Beranda / Urban / Ternyata Kaya Tujuh Turunan / Sebelum Gila, Interview Kerja Dulu

Share

Sebelum Gila, Interview Kerja Dulu

Penulis: Serenity
last update Terakhir Diperbarui: 2021-09-14 18:32:27

“Waaah…pagi-pagi udah rapi. Ada acara apa, nih?” Agnia sudah terlihat cantik sepagi ini, “Aku bawain bubur buat kalian.”

“Kalian itu siapa?” Narenda memperbaiki kerah kemejanya.

Sejak pertama mengenakan kemeja ini dia sudah ingin melepasnya. Bahannya tidak nyaman. Membuat kulitnya gatal dan sedikit panas. Tapi mengingat Badi yang secara khusus mengingatkan dia untuk mengenakan kemeja ini bukan kemeja putih lain yang dimilikinya, Narendra tidak memiliki pilihan.

“Kamu, Badi sama Bang Ucok,” Agnia menghempaskan pantatnya di sofa, “Aku udah chat mereka. Paling bentar lagi ke sini.”

“Lama-lama kontrakan aku udah kayak basecamp, ya?”

“Nggak suka?”

“Bukan nggak suka, “Narendra mengusap lengannya yang gatal karena bahan kemeja.

“Kemeja kamu yang malam itu mana? Kenapa nggak pakai itu aja?”

“Yang mana?&rdquo

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Rosita Arisugawa
ceritanya baguss, penulisannya juga enak dibaca. Tapi kenapa part nya banyak bangetttt .........
goodnovel comment avatar
hari sutanto
mantap ceritanya
goodnovel comment avatar
Prayogo Merbawani
lanjuuuuttttt
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Tahan...Jangan Emosi Dulu!

    “Udah siap?”Berbeda dengan Badi, ini pengalaman interview kerja pertama Narendra. Dia berpikir dengan pengalaman melakukan interview, dia akan baik-baik saja. Sejak remaja, Sang ayah membiarkan Narendra untuk memilih dan melakukan interview kepada seluruh pegawai terdekatnya seperti asisten rumah tangga, tutor bahasa asing, juga bodyguard.Dia salah.Sedetik setelah memarkirkan motornya pada tempat yang sudah disediakan, dia merasakan tangannya basah oleh keringat. Terlalu gugup. Terlalu bingung. Narendra merasa seperti seorang pendekar yang terpaksa melucuti seluruh senjatanya dan masuk ke daerah musuh tanpa memiliki informasi apa pun.“Nggak bakalan pernah siap.”“Batal aja?”Narendra menoleh kemudian tersenyum sinis, “Itu pertanyaan untuk seorang Widjaja?”Badi hanya tertawa, “Ayo! Pilihannya cuma dihadapi, kan?”Mereka berdua masuk ke ruko lima lantai yan

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-14
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Sudah Tentu Ini Bukan Kebetulan

    “Siang, Jo,” sapaan itu mengejutkan Jonathan yang sedang menggelinjang menikmati steak di salah satu restoran terbaik di Ibu kota.Pria yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu refleks mendongak untuk mencari tahu siapa yang menyapa. Dia tidak memiliki janji temu dengan siapa pun. Selain itu kecil kemungkinan dia akan bertemu dengan kenalannya di sini.Restoran ini terlalu mewah untuk lingkungannya. Termasuk dia. Tetapi sebelum sekali Jonathan akan menghamburkan uang di sini. Reward setelah berhasil bertahan selama satu bulan menjalani pekerjaan yang tidak diinginkannya, meneruskan usaha orang tua.Kerutan di keningnya semakin dalam ketika melihat sosok yang menyapanya. Dia berusaha menggali ingatan tetapi tidak menemukan jawaban. Siapa pria yang terlihat sangat mengintimidasi ini? Salah satu penerus konglomerasi, kah? Tapi…siapa yang mengenalnya?“Sabda Narendra Widjaja,” pria itu menarik kursi dan deng

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-16
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Anda Jual, Saya Beli

