FAZER LOGINFenrir Jenkins, a city boy who decided to live in the woods, gets hunted by a group of men. When the moon peered above the clouds, he transforms into the very being he hunted for sport. He meets a girl who got lost in the forest and takes her into his home. In a sudden tragic turn of events, he accidentally takes the life out of her. After the incident, the monster within him took over. A mysterious man guides him back into his human form. Fenrir decides to leave the forest. Then he finds a girl who looks similar to his previous lover and he follows her into the city. What awaits him there? Will he be able to break the curse or will he lose his humanity forever?
Ver maisISTRI PERTAMA SUAMIKU
(Duri dalam rumah tanggaku)"Mas, anter aku belanja nanti malam ya. Isi kulkas sudah mau habis."Mas Dany menoleh, memandangku dengan tatapan heran."Gak bisa Liv, malam ini kan jatah Mas ke rumah Laras."Aku cemberut. Meski sudah menduga jawabannya, tak urung hatiku terasa panas mendengar kalimat itu keluar dari mulut suamiku."Tapi isi kulkas habis. Aku mau masak apa besok?"Mas Dany kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel di tangan. Seakan apa yang aku bicarakan bukan lah hal yang penting."Besok beli di tukang sayur dulu. Atau kau bisa ke supermarket sendiri, atau ajak Mbak Inah besok, atau…""Mas!" Aku merebut ponsel yang sejak tadi menjadi fokus perhatiannya. Mas Dany kini menatapku."Mas kan tahu aku gak mau belanja sembarangan, apalagi di tukang sayur lewat. Aku harus belanja di supermarket yang sayurannya higienes. Lagian…""Lagian apa?""Mbak Laras, apa gak bisa ngasih kelonggaran sesekali? Dia kan sudah tua.""Livia!' suara Mas Dany meninggi."Loh aku benar kan?" Aku meraih wajah Mas Dany, membelai dagunya. "Mas beneran gak akan menceraikan dia?"Mas Dany mendesah. "Kita sudah berjanji tak membahas ini.""Kenapa? Apakah aku saja tak cukup untuk jadi istrimu satu-satunya?""Laras itu ibu dari anak-anakku.""Aku akan memberimu anak banyak seperti yang kau inginkan." Tanganku turun ke lehernya, lalu dada. Mas Dany mulai menggelinjang. Diraihnya wajahku, dan mulai menyerang bibirku dengan panas. Aku tersenyum dalam hati. Jika sudah begini, ku pastikan kamu akan gigit jari Mbak. Karena Mas Dany tak akan keluar dari dalam selimutku sampai besok pagi.***"Mas?!"Aku terbangun ketika adzan Maghrib berkumandang. Tubuhku masih polos. Seharusnya, Mas Dany ada disebelahku saat ini. Tapi ternyata aku sendiri. Kuraih ponsel di atas nakas. Pesan darinya langsung tampil di halaman depan.(Sorry aku gak bangunin kamu. Aku pulang ke rumah Laras malam ini sesuai jadwal. Pintu aku kunci dari luar ya. Kamu masih pegang kunci depan kan? Hati-hati sayang. I love you.)Nyaris saja aku membanting ponsel di tanganku kalau tak ingat harganya yang fantastis. Dengan murka kuraup selimut yang menutupi tubuhku, dan melemparnya sembarang arah. Aku berdiri, menatap tubuh polosku di depan cermin. Tubuh indah bak gitar spanyol yang telah meluluh lantakkan pertahanan Mas Dany yang terkenal setia. Tapi kenapa tubuh ini tak mampu membuat Mas Dany meninggalkan istri pertamanya?Aku menghela nafas panjang berkali-kali, berusaha meredam emosi. Kulangkahkan kaki ke kamar mandi dan mengisi bathtub dengan sabun aromaterapi kesukaanku. Nyaris satu jam di dalam, hatiku mulai terasa tenang. Aku memilih pakaian yang berjejer rapi di dalam lemari. Sebuah jeans biru ketat yang menampilkan kakiku yang jenjang serta sebuah kaus lengan panjang merah menyala. Kuputuskan untuk ke supermarket sendirian, sekaligus menenangkan perasaan. Biasanya, belanja bisa menjadi obat mujarab bagiku.Aku tersenyum memandang Honda jazz merah menyala, hadiah dari Mas Dany ketika pertama kali kuserahkan diriku padanya. Dan rumah minimalis dengan perabotan serba Lux ini adalah hadiahnya yang kedua. Hadiah besar. Sementara hadiah kecil kecil berupa perhiasan sudah tak terhitung banyaknya.Aku tiba di supermarket terbesar di kota ini, tempat biasa aku berbelanja bahan makanan. Sambil mendorong troli, aku berusaha melupakan betapa menjengkelkannya perempuan bernama Laras yang menjadi maduku itu. Dia terlalu bergantung pada Mas Dany, sehingga bahkan tak mau menggugat cerai meski tahu suaminya berselingkuh denganku. Dia bahkan akhirnya mengizinkan Mas Dany menikahiku."Sebaiknya kalian segera menikah, daripada terus berbuat dosa."Ujarnya lima bulan lalu dengan wajah tenang tanpa gelombang. Aku tersenyum menang meski dalam hati. Meski saat ini harus berbagi, aku yakin suatu saat nanti aku akan berhasil menyingkirkan duri itu dari rumah tanggaku.Brukk! Seseorang menabrakku hingga aku nyaris saja terjatuh jika tidak berpegangan pada troli."Aduh! Lihat-lihat dong kalau jalan!" Seruku kesal.Perempuan yang baru saja menabrakku membalikkan badannya."Hai Tante Livia!" Serunya sambil tersenyum.Aku terdiam, menatap Cintya, putri pertama suamiku yang sudah beranjak remaja. Gadis tujuh belas tahun itu menyilangkan tangannya di depan dada."Belanja ya Tante? Kok sendiri? Oh, aku lupa. Papa dan Mamaku kan lagi dinner romantis di restoran. Ya, namanya juga istri sah, tenang aja mau digandeng kemana mana juga."Si-a-lan. Gadis bermulut tajam ini suka sekali menyindir dan memancing emosiku. Masih kuingat tamparannya di pipiku saat pertama kali dia tahu Papanya berselingkuh denganku. Aku menghela nafas dalam-dalam. Di hadapannya, aku harus tenang. Aku tak boleh bertingkah bar bar karena itu akan membuatnya senang.Aku tersenyum."Tante ini perempuan mandiri Cintya. Malam ini giliran Mas Dany sama Mbak Laras. Gak apa apa. Kan memang sudah seharusnya begitu?"Cintya mendekatkan wajahnya padaku, tak peduli lalu lalang orang memperhatikan kami."Yakin Tante baik baik aja?""Apa maksudmu?""Ck, sayang sekali Mama melarangku memberimu pelajaran. Padahal aku ingin sekali menjambak rambutku yang indah itu, dan mencakar wajahmu yang mulus, yang pasti telah menghabiskan banyak uang Papaku untuk merawatnya."Wajahku terasa panas mendengar kata-kata Cintya. Kutarik troli menjauh darinya. Aku tak boleh terpancing emosi. Anak kemarin sore itu tak akan segan mempermalukan diriku di tempat umum. Kudorong troli menuju kasir, melupakan beberapa barang yang seharusnya kubeli."Hey, Ibu ibu, ada yang mau lihat pelakor gak?!"Aku terkejut. Susu kotak yang masih kupegang jatuh ke meja kasir. Suara lantang Cintya memancing semua orang menoleh padanya. Cintya memghampiriku, menatapku lekat."Aku masih memberimu waktu untuk meninggalkan Papa. Atau kau akan lihat apa yang bisa kulakukan.""Papamu tidak akan mau meninggalkan aku Cintya.""Kalau begitu pergi! Enyah dari hidup kami! Atau…""Kau mau apa?"Cintya tersenyum, lalu berbalik ke kerumunan pengunjung supermarket yang di dominasi Ibu ibu."Ibu ibu… ini dia pelakor yang merebut Papaku!" Suaranya sungguh lantangTanpa pikir panjang, aku mengambil langkah seribu, meninggalkan troli dan kasir yang bengong melihat adegan ini. Dengan nafas terengah engah, aku masuk ke mobil dan memacunya sekencang mungkin.Awas kau Cintya. Akan kuberi kau pelajaran.Dan kamu Mbak Laras, sebaiknya kau didik baik-baik anakmu, atau aku yang akan melakukannya, sekaligus mengambil alih semua darimu, bukan hanya Mas Dany, semuanya!***I spent the whole day with Rosie. Why didn’t I realize this? Her amber eyes saw through my soul. Her fair complexion caressed my face like a feeble child. The warmth she emitted resonated with mine. Was this how true love felt like? When the light of the sun pulled away from us, I bit my lip with downcast eyes. My urges wanted to come out, but I must refrain—it’s not yet the right time. Then she swung her hips on mine. We haven’t drunk anything, but a wild goose sat on my lap.
“So much for a quiet life, I suppose,” my eyes dropped to the ground. Taps of the pen sounded like the ticking seconds of time. Sheets of paper rustled plentifully as leaves on the branches. Rosie’s controlled heartbeats pricked my ears. There was nothing for me to do but witness her words.
I gazed upon the glinting brass metal on the table. The light of fire burning from its place showed me the way towards the exit. Dad circled the table’s edges as his stare fixed on the dusty floor. His shuffling leather shoes picked up some specs. Beads formed on my forehead, damping the metal’s rusty surface. A slur of curses were spoken by the beast transforming below me. He ran out of the door and stormed ahead of my sight. The old women didn’t react.
Repetitive rows of trees ran up the path. Blue sky with a moderate amount of cotton stretched endlessly. The lake shimmered like crystals as fish flew on the surface, reaching for the sky. Some wild creatures drank peacefully or basked over the clear blue. A familiar wooden house shaded by thick trees struck my eyes. No lights nor fire occupied the cozy place. I haven’t seen her for a while. Where could she be? An hour before sundown, we arrived at our destination.
My legs felt like vegetables. The unexpected ambush totally drained my morn
“Hey, Florissa. Let me carry you home. Thanks for the offer, Mr. Jenk
“Is anybody there? Help! Somebody, please help me!” it sounded
“Ahh! Fen, quick, get my shotgun upstairs!” dad screamed his hi


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.