Share

Jelmaan Cleopatra

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-27 17:58:24

Rain menunggu di depan fitting room, sedangkan Lady masih berada di dalam ruangan itu.

"Ngapain aja sih dia di dalam sampai selama itu?" gerutu Rain sendiri.

Kehabisan rasa sabar, Rain mengetuk pintu fitting room.

"Hei, lo ngapain aja?"

Tidak ada sahutan dari Lady yang membuat Rain bertambah kesal. Ia mengetuk pintu sekali lagi. Sebelum tangannya sempat beradu dengan daun pintu, pintu berwarna putih itu dibuka dari dalam. Sosok Lady kini berdiri tegak di hadapannya.

"Saya nggak cocok ya pakai baju ini?" tanya perempuan itu pada Rain. Terlihat jelas kalau dia tidak percaya diri.

Rain terkesima hingga untuk detik-detik yang lama kehilangan kemampuan mengerjapkan mata.

"Gimana menurut anda?"

"Cantik banget, Dy." Suara itu berasal dari seseorang di belakang Rain. Kanayya. "Iya kan, Rain?"

"B aja," sahut Rain datar. "Ya udah, Nda, aku tunggu di mobil. Sumpek di sini." Lelaki itu lalu pergi meninggalkan keduanya.

"Dia memang begitu orangnya. Kamu nggak usah ambil hati." Kanayya tersenyum tipis menghibur Lady.

"Iya, Dok," sahut Lady mafhum.

***

"Bunda langsung pulang aja ya, Rain. Lady ikut sama kamu biar nanti kalian bisa langsung pergi," kata Kanayya setelah mereka berada di mobil.

"Iya, Nda."

Rain mengantar Kanayya ke rumahnya sesuai dengan permintaan perempuan itu.

"Kamu nggak mampir dulu?"

"Lain kali aja, Nda. Salam sama Tante, Mama dan Papa."

"Nanti Bunda sampein. Kamu pindah duduk ke depan, Dy, temenin Rain."

Patuh, Lady melaksanakan perintah Kanayya. Baru saja akan menjatuhkan diri di jok ia disambut dengan helaan napas berat laki-laki itu.

"Anda nggak suka kalau saya duduk di sini?" tanya Lady yang mengerti keresahan Rain.

"Anda saya, anda saya, lo pikir ini di kantor?"

Lady tersenyum samar. Apa pun yang dilakukannya tidak pernah benar di mata Rain. "Kamu nggak suka aku duduk di sini?" ulangnya.

"Udah tau pake nanya."

"Kamu kok gitu banget sama aku? Aku tahu diri kok kalau emang nggak pantes buat kamu, tapi aku manusia lho. Aku juga punya perasaan."

Perkataan Lady berhasil membuat Rain menoleh pada perempuan itu. "Maksud lo apa? Lo tertekan dengan perjodohan ini?"

Lady tidak menjawab. Ia lebih memilih memandang keramaian lalu lintas di luar sana.

"Kalau orang lagi ngomong tuh didengerin, bukannya malah ngeliat ke mana-mana." Ada nada kesal dalam nada suara Rain yang tertangkap oleh telinga Lady.

Lady memutar kepalanya ke arah Rain. Seulas senyum tipis terbit dari bibirnya. "Sakit ya rasanya kalau nggak dihargai? Itu juga yang aku rasakan selama ini. Kamu menganggap aku seperti sampah. Kamu nggak pernah menghargai aku. Kalau kamu bilang aku bukan tipemu, kamu juga harus tahu kalau kamu juga bukan tipeku. Aku nggak pernah bermimpi berjodoh dengan laki-laki arogan, sombong, suka menghina orang. Tapi keadaanku bikin aku harus menerima perjodohan ini."

Kali ini Rain benar-benar tidak berkutik mendengar pengakuan lugas Lady. Ia tidak menyangka kalau perempuan tersebut akan sejujur itu padanya.

Kemudian, di sepanjang sisa perjalanan mereka keduanya sama-sama menyimpan suara.

***

"Kalau lo mau istirahat jangan di ranjang gue, tapi di sana." Rain menunjuk sofa setelah mereka tiba di apartemen.

"Siapa juga yang mau tidur di ranjang kamu," balas Lady.

"Bagus kalau lo paham." Rain tersenyum asimetris dan meninggalkan Lady sendiri.

Membunuh waktu, Lady tidak tahu apa yang dilakukannya. Alhasil ia memainkan ponsel.

"Tolong handuk gue dong!" Suara itu berasal dari dalam kamar mandi.

"Kamu ngomong sama aku?" Lady balas berseru.

"Emangnya kalau bukan sama lo siapa lagi? Sama kuntilanak? Ambilin handuk gue di dalam lemari!"

Bergerak dari tempat duduknya, Lady membuka lemari. Ia mencari handuk yang dimaksud. Baru saja ia akan menarik dari lipatan pakaian, mata bundarnya melebar ketika melihat susunan baju perempuan di sana.

Ada perempuan tinggal di sini?

"Ngapain aja sih lo? Gue udah kedinginan nih!" Suara kesal Rain terdengar lagi yang memaksa Lady untuk bergerak.

"Ini handuknya." Lady memberikan handuk putih tersebut setelah Rain membuka setengah pintu kamar mandi.

Ia kembali ke tempat duduknya dan membiarkan Rain berpakaian.

"Ngapain lo kayak gitu? Lagi menilai apartemen gue? Pengen tau gue punya apa aja?" tanya Rain melihat Lady mengedarkan mata ke setiap penjuru ruangan.

"Di sini kamu tinggal sama siapa?"

Pertanyaan itu sama sekali tidak pernah diprediksi Rain sebelumnya.

"Ya sendirilah, emang lo pikir sama siapa lagi?"

"Aku ngeliat ada baju cewek di lemari."

"Lancang lo ya, berani-beraninya periksa barang-barang gue."

"Kan tadi kamu sendiri yang minta buat ngambilin handuk. Jadi aku nggak sengaja ngeliatnya. Emang itu baju siapa? Kamu bukan cowok setengah mateng kan yang pake baju-baju cewek?" Lady membalikkan kata-kata Rain waktu itu.

"Bukan urusan lo juga buat tahu itu baju siapa. Kita memang dijodohkan, tapi sedikit pun lo nggak berhak ikut campur dalam hidup gue."

"Iya," sahut Lady singkat. Kemarin bra, sekarang baju. Membuatnya tidak mampu untuk tetap berpikir positif.

"Daripada lo kepo nggak jelas kayak gitu mending sekarang pake baju lo tadi, kita pergi. Gantinya di sana." Rain menunjuk kamar mandi.

Lady membawa paper bag berisi gaun yang dibeli tadi, lalu masuk ke kamar mandi. Ia tidak langsung mengganti bajunya, namun menyandarkan punggung ke belakang pintu sembari mengatur napas. Lady membayangkan, jika saja suatu saat nanti ia benar-benar menjadi istri Rain mungkin lelaki itu akan membuatnya makan hati setiap hari.

"Lalad, lo ngapain lagi di dalam? Nggak bisa apa cepet sedikit?"

Kalau saja suara Rain tidak memanggilnya mungkin Lady masih akan terpaku di belakang pintu.

"Iya sebentar, ini lagi ganti baju."

Cepat, dibukanya paper bag dan mengeluarkan gaun premium itu dari sana. Lady mengusap dengan tangannya serta memandang penuh kekaguman. Ini adalah baju termahal pertamanya. Rasanya bagai bermimpi. Sedikit pun Lady tidak berani mengimpikan memakai gaun mahal yang kini ada di tangannya.

Gaun malam berwarna biru itu melekat begitu pas di tubuhnya yang ideal yang membuat kepercayaan dirinya ikut meningkat.

"Lalad, ngapain aja sih lo sampe selama itu?" Suara Rain terdengar lagi. "Masih hidup kan lo?"

Rain yang tidak sabar membuat Lady bergerak cepat. Dengan terburu-buru ia memakai bedak, memulas blush on tipis-tipis di pipinya serta mewarnai bibirnya dengan lipstick.

Lady lalu keluar dari kamar mandi setelah dandan kilat tersebut.

"Aku sudah siap," ucapnya pada Rain yang sedang membelakanginya.

