로그인"Alpha...please, I-I can't do this.." Her voice stutters when he touches her core and spreads her legs even wider. "I'm the Alpha. You can't say no to me," Carlo whispered as he gave her delicate ears a bite and guided himself into her. Her scream was muffled when he locked her lips in a lustful kiss. *** After finding out she was pregnant with Alpha King, Carlo Donovan's baby from the mighty Blackthorn pack, Catrina Marine insisted on seeking his responsibility, but no one believed her. Humiliated and then banished, she endured miserable days with no one by her side. After four years of healing from all the hurt and trauma, Catrina is now determined to assert her rights and seek revenge for the pain she went through. Carlo never expected her to make a comeback—the little omega who had consumed his thoughts for the past four years—and now she returns for his ruin!
더 보기2004 - SD Kelas 3, Lorong Kelas
"Lala."
Clara menoleh saat sahabatnya sejak kelas 1 itu memanggilnya. Aline yang cadel, tidak bisa memanggil nama Clara dengan benar.
"Ada apa?"
"Liat deh, masa di depan anak kelas 3C tawuran di lorong itu loh!"
Kelas 3E adalah kelas Clara dan Aline yang berada di paling pojok, bentuk sekolahnya seperti letter L sehingga, menjadi jelas yang paling ujung dan ditikungan hurup L tersebut dapat memberikan akses kepada kelas mereka untuk melihat kericuhan dan kegaduhan yang dilakukan teman seangkatannya.
Dengan malas, ia pun beranjak mengikuti Aline yang sudah berlari terlebih dahulu ke depan pintu kelas.
"Tabok dia! Pukul!"
"Lempar sarungnya woy!"
"Gebukin Rendra!"
"Puter sarungnya, Joy!"
Begitulah seruan dari anak laki-laki dari Kelas 3A sampe 3D. Mereka semua saling tertawa tapi tetap "mengadu" kekuatan antar kelas. Kejadian ini baru sekali dua kali terjadi tapi tetap saja, untuk orang seperti Clara yang tidak terlalu suka kegaduhan seperti ini, sungguh sangat menegangkan karena jujur saja, ia takut terkena sabetan sarung atau tidak sengaja terkena lemparan barang-barang yang mereka gunakan. Memikirkannya saja ia sudah bergidik takut. Dari sudut matanya, Clara bisa melihat ada 3 kepala yang menyembul dari arah tangga. Saking ricuhnya sampai mereka tidak sadar kalau sudah ada 3 guru yakni 1 guru BK dan 2 guru yang super duper galak, Bu Lena dan Pak Ikhsan.
"Aline, yuk kita ke kelas. Aku takut kena."
Aline menggeleng sambil mengajakku lebih dekat ke arah perbatasan tembok, "Bentar lagi selesai. Aku mau liat yang menang si Renda anak kelas 3A atau Joy yang dari kelas 3C."
"Yaudah kamu aja yang disini ya, aku takut. Tuh udah ada guru juga."
Clara sudah melangkah namun kembali ditahan oleh sahabatnya. "Liat liat! Joy ngeliatin aku!" Seru Aline.
Lantas, Clara pun membalikkan badan dan mengedarkan pandangannya ke arah yang Aline tunjuk.
Ia bisa melihat Joy melihat entah ke dirinya atau Aline dan dari posisinya yang lumayan jauh, ia pun bisa melihat ada senyum kecil disudut bibir anak lelaki itu yang sedikit berdarah. Sontak, ia kembali melihat Aline yang sudah memerah mukanya.
"Hey, kita ini masih kecil. Nggak usah suka-sukaan dulu!"
"Biarin aja! Joy suka sama aku. Yeayyy!"
***
2005 - SD Kelas 4
"Clara, hari ini kita olahraga bareng kelasnya Joy loh!" Seru Putri, teman sekelasnya di kelas 4B.
"Iya, Put."
Clara menghela napas sembari mengambil pakaian olahraganya dan pergi ke toilet untuk ganti baju. Entah sejak kapan, tiba-tiba ada rumor bahwa Clara dan anak bandel itu "pacaran". Tidak tanggung-tanggung, satu sekolah tahu! Sampai guru-guru dan cleaning service pun tahu dan me-labeli mereka sebagai pasangan.
"Joy, sini!"
Sontak kepalanya mendongak ketika mendengar kata "Joy" dan saat itu juga ia menyadari bahwa ia mungkin akan berpapasan dengan Joy dan ya benar saja, pandangan mereka bertemu. Clara merasakan perasaan yang agak aneh, yang belum ia rasakan sebelumnya.
"Apasih kutu kupret! Berisik lo." Marah si Joy kepada temannya yang Clara lupa namanya, tapi tatapan mereka masih bertemu sampai Clara jengah sendiri dan menundukkan kepalanya beberapa detik sebelum kembali melanjutkan ke toilet.
