Se connecterDuring the mass terrorist attack in Manila, every legal-aged citizen is required to work for the government in order to reclaim the living land by battling as an option. The country where the terrorists originated is still in the unknown and under further investigation. Meanwhile, juveniles who were separated from their families had no choice but to live by themselves — whereas building a town, planting food crops, hunting animals and even manslaughter is even a necessity by means of survival. Keisha and his brother, Jaden, are left alone to be chased by vicious brutes hiding from the shadows. Until then they found hope wherein they can rule over and claim justice in the ongoing catastrophe. Is this going to be their chance to be the unsung heroes?
Voir plus"Ustaz sudah punya calon istri belum?"
Aku hanya bisa ternganga ketika mendengar pertanyaan dari perempuan paruh baya yang suaranya sangat aku kenali itu.
Ya, suara perempuan paruh baya itu adalah orang yang sudah melahirkanku tiga puluh tiga tahun yang lalu atau yang biasa kupanggil dengan sebutan Ibu.
Lagi-lagi, Ibu bertanya hal yang memalukan lagi. Kemarin, beliau bertanya hal demikian kepada Juragan tanah, Juragan minyak, bahkan Juragan beras. Dan sekarang, Ibuku bertanya kepada ustad yang sedang mengadakan sesi tanya-jawab setelah ceramah yang disampaikannya selesai.
"Kalau belum punya calon istri, apa mau saya jodohkan dengan putri saya? Dia cantik lho, Taz."
Aku langsung menutup wajahku menggunakan masker yang berada di saku gamisku.
Mungkin niat Ibu baik, agar diriku yang dicap sebagai perawan tua ini segera bertemu jodohnya. Tapi, apa harus sampai segitunya? Menjadi perawan tua bukanlah tindakan kriminal, ‘kan?
Terkadang, aku ingin menangis meratapi nasib. Hal seperti ini bukan hanya sekali terjadi, tetapi sudah berulang kali.
Namun, apalah dayaku yang tidak bisa menghentikan aksi Ibuku tersebut. Karena kalau aku menghentikannya, ujung-ujungnya, doa-doa buruk darinya akan ke luar begitu saja.
"Ibumu berulah lagi, Ra." Mbok Sum, perempuan yang usianya sepantaran dengan Ibuku yang kebetulan duduk bersebelahan denganku menyenggol lenganku.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Ibu adalah orang yang gemar mencarikan jodoh untuk putrinya yang disebut sebagai perawan tua ini.
Aku menoleh sembari tersenyum kecut. Mau marahpun itu juga akan terasa percuma.
"Sebaiknya kamu pulang duluan sebelum mendengar kata penolakan."
Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Perkataan Mbok Sum memang benar adanya. Dari sekian usaha yang Ibuku lakukan, ujung-ujungnya mereka akan menolak dengan alasan berbagai macam. Mulai dari sudah beristri, sudah mempunyai calon, ingin mempunyai calon yang usianya masih muda atau belum ingin menikah.
Ah, benar-benar memalukan bukan? Ibaratnya aku adalah sebuah barang yang diobral ke sana-sini agar segera laku, namun pada akhirnya tidak ada yang membelinya juga.
"Ya sudah, kalau begitu saya pulang duluan ya, Mbok. Kalau ibu saya bertanya, bilang saja tidak tahu."
"Iya, Ra."
Tanpa pikir panjang, aku segera beranjak dari tempat dudukku lalu menyelinap ke luar dari masjid ini.
Aku berjalan ke rumah dengan gontai. Bingung sekali kalau berada di posisiku saat ini. Aku tulang punggung keluarga, wajar kalau belum menemukan jodoh karena sibuk bekerja. Ayahku meninggal dunia ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar karena sakit.
Dulu, pernah ada yang melamar saat usiaku dua puluh lima tahun, tapi ditolak oleh Ibu dengan mentah-mentah karena calon suamiku adalah orang miskin. Aku disuruh bekerja untuk menyekolahkan kedua adikku. Sekarang, aku belum menikah, Ibuku malah kalang kabut.
"Ibu mana, Mbak?" tanya Fika adikku, saat aku baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah.
"Masih di masjid, Fik. Mbak pulang duluan."
Saudara perempuan yang terpaut usia lima tahun dariku itu langsung mendekat ke arahku.
"Bagi duit dong, Mbak," pintanya kemudian.
Aku melepas kerudungku lalu duduk di kursi ruang tamu. "Memangnya suamimu nggak ngasih duit? Kok, dari kemarin minta Mbak terus?"
"Perhitungan banget sama adik sendiri. Pantesan jadi perawan tua! Pantesan gak laku-laku!"
Aku langsung mengucap istighfar saat Fika berkata demikian. Sebenarnya tidak hanya Fika, Ibuku pun juga sering mengatakan hal serupa jika aku tidak memberikan apa yang mereka minta. Kalau begini, rasa-rasanya aku ingin menghilang dari peredaran bumi.
"Ya sudah tunggu sebentar, Mbak ambilkan."
"Nah, gitu dong!"
Aku beranjak dari tempat dudukku menuju kamar lalu mengambil tiga lembar uang berwarna merah dan aku berikan kepada Adikku tersebut.
"Kok, cuma segini? Kuranglah, Mbak!"
"Kemarin kamu sudah aku kasih lima ratus ribu lho, Fik."
"Ah, kalau pelit bilang aja pelit!" tanpa berterimakasih, Fika langsung pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Aku mengelus dada melihat kepergiannya. Zaman sekarang mencari uang itu susah. Dia hanya tahunya meminta saja. Padahal suaminya juga bekerja, dia juga belum mempunyai anak. Tapi, tetap saja kalau urusan uang, aku yang selalu dimintainya. Kalau tidak dikasih, doa-doa buruknya langsung keluar begitu saja.
Aku langsung pergi ke kamarku. Sore ini aku akan kembali ke ibu kota, meskipun jatah liburku masih satu hari. Sungguh aku sudah tidak betah berada di rumah ini.
***
"Ayo buruan pakai kerudungnya! Orang kok lelet, pantesan jodohnya juga lelet!" omel ibuku lagi. Niat hati ingin kembali ke ibu kota kemarin sore akhirnya gagal karena perempuan paruh baya itu tidak mengizinkannya.
"Rara sudah bilang kalau nggak mau ikut arisan, Bu. Itu 'kan arisan khusus ibu-ibu."
"Lha, seharusnya kamu juga sudah jadi ibu-ibu! Umur 33 tahun belum menikah memangnya wajar?"
"Nggak ada batasan waktu kapan orang itu menikah, Bu."
"Iya, tapi Ibu tuh malu, Ra. Tiap hari ada saja yang bertanya kapan kamu nikah. Katanya kamu perempuan gak laku, katanya kamu kena sawan makanya sulit jodoh."
"Ya ... tinggal jawab aja kalau belum ketemu jodohnya, Bu."
Terdengar Ibuku mendengus kesal. "Ini efeknya kalau suka mendebat orang tua! Lama-lama, kamu Ibu jodohkan juga dengan pak Kades dari kampung sebelah biar dijadikan istri keempatnya!"
"Tega amat sama anak sendiri, Bu."
"Makanya sekarang ikut Ibu! Nanti Ibu mau minta suaminya bu Ndari untuk menerawangmu!"
"Astaghfirullah, menerawang gimana maksudnya, Bu?"
"Siapa tau kamu ketempelan jin, jadi jodohnya sulit. Udah ayo cepet pakai kerudungnya!"
"Iya-iya." Tak ingin berdebat lagi, dengan terpaksa aku menurut.
Aku segera memakai kerudung yang telah disiapkan oleh Ibu dan berjalan mengikutinya.
***
"Rara harus dimandikan kembang tujuh rupa tepat malam jum'at nanti Bu Retno."
Aku melongo, baru juga tiba di tempat arisan, Pak Karyo—suaminya Bu Ndari sudah berkata demikian.
Inikah yang dinamakan menerawang?
"Aura anak Bu Retno ini hitam pekat penuh dengan kegelapan. Memandikannya dengan kembang tujuh rupa akan membuat aura hitam itu menghilang."
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ini ajaran dari mana ya Allah? Rasanya aku ingin berlari menjauh dari orang-orang ini.
"Terus memandikannya harus jam dua belas malam tepat di sungai dekat pohon besar."
Aku langsung menarik lengan baju Ibuku agar tidak mengikuti perkataan konyol tersebut.
"Jangan lupa bawa sesajennya, kembang tujuh rupa dan telur ayam hitam tujuh butir."
"Ya baiklah, nanti malam akan saya bawa."
"Bu, aku nggak mau. Itu sama saja syirik, lho," bisikku pada Ibu.
"Ini demi kebaikanmu, Ra. Biar kamu itu segera bertemu dengan jodohmu!"
"Bu, jodoh itu urusan Allah."
"Diam, kamu! Bisanya bikin pusing kepala saja! Pulang duluan sana nggak usah jadi ikut arisan!" bentak Ibuku yang membuat kami langsung menjadi pusat perhatian.
Rasanya malu sekali berada di posisiku saat ini. Sehina inikah perempuan berusia matang tapi belum menikah?
It was a very pleasing Saturday and the birds were chirping and the sun was shining at its full radiance. Not a moment later, a sound of alarm awakened a young lady who was covered with a blanket and a facial mask for her daily skin care routine. She brushed her hair and headed to her shower room to start the day. It was the most exciting day for Rhianna —she never dated any man ever since she was in junior high. Because of her obsession with science and her nerdy aspects, she was often called a weirdo back then. Although her appearance and personality was never the reason she’s bullied; after all, there should be no reason to bully. One is just an asshole for making an excuse to ruin someone’s life, therefore, a bully is a bully.After all those setbacks and bullying, she was encouraged to do her skin care routine and daily exercises. She got her braces removed and started to wear contac
“So… It is possible.” “Of course! You are talking to the great Rhianna, everything is possible. Though, if your blood isn’t compatible like Keisha has, whelp, I might as well have my words as an appetizer.” Rhianna said as both she and Zhackary in a room filled with scientific apparatus and gizmos. “I am counting on you.” These were the conversations that they had before a large project was upheld. It all started with a movie advertisement from an electric pole in an old abandoned suburb. Zhackary was having his daily jog and decided to come to this neighborhood. He decided on this place as there are no reported terrorist sightings anywhere near the place, but for safety precautions, he has a colt 45 revolver and a pocket knife with him.
The following day came as the beginning of the week’s training for the incoming capturing games. Everyone woke up as early as even before the sun would rise up. From inside Keisha’s tent, she could hear the jogs of the men on training, syncing with their trainer’s counting. The one who was counting had a familiar voice that Keisha could easily recognize.“Zhackary Veras…”The young lady muttered his name as she hovered towards the counter where a coffee maker sat. Although she was not into caffeine and that she was also intolerant, she thought of having the necessity to at least have a cup of it. Throughout the night, she couldn’t seem to make herself sleep about what she felt that time after hearing Zhackary’s cold reply. However, she had no clue what that certain feeling was and decided to just brush it off. As
New morning, new beginnings. The Cipher and the other existing factions decided to start up the upcoming game meeting to explain the rules of the game. The room was filled with alcoholic drinks and some music that indicated a little party that was about to happen when the meeting ended. All wore their most beautiful dresses and tux because it was a formal occasion after all. The whole facility was guarded by the Philippine Military itself and the place was off limits to the people who don't live in the country. All representatives came except the Utopians though they did an online call just to hear the rules. Keisha from the corner, who stood with Zhackary while taking a sip from her wine glass, rolled her eyes, “Is he frightened of showing his ass up here?” She chuckled in an ironic way before she could continue her next sentence. “Well after all, who wouldn’t be scared after some ‘beast’ strangled him a
Twenty-four hours after Utopian’s defeat, in his room, Iyaz was thinking on how to break Cipher’s defense. It seemed like he was struggling a lot because of such defense and an exquisite force that was acquired by his rivals. He was running out of ideas
The fields were nothing but filled with the remains of the dead men who invaded the Ciphers’ defenses, some got separated from their torsos, some have lost their heads, and some were completely smashed into pieces that one could not recognize anymore. One wou
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.