"Kamu salah paham Neng, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Azlan panik. Naum kembali lagi, ia melihat posisi Azlan yang sedang berpelukkan. Nauma menggelengkan kepalanya melihat keromantisan yang terpampang nyata di hadapannya. Ia tersenyum kecut dan masuk ke dalam gedung Jhon Company untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Sedangkan Jenifer tersenyum senang melihat Azlan dan Nauma bertengkar karenanya. Ia tidak melepaskan pelukkannya pada tubuh Azlan dan itu membuat Azlan bertambah marah. "Lepas!" bentak Azlan. "Kenapa kamu takut sekali dengan wanita itu?" tanya Jenifer. "Karena dia adalah istriku! Istri sahku!" balas Azlan menekankan kata istri pada ucapannya. Jenifer tidak terkejut mendengar pengakuan Azlan, ia justru tersenyum saat mendengar pengakuan pria yang sangat dicintainya. Tapi tidak dengan Mr. Jhon, ia terlihat marah karena Azlan mengakui itu di hadapan adiknya. Mr. Jhon belum mengetahui jika adiknya sudah lebih dulu mengetahui status Azlan yang sebenarny
'Wanita gila macam apa yang aku hadapi ini?' batin Azlan. Azlan belum menjawab pertanyaan Jenifer, ia masih terdiam, matanya menatap Mr. Jhon berharap mendapatkan solusi. Tapi Mr. Jhon tidak memberikan solusi apapun, ia juga tidak mungkin melawan adiknya sendiri. Mr. Jhon menggelengkan kepalanya pada Azlan. Ia sangat mengetahui sifat asli adiknya, Jenifer memiliki hati sekeras batu. Selama ini tidak ada yang bisa menolak keinginannya. "Turuti saja permintaannya, ini semua demi keselamatan Nauma," ucap Mr. Jhon pada Azlan. 'Dan Nauma akan menjadi milikku,' sambungnya dalam hati. Permintaan Jenifer membawa keuntungan bagi Mr. Jhon. Jika Azlan lebih memilih keselamatan istrinya, ia akan memiliki peluang untuk meraih hati Nauma. Sampai saat ini, tidak ada wanita manapun yang mampu menggetarkan hatinya kecuali Nauma. Azlan mengusap wajahnya kasar, pilihan sulit baginya jika harus menerima permintaan Jenifer. Ia juga merasa yakin, bahwa Mr. Jhon pun merasa senang dengan permintaan adikn
"Haish... mau ke mana lagi dia?" Azlan memutar arah tubuhnya. Ia berlari menuju mobil lalu mengejar Nauma.Nauma terus berjalan, kekesalannya sudah memuncak. Ia sungguh kecewa dengan suaminya. Azlan terus saja mengejarnya, begitu mobil sudah berada di samping tubuh istrinya, ia turun berusaha menenangkan amarah yang Nauma rasakan."Oke... oke... ayo kita pulang ke kontrakan." Azlan mengalah, ia menuruti keinginan istrinya.Sampai saat ini ia masih belum mengetahui mengapa Nauma tidak mau tinggal di rumah pemberian Agnes.Nauma menghapus air matanya, lalu masuk begitu saja ke dalam mobil. Ia juga sebenarnya takut berjalan sendiri saat tengah malam seperti ini. Azlan merasa lega saat Nauma memasuki mobilnya.Tidak ada pembicaraan dalam perjalanan mereka, hanya hening yang menghiasi pekatnya malam. Nauma tidak bergeming sedikitpun, ia sibuk memandang ke luar jendela dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri.Begitu mobil sudah tiba di kontrakan, Nauma langsung keluar begitu saja meninggalk
"Buka saja, dan tanda tangani," balas Nauma. Dengan penuh rasa penasaran, Azlan membuka amplop coklat yang dilempar istrinya. Ia menarik kertas, matanya membola tak percaya dengan isi yang tertulis pada kertas di tangannya. "Apa maksudnya ini Neng? Kamu lagi nggak bercanda kan?" tanya Azlan tak percaya. "Aku mohon tanda tangani saja, aku sudah lelah Kang, lepaskan aku, dengan begitu kau bisa bebas bersamanya," pinta Nauma sambil menangis. "Jadi seharian kamu pergi untuk mengurus ini semua? Tidak, aku tidak akan pernah menandatanganinya," balas Azlan sambil merobek kertas yang ada di tangannya. Nauma memberikan surat perceraian padanya. Tentu saja Azlan menolak permintaannya, Azlan tak akan sanggup hidup tanpa wanita yang ia cintai. Nauma terlihat marah saat Azlan merobek surat perceraian yang susah payah ia dapatkan. "Kenapa dirobek? Aku hanya ingin terbebas dari rasa sakit hati Kang, aku mohon lepaskan aku, ceraikan aku sekarang juga," pinta Nauma memilukan, meski mulutnya memin
"Tidak usah dipikirkan, biar aku saja yang mengurusnya," balas Azlan. Baru juga menyelesaikan perkataannya, rasa sakit di perut kembali hadir. Ia memegangi perutnya menahan rasa nyeri itu, tindakannya tak luput dari penglihatan Nauma. "Akang kenapa? Kenapa wajahnya pucat sekali?" tanya Nauma panik. Ia baru menyadari kondisi suaminya. Azlan sudah menahan rasa sakitnya sejak di perjalanan pulang tadi. Tapi kesedihan mengalihkan rasa sakit itu. "Entahlah, mungkin karena belum makan sejak kemarin," balas Azlan sambil merintih kesakitan. "Kenapa Akang bodoh sekali, sampai tidak makan seperti itu?" ucap Nauma menyalahkan suaminya. "Karena aku sibuk mencari kamu, tadi saja aku ke kampung mencarimu." Nauma terkejut saat mendengar perkataan suaminya, ia tak menyangka jika Azlan mengkhawatirkan dirinya. Ia pikir Azlan acuh dengan apa yang ia lakukan. "Maafkan aku," ucapnya penuh sesal. "Tidak perlu minta maaf, tapi lain kali kamu bilang ya kalau mau pergi. Jangan dibiasakan seperti tu,
"Tapi mana mungkin aku meninggalkan Akang seperti ini?" "Pergi saja, selesaikan pekerjaanmu." Ia tidak mau menjadi penghalang bagi Nauma, ia hanya ingin Nauma merasa tidak tertekan hidup dengannya. Demam yang ia derita tak seberapa dibanding dengan rasa sakit hati yang Nauma rasakan. Nauma bingung, satu sisi ia tidak mungkin meninggalkan suaminya, satu sisi lagi pekerjaannya sangat penting karena sudah dikejar deadline. Busana pesanan para artis ternama ia yang menghendelnya. Tanpa Azlan ketahui, Nauma sudah memiliki nama sendiri di bidang fashion. "Aku tunggu beberapa jam lagi, kalau Akang masih demam, terpaksa aku meminta tolong rekan yang lain untuk membantuku nanti malam," ucap Nauma. "Terima kasih ya sayang," balas Azlan. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Nuama lalu tertidur lagi. Dirasa suaminya sudah pulas, ia melepaskan pelukkan secara perlahan, agar tidak membangunkan Alzan. Nauma ke dapur mencari kain untuk mengompres kening suaminya, berharap demam yang dialami Azlan
"Lepas! Apa-apaan kau?!" Nauma memberontak saat rambutnya ditarik oleh Jenifer. Jenifer tiba-tiba datang, memaki lalu menjambak rambut Nauma dengan kasar. Nauma merintih kesakitan, beberapa helai rambut terlepas dari akarnya, hingga membuat kulit kepala terasa sakit. "Aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya, pergi dari hidup Azlan atau aku yang akan menyingkirkanmu dari dunia ini selamanya," ancam Jenifer."Tidak, aku tidak akan pergi. Justru kamu yang harusnya pergi dari hidup kami. Kamulah orang ketiga dalam hidup kami," balas Nauma sambil terus memberontak.Jenifer masih saja menarik bahkan mencakar lengan Nauma dengan kukunya. Goresan-goresan luka terlukis memilukan di lengannya. Mr. Jhon melihat tindakan adiknya, lalu ia berlari menghentikan tindak kekejaman adiknya. Ia tidak bisa melihat Nauma menderita seperti itu. "Lepas!" pinta Mr. Jhon menarik tangan Jenifer dan menjauhkannya dari Nauma."Sudah aku katakan jangan berani melukainya," ucap Mr. Jhon lagi. "Jadi kalian sudah ta
"Kejutan...." Azlan menutup mata Nauma untuk memberikannya kejutan, sebeanarnya ia sudah sedari tadi menunggu istrinya di luar ruangan. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Nauma dan mengabaikan kesehatannya. Nauma menghela napasnya, merasa lega saat mengetahui orang itu adalah suaminya. Nauma memukuli dada Azlan, mengungkapkan kekesalannya. "Kau hampir membuatku terkena serangan jantung Kang, aku pikir orang jahat yang menutup mataku," balas Nauma. Azlan terkekeh melihat kekesalan istrinya, ia merangkul lalu mengajak Nauma pulang. Masih ada ketakutan dalam diri Nauma mengingat ancaman yang diberikan Jenifer siang tadi. "Kenapa kamu melamun seperti itu sayang? Apakah kamu masih marah?" tanya Azlan. Nauma menggelengkan kepala. "Tidak. Oh iya, aku lupa membawa sesuatu, aku mau ke atas lagi," balasnya teringat meninggalkan sesuatu. "Apa yang tertinggal?""Ayo antar aku, nanti aku beritahu," balas Nauma."Buat penasaran aja."Azlan mengantar Nauma kembali ke ruang kerjanya, ia me
"Kenapa saat hatiku sudah memilihmu jusrtu kau yang menghilang?" gumam Nauma sambil berjalan mencari taksi.Rumah Azlan yang ia datangi ternyata sudah dijual, tapi ia tak putus asa. Nauma mengunjungi Strar Entertaint, agensi tempat Azlan bekerja. Nauma pikir Azlan masih menjadi artis dan bekerja dengan Agnes."K-kamu Nauma?" tanya Fero yang tak sengaja melihat Nauma memasuki lobi kantornya."Ya, ini aku. Sudah lama kita tak bertemu," balas Nauma."Kau sudah berubah sekali, semakin cantik dan mempesona. Oh ya, untuk apa kau ke sini?" tanya Fero."Apakah Azlan ada di sini? Aku mencari ke rumahnya tapi ia tak tinggal di sana lagi, nomor ponselnya pun sudah tak aktif lagi," tanya Nauma.Fero mengembuskan napas saat mendengar pertanyaan Nauma. "Dia sudah tak bekerja di sini lagi, sekarang dia tak memiliki pekerjaan, semua harta yang diberikan Mr. Jhon pun sudah diambil dan dia sudah tak memiliki apapun. Tapi untuk apa kau mencarinya, bukankah kau sudah menikah dengan Mr. Jhon?" tanya Fero
"Kenapa Azlan, Nak?" tanya Ibu Tomi sambil berlari karena mendengar teriakan anaknya."Kak Azlan tak sadarkan diri, Bu. Lebih baik kita bawa ke rumah sakit sekarang," balas Tomi cemas.Tomi dan ibunya membawa Azlan ke rumah sakit terdekat, sepanjang perjalanan ia merasa cemas karena keadaan Azlan. Wajahnya sudah terlalu pucat, mata menghitam dan terlihat lebih kurus dari biasanya.Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan makian pengguna jalan lainnya. Ibu Tomi pun merasa cemas karena tak biasa berada di jalan raya dengan kecepatan seperti ini."Hati-hati, Nak," ucap Ibu Tomi memperingati anaknya.Begitu sampai di rumah sakit mereka langsung melarikan Azlan ke ruang UGD. Dalam perjalanan menuju UGD mereka bertemu dengan Fero yang kebetulan sedang syuting di rumah sakit untuk film terbarunya. Fero pun membantu Tomi mendorong brangkar pasien."Apa yang terjadi? Mengapa ia jadi seperti ini?" tanya Fero."Nanti aku ceritakan, yang penting kondisi Kak Azlan membaik dulu
"Maaf Nyonya. Semua biaya atas nama Axcel sudah dilunasi," ucap petugas administrasi saat Nauma ingin membayar tagihan rumah sakit."Siapa yang telah membayarnya?" tanya Nauma penasaran."Pria yang mendonorkan mata untuk anak anda."Nauma terkejut dengan apa yang ia dengar. Azlan menjalankan peran sebagai Orangtua yang sesungguhnya dengan menjaga Axcel tanpa sepengetahuannya. Bahkan biaya operasi yang terbilang mahal pun Azlan lakukan. "Baiklah kalau begitu, terima kasih."Nauma pergi dengan tatapan kosong, ia masih memikirkan Azlan di hatinya. Nauma pun merogoh tas kecil yang ia bawa dan mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Azlan hendak menelpon dan mengucapkan rasa terima kasihnya."Kenapa nomornya tidak aktif?" gumam Nauma.Nauma kembali menelpon Azlan dengan nomor yang dulu Azlan gunakan sebagai Mr. A, tapi tetap saja nomor itu tak aktif sama sepeti nomor sebleumnya. "Kenapa nomor ini juga tak aktif? Apakah ia mengganti nomornya?" gumam Nauma."Ada apa?" tanya Mr. Jhon menghamp
"Mengapa kau ada di sini?" tanya Nauma begitu seorang pria keluar dari kamar mandi.Azlan terkejut saat melihat kehadiran Nauma di ruang rawatnya, ia tak bisa menjawab pertanyaan Nauma. Nauma pun terlihat menahan kesedihannya sambil memandang wajah Azlan yang terdapat perban di bagian mata. "Apakah kau yang mendonorkan mata untuk Axcel?" tanya Nauma lagi.Azlan masih terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa, rasanya percuma ia menyembunyikan identitasnya saat Nauma mengetahui apa yang ia lakukan.Azlan mengambil ponsel Nauma di lantai dan memberikannya. Ia pun tersenyum dan berkata. "Tenang saja, aku akan pulang begitu pengobatan ini selesai, aku pun janji akan menghilang dari hidup kalian," ucap Azlan menahan sesak di hati.Nauma tak menerima ponsel yang Azlan berikan, ia masih terpaku pada wajah Azlan yang berbalut perban. Tanpa ia sadari air mata sudah jatuh begitu saja membasahi pipi. Azlan pun panik dengan kesedihan yang Nauma tampakkan. Ingin sekali rasanya memeluk wanita yang
"Tentu saja bisa, tapi kau harus melewati serangkaian tes terlebih dulu untuk melihat kecocokan mata kalian," ucap sang dokter."Baiklah, aku akan melakukan tes itu sekarang juga," balas Azlan.Azlan menjalani pemerikasaan dan ia bersyukur karena matanya cook untuk didonorkan. Tomi merasa cemas dengan keputusan yang diambil Azlan. Sedangkan Azlan memantapkan hati untuk kesempurnaan anaknya. Ia tak akan tega melihat Axcel hidup dengan kekurangan."Apakah kau serius dengan keputusanmu, Kak?" tanya Tomi."Tentu saja, kau tenanglah, bukan hal buruk hidup dengan satu mata," balas Azlan.Dokter memberikan jadwal operasi pada Azlan, serangkaian tindakan pun telah Azlan lakukan. Hari demi hari ia tinggal di rumah sakit, dan mendapati kabar bahwa operasinya telah berhasil. Rasa syukur selalu ia ucapkan.Azlan pun melihat keadaan Axcel saat malam tiba, tentunya hanya dari luar jendela. Ia tak ingin Nauma mengetahui apa yang ia lakukan untuk anaknya."Syukurlah kalau kau sudah bisa melihat denga
"Tapi mobil itu adalah mobil kesayangamu, Kak," balas Tomi."Tak ada yang lebih penting dari keselamatan anakku, aku harus segera menemuinya. Hati ini tak akan tenang jika belum melihat keadaannya dengan mata kepalaku sendiri. Sekarang juga kau temani aku ke dealer mobil," ucap Azlan.Azlan berlari menuju kamarnya mengambil kunci mobil serta berkas yang dibutuhkan, kemudian ia dan Tomi langsung menuju dealer mobil tempatnya membeli dulu. Pekatnya malam membuat jalanan semakin lengang, hingga Tomi berpikir dealer yang mereka tuju pasti sudah tidak beroperasi."Sepertinya Dealer mobil sudah tutup di jam segini, Kak. Lebih baik besok saja kita ke sana," ucap Tomi."Semoga saja belum." Azlan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh, hingga Tomi berpegangan pada tali pengaman yang ada di tubuhnya.Harapan Azlan tak menjadi kenyataan, dealer mobil yang mereka tuju sudah tutup, tapi Azlan tak patah semangat. Ia mencari dealer mobil lainnya yang masih buka. Keberuntungan tak berpihak padanya
Nauma : Entahlah, aku pun tak tahu apa yang aku rasakan. Benar apa yang kau katakan, masih ada cinta untuknya. Tapi saat mengingat pengkhianatannya aku merasakan sesak yang sangat menyakitkan. Terlebih kemarin ada seorang pria yang melamarku, pria itu yang selama ini menjagaku dan anakku.Azlan tak langsung membalas pesan itu, ia sadar jika kesalahannya tak mungkin bisa dimaafkan begitu saja. Azlan pun yakin, pria yang dimaksud Nauma adalah Mr. Jhon. Senyum pahit terukir di wajahnya, merasa tak memiliki harapan sama sekali.Azlan : Ikutilah apa yang hatimu katakan, aku doakan kebahagiaan untukmu. Semoga kau mendapatkan cinta yang tulus dan tak tersakiti lagi.Nauma : Terima kasih kau sudah mau mendengarkanku, padahal kita tak pernah saling mengenal, tapi entah mengapa rasanya nyaman sekali berbicara denganmu.Azlan : Jangan berterima kasih karena aku tak melakukan apapun. Jika kau membutuhkan teman bercerita kau bisa menghubungiku. "Ya, lebih baik kau bersama dengan Mr. Jhon, pria it
"Kau yang siapa? Mengapa pintu rumahku tak bisa dibuka seperti ini?" tanya Azlan ksal."Ini adalah rumahku, sudah dua tahun aku membeli rumah ini dari Jenifer," balas pria paruh baya yang ada di hadapan Azlan."Kakak dan adik itu membuat hidupku menderita saja, seenaknya menjual rumahku," gumam Azlan."Aku tak pernah menjual rumah ini, dan aku tak pernah menandatangani surat jual beli rumah ini," ucap Azlan pada pemilik rumahnya."Tapi aku membelinya dengan resmi, apakah kau Tuan Azlan?""Ya, benar aku Azlan.""Masuklah Tuan, aku akan tunjukkan berkas pembelianku dulu, tanda tanganmu pun ada di berkas itu."Azlan memasuki rumah dan menunggu di ruang tamu, sudah banyak perubahan di rumah ini. Bahkan barang-barang yang dulu sudah di ganti oleh pemilik barunya. Azlan menaruh kesal di hati saat mengetahui rumahnya telah dijual oleh Jenifer."Sebelumnya perkenalkan, aku Ryan," ucap pemilik rumah memperkanalkan diri."Mana berkasnya?" tanya Azlan tak sabar.Ryan mengeluarkan surat perjanjia
Azlan : Aku berasal dari Indonesia.Nauma : Kebetulan, aku juga berasal dari Indonesia, senang berkenalan denganmu.Pesan demi pesan mereka balas hingga menjelang malam. Ketenangan hadir di hati saat bisa bertukar pesan dengan wanita yang dicintainya. Azlan tidur dengan nyenyak sambil memeluk ponselnya. Berbulan-bulan sudah ia tinggal di negara orang.Berkali-kali pula ia mencoba mendekati Nauma dan Axcel, tapi hanya penolakan yang ia terima. Tabungannya pun sudah hampir habis, pekerjaan di Jakarta pun sedang menunggunya. Azlan memutuskan untuk menemui Nauma dan Axcel, ia ingin sekali lagi memperjuangkan perasaannya."Ya, ini adalah yang terkahir, jika mereka masih menolakku, maka aku akan pulang ke Indonesia," gumamnya sambil mengenakan jaket.Azlan menuju apartemen Nauma menggunakan bus, sepanjang perjalanan ia berdoa agar Nauma mau menerimanya lagi. Hanya sekedar harapan dengan kemungkinan kecil, ia tak begitu yakin jika Nauma mau menerimanya lagi. Terlebih penolakan-penolakan yang