MasukFour years have passed since Mia and Anisel became the rulers of Satia, and during this time, they have managed to bring about significant progress and development in their country. Their love for each other has grown stronger, and they have started a beautiful family, with Mia now pregnant with their first child. Life couldn't be more wonderful for the couple. However, their happiness is short-lived as Satia is hit by a devastating war that has erupted in the main kingdom due to past conflicts. Anisel and Mia are now faced with the daunting task of saving Satia from the destructive war. They must make difficult decisions that will determine the fate of their people. Despite their best efforts, their choices lead them to defeat, and in order to keep herself and her unborn son safe, Mia is forced to flee the kingdom. She is left with the weight of the responsibility to save her people from the disastrous effects of the war. The situation is dire, and Mia must act fast to come up with a plan to protect her people and restore peace to Satia.
Lihat lebih banyak“Rangga, maafkan aku karena sudah mengecewakanmu. Aku memang main pernah belakang dengan bosku dua tahun terakhir.”
Ucapan Jojo, istri Rangga, dua bulan yang lalu masih terngiang di kepala Rangga.
Selama ini Rangga hanya setia kepada satu wanita, tetapi wanita itu telah mengecewakannya. Walaupun ada banyak wanita yang berusaha menggoda Rangga, tapi Rangga tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk mendekatinya.
Tapi, sejak Jojo mengakui semuanya kalau dia pernah berselingkuh dengan Rahul, bosnya, maka hati Rangga menjadi sangat kecewa. Dia menjadi sangat murka akan kehidupannya.
Sejak itu Rangga mulai mencari cara untuk membalas dendam kepada biang keladi kehancuran rumah tangganya, orang yang mengajak Jojo masuk ke dalam kemaksiatan, masuk ke dalam perselingkuhan, pengkhianatan yang melukai hati Rangga.
Dan hari ini, Rangga akhirnya mulai melakukan apa yang menjadi rencananya itu!
Rangga melangkahkan kakinya untuk pertama kali ke rumah Rahul. Inilah caranya untuk membalas kekecewaan tersebut, yaitu dengan masuk ke rumah Rahul sebagai sopir pengganti.
Saat Rangga melihat pria itu, dia hampir tidak bisa menahan diri. Tangannya terkepal, wajahnya mengeras. Pria tua yang tidak pantas menjadi saingannya ini telah berselingkuh dengan istrinya selama hampir dua tahun!
Rahul menatap Rangga. "Jadi kamu sopir baru yang dibilang Yopi itu?"
"Iya, Pak. Nama saya Rangga."
"Oke. Antarkan aku ke kantor."
"Mari, Pak Rahul."
Saat Rahul melewatinya, Rangga hampir saja melepaskan amarahnya. Namun, dia memiliki rencana jangka panjang untuk membalas dendamnya, jadi dia mengendalikan diri.
Sesampainya di kantor dan setelah menurunkan Rahul, Rangga memperhatikan kantor itu. Di sinilah semuanya bermula. Di sinilah istrinya beberapa kali dilecehkan hingga akhirnya tidak berdaya dan berakhir menjadi selingkuhan Rahul.
Tiba-tiba Rahul yang sudah meninggalkan mobil sambil menelepon kembali mendekati Rangga. "Kamu langsung balik ke rumah, lalu jemput Tineke ke mall. Mengerti?"
"Bagaimana dengan Bapak?"
"Mungkin aku akan memakai sopir kantor kalau aku harus keluar. Oke, kamu pulanglah."
"Baik, Pak."
Dalam perjalanan kembali, Rangga menerima telepon dari Jojo, istrinya. "Apa maumu, Jojo?"
"Kamu ke mana, Rangga? Kenapa tidak ada di rumah?"
"Aku sedang kerja lapangan."
"Hah? Bukannya kamu biasanya cuma kerja di depan laptop?"
Sebelum ini, Rangga memang seorang trader dan hanya bekerja dari rumah. Selama 2 tahun ini, pekerjaannya itu telah menghasilkan uang milyaran untuknya, tetapi jumlah itu tidak pernah diketahui oleh istrinya.
Rangga memang ingin membuat kejutan kepada istrinya, ingin membuat sebuah perusahaan besar dan juga membuat apartemen mewah untuk istrinya, untuk jadi kejutan ulang tahun pernikahan bagi istrinya.
Tapi kejutan itu belum juga dia katakan, karena kejutan dari istrinya sudah lebih dulu menerpa hidupnya.
"Sekarang aku mau sambil kerja lapangan melihat-lihat kompetitorku supaya bisa mendapatkan hasil lebih baik," bohong Rangga.
"Oke. Kamu silakan kerja lapangan, aku akan tinggal di rumah dan tidak akan bekerja lagi. Aku puas dengan penghasilanmu, yang penting keluarga kita tetap utuh."
Rangga mendengus. Sejak menikah dengan Jojo, sebenarnya dia sudah mendapatkan kepuasan hidup. Dia merasa semua yang dia inginkan sudah tercapai dengan kehadiran Jojo apalagi dengan kehadiran dua buah hatinya dengan Jojo.
Dia ingin meninggalkan Jojo setelah perselingkuhannya terbongkar, tetapi tidak sanggup karena anak-anak mereka sangat berharap orang tua mereka tetap bersama.
"Jam berapa kamu pulang, Rangga sayang?" tanya Jojo dengan nada lembut. Sungguh berbeda dari sebelum Rangga memergokinya selingkuh.
Jojo dulu begitu cuek dan dingin. Kini, wanita itu jadi berubah peduli, dan terus berbicara dengan nada mendayu, tapi Rangga tidak akan terjebak lagi.
"Aku tidak tahu. Mungkin tidak akan pulang."
"Rangga, kamu tidak sedang meninggalkan aku, kan?"
"Kalau aku ingin meninggalkanmu, aku sudah membawa anak-anak kita pergi, tapi aku tidak melakukannya, kan?"
"Iya, memang."
"Aku cuma ingin menenangkan diri sambil kerja lapangan. Dua hari lagi aku pulang."
"Baik, Rangga. Aku akan menunggu sampai kamu pulang dan akan selalu memperhatikan anak-anak kita.”
**
Saat Rangga telah kembali ke rumah Rahul, Tineke yang sudah berdandan cantik itu keluar. Dia bahkan sengaja menggesekkan buah dadanya yang sintal ke lengan Rangga, hingga membuat Rangga kaget.
Tineke menatapnya penuh arti. Sebuah godaan sudah mulai dilayangkan.
Ternyata, istri kedua Rahul sebinal ini?
Sekarang, Rangga yakin bahwa rencana pertamanya akan bisa dilaksanakan dengan sangat mudah.
Tapi Rangga pura-pura tidak mengerti. Dia masuk ke dalam mobilnya dan bertanya, "Nyonya Tineke mau belanja di mana, Nyonya?"
Tineke nampak berpikir sebentar kemudian dia berkata, "nampaknya aku tidak jadi belanja deh."
"Kenapa begitu, nyonya?"
"Sekarang ini aku lebih suka refreshing di hotel." Dari posisinya di jok belakang ini, Tineke menatap penuh arti ke arah Rangga lewat kaca di atas pengemudi.
"Oh, aku mengerti, tante. Tante mungkin capek. Ehm, berarti tante ingin menginap di hotel dan aku harus menjemput Tuan Rahul, begitu, kan?" pancing Rangga.
"Eh, jangan. Bapak sedang sibuk di kantor. Biarlah dia di kantornya. Aku tidak mau mengajaknya ke hotel."
"Baik, nyonya. Berarti nyonya ingin menikmati fasilitas hotelnya. Mungkin menikmati spa-nya, kolam renangnya atau semacam itu. Iya kan?" kata Rangga sambil mulai mengemudi.
"Aku nggak mau. Aku pengen sekali ke hotel bukan untuk menikmati fasilitas seperti itu tapi aku ingin berduaan dan dengan seseorang di hotel. Tapi bukan bapak ya."
Cerita sudah mulai menjurus tapi Rangga masih pura-pura. Dia masih berlagak pilon. "Oh, jadi nyonya akan menginap dengan teman nyonya, ya? Bestie-nya nyonya, ya?"