Mendengar suara Lady, Rain menoleh. Lelaki itu kembali kehilangan kemampuan mengerjapkan mata saat melihat jelmaan cleopatra di hadapannya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   She's Not My Tipe

    “Rain, akhirnya kamu datang juga. Tadi Bunda kamu bilang ke Tante kalau nggak bisa datang. Jadinya kamu yang mewakili.”“Iya, Tante, Bunda yang minta aku datang ke sini,” jawab Rain pada Tiwi, teman sang bunda. Keduanya kemudian saling mendekap hangat.Tiwi kemudian mengamati perempuan yang berdiri di sebelah Rain. “Ini pacar baru kamu, Rain?”“Bukan, Tante, ini temenku.”“Temennya cantik banget,” komentar Tiwi saat melihat Lady yang berdiri kaku di sebelah Rain. Lady tersenyum tipis merespon sanjungan yang ditujukan padanya. Masa sih dirinya secantik itu? Ia merasa biasa-biasa saja. Dan selama ini belum pernah ada yang menyanjungnya dengan berlebihan.“Pembalap kita akhirnya datang juga. Tumben nih, lagi nggak sibuk?” River datang ke tengah-tengah mereka.”Nggak, Om, jadwalku kebetulan lagi kosong, makanya bisa ke sini.” Rain beralasan.River kemudian menepuk pelan pundak Rain. “Om bangga sama kamu, Rain. Nggak nyangka di umur semuda ini tapi prestasi kamu udah nggak kehitung lagi.

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Rumor

    Rain dan Lady pulang sebelum acara pesta berakhir. Nyaris di sepanjang acara Rain tidak memedulikan dan membiarkan Lady sendirian. Sementara ia sibuk dengan teman-teman yang ditemuinya di tempat itu."Biar aku naik taksi aja," putus Lady saat Rain berniat mengantarnya pulang."Nggak, gue anter lo sampe rumah." Rain menolak ide Lady. Ia tidak mungkin membiarkan perempuan itu pulang sendirian malam-malam begini."Nggak usah kalau nggak ikhlas. Aku lebih baik naik taksi aja.""Lo tuh nggak tau terima kasih banget. Tinggal duduk diam apa salahnya? Masuk!" perintah Rain setelah membuka pintu mobil.Terpaksa Lady mengikuti kemauan laki-laki itu setelah tidak punya alasan lagi untuk menolak. Dengan cepat Rain beralih ke bangku pengemudi dan menyalakan mesin. Dalam diam, Lady mencuri pandang ke arah Rain. Lelaki itu gagah, juga terlihat angkuh di saat bersamaan. Hidungnya yang tinggi semakin menambah kesan arogan apalagi jika dilihat dari samping begini."Lo kenapa ngeliat gue kayak gitu?"

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Curiga

    “Rain, kamu kan nggak lagi ngapa-ngapain. Jemput aku nanti siang di bandara. Aku sama Zee balik duluan. Mami sama Papi masih di Sydney.”Rain menghela napas setelah membaca pesan singkat dari Sydney. Sudah seminggu ini Sydney dan keluarganya berlibur ke Sydney. Sesuai dengan namanya, perempuan itu memang lahir di Sydney saat dulu orang tuanya bermukim di sana."Oke, Han, nanti aku jemput kamu." Rain membalas pesan tersebut.Meletakkan ponsel, Rain cepat-cepat mandi. Selama tidak ada kegiatan, hidupnya memang tidak teratur. Tidak ada yang dilakukannya selain tidur-tiduran, ngerokok, minum dan main ponsel.***Wajah cemberut Sydney adalah hal pertama yang dilihat Rain ketika ia sampai di bandara."Kangen banget sama kamu, hidup aku sepi nggak ada kamu," bisik Rain di telinga Sydney ketika ia memeluk erat perempuan itu."Bohong," tuding Sydney mengurai pelukan Rain dari tubuhnya."Bohong gimana?" Kerutan kecil tercipta di dahi Rain.Sydney mengambil ponsel dari dalam tas dan menunjukkan

