"Sialannn!" Maretus mengeluarkan pedangnya dan berlari menuju ke dalam kamar.
"Bangsat!" Dia sangat kesal sekali karena tidak ditemukannya Wull di mana pun dan langsung merusak kamarnya.
"Tunggu dulu, kau sudah mengecek kamar milik Anita?" ujar Februtus yang sudah mengetahui hubungan mereka berdua.
"Nahh benar juga!" Maretus langsung berjalan menuju kamar Anita yang letaknya berada di gedung sebelah.
Di perjalanan, ada banyak pasukan yang diajaknya agar bisa menghambat Wull kalau dia berusaha melarikan diri.
..
Wull sedang panas-panasnya dengan Anita, suara mereka memenuhi ruangan yang cukup luas itu.
Bruakkk... Pintu kamar Anita tiba-tiba saja ada yang mendobrak, muncul Maretus dan beberapa prajurit dan langsung masuk ke dalam kamar. Wull sangat kesal sekali, dia belum sempat menyelesaikan hajatnya malah ada yang masuk ke kamar seenaknya. Wull langsun
Pulau pribadiErin tertidur di dalam pelukanku dengan keadaan telanjang bulat, di sampingku ada Violet, Lia dan Selen yang juga tertidur."Sayang." Nay dan Noe bersamaan muncul di samping tempat tidur."Hahaha kentang!?" Noe melihatku yang sedang tersiksa oleh nafsu yang belum terlampiaskan semua dan dia malah tertawa."Sini lah Oee," panggilku kepada Noe."Oa Oe, baru kembali ingatannya sudah ngeselin!" Noe membuat sihir angin untuk memindahkan Erin yang ada di atasku ke samping Violet."Terima kasih," ucapku sambil tersenyum dan langsung berdiri, Nay langsung memelukku dan duduk di satu pahaku."Nay Nay Nayy, cantik banget sih." Aku cubit pelan pipinya dan aku ciumi bibirnya."Nay saja?" Noe ikut duduk di pahaku yang lainnya."Memangnya kalau Nay cantik, terus kamu jelek gitu!?" Aku genggam pipi
Aku berdiri sambil membuka auraku untuk membuat mereka bersemangat dan juga mengintimidasi. Walau hanya sebagian kecil yang aku buka, tapi tekanan yang keluar sangat besar sekali. Mereka semua diam tak bergeming karena menghormati dan juga menungguku angkat bicara."Selamat datang kembali tuanku." Demon tanpa nama muncul di depanku dan langsung berlutut."Ohh kau roh yang waktu itu?" tanyaku kepadanya."Iya tuanku, maaf tidak bisa menjalankan tugas saya dengan baik," ucapnya dengan masih menundukkan kepala."Jadi, apa keinginanmu?""Ijinkan saya melayani tuan Al sampai tuan asli saya mendapatkan kekuatannya kembali!""Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku dan tuanmu yang asli berselisih?""Saya tidak akan memihak kepada siapapun, saya sendiri yang akan menjadi pihak ketiga. Saya akan ikut berselisih jika tidak mampu meredam
Gua Cryostar Ada lorong besar yang digunakan untuk membuat berbagai jenis senjata dan juga alat-alat dari logam. Jade mempunyai ruangan sendiri untuk membuat senjata khusus, lokasinya di lubang dinding dan berada lebih tinggi dari lorong utamanya. Di ruangan itu ada Jade dan Wull yang terlihat sedang sibuk sekali. Jade sedang memodifikasi prototipe senjata api yang telah dibuat oleh Wull, sedangkan Wull masih membuat senjata dengan sihir Alkimia miliknya. Jade membongkar ulang dan mempelajari bagian-bagian dari senjata sniper itu. Dia ingin segera menguasainya agar bisa diajarkan kepada anak buahnya. "Jadi kau beneran Raja Dwarf?" Wull membuka pembicaraan disela-sela fokusnya melakukan pekerjaan. "Memangnya siapa lagi!?" jawab jade sedikit kesal dan masih tetap mengerjakan tugasnya. "Kenapa bisa patuh kepada pria itu?" ucap Wull dengan entengnya. "Maksudmu Al!?" Jade me
"Jade bilang sudah selesai membuat senjata apinya, kalian harus mengawasi pasukan bukan?" tanyaku kepada mereka yang sedang tiduran di sekitarku. Nay dan Lia di sisi kananku, Violet dan Selen di sisi kiriku, mereka bantalan menggunakan lenganku. Nia dan Noa berada tidur menghadap berkebalikan denganku, kepala mereka di sisi kanan dan kiri kepalaku sambil melihat ke arahku. Erin dan Noe melebarkan kakiku dan bantalan di paha dalamku, mereka terkadang memainkan pusaka milikku yang sudah lemas."Baru juga ingatanmu kembali, harusnya kau memanjakan kami!" Noe menggenggam pusakaku namun tidak sampai membuatnya sakit."Kalian selama 5 hari ini tidak membiarkan aku keluar kamar!" jawabku dengan teriakan."Darling! Tidak usah pakai teriak juga bisa kan!?" ucap Nia dengan geram sambil merapatkan giginya."Hahaha." Noa malah tertawa lepas."Maaf sayangku." Aku menengok ke arah Nia dan menc
Penginapan yang letaknya tidak jauh dari tempat pelatihan, mungkin lebih tepat disebut dengan hotel. Fasilitas yang mewah dan ada juga kolam renang yang menghadap ke pantai. Di sampingnya juga ada muara sungai dengan air yang cukup tenang dan jernih. Berjejer gedung-gedung yang digunakan sebagai penginapan dan juga tempat perdagangan. Untuk sekarang, ada sekitar 10 gedung yang digunakan sebagai penginapan para pasukan Danirmala."Kenapa datang ke sini?" Jade mendatangiku yang sedang memandangi para pasukan Danirmala. Aku yang berada di lantai 10 dan juga para pasukan di ujung teluk jadi mempermudah mengamatinya."Kau bertanya seperti itu kepada Raja yang sedang mengawasi pasukannya!?" bentakku kepada Jade."Kalau Raja pada umumnya aku tidak akan bertanya, tapi ini dirimu, seorang Al," jawabnya."Hahaha capek aku, tolong pijat tubuhku," pintaku pada Jade."Punya wanita banyak kok malah minta pijat denganku," ucapnya namun tetap mengikutiku yang seda
Beberapa kilometer dari lokasi bekas perang, ada ribuan tenda yang digunakan untuk berkemah para pasukan Borlal. Di perkemahan itu sudah ada lebih dari seratus ribu prajurit yang dipimpin oleh 3 pahlawan. Mereka adalah Amura sang pahlawan tombak, Yusagi sang pahlawan perisai dan Kawa sang pahlawan busur dan panah."Tuan, pasukan pengintai telah kembali," ujar salah satu prajurit kepada Amura sang pahlawan tombak yang berada di dalam tenda besar."Suruh mereka masuk!" Amura membereskan buku dan surat yang ia baca di atas mejanya."Baik tuan." Prajurit itu langsung keluar dan tidak lama kemudian 2 prajurit pengintai tadi masuk."Bagaimana keadaan di depan sana?" Amura bertanya kepada mereka dengan masih duduk santai, sedangkan mereka belutut di depan Amura."Ada bekas peperangan di depan sana tuan. Namun,.." Prajurit itu ragu untuk melanjutkan bicaranya."Pepoh
Keesokan harinya, seluruh pasukan sudah berkumpul di pinggir kota Danir untuk menyambut tamu dari benua sebrang. Kami tidak membawa perjamuan sama sekali karena merekalah perjamuan itu. Perjamuan yang aku maksud adalah tumbal yang akan aku gunakan untuk membuat Lia berevolusi menjadi Demon Lord seperti Ratu lainnya. Selen belum mendapat kesempatan evolusi ini karena dia berumur panjang, jadi tidak begitu aku khawatirkan.Banyaknya pasukan musuh yang aku rasakan, aku bisa menebak kelanjutannya seperti apa. Erin dan Nay pasti memaksakan aku untuk berevolusi menjadi Demon Lord karena benih Demon Lord yang kami miliki masih sisa 7 dan tumbalnya juga berlimpah. Jiwa manusia hanyalah tumbal untuk kami dan tubuh mereka tumbal untuk para demon. Kami sama sekali tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, tumbal kami hanyalah prajurit dari musuh."Woi Fenrir, kemarilah!" Aku memanggil Fenrir yang sedang memimpin semua pasukan serigala. Alp
"Kenapa ditembakkan di awal!? Kalau mereka langsung lenyap jadi tidak seru kan!?" Yusagi protes dengan keputusan Amura yang ingin menembakkan meriam sihir di awal peperangan."Tenang saja, tidak mungkin mereka langsung lenyap begitu saja. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana kekuatan mereka dengan cara menangkis sihir ini," ujar Amura yang sedang mengoperasikan meriam sihir itu.Swuuutt... Saat dinyalakan, energi sihir di sekitar mereka terserap dengan cepat ke arah meriam itu."Apa tidak apa-apa kah itu!?" Kawa cukup panik karena baru kali ini dia melihatnya."Hahaha tidak perlu seperti pengecut, hanya segitu saja kau sudah takut!?" Yusagi menyindir temannya yang sedang ketakutan."Aku baru pertama kali lihat lah!" teriak Kawa sambil berusaha menenangkan diri secara perlahan.Energi sihir terus berkumpul dan semakin kuat hingga area di sekitarnya bergetar
Author rekap aja langsung end.Arlom akhirnya setuju membantu, namun ia hanya terima beres saja. Semua sudah diselesaikan oleh pasukan Elf dan dia hanya menggantikan tahta saja. Saat melihat-lihat para korban perbudakan, ada yang menarik perhatian kami. Seorang gadis kecil ras serigala, ia adalah senjata pembunuh yang mereka ciptakan. Anak dari kedua serigala hybrid. Instingnya sangat mengerikan, bahkan hanya didekati saja langsung melesat bagaikan petir. Bukan melesat menjauh, namun langsung menyerang tanpa pandang bulu.Akhirnya ia kami besarkan dan diberi nama Selen, ada juga ayahnya yang diberi nama Fenrir. Mereka semua kami rehabilitasi, namun Sania aku urus sendiri. Sifatnya yang masih ganas, tidak mungkin orang biasa yang menanganinya. Kalaupun para Elf, mereka tetap terpaksa menggunakan kekerasan untuk menghentikannya. Jadi lebih baik bersama kami dan ternlyata malah dekat denganku, bahkan Fenrir sebagai ayah Selen, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain. Emosinya tidak b
"Baiklah! Aku hargai kepedulianmu kepada makhluk lain, tapi kau urus sendiri mereka. Latihlah dengan benar!" Aku menyetujuinya sambil memberikan syarat."Deal!" Ignis langsung menyetujuinya dan mengulurkan jabat tangan, aku diam sejenak karena sedikit terkejut sebelum menjabat tangannya."Oi kamu yang paling besar, siapa namamu!?" Ignis meneriaki serigala terbesar yang memiliki 5 ekor, serigala itu langsung berubah wujud menjadi manusia dan berlutut di depan Ignis."Saya pemimpin kawanan ini, nama saya serigala petir ekor lima tuan," jawabnya membuat Ignis menepuk jidat."Kamu, tuanku ini ingin menjadikanmu bawahannya. Bersyukurlah dan patuhi dia!" Ignis menunjuknya sambil menepuk pundakku cukup kuat hingga membuatku terhuyung ke depan, sedangkan si serigala petir ekor lima bingung akan apa yang dikatakan Ignis."Kalian serigala petir merupakan makhluk tingkat tinggi, tapi kehidupan kalian terlalu bebas hingga lalai melatih bakat asli kalian. Aku Aldho Alfina akan membuat kalian menja
Pada lokasi kedua, kami menemukan 4 bangsawan yang telah berkumpul. Banyak sekali pasukannya yang sedang berjaga di halaman kediamannya membuat Erin san Noe harus turun tangan.Di dalam ruang utama, para bangsawan terkejut mendengar suara ledakan dari energi listik milik Erin. Semuanya langsung mendekat ke jendela dan melihat ke halaman depan. Saat mereka baru mengecek dari jendela, ada satu penjaga yang berlari hingga tersandung-sandung masuk ruangan."Tuan, tuan!""Ada apa!?" teriak salah satu bangsawan."Elf menyerang, ada vampir, juga yang ikut!" teriaknya terbata-bata karena kehabisan napas."Bagaimana bisa ada Elf di sini? Apalagi vampir." Para bangsawan tidak percaya, namun mereka berfikir ulang karena penyerangan ini."Tidak mungkin juga pasukan kerajaan, sebagian besarnya merupakan orang-orang kita," ujar bangsawan lain."Hallo semuanya!" Noe mengagetkan para bangsawan dengan muncul tiba-tiba bersama kami semua."Topeng dan jubah itu!" Salah satu bangsawan menunjuk Noe, lalu
"Mereka keluar dari pegunungan Goromo, baru saja aku rasakan dari penghalangku," ucapku kepada Noe dan Erin setelah merasakan ada yang melewati penghalangku."Mungkin mencari kita," ujar Erin cuek."Iya, paling hanya kembali ke kota Danirmala," ujar Noe, ia lalu berdiri dari singgasana, mendekati para bangsawan kerajaan Lamris...Beberapa saat yang lalu"Yang Mulia! Para pemberontak di sekitar istana telah di singkirkan. Tidak ada korban jiwa dari pasukan kami, hanya beberapa saja yang mengalami luka dan sedang proses pengobatan." Tim melapor kepada Noe dengan tubuh yang dilumuri oleh darah, keadaanya terluka ataupun sehat tidak bisa diketahui karena tertutup oleh darah.Erin mengulurkan tangannya ke depan, ia membuka telapak tangannya dan tersorot mata vampirnya yang merah menyala. Darah di sekujur tubuh Tim tiba-tiba melayang ke arah telapak tangan Erin dan berkumpul membentuk bola. Gumpalan darah itu tiba-tiba menghilang seakan diserap olehnya."Bagaimana kondisimu?" Noe bertanya
Rumah di pegunungan GoromoNay bangun dan tidak menemukan Al di sisinya, ia kemudian dikejutkan oleh sesuatu dan bergegas keluar rumah."Darah?" ujarnya, lalu melihat Noa dan Violet yang sedang berlatih bersama Ignis.Ignis berdiri di tengah padang rumput, area sekitarnya sudah menjadi seperti kawah gunung berapi. Lava panas bergerak mengikuti alunan gerakan Ignis yang menari-nari untuk menyerang dan bertahan dari serangan Noa dan Violet.Violet seakan menggunakan teleportasi, ia selalu berpindah ke area sekitar Ignis untuk melakukan serangan. Menendang dan ditangkis oleh Ignis, berpindah lagi ke sisi lain dan mengayunkan lengannya yang ada satu cakar berbentuk bilah pedang menempel sejajar dengan lengan dan jari kelingking. Serangannya terus ditangkis, namun Violet juga terus menyerang, bahkan dirinya tidak pernah menapak di tahan karena selalu berpindah dengan sangat cepat."Ignis, lepaskan penguasaan areamu!" Noa tidak bisa menyerang dengan jarak dekat, ia dari jarak jauh hanya mel
"Tidak ada yang tidak mungkin, lihatlah dia." Aku menunjuk ke arah Erin yang masih berdiri di samping Downer dan Harnes, mereka berdua masih berada di bawah tekanan Erin."Dia vampir yang membantuku pergi, dia juga yang membuat tubuhku seperti ini. Untuk kematian kakek tua itu, dia patut mendapatkan. Kelakuan bejat dan semena-menanya sungguh membuatku muak." Aku membantu paman Ronald jalan menuju singgasananya, lalu melambaikan tangan ke arah Erin. Dia mengerti dan melepaskan Downer serta Harnes dari tekanan gravitasinya."Jadi kamu beneran pangeran Aldho?" ujar Harnes sambil berjalan mendekat."Iya, tidak ada waktu buat bercerita tentangku. Sekarang jelaskan apa yang terjadi pada kerajaan Lamris!" ucapku sambil berjalan menuju tempat duduk di sisi samping singgasana."Baik pangeran." Downer dan Harnes menunduk sambil terus menurunkan pandangan karena ada Erin di sampingku."Para bangsawan mengerahkan anak buahnya dan menyewa beberapa petualang untuk melengserkan posisi Raja Lamris,"
"Memangnya tidak ada Raja Elf sebelumnya? Mungkin dialah ayahmu kalau ras Elf susah hamil dengan ras manusia." Aku sontak diam telat menyadari, lalu kemudian bangun dan duduk di samping Noe."Aku manusia, kamu Elf, lalu bagaimana?" tanyaku khawatir dan bingung, Noe mengelus pipiku, lalu menyuruhku untuk rebahan kembali."Mungkin kalau sering-sering bikin ada kemungkinan jadi," "Sudah pernah ada half Elf?" "Kalau ayahnya Elf dan ibunya manusia banyak, tapi kalau sebaliknya belum pernah ada," jawabnya membuat hatiku semakin sakit."Memangnya kenapa? Kan ada kakak-kakakku, mereka." Noe terdiam dan tidak melanjutkan bicaranya."Mereka kenapa?""Tidak apa-apa," ujarnya, walau terlihat tenang tapi jelas sekali menutupi sesuatu."Nay roh dari tanaman, Nia juga seorang peri, tubuh mereka hanya sebuah energi yang menyerupai tubuh manusia. Sedangkan Noa dulunya roh yang menempati tubuh naga sejati. Mereka bisa hamil?" Aku bertanya dengan ragu-ragu, takut akan jawaban yang sesuai dengan perkir
"Noa bagus!" seruku sambil tersenyum lebar dan mendekatkan mukanya kepadaku."Bagus kepalamu!" Nia spontan berteriak dan menamparku. Aku terjungkal ke belakang dan menatapnya bingung, ia kemudian berjalan mendekatiku."Kalau mau menenangkan orang, jangan begitu juga caranya!" teriaknya sambil menarik kerah bajuku dan menatapku dengan sinis. Aku hanya tersenyum, kemudian melepaskan tangannya dari kerah bajuku dan merangkulnya."Nia marah-marah mulu," ujarku secara halus sambil mendorongnya perlahan mendekati Noa. Aku duduk di antara mereka berdua dan merangkulnya secara bersamaan. Kepala mereka aku sandarkan di dadaku sambil aku usap perlahan rambutnya."Kenapa sih!? Ishh!" Nia menepis tanganku, sedangkan Noa masih menangis."Ei kalian diem dulu, perhatikan," ucapku secara halus sambil menatap ke arah Violet, kemudian aku buat penghalang di depan Violet."Violet, tolong serang penghalang itu dengan sekuat tenaga," ucapku sambil tersenyum."Jangan aneh-aneh!" Nia menatapku dengan geram
"Kontrak darah denganku, kau menjadi tuanku dan harus melindungi apa yang aku lindungi!" ucap Ignis dengan serius."Aku lebih lemah darimu, bukannya malah terbalik?""Kau saat ini memang lemah, tapi para Ratu di sekelilingmu tidak bisa dikatakan lemah. Belum lagi kalau kau meningkatkan kekuatan rua..""Stop!" Erin bersama Noe serempak menghentikan Ignis berbicara. "Al, akan aku jelaskan semuanya nanti," ujar Erin saat mengetahui kegelisahanku."Ok baiklah, tapi apa tugasku? Apa yang harus aku lindungi?" tanyaku lagi untuk memastikan agar lebih jelas."Menjaga benua Kalenex dan juga menjaga dunia Roh dari semua ancaman!" ucap Ignis dengan serius."Dunia Roh!?" tanyaku sambil menengok ke arah Noa."Al, lakukan kontraknya dulu, nanti aku jelaskan." Erin meyakinkanku, aku segera melihat ke arah kembar 4 dan Violet. Mereka semua mengangguk menyetujuinya, setelah itu aku segera mengulurkan jariku kepada Erin. Dengan kukunya yang tajam, ia dengan mudah menggores jariku. Setelah menggabungka