LOGINA sexy thriller following a man in his exploits to regain his manhood. Dominique a reformed Jamaican gangster and family man tries desperately to build a business and gain his wife’s respect behind his wife’s back. Dominique Martin is an upward climbing, risk-taking man, seeks to be in sync with his beautiful, intelligent and troubled traditional wife. The story centers on the lives ofof Dominique and Marsha Martin and how the secrets of their past both binds them together while prevents them from being one.
View More“Tugas pertamamu, antarkan makanan ini untuk Kama sekarang. Kamu bisa minta tolong pada sopir untuk mengantarkanmu. Dia sedang menjalani hukuman dariku.”
Sutra mengernyitkan dahinya. Ada sebuah pertanyaan yang menjejali isi kepalanya saat ini. Sejak ibunya bekerja sebagai pelayan di keluarga Deodola, hidup Sutra ikut terseret dalam kehidupan keluarga itu. Seminggu lalu ia baru lulus sekolah, tapi karena sulitnya mencari pekerjaan, keluarganya tak punya pilihan lain selain terus bergantung pada kebaikan keluarga Deodola. Kini, tanpa benar-benar paham alasannya, Sutra justru diminta membantu pekerjaan ibunya—dan mengantarkan makanan sehari hari untuk anak tunggal keluarga Deodola, yang katanya sedang “dihukum”. “Oh, ya. Katakan padanya kalau kau adalah pelayan baru, putri Zatulini. Semoga saja dia tidak macam-macam.” Suara Amira–Nyona pemilik rumah ini terdengar mengecil saat ia mengatakan kalimatnya yang terakhir. Setelah berbincang sesaat dengan Nyonya besar, Sutra masuk dalam dapur. Mencari sebuah rantang yang sudah terisi makanan untuk sang bos. Tepatnya bos baru. Zatulini— ibunya, menghampiri Sutra dengan kerutan yang begitu kentara di dahinya. “Kau mau ke mana?” “Nyonya menyuruhku untuk mengantar makanan ini ke apartemen Tuan Muda, Bu.” “Tu-tuan Muda? Maksudmu ….” “Tuan Kama.” “Kenapa harus dirimu?” “Apa nyonya Amira tidak memberitahu ibu sebelumnya? jika tugasku adalah mengantar makanan serta keperluan Tuan Kama ke apartemen?” Senyum itu mengembang, melengkung bak bulan sabit yang terang. “Bukankah itu pekerjaan yang terbilang cukup mudah, Bu? Sutra sangat bersyukur karena keluarga Dodola masih mempercayai keluarga kita,” sambungnya sambil menenteng rantang. Langkahnya panjang-panjang, meninggalkan Zatulini yang masih tampak tercengang di dalam dapur. “Tuan Kama bukan orang yang mudah untuk kau ajak tersenyum, Sutra!” gerutunya yang kemudian ikut mengayunkan langkah, mencari keberadaan Sutra. “Sutra, biarkan ibu saja yang mengantar makanan Tuan Kama. Kamu lakukan pekerjaan yang lain saja.” “Itu sudah menjadi tugas Sutra, Lini.” Suara itu melengking. Tidak marah, tapi sedikit menyentak. “Nyonya. Maaf, tapi ….” “Kau tidak perlu khawatir. Kama tidak akan bersikap kurang ajar pada putrimu. Aku mengenal dekat putraku sendiri. Jika dia berbuat kurang ajar terhadap Sutra, aku yang akan tanggung jawab,” ujar pemilik mansion sambil berjalan masuk dalam mobil. Dengan yakin, Sutra berjalan sepanjang koridor apartemen. Mencari nomor unit tempat sang bos tinggal. Sutra menyusuri koridor apartemen. Nomor 506. Ia berhenti di depan pintu, mengetuk pelan, lalu menekan bel. Pintu terbuka. Seorang pria muda berdiri di ambang, rambut berantakan, mata sayu, rokok terselip di jemari. Asap tipis keluar dari bibirnya, menampar wajah Sutra dengan aroma nikotin yang tajam. Kama Deodola. Tatapan singkat pria itu membuat Sutra kaku di tempat. Tanpa berkata apa pun, Kama berbalik menuju sofa. Sutra mengikuti dan meletakkan rantang di atas meja. “Masuk,” ucapnya datar, tanpa menoleh. Sutra mengangguk gugup. “Tuan mau makan sekarang?” Tidak ada jawaban. Hanya suara tarikan napas dalam dan hembusan asap. Sutra menunggu, tapi pria itu tetap diam. “Baiklah, saya tinggalkan makanannya di sini,” katanya lembut. Kama hanya mengangguk sedikit, matanya tetap tertuju ke luar jendela. Sikapnya dingin, membuat ruangan terasa beku. “Maaf, Tuan. Kalau ada yang dibutuhkan, saya masih di sini.” Hening. Sutra akhirnya berbalik hendak pergi, tapi sebelum melangkah keluar, suaranya terdengar lagi— “Kalau mau pergi, pergi saja. Jangan bicara terus. Suaramu berisik.” Sutra menelan ludah, menahan diri agar tidak tersinggung. Ia hanya menunduk sopan. “Baik, Tuan.” Ketika pintu tertutup di belakangnya, napasnya terasa berat. “Siapa namamu tadi?” Lagi lagi Sutra terdiam di pangkal pintu. “Sutra. Namaku Sutra.” jawabnya mendapat tatapan yang datar. Lalu dagu pria itu mengarah ke pintu menandakan dirinya dipersilahkan keluar. Belum pernah ia mendapatkan sambutan seburuk itu dari siapa pun. Di sepanjang perjalanan pulang, Sutra terus saja memikirkan sikap dingin Kama. Ada apa sebetulnya dengan pria itu? Apartemen yang begitu berantakan, bau aroma nikotin yang menyengat, bahkan … gadis itu sempat melihat beberapa botol anggur berjajar di atas mini bar. “Apa kau tahu seperti apa sifat serta keseharian Tuan Kama, Hans?” tanya Sutra pada sang sopir. Sopir yang bernama Hans tersebut mengedikkan pundaknya. “Kau betul-betul tidak mengenal siapa Tuan Kama?” Sutra menggeleng, itu terlihat dari kaca spion yang bertengger di tengah kemudi. “Kau bisa menanyakan seperti apa dia pada pelayan lain di mansion.” “Kenapa tidak kau jawab saja?” Hans memicingkan bibirnya. “Tidak enak. Kami berdua sama-sama laki-laki. Akan lebih baik jika kau mencari tahunya sendiri. Hanya satu pesanku padamu. Hati-hati, jangan termakan rayuannya. Dia suka memakan wanita yang polos.” “Maksudmu?” tanya Sutra tak mengerti. Hingga mobil hitam milik keluarga Deodola masuk dalam pelataran mansion, Hans bergeming, tidak menjawab segala tanya dari Sutra. “Kau hati-hati, Sutra. Karena kau lebih terlihat bodoh dan mudah terperdaya. Bisa jadi kau salah satu sasarannya.”I had just pulled into the drive way at my Apartment in Heaven Springs when my cell phone rang. I frowned when i looked at the screenCol Jones?&nbs
I had just pulled into the drive way at my Apartment in Heaven Springs when my cell phone rang. I frowned when i looked at the screenCol Jones?“Robbie I know you just drove into your complex, but meet me at Playfair Hotel we need a drink for all the work that you have put in
A few hours later I sat in the corner of the bar with his back to the wall and the vantage point of seeing all who came into the bar. Eventhough I was surrounded by my own men. My mind was still uneasy and I played over and over what Manny had told him. I could see Larissa's mouth moving but his ears did not catch a word of what she had been talking about until she slapped me on my hand that clutched the bottle of corona beer.
Larissa sat on the bar stool outside the bar and had on my favourite black tights with the spandex just above the knees. I could see her smile from a distance as she chatted with a few of her customers. Dusk was approaching and I hated being cooped up in the Compound after hearing the news about Shorty and Stereo in the same day. I needed a drink as a parked the car at the back of the Police station and walked through the front gate. Traffic had been busy along the road both ways, and every now and again I would hear my name being shouted from both sides of the traffic.
Major Lennox Robinson held the spliff between the index finger
Dominique took his cue and eventhough he felt better that he ha
Dominique hated cleaning up the garbage after the dogs invaded
Dominique could not help but laugh at the innocence and her exc
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews