James dan Edd tidak menemukan Louis di dalam rumah, namun mereka mendengar suara musik dari arah basement. Keduanya turun dan benar, Louis sedang ada di sana sendirian bermain billiard dan minum.Musik yang dipasang Louis sangat kencang sehingga dia tidak menyadari kehadiran Edd dan James. Bahkan kedua sahabatnya itu masih menyempatkan diri mengamati permainannya.Louis tidak mengenakan alas kaki. Dan pakaiannya saja hanya kaus longgar yang dipadukan dengan celana pendek jeans. Dua sahabatnya bisa melihat wajah Louis begitu lelah dan sedih.Dan semua ini pasti karena Ruby.Edd berjalan ke arah pemutar musik dan mematikannya, barulah Louis menengok ke arah mereka. Dia menghela nafas, namun kembali bermain billiard.Tenaga yang dikerahkan Louis untuk menyodok bola putih ke arah bola kuning polos memberitahu Edd dan James jika Louis sedang kesal dan marah. Dan ketika bola itu tidak masuk ke lubang yang di sasar, Louis mengumpat kasar.Louis meletakkan stik-nya, berjalan ke arah meja lain
Louis menyadari perubahan ekspresi Edd. Edd diam sangat lama dan James mendesaknya lagi. “Kamu baik-baik saja, kan?”Edd menghela nafasnya. “Kelak, kita harus lebih sering minum seperti ini.”“Jangan bermain-main.” Louis menepis tangan Edd ketika dia hendak merangkul Louis. “Katakan, ada apa?”“Well, aku hanya ingin minum dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama kalian. Memangnya apa yang salah?”“Edd, jika kamu menyembunyikan sesuatu dari kami berdua dan hal itu fatal, jangan harap kita masih bisa bersahabat kelak,” ancam James. “Jika ada sesuatu yang perlu kami ketahui, katakan sekarang juga.”Edd tertawa, namun perlahan tawanya menguap. Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlipat-lipat. Dia meletakkanya di hadapan keduanya.“Kanker hati, stadium dua.”Tiba-tiba saja Liv merasa dunianya gelap, seisi bumi berhenti pada tempatnya dan waktu tak lagi berdetak. Apa dia salah mendengar? Kanker hati? Edd?“Jangan bercanda.” James meletakkan kembali k
Ruby segera memasukkan password pintu mereka ketika sudah tiba dan langsung mendengar celetuk ringan dari Ashley. “Suamimu tidak mengganti kata sandinya, itu artinya dia menunggumu kembali.”“Jangan bicara omong kosong.” Ruby memelototkan matanya.Keduanya berjalan mengitari rumah, namun mereka tidak menemukan siapa pun di sana. Liv setengah mengintip ke lantai atas, tapi dia merasa suasana lantai dua terlalu sepi sehingga dia mengurungkan niatnya untuk naik.“Gudang penyimpanan alkohol ada di basement. Seharusnya mereka di sana,” gumam Ruby.Ketiganya turun melalui tangga kayu yang dipernis mengkilap. Dan benar saja, ketika mereka tiba, Louis dan James sudah tergeletak. Louis terlihat tidur dengan tangan terlipat di meja dan James duduk di lantai dengan bersandar di meja.Dan mereka tidak menemukan Edd di sana.“Astaga, kenapa kalian sangat mabuk?” gerutu Ashley.Wajah Louis dan James sama-sama memerah dan mereka sama-sama tak bergerak walau Ashley sudah sibuk menggerutu pada James.
Liv mendengar suara riak air ketika dia semakin dekat dengan ruangan yang ditunjuk Ruby. Benar saja. Di sana dia melihat Edd sedang berenang sendirian. Liv mendekat ke tepi kolam renang, memilih duduk jongkok sambil menunggu Edd selesai.Namun terlalu fokus, Edd bahkan tidak menyadari kehadiran Liv. Dia berenang, bolak-balik seolah dia tak punya waktu untuk melakukannya lagi di hari yang akan datang. Gadis itu menurunkan kedua kakinya menyentuh air yang dingin.Dia terus memperhatikan Edd, menunggu dengan sabar hingga Edd menyadari jika dia ada di sana. Lima menit berlalu, Liv menghitung Edd setidaknya sudah bolak-balik sebanyak enam kali.“Apa kamu tidak lelah?” sungut Liv. Dan begitu kepala Edd muncul dari dalam air, dia begitu terkejut menyadari Liv ada di sana. Edd melepas kaca mata renangnya, membuka penutup kepala dan mengibaskan rambutnya –dan Liv begitu terpesona pada apa yang dilakukannya.“Liv?” Edd tak percaya jika gadis itu sedang duduk di sisi kolam renang.“Tidak lelah?
“Ruby bahkan sudah kembali ke rumah mereka.”Angela berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat ketika wanita itu menghubunginya lagi. Dia mengurut keningnya. Didera emosi yang membubung karena ternyata Ruby dan Louis kembali bersama, serta tuntutan wanita gila yang seharusnya tak diajak kerja sama olehnya membuat wajah Angela memerah.Sialan. Wanita ini benar-benar menyulitkanku.“Sudah ku bilang sekarang Louis masih mencurigaiku. Jika aku bertindak, maka semua mata akan tertuju padaku.”“Akui saja kalau kamu tak mampu. Aku tidak suka cara kerja seseorang yang lamban sepertimu,” seru wanita itu.“Jadi apa maumu?” tanya Angela.“Well, kalau kamu tidak mampu, akan ku tangani sendiri dia.”“Dan kamu akan menumbalkanku, bukan?”Angela mendengar tawa mengerikan dari seberang sana. Wanita itu terkekeh seolah Angela baru saja melontarkan sebuah lelucon.“Kamu sangat pintar.”Sialan. Seharusnya aku tidak mau bekerja sama denganmu. Bagaimana bisa sekarang kamu berusaha untuk menjatuhkanku? Pi
Ruby tidak dalam situasi dimana dia ingin benar-benar bicara dengan Louis. Dia tidak terlalu bersemangat melakukan apapun karena dia sangat lapar. Malah dia berpikir dia mungkin akan bicara ketika perutnya sudah terisi.Steik akan terasa enak ketika baru dipanggang. Dan Ruby berharap bisa memakannya nanti.“By.” Louis mengenggam tangannya ketika keempat orang sahabatnya semakin sibuk menyusun pemanggang. “Kalau aku minta maaf sekarang, kamu mau memaafkanku?”“Kamu sudah terlalu sering meminta maaf. Aku bahkan sudah sangat terbiasa mendengarnya,” keluh Ruby.“Ya, kamu benar.” Louis tertawa canggung. “Tapi hanya kata itu yang terlintas ketika aku melihatmu.”Ruby hanya menatap Louis sekilas, lalu berseru, “Liv, ada yang bisa ku bantu?”“Tidak!” Liv dan Ashley menyahut bersamaan. Liv tersenyum kemudian. “Duduk saja di sana dan tunggu kami selesai memanggang.”“Kamu tidak mau aku ada di sini?” tanya Louis dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan Ruby.Akhirnya gadis itu mendesah pelan.
Ashley duduk tanpa menyentuh makanan khas Jepang yang tersaji di atas meja. Dalam ruangan privat sebuah restoran Jepang, dia berhadapan dengan ibunya, Brenda tanpa bicara sepatah kata pun.Brenda sudah menghabiskan setidaknya dua piring sushi dan dia terlihat masih kelaparan. Warna lipstik merah menyalanya tak pudar, membuat penampilannya begitu menjijikkan bagi Ashley.“Kamu meminta bertemu denganku dan sekarang kamu bahkan tidak bicara.” Brenda menatap Ashley.Ashley menghela nafas. Jemari yang tersembunyi di bawah meja bertaut dengan kasar dan sesungguhnya Ashley sedikit takut. Tapi dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto bross biru yang ditemukan Edd di hutan.Diam-diam Ashley mengambil gambar untuk meyakinkan diri.“Milikmu, bukan?”Brenda menatap foto itu lalu meletakkan kembali ponsel Ashley dengan santai. “Ya. Tapi aku tidak bisa menemukannya lagi selama beberapa hari ini. Aku pikir benda itu hilang, ternyata kamu mengambilnya.”
“James, di mana Ashley?”Louis duduk di depan keduanya sesaat setelah detektif Hudson kembali. James yang sedang membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja mengangkat wajahnya.“Tadi pagi-pagi sekali dia sudah tidak ada di kamar. Dia mengirim pesan padaku kalau dia ingin bertemu teman-teman sekolahnya. Katanya urusan sekolah.”Louis menghela nafasnya. “Hentikan.” Dia bersedekap.“Apa?” James terus membereskan kertas-kertas itu.“Hentikan kegiatanmu ini dan segera cari Ashley.”“Kenapa? Dia dalam bahaya?” James mulai tegang.“Tidak. Maksudku, kita harus menjaga para gadis karena penembakan kemarin sore. Aku khawatir seseorang mungkin mengikuti salah satu dari mereka,” sahut Louis.“Ya, Lou benar.” Edd menatap James. “Cari dan temukan dia. lebih baik mereka tinggal bersama di sini dan tidak terpencar-pencar, jadi kita bisa menjaga mereka dengan maksimal.”“Kalian benar.” James langsung berdiri. “Aku akan mencarinya.”Edd diam-diam mengamati perubahan wajah Louis. Dia menggan
Pengadilan memutuskan untuk menyita semua aset milik Brenda dan mengembalikan perusahaan milik almarhum Frans pada Ashley. Perusahaan milik Frans terbukti tidak terlibat dalam usaha pencucian uang dan juga pertambangan liar yang selama ini dilakukan Brenda. Dan karena Ashley tidak memiliki kemampuan bisnis sama sekali, akhirnya untuk sementara waktu Louis dan James akan berada di belakangnya untuk mengendalikan laju perusahaan hingga Ashley benar-benar siap. Liv kembali pada kehidupannya, menyibukkan diri dengan segala kegiatannya dalam mengurus perusahaan milik keluarganya. Levin juga akhirnya memutuskan pensiun dini dari satuannya dan memilih membantu Liv untuk sama-sama mengembangkan perusahaan yang sudah didirikan oleh orang tuanya dengan susah payah. Mark kembali ke luar negeri, dengan cepat menyelesaikan sisa kontrak yang sudah dia tanda tangani sebelumnya. Sembari melakukan pekerjaannya, pria itu setiap hari dibayang-bayangi oleh ciuman tak sengaja antara dia dan Liv. Walau s
“Terimakasih banyak, kalian sudah menyiapkan kejutan ini walau kami tidak terlalu terkejut.”Louis dan Ruby berdiri dan masing-masing mereka mengangkat gelasnya. Selorohnya itu disambut tawa kecil dari sahabat-sahabatnya, tidak terkecuali Mary. Gadis kecil itu ikut tertawa dan mengangkat gelas berisi jus jeruk, mengikuti orang dewasa di sampingnya.“Sudah ku bilang dia akan protes,” gumam James pelan, namun suaranya masih terdengar oleh mereka.“Memang kami tidak terlalu terkejut,” kata Louis tak mau kalah. “Aku pikir ketika kalian mengatakan menyiapkan makan malam bersama, mejanya sudah kalian tata dan semua makanan sudah disediakan. Tapi apa? Aku dan Ruby yang belanja kebutuhan untuk memanggang malam ini dan aku juga masih ikut mengangkat meja ke luar sini,” protesnya.“Kamu hanya menggeret sebuah kursi,” sangkal Mark. “Itu pun langsung diambil alih oleh Mary.”Mary mengangguk. “Ya, Dad. Aku mengantikanmu tadi.”Louis berdecak, menatap satu-satu wajah semua orang di sana dengan pera
Matahari sore mengantarkan sinarnya yang hangat menyusup diantara celah-celah pepohonan. Suara burung riuh rendah, terdengar ramai ketika mereka kembali ke sarangnya. Bunga-bunga liar tumbuh dengan subur karena disiram hujan selama beberapa hari, namun menjelang sore, kelopak bunga berwarna biru dan ungu itu perlahan menguncup.Ruby menyapukan pandangannya ke seluruh halaman belakang rumahnya. Di sana, pada sebuah meja panjang dan kursi yang berderet, Louis, Mark, James, Ashley, dan Mary sedang sibuk menata makanan di atas meja.Dia baru saja kembali dari bulan madunya bersama Louis, dan tahu-tahu sahabatnya sudah menunggu dan menyiapkan kejutan lain untuknya, yaitu makan malam bersama. Ashley berjalan dengan langkah yang ringan, tersenyum menyapa Ruby ketika dia mengambil anggur ke dalam rumah.Suasana itu terasa amat hangat, walau seandainya Edd ada di sana, akan semakin sempurna.Liv, terlihat duduk menyendiri di teras rumah. Sepertinya dia masih enggan bergabung dengan sahabatnya
Rasanya seperti menunggu bertahun-tahun! Itulah yang dirasakan Ruby saat kendaraan mereka malah terjebak macet. Mobil-mobil mengular di sepanjang jalan, membuat mereka terjebak dan tidak bisa kembali atau mengambil jalan lain.Posisi alamat yang diberikan James adalah jalanan di pinggir jurang. Dan hanya dengan membacanya saja Ruby tahu apa yang dilakukan sahabatnya itu di sana. Dia melipat kedua tangannya, terus berdoa dan menyebut nama Liv di bibirnya.Ruby tidak mau kehilangan Liv. Tidak!Kehilangan Edd saja membuat kehidupan mereka nyaris tidak berwarna. Seolah dunia ini berhenti berputar dan benda-benda diam di tempatnya. Mereka jarang tertawa, pun kalau tertawa, mereka akan merasa bersalah pada Edd dan diri mereka sendiri. Mereka ingin menangis, tapi air mata mereka terasa sudah mengering.Ruby melihat jam tangannya lagi, lalu menggulung gaun after party-nya yang memanjang hingga ke mata kaki. Louis meliriknya, memahami betapa Ruby sangat khawatir pada Liv. Karena itu sembari me
“Ini buruk,” desis Ruby, melihat Ashley masuk kembali ke dalam ruang ballroom dalam keadaan lesu.Sejak pertama menyadari kalau Liv tak ada di sana, perasaannya sudah tidak nyaman sama sekali. Kekuatan telepati dalam diri mereka menyadarkan Ruby kalau Liv tengah menghadapi kesulitan, entah karena dia melakukannya dengan sengaja, atau seseorang mempersulitnya.Dia melirik Louis, kedua bola matanya seolah memohon agar dia bisa pergi dari sana untuk mencari Liv. Toh, acara utama sudah selesai dan ini hanya acara tambahan. Dia ingin mencari Liv sendiri, berharap dia tidak terlalu terlambat untuk melakukannya.“Tidak mungkin, Babe.” Louis menggeleng, tahu isi hati Ruby. “Kita tidak mungkin meninggalkan para tamu begitu saja.”“Kan ada Mom dan Dad,” bisik Ruby memohon. “Please, aku yakin sekali Liv tidak dalam keadaan yang baik.”“Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi bagaimana bisa kita pergi dari sini sementara kitalah tujuan para tamu ini untuk hadir?”Itu alasan yang tepat, dan Ruby tidak b
“Aku tidak melihat Liv,” bisik Ruby pada Louis di tengah-tengah moment ketika para tamu menyalami mereka.Louis berjinjit, mencoba melihat sekitarnya. Benar, dia tidak melihat Liv sama sekali. James dan Ashley terlihat bermain bersama Mary. Apa dia pergi ke suatu tempat untuk istirahat?“Mungkin dia ke toilet,” sahut Louis.“Tapi perasaanku tidak nyaman,” gumam Ruby lagi. “Aku takut terjadi sesuatu padanya.”Louis menggenggam tangan Ruby, tersenyum untuk meyakinkan istrinya itu.”Tidak akan terjadi sesuatu padanya.”Ruby mencoba tenang, tapi pada kenyataannya dia tak pernah bisa merasa tenang. Pernikahan mereka diundur berkali-kali karena Ruby merasa tidak enak pada Liv. Dia merasa dirinya tidak boleh bahagia di atas kehilangan Liv.Dan Ruby baru mengatakan ya pada ajakan Louis ketika kejadian itu sudah berlalu setahun. Tapi walau begitu, Ruby masih melihat kepedihan di mata Liv saat dia berterus terang pada sahabatnya itu jika dia akan menikah.Liv memang memberinya restu dan Ruby tah
Satu tahun kemudian...Mengenakan gaun mewah strapless berwarna putih tulang, Ruby berjalan bergandengan tangan bersama Louis. Senyuman gadis itu terlihat merekah, sempurna dalam sapuan make-up tipis yang tidak menutupi wajah naturalnya.Dengan erat Louis menggenggam tangannya, berjalan bersisian sambil menyapa para tamu ketika mereka masuk ke ruangan ballroom yang dihiasi oleh jutaan potong bunga-bunga hidup dengan nuansa putih.Mary terlihat lucu dalam balutan gaun dengan warna yang sama dengan Ruby. Tangan kecilnya menaburkan kelopak-kelopak bunga mawar yang dibawanya dalam keranjang kecil. Sesekali dia berhenti untuk ikut menyapa tamu, lalu kembali berjalan melakukan tugasnya.James dan Ashley berdiri bersebelahan. Keduanya ikut bertepuk tangan menyambut kedatangan pasangan yang baru sah menikah itu. Ashley terlihat tak bisa menutupi rasa harunya, terlihat saat dia beberapa kali menyeka air matanya.Liv juga hadir di sana, melempar senyum paling tulus yang dia punya. Walau air mat
Dunia di hadapan Louis mendadak gelap gulita. Dia seolah diasingkan dalam sebuah ruangan tanpa penerangan, tanpa cahaya, dan tak bisa melihat apa pun. Dadanya mulai terasa sesak dan perlahan dia kesulitan untuk bernafas.Kepalanya mulai pusing hingga mendadak dia merasa tubuhnya sangat ringan. Namun sebelum dia jatuh, James meraihnya segera. Sungguh, Louis tidak menyangka akan seperti ini. Baru saja masalah Ruby selesai, namun muncul masalah baru yang lebih menyakitkan.Ketakutan karena akan berpisah selama-lamanya membuat air mata Louis menetes. Dia jongkok di lantai, sesenggukan sambil menunduk.“Sudah ku bilang dia tak perlu pergi,” isak Louis. “Sudah ku bilang akan ada yang menghandle semuanya di sana. Kenapa dia ngotot harus pergi?”“Tenangkan dirimu,” seru James, padahal dia sendiri pun sangat panik. “Ayo berharap keajaiban, Lou.”Dia memang mengharapkan sebuah keajaiban yang indah terjadi. Tapi apakah itu mungkin? Sebuah pesawat yang jatuh menghantam air, pernahkan ada seseoran
Otak Ruby mendadak kacau. Rasa sakit akibat luka di kakinya menyatu dengan degupan jantung yang membabi-buta di dadanya. Ruby tak berkedip, matanya terus tertuju pada layar televisi.Menyadari perubahan mendadak dari Ruby, Louis mendekatinya. “Ada apa? Kenapa kamu terlihat shock?”Tetesan air mata yang jatuh di wajah Ruby, serta kelopak mata yang tak mengerjap membuat Louis mengarahkan pandangannya pada apa yang dilihat gadis itu. Louis mematung, merasakan aliran darahnya mengalir lebih cepat.Rasa panas itu menggerayang karena kepanikan. “Tidak mungkin,” desis Louis.“Apa yang kalian lihat?” Liv mengernyit, namun dia masih duduk santai di sofa.Ruby menghapus air matanya, terlihat gemetar untuk mengambil ponsel. Mungkin Liv bisa santai karena dia belum melihat beritanya. Dengan penuh rasa was-was dan harap-harap cemas, Ruby mencari kontak Edd dan berusaha menghubunginya.Namun sambungannya langsung tertuju ke kotak suara, yang menandakan ponsel Edd tidak aktif sama sekali. Dia mencob