LOGINAsh Parker is a rare scholar at elite Saint Blaise's Academy (SBA). She's a good kid, just trying to get by in school, despite being a social outcast among her affluent peers. Just before her 18th birthday, a sudden transformation turns her life upside-down. Her werewolf blood is awakened and she gains the ability to shapeshift into a terrible beast. Hunter Guzman is a handsome boy who's popular at the Academy. As the sole heir of a rich and powerful clan, he's got everything going for him: killer looks, athleticism, charisma, and influence. He's also secretly a werewolf, descended from a strong, noble line of Lycidae. The two accidentally encounter each other on a hunt and form a fast bond. Ash thinks that being with Hunter will help her understand and control her newfound abilities. On the other hand, Hunter thinks that he and Ash are the One True Pairing that will save the Lycans from extinction. Is there a middle ground for two wolf kids trying to navigate love and transformation?
View More"Selamat. Kamu hamil, Num!"
"Hanum tak langsung menjawab, wanita itu terdiam seperkian detik. Matanya berkaca-kaca, bibirnya pun sedikit terbuka. Dia benar-benar syok, meski telah mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua dari hasil tespack yang dia lakukan tadi pagi, tetap saja mendengar penjelasan dari sahabatnya barusan, Hanum antara percaya dan tidak."A-apa, Ran? A-aku hamil? Aku beneran hamil?" tanyanya memastikan."He'um ... alhamdulillah, ada janin yang berkembang dalam rahim kamu. Ini, lihatlah. Titik hitam ini merupakan calon anakmu." Dokter muda itu menggerakkan kursor, menunjukkan calon buah cintanya."Terimakasih Ya Allah, terimakasih ...." Hanum mengucap syukur. Kehamilannya ini akan menjadi kado ulangtahun terindah untuk suaminya-- Arash.Tadi pagi Hanum iseng melakukan tespack, wanita itu sudah telat selama 3 minggu. Wanita berparas teduh itu tidak terlalu berharap, sebab hal serupa sering terjadi. Setahun yang lalu bahkan Hanum pernah telat hingga dua bulan lamanya, dia pikir dirinya tengah berbadan dua, ternyata ... hanyalah gangguan hormon semata. Hingga wanita itu tidak terlalu berharap pada hasil tespack yang dia lakukan saat itu.Namun, apa yang ia dapati pagi tadi? Garis pada tespack itu menunjukkan garis dua, Hanum dinyatakan hamil. Setelah 3 tahun penantian, akhirnya Tuhan mempercayakan dirinya untuk menjadi seorang Ibu.Untuk memastikan hasilnya, wanita itu pun pergi ke rumah sakit yang secara diam-diam rutin dia kunjungi setiap bulannya, di rumah sakit itu lah sahabatnya berdinas. Suaminya tidak pernah tahu jika selama ini Hanum mati-matian berusaha menghadirkan tanda-tanda kehidupan di dalam rahimnya. Arash meminta Hanum untuk tidak terlalu memikirkan kehadiran seorang anak, bahkan Arash pernah berkata jika dirinya tidak apa-apa jika tidak memiliki anak dari rahim Hanum. Aneh sekali bukan? Jika kebanyakan para suami sangat antusias berusaha untuk hadirnya anggota baru di tengah-tengah keluarga kecil mereka, maka tidak dengan lelaki yang sudah 3 tahun ini menghalalkan Hanum, dia bersikap sangat santai, tidak. Bahkan terbilang cuek."Kan sudah kubilang, kamu pasti akan hamil. Tinggal menunggu waktunya saja, tidak perlu grasak grusuk dengan setiap bulan merepotkanku," gerutu Rani sembari membantu Hanum bangkit dari ranjang periksa."Kamu bisa bilang begitu karena kamu tidak merasakan apa yang aku alami, Ran. Mas Arash itu anak pertama, kedua orangtuanya sangat mengharapkan kehadiran cucu. Ya ... walaupun Mama dan Papa terlihat tidak menuntut, tapi aku tahu mereka sangat menanti kehadiran buah cinta kami," lirih Hanum."Ya, ya. Lupakan segala gundah gelanamu itu, alhamdulillah sekarang kan kamu sudah hamil. Segeralah beritahukan berita baik ini kepada mertuamu, terutama kepada 'Zauyamu' itu." Rani meledek."Ish ...." Aku mencebik. Kami berdua pun tertawa."Jangan lupa diminum vitaminnya, jaga baik-baik kandunganmu, dan ... hati-hati di jalan." Aku mengangguk lantas melambaikan tangan kepada Rani. Rani pun membalasnya dengan tersenyum.Sebelum pulang ke rumah, Hanum menyempatkan singgah ke mini market terlebih dahulu, dia bermaksud membeli kotak kecil dan pita kado. Di dalam kotak itu nantinya akan dia letakkan tespack."Pasti mas Arash sangat senang. Ahhhhhh ... aku jadi tak sabar memberikan kotak ini, aku jadi penasaran bagaimana ekspresinya. Mama dan Papa juga pasti sangat bahagia mendengar kabar ini," gumam Hanum sambil berjalan menuju kasir. Garis pada bibirnya tak henti-hentinya melekung.Sesampainya di rumah, Hanum langsung mengeksekusi kotak dengan berbagai ukuran yang tadi dia beli.Ya, nantinya Hanum akan memberikan kotak besar yang didalamnya terdapat sebuah kotak lagi, jika di buka akan ada lagi kotak berikutnya, begitu seterusnya hingga menyisahkan satu kotak berukuran kecil, yang di sanalah terdapat door price.***Selesai menunaikan salat Maghrib, buru-buru Hanum mematut dirinya di depan cermin. Malam ini ia akan berhias secantik mungkin, ia ingin memberikan penampilan terbaiknya untuk suami tercinta, sudah seminggu ini dia dan kekasih halalnya tak bertemu. Arash tengah melakukan perjalanan bisnis keluar kota, dan akan pulang pada dini hari nanti. Bertepatan pula dengan hari jadi suami tercinta, bukankah seperti semesta tengah mendukungnya? Dalam satu waktu Hanum akan menggemparkan keluarga Armawijaya dengan kabar kehamilannya."Lho? Kok mobil Zauyaku ada disini? Sudah pulangkah? Tetapi kenapa tidak pulang ke rumah, kenapa malah pulang ke rumah Mama?" Hanum mengernyitkan dahinya saat mendapati mobil mewah sang suami terparkir rapi dihalaman mertua. Namun, dia memilih mengabaikannya meski dalam benaknya terasa janggal.Rumah Hanum dan sang mertua bersebelahan. Terdapat pintu penghubung di antara tempok tinggi kedua rumah elit tersebut, dan pintu itulah yang kerap kali baik Hanum dan keluarga suaminya gunakan untuk setiap kali berkunjung ke rumah satu sama lain tanpa harus melewati pagar depan halaman rumah masing-masing."Aku sudah lelah berpura-pura mencintai Hanum, Ma. Aku benar-benar lelah, aku juga ingin bahagia."Jeder ....Hampir saja kotak yang berada di dalam pegangannya terjatuh.Alih-alih ingin memberikan kejutan, justru wanita itulah yang mendapatkanya.Apa kalian tahu bagaimana perasaan Hanum setelah mendengar kalimat sang suami?Bagai dihantam ribuan benda tajam, lemparan itu melesak tepat mengenai relung hatinya yang paling dalam. Dadanya terasa begitu sesak, hingga rasanya sulit sekali meraup oksigen barang sedikit.Tetes demi tetes air mata membasahi pipi mulusnya, Hanum bagai kehilangan arah.Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mencintai Hanum? Benar mereka menikah kerena dijodohkan, tetapi masa iya selama seribu malam yang mereka lewati tak jua melahirkan benih-benih cinta dalam hati lelaki rupawan tersebut.Lalu, apa maksud perhatian dan kehangatan yang lelaki itu berikan selami ini? Tipu muslihat belakakah?Apa Hanum yang terlalu berlebihan menanggapi sikap suaminya itu? Entahlah ....Dari kalimat yang Arash lontarkan barusan, terdengar jelas bahwa kekasih halalnya itu sama sekali tak mencintai dirinya, selama ini lelaki itu merasa tertekan."Kurang berbakti apa Arash selama ini? Semuanya, Ma. Semua keinginan Mama dan Papa selalu Arash penuhi. Hingga Arash mengorbankan kebahagiaan diri sendiri. Arash sampai meninggalkan Rasti," lirihnya. Hanum menggigit kuat bibir bawahnya agar tangisnya tak luruh, juga memukul-mukul dadanya yang terasa begitu menyesakkan.Wanita itu jadi teringat awal-awal penyatuan mereka, kekasih halalnya itu menyebut nama Rasti. Hanum pikir Rasti itu merupakan dirinya, sebab nama lengkapnya adalah Hanum Swastika Rasti. Ternyata dirinya salah besar. Rasti yang dimaksud Arash adalah wanita lain."Sekali ini tolong kabulkan permintaan Arash ... Arash mohon, izinkan Arash menikahi wanita yang Arash cintai." Suami Hanum itu menghiba, dia bahkan sampai bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya."Astaghfirullah, Arash! Sadarkah dengan perkataanmu itu!" Wanita setengah baya dengan sanggul di kepalanya terlihat begitu berang." Dia menepis kasar tangan sang putra pertamanya. "Mama rasa kamu terlalu lelah, hingga berbicara yang tidak-tidak. Pulanglah ke rumahmu. Temuilah Hanum, dia pasti tengah menunggumu.""Mau sampai kapan, Ma? Mau sampai kapan Arash menjalani rumah tangga tanpa tujuan seperti ini? Apa Mama tahu betapa sulitnya Arash menjalani pernikahan bersama Hanum selama ini? Mama bilang lambat laun kami berdua akan saling jatuh cinta, tapi apa nyatanya? Tidak sama sekali, semua terasa begitu menyakitkan, Arash lelah. Kali ini izinkan Arash mengapai kebahagiaan." Pria itu bangkit dari simpuhannya dan berbalik badan."Arash akan menikahi Rasti, tidak perduli Mama dan Papa setuju atau tidak."Hanum buru-buru beranjak dari posisinya tatkala melihat suaminya bergerak kearahnya."Non Hanum ...?"Ash’s wolf eyes opened to see two girls cowering together on the bed in front of her. She could smell their fear distinctly: an acrid smell that caused her nose to twitch. The smell was emanating from these two girls and these two girls were her friends. She knew this in her heart. They weren’t prey animals.Ash moved to bring comfort to her friends, seeking to calm them. She opened her mouth to speak and a low keening howl escaped her throat. The sound seemed to reverberate around the room. The sound was monstrous and offered no comfort to the human ear.Celia screamed, afraid. Izzy, however, remained perfectly still. Her fear was still palpable but there was an underlying courage that kept her from swaying.Ash could sense an aura coming from Izzy. Something yellow, with lines of sky blue. It was warm and soothing.[Ash, please, Celia is scared. Please stop] A voice echoed in Ash’s head.[Izzy, is that you?] Ash thought.[Yes, it’s me. Please stop this.]Ash locked eyes with Izzy in
The silver-haired man looked like he was in his late forties, perhaps fifty years old at most. He had sun-warmed skin that contrasted with his pale blond, nearly silver hair. He looked like an outdoorsman in his denim jacket and worn gray jeans.“That’s Wendell Carson to you, my boy. Grandfather was an old life,” the silver-haired man replied with a half-smile.Hunter didn’t say a word. He did not know what to say. He only knew that he had said something he wasn’t supposed to say.The man turned toward the girls and smiled.“My name is Wendell Carson. I’m a wildlife expert from The Wolf Sanctuary in Mountain Range. In an old life, I was Hunter’s known grandfather.”Ash’s eyes widened. She had only ever heard of Hunter’s grandfather from Lavinia, Hunter’s mother. The story of him killing and eating Lavinia’s horses shot through her mind. Her heart beat faster and her palms began to sweat.Celia and Izzy merely looked on, confused.“You will call me Mr. Carson and that will be all. No o
In the middle of the first week back, the headmaster called all the students to the Grand Hall for an assembly. This was unusual as Assemblies were usually set for the beginning or end of term, and certainly not done mid-week.The students shuffled in at an early 7:00 am, with much grumbling and fidgeting.The Head Master looked out to his early morning audience and began his speech. He spoke first of preliminary matters, welcoming the students back from their holidays. After the brief niceties, a somber look came upon his face and he continued.“There are a few matters I will be addressing this morning that is of great importance to the Academy.First, I am sure that all of you have heard of the tragic incident that occurred over the holidays in the restricted area behind the school. It is true that a man was found thereon, but I would like to assure everyone that it was not a student of this school. Those of your peers who have yet to arrive from their holidays will be accounted for
Monday Morning: At lunch, the cafeteria was abuzz with chatter. It was the first day after the holidays and rumors were flying.Rumor 1: Apparently, a man had been found dead in the woods behind the school.Apparently, the man had killed himself and the body had been eaten by animals, leaving only his pecked clean bones. Others claimed it was one of the school staff that killed himself.Rumor 2: Celia, the new money girl, had apparently tried to stab the orphan Boots girl at the fancy restaurant in town. Her vulgar rich parents had paid off the orphan to not press charges, and apparently, that was why trailer trash Celia new money wasn’t back yet.Rumor 3: It appears that there was some truth to Rumor 2, as Hunter Guzman had suddenly seemed to take an interest in Orphan Boots.They had been seen jogging together at the quad in the early morning and they seemed to be chatting away. He also
In the late afternoon, Fernan had Ash and Hunter running laps around the property.“I thought – this was – going – to – be – a vacation,” Ash whined haltingly, hands on her knees, after twenty minutes of jogging.“You’re not very a
Ash sat on the floor next to her tattered uniform and her mobile phone. Her hands were clasped over her head as she stared hard at the floor in front of her. Her heart was racing in her chest and she was breathing hard just to keep up. With all the anger she felt, she wanted to run outside, find
On the second night of the fever, Ash dreamed about the Forest. Unlike the first time where she was physically in the woods behind the school, this particular visit happened purely in her mind. She never left her bed.In Ash's mind, however, there was no difference: she truly believed that
When I woke up that morning, I felt like the world was finally my oyster. For most of my life, I endured pain. When I was little, I suffered through the pain of rejection. I was already “too old” when I arrived at the Orphanage. Most couples wanted babies or toddlers: too young to know that they wer






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore