Aku segera melepaskan genggamannya dan tertawa dengan kaku."Ka, gurauanmu benar-benar berlebihan," sahutku sambil mengibaskan tangan."Ayo, cepat kita kejar mereka. Nanti kita ketinggalan," lanjutku sambil membalikkan badan dan mengejar Dora dan Rahul dengan langkah cepat, sebelum Joshua sempat melanjutkan perkataannya."Kalian jalan cepat sekali," seruku sambil merangkul bahu Dora dan Rahul bersamaan, sementara Joshua berjalan di belakangku."Kenapa kau disini? Sana berjalanlah bersama Joshua," bisik Dora sambil berusaha melepaskan rangkulanku.Aku tetap bertahan dan tidak melepaskan rangkulanku sampai kami tiba di restoran langganan kami.Dora segera menduduki kursi di samping Rahul sebelum aku meraihnya. Sehingga aku terpaksa harus duduk di samping Joshua, meski sebenarnya aku tidak nyaman.Ada apa denganku? Bukankah aku sangat menyukai Joshua? Mengapa ketika dia bilang merindukanku tadi, aku malah merasa terganggu. Tidak ada perasaan berbunga-bunga seperti dugaanku selama ini. Ak
Aku mengangkat kepalaku perlahan dan memberanikan diri menatap mata Joshua."Aku? Kita?" tanyaku gugup.Bagaimana ini? Otakku benar-benar kosong, aku tidak tahu harus berkata apa."Tenanglah, jangan tegang. Kau tidak harus buru-buru menjawabnya. Pikirkanlah dulu dengan tenang dan beritahu aku jawabannya kalau kau sudah siap," potong Joshua membuatku bisa bernapas sedikit lega."Baiklah, aku akan memikirkannya dulu," jawabku pelan.Aku senang mendengar Joshua juga menyukaiku, tapi kenapa tidak ada ledakan kembang api seperti yang aku lihat di film-film. Tidak ada perasaan menggebu-gebu yang membuatku melayang. Aku hanya ... senang. "Ayo, aku akan mengantarmu pulang," ucapnya sambil berdiri dan menjulurkan tangannya.Aku baru akan meraih tangan Joshua ketika telepon genggamku berbunyi."Tunggu sebentar," ucapku begitu melihat nama Dante muncul di layar teleponku."Halo.""Aku berada di sisi kanan. Masuklah ke mobil sekarang!" Aku menoleh ke sisi kananku dan melihat mobil Dante berhenti
Aku tiba di kampus setelah berlari di bawah gerimis dari halte bus, sambil menutupi kepalaku dengan jaket. Aku mematung di depan taman kampus, menatap hujan yang kembali deras, sambil bertanya-tanya dalam hati.'Mengapa dia tampak begitu berbeda tadi? Yang manakah Dante yang asli? Yang tadi atau yang selalu muncul di hadapanku?' Aku menghela napas dalam, menyadari kalau aku sama sekali tidak mengenal pria itu. Dante benar-benar orang asing bagiku."Hei, kau datang pagi sekali. Apa kau ada kelas tambahan?" Rahul tiba-tiba muncul sambil menepuk bahuku."Tidak, aku hanya ingin datang lebih pagi saja," jawabku terus menatap hujan."Apa yang kau lihat?""Hujan," jawabku singkat."Kenapa menatap hujan? Apa kau sedang ada masalah? Atau kau sedang bosan?" tanyanya lagi.Aku menggelengkan kepala, lalu menoleh ke arahnya sambil menjawab singkat."Ingin saja.""Benar-benar aneh!" gumamnya tapi ikut menatap hujan bersamaku."Bagaimana kemarin? Apa Joshua mengantarmu dengan selamat?" "Dia tidak
"Terima ... kasih," jawabku bingung.Ada apa ini? Kenapa dia tiba-tiba perhatian. Aku membuka plastik yang dia berikan, di dalamnya ada roti lapis, air minum dan beberapa batang coklat mahal.Aku segera membuka bungkus roti lapis itu dan menyantapnya. Dante sudah membelikannya jadi sebaiknya aku memakannya, lagipula sayang membuang-buang makanan."Kita akan naik kereta cepat ke sana, untuk menghemat waktu. Kita bisa tiba disana 3 jam lebih cepat daripada membawa mobil." "Baik," jawabku setelah menelan rotiku.Aku menghabiskan semua yang dibelikan yang dibelikan Dante tepat sebelum kami tiba di stasiun kereta cepat.Dante membeli tiket sementara aku menunggu di dekat pintu masuk sambil mengamatinya dari jauh. Beberapa wanita menatap Dante dengan tatapan kagum, terpesona bahkan sebagian lagi terang-terangan menatapnya dengan tatapan penuh birahi. 'Akhir-akhir ini makin banyak wanita yang tidak punya harga diri,' makiku menatap para wanita itu dengan kesal.Dante sedang berjalan mengham
Aku menatap Dante dengan marah. Apa maksudnya?"Itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak mengatur perasaanku!" bentakku marah."Ya, kau benar. Aku tidak berhak mengatur perasaanmu. Hanya saja kau harus ingat satu syarat penting dari perjanjian kita yang tidak akan pernah aku ubah. Kau tidak boleh jatuh cinta kepadaku!" tegasnya tanpa menatapku."Jadi kau pikir aku jatuh cinta kepadamu? Karena aku ingin melindungimu saat kau mengalami serangan panik? Kau benar-benar besar kepala! Aku melakukannya demi kemanusiaan! Dari awal sudah aku katakan, aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada pria sepertimu! Jadi jangan melewati batas dan mengatur dengan siapa aku harus berhubungan!" semburku ... berbohong.Dante tidak menjawab dan langsung menghidupkan mobil lalu mengendarainya keluar dari stasiun kereta cepat.Aku menatap keluar jendela dengan hati perih. Pria ini benar-benar membuat batasan yang sangat jelas dan terus membuatku sadar kalau dia tidak menginginkanku.Sebuah pesan masuk ke teleponku.
"Aku akan mengantar Dora dulu, karena rumahnya lebih dekat dari sini," ujar Rahul sambil menyalakan mesin mobil."Tumben, biasanya biarpun harus memutar kau pasti akan mengantarkan Dora belakangan," godaku sambil masuk ke dalam mobil."Akhirnya! Aku bisa duduk di kursi belakang!" seru Dora setelah menutup pintu mobil."Jangan sedih Dora, ini hanya untuk sekarang, karena hari ini aku terlalu lelah untuk memutar," goda Rahul membuat aku tertawa."Aku senang bukan sedih! Aku malah berharap baiknya begini saja terus!" balas Dora dengan wajah kesal.Aku kembali tertawa dan terus tertawa dalam perjalanan menuju ke rumah Dora. Rahul terus menggoda Dora yang terlihat kesal tapi aku yakin menyukai gombalan dan rayuan Rahul."Tunggu sebentar aku akan mengantar Dora masuk," ucap Rahul sambil melepaskan sabuk pengaman."Tidak usah! Kenapa kau harus selalu mengantarku ke depan pintu?" gerutu Dora."Nenekmu harus tahu siapa yang mengantarmu agar dia tidak khawatir," jawab Rahul segera keluar dari mo
Dante segera mengalihkan pandangannya dan berjalan ke meja kasir."Sepertinya dia mengenalimu," bisik Rahul dengan mata membesar."Bagaimana dia bisa mengenaliku?" tanyaku gugup.Rahul memiliki pengamatan yang sangat tajam, aku khawatir dia akan mengetahui hubunganku dengan Dante."Apa kau lupa kalau waktu itu dia menegurmu karena terus berbincang dengan Joshua. Dari matanya aku yakin dia mengenalimu, tapi kabar buruknya sepertinya dia tidak menyukaimu.""Apa maksudmu?""Cara dia memandangmu tampak seperti orang yang terkejut dan kesal!"Aku menghela napas dalam."Rahul, aku sarankan kau bekerja sebagai jaksa setelah tamat nanti. Karena kau sangat lihai mendeteksi orang lain," sahutku mencoba mengalihkan pembicaraan kami."Tunggu sebentar aku akan menyapanya.""Jangan! Apa yang kau lakukan? Untuk apa menyapanya?" sahutku sambil menahan tangan Rahul."Tenang sajalah, aku juga ingin dikenali olehnya. Aku akan mencoba mengajaknya bergabung dengan kita. Siapa tahu dia berubah pikiran dan t
Kami berlari hingga benar-benar kelelahan. "Apa ... yang ... kau ... lakukan?" tanya Dante terbata-bata karena kelelahan."Aku ... mencoba ... metode ... baru," jawabku dengan napas memburu.Dante duduk di jalan dan mengatur napasnya, aku ikut duduk di sampingnya dan mencoba untuk bertahan, meski rasanya hampir mati.Aku bukan gadis yang suka berolahraga. Jadi, berlari jauh dengan kecepatan yang tidak main-main, pasti membuat jantungku hampir berhenti."Metode baru apa yang kau maksud?" tanya Dante setelah napasnya mulai teratur."Metode mencegah serangan panik. Kalau tadi kita tidak berlari, mungkin kau sudah mengalami serangan panik. Dan sepertinya metode barunya berhasil, berlari membuatmu lupa untuk panik," jawabku masih sedikit terengah-engah.Dante menatapku dengan takjub."Kau benar, aku tidak panik karena kelelahan berlari. Dari mana kau mengatahui metode ini?""Rahul, kakaknya juga mengalami serangan panik.""Apa dia tahu kalau aku-""Tidak! Tentu saja aku tidak memberitahu k
"Berhenti!"Aku mengangkat wajahku dan melihat Dante berdiri di pintu masuk. Dia langsung berjalan ke arah kami dan berdiri di antara aku dan Cherry."Berani-beraninya kau mengangkat tanganmu di hadapan istriku! Pergi dari sini sekarang juga!""Aku tidak akan pergi, sebelum kau menghentikan tuntutan kepada salonku!" bantah Cherry dengan marah."Hanya karena aku lupa memberitahu perubahan kostum pesta ulang tahunku, kalian berdua langsung melakukan hal sekeji itu! Aku akan memberitahu ayahku dan kakek!" rengek Cherry sambil menghentakkan kakinya.Dante hanya melipat tangan di depan dadanya sambil menatap Cherry dengan dingin."Kau pikir aku main-main?" teriak Cherry lalu segera mengambil teleponnya dan menghubungi ayahnya.Aku berbisik kepada Dante."Apa yang terjadi?""Tunggu saja, nanti juga kau akan tahu," jawab Dante juga berbisik."Ayahku akan segera datang! Kalian berdua akan berakhir kalau ayahku tiba. Sekarang perintahkan anak buahmu untuk menghentikan tuntutannya, Dante!" teri
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanyaku dengan suara bergetar. Dante mengangguk sambil tersenyum manis.Aku menatapnya tidak percaya, lalu mataku mulai berkaca-kaca. Aku benar-benar cengeng."Hei, kenapa menangis? Bukankah sekarang kau seharusnya bahagia?""Aku rasa ini adalah airmata bahagia."Dante kembali tersenyum lalu meraih tubuhku dan mendekapku dengan erat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasakan kebahagiaan yang tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Melebihi mendapatkan kemenangan dalam kompetisi atau juara di kelas. Melebihi hadiah yang kudapatkan atau pujian yang diberikan kepadaku. Aku membalas dekapan Dante dengan tidak kalah erat. Rasanya aku tidak ingin melepaskannya, takut ini hanya mimpi."Aku sangat ingin menciummu seperti saat kita berciuman di kamar waktu itu. Tapi rasanya kurang pantas melakukannya disini," bisik Dante membuatku tersipu malu, lalu kubenamkan wajahku ke pundak Dante.Perlahan Dante melepaskan dekapannya, lalu menatap wajahku dengan lembut.
"Bukan ... Bukan seperti itu," sahut Dante sambil menahan tawa."Kenapa kau menertawakan aku? Apa aku tampak menggelikan bagimu?" tanyaku kesal."Ruby, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud menertawakanmu.""Lalu?" tanyaku cemberut. Dia harusnya tidak meremehkanku hanya karena tidak memiliki perasaan yang sama denganku."Sepertinya aku harus mengulangi kata-kataku, aku tidak menganggapmu gadis bodoh yang miskin. Tapi sepertinya kau memang cukup polos," jawabnya sambil tersenyum."Berhentilah bermain-main! Kalau kau membenciku katakan saja terus terang. Aku berjanji akan benar-benar menjauhimu dan menghapusmu dari hatiku. Mulai-""Ruby, sudah aku katakan dengarkan aku dulu," potong Dante lalu meraih tanganku perlahan.Apa yang dia lakukan? Kenapa dia memegang tanganku seperti ini? Sial! Jantungku berdetak sangat cepat, aku bisa mati karena perasaan ini.Aku segera menarik tanganku sebelum aku tidak bisa mengendalikan diri."Apa yang kau lakukan?" tanyaku ketus, berusaha men
"Apa maksudmu?" tanyaku langsung bangun dan menatapnya dengan marah."Akhirnya kau bangun juga. Maafkan-""Apa maksudmu?" potongku tidak ingin mendengar permintaan maafnya."Maksud yang mana? Penawaranku kalau boleh terus mencintaiku?" tanya Dante sambil tersenyum."Apa kau pikir lucu mempermainkan aku? Kau melarangku jatuh cinta kepadamu, tapi kau melakukan hal-hal yang membuatku tertarik kepadamu. Kau menciumku lalu mengatakan kau menyukaiku, tapi kemudian meminta kita bercerai karena aku mencintaimu," ucapku dengan suara bergetar.Dadaku tiba-tiba terasa sesak, airmata mulai menetes. Aku marah dan merasa terhina."Lalu aku bertekad untuk melupakan perasaanku demi kakek dan sekarang tanpa ada angin apapun, kau mengizinkanku mencintaimu asal memaafkan kesalahanmu? Siapa kau hingga merasa berhak mengatur perasaanku sesuka hatimu? Apa karena di hadapanmu aku ini gadis polos bodoh yang miskin? Sehingga kau bisa memerintahkan aku harus merasa seperti apa?" bentakku tidak tahan lagi.Meng
Beberapa orang mulai berbisik-bisik dan sebagian lagi menahan tawa. Aku menyapu seluruh ruangan dengan mataku. Semua orang berpakaian resmi, jas dan gaun mewah. Bahkan Cherry mengenakan gaun seorang putri. Aku satu-satunya yang mengenakan piyama dengan rambut terkepang dua."Apakah istri sepupumu akan menampilkan sesuatu?""Apa dia badut?" "Dia benar-benar gila, kenapa dia memakai piyama ke pesta?""Sepertinya dia berencana mempermalukan Cherry. Dasar jahat!"Aku bisa mendengar orang-orang mulai membicarakanku. Seharusnya sekarang aku berbalik dan pulang ke rumah sambil menangis. Tapi entah kenapa tubuhku hanya diam disana, menatap semua orang yang sedang menertawaiku.Otakku masih kesulitan memproses keadaan yang sedang terjadi ini. Aku masih tidak percaya kalau aku dipermainkan dan dipermalukan seperti ini.Tiba-tiba seseorang menarik tanganku."Ayo, pulang!" tegasnya sambil menyeretku keluar."Dante," gumamku pelan.Dante menghempaskan tanganku begitu kami keluar dari Ballroom."A
"Apa?" tanya Dante terkejut."Aku tidak mau bercerai darimu. Aku memutuskan untuk tetap berada dalam pernikahan ini dan melupakan perasaanku. Aku berjanji mulai hari ini, akan berhenti mencintaimu. Jadi kau tidak perlu khawatir."Dante tampak syok mendengar perkataanku. Dia hanya menatapku tanpa berkata apa-apa."Bagaimana apakah kau setuju melanjutkan pernikahan ini?" tanyaku sambil menatap Dante dengan berani."Baiklah. Selama kau bisa mengatur perasaanmu, maka tidak masalah buatku," jawab Dante tenang.Aku mengangguk dengan hati pilu. Entah apa yang membuatku merasa iba kepada pria tua itu, hingga mau memendam rasa cintaku. Pernikahan ini tidak akan sama lagi dengan sebelumnya. Kali ini rasanya pasti lebih menyiksa."Tapi, kenapa? Kenapa kau tidak mau bercerai?" tanya Dante tiba-tiba."Demi kakek," jawabku jujur. Meski kakek memintaku merahasiakan keadaannya, tapi aku tidak punya alasan untuk berbohong. Dante sudah tahu statusnya yang sebenarnya, jadi sekalian saja aku mengatakan
"Ha? Aku?" tanyaku bingung.Kenapa dia tiba-tiba muncul dan mengajakku masuk ke mobilnya? Apa yang perlu kami bicarakan hingga dia menemuiku seperti ini?"Ya, kau! Cepat masuk!" jawab Dante terburu-buru.Aku tersadar, dia pasti ingin membicarakan tentang perceraian kami. Aku langsung menggangguk dan masuk ke dalam mobilnya.Dante melajukan mobilnya, tapi tidak berkata apapun."Apa yang akan kita bicarakan?" tanyaku tidak nyaman dengan suasana sunyi ini."Kita akan tiba sebentar lagi. Mari bicara disana saja," jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan.Aku tidak menanggapi, lalu suasana kembali hening. Jalanan yang kami lewati tampak akrab. Aku mengenali jalan ini, karena ini adalah jalan menuju ... rumah kakek."Apa kita akan ke rumah kakek?" tanyaku panik."Ya," jawab Dante singkat."Untuk apa kesana? Bukankah kita akan bercerai?""Kakek ingin menemuimu. Kita bicara setelah kau menemui kakek," ucapnya santai, seakan-akan ini bukan masalah besar."Apa maksudmu kakek ingin bic
"Ini Dante, dia sudah pernah mengajar di kelas khusus, kau pasti sudah mengenalnya. Yang satu lagi Felix, dia akan mulai mengajar kelas khusus, bergantian dengan Tuan Dante. Dia adalah seorang jaksa," jelas dekan berapi-api.Aku mengangguk sopan."Dante, Felix. Ini Ruby, dia adalah mahasiswa beprestasi, dan sangat cerdas. Karena kecerdasannya itu, dia mendapatkan beasiswa penuh. Dia belum pernah membayar apapun sejak masuk ke kampus kita. Kalian berdua juga sangat pintar, tapi kalian harus tahu kalau kalian kuliah bersamanya, kalian pasti tidak ada apa-apanya," puji dekan sambil tertawa, membuatku merasa tidak nyaman."Tapi kita semua juga tahu, nilai kuliah sama sekali bukan patokan kesuksesan seseorang. Karena bisa saja gadis secerdas ini pada akhirnya akan berakhir tanpa karir apapun," sahut Dante tiba-tiba.Suasana menjadi canggung karena komentar kejamnya itu."Kau ada benarnya. Kalau begitu ingat Ruby! Bila kau ingin menikah, carilah pria yang akan mendukung masa depanmu dan men
Setelah keluar dari rumah sakit, Dora memaksaku untuk tinggal di rumahnya."Aku masih punya cukup uang untuk menyewa tempat. Dante memberikan uang sebagai bayaran menjadi istrinya beberapa bulan ini," tolakku saat itu, tapi dia memaksa."Kau pikir pengeluaranmu hanya sewa tempat? Bagaimana dengan uang makan? Transportasi? Belum lagi kalau kau membutuhkan uang untuk perlengkapan kuliah. Lalu bagaimana kalau kau sakit? Kau bahkan tidak memiliki asuransi," paksa Dora membuatku menyerah. Dia benar, setidaknya aku harus punya pemasukkan untuk tinggal sendirian."Baiklah, tapi aku akan tinggal di rumahmu hanya selama aku belum mendapatkan pekerjaan. Setelah aku mendapat pekerjaan, aku akan menyewa tempat," jawabku yang langsung disetujui oleh Dora.***"Nona Ruby, tumben anda makan sedikit. Seingat saya anda sangat suka makan," komentar pembantu Dora yang sudah tinggal di rumah itu sejak Dora kecil."Aku sedang diet," dalihku, dia hanya tersenyum lalu masuk."Ayo kita ke kampus sekarang. K