LOGINThis book contains Steamy contents. Trish a spoiled rich heiress and party girl, pushes her luck one time too many when she decides to transport cocaine on a dare. She lands in the island of Santa Eduviges, is arrested, and enters the island's penal system as a naked collared slave. When she discovers there is no escape from her servitude, she accepts her new life of loving, satisfying, and serving the woman who bought her.
View More“Jika tidak dioperasi, ibu nona tidak akan bisa bertahan lebih lama...”
Tiba-tiba ruangan itu sunyi, hanya terisi oleh suara mesin-mesin rumah sakit yang berdenting begitu lambat.
Kanaya menahan napas, dadanya sesak hampir meledak. Di hadapannya, ibunya terbaring koma dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan operasi transplantasi jantung.
“Apa tidak ada cara lain, Dok?”
Suara Kanaya bergetar. Sebelumnya Dokter itu juga berkata jika biayanya bisa mencapai 20an miliar. Apa yang harus ia lakukan?
Dokter yang menangani Ayunda, ibu Kanaya, menggeleng seraya mengalungkan stetoskop.
“Itu...
satu-satunya cara...”Kanaya menggenggam tangan ibunya lebih keras, ia terisak. Teringat ibunya yang menolak dibawa ke rumah sakit karena tak mau merepotkannya.
“Nona bisa pikirkan terlebih dahulu. Saya pamit,” ucap sang dokter yang mengangguk ke arah Kanaya dan langsung pergi dari ruangan itu.
Kanaya tak bergerak, ia membeku.
Sejak ayahnya meninggal, satu-satunya orang yang bisa diharapkan ibunya adalah dirinya.
Dan kali ini, setelah bertahun-tahun merawat ibunya di Emerald City, ia dihadapkan pada sebuah dinding penghalang yang besar, dinding keputusasaan.
Akankah ini menjadi masa terakhir dengan ibunya?
Kanaya menggeleng. Demi menjernihkan pikirannya yang kalut, ia melangkah keluar kamar perawatan ibunya untuk menghirup udara segar.
Langkah kedua kakinya menuntun Kanaya pada sebuah bangku taman. Dan ia duduk di bangku itu.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyapa dedaunan, dan menyentuh kulit wajahnya. Kedua mata Kanaya menyapu tak tentu arah pada semua yang ada di sekitarnya.
Suster, dokter, dan pengunjung rumah sakit yang berlalulalang di dekatnya hadir di benaknya bagaikan sebuah delusi. Mereka semua nyata, senyata dirinya yang duduk di bangku taman itu, namun tak bisa memberikan jawaban dari permasalahannya.
Kanaya memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
Dalam keputusasaan, hatinya berdoa. Tuhan, berilah petunjuk, jalan keluar. Apa pun.
"Lihat, iklan ini muncul lagi."
Kanaya membuka matanya. Ia menoleh mengikuti asal suara itu. Tidak jauh darinya dua orang perawat sedang mengobrol.
Salah satu perawat memperlihatkan temannya apa yang ada di layar telepon genggam yang ia pegang.
Teman perawat itu melirik gawai yang dipegang rekannya dan berkomentar. "Sudah berapa kali dia mencari ibu pengganti? Apa masih belum dapat juga?"
"Yang aku dengar, sudah beberapa kali mereka gagal implan. Mungkin belum rejeki," jawab perawat pertama. "Padahal kalau sampai berhasil, aku dengar uang yang ditawarkan sangat besar, lho!"
Mendengar ucapan perawat itu, Kanaya mempertajam indera pendengarannya.
"Benar. Yang aku dengar, kalau berhasil, si ibu pengganti bisa dapat milyaran! Kalau aku masih gadis, boleh juga tuh, lumayan buat beli hp ipon dan jalan-jalan ke luar negeri. Dan yang pasti, tidak perlu kerja seumur hidup!" celetuk perawat yang satu lagi dengan canda sambil mereka berjalan melewati Kanaya.
Mata Kanaya membulat. Milyaran? Ibu pengganti? Tiba-tiba percakapan kedua suster itu bagai sebuah petunjuk untuknya. Apakah ini jalan keluar yang ia cari?
Istilah ibu pengganti pernah Kanaya dengar sebelumnya. Namun, bagaimana prosesnya tidak banyak ia ketahui.
“Maaf, suster. Boleh saya bertanya?”
Tiba-tiba dua suster yang dari tadi cekikikan berhenti dan menatap Kanaya dengan canggung.
Merasa mendapatkan atensi, Kanaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Boleh tahu iklan apa yang suster bicarakan?”
Mereka berdua saling menatap. Lalu setelah saling menyikut, seorang suster berambut cepol berkata pelan-pelan.
“Seseorang dari keluarga kaya sedang mencari seorang ibu pengganti dengan imbalan yang fantastis.”
“Apa saya bisa mendapatkan info iklan tersebut?” pinta Kanaya dengan mata berbinar.
Permintaan Kanaya kembali membuat kedua suster saling pandang.
“Urungkan saja niatmu itu, Nona. Walaupun bayarannya besar, tetapi presentase keberhasilannya sangat kecil. Jangan buang-buang waktumu.”
Kanaya tak peduli. Ia tetap tersenyum sambil menatap suster tersebut dengan penuh harap.
Setelah menghela nafas panjang, salah seorang suster memberikan Kanaya link iklan tersebut.
“Terima kasih, Suster!”
Dada Kanaya membuncah dengan secercah harapan. Ia segera kembali ke ruangan ibunya.
Optimisme yang pada awalnya begitu gelap, kali ini memunculkan asa baru!
Sekembalinya ke kamar perawatan ibunya, Kanaya masih fokus membaca iklan yang sebelumnya ia dapatkan.
Dikatakan dalam iklan tersebut imbalan yang begitu besar akan diberikan jika program itu berhasil ditunaikan.
Terbersit keraguan di dada Kanaya. Ia dituntut untuk mengandung seorang anak selama sembilan bulan, untuk kemudian memberikan anak itu kepada orang lain? Kanaya seketika menahan nafas.
Meskipun anak yang dikandungnya nanti bukan darah dagingnya, bisakah ia menyerahkannya begitu saja?
Di tengah kontradiksi pikirannya, tiba-tiba tangan yang sedari tadi ia genggam bergerak.
“Ibu, ibu sudah sadar?”
Ayunda berusaha menggerakkan tubuhnya, namun seketika ditahan oleh anak sematawayangnya itu.
“Ibu jangan bergerak dulu, kata dokter ibu harus istirahat yang cukup.”
Ayunda mengelus pipi kiri anaknya itu seraya menatapnya dengan sayu. "Naya, Ibu mau pulang. Ibu merasa sudah lebih baik."
"Nanti Bu, kalau Dokter sudah mengizinkan." Kanaya memaksakan sebuah senyuman. Ia tidak ingin ibunya tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Ibu sudah tidak apa-apa, kemarin ibu hanya kecapean saja. Sekarang sudah sehat! Lihat?!" Ayunda juga bersikukuh menunjukkan jika ia baik-baik saja.
Kedua mata Kanaya menggenang dan hatinya pilu memperhatikan ibunya yang berpura-pura tidak menahan sakit di depan matanya. Padahal Kanaya mengetahui kondisi ibunya sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu, maafin Naya ya Bu." Kanaya memeluk ibunya dengan hati yang sedih. Ia merasa tidak berguna.
Ayunda melepas pelukannya dan menghapus airmata di pipi Kanaya. Ia menggeleng tidak ingin putrinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Ibu sangat bangga padamu, Naya. Selama ini kamu sudah menjaga dan merawat ibu dengan sangat baik. Dan sekarang sudah waktunya kamu memikirkan masa depanmu. Jangan khawatirkan ibu, ya?"
Kanaya tidak ada jalan lain selain tersenyum, meski hatinya begitu sedih.
Biaya yang dibutuhkan untuk menyembuhkan ibunya begitu besar. Ia tak akan mendapatkannya bahkan dengan bekerja puluhan tahun.
Ia pandangi lagi nomor yang tertera pada iklan tersebut. Dadanya bergemuruh.
“Ibu, percaya sama Naya, ibu akan sembuh! Naya janji!”
If one thing was constant about Dorian Steel, it was that his mind was always in turmoil. Anyone who knew him would call him a brooding and unhappy man. He seemed to think of little more than finding and destroying anything that walked like a human but bore a pair of fangs. But right now was one of those rare times when he could stop his brooding and just enjoy the moment. And at this moment, his mind was on nothing but the feel of Jade's lips on his cock.Jade epitomized the look of the stereotypical bad girl. She had spiky green hair, and piercings and tattoos everywhere. She had five earrings on each ear, she had two rings on the left side of her nose, one on her right eyebrow, one on the left side of her lower lip, one on her tongue, one on each nipple and one in her navel. A spider web tattoo decorated her right shoulder all the way from the neck to the upper arm, with the spider itself sitting in the center; on her left shoulder blade was a vicious dragon, on her lower belly was
"I just don't want someone as cute as you to be alone," he said, reaching to grab her with his other hand. He didn't get that far."I said let go!" Elizabeth snapped, lashing out with her claws at his face.The man reeled back, still holding onto her arm with one hand, while putting the other to the four bloody streaks that had appeared on his face. Rage flashed across his face as he reached into his jacket pocket. "Oh, now you're dead, bitch!" he roared, flipping out his switchblade.The average human girl would have been screaming in terror at this point. Elizabeth hardly batted an eyelash when that blade appeared. His hand began thrusting the blade at her; it would reach her in less than a second. That was far more time than she needed. Her free hand sprang up and grabbed the attacking hand by the wrist, and she swung him over her shoulder onto the ground.Her attacker lay at her feet now. No ... not her attacker. Her prey. He was at her mercy now. Her vampire instincts knew exactl
Her mind drifted back to the dream again ... no, the memory. Dreams were things that didn't actually happen. But she'd been asleep, and the actual memory of the night her brother had made her what she was had played through her mind. Every detail about it was still as vivid as if it had happened last night, even after six years.And every time she found herself envying humans, her thoughts drifted back to that night, and she reminded herself of one thing: You chose this. He gave you a choice, and you said yes. Every so often she would hear another voice in her head respond, But you were a stupid kid then, you didn't know what you were doing! Now was not such a time.No, she was not going to frown on her choice to become a vampire right now. Not with the way Sylvia was looking at her. Sylvia was her friend, and although she had been laughing with everyone else just a moment ago, her look was friendly and affectionate now, and all Elizabeth's embarrassment instantly smoothed over.As Ha
NEW VAMPIRE ROMANCE:::of this particular moment, the single general thought flowing throughout the house was relief. The interrogation would surely come later, but right now everybody was just happy Anthony was home. Everyone had been beside themselves with worry; he was supposed to have returned from his camping trip five days ago. But the worry was over now. Anthony was back.Or was he?Elizabeth knew there was something ... different ... about her brother. What it was, she couldn't even begin to guess; but then, she was still so much younger than him. She was still only a child at twelve years old, and there was a lot she didn't know. But she couldn't deny there was something about Anthony that seemed very not right.Mom and Dad had been both overjoyed and on the verge of tears at the same time when he'd finally come parading in through the front door with a big smile pasted on his face as if he was expecting a party. The smile on his face had been the first thing that struck her












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews