MasukA year ago, twenty eight year old Lisa Armstrong Reed 'princess of Oakenville', lost her husband, Keith. And now, she just got invited to her aunt's wedding at Miami. Determined to forget her dead husband for good, Lisa takes a chance at a holiday and hops into the next available flight to the Florida city, in anticipation for a well-deserved vacation. What she doesn't expect is to find herself in the same room with Keith's handsome, half naked brother for whom she harbours a yearlong crush! Damien Reed 'kinda kissed' his brother's wife last year, and she shut him out almost immediately. Now with his brother dead, and Lisa miraculously turns up as a bridesmaid at his friend's wedding, he's more than prepared to let her know how he feels about her. When a simple wedding getaway turns to a war zone, with stalkers and greeting cards claiming to be from Keith, wyill the two finally find a happily ever after together or is a second chance at romance too hot to handle? [Cover design by Mikael]
Lihat lebih banyak“Kak Audrey, ini nilai ujian matematikaku,” terdengar suara Gea, salah satu murid les privatku. Dengan bangga gadis 12 tahun itu menunjukkan nilai matematika yang dia dapat.
“Good job, Ge!" pujiku seraya mengacungkan kedua jempolku.
Melihatku memuji Gea, Luna juga tidak mau kalah dari sang kakak. Dia segera menunjukkan score B+ yang dia dapat.
“Well done, Luna!” pujiku seraya mengusap puncak kepala gadis 7 tahun itu dengan lembut. Gadis itupun membalas dengan sebuah pelukan hangat.
Sudah dua tahun terakhir aku menjadi guru les privat dua nona muda keluarga Adinata, Gea dan Luna. Sepulang kuliah, aku selalu menuju rumah mewah keluarga Adinata untuk mengajar mereka berdua.
"Terima kasih sudah membantu cucu-cucu Oma belajar, Audrey. Oma sangat puas dengan nilai mereka semester ini," ucap Oma Elma.
Akhir pekan ini, Oma Elma berencana mengajakku ke butik langganannya. Dia memintaku memilih pakaian manapun yang aku suka sebagai bonus karena sukses mengajar Gea dan Luna.
Akupun menolak permintaan tersebut dengan sopan. Menurutku, memastikan nilai ujian Gea dan Luna selalu memuaskan adalah tugasku sebagai guru les privat mereka berdua. Jadi aku rasa tidak pantas aku menerima bonus itu.
Namun Oma Elma tetap memaksa. Menurutnya, tentu tidak masalah sesekali aku menerima bonus semacam ini.
"We will pick you up this weekend. Kita lunch bertiga, setelah itu ke butik langganan Oma," titah nyonya besar keluarga Adinata itu.
"Bertiga? Bertiga dengan siapa Oma?" tanyaku penasaran. Seingatku akhir minggu ini Gea, Luna, dan orang tua mereka akan ke pergi ke Bali. Lalu dengan siapa bertiga yang dimaksud Oma Elma?
"Gibran," jawab Oma Elma.
What? Pak Gibran?
"Oma juga mau membelikan dia beberapa baju untuk perjalanan bisnisnya ke London minggu depan."
Astaga! Menatap wajah tampan Pak Gibran sekilas saja sudah membuat jantungku berdetak tak karuan, apalagi harus jalan bertiga bersama Oma Elma dan Pak Gibran.
Sudah bukan rahasia, Oma Elma sangat gemar menghabiskan waktu cukup lama setiap berbelanja, artinya akhir pekan ini aku akan menghabiskan waktu berjam-jam bersama Oma Elma dan Pak Gibran, maka berjam-jam pula aku bisa menatap wajah tampan anak bungsu Oma Elma itu.
Wuih, bisa-bisa aku terkena serangan jantung, hehehe.
"Tidak ada penolakan, Audrey!" imbuh Oma Elma.
Okeh, sepertinya aku memang harus benar-benar menyiapkan jantungku akhir pekan ini.
Jantung, tolong ya jangan norak nanti ketika harus berjam-jam menatap wajah Pak Gibran!
Oma Elma dan Almarhum Bapak Galih Adinata hanya memiliki dua orang anak yaitu Livy Diandra Kiswoyo dan sang adik, Gibran Maharsa Adinata. Bu Livy menikah dengan putra sulung keluarga Kiswoyo, Nathan Kiswoyo. Dari pernikahan itu hadirlah dua gadis cantik yang kini menjadi murid les privatku, Gea Liberty Kiswoyo dan Luna Elvania Kiswoyo.
Keluarga Adinata masuk dalam jajaran 15 besar keluarga terkaya di Indonesia versi forb*s. Bisnis mereka menggurita di berbagai bidang usaha dengan Adinata Group sebagai induk bisnisnya.
Saat ini Pak Gibran menjabat sebagai CEO Adinata Group. Aku sebenarnya cukup sering bertemu pria tampan itu. Dia cukup dekat dengan kedua keponakan cantiknya. Tak jarang ketika Gea dan Luna sedang belajar denganku, Pak Gibran menghampiri dua keponakan cantiknya itu. Wajah betonnya seketika berubah menjadi sangat manis ketika berhadapan dengan Gea dan Luna.
Seperti pada hari ini, sesaat setelah percakapan singkatku bersama Oma Elma, aku memulai sesi belajarku bersama Gea. Gadis cantik itu meminta sesi belajar hari ini dilakukan di teras belakang rumah mewah ini. Dia bosan jika harus di kamar atau di ruang belajarnya.
Bersamaan dengan itu tampak Pak Gibran yang baru saja pulang dari kantor. Dengan kemeja navy lengan panjang yang dia lipat hingga sikunya, dia berjalan ke arahku dan Gea untuk menyapa keponakan cantiknya.
Ya Tuhan, ganteng banget sih CEO satu ini! Jantung apa kabar jantung? Tolong dikondisikan detaknya, ya!
"Mana yang katanya nilainya tertinggi di kelas?" terdengar suara bariton Pak Gibran.
Astaga, suaranya sexy banget!
Seketika fantasi nakal berkeliaran di pikiranku. Membayangkan betapa merdunya suara bariton Pak Gibran jika membisikkan kata-kata sensual di telingaku, apalagi jika suara itu perlahan berubah menjadi desahan kenikmatan. Haduh ... pasti sangat menggoda!
"Hadiahnya mana?" rengek Gea ke Pak Gibran.
"Kamu mau apa?" tanya Pak Gibran seraya membelai rambut Gea. Sontak otakku kembali mengerang ketika melihat jemari-jemari besar Pak Gibran membelai rambut keponakannya itu. Membayangkan bagaimana sensasi rasa ketika jemari-jemari itu membelai area sensitif di tubuhku. Membelai kedua benda kenyal di area dadaku, meremasnya dengan lembut dan ...
Shit! Kenapa fantasi nakal semacam ini sering muncul di benakku setiap bertemu Pak Gibran?
"Setelah Aku pulang dari Bali, Kita makan ice cream bersama Luna di kedai Ice Cream Bobby ya, Om!" pinta Gea sebagai hadiah untuk nilai ujiannya yang memuaskan.
"Siap, laksanakan!" balas Pak Gibran yang kemudian meninggalkan kami kembali berdua saja di teras belakang rumah mewah ini, membiarkan Gea kembali fokus belajar bersamaku.
CEO Adinata Group itu berjalan ke arah gazebo yang berada di taman belakang rumah mewah ini. Tentu dari posisiku saat ini, aku bisa dengan leluasa memandangi wajah tampannya. Wajah yang sering membuat jantungku berdegup tak karuan. Tampannya gak kaleng-kaleng, cuy!
Mataku sedari tadi mengekor kepergiannya dari tempatku dan Gea belajar. Rasanya tidak rela berpaling dari wajah tampan pria 30 tahun itu.
"Kenapa Kak Audrey memandangi Om Gibran terus dari tadi?" tanya Gea.
"Tampan!" tanpa aku sadari keluar kata itu dari mulutku. Mataku masih menatap ke arah Pak Gibran, pikiranku juga masih melayang di atas awan.
"Tampan? Siapa? Om Gibran?" Gea tampak memastikan.
"Yes He is. Om Tampan!" aku kembali bergumam. Pikiranku masih berkelana menelusuri garis wajah Pak Gibran. Akupun belum menyadari kebodohan yang sudah aku lakukan di depan Gea, bergumam tentang sesuatu yang pastinya akan membuatku kehilangan muka di depan gadis cantik itu.
"WHAT? OM TAMPAN?" terdengar suara cempreng Gea yang menggelegar. Sontak hal tersebut membuat pikiranku seketika kembali sepenuhnya ke dunia nyata.
Akupun panik, apalagi Pak Gibran yang sebelumnya tampak sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba menatap ke arah kami. Ya ampun, apa Pak Gibran mendengar saat Gea menyebutkan Om tampan?
Aku semakin salah tingkah. Akupun memutar otak untuk mengelak dari ledekan Gea yang bertubi-tubi meluncur dari bibirnya.
"Ti-tidak begitu, Ge! Bu-bukan begitu!" elakku.
"Apanya yang tidak begitu? Apanya yang bukan begitu? Dih, Kenapa Kak Audrey jadi gelagapan gitu?" ledek Gea.
"Maksud Kak Audrey, tamannya jika malam tampan. Bukan Om Gibran yang tampan," elakku lagi.
"Taman kok tampan! Jelas-jelas Kak Audrey tadi bilang Om Gibran itu OM TAMPAN!" protes Gea dengan suara cemprengnya yang menggelegar.
"GEA! Sssttt!" seruku seraya menempelkan jari telunjuk di depan bibir.
Ya Tuhan, jangan sampai Pak Gibran mendengar percakapanku dan Gea. Semoga Gea juga tidak menceritakan kebodohanku ini pada anggota keluarganya yang lain. Tengsin aku 'kan!
"Dih, kenapa pipi Kak Audrey jadi merah merona? Kak Audrey malu ya ketauan memandang penuh damba ke Om Gibran?" goda Gea.
What? Memandang penuh damba? Allohurobbi, dari mana bocah 12 tahun ini bisa memiliki kosa kata itu?
Lisa's POV "I heard there's a really good ice cream shop around here," Leigh is saying from behind the steering wheel of Selena's Mustang, while I'm sitting in the passanger's seat with Willow in my laps, wondering why in the world Leigh chose to drag me along with her. "What a way to combat all this sun, am I right?" I couldn't agree more. Even my hair is beginning to frizz up from the humidity. But the pool should have been much more better. "So why did it have to be me?" I moan out loud. Willow yips in agreement. I should have been lazily lounging around in the pool with others. Or having a nap. Not moving around on a hot day like this in search of an ice cream shop. "Everyone else is… busy?" Leigh turns left, manoeuvring the steering wheel with one hand while slipping strands of her brown hair behind one ear with the other hand. "Consider this a thank you outing for Willow, for letting me borrow one of her storybooks. You're just tagging along." "Who says my dau
Glenn's POV I watch Yvette attack the tub of ice cream it seemed like she forgot it existed. She reminds me of Skylar in many ways. The obvious love for food. The round cheeks. The big eyes. The cuteness. Yvette and Skylar both have these in common. I used to like watching Skylar eat. She made the simple act of filling her mouth with tuna sandwich the sexiest and most fun thing to watch. Wait a minute, what? Why am I thinking of something like this now? Even before we all came together in this holiday villa for Wade and Selena's pre-wedding vacation, I've known Yvette Jones. I've met her multiple times in the gaming software company where Wade works as a director. And in those times, we always end up exchanging banters. Why did she not remind me of Skylar then? Why now? There's a smear of ice cream beside her lips. I should pretend I didn't see it. "You have a bit of ice cream beside your mouth," I'm already saying in spite of myself. "Let me get it for you." I lean
Yvette's POVWhat the hell is wrong with me?! I stomp to the kitchen and collapse into the stool next to the granite island. Jeremy isn't my boyfriend. I'm at fault for having a crush on him in the first place. I'm at fault for mistaking him for a prince charming, for allowing him to sweep me off my feet the night of that luau party. It should not be any business of mine if he decides to date someone else instead. If he decides that all he wants to do is make out with her in front of everyone. But it does hurt. My heart is cracked open, and it hurts like a knife wound to my chest. Hot tears sting the back of my eyes, but I squeeze them back by pinching my nose between my thumb and forefinger and counting to ten on a deep exhalation through my mouth. Don't cry, I tell myself. Don't cry. Jeremy doesn't care if you do. Right now he's only interested in his new lover. I hear approaching footsteps and lurch to my feet, checking my eyes on the reflective screen of my phone
Glenn's POV Damien was once my most favorite person. He used to be my best friend. We met when we were eight years old, during a housewarming party both of our fathers attended, and automatically drifted towards each other in the crowd filled with boring old people, busy with champagne and boring old people's talk. We played hide and seek that day within the new mansion our fathers' mutual friend just built, and accidentally, I pushed down a huge Ming dynasty vase. While everyone else made a huge fuss about the decorative item that they said cost more than a first-class ticket to the Maldives, Damien stood by me, and we bore the punishment together. We were both grounded throughout the holidays. And when I met him again in grade school, I knew instantly we would be great friends. Friends that will always have each other's backs. We both had wealthy fathers, so he was equally familiar with the perks and demerits that came with it. If only I can meet that eight year old me and give him






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.