Masuk"Do you want to lose your job to be my lover who will give you anything you want, or do you want to be just jobless for rejecting me?" Daisy just wants peace in her normal life, until she meets River, the owner of the hotel where she works. A rich and powerful man who, in just one night, could turn Daisy into Cinderella. But instead of being River's lover, Daisy became the big boss's personal maid. The maid who takes care of her handsome master's "most personal" parts. So, what's it like for Daisy to work as River's maid? Was it still as lovely as River had promised when life violently shook him from the highest peak to the lowest bottom?
Lihat lebih banyakJohan menatap ke sekeliling kamar barunya. Ruangan itu sederhana namun nyaman, dengan jendela besar yang menghadap ke taman kecil di belakang rumah kos. Baru beberapa hari ia tinggal di sini, tetapi ada sesuatu yang membuatnya gelisah—lebih tepatnya, seseorang.
Meri, ibu kosnya, adalah seorang wanita paruh baya dengan pesona yang sulit diabaikan. Rambut panjangnya selalu terurai dengan rapi, kulitnya putih terawat, dan cara berbicaranya selalu lembut namun menggoda. Johan merasa ada sesuatu dalam sorot mata perempuan itu yang terus mengusiknya. Saat ia tengah sibuk menata buku di rak, terdengar ketukan pelan di pintu. “Johan, boleh ibu masuk?” Suara Meri terdengar dari luar. Johan segera membetulkan kaosnya yang sedikit berantakan. “Silakan, Bu.” Pintu terbuka perlahan, dan Meri masuk dengan senyum khasnya. Ia mengenakan daster sutra berwarna biru muda yang membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan lekuk tubuh yang membuat Johan menelan ludah tanpa sadar. “Apa kamarmu sudah rapi?” tanyanya seraya melangkah masuk tanpa sungkan. Aroma parfum lembut yang dipakainya memenuhi ruangan, menyusup ke indra penciuman Johan. “Sudah lumayan, Bu,” jawab Johan sedikit gugup. Meri berjalan mendekat, lalu dengan santai duduk di tepi ranjangnya. “Ibu ingin memastikan kamu betah di sini. Kalau ada yang kurang, bilang saja.” Matanya menatap tajam ke arah Johan, seolah menelanjangi pikirannya. Johan mencoba mengalihkan pandangannya ke rak buku. “Terima kasih, Bu. Sejauh ini saya nyaman.” Meri tersenyum miring. “Panggil saja Tante Meri, jangan terlalu formal. Ibu terdengar terlalu tua.” Johan mengangguk, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. “Baik, Tante Meri.” Meri tertawa kecil, lalu mengulurkan tangan, menyentuh bahu Johan dengan lembut. “Santai saja, Johan. Kamu terlalu tegang.” Sentuhan itu membuat Johan seakan membeku di tempatnya. Ia bukan anak kecil yang tak tahu maksud tersembunyi di balik sikap Meri. Ada sesuatu dalam tatapan mata wanita itu yang menggoda, menantangnya untuk bereaksi. Namun, Johan menahan diri. Ia tahu, bermain dengan api bisa berbahaya. Tetapi, apakah ia bisa benar-benar menghindar? Malam itu, Johan masih belum bisa tidur. Bayangan Meri terus berputar di kepalanya. Sikapnya, suaranya, caranya menyentuh bahunya tadi—semua itu membuatnya semakin resah. Di luar, angin malam berhembus pelan. Johan bangkit dari tempat tidurnya, berniat keluar sebentar untuk menghirup udara segar di teras belakang. Saat ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh sosok yang berdiri di luar kamarnya. Meri. Wanita itu masih mengenakan dasternya, tetapi kini ia membawa secangkir teh hangat di tangannya. “Belum tidur, Johan?” tanyanya dengan suara lembut. Johan mengangguk kikuk. “Iya, masih belum mengantuk, Tante.” Meri tersenyum, lalu menyerahkan teh yang dibawanya. “Minumlah, ini bisa membuatmu lebih rileks.” Johan menerimanya dengan hati-hati, ujung jarinya bersentuhan dengan tangan Meri yang hangat. Seketika, ada percikan aneh yang membuatnya merinding. Meri masih berdiri di sana, menatapnya tanpa terburu-buru. “Kau tahu, Johan… kadang, suasana malam bisa membawa banyak hal yang tak terduga.” Johan merasa tenggorokannya kering. Ia tahu, batas antara ibu kos dan anak kos sudah mulai kabur. Tetapi, seberapa jauh ia berani melangkah? Malam itu, udara terasa lebih panas dari biasanya. Keesokan paginya, Johan bangun dengan kepala yang masih dipenuhi kebingungan. Ia berusaha mengabaikan perasaan aneh yang terus menghantuinya, tetapi tatapan Meri yang menggoda semalam masih melekat jelas dalam ingatannya. Saat sarapan di ruang makan, Meri sudah duduk di kursi favoritnya. Ia mengenakan kaos ketat dan celana pendek yang memperlihatkan betis jenjangnya. Johan menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya. “Kamu tidur nyenyak semalam?” tanya Meri dengan senyum menggoda. Johan mengangguk, meskipun sebenarnya ia hampir tidak tidur sama sekali. “Iya, lumayan.” Meri tertawa kecil, lalu menyesap kopinya. “Baguslah. Aku ingin kamu selalu merasa nyaman di sini.” Johan merasa ada makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Ia berusaha tetap tenang, tetapi tatapan mata Meri membuatnya merasa seperti buruan yang sedang dipermainkan. Hari itu berjalan seperti biasa. Johan menghabiskan waktunya di kamar, membaca buku dan mengerjakan skripsi. Namun, pikirannya tetap tak bisa lepas dari sosok Meri. Menjelang sore, saat ia keluar untuk mengambil air di dapur, ia mendengar suara Meri dari ruang tamu. “Johan, bisa tolong bantu Tante sebentar?” panggilnya. Johan segera berjalan ke arah suara itu. Saat tiba di ruang tamu, ia menemukan Meri sedang berdiri di depan rak buku yang tinggi. “Aku butuh bantuan mengambil buku di rak atas. Bisa?” Tanpa berpikir panjang, Johan melangkah maju dan mengulurkan tangan untuk mengambil buku yang dimaksud. Namun, saat ia berusaha meraihnya, tubuhnya secara tak sengaja bersentuhan dengan tubuh Meri yang berdiri sangat dekat. Johan terdiam, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Meri, aroma parfumnya yang begitu menggoda. Meri tidak bergerak menjauh. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis dan berbisik, “Kau gugup, Johan?” Johan menelan ludah, berusaha mengendalikan dirinya. Namun, semakin ia mencoba menahan diri, semakin ia merasa terbawa arus. Saat itu, Johan sadar, ia telah melewati batas yang seharusnya tidak dilewati. Tetapi, apakah ia benar-benar ingin kembali?"Argh! The dress is not fit!" "No, it should fit. I'll hold my breath. Lift up the zipper in one pull. One, two, hmmph!" Zoey groaned in annoyance when Daisy couldn't successfully zip her dress. She turned her body, staring fiercely at her best friend, who wore a wedding dress with a veil. "Can't you do it right? Is it that hard to get the zippers on? If my hand reaches, I'll not ask for your help!" she grumbled. "Gosh, why are you nagging me?" Daisy put her hands on her hips, annoyed at Zoey, who had acted like a stepmother ever since. "It's my wedding day, and you're my bridesmaid. But why have I been serving you since earlier, huh?!" Hearing Daisy nagging her back, Zoey's annoyance instantly turned into sadness. "So you're going to let me go to the ballroom and meet everyone with this unzipped zipper?" Zoey asked with her teary eyes, making Daisy panic, considering how long she had to dress up and her wedding might have to be postponed if her bridesmaid, who suffered from acute
'I've prepared breakfast for you, so make sure you eat it. Remember to drink milk too. Call me after you wake up because now I miss you. See you.'"Wow..." Daisy muttered in amazement after reading the paper with Sean's handwriting. She then turned her head to Zoey, who was lying on her side on the couch, watching cartoons while munching on the sandwich Sean had prepared for her. "It feels like it hasn't been long since you envied me because River left me a handwritten note before leaving for work. Now you must be happy that Sean did the same.”"Happy, you said? I feel even more burdened if he is like this!" complained Zoey. "I've made up my mind to abort this baby. Even though Sean knew about it, and I knew he was saddened by this decision, I still kept my determination to abort this baby. But because of all his attitude to my pregnancy..."Zoey hung her words as she recalled the sweet attitude Sean had shown her in the past week since the man learned about her pregnancy and her deci
"Why does it feel like Monday is coming longer than usual? I can't wait to end this suffering soon."Zoey walked out of the bathroom grumblingly. After enjoying the bridal shower with Daisy last night, Zoey returned to Sean's house this morning. But not 10 minutes since she arrived at this house, her morning sickness attacked her again and made her feel like the most miserable person in this world."Ah, damn! Aw! Aargh, why is this here?"Zoey, who was standing in front of the refrigerator to get drinking water, suddenly turned her head to the noise that suddenly broke the silence in the house. She saw Sean walking hastily, wearing a shirt with buttons arranged carelessly so that it looked crooked, and his black hair was messy. Stepping towards her with staggered steps and bumping into a table or chair, he passed several times."Oh... Oh! Good morning!" Sean greeted Zoey with a big smile as he stood before her before advancing his body to land a peck on her girlfriend's lips.Zoey loo
"You must be very happy because your brother will be the best man at your wedding. You must—""No, Sean! For God's sake, Rion will never be the best man at my wedding!" River almost screamed when he interrupted Sean's words as his foot slammed on the brakes in front of the red traffic light line.They had gone halfway home with Sean, who kept grumbling about Rion, who would be the best man at River's wedding, making River's ears hot because he had to hear that chatter along the way."He just teased you. Because you always overreact around him, he comes to think of you as a fun toy and plays tricks on you like this. Does it make sense for him to be my best man?" River, who had been silent all along, finally turned his body towards Sean to refute the man's accusations while waiting for the traffic light to turn green."How come that doesn't make any sense? I can see that your relationship is so warm that you can laugh because of the jokes that aren't funny at all!" Sean snapped, making












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan