LOGINXavier Alexander, already feels that his world is truly perfect, a sweet love story and even his relationship with his girlfriend Aira Faradilla has been approved by both families. Until finally, they chose the best decision, to get married. however, as if Xavier's happiness had been taken away by force, Aira fell into a coma and even before her wedding day she had not regained consciousness. This made Xavier's parents make a decision. Match Xavier with another woman, who is none other than his own best friend. keysha Jovanka, a woman who is Xavier's best friend and a woman who has always liked Xavier. Keysha made the biggest decision, by replacing Aira, to become Xavier's wife, but there was a secret that Keysha finally kept tight, and could become a Boomerang one day. Will Xavier still accept Keysha? And forgive Keysha's mistakes? What will happen when Aira returns?
View MoreVeny meronta, tali yang mengikat pergelangan tangannya terasa semakin menjerat kulitnya. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun di tengah udara lembap dan pengap dari gudang tua itu. Bau anyir darah yang menempel di bajunya bercampur dengan bau lembap kayu yang lapuk. Matanya mencari Samy, mencari sedikit saja belas kasih, namun yang ditemuinya hanyalah tatapan dingin yang menusuk.
"Samy... kumohon... lepaskan aku..." suaranya hampir tak terdengar, serak oleh keputusasaan. Namun Samy tetap berdiri kaku, tangannya mengepal, wajahnya menyiratkan kemarahan yang tak terkendali. "Aku membencimu, Veny. Kalau bukan karena dijebak... aku tak akan pernah menikahimu seumur hidupku." Kalimat itu keluar dari bibirnya dengan penuh racun. Veny tersentak, tubuhnya gemetar. Kata-kata Samy menghancurkan hatinya, lebih menyakitkan daripada luka apa pun yang mungkin ditinggalkan oleh tali di pergelangannya. Dijebak? pikirnya. Apakah dia selalu berpikir begitu? Kilas balik melintas di kepalanya. Hari ketika mereka pertama kali bertemu. Samy adalah pria yang hangat, tersenyum penuh cinta saat mereka berbicara untuk pertama kalinya. Mereka menikah dengan impian besar, atau begitulah yang dipikirkan Veny. Tapi sekarang, semua itu tampak seperti kebohongan. Kepulangan Moza kekasih masa kecil Samy menghapus sosok Veny di mata Samy, lelaki itu bahkan tak pernah menganggap Veny sebagai istrinya. Baginya Veny adalah kesialan dalam hidupnya. Suaranya patah saat ia kembali berkata, "Aku tidak meracuni Moza... aku tidak bersalah." Namun Samy tidak mendengarkan. Dia menatap Veny dengan kebencian yang begitu mendalam, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong. Di tengah rasa sakit dan keputusasaan itu, sesuatu berubah dalam diri Veny. Sebuah kesadaran baru mulai tumbuh, bahwa cinta yang diidamkannya tidak akan pernah ia dapatkan. Tidak dari Samy. Aku harus pergi dari sini, pikir Veny. Aku tidak bisa terus berharap pada sesuatu yang sudah mati. Veny menatap Samy dengan mata yang penuh luka. "Kalau kamu memang tidak menginginkanku... lebih baik lepaskan saja aku," suaranya bergetar, tapi ada keteguhan yang merasuk dalam nadanya. Dia sudah lelah memohon, lelah berharap. Samy terdiam sejenak kemudian tertawa. Tawa yang konyol, dingin dan tanpa rasa. "Dia berjalan mendekati Veny, tatapannya liar penuh dengan kebencian yang tak terungkapkan. "Melepaskanmu?" gumamnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Veny. "Kamu pikir semudah itu?" Dengan gerakan cepat Samy mencengkeram dagu Veny dengan kasar, mencubit kulit halusnya sampai terasa sakit. Jari-jarinya begitu kuat hingga membuat kepala Veny terpaksa menoleh ke atas, memaksanya menatap mata Samy yang menyala dengan kemarahan. "Jangan mimpi!" bisiknya dengan nada dingin. "kamu akan tetap di sini sampai aku memutuskan hukuman apa yang akan kuberikan padamu." Veny meringis, rasa sakit menjalari wajahnya, tapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan pahit bahwa pria yang pernah dia cintai ini telah berubah menjadi musuhnya. Sekarang dia tau di dalam hati Samy tidak akan pernah ada cinta untuknya selain hanya kebencian. Setelah Samy melepaskan cengkeramannya dengan kasar, dia melangkah mundur menatap Veny dengan kebencian yang seolah tak berujung. "Aku akan meninggalkanmu di sini untuk berpikir," katanya dengan sinis sebelum berbalik dan meninggalkan gudang. Pintu kayu itu berderak keras saat ditutup, suaranya menggema di ruangan sempit itu. Veny terdiam sejenak, terisak dalam keheningan. Dia merasa tubuhnya lelah dan hancur, tetapi pikirannya mulai bekerja. Aku harus keluar dari sini. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Matanya mencari-cari sesuatu apa saja yang bisa membantunya keluar dari ikatan ini. Dalam kegelapan gudang, dia melihat sebuah pecahan kaca kecil di lantai, sisa dari botol yang mungkin telah lama pecah. Meski tangannya terasa sakit oleh tali yang begitu ketat, Veny memaksakan diri bergerak, merangkak perlahan ke arah pecahan kaca itu. Setiap gerakan terasa menyakitkan, tetapi tekadnya semakin kuat. Dengan susah payah, Veny berhasil meraih pecahan kaca tersebut dan mulai menggesekkan ujung tajamnya ke tali di pergelangan tangannya. Keringat mengalir di wajahnya, jantungnya berdetak cepat karena takut Samy akan kembali sebelum dia berhasil. Butuh beberapa menit, namun tali itu akhirnya mulai mengendur. Dengan sekali tarik, Veny membebaskan tangannya, napasnya terengah-engah. Tanpa membuang waktu, dia melepaskan ikatan di kakinya dan berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi dia tahu dia harus bergerak cepat. Matahari sudah terbenam, dan malam mulai menyelimuti area perumahan. Veny mengintip dari celah pintu gudang, memastikan tidak ada yang berjaga. Saat kesempatan itu datang, dia membuka pintu dengan perlahan dan menyelinap keluar, menyatu dengan bayang-bayang malam. Dengan pakaian penuh darah dan tubuh yang lemah, Veny melarikan diri dari tempat yang dulu dia sebut rumah menuju ketidakpastian, tetapi dengan satu hal yang pasti di hatinya, dia harus bertahan hidup, dan pergi sejauh mungkin dari kota ini dan tidak akan bertemu lagi dengan Samy. Veny terus berlari, kakinya yang telanjang menapak keras di atas tanah berbatu. Setiap langkah terasa perih, tetapi ia tak peduli. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan kepedihan yang menggerogoti hatinya. Pakaian kotor dan darah yang mengering di tubuhnya membuat orang-orang yang berpapasan dengannya menatap penuh keheranan. Beberapa berbisik sementara yang lain hanya terpaku, tapi Veny tidak memedulikannya. Satu hal yang memenuhi pikirannya. Pergi, selamatkan diri. Dia semakin mempercepat langkah sampai tiba-tiba kakinya menyentuh aspal keras. Nafasnya terengah-engah saat dia menyadari bahwa ia sudah sampai di jalan raya. Belum sempat berpikir lebih jauh, lampu terang dari sebuah mobil menyilaukan matanya. Suara deru mesin mobil Range Rover terdengar kencang, namun segalanya terasa begitu cepat. Dalam sekejab mobil itu menghantam tubuh Veny. Tubuhnya terlempar ke udara sebelum jatuh keras ke atas aspal keras. Rasa sakit yang luar biasa menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, namun kesadaran segera memudar sebelum dia sempat merasakan semuanya. Pengendara mobil seorang pria muda dengan wajah panik segera turun dari kendaraannya. "Tolong! ada yang terluka, panggil ambulan!" teriaknya dengan nada cemas, tangannya gemetar saat dia berlutut di samping tubuh Veny yang tergeletak tak sadarkan diri. Orang-orang yang tadinya hanya menatap kini mulai berkerumun, ponsel mereka sibuk merekam dan beberapa mulai menelpon emergency. Di tengah keramaian itu hanya satu hal yang tetap sepi, yaitu kesadaran Veny yang perlahan memudar ke dalam kegelapan yang tak terjangkau. "Aira," Keysha whispered; she said that name with a sinister smile. "I will prove to Xavier how humble you are," said Keysha.Keysha immediately tidied up her things; she felt uncomfortable continuing to be in the office after she received a report from her mother-in-law. Keysha wants to see how Xavier is now. Keysha is also afraid that Xavier will really take a stupid action by leaving him and leaving all the success he has achieved for the sake of being with Aira."Where are you going, Mrs. Keysha?" Daniel, who had just entered Keysha's room because he wanted to convey some files, was surprised by Keysha, who was getting ready to go home. Even though it's still two hours until I go home from work."There's a problem with Xavier; I'm not calm if I'm still in the office. I'll take all the files home so I can work on them," Keysha explained."All right, let me take you, Mrs." Daniel was about to reach for Keysha's bag, but was rejected by Keysha so smoothly."I can go home myself; I'm
Aira stomped her feet in annoyance; she didn't expect it; her lunch was ruined; and again, Aira also had to go home alone because Xavier left her."Damn, this is all because of Keysha; if she didn't appear in my life, surely everything wouldn't be like this," Aira muttered, continuing to blame Keysha. Aira clenched her fists tightly.'Xavier clearly looks still very frightened by all the decisions of his parents; if Xavier's parents ask Xavier to leave me, what will it be?' Aira thought, starting to get worried."No, I can't think of all kinds of things; I have to be able to make Xavier's parents hate Keysha," Aira muttered to herself, 'but how do you do that?" Aira had to bite her fingers; she didn't know what decision she should make.Unlike Aira, who was currently upset, Xavier actually came to his parents' house feeling anxious and worried."Mom, Dad?" muttered Xavier. Reyhan, who saw his father coming closer, could only stare at him timidly.Plaakkk!!! The sound of a slap that wa
Xavier, who saw how Aira was so angry with him, knew that he had already had that relationship with Keysha. Finally forced Aira to enter the house for fear of being seen by Aira's neighbors."Aira, please listen to my explanation first; I beg you to calm down." Xavier kept trying to calm Aira by hugging her, even though she kept struggling.Aira kept struggling, and with all her might, she pushed Xavier's body. "How can I be calm when you have betrayed me, Xavier?" cried Aira."I know you must be disappointed, but I can explain that this was not my wish. It all happened not because I wanted it but because of stimulants," said Xavier."Stimulants?" she asked."Yes, that night Mommy and Daddy invited me and Keysha to have dinner at home. I came there and deliberately said everything Keysha had done to marry me, but apparently, Mommy actually gave me stimulants through my drink," explained Xavier."Mommy and Daddy Are you sure it's because of what they did?" asked Aira, because Aira was
Keysha was sitting relaxed in the living room, because he didn't go to the office, so Keysha could relax a bit. Keysha still wasn't too comfortable to move, she still felt pain in her core area, even her body felt stiff."You're home, Xavier?" said Keysha, to Xavier who had just come home and sat himself down on the long sofa. But, there was no answer at all, Xavier just massaged his forehead."Key? Are you in your fertile period?" it's not without reason that Xavier asks that, because he keeps looking for answers to his questions about how women get pregnant, and one of the answers that Xavier gets, is having sex during a woman's fertile time.Keysha seemed to think, "Yes." answered Keysha while putting food into her mouth."You're serious?" asked Xavier, this time he asked while looking at Keysha."Yes, seriously, I just finished my period a week ago, so I'm still in my fertile period," Keysha explained.'What Keysha said is true,' Xavier thought. Now that feeling of fear, really ha
Bruughh, Aira threw her bag in any direction. He was very upset today because of Keysha's treatment, coupled with Xavier, who didn't seem to be chasing him at all."Aira? What are you doing?" Lita asked worriedly; she sat down beside Aira, who looked very annoyed."I'm annoyed, Ma. My lunch plans with
"Really? But I don't see any change in the road, Ms. Keysha," were Edgar's words this time, Keysha could understand them, but she also felt that this time Edgar had crossed the line."I came here, not to discuss my personal problems, Mr. Edgar, let alone the problems of the first night that you might
Xavier smiled at Keysha's answer. He felt lucky because Keysha was the person he was betrothed to. Because Xavier thought that if someone else married him, maybe they would immediately complain to their mother."Thank you, you are indeed my most understanding sister," Xavier said while stroking the t
"Why you have not eat?" Again, Xavier asked the same thing.'Can I answer because I'm in a bad mood and Xavier isn't home?' Keysha thought."I'm not used to eating alone, Xavier." answered Keysha.Xavier smiled and said, "I'm sorry, I don't have time for you," Xavier stroked the top of Keysha's head af






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.