"Nggak. Buat apa? Aku lebih baik menghabiskan waktu dengan bestie-ku saat di klub malam atau di lagi shopping tapi tidak saat di hotel. Saat di hotel, aku ingin menikmatinya dengan seorang lelaki. Tentu saja."
Saat ini Rangga terdiam. Rangga biarkan Tineke menceritakan dengan jelas akan maksud perkataannya itu. Rangga yakin, dari ekspresi Tineke, sepertinya wanita itu mulai tertarik padanya.
Setelah sempat terdiam, Tineke nampaknya mulai tidak tahan. Dia kemudian memajukan tubuhnya sehingga harum semerbak parfum yang dia pakai menyebar sampai ke hidung Rangga. "Bagaimana denganmu? Apa kamu mau menemani aku di hotel?"
So, the diamond has been in that cell for decades, and no one thought to look!! They did explain how the cells were destroyed after their escape leaving everything to rot. People assume they took it as they fled the kingdom. My parents never checked or tried to check if there was anything here under the rumble. It was like they didn't care. As the guards kicked down their door that day, Khali, Anisel’s father, swallowed it like water. He regrets the choice as his stomach was out of order for the days they were in that cell. When it finally passed through, they immediately placed it in a hole. I have many questions but I don't know where to start. Khali cut off my thinking, “I wish we could chat more. But we don't have time to waste. Just meet us here and we will tell you what we know.” Khali said. They bowed as they waved goodbye. In the back of my mind, I should tell Anisel about this sudden surprise. But, I was ordered by them to keep it a secret. So I will. I came across Anisel
~ Mia ~ He just left me here— not one stare back. I never would have thought Anisel could be this cruel to me. Some of the guards turned away once I glanced at them. Why would they stand there and not help me up?? I wiped my eyes as I stood on my feet. I would chase after him, but I know I would make it worse. I headed to the main office to speak to Nina. When I arrived, the others glared at me with such tension. Before I could blink, they walked out of the room, and even my brother gave me a disappointing expression. I felt awful. Nina stood at her desk, waiting for me to join her. At first, I didn't know what to say. “The Queen of Satia, lying about bringing peace only to cause suffering. Why didn't you tell him this on the day you did it?" Nina said. I wanted to tell them before everything, but I couldn't see them like that. They did not know how to live. Giving them that closure brought relief and comfort. I want them to be happy. Nina shook her head. Lovers are not supposed
“How did you know??” I curiously asked. “You have a similar smell to Pinta, like a comforting scent. Mom also told me your name, and it’s a coincidence you have the same name. Plus, you like me as well.” I couldn’t hold back my tears. Mia did say he was brilliant, but this is ridiculous. I was questioning if he was five. Julian began to hiccup as his eyes filled with water. Every time they drip down, I wipe them. Under his breath, he started to say it was okay to cry, but it showed weakness. So, nobody should see him cry. Until today, he came running towards me—my baby boy. I'm sorry. I'm so sorry. An hour later, I carried Julian in while he fell asleep. I spotted my wife as he strolled down the hallway. She was worried sick about our whereabouts and asked what happened. I had a guard take him to his room so Mia and I could talk. I told her everything, even the part when he figured it out. The fact Pinta had my scent for so long amazed me. Mia took everything that belonged to me
~ Mia ~ I couldn’t rest last night as we were searching for Pinta. He still wasn’t found. How could Julian lose him that fast? As I was walking around the hallway, I spotted Matthew sitting on a bench, staring out the window. “Hey Matt, you okay??” I asked. He needed some air, that's all. The doctors said he had permission to walk freely. He wanted to build his strength back up, and being cooped up in bed wasn't helping. “Heard you have been looking for something. Searching like crazy.” He mentioned. Yeah, Pinta. However, I gave up because I knew he would appear soon. But I did ask Matthew if he saw him by any chance. It took a second to respond, and he shook his head no. Out of nowhere, he grabbed my waist as I was about to leave. The grip was loose, as he didn't intend to hurt me. He had this expression that I couldn't figure out. He was happy that I found someone who was caring. Who will do anything for me? Matthew never complimented anybody before, and to hear this was heart






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.