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Let's Make Love

    “Jawab aku, Rain, ini punya siapa?”Rain bangkit dari ranjang, berjalan ke arah sofa mendekati Sydney. “Oh itu. Kemarin aku nemenin Bunda ke butik, terus Bunda mampir ke sini." Rain memamerkan senyum maut yang biasanya selalu berhasil membuat Sydney luluh."Tumben banget Bunda kamu belanja baju. Udah gitu kamu juga mau nemenin." Sydney masih tak percaya pada alasan yang disampaikan Rain."Nggak ada yang aneh kok, Han. Kadang-kadang Bunda emang suka belanja baju. Karena aku lagi nggak ada kegiatan makanya Bunda minta aku buat nemenin. Udah ah, masa kayak gitu aja ngebahasnya sampe satu jam. Aku kangen nih. Ke sana yuk!" Rain mengedipkan sebelah mata menggoda Sydney seraya melirik ranjang."Aku juga mau ditemenin beli baju." Sydney merengek manja."Iya... nanti aku temenin tapi sekarang sayang-sayangan dulu dong, udah penuh nih," janji Rain sembari menarik pelan tangan Sydney menuju ranjang.Desahan halus mencuri keluar dari bibir Sydney kala Rain mengecup leher jenjangnya."Jangan kasi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Diam-Diam Perhatian

    Rain melangkah cepat mengejar Lady. Begitu satu langkah berada di belakang perempuan itu ia berhasil mencekal lengannya.Lady tersentak dan sontak menoleh ke belakang. "Sakit, lepasin tanganku!""Ikut gue sekarang!" Rain menyeret paksa Lady agar mengikutinya. Laki-laki itu membawa ke arah toilet. "Duh, sakit... lepasin!" Lady tidak bohong. Cekalan Rain di tangannya terlalu kuat dan membuatnya kesakitan.Rain tidak peduli. Ia menyandarkan perempuan itu di dinding lorong toilet. "Gue kan udah bilang jangan kerja di sini lagi, kenapa lo masih ngeyel?"Lady mengernyit. Tatapan mata Rain yang menusuk terasa begitu mengintimidasinya."Bukan urusanmu aku mau kerja di mana. Kok jadi kamu yang ngatur?" Lady menarik tangannya yang dicekal Rain sejak tadi."Jelas jadi urusan gue karena--""Karena apa?"Rain terdiam, kehilangan kata-kata untuk bicara."Pokoknya gue nggak mau lo kerja di sini lagi. Gue nggak suka."Lady tersenyum awkward menyaksikan lelaki di hadapannya. Tidak mengerti pada sik

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-29
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Hangover

    'Rasanya kok aneh gini?' Lady berhenti menyesap ketika minuman tersebut terasa tidak bersahabat di lidahnya."Kenapa?" tanya Rain yang terlihat santai mengepulkan asap rokok."Aku nggak suka, nggak enak. Sudah ya, aku ke belakang dulu, nanti bos marah." Lady mengangkat tubuh dari kursi dan bersiap-siap untuk pergi, namun tangan Rain lebih sigap menahannya agar tetap berada di tempat itu."Di sini dulu temenin gue.""Sorry, aku nggak bisa.""Lima menit lagi nggak bisa juga?" tatap Rain tajam.Lady melihat jam di pergelangan tangannya dengan resah. "Nggak bisa.""Lo pulangnya jam berapa?""Tiga puluh menit lagi.""Ya sudah, sana! Gue tungguin." Rain mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir seekor anak ayam."Menunggu? Kamu mau menungguku?""Iya, lo budek apa?"Ekspresi wajah Lady seketika berubah mendengar kalimat Rain yang kasar. "Justru karena aku mendengar kata-kata kamu dengan jelas makanya aku tanya lagi."Rain menghela napas sedikit keras, kesal pada Lady yang menurutnya lemot

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-29
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Seranjang Berdua, Satu Selimut Bersama

    Setelah memutuskan turun dari motor, Rain masih berpikir akan membawa Lady ke mana. Meskipun perempuan itu bilang tidak apa-apa dan baik-baik saja, tapi Rain tetap tidak tega meninggalkannya. "Kamu pulang aja, mungkin ini karena tekanan darahku agak rendah," kata Lady mengira-ngira.Rain melihat Lady sekilas kemudian merogoh saku, mengeluarkan ponsel dari sana. Ia terlihat menghubungi seseorang.Tak lama kemudian, sebuah taksi datang dan berhenti tepat di depan rumah itu."Ayo, Lad!" Rain menarik tangan Lady agar mengikutinya. "Kita mau ke mana?" "Pergi.""Tapi pergi ke mana?" Lady masih kebingungan."Lo jangan banyak tanya dulu, kalau gue bilang ikut ya ikut!"Lady akhirnya hanya bisa pasrah ketika Rain menyeretnya masuk ke dalam taksi."Hotel One Season, Pak." Rain menyebutkan tujuannya pada supir taksi."Hotel?" Lady memandang pada laki-laki di sebelahnya dengan sorot mata meminta penjelasan."Ya.""Tapi kita ngapain di sana?""Ya nginep dong, Lad, nggak mungkin juga buat shopp

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-29
  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Semua Gara-Gara Lady

    Tengah malam Sydney terbangun. Tangannya menggapai-gapai saat tidak merasakan dekapan hangat di tubuhnya. Namun ia hanya menemukan permukaan kasur yang dingin dan kosong yang membuat perempuan itu segera membuka mata."Bae...," panggilnya parau.Matanya yang tadi redup kini terbuka sempurna saat tidak menemukan Rain. "Bae!" Kali ini Sydney berseru lebih keras agar suaranya bisa didengar. Namun sama saja. Tetap tidak ada sahutan. Mungkin Rain sedang di kamar mandi, pikirnya.Sydney menunggu beberapa saat. Namun ketika selang beberapa menit kemudian Rain masih belum menampakkan diri, Sydney mulai khawatir.Perempuan itu turun dari ranjang, lalu berjalan mengitari kamar yang berakhir dengan kamar mandi."Bae, kamu ada di dalam?" Sydney memutar knop pintu kamar mandi. Ia hanya mendapati ruang kosong."Bae? Kamu ke mana?" Sydney semakin khawatir ketika ia tidak menemukan Rain tidak hanya di kamar namun juga di ruangan lain di apartemen itu.Bergegas diambilnya ponsel dan menghubungi sang

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-30

Bab terbaru

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Tentang Seseorang Yang Ingin Mempertahankan Haknya

    “Tante Kanayya! Tunggu dulu, Tante!” Sydney bangkit dari tempat duduknya dan berlari mengejar Kanayya yang menjauh.Kanayya terkejut ketika tiba-tiba Sydney mencekal lengannya yang membuatnya harus menoleh pada perempuan itu. “Ada apa lagi, Sydney?”“Tante nggak bisa pergi gitu aja dong. Saya kan belum selesai bicara sama Tante.””Tangan kamu tolong,” ujar Kanayya sembari melirik lengannya yang dicekal Sydney.Sydney melepaskan tangan Kanayya dari cengkramannya. Ia tidak sadar bahwa tindakannya ini semakin memperburuk penilaian Kanayya padanya.“Tante, saya belum selesai bicara sama Tante, Tante nggak bisa pergi gitu aja.””Apa lagi yang mau dibicarakan? Semua kan sudah jelas.”“Jelas buat Tante, tapi tidak untuk saya. Saya nggak terima dengan keputusan Tante yang semena-mena.”Kanayya melongo melihat Sydney yang mengomelinya. Tingkah perempuan itu sungguh di luar prediksi. Kalau Sydney pikir tindakannya ini membuat Kanayya jatuh simpati, maka ia salah besar. Kanayya justru tidak resp

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Pertengkaran Di Toilet

    Lady sedang membersihkan toilet setelah membuang sampah begitu memisahkan menurut jenisnya. Dengan lincah tangan perempuan itu menggerakkan pel ke sana kemari. Toilet ini adalah bagiannya. Karena letaknya yang strategis maka toilet tersebut menjadi toilet yang paling sering digunakan di antara toilet lainnya di rumah sakit tersebut.Aroma parfum mahal perempuan yang terhirup oleh hidungnya membuat Lady harus mengangkat kepala dan beralih sesaat dari pel di tangannya untuk kemudian memandang ke arah pintu masuk.Seorang perempuan cantik dan tinggi semampai melenggang masuk ke dalam toilet. Lady mengenalnya sebagai Sydney. Perempuan yang dekat dengan Rain. Dia kekasihnya kalau menurut yang Lady dengar. Perempuan itu juga yang marah-marah gara-gara cocktail-nya tumpah malam itu.Sydney yang baru masuk melintas di depan Lady dan menginjak bagian lantai yang baru dipel sebelum kemudian masuk ke dalam bilik toilet.Lady menahan napas, mencoba untuk bersabar meski ia harus mengulang lagi pek

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Meminta Klarifikasi

    Membuka pintu kamar dengan gerakan kasar, Rain memandang nyalang pada Lady yang kini berdiri tegak di hadapannya. “Selain ngeganggu gue keahlian lo apa lagi sih?”Tuh kan, ternyata benar dugaan Lady. Rain pasti akan menceramahinya. “Aku nggak mau mengganggu kamu. Bunda kamu yang memintaku untuk memanggil kamu,” kata Lady membela diri.”Udah salah masih ngeyel, dasar parasit.”Lady tidak mendengar ucapan terakhir Rain karena keburu pergi dari hadapan laki-laki itu.“Rain udah bangun, Dy?” tanya Kanayya saat melihat Lady muncul sendiri tanpa anak lelaki kesayangannya.“Udah, Dok.”Tak lama berselang Rain muncul ke ruang makan, bergabung bersama mereka. Lelaki itu belum mandi dan membawa muka bantalnya.“Pagi, Nda,” sapa Rain pada Kanayya lantas menarik salah satu kursi dan memosisikan diri di sana.“Pagi, kamu baru bangun?”“Iya nih, Nda, aku baru pulang jam tiga lewat jadi masih ngantuk banget.” Rain menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangan.“Nanti setelah makan kamu bisa ti

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Solusi Yang Ditawarkan Rain

    Lady meremas-remas jarinya yang saling bertautan di balik tas yang ia letakkan di atas paha. Kalau ia mau, ia bisa saja membalas perkataan kasar yang dilontarkan tanpa dasar padanya. Namun ia lantas teringat pada ucapan bijak dari salah seorang tokoh ternama. Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu. Dan Rain adalah orang yang membencinya, yang jelas-jelas tidak akan pernah memercayainya sampai mulutnya berbuih sekalipun untuk menjelaskan.Diamnya Lady membuat Rain jadi berpikir bahwa perempuan itu mengakui dan membenarkan semua tuduhan Rain padanya. Yang membuat laki-laki itu menjadi semakin geram.“Bener kan yang gue bilang? Lo emang nggak bener. Kalau lo cewek baik-baik nggak mungkin pergi sembarangan sama cowok, apalagi malam-malam begini.”Lady masih tidak mengerti cowok mana yang dimaksudkan lelaki di sebelahnya ini. Ia tidak tahu jika tadi Rain mengikutinya saat Farrel mengantar k

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Tampar Pakai Bibir

    Kanayya sendiri yang membukakan pintu kala Rain tiba di rumah tepat pukul dua belas malam. Tadi Rain menemani Sydney dulu hingga perempuan itu tertidur. Jika tidak begitu, Sydney tidak akan mengizinkan Rain pulang.“Kenapa Bunda belum tidur?” tanya Rain sambil merangkul punggung Kanayya memasuki rumah.“Bunda menunggu kamu, Rain. Udah selesai urusannya?”“Udah, Nda.””Tadi kamu jadi nganterin Lady ke tempat kerjanya?”“Jadi.””Nggak dijemput sekalian?” Kanayya memandang ke arah Rain yang berjalan di sebelahnya.Rain melihat arloji. “Masih jam dua belas, paling jam kerjanya belum selesai.”“Kalau begitu, nanti kalau sudah selesai kamu jemput ya. Kasihan dia, motornya kan tinggal di sini.”“Ya ampun, Nda, kok aku lagi yang jemput?”“Ya mesti kamu dong, Rain. Kasihan kan dia, masa gajinya habis untuk bayar taksi.”‘Ah, Bunda selalu saja punya alasan,’ bisik Rain di dalam hati yang membuat Rain lagi-lagi tidak bisa untuk menolak.“Nda, bisa nggak Bunda minta ke dia biar nggak kerja di san

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Jujur

    Rain tiba di rumah Sydney setelah memutuskan untuk tetap ke sana meskipun perempuan itu melarangnya. “Sydney ada, Zee?” tanya Rain pada Zee yang membukakan pintu untuknya.“Ada, di kamar, udah ganti baju lagi. Dari tadi tuh anak nggak berhenti ngomel,” kata adik perempuan Sydney itu memberitahu.Rain tersenyum kecut. “Bisa panggilin nggak, Zee? Aku mau ngomong sama dia.”“Bentar, aku panggilin dulu.” Zee menyuruh Rain duduk dan meninggalkannya di ruang tamu sendiri.“Ney, ada Rain di depan, katanya jadi pergi dinner nggak?” seru Zee dari depan pintu kamar Sydney yang terkunci.“Nggak usah, suruh dia pulang aja!” sahut Sydney dari dalam.“Beneran nih suruh pulang aja?” “Iya!”Beranjak dari depan kamar Sydney, Zee kembali ke ruang tamu menemui Rain.“Gimana, Zee?” kejar lelaki itu tidak sabar.“Dia nggak mau, katanya pulang aja, Rain.”Rain tampak kecewa mendengar jawaban Zee. Sudah jauh-jauh ke sini membuang waktu dan tenaganya tapi berakhir sia-sia. Semua ini salahnya juga sih. Cob

