BERSAMBUNG
Pagi nya jelang siang…!“Gelo kamu Bryan, aku mesti istirahat semingguan gara-gara kamu hajar sampai pagi” sungut Rose yang langsung berubah jalannya, ketika pamit.“Tapi kamu suka kan..? Pintuku akan selalu terbuka kalau kamu mau ke sini, gratis!” canda Bryan, dan hidung mancungnya langsung di tarik Rose, gemas dengan rekan kerjanya sekaligus teman tapi mesranya ini."Ingat ya, aku ini simpanan gadun, tak ada cinta, antara kita, tapi saling membutuhkan!" cetus Rose, seakan mengingatkan Bryan jangan berharap lebih pada hubungan minor mereka.Hubungan keduanya makin dekat, tapi bukan pacaran, teman tapi saling membutuhkan kehangatan!“Paket…dari siapa..?” Bryan heran satpam apartemen mengantar paket buatnya yang isinya lumayan erat, padahal dia tak pesan apa-apa.Tapi Bryan menerima dan ia tentu saja penasaran apa isinya, begitu di buka, Bryan kaget ada bau busuk.Tapi begitu terbuka hampir melompat dia saking kagetnya, ternyata paket itu kepala anjing, yang sudah berbelatung dan bauny
Bryan terbang ke Banjarbaru, tujuannya yang pertama menuju ke rumah ibu angkatnya yang dulu pernah menampungnya.Hampir pangling Acil Imas ibu angkatnya, melihat kedatangan Bryan yang kini berubah total. Kulit makin kinclong, tubuh makin kokoh alias kekar dan pastinya makin jangkung saja.“Ya Allah Bryan, kamu beda banget, ibu lihat loh bilboard gede yang bergambar pria gagah, ehh ternyata kamu tuhh modelnya,” kata Acil Imas sambil terkekeh.Bryan trenyuh melihat kondisi rumah ibu angkatnya yang makin jelek, yang jualan gorengan Aci Imas pun kini hanya tersisa dua orang, padahal dulu ada 7 orang termasuk dirinya.Sampai berdempetan mereka tidur di rumah keci ini dan tak sekali dua kali Bryan terpaksa tidur di teras atau pindah ke mushala kala itu.“Mereka kan dulu seumuran denganmu, setelah dewasa cari kerja yang lebih layak. Sekarang Acil hanya di bantu dua anak yatim yang kini masih keliling jualan,” kata Acil Imas sambil mengeluh LPG 3Kg makin sulit di dapat, sehingga kini dia beral
Rumah ber-onarmen klasik modern ini berdiri megah di kompleks perumahan kelas menengah atas di kota ini.Hanya orang berdokat tebal bisa tinggal di kompleks perumahan mewah ini.Pagarnya juga tinggi dan cat putih, sehingga rumah megah ini terkesan agak angkuh dan tak sembarangan orang berani ke sini.Inilah rumah tuan Abi Sofyan, yang dikatakan Paman Alui suami siri Bu Nat kemarin, sehingga ke sinilah Bryan menuju hari ini.“Anda siapa, mau cari siapa?” satpam di depan pagar tinggi ini menatap Bryan, ia pun sebutkan siapa namanya dan juga tujuanya, si satpam ini terlihat kaget.“Tapi…tuan Abi Sofyan sedang sakit mas, beliau kena stroke sudah 3 tahunan ini dan nggak bisa bicara,” kata satpam dan kini gantian terlihat Bryan yang kaget.“Bolehkah saya jenguk beliau?”Bryan yang penasaran tentu saja ingin bertemu langsung dengan tuan Aby Sofyan.“Sebentar, saya mau telpon ke dalam dulu ke perawatnya, semoga beliau berkenan beri izin,” kata si satpam ini dan dia permisi ke pos jaganya.Tet
“Bagus kamu ada di rumah ini Riona, aku hanya ingin ambil sertifikat apartemen dan rumah yang ada di Jakarta dan Banjarbaru,” kata wanita ini cuek, yang aslinya wajahnya agak imut.Tapi kini sudah terlihat tua, namun tetap terlihat manis, karena riasan make up mahalnya.“Tante Chika, anda ini seolah tak ada puas-puasnya ingin rampas harta papa, sejak di cerai papa dan kamu dapat bagian harta hingga 35 miliaran, ternyata kamu belum puas-puas juga,” sentak Riona menahan marah.“Nggak usah serakah Riona, kamu sendiri dapat bagian hingga 100 miliaran, tuh aku hanya ambil sertifikat apartemen dan rumah saja, setelah itu aku tak akan ganggu kalian lagi,” wanita yng bernama tante Chika ini tetap ngotot.“Nggak akan aku kasihkan, kamu sudah jadi lintah penghisap darah dalam keluargaku. Uang papa kamu kuras, kamu malah pergi selingkuh dan foya-foya saat papa sakit. Dasar wanita tak tahu diri kamu ini, pergi sono,” usir Riona dengan wajah kesal dan menahan kemarahan.“Hmm…aku tak akan tinggal di
“Maaf…aku jadi curhat denganmu Bryan!” Riona yang semula berwajah jutek kini mulai senyum dan kecantikannya pun terlihat jelas.Seakan baru nyadar tadi mereka begitu kaku dan kini sudah jadi cair, gara-gara ulah tante Chika tadi.“Tak apa Riona, kita kini sama-sama punya pekerjaan besar, kamu harus hadapi tante Chika di pengadilan dan aku kini bingung kemana mencari tahu siapa ayah kandungku!”“Ceritalah Bryan aku dengarkan, kenapa sampai Bu Nat tak pernah beritahu kamu, siapa suami keduanya sekaligus ayah kandung kamu, setelah cerai dari papaku!”“Itu yang aku herankan Riona, sejak sakit hingga meninggal dunia, ibu tertutup sekali soal pribadinya. Aku pun tahu kalau papa kamu pernah jadi suami ibuku dari Paman Alui, seorang ASN dan pegawai TU di SMU Batupecah itu.”Kemudian Bryan pun ceritakan pencariannya hingga sampai di rumah mewah Riona ini.Kini, Riona bahkan tak ragu ajak Bryan menemui papanya yang hanya bisa duduk di kursi roda. Saat melihat Bryan, orang tua ini hanya diam saja
Paman Alui terlihat mengingat-ingat nama seseorang, tapi faktor usia membuatnya lupa siapa teman dekat Bu Nat saat masih aktif ngajar di SMU itu.“Aku belum ingat mas Bryan! Gini saja, kelak kalau ingat, aku hubungi mas via telpon yaa!” Mau tak mau Bryan pun pulang dengan kecewa dan dia minta sopir mobil carterannya menuju ke sebuah hotel bintang 4 yang ada di kota ini.Bryan menganut falsafah selama ada uang, buat apa kikir dengan diri sendiri, sehingga dia menuju ke hotel mewah satu-satunya di kota ini.Malamnya…!“Ka Riona, ada acara apa di hotel ini?” Bryan langsung menegur si cantik yang malam ini tampil beda dengan blazer hitamnya.“Aku baru bertemu seorang pengacara dan timnya. Kamu nginap di Hotel Audrey ini yaa?”“Betul ka Riona…!Lalu tanpa ragu ia pun cerita kalau Paman Alui belum bisa mengingat siapa teman dekat ibunya.“Yo wess sabar dulu, terus apa rencana kamu sekarang?” Riona menatap Bryan. Bryan pun tak ragu sebutkan tujuannya lagi ke sini, yakni isi tubuh untuk jaga
“Kalau kamu melanggar pantangan ini, resikonya…kamu tewas di bunuh orang!” cetus kakek Bahran dan Bryan nyatakan…sanggup, patuhi larangan ini!Ucapan sanggup Bryan anehnya bikin senyum Riona makin sumringah, entah apa yang dipikirkan janda jelita ini.Tepat pukul 00.00…prosesi mandi kebal bacok pun dilakukan di teras belakang rumah si kakek ini. Riona di perbolehkan melihat.Riona terlebih Bryan sampai merinding juga, saat kakek Bahran mencabut golok khas Kalimantan yang di sebut mandau.Mandau ini sangat tajam dan tanpa banyak basa-basi, setelah tadi dimandikan dan minum sebutir pil berbentuk hitam kehijauan dengan pisang emas.Punggung Bryan di rajah dengan…mandau tajam tersebut, Riona sampai ngilu sendiri melihat punggung kokoh dan putih Bryan di rajah dengan ujung mandau ini.Anehnya Bryan merasakan punggungnya seperti di garuk saja, tidak luka sama sekali.“Nahh…selesailah sudah, kita kembali ke kamar depan itu, kenakan pakaian, agar tak masuk angin,” kata kakek Bahran, yang kemud
“Ayoo tidur, nggak usah mikir aneh-aneh, aku ini kakakmu,” bisik Riona, lalu mengecup dahi Bryan, bahkan menowel hidung mancung pemuda ini.Riona lalu memunggungi Bryan. Bryan kaget lalu tertawa dan kini gantian menarik selimut lalu menutupi tubuh Riona.Diam-diam Bryan memandang kepala Riona dan terlihat leher jenjangnya yang putih bersih ini. Hatinya mulai tergetar, aslinya Bryan belum pernah jatuh cinta.Sejak jadi simpanan tante Weni, dia dilarang dekat dengan siapapun. Kini etah kenapa, dewa amor mulia datang...tapi, Riona adalah...mantan anak tiri ibunya!Bryan pun menghela nafas panjang, tanpa sadar helaan nafasnya itu terdengar Riona dan wanita jelita ini senyum di kulum. Mereka pun benar-benar tidur nyenyak sampai pagi dan kini keduanya asyik ngopi bersama di kamar bertipe suite ini.“Jadi kamu akan balik dulu ke Jakarta?” Riona menatap wajah tampan Bryan yang kini terlihat mulai tumbuh brewoknya.Riona aslinya maunya terus bersama dengan pemuda ini, Bryan langsung mengangguk
Ciiittt…Hagu terpaksa rem mendadak mobil, di depan mereka dari jarak 150 meteran, terlihat puluhan aparat keamanan sedang razia semua mobil yang lewat.“Bang, apa langkah kita selanjutnya?” Hagu menatap Prem, yang di tatap terlihat tetap bersikap tenang.“Cudai, di mana hotel atau penginapan yang bisa jadi tempat kita sembunyi dulu,” dengan suara kalem Prem menoleh ke arah Cudai dan 4 gadis cantik asli Kamboja ini.Kedua bangor ini aslinya selalu nyalang menatap ke 5 nya, selain manis, tubuh mereka yang mungil di depan kedua orang tinggi besar ini juga bikin keduanya penasaran, terutama Prem, si bangor kakap.Cudai pun sebutkan tempatnya dan Hagu tanpa ragu membelokan mobil nya ke arah jalan yang di sebut Cudai banyak berjejer motel di daerah pantai di wilayah Sihanoukville ini.Setelah hampir 40 menitan muter-muter, Hagu pun hentikan kendaraannya di depan sebuah motel kelas bintang di tempat ini.Karena Hagu yang lebih paham bahasa Kamboja, dia pun turun dan menemui resepsionest mote
Kini sudah 5 orang penjaga yang pindah alam di buat kedua pemuda ini. Keduanya mulai mendekati vila ini, sisanya penjaga yang lain masih belum menyadari kehadiran keduanya.Hagu kini incar dua orang yang terlihat agak terpisah dengan penjaga lainnya, begitu keduanya lengah, dengan gerakan cepat Hagu menerjang dan memukulkan popor senapan rampasan tadi.Buukk…bukkkk…!Dua orang ini langsung tersungkur. Tapi kali ini perhitungan Hagu meleset, rekannya yang lain melihat aksi Hagu.“Heii ada penyusup,” teriaknya dan gegerlah tempat ini, puluhan orang langsung mendatangi tempat ini.Dorrr…dorrr..dorrr…!Prem beraksi, tembakan jitunya langsung lumpuhkan 3 orang sekaligus, yang lain terkejut tak kepalang, mereka langsung membalas tembakan Prem.Hagu yang melihat ini tak tinggal diam, dia juga memberondong dengan senapan rampasan ini.Hebohlah tempat ini, perang skala kecil pun tak terelakan, sudah 12 orang anak buah Joni White bergelimpangan di tanah.Aksi nekat kedua pemuda ini memang tak ke
Vila Kocon berada di agak jauh dari pusat kota Phnom Penh. Kesinilah Prem dan Hagu menuju.“Hagu, dari informasi yang aku dapat, anak buah Joni lumayan banyak di sini, hampir 50 an orang dan semuanya bersenjata, jadi hati-hatilah.”Prem langsung mengingatkan Hagu, walaupun punya pengalaman sebagai milisi, tapi jangan salah, mafia yang dihadapi lebih ganas dan menakutkan, Prem menambahkan peringatannya ke Hagu.“Iya Bang!”Hagu tentu saja tak membantah, dia sudah tahu pengalaman Prem sebagai seorang agen sangat tinggi jam terbangnya, sudah lintas negara dan tak sekali dua kali hampir tewas di tangan musuh!Prem memang apa adanya kisahkan pengalamannya, tanpa bermaksud menyombongkan diri dan Hagu pun percaya cerita ini.Dulu Balanara pernah cerita punya adik yang seorang agen asal Pakistan, tak Hagu sangka mereka malah dekat saat ini. Si adik itu inilah orangnya, Prem Khan atau Prem Hasim Zailani."Aku juga baru tahu, kami satu ayah beda ibu, ayahku memang flamboyan alias playboy, di man
Tentu saja Hagu hanya bercanda, sengaja untuk manasin Prem. Hagu sampai sakit perut menahan tawa melihat kelakuan Prem.Yoana sudah terbuka dia punya kekasih, namun bersama Hagu dia tak bisa menolak dan pastinya ngaku sangat menikmati bercinta dengan Hagu.Yoana bahkan dengan apa adanya bilang, kalaupun kelak hamildun dengan Hagu, dia tak masalah."Kan pemberian Abang Prem cukup bikin aku dan Lisa buat modal pensiun," ceplos Yoana enteng, hingga Hagu pun ikutan senyum melihat si cantik menggemaskan ini. “Whatsss…you dapat perawan, sialan kauuuu, kalau tahu Yoana masih bersegel, kita tukeran ajee tadi malam,” cetus Prem dan keduanya tertawa bersama, kini keduanya makin dekat saja dan serius bicarakan soal Joni White, juga siap hadapi segala kemungkinan di sini.Prem juga bilang, mafia-mafia di sini terkenal kejam dan tanpa ampun.“Intinya…Joni White ini sebenarnya salah satu target, walaupun tak begitu utama, sebab aku masih memburu salah satu mantan pejabat militer Pakistan yang masih
Hagu dan Yoana saling lempar senyum saat mendengar suara desahan lumayan heboh di kamar. Mereka tadi sempat ke klub dan kini balik ke kamar Prem.Prem dan Lisa sedang bercinta!Keduanya rupanya sudah spanning tinggi dan langsung ngamar, tak peduli dengan Hagu dan Yoana yang masih duduk di sofa kamar ini.Sebelum masuk kamar, Prem dengan cueknya bilang, nanti Lisa dan Yoana akan dapat bonus gede, termasuk Hagu hasil menang judi tersebut.Tentu saja Lisa dan Yoana semriwing tak terkira. Hagu beda, dia tetap cool dan senyum saja.“Lisa ribut juga ya suaranya,” cetus Hagu buka obrolan.“I-iya Bang…gitu deehh,” sahut Yoana tersenyum malu-malu.“Kita ke kamar ku saja yuks, kita jadi kambing cungik di sini, dengarin keduanya bercinta,” ajak Hagu dan Yoana langsung mengangguk.Kamar Hagu tak beda jauh dengan kamar Prem, sama-sama bertipe suite.“Kalau kamu ngantuk, silahkan tidur di kamar Yoana!”Hagu melihat jarum jam sudah menunjukan pukul 1.30 dinihari. Dia sebenarnya memikirkan…Joni White
Joni sesaat terdiam, dia membuka kartu bawahnya, yang ternyata King sekop. Artinya dia punya 2 king dan 2 kartu 9.“Ha-ha-ha…anda menggertak rupanya…hmm baiklah!” Tiba-tiba Joni membuka kartunya, dan langsung bilang ikut, sambil sodorkan koinnya ke tengah!Prem menoleh ke samping, dia lihat Hagu sangat tegang, juga Lisa dan Yoana. Joni terkekeh melihat Prem sepertinya kebingungan.Kalau kalah…maka selesailah permainan ini, karena modal Prem ludes!Prem lalu perlahan menarik kartunya, dan mata Joni terbelalak, kartu bawah Prem ternyata…As hati.Artinya kali ini Prem yang menang.“Sayang sekali kali ini aku yang menang tuan Joni,” ceplos Prem dan semua koin taruhan kini di tarik seorang petugas dan kini modal Prem naik jadi hampir 12 juta dolar.Gara-gara itulah, konsentrasi Joni terganggu dan dia mulai agak emosi. Permainan berikutnya terus berlanjut dan akhirnya modal keduanya mulai berimbang, yakni sama-sama 37,5 juta dolar.Permainan judi tingkat tinggi kini mulai panas dan mendebark
Hagu sampai tak habis pikir, betapa hebatnya Prem berubah total menjadi seorang yang sangat berwibawa dan tenang di meja judi ini.Permainan pun di mulai, dan tepat seperti yang di duga, Joni White sangat hebat menggertak musuh-musuhnya, rata-rata di kartu 4 dan 5 musuh-musuhnya keder dengan keberanian Joni White menggertak.Apalagi sebelum kartu di bagi, semua pemain judi wajib setor 100 ribu dolar, atau koin warna hijau, sebagai tanda ikut.Prem pun terlihat geleng-geleng kepala, modalnya sudah susut hingga 4 juta dolar amerika, tapi gaya Prem tetap mengagumkan, dia tenang dan tak terlihat panik seperti 5 penjudi lainnya.Permainan judi poker lanjut dan kini kartu mulai di bagi, ternyata yang memanggil kini Prem, kartunya yang datang pertama adalah As hati, Prem cek kartu bawahnya, senyum mengembang di bibirnya.Tanpa ragu dia melempar koin yang bernilai 10 ribu dolar, semuanya langsung ikut karena kartu-kartu mereka bagus.Kartu ke 3 nya yang datang ternyata 2 wajik, sehingga Joni t
Gappp…!Hagu kaget, bahunya di tepuk Prem. “Sabar…si kumis itu kan yang jadi incaran kamu?” bisik Prem, Hagu pun kaget dan tak sadar mengangguk.Hatinya yang tadi mendidih kontan luluh dan kini dia seolah jadi anak yang baru belajar menahan sabar.Prem lalu berbisik dan Hagu mengangguk paham. “Ingat jangan bertindak kekanakan, santai saja,” cetus Prem lagi lalu menjauh, karena Yoana sudah kelar dari toilet.Saat akan kembali ke meja mereka, Hagu terdiam, juga Yoana, saat Prem yang asyik bersama Lisa sedang di dekati Joni White dan mereka terlibat obrolan.Dengan perlahan, keduanya mendekat dan mendengarkan apa yang sedang Prem dan Joni White omongkan tersebut.“Jadi anda mau menantang saya main judi Tuan Joni White?” Prem terlihat bersikap tenang dan tidak menunjukan ekspresi berlebihan.“Ha-ha-ha, ya, kalau Tuan Prem Khan berani kita akan main poker, bagaimana?” cetus Joni White sambil melirik ke Hagu dan Yoana yang kini berada di dekat Prem.“Oke…pantang bagi saya menolak main judi,
Ting tong...!Hagu bergegas buka pintu kamar hotelnya dan dia kagum sekaligu geleng-geleng kepala, di depannya sudah berdiri Prem dengan stelan jas tanpa dasi.Bahkan di bagian dadanya sengaja sedikit terbuka, sehingga dada bidangnya yang lumayan lebat bulunya terlhat jelas. Ganteng maksimal sekali pemuda ini dan Hagu tak ragu memujinya.“Lohh kamu belum siap brother, ini sudah jam 19.15 loh,” tegur Prem, karena Hagu masih berbaju kimono, setelah mandi.“Iya deh tunggu sebentar, aku berpakaian dulu,” Hagu pun cepat ke kamarnya dan membiarkan Prem santai sejenak di ruang tamu kamar bertipe suite ini.Tak sampai 10 menitan, gantian Prem yang menatap kagum ke Hagu. Saking kagumnya, dia memutari tubuh Hagu, yang kini makin ‘berkelas’ dengan stelan jas mahal.“Gileee loh, kamu tak kalah ganteng, pakai bingit lagi, tapi kita jangan gandengan jalan ya, nanti di kira sekong!” cetus Prem, hingga Hagu makin tertawa lebar, benar-benar si Prem ini lucu dan kocak.“Oh yaa…selamat ultah ke 24 tahun