu. Lihatlah, aku sedang menangis, dan aku membutuhkan bahu mu untuk bersandar, aku juga tidak punya tisu untuk mengusap air mataku Kesya. Aku sangat merindukanmu, rasanya satu detik terasa berat tanpa senyum mu. Seperti inikah caramu menghukum ku? sakit sekali, benar-benar sakit. Aku tidak tahu harus berbuat apa, impian yang sudah aku bangun hancur dalam sekejap. Teganya kau membiarkan ku berjuang melawan sepi seorang diri. Kembalilah, aku tidak sekuat itu untuk menahan sakit
"Selamat pagi sayang."Sapaan lembut mengalun indah mengusik jiwa yang masih tertidur dalam kedamaian. Matahari mulai menampakkan diri tersenyum cerah, sekali lagi memberi harap pada setiap orang. Begitupun halnya dengan seorang lelaki tampan, yang tak pernah berhenti berharap. Selama matahari tetap bersinar selama itu pula dia terbelenggu dalam sebuah penantian yang tak pasti."Kau tahu, ini hari ke 7 kau tak disampingku. Bagaimana ini, aku masih juga belum terbiasa tanpamu, pagiku terasa kosong dan hampa. Aku kesepian namun, tak ada yang lebih melegakan bagiku ketika melihatmu tetap bernyawa. Aku masih bisa bertahan dengan kesepian ini, tapi tidak jika kau meninggalkanku. Kau harus tetap bertahan dan membayar semua rasa kesepian ku, itu hukuman bagimu. Kau mengerti? Jangan tinggalkan aku Kesya."Tiada hari tanpa untaian kata-kata lembut yang terlontar dari Sean, meski harus berperang dengan siksaan batin, sekuat tenaga Sean menahan air mata agar ti
Waktu hampir bergeser di angka 12 ketika Sean berlari dengan lutut gemetar di lorong rumah sakit. Keringat dingin yang mengucur deras sebagai pertanda betapa kencang detak jantungnya saat ini. Bulir-bulir air mata menetes kembali mengiringi langkah Sean yang entah kenapa terasa begitu lama. Tidak tahu harus berbuat apa ditengah kebingungan, Sean hanya bisa berlari, berlari secepat mungkin hingga kakinya berhenti di depan ruangan yang sudah dipenuhi lautan manusia.Sean menelan ludah yang terasa pahit, matanya memandang ke arah Dastan yang terduduk lemah di kursi panjang, lalu berganti kearah kerumunan yang sudah berbisik lirih penuh ironi. Dengan langkah perlahan, Sean mendekati Dastan."Apa.... aku melewatkan sesuatu?" Sean bertanya dengan ekspresi penuh kesedihan."Sean...? Kenapa kau ada disini?" Dastan malah balik bertanya. Ekspresi wajahnya yang terkejut tak bisa disembunyikan."Apa aku melewatkan sesuatu... Dastan?" Sean mengulang ka
"Ah....... brengsek!!! Kesya, Kesya, Kesya, Kesya, selalu Kesya." bunyi nada nyaring dari benda-benda yang beradu dengan lantai, begitu memekakan pendengaran. Dada Sheila naik turun karena emosi yang memuncak. "Wanita murahan itu sudah terlalu jauh menelusup kedalam hidup Sean. Aku tidak terima ini, aku tidak terima! Aku akan menghancurkan mu wanita murahan, jangan pernah bermimpi untuk menikmati indahnya hidup bersama Sean. Selama aku masih bernapas selama itu juga aku akan menjadi bayang-bayang kehancuran mu. Lihat saja, siapa diantara kita bertiga yang akan tersingkir, aku, kau, atau Sean. Jika Sean tidak bisa menjadi milikku, maka siapapun tidak bisa memilikinya, termasuk Kesya. Kisah ini belum berakhir dan aku akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi langkahku untuk menjadi pemeran utama, karena Sheila tidak pantas menjadi seorang figuran."Suara geraman beriring tawa mengerikan mengisi sebuah ruangan yang membisu dalam keheningan. Seperti predator yang siap mema
Tidak ada yang berani mengganggu suasana haru yang tercipta di ruangan itu, yang terdengar hanyalah suara tangis Kesya yang terbenam dalam pelukan Sean. Lengan kuat Sean mendekat erat seperti tidak ingin melepaskan walau sedetik pun. Mereka berdua tenggelam dalam dalam dunia mereka sendiri tanpa perduli keadaan sekitarnya. Sean berbisik lembut berusaha menenangkan Kesya dari derai tangis yang tak kunjung berurai."Sudah Kesya, aku ada disini, jangan menangis lagi." hiburnya pelan layaknya menghibur anak kecil yang menangis ketika permintaannya tidak dipenuhi.Ketika Sean berusaha untuk menciptakan jarak Kesya semakin merapatkan diri berusaha memeluknya kembali. Sean tidak bisa untuk tidak tersenyum, perasaannya sungguh lega ketika menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Hartanya yang paling berharga sudah kembali, kembali di sisinya."Sayang, aku akan sangat marah jika kau tidak berhenti menangis. Aku sudah pernah bilang bukan? Air matamu begitu menyakitkan. J
"Bagaimana hasil penyelidikan mu." belum juga Ben menarik nafas Charles langsung menodongnya dengan pertanyaan menuntut."Dari hasil penyelidikan saya tuan, kecelakaan nona Kesya bukanlah murni melainkan sudah direncanakan terlebih dulu." Ben berujar pelan mengamati lekat reaksi yang akan diberikan Charles.Charles mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak bodoh Ben, tanpa perlu kau jelaskan, aku sudah tahu kecelakaan itu sudah direncanakan. Kau tentu tidak lupa bukan? Ada banyak CCTV Kingston disana. Aku ingin lebih dari sekedar informasi murahan ini." geramnya kemudian."Maaf... maafkan saya tuan namun, sampai sekarang saya masih meraba terkait masalah kecelakaan itu. Terlalu sulit untuk menemukan titik terangnya." Ben menelan ludah gugup, raut wajah santai Charles benar-benar menakutkan. Dia seperti sungai yang tenang namun berpotensi untuk menghanyutkan."Benarkah? baiklah aku mengerti. Tapi... akhir-akhir ini pekerjaan mu selalu mengecew
Hari ini benar-benar datang. Detik waktu yang terus bergulir tanpa terasa menghantarkan setiap saat dengan kisah yang berbeda-beda. Siapa sangka,momentyang ditunggu-tunggunya kini telah tiba. Mimpi yang sekian lama dibangun akhirnya akan tergapai dalam hitungan menit. Cerita lama mulai usang dikubur bersama kesakitan, merasa malu untuk menampakkan diri pada cerita baru yang penuh harapan. Seorang perempuan yang sangat cantik tampak mengenakan gaun berwarna putih panjang. Potongan gaun pernikahan itu sedikit merendah di bagian dad@ membentuk hurufVmenampakkan leher jenjang nan bahu seksi itu. Tubuh indahnya terbungkus mewah dan membuat matanya tampak enggan berpaling. Kesya menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar itu. Dia sangatlah cantik bak seorang Dewi. Mata coklatnya terlihat berkaca-kaca diselimuti keharuan yang luar biasa. Lengannya yang dibungkus kain putih berjaring terlihat bergetar ketika di sentuhkan ke w
"Apa maksudmu!"Wajah Charles mengeras mendapat perlakuan sedemikian buruk. Langkahnya untuk segera bertemu dengan Emily tertahan begitu saja karena para pengawal langsung bergerak sigap, memagari dirinya supaya tidak bisa masuk. Charles menggertakkan giginya, kemarahannya yang tampak kelas menguar dari matanya membuat suasana disini terasa mencekam. Begitupun halnya dengan para pengawal itu, tetapi mereka lebih menaruh rasa takut pada kemarahan Sean nantinya. Lelaki itu akan murka jika perintahnya dibantah, bisa saja leher mereka akan menjadi sasaran amukannya. Karena itulah untuk menghindari semuanya, mereka lebih baik memilih perintah Sean."Ku katakan sekali lagi menyingkir dari jalanku" desis Charles mengancam."Maaf tuan. Anda tidak bisa masuk."Rupanya amarahnya itu tak lagi bisa ditahan. Di detik yang sama Charles menelusupkan tangannya di balik jas, meraih senjatanya sebelum kemudian menodongkannya tepat di dahi pengawal itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?"Dahi Kesya berkerut ketika melihat keberadaan Sean di dapur. Lelaki itu bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek selutut. Kesya melangkah maju ke arah Sean sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sean yang rupanya memergoki kebingungan istrinya tersenyum tipis. Perempuan itu pastilah bertanya-tanya mengapa keadaan rumah ini sepi. Namun Sean tidak ingin menyudahi kebingungan Kesya untuk waktu yang cepat, dia masih ingin menikmati wajah cantik itu dalam selang waktu yang lama."Kemana semua para pelayan? Sejak kita pindah di rumah ini, aku tidak menemukan siapapun selain kita berdua dan beberapa pengawal yang berjaga di luar." sambil menolehkan kepala ke arah Sean, Kesya berkata. Mengambil jarak sedekat mungkin, berdiri tepat di bawah dagu Sean.Ekspresi Sean lembut sementara jemarinya bergerak, menyelipkan anak-anak rambut yang menempel di dahi Kesya. Perempuan itu sungguh cantik, meski tanp
"Selamat pagi."Bisikan lembut yang menyapu indera pendengaran berhasil menembus kesadaran Kesya. Perlahan kelopak matanya mengerjap sebelum kemudian mata coklat terang itu terbuka lebar. Hal yang pertama sekali menyapa penglihatannya adalah wajah Sean yang sangat dekat dengan wajahnya, pipi Kesya merah padam, dia hendak menundukkan kepala tetapi jemari Sean langsung dengan bergerak sigap meraih dagunya memaksa menoleh ke arahnya."Apa yang sedang kau pikirkan? pipimu merona, dan itu membuatku bertanya-tanya." ujar Sean sambil menggeser hidungnya di hidung Kesya."Aku... tidak baik-baik saja." suara Kesya serak, senyumnya terurai karena malu-malu.Sean terkekeh kecil, kemudian menarik pinggang Kesya semakin merapat padanya. Tangannya bergerak sensual mengusap permukaan kulit Kesya, sementara matanya terpaku kedalam mata coklat itu. Sean menipiskan bibirnya ketika melihat pipi Kesya yang bertambah merah padam. Perempuan itu tengah men
Proses percintaan itu berlangsung begitu lama. Setelah ledakan yang luar biasa yang menguras kekuatan fisik dan mental, Kesya terbaring di sana dengan mata nyalang. Dadanya bergerak naik turun berjuang keras untuk memompa udara ke paru-parunya. Tubuh Sean masih terbaring di atasnya, dini hari menjelang lelaki itu seolah enggan melepaskan diri dari tubuhnya.Napas Sean sama terengahnya dengan napas Kesya. Dadanya pun bergerak naik turun sementara kepalanya tenggelam di sisi wajah Kesya, sesekali menggesekkan bibirnya mengirim sinyal senyar untuk kembali menggoda Kesya. Perempuan ini berhasil membuatnya kehilangan kontrol dan itu membuatnya senang. Sean mengeecupi garis leher Kesya, bibirnya mengulas senyum tipis ketika mengingat percintaan mereka tadi. Bagaimana tidak, dia harus membimbing Kesya yang tidak berpengalaman ke dalam hal-hal lain yang tentunya membawa mereka dalam kepuasan bersama."Kau baik-baik saja?"Suara Sean yang terdengar parau tiba
