Ketika Maya bangun sekali lagi, gadis itu bisa melihat bahwa suaminya sedang asik membahas sesuatu yang serius di depan layar laptop milik Kevin. Melihat keseriusan keduanya saat berbicara, Maya lebih memilih diam sambil menatap keduanya tanpa mengatakan apa pun. Ketika Evan akhirnya menyadari bahwa Maya telah membuka matanya, senyum hangat segera mengambil alih wajah yang sebelumnya terlihat serius saat pria itu buru-buru berjalan mendekatinya lalu memberi Maya senyuman yang tampak begitu hangat. "Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun jika kamu memang sudah bangun? Apakah tidurmu nyenyak? Ini sudah waktunya makan malam. Aku akan meminta suster mengantarkan makan malammu ke sini oke?"Maya mengangguk saat dia menerima semua perhatian Evan dengan tangan terbuka. "Apakah kamu sendiri sudah makan? Kamu tidak bisa melewatkan makan malammu hanya karena kamu sudah baik-baik saja sekarang," ujar Maya memberi tahu. Hati Evan melembutkan ketika dia mendengar omelan Maya. Akhirnya, mereka benar
Maya tahu rasa frustrasi yang dirasakan oleh Kris. Namun Maya tahu, meneruskan kasus itu juga hanya akan membahayakan posisi Kris dan rekan-rekannya. Mereka masing-masing hanya polisi jujur yang tidak memiliki dukungan dari keluarga besar mana pun. Jika orang seperti kakeknya ingin mereka menghilang dari muka bumi, melakukannya hampir sama seperti menepuk nyamuk bagi pria itu. Dengan sembuhnya Evan, Maya yakin kekuatan suaminya akan berkembang pesat mulai saat ini. Namun menyeret Evan untuk kembali bertarung hanya demi menghukum pria yang hampir mati seperti kakeknya, rasanya sangat buang-buang waktu. Selama Evan mendapat keadilannya, Maya tidak peduli bahkan jika kakek yang tidak pernah dia ketahui itu akan terus mencoba membunuhnya untuk selamanya. Maya tertawa dingin ketika dia membalas ucapan Kris. "Sersan Kris tidak perlu merepotkan diri dengan terus mengusut kasus itu. Satu-satunya yang dia lakukan hanyalah, mendukung seseorang untuk membunuhku ketika dia memiliki kesempatan.
Evan berjalan cepat di lorong rumah sakit. Hanya ketika dia melihat Kris duduk di salah satu bangku di lorong rumah sakit yang relatif sepi, Evan akhirnya berhenti bicara dan duduk di sebelah petugas kepolisian tersebut. Ketika Evan duduk di sebelahnya, Kris sebenarnya masih tidak tahu bagaimana dia harus memulai pembicaraan. Pria itu mengepalkan tangannya dengan erat, sebelum tiba-tiba membungkuk ke arah Evan. "Tuan Evan, maaf karena Saya tidak bisa membantu apa-apa ketika Saya menangani kasus kecelakaan yang menimpa keluarga Tuan Evan bertahun-tahun yang lalu. Saya pengecut, Saya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mencari keadilan bagi Tuan Evan saat itu. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu dan Saya membangun pijakan Saya sendiri. Jika... Jika Nona Finola tidak mencariku saat itu, Saya mungkin tidak akan bisa menebus kesalahan Saya sampai saat ini."Evan segera membantu pria itu untuk duduk tegak lagi ketika dia bicara. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sersan Kris. Saya j
"Maya, jangan marah tentang ini oke? Kamu bisa mengajariku cara memasak makananmu agar kamu tidak perlu berada di kursi roda terlalu lama. Namun untuk sementara waktu, dokter mengatakan bahwa kamu tidak boleh menggunakan tangan dan kakimu sampai mereka cukup kuat untuk dipakai kembali. Ini hanya sementara, bertahanlah untuk saat ini ya?"Maya tertawa kecil saat Evan terlihat begitu gugup ketika dokter mengatakan bahwa gadis itu harus menggunakan kursi roda sampai lukanya sedikit lebih baik. Sebenarnya, Maya bahkan seharusnya berada di rumah sakit lebih lama lagi. Namun gadis itu tidak tega suami dan temannya harus pulang dan pergi begitu jauh hanya untuk menemaninya di rumah sakit secara bergantian. Belum lagi Evan juga baru sembuh tidak lama ini. Maya tidak ingin pria itu kelelahan, jadi dia memaksa ingin pulang setelah satu minggu penuh dia menghabiskan waktunya di dalam rumah sakit. "Evan, aku tidak marah atau frustrasi. Ini hanya sementara, aku tidak sedih sama sekali oke?" Maya
Evan yang terdiam sambil diam-diam mengawasi pamannya menghela napas panjang saat sang paman menatapnya seakan-akan pria itu ingin membunuhnya, jika saja mereka tidak dipisahkan oleh kaca yang tebal. Semua kenangan tentang Anton yang baik padanya saat Evan masih kecil benar-benar terhapus bersih dari ingatan pria itu. Evan diam-diam bertanya-tanya, apakah pamannya juga hanya berpura-pura saat pria itu tersenyum pada keluarganya di masa lalu. "Aku... Selalu menghindarimu sejak kecelakaan itu. Aku tidak memiliki keberanian untuk menatap matamu, apalagi berbicara berdua denganmu seperti saat ini."Saat dia berbicara, Evan selalu ingat kata-kata Maya tentang dia yang tidak perlu takut pada sosok pamannya. Kali ini, tidak ada perasaan apa pun saat Evan bicara dengan Anton. Pria itu dengan tenang hanya terus bertanya, sementara Anton terus menatap Evan seakan pria itu ingin mencabik tubuh keponakannya. "Karena kecelakaan itu, aku banyak melupakan masa-masa indah yang dulu pernah aku lewat
Di tengah malam yang sepi, sebuah mobil akhirnya menepi di depan rumah besar yang letaknya jauh dari pemukiman yang lain. Pertama-tama seorang bodyguard keluar dari kursi depan. Pria besar itu membuka pintu belakang, menampakan Evan yang keluar dari mobil dengan hati-hati. Di wajah tampannya, kini terdapat jejak kelelahan yang tidak bisa pria itu tutupi lagi. Dia melewati semua pelayan yang masih terjaga untuk menunggunya. Evan hanya ingin mandi dan beristirahat saat ini. Pertemuannya dengan sang paman hari ini, benar-benar telah perasaannya perasaannya terasa buruk. Evan memang orang pertama yang berinisiatif melihat pamannya untuk terakhir kali. Dia pikir karena tidak ada yang tahu sampai kapan Anton akan hidup, berbicara dengan pamannya akan menenangkan hatinya untuk terakhir kali. Namun ketika Evan melihat pamannya, bayangan yang muncul malah saat-saat di mana Anton masih tampil sebagai paman yang baik di depannya. Evan mengingat bagaimana Anton selalu menolongnya, bagaimana pri
"Tuan Anton, Anda mendapat pengunjung."Anton yang semula tengah memakan sarapannya mendongkak saat seorang sipir menuntunnya keluar untuk menemui seseorang yang ingin menemuinya. Alis Anton sedikit berkerut, saat sipir itu bukan membawanya ke tempat yang biasanya. Alarm waspada mulai berbunyi di pikiran Anton, saat dia malah dibawa ke gudang penyimpanan yang biasa menjadi tempat para narapidana untuk bermain-main. "Hei, kamu bilang...""Diam atau aku akan membuat kehidupan penjaramu seperti berada di dalam neraka."Anton langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat sipir itu mulai mengancamnya dengan nada serius. Di luar penjara, dia mungkin seorang pria yang memiliki kekuatan dan dihormati. Namun di dalam penjara, dia tidak memiliki kekuatan sama sekali. Anton hanya bisa mengikuti sipir itu dengan patuh, sekalipun pikirannya mulai berkecamuk dengan berbagai spekulasi buruk sepanjang langkahnya. "Akhirnya kita bertemu secara langsung, Tuan Anton."Anton langsung mengalihkan pandangan
"Dan... Hup. Selesai."Maya bergumam sendiri saat dia selesai dengan jadwal rehabilitasinya. Karena luka yang dia derita tidak terlalu berat, Maya memang bisa melakukan rehabilitasi mandiri di rumah untuk membiasakan tangan dan kakinya dipakai bergerak lagi. Satu minggu sudah cukup bagi Maya untuk kembali berjalan dan beraktivitas dengan normal. Namun karena Evan lagi-lagi terlalu mengkhawatirkan kondisi Maya, dia memang belum bisa banyak melakukan aktivitas yang bisa membebani tubuhnya. Maya hanya bisa melakukan gerakan-gerakan sederhana dengan bosan akhir-akhir ini. Perhatian Maya teralih saat dari kejauhan dia bisa mendengar suara mobil yang perlahan memasuki halaman rumah Evan. Maya bergerak untuk mendekati jendela besar yang ada di ruang olahraga di rumah Evan. Sebuah mobil polisi berhenti tepat di depan rumah. Kris keluar dari mobil itu, tampak disambut oleh Kevin yang kebetulan tengah berolahraga dengan Evan di hari liburnya ini. Maya bergegas untuk ke kamar mandi sebelum dia
Setelah diyakinkan oleh Evan, suasana hati Maya membaik dengan pesat sampai gadis itu tidak keberatan untuk membalas sapaan orang-orang yang ditunjukan padanya. Sepanjang acara Maya tersenyum, menyebarkan aura positif yang juga memengaruhi Evan yang semula sedikit kesal karena gadis-gadis penggosip tersebut. Di bawah hiburan Maya, Evan akhirnya memiliki wajah yang lebih bersahabat saat mereka memasuki ruang bioskop sambil berpegangan tangan. Keduanya duduk di bangku yang telah disiapkan. Evan mengusap tangan Maya pelan, saat dia berbisik lagi pada gadis itu. "Kamu bisa memberi tahuku kapan pun kamu merasa jika film ini mulai membuatmu tidak nyaman. Ingat, kebahagiaanmu adalah prioritasku saat ini."Maya tersenyum saat dia membalas bisikan suaminya. "Aku mengerti. Terima kasih, Evan," ucapnya dengan tulus. Evan mengangguk untuk membalas ucapan istrinya tersebut. Wajahnya sangat lembut, ketika dia menatap wajah istrinya itu dengan penuh kasih sayang. Setelah semua tamu memasuki ruangan
Ketika waktunya telah tiba, Maya pergi ke tempat pemutaran perdana itu dengan Evan dan seorang supir. Karena mereka harus bersiap sebelum waktu kerja Evan habis, Kevin terpaksa tidak bisa menemani mereka untuk menyelesaikan tugas yang ditinggalkan oleh Evan. Melihat Kevin bekerja keras, Maya tanpa sadar merasa kasihan dan mulai bercanda bahwa Evan harus memberi Kevin apresiasi atas apa yang pria itu lakukan untuk mereka selama ini. Namun tanpa disangka, Evan benar-benar mengangguk untuk menanggapi ucapannya itu. Hanya ketika mereka telah berada di mobil, Evan akhirnya buka mulut tentang maksud dari anggukannya tersebut. "Aku berencana memindahkan dua puluh lima persen kekayaan keluargaku atas namanya. Aku sebenarnya ingin memberi lebih banyak. Namun melihat kepribadiannya, dia pasti akan marah jika aku memberinya terlalu banyak. Aku belum membicarakan tentang pemindahan kekayaan ini padanya. Aku ingin meminta pendapatmu terlebih dahulu. Apa kamu keberatan jika aku melakukannya, Maya?
[Kebangkitan Pewaris Tunggal Keluarga Orlando.]Maya membaca berita itu dengan alis sedikit berkerut. Bukan isi beritanya yang kali ini membuatnya kesal. Namun komentarnya, benar-benar membuat Maya kesal saat gadis itu membacanya satu per satu. Ketika Evan sakit, semua orang menilai kisah cinta mereka dengan cara yang relatif negatif. Sebagian menganggap Maya hanya menikah demi kekayaan Evan. Sementara yang lain, merasa kasihan karena Maya harus menikah dengan pria sekarat seperti Evan. Hanya sedikit orang yang benar-benar tulus mendoakan kebahagiaan hubungan mereka. Namun ketika berita kesembuhan Evan telah menyebar, orang sepertinya mulai berlomba-lomba menghapus komentar mereka yang sebelumnya dan mulai memuji mereka sebagai pasangan paling bahagia di muka bumi. Beberapa bahkan mengaku mengenalnya atau Evan, dan memuji keserasian mereka walaupun aslinya Maya tidak mengenal orang-orang itu. Sekarang Maya tahu mengapa Evan begitu terisolasi dari dunia luar selama ini. Di masa ketik
Begitu mereka sampai di rumah sakit, Diana sudah selesai diperiksa dan tengah beristirahat di ruang rawat bersama dengan teman-temannya. Kejadian itu tampaknya terlalu mengejutkan untuk gadis-gadis muda itu, hingga tidak ada yang bicara sampai Maya masuk ke dalam ruangan bersama dengan Evan dan juga Kevin. "Maaf kami datang terlambat. Bagaimana keadaan kalian saat ini?"Mata Diana langsung memerah saat dia ingat Maya lagi-lagi telah menyelamatkan nyawanya. Maya yang sadar dengan perasaan Diana segera menghampiri gadis itu. Maya membiarkan Diana memeluknya erat, sebari menangis sementara dia sendiri berusaha menenangkan Diana dengan mengelus punggungnya dengan lembut. "Tidak apa-apa. Kamu sudah aman sekarang..."Maya berbisik pelan sementara matanya menatap Evan dan Kevin yang diajak keluar oleh dua teman Diana. Maya tahu keduanya kemungkinan besar akan membicarakan tentang hasil pemeriksaan Diana atau sekedar memberi Diana ruang untuk menumpahkan perasaannya. Ya mana juga baik-baik
"Kalau begitu, Saya harap kalian bersedia mendengarkan saran dari Saya."Sementara Maya tengah berlari ke mana-mana untuk mencari Diana, Evan dan Kevin baru saja selesai bicara dengan para petinggi universitas dan sedang diantar untuk keluar dari ruangan. Mereka baru saja hendak membuka pintu, saat kepala keamanan universitas masuk dengan tergesa-gesa sampai hampir saja menabrak Evan yang berada di depan pintu. "Gawat Pak, seseorang baru saja berkelahi di dalam gudang!"Wajah orang-orang memerah karena malu saat kepala keamanan itu melaporkan masalah ketika Evan dan Kevin masih ada di ruangan itu. Mereka baru saja berjanji akan meningkatkan keamanan di dalam lingkungan universitas. Dan sekarang, seseorang malah melaporkan bahwa baru saja terjadi pertengkaran di lingkungan kampus. "Apa yang kamu katakan? Jika para mahasiswa mulai berselisih lagi, kamu bisa membawanya kemari tanpa menimbulkan keributan yang tidak perlu!"Rektor universitas memarahi sebelum Evan atau Kevin semakin menc
Di tempat lain, Diana kembali jatuh dengan keras saat seseorang menendangnya tepat di bagian perut. Temannya Evelyn dan Josephine, hanya bisa menangis saat keduanya ditahan oleh anak-anak lain agar tidak bisa membantu Diana. Sejak Diana datang ke kampus, gadis itu sudah tidak dapat menghitung berapa banyak cacian yang sudah dia dapatkan hari ini. Namun perlakuan yang dia terima dari kakak tingkatnya ini, merupakan yang terparah dari semua orang. Ketika Diana tiba di kelasnya, dia tiba-tiba saja diseret keluar oleh orang-orang kuat ini. Pakaian indah pemberian ayahnya sudah kacau karena kotoran dan sampah yang sebelumnya dilempat ke tubuhnya. Diana menatap tanah dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu, ini merupakan hukumannya karena memiliki ayahnya yang sudah menghancurkan kehidupan banyak orang dengan tindakannya. "Ya ampun, lihatlah. Putri terhormat Tuan Anton yang luar biasa tampak seperti kotoran berjalan saat ini."Anak-anak lain tertawa saat salah satu dari mereka menghina Diana sa
"Diana memberi tahumu bahwa dia akan kembali masuk kuliah? Bagus kalau begitu. Aku akan bertemu dengan kalian di universitas nanti.""Ah, masalah universitas biar aku saja yang menangani. Katakan saja pada Diana untuk fokus menjalani studinya." "Tidak, aku hanya melakukan apa yang memang seharusnya aku lakukan sebagai keluarga. Terima kasih karena telah memberi tahuku. Sampai bertemu di kampus nanti."Evan menyaksikan saat Maya asik menelepon salah satu kenalan Diana. Setelah acara pemakaman yang dilangsungkan kemarin, Maya akhirnya yakin dia akan memulai kuliahnya pada hari ini. Gadis itu sudah siap untuk berangkat kuliah, saat salah satu teman Diana menelepon istrinya itu. "Diana akhirnya bersedia menghadiri kuliahnya lagi?" tanya Evan penasaran. Maya mengangguk. "Ya. Diana memberi tahu teman-temannya bahwa dia sudah siap masuk kuliah lagi hari ini. Aku pikir pertemuan kemarin benar-benar berhasil membuatnya lega. Aku berencana untuk menemuinya di kampus nanti. Sejak kemarin, kita
"Apa menurutmu Evan akan datang? Ini memang pemakaman pamannya. Namun orang yang mengaku sebagai pamannya ini telah membunuh orang tuanya bahkan hampir membunuh istrinya juga tidak lama ini. Aku sebenarnya tidak yakin dia akan benar-benar datang.""Ah ya... Namun aku sendiri tidak pernah menyangka Tuan Anton yang terlihat baik dan lembut sebenarnya..."Diana mendengarkan bisikan demi bisikan itu dengan bibir yang tertutup rapat. Ini jelas merupakan hari pemakaman ayahnya. Namun hampir semua tamu undangan, hanya datang untuk menjelekan ayahnya dan menertawakan keluarganya secara diam-diam. Hampir semua orang sudah tahu bahwa Anton merupakan seorang penjahat sekarang. Karena keluarganya telah jatuh, Diana tahu beberapa orang sengaja datang hanya untuk menertawakan penderitaan mereka. Kebanyakan dari mereka merupakan saingan ayahnya di masa lalu. Atau seseorang yang berusaha menjilat Evan, dengan membenci Anton secara terang-terangan. Karena terdapat banyak tamu tidak diundang dalam aca
"Nah, kamu sudah tampan sekarang."Evan diam-diam mencuri ciuman di pipi istrinya ketika Maya selesai membantunya untuk bersiap. "Kamu juga sangat cantik," bisiknya pelan saat dia melihat Maya yang menggunakan pakaian hitam serasi dengannya. Mereka akan menghadiri acara pemakaman Anton sore ini. Evan melakukannya demi sang bibi dan Diana, sekaligus sebagai awal kemunculan resminya dengan tubuh yang sudah sembuh. Selain Anton, sebagai pebisnis, Evan juga memiliki banyak musuh yang memanfaatkan sakitnya untuk mencuri beberapa proyek perusahaannya. Evan akan muncul untuk memberi mereka peringatan. Bahwa keluarganya belum hancur. Dan dia, tidak mati seperti yang diinginkan oleh orang-orang itu. "Apa kamu yakin ingin ikut denganku saat ini? Sejak kamu diterima di universitas, kamu belum juga datang untuk menghadiri kelas pertamamu. Dan sekarang... Kamu harus menunda waktu studimu lagi demi menemaniku."Maya tertawa ketika dia mendengar kekhawatiran yang dirasakan suaminya itu. "Mari kita