    “Lho, Bapak, kok udah balik?”Resepsionis yang sama dengan yang tadi pagi menyambut Narendra sergera berdiri dan menyapa Jonathan. Gadis muda itu sempat melirik Narendra tetapi sepertinya dia tidak mengenali Narendra sebagai sosok yang sama dengan salah seorang pelamar pekerja tadi pagi.Setelah meninggalkan kantor percetakan ini, Narendra dan Badi menuju salah satu apartemen pribadi Narendra. Sesampai di apartemen, pria itu segera melepas kemeja yang membuat kulitnya gatal kemudian segera mandi dan berganti pakaian.Tidak ingin terlalu menonjol, Narendra memutuskan untuk mengenakan kemeja biru polos dengan lengan dilipat sebatas siku dipadu celana chino dan sepasang loafer. Kacamata yang selalu dikenakan selama di kontrakan petak tergantung di saku kemeja.Narendra juga menata rambutnya. Jika biasa dia membiarkan rambutnya berantakan kali ini dia memastikan rambutnya tertata rapi. Hanya dengan beberapa perbedaan, Narendra kembali men

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-16
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Persugihan Itu...Apa?

    “Kusut banget, tuh, muka?” Agnia tertawa kecil ketika melihat Narendra turun dari motornya, “Gagal interviewnya?”“Kelihatan banget, ya?”Agnia mengangguk, “Kalau berhasil muka kamu nggak bakalan kusut gitu.”“Yaaa…gitu, deh,” Narendra menyimpan helm, “Kamu tumben udah pulang jam segini.”“Memang nggak ke mana-mana seharian. Nungguin kamu.”“Nungguin aku?” dia mengernyitkan kening bingung, “Memangnya kita janjian?”“Nggak, sih,” Agnia tertawa, “Aku bosen aja. Kirain kamu sama Badi begitu selesai interview langsung balik. Mau ngajak makan bakso. Aku pernah janji, kan?”“Boleh. Mau sekarang? Atau udah nggak pengin?”“Maaau! Kapan aja juga ayo, sih, kalau bakso,” gadis itu memamerkan senyumnya, “Aku ganti baju sebentar, ya?”Narendra mengangguk.

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-16
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Sebuah Rahasia Milik Agnia

    “Aku pesenin yang baru aja, ya?”Awalnya Agnia merasa lucu melihat Narendra yang berusaha menghabiskan baksonya walau dia kepedasan. Tetapi sekarang dia khawatir. Narendra tidak terlihat baik-baik saja. Bulir keringat memenuhi dahi pria itu sementara bibirnya memerah. Mata dan hidungnya juga berair.“Nggak usah,” suaranya terdengar sengau, “Inia ja.”“Tapi kamu kepedesan, lho!”Karena keisengan Agnia, pria itu menambah banyak saos dan sambal dalam baksonya. Agnia sempat mencicipinya, pedas walau masih kurang untuk dia yang memang pecinta pedas.“Pedas tapi enak,” dia tersenyum untuk menenangkan Agnia, “Hhh…”“Tuh, kepedesan, kan! Aku pesenin yang baru aja.”Agnia baru akan melambaikan tangan ketika Narendra menahan dengan menggenggam tangannya. Gadis itu segera menurunkan tangan. Dia tidak dapat menutupi keterkejutannya.“Ke…

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-17
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Keliling Kota Bareng Agnia

    “Yeaaay!” Agnia melempar kedua tangannya ke atas.Saat ini gadis itu terlihat seperti anak kecil. Sejak tadi dia tidak berhenti bersenandung dan sesekali merentangkan tangan untuk merasakan angin melewati sela jarinya. Walau bingung kenapa gadis itu bisa begitu bahagia hanya karena hal sederhana, Narendra membiarkannya.“Eh, di depan nanti belok ke kanan terus …”Narendra tidak menanyakan tujuan mereka. Dia mengikuti arahan gadis itu tanpa mengucapkan apa-apa. Malam ini memang milik Agnia. Lagi pula melakukan ini membuatnya melupakan apa yang terjadi tadi siang.“Rendra, kamu lihat hotel itu?” Dia segera melanjutkan ucapan setelah melihat anggukan Narendra, “Aku selalu penasaran apa rasanya nginap di suite hotel mewah kayak gitu.”“Memangnya kenapa?”Hampir saja Narendra berucap kalau tidak ada yang istimewa menginap di sana. Dia sudah berulang kali menginap di sana dan rasan

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-17
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Martabak Dalam Situasi Apa pun

    “Maaak! Lama kalinya kalian balik. Ke mana dulu?” Suara Bang Ucok yang menggelegar seketika menyapa Narendra dan Agnia ketika memasuki halaman kontrakan petak.“Kita terpaksa beli martabak lagi akrena yang sebelumnya udah habis,” Badi menunjuk dua kotak kosong martabak manis, “Sorry, Bos, kita numpang ngadem.”Narendra memarkir motornya sambil tertawa kecil, “Makanya pasang AC.”“Nggak mampu aku bayar listriknya! Sayang pula, seharian kutinggal itu kontrakan,” Bang Ucok terbahak, “Untung tetangga aku ini baik hatinya!:“Ini pesta martabak ngerayain apaan?” Agnia bergabung dengan Bang Ucok dan Badi di ruang tamu kontrakan petak Narendra.“Bukan perayaan. Ini untuk nyemangatin Rendra sama Badi. Gagalnya kalian tadi?”“Tahu dari mana, Bang? Badi yang cerita?”“Tak usah dikasih tahu, tahunya aku! Manalah ada yang langsung b

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-18
  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Mayday, Mayday!!

    “Jadi, kenapa?” Narendra berpaling dan menatap Abimana yang duduk di belakang kemudi.Berbeda dengan Narendra yang lebih senang menggunakan supir pribadi atau meminta Badi untuk menyetir, Abimana hampir selalu menyetir sendiri kecuali ketika pria itu terlalu lelah karena lembur atau jetlag ketika baru kembali dari luar negeri.Abimana menatap lurus ke depan. Dia seakan sedang memperhatikan para pekerja pelabuhan yang sibuk melakukan bongkar muat kapan berukuran raksasa. Tidak ada yang peduli kalau ini masih dini hari, ada tenggat waktu yang harus dikejar. Dan tidak ada yang menyadari kehadiran Porsche Cayman hitam milik Abimana. Ini lokasi favorit mereka setiap kali ingin membicarakan sesuatu yang sensitif dan tidak boleh bocor ke pihak lain.“Bi, kamu ngajak aku ke sini bukan tanpa alasan, kan? Ada apa?”Hanya terdengar hembusan napas panjang. Abimana masih membisu.“Oke,” Narendra menurunkan sand

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-19

Bab terbaru

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Akhir Merupakan Awal untuk yang Baru

    "Nia, kamu sudah selesai berganti pakaian?"Suara Narendra membuat Agnia yang sedang berada di kamar mandi segera melepas kimono sutra yang dikenakan ketika dia membersihkan riasan wajah dengan bantuan seorang asisten MUA yang diminta oleh Reinya untuk tinggal sampai setelah acara selesai. Gadis itu mengambil piyama yang diberikan oleh Calya khusus untuk Agnia dan Narendra. Piyama berbahan sutra itu merupakan salah satu brand mewah dan salah satu yang tertua di Inggris. Kualitasnya sudah tidak perlu dipertanyakan karena sekelas Ratu Elizabeth II saja mempercayakan pakaian tidurnya kepada mereka.Agnia tidak pernah menduga kalau hal tersulit yang harus dilakukannya setelah memutuskan menikah dengan Narendra adalah beradaptasi dengan begitu banyak priviledge yang tiba-tiba dimilikinya. Semua serba dapat dimiliki. Tidak hanya sekadar memiliki tetapi selalu yang terbaik. Apapun itu."Nia?" Terdengar ketukan pelan di pintu kamar mandi."Sebentar," tergesa gadis itu menggelung rambut kemudi

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Selamat Bergabung

    "Macam inilah! Sah udah kalian sekarang," Bang Ucok langsung menyapa ketika seluru prosesi akad nikah selesai. Penampilan pria berbadan besar itu terlihat berbeda hari ini. Seperti seluruh undangan pria, Bang Ucok juga mengenakan three piece suit. Amelia turut hadir juga terlihat menawan dengan whimsical garden-inspired maxi dress. Penampilan disempurnakan dengan rambut tergelung model french twist yang memamerkan leher jenjangnya."Akhirnya, Bang," Agnia tertawa kecil, "Sekarang Bang Ucok udah nggak perlu khawatir lagi sama aku, kan? Aku udah nggak sendiri lagi.""He! Macam manaa... tak mungkin aku tak khawatir sama kau. Adik akunya kau ini," Bang Ucok berpura-pura bersungut kesal, "Jangan sementang kau sudah nikah terus kau anggap tak peduli lagi aku sama kau, ya!"Narendra terkekeh memperhatikan interaksi antara Agnia dan Bang Ucok. Walau mereka sudah tidak lagi di kontrakan petak tetapi tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama seperti dulu."Maaf, Bang," Narendra menyela percak