"Istriku."Bisikkan itu lembut mengalun bagaikan musik syahdu yang menyejukkan hati. Di bawah kegelapan temaram Kesya merasakan lekukan lehernya dikecupii. Deru napas terasa panas menggelitik, dadanya yang malang sesak menahan debaran yang memukul. Suara lenguhan lolos tak tertahan ketika merasakan sentuhan itu bertambah intim. Tubuhnya yang tak berdaya, hanya bisa pasrah ketika diraup dan dibawa ke atas ranjang.Sean mengawasi wajah Kesya yang merona karena malu. Ketika kepala Kesya menyentuh permukaan ranjang, lelaki itu langsung menyusul di atasnya, menghadiahkan ciuman terbuka dan lidah menggoda yang tidak mungkin bisa ditolak Kesya. Tanpa ampun Sean meelumat, menccicipi, dan mennyesap kelembutan bibir Kesya yang terasa manis dan meledakkan hasratnya dengan cepat."Bolehkah aku memilikimu seutuhnya malam ini?"Suara Sean yang terdengar parau tiba-tiba terdengar dekat di sisi telinganya, membuat Kesya sedikit terkesiap. Ditatapnya kedal
"Sudahkah ku katakan bahwa hari ini kau cantik sekali?"Sean menangkup sisi kiri dan kanan Kesya lalu menciumnya mesra.Mereka telah selesai mengucapkan sumpah pernikahan dan kali ini adalah saat untuk menyambut para tamu.Hotel itu disulap begitu indah dan mewah layaknya istana. Seluruh sudut ruangan berhias ornamen-ornamen klasik dan bunga-bunga harum mewangi yang sangat indah di pandang mata.Kesya tersipu malu bercampur haru, tak hanya hotel itu yang berhias bunga namun juga hatinya. Para tamu yang mendapat kehormatan untuk menyaksikan secara langsung pernikahan mereka juga tidak sungkan untuk menunjukkan raut kebahagiaan.Kedua kelopak mata Kesya terpejam rapat ketika melihat wajah Sean yang perlahan-lahan mendekati wajahnya. Dia sudah bersiap menerima sentuhan lembut di bibirnya.Dan benar saja, saat sesuatu yang kenyal dan lembut menempel di bibirnya, Kesya langsung tersenyum lebar. Dia mengalungkan kedua tanga
Kesya menggenggam erat-erat kalung yang sudah melingkar di lehernya. Selepas kepergian Diandra, dadanya seketika membuncah bahagia. Meskipun melalui Diandra, namun secara tidak langsung restu Emily bersamanya. Dia mematut wajahnya kembali di hadapan cermin. Beruntung riasan Bobby tidak memudar seperti dugaannya. Kesya menghembuskan nafas pendek, sebentar lagi statusnya akan berubah. Ketika mendengar suara pintu terbuka, dengan cepat Kesya mengangkat kepalanya."Kau cantik sekali wanita penari." ujar Adrian melangkah maju ke arah Kesya.Senyum Kesya melebar. "Terimakasih Adrian." bisiknya sepenuh hati.Adrian tersenyum tipis bercampur kepedihan. Rasanya sakit sekali harus merelakan wanita yang kita cintai bersanding dengan lelaki lain. Tetapi demi kebahagiaannya, terkadang kita harus merelakan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kita.Berbahagialah Kesya, semoga cintaku segera menghilang. Aku tidak ingin selamanya tersiksa dengan ci
Detik waktu yang terus bergulir tanpa terasa menghantarkan setiap saat dengan kisah yang berbeda-beda. Siapa sangka, hati yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Mimpi yang sekian lama dibangun akhirnya akan tergapai dalam hitungan menit. Cerita lama mulai usang dikubur bersama keburukan, merasa malu tuk menampakkan diri pada cerita baru yang penuh harapan.Seorang wanita dibalut dengan gaun mewah sedang duduk menatap dirinya di pantulan kaca. Dia sangatlah cantik bak seorangDewi yang turun dari kahyangan. Mata coklatnya terlihat berkaca-kaca diselimuti keharuan yang luar biasa. Tangannya yang dibungkus kain putih berjaring terlihat bergetar hendak menyentuh wajahnya."Aku sangat membenci air mata pengantin, dengan alasan apapun. Jadi tolong hentikan desakan air matamu, sebelum seluruh riasan mahal ini luntur." Bobby berujar cepat, memberi peringatan keras sebelum hal yang ditakutkannya terjadi.Kesya tersenyum lebar lalu menganggukkan kepala. Sekuat t