"Alex, kenapa jadi seperti ini? Semua orang sudah mengetahui tentang masa lalu papamu. Mama sangat malu, Nak. Bagaimana bisa Mama bertemu dengan mereka lagi?" isak Mama Alex. Alex berusaha menenangkan mamanya yang panik. Tepat pada saat itu, Intan datang dan membantu Alex. "Tante, tenang dulu! Sabar, Tante!" Intan memeluk Mama Alex. "Mas, tolong ambilkan air minum untuk tante!" kata Intan. Alex bergegas menuju dapur dan mengambil segelas air. Sementara itu, Intan berusaha untuk berbicara dengan Mama Alex. "Tante, Intan juga sudah melihat berita itu. Tante jangan terlalu banyak berpikir, ya. Aku rasa semua orang bisa menilai siapa yang benar dan salah. Tante dan Alex adalah korban dalam hal ini. Aku dan Alex akan selalu ada bersama Tante. Semua masalah ini pasti akan bisa kita hadapi bersama," kata Intan. "Ma, minum dulu! Alex minta maaf, karena semua ini adalah kesalahan Alex. Lagi-lagi Alex gak bisa melindungi Mama." Alex menyerahkan gelas berisi air putih itu pada mamanya. "A
Setelah menerima hasil pemeriksaan itu, Alex dan Intan segera menjemput mamanya. Mereka akan menuju ke Lembaga Pemasyarakatan untuk menemui Sam. Sementara itu, Anita dan Tamara juga langsung menuju ke sana. Dua respon yang sangat berbeda ditunjukkan oleh mereka saat ini. Anita tentu sangat bahagia, karena pada akhirnya semua orang mengetahui bahwa Tamara adalah putri kandung Sam. Sudah terbayang di benaknya harta kekayaan yang mungkin tidak akan habis sepanjang sisa umurnya. Sementara itu, Alex tertunduk lesu di kursi penumpang mobilnya. Intan mengambil alih kemudi, karena mengetahui bahwa pikiran Alex sedang kacau. "Sayang, apa kamu gak apa-apa?" tanya Intan. "Iya, Intan. Aku hanya memikirkan tentang mama. Setelah ini, Tante Anita pasti akan semakin berulah. Aku takut kesehatan mama akan terganggu," jawab Alex. "Bagaimanapun juga semua sudah terjadi, Alex. Siap atau tidak, keluargamu harus menghadapi segala konsekuensi atas perbuatan papamu. Bukan aku ingin mengungkit masa lalu
Alex memalingkan wajahnya, hatinya teriris perih melihat pemandangan asing yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Alex merangkul sang mama dan memeluknya. Alex mengerti dengan jelas, bahwa hati mama terlebih sakit dari hatinya. Setelah mengurai pelukan itu, Alex melihat mata mamanya basah. Sekalipun berusaha tegar, tetapi perih tetap terasa di hati. "Alex, ayo kita pergi dari sini!" kata Mama Alex dengan suara parau. "Apa Mama gak mau mendengar apa keputusan papa?" tanya Alex. "Gak perlu, Nak. Biarlah papamu melakukan apa yang ia anggap terbaik dan benar. Kita juga gak bisa menghalangi keputusannya. Biarlah mereka bahagia dalam nostalgia yang mungkin seharusnya terjadi sejak lama! Selama ini mama dan kamu hidup dalam kepalsuan yang diciptakan oleh papamu. Mama pikir kita adalah tokoh utama, tapi ternyata kita adalah figuran di dunianya," jawab Mama Alex dengan air mata yang menderas. "Alex, kasihan mamamu. Ayo kita bawa tante pergi dari sini!" ajak Intan. A
Intan mengantar Alex dan mamanya pulang ke rumah. Ia mengantarkan calon mertuanya ke dalam kamar dan berpamitan padanya. "Tante, Intan pulang dulu, ya. Besok Intan datang lagi kemari. Tante gak boleh terus bersedih dan harus makan tepat waktu. Kalau ada makanan yang ingin Tante makan, telepon saja Intan, ya!" katanya. "Terimakasih, Intan. Kamu wanita yang sangat baik dan pengertian. Terimakasih untuk segala perhatianmu dalam situasi yang gak baik yang sedang menimpa kami ini. Alex sangat beruntung bisa mengenal dan mendapatkan hatimu. Kalau gak ada kamu, mungkin Alex sudah hancur saat ini. Begitu banyak masalah dan beban yang harus ia hadapi saat ini," kata Mama Alex. "Iya, Tante, tapi Intan justru merasa bersyukur karena ada pria yang baik dan tulus seperti Alex mau menerima dan mencintai Intan. Dia juga bisa menerima status dan masa lalu Intan, dan mau menyayangi Darren. Sifat dan karakter Alex itu pasti gak lepas dari didikan Tante dan om selama ini," jawab Intan. "Saat ini Tan
Berkas cahaya perlahan memasuki celah jendela tempat Intan dikurung. Perlahan Intan mengerjapkan matanya dan berusaha mengumpulkan kesadaran. Saat ia melihat langit-langit kamar itu, ia merasa ada di sebuah tempat yang asing. 'Dimana aku? Ini bukan kamarku,' ucapnya dalam hati. Kepala Intan masih terasa berat. Ia berusaha untuk duduk di atas tempat tidur dan mencari ponselnya. Ia mulai ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Ada pria misterius dan menyeramkan yang memotong jalannya dan memaksa turun dari mobil. 'Apa yang terjadi padaku? Siapa pria itu? Apa dia perampok? Tapi untuk apa dia membawaku ke sini?'Intan tidak berhasil menemukan ponselnya di sekelilingnya. "Ah, pasti tertinggal di mobil sebelum aku turun. Apa Alex sudah membaca pesanku?" gumam Intan. Intan berlari menuju pintu kayu yang sudah usang. Ia berusaha membuka pintu itu, tetapi ternyata pintu itu dikunci dari luar. Intan berusaha membukanya dan menggedor pintu itu beberapa kali. "Buka pintunya! Kenapa Anda
Air mata Intan mengalir deras saat melihat tingkah Tommy seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Intan tidak bisa membayangkan jika pria itu akan kembali merenggut tubuhnya dengan paksa. Mereka memang pernah melakukan hubungan itu sebagai sepasang suami istri dahulu, tetapi tidak pernah ada rasa cinta di dalamnya. Intan tidak rela jika Tommy melakukan hal itu lagi padanya. Bagi Intan, itu tak ubahnya seperti tindak pelecehan, bukan ekspresi rasa cinta yang sewajarnya. Intan berusaha meronta, tetapi seolah usahanya sia-sia. Ia berusaha menendang Tommy, tetapi Tommy menindih kakinya hingga tak dapat bergerak. Saat Intan nyaris putus asa, tiba-tiba pintu kamar itu dibuka dengan paksa dari luar. Intan mengerjapkan matanya saat seorang pria mendekat dan langsung menarik tubuh Tommy. "Kurang ajar kamu, Tom!" Alex berteriak dan langsung mendaratkan beberapa pukulan di wajah Tommy. Intan menghapus matanya yang buram oleh genangan air mata. Ia bersyukur karena Alex datang tepat w
Intan segera membawa Alex ke rumah sakit. Mereka tiba di ruang IGD rumah sakit dan Alex segera mendapatkan pertolongan pertama. Alex meringis menahan sakit ketika perawat mulai membersihkan lukanya. Setelah itu luka diobati dan ditutup dengan perban. "Bagaimana, Dokter?" tanya Intan. "Hanya luka kecil dan sudah bisa diatasi. Memang sebaiknya luka sekecil apapun tidak diabaikan, karena bisa menimbulkan infeksi. Saya akan memberi beberapa obat untuk penahan rasa sakit dan supaya luka itu lekas sembuh," jawab dokter berkacamata itu. Intan menarik nafas lega dan melirik Alex yang baru saja kembali duduk di samping Intan. Dokter itu menyerahkan selembar kertas pada Intan. Mereka mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan ruang IGD itu. "Sudah kukatakan padamu, ini cuma luka ringan. Kamu terlalu cemas dan berlebihan, Intan," kata Alex. "Tentu saja. Jika kamu terlambat menghindar, bisa saja pisau itu mengenai bagian tubuhmu yang lain dan berakibat fatal. Ah... Aku gak pernah membayang
Intan dan Alex baru saja menginjakkan kaki di halaman kantor polisi. Intan melihat mobil mewah milik Carlo sudah terparkir di sana. Intan menghela nafas panjang, mempersiapkan diri untuk menghadapi mantan suaminya sekali lagi. "Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Alex. "Iya, aku akan menghadap dia sekarang, Mas. Walaupun kejadian kemarin masih membuatku malu dan terluka, aku harus menghadapi Mas Tommy dengan berani," jawab Intan. Alex menggenggam tangan Intan. "Aku selalu ada di sampingmu, Sayang.""Sayang, apa Carlo akan membela Mas Tommy?" tanya Intan. "Kenapa kamu berpikir begitu?""Bagaimanapun juga, semua orang mengenal a Tommy sebagai cucu Kakek Nugraha. Aku hanya berpikir, bukan hal yang mustahil kalau perusahaan berusaha melindungi dia, bukan? Kalau semua orang mendengar tentang kasus ini, tentu nama baik kakek dan perusahaan bisa jadi taruhannya," jawab Intan. "Jangan berpikir terlalu jauh! Kita lihat saja bagaimana sikap Carlo dan kakek terhadap Tommy dan kasus ini. Men
Intan membuka tirai kamarnya pagi itu. Seperti biasa, akhir pekan itu Intan, Alex, dan Darren memilih pulang ke rumah ibu. Dua pekan sekali, Intan dan Alex berkunjung bergantian ke rumah Ibu Intan dan Mama Alex. Intan dan Alex berusaha menepati janji bahwa setelah menikah, ia tidak akan membiarkan ibu sendirian. Rudy amat jarang pulang, hanya sesekali dalam beberapa bulan. Intan harus memberi penghiburan pada ibunya, agar tidak larut dalam kesedihan. Intan mengelus perutnya yang mulai membuncit. Di dalam rahimnya, sudah tumbuh calon buah cintanya dengan Alex. Empat bulan sudah usia janin kecil itu. Darren sangat bahagia, karena sebentar lagi ia akan mendapatkan seorang adik. Alex tak kalah bahagia saat mendengar berita kehamilan Intan. Ia bersorak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah yang ia inginkan.Semenjak Intan hamil, Alex jadi lebih protektif dan perhatian padanya. Alex tidak mengijinkan Intan terlalu lelah bekerja. Di rumah, Alex memperlakukan Intan bagaikan
Di tengah kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Intan, Alex, dan Darren, ternyata ada yang sedang mengalami persoalan yang serius dalam rumah tangganya. Setelah dua tahun menjalani biduk rumah tangga, sifat asli Agnes akhirnya terbongkar. Selain mengekang Rudy dan menjauhkannya dari keluarganya, Agnes juga menunjukkan sikap ketus dan tidak lagi menghormati suaminya. Rudy selalu berusaha bersabar dan menerima Agnes. Ia menganggap itu hanyalah sifat egois dan tidak dewasa dari Agnes sebagai putri dari keluarga kaya. Tak lelah ia berharap, agar suatu hari Agnes bisa berubah dan bersikap dewasa. Akan tetapi harapan itu tak kunjung berbuah menjadi kenyataan. Suatu hari, Agnes bahkan melontarkan perkataan yang tak terduga pada sang suami. "Sayang, dari mana kamu? Kenapa malam begini baru pulang?" tanya Rudy saat membukakan pintu untuk istrinya. "Aku baru jalan-jalan bersama sahabatku, Mas," jawab Agnes sambil berjalan ke kamar. "Sayang, aku gak melarang kamu untuk pergi dan berkumpul
Kondisi kesehatan Ibu Intan kian membaik. Walaupun Rudy datang dan menorehkan luka di hatinya, tetapi hari pernikahan Intan dan Alex yang semakin dekat membuat Ibu Intan mempunyai semangat untuk sembuh. Siang itu dokter mengijinkan Ibu Intan pulang ke rumah. Intan, Alex, dan Darren secara khusus menjemput Ibu Intan dari rumah sakit. "Apa Ibu sudah siap untuk pulang?" tanya Intan. "Iya, Nak. Ibu sudah sangat ingin pulang ke rumah kita. Ibu gak betah tinggal di sini dalam waktu yang lama," jawab Ibu Intan. Perawat sudah melepas infus di tangan Ibu Intan. Intan juga sudah merapikan pakaian dan barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Intan sangat senang melihat wajah ibunya kembali segar. "Iya, Ibu harus selalu sehat, agar gak sakit lagi. Nanti kita cari waktu untuk pergi liburan bersama, ya," kata Intan. "Iya, Nak. Ibu gak perlu liburan atau pergi jauh. Ibu hanya mau melihat kamu bahagia. Sebentar lagi anak ibu akan memasuki gerbang pernikahan dan punya keluarga baru. Ibu mau m
Seorang wanita cantik berpakaian rapi dan duduk di sebuah lobi hotel berbintang. Ia memakai gaun merah dan kacamata hitam. Sesekali ia melirik jam tangan mahalnya dan menghembuskan nafas kesal. Agnes sedang menunggu Rudy dan siap meninggalkan hotel itu. Di hadapannya sebuah koper besar dan beberapa barang lain sudah tersedia. 'Sudah dua puluh menit dan kamu belum kembali juga, Mas. Ternyata kamu memang lebih mementingkan keluargamu. Tunggu saja, aku akan membuatmu menyesal!' batinnya. Detik demi detik terasa sangat lama berjalan. Agnes semakin kesal karena sang suami tidak juga menampakkan barang hidungnya. Kesabaran Agnes sudah hampir habis. Ia berdiri dan meraih barang-barangnya, lalu berjalan untuk keluar dari hotel itu. Tepat pada saat itu, Rudy sampai di halaman hotel dan segera turun dari mobil. Ia menghampiri Agnes dengan tergesa-gesa dan berdiri di hadapannya. "Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Rudy. "Kamu hampir terlambat, Mas. Aku sudah muak dan jenuh menunggumu di sini,
Intan tidak dapat lagi menahan air matanya. Ia memeluk ibunya dengan erat dan bisa merasakan dalamnya luka di balik tubuh nan rapuh itu. "Aku mohon, jangan bersedih, Bu! Aku gak bisa melihat Ibu menangis. Kami ada di sini dan gak akan meninggalkan Ibu. Alex juga menyayangi Ibu seperti mama kandungnya sendiri, jadi Ibu gak perlu merasa cemas. Ibu sangat berarti bagiku," kata Intan. Ibu Intan memejamkan matanya dan mengusap air matanya. Mereka berpelukan beberapa saat lamanya hingga seseorang membuka pintu ruangan itu. Intan melepaskan pelukannya dari ibunya. Ia semula berpikir ada dokter atau perawat yang datang untuk memeriksa ibu, tetapi ternyata dugaannya salah. Intan melihat Rudy masuk ke ruangan itu dengan tergesa-gesa dan nafasnya masih terengah-engah. "Rudy...." Intan berdiri dan menatap adik kandungnya itu. Rudy segera mendekati tempat tidur ibunya dan menggenggam tangannya. Raut wajahnya terlihat cemas dan panik. Rudy sepertinya langsung pergi saat membaca pesan Intan, ia
"Ibu sudah sadar?" Intan mendekatkan wajahnya pada ibunya. "Dimana ini?" tanya Ibu Intan. "Di rumah sakit, Bu. Tadi Ibu jatuh pingsan, jadi kami membawa Ibu kemari. Apa yang Ibu rasakan sekarang? Apa Ibu masih merasa pusing dan lemas?" kata Intan. "Ibu gak apa-apa, Nak. Ibu gak perlu dirawat di rumah sakit ini.""Tapi dokter menyarankan Ibu untuk dirawat beberapa hari di sini. Kita harus menuruti perkataan dokter, supaya Ibu lekas sembuh."Ibu Intan tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah mencari keberadaan seseorang. Alex yang baru masuk ke ruangan ikut mendekat. "Bagaimana keadaan ibu?" tanya Alex. "Katanya ibu baik-baik saja, Mas. Aku senang mendengarnya. Semoga ibu bisa segera pulang," jawab Intan. "Mana Rudy?" tanya ibu sambil menatap Intan. Intan menghela nafas panjang dan menatap Alex. Sebenarnya ia masih kesal dengan sikap Rudy dan masih enggan berbicara dengannya. "Ibu mencari Rudy, Sayang. Apa kamu sudah menghubungi dia?" tanya Alex. Intan m
Rudy terpaksa bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah istrinya. Agnes melewati pintu utama rumah itu tanpa berpamitan atau menoleh lagi. Entah apa yang membuat Agnes kesal atau marah. Intan dan ibunya tidak merasa melontarkan perkataan yang mungkin bisa menyinggungnya. Agnes langsung masuk dan duduk di mobil, tidak menghiraukan bujukan Rudy untuk lebih lama berada di rumah itu. Rudy hanya bisa menghela nafas panjang, lalu masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil koper mereka yang tertinggal. "Maaf, Bu, Mb Intan, aku pergi dulu," katanya. Tanpa mendengar jawaban atau tanggapan dari Intan atau ibu, Rudy bergegas meninggalkan rumah itu. Ibu Intan hanya bisa menatap nanar kepergian Rudy. Senyum yang baru saja terbit di bibirnya mendadak sirna kembali. Intan sungguh tidak tega melihat ibunya kembali terluka. "Ibu gak apa-apa?" tanya Intan. Hana menggelengkan kepalanya, tetapi Intan bisa melihat air mata ibunya yang hampir jatuh. Hana bangkit berdiri dan berjalan mendekat
"Kalau rindu, coba saja hubungi dia!" usul Alex. "Ah, aku gak mau menghubungi dia duluan, Mas. Aku masih ingat bagaimana sikapnya saat pertama kali kita bertemu. Dia sudah memperlakukan ibu dengan buruk. Aku sudah berjanji gak akan menghubungi dia sebelum dia meminta maaf pada ibu," jawab Intan. "Aku rasa kalian hanya saling gengsi. Aku tahu bahwa sebenarnya Rudy bukan orang yang kasar. Dia sangat menyayangi keluarganya. Mungkin saja kemarin dia sedang menyesuaikan diri dengan keluarga Agnes dan banyak urusan lain. Semoga saat ini pikirannya sudah terbuka dan menyadari kesalahannya." Alex melirik Intan yang tertunduk dengan wajah muram. "Benarkah begitu?" Intan mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia mengusap layarnya dan menimbang-nimbang sejenak. "Bagaimana kalau Rudy kembali menolak itikad baikku?""Lebih baik dicoba daripada menunggu dan penasaran, bukan?" kata Alex. Intan menghela nafas panjang. Terlintas di benaknya wajah sendu ibunya yang setiap malam memikirkan Rudy. Terkad
Setelah melewati berbagai ujian, Intan dan Alex kembali fokus pada rencana pernikahan mereka. Tidak seperti dahulu, kini Mama Alex mendukung rencana putranya itu dengan sepenuh hati. Seiring berjalannya waktu, Mama Alex memang melihat bahwa Intan adalah wanita yang baik dan mampu mendampingi Alex dalam segala hal yang terjadi. Ponsel Alex berdering di hari Sabtu pagi itu. Foto kekasih hatinya terpampang di layar benda pipih itu. Alex yang masih berbaring di tempat tidurnya pun segera menjawab panggilan itu. "Halo, Sayang," sapa Alex. "Halo, Mas. Apa kamu masih tidur? Jam berapa ini?" Terdengar suara Intan di seberang telepon. "Baru jam delapan," kata Alex sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. "Ini sudah siang, Mas. Sejak kapan kamu jadi pemalas begini?" "Ini kan akhir pekan, Sayang. Sesekali boleh kan aku bangun lebih siang?" Alex meregangkan tubuhnya. "Oke, tapi gak boleh sering-sering, ya! Oh ya, jam sepuluh nanti aku harus ke salon untuk memilih gaun pengantin dan r