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Bad Day

    Kalau ada orang paling rese', selalu membuat repot dan menyusahkan orang lain, maka Lady adalah orangnya. Setidaknya itu menurut Rain. “Kasihan dia pakai motor hujan-hujan begini, Rain, kamu antar sebentar ya…” Kalimat penuh permintaan yang disampaikan Kanayya membuat Rain tidak memiliki alasan apa-apa lagi untuk menolak.Dan saat ini perempuan itu duduk seperti anak kucing yang kedinginan di sebelahnya. Lady menyilangkan tangan, memeluk dirinya sendiri. Lebih dari lima menit yang lalu ia tidak bersuara sepatah kata pun. Hingga kemudian celetukan perempuan itu membuat Rain harus menoleh padanya.“Rain, sorry, bisa anterin aku ke rumah dulu? Baju kerjaku ketinggalan, aku nggak mungkin pake baju ini.” Lady juga baru menyadari hal tersebut. Bahkan hingga sekarang ia masih memakai baju Alana tadi.“Apa lo bilang? Mau ke rumah lo dulu? Lo pikir gue sopir yang bisa ngenterin lo ke mana-mana? Lagian udah gue bilang dari dulu jangan kerja di sana lagi, tapi lo masih nggak mau dengerin gue. A

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Belajar Menjadi Istri

    Selama beberapa saat Rain hanya bisa termangu memandang ponsel dalam genggamannya. Ia bingung harus menjawab apa. ‘Duh, gimana nih? Nggak enak sama Bunda udah masak masakan kesukaan aku, tapi ntar kalau nggak jadi pasti Sydney bakal ngambek,’ pikir Rain.Kalau Bunda yang merajuk masih bisa diatasi. Tapi kalau Sydney? Jari-jari Rain kemudian bergerak membalas pesan dari perempuan itu.“Jadi dong, Han. Dandan yang cantik ya, nanti aku jemput kamu.”Balasan dari Sydney datang beberapa detik setelahnya. “As you wish, Bae. Love you.”“Love you more, Han…”***Di ruang belakang, Lady, Kanayya serta Bi Titi sedang masak bersama. Lady terlihat tidak canggung saat memegang benda-benda dapur karena sudah biasa melakukannya.“Dy, kamu udah tahu belum makanan kesukaan Rain?” tanya Kanayya pada Lady.”Belum, Dok,” jawab Lady yang baru saja memasukkan daging ke dalam panci presto.“Rain tuh suka sama sop daging yang mau kita masak sekarang. Nggak cuma sop, apa pun olahan daging Rain pasti suka. Ta

  • Semakin Red Flag Semakin Cinta   Lady Yang Selalu Merepotkan

    "Rain, keluar dulu, temenin Lady gih," suruh Kanayya pada Rain setelah memanggilnya di kamar Alana."Ck! Kenapa harus ditemenin segala, Nda? Siapa suruh dia ke sini?" "Bunda yang suruh," jawab Kanayya tegas. Bukan apa-apa, Kanayya hanya ingin mendekatkan Lady dengan Rain."Aku capek, Nda,mau istirahat." Rain masih menolak, tidak ingin bertemu dengan perempuan itu."Rain, kamu lupa janji kamu sama Bunda?""Aku nggak lupa, aku inget kok, tapi--""Rain, jangan membantah." Kanayya seperti tahu betapa putranya itu teramat menyayanginya dan tidak akan berani menolaknya."Iya, Nda, iya..." Dengan berat hati Rain bangkit dari ranjang lalu menyeret langkah terpaksa keluar dari kamar. Lady sedang melamun sendiri saat Rain muncul di depannya. Hanya dengan mengenakan kaos rumahan serta rambut yang awut-awutan, laki-laki itu sudah sedemikian menarik."Ngapain lo hujan-hujan ke sini? Kangen sama gue?" tanya Rain ketus begitu baru saja mendudukkan diri di sofa tunggal yang berada di hadapan Lady.

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status