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Dia yang Diantarkan Sang Ayah

    "Kamu yakin?""Ayah," Agnia hanya berpaling karena hiasan kepalanya cukup berat, "Ayah sudah berulang kali nanyain itu, lho. Mau Ayah tanya sampai seratus bahkan ribuan kali, jawaban Agnia tetap sama. Agnia yakin.""Tapi gimana kalau sampai tersebar? Memang pernikahan kamu private tapi tetap aja, di depan venue itu wartawan udah ngumpul kayak mau demo.""Memangnya kenapa kalau sampai nyebar?" Agnia menatap Kenny melalui cermin, "Ayah malu kalau sampai publik tahu aku ini anak ayah?""Bukan gitu," Kenny membalas tatapan Agnia, "Ayah bertanya karena Ayah nggak mau kamu menyesali kepuutusanmu.""Aku nggak akan nyesal, Yah," Agnia menjawab dengan yakin, "Percaya sama aku. Ini bukan keputusan impulsif. Aku udah mikirin ini dari lama. Dan itu keinginan aku. Pertanyaannya sekarang, apa Ayah mau ngelakuinnya atau nggak?""Tentu saja Ayah mau, Nia," Kenny menghampiri anak semata wayangnya dan meletakkan kedua tangan di bahu Agnia yang terbuka karena kebaya pernikahannya memiliki leher yang cuk

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Dia yang Akan Menjadi Pemimpin

    Narendra menatap pantulan diri pada cermin sambil menghembuskan napas dengan pelan. Dirinya terlihat sempurna dengann three pieces suit warna kelabu yang dipilihkan Agnia untuk hari istimewa ini. Kekasih yang akan segera menjadi istrinya itu mengatakan kalau kelabu merupakan warna yang hangat, dan itu sesuai dengan apa yang dirasakannya setiap kali berada di dekat Narendra. Sebagai seorang pria, Narendra menyerahkan sepenuhnya kepada Agnia.Ketika gadis itu meminta agar pernikahan mereka dilakukan secara private dan hanya mengundang keluarga dekat serta sahabat, Narendra juga dengan segera menyetujuinya. Beruntung keluarga besar mereka mau berkompromi. Walau pernikahan akan dirayakan secara sederhana tetapi resepsi akan diselenggarakan besar-besaran dan mengundang seluruh kenalan mereka. Agnia yang menyadari posisi mereka, Narendra merupakan pewaris keluarga Widjaja dan dirinya yang merupakan selebritas, setuju dengan itu."Narendra," Asija bersama dengan Reinya memasuki ruangan yang

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Cerita untuk Media

    "Lo gila," Abimana masuk ke ruang kerja Narendra sambil menggulirkan jari di tablet."Ada apa?" Narendra masih sibuk memperhatikan layar ponselnya. Dia sedang memeriksa portofolio saham miliknya sambil beristirahat dari memeriksa berbagai dokumen pekerjaan.Ketika Narendra kembali dari Seoul kemarin, dia disambut dengan tumpukan dokumen di meja kerja. Hanya dua hari tetapi tumpukan dokumen itu seakan Narendra sudah tidak mengantor selama berbulan-bulan. Seandainya bisa, dia ingin mengabaikan dokumen-dokumen itu. Tetapi tentu saja dia tidak dapat melakukannya karena ada tanggung jawab yang dipikul di bahunya.Asija menanggapi keputusan Narendra yang akhirnya setuju untuk menjadi pewaris Widjaja Group dengan serius. Walau pria itu mengatakan akan menggantikan Asija beberapa tahun lagi, pria paruh baya itu dengan cerdik mulai mengalihkan pekerjaan dan tanggung jawabnya kepada Narendra. Tentu saja Narendra tahu apa yang dilakukan oleh ayahnya tetapi dia tidak merasa keberatan dengan itu.

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Sebuah Awal untuk Hubungan Mereka

    "Woaa!" Lee Jieun, aktris yang menjadi salah seorang lawan main Agnia di serial yang bekerja sama dengan Netflix itu memasuk lobi sambil berseru tidak percaya, "Mereka penasaran sekali sama kalian, ya!"Setelah Agnia, aktris berikutnya yang tidak di red carpet adalah Lee Jieun. Sayangnya, beberapa pewarta masih penasaran mengapa Agnia ditemani oleh Narendra sehingga mereka masih melontarkan pertanyaan itu berulang kali. Berkat pengalaman panjang menjadi aktris dan penyanyi, dengan cepat Lee Jieun dapat mengendalikan suasana dan menarik perhatian para pewarta. Setelah meladeni permintaan untuk berfoto dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan serta berbincang dengan MC, gadis itu memasuki lobi gedung tempat acara digelar dan segera menyapa Agnia yang kebetulan masih belum memasuki ruangan tempat acara akan berlangsung."Eonnie," Agnia tertawa penuh rasa bersalah. Seharusnya spotlight hari ini milik Lee Jieun yang merupakan aktris utama di serial yang mereka bintangi. Tetapi karena kehad

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Lagi, Kejutan yang Menyenangkan

    "Surprise!" Narendra tertawa kecil sambil menjawil hidung kekasihnya, "May I be you plus one?""Ren... dra?" Agnia masih tidak percaya kalau pria yang sudah menunggu di mobil adalah kekasihnya, "Kamu ngapain di sini?""Jadi plus one kamu. Boleh?" Narendra masih menatap kekasihnya sambil tersenyum, "Shit! I really want to kiss you but it will ruins your lipstick."Sisa kebingungan Agnia menghilang dan berganti dengan tawa, "Kamu udah nggak ketemu aku lama terus itu kalimat pertama kamu?"Narendra masih tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali, "Seaneh itu? Bagian mana yang aneh dari seorang pria yang ingin mencium kekasihnya?""Bukan aneh," Agnia masih tertawa, "Tapi aku nggak nyangka kalau itu yang bakalan kamu ucapin setelah kita nggak ketemu selama beberapa minggu.""Beberapa minggu?" Senyuman masih tersisa walau sekarang pria itu mengernyit bingung, "Bukannya beberapa hari lalu kita baru bertemu, ya?""Beberapa hari?" Agnia berpiki selama beberapa saat, "Aaah! Aku ingat! Astagaa,

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Bersiap Untuk Acara Istimewa

    Suara ketukan disusul dengan seseorang gadis membuka pintu kamar hotel yang digunakan Agnia sejak beberapa malam lalu. Gadis berheadset dan memeluk clipboard berdiri di ambang pintu."Selamat siang Nona Agnia," senyumnya merekah sempurna, "Kita sesuai dengan jadwal. Lima menit lagi Anda sudah harus turun. Mobil yang akan mengantarkan Anda ke lokasi sudah siap."Agnia yang berdiri di tengah ruangan dan dikelilingi oleh begitu banyak orang dengan kesibukan masing-masing hanya dapat menoleh sambil tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Dia tidak dapat melakukan lebih dari itu. Penata busana sedang memastikan seluruh lekuk tubuh artisnya menonjol dengan tepat tanpa ada kerutan atau lipatan yang merusaknya. Asisten penata busana sudah menyodorkan entah pasangan sepatu ke berapa untuk dicobanya. Hairdresser sejak tadi memastikan kalau rambut Agnia sempurna sesuai dengan keinginannya sementara make up artist yang dipercaya oleh artis muda itu sedang melakukan retouch pada beberapa bagian w

  • Ternyata Kaya Tujuh Turunan   Pembicaraan Di Sela Pengukuran

    "Paman Leo," Narendra tersenyum ketika melihat pria paruh baya yang sudah berpuluh tahun bekerja di tailor yang sudah menjadi langganan keluarga besar Widjaja. "Saya tidak pernah menyangka kalau saya masih diberi kesempatan untuk mengukur dan menyiapkan suits untuk pernikahan Anda," Leo menyapa dengan ramah. "Paman pasti masih menganggapku anak kecil," Narendra terkekeh. "Kebiasaan orang tua," dengan hati-hati Leo mengarahkan Narendra yang ditemani Abimana dan Badi untuk berjalan ke bagian belakang yang lebih tertutup, "Rasanya baru kemarin Anda ke sini untuk pengukuran suits pertama. Bahan wol, warna kelabu. Three pieces dengan celana pendek." "Untuk ulang tahun pernikahan Papa dan Mama," Narendra menyambung, "Saya juga masih mengingatnya dengan baik, Paman." Selama beberapa saat Leo berdiri sambil menatap Narendra. Tatapannya penuh dengan kenangan bercampur kebanggaan. Dia sempat larut sebelum menyadari kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Dengan cepat dia mengeluarkan

DMCA.com Protection Status