***
2006 - SD Kelas 5
"Happy valentine, Monic!" Seru Vino di depan pintu kelasnya. Vino memberika satu bucket dengan berbagai macam bunga di dalamnya dan juga beberapa cokelat mewah.
Clara yang masih sibuk memakan bekal makan siangnya pun mendongak. Wih, sudah sampai tahap itu mereka rupanya, komentarnya dalam hati. Jadi, Monic dan Vino itu sudah terkenal semenjak kelas 3 bahwa mereka sudah pacaran dari dulu hingga saat ini, selain itu rupa mereka yang rupawan juga yang menjadikan mereka berdua cukup terkenal atau populer dan mereka juga dari kolongan anak berada, lengkap sudah status mereka yang "sempurna".
Clara melirik ke arah samping kirinya, di mana ada Bu Lena, wali kelasnya yang tengah mengoreksi hasil ulangan matematika kelasnya tadi pagi. Kok nggak ada respon apa-apa ya?, komentarnya lagi.
"CLARAAAAAA." Teriak Aline disusul sambil berlali kencang ke arahnya yang berhasil membuat Clara terkejut.
"Tau gak? Tau gak? Katanya Joy mau kasih kamu hadiah Valentine!"
Clara memukul lengan Aline. "Diem! Lin, ini..."
Clara mengarahkan dagunya ke arah Bu Lena dan melanjutkan kalimatnya dengan pelan. "Ini di kelas dan ada Bu Lena. Jangan aneh-aneh kamu."
"Ih, aku beneran loh! Tadi aku liat sendiri." Yakin Aline. Namun Clara menggeleng pelan. Ya, sudah dia akui bahwa hasil cemoohan teman-temannya sejak lama—yang entah dari siapa dan kapan itu—berbuahkan hasil, Clara jadi suka beneran sama bocah bandel itu tapi hanya sebatas suka dan dirinya saja yang tahu. Kalau Joy? Dia sama sekali tidak tahu.
"Yaudahlah, kamu nggak asik ih."
Sepeninggal Aline, Clara yang sudah selesai makanpun membereskan tempat bekalnya namun, lagi-lagi terganggu karena ada seseorang yang membuka pintu kelasnya dengan kencang sehingga pintu tersebut membentur dinding.
Seketika Clara sulit bernapas. Ini belum pernah terjadi sebelumnya... jantunganya berdebar dengan cepat. Joy berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, seperti mencari seseorang. Ketika pandangannya berhenti padanya, dengan cepat bocah itu berjalan dan sampai tiba di depan Clara, Joy menaruh satu bungkus kecil yang dililit kertas kacang—yang biasa orang gunakan untuk membungkus buku tulis—lalu berkata.
"Ini buat lo."
Kemudian bocah laki-laki itu pergi begitu saja. Dia berhasil membuatnya bingung setengah mati. Apa maksudnya dia kasih ini?, tanyanya dalam hati.
Pandangan Clara pun mengedar ke dalam ruang kelasnya yang hanya ada dirinya, Bu Lena yang saat ini menatapnya dengan senyum kecil, Ditto—adik kelas yang suka bermain di kelasnya—dan juga empat teman lainnya.
"Udah terima aja, Ra." Saran Bu Lena.
Sontak semburat merah menjalar dipipinya yang putih mulus.
"Cieeeee Clara dapet cokelat dari Joy!" Seru Ditto.
"Ih dieeemmmm!" Teriaknya. Sungguh malu dan tidak dapat diprediksi.
Selama masa "salah paham" antara dirinya dan Joy, tidak sekalipun mereka berinteraksi diluar pertemuan yang tidak disengaja, seperti tidak sengaja berpapasan di lorong sekolah, tidak sengaja bertemu saat salah satunya masuk ke kelas mereka, atau berinteraksi saat pelajaran olahraga atau ketika bertemu di kantin atau lainnya.
Lalu tiba-tiba ini? Atas dasar apa Joy melakukan itu semua?
Clara tidak berbohong, ada rasa hangat tersendiri dihatinya yang selama ini tanpa dia sadari bahwa dia iri dengan Monic dan Vino. Dia ingin punya "pacar" juga, bahkan Aline saja katanya sudah pacaran dengan teman sekelas Joy yang namanya Lingga. Ia sangat senang karena Joy memberikan hadiah Valentine ini yang walaupun bungkusnya hanya dari sampul buku dan ada stiker yang biasa orang gunakan untuk menulis nama lengkap dan nama mata pelajaran, namun bocah bandel itu menuliskan ini.
Untuk : Clara
Dari : Joy
Titik dua-nya pun berbentuk love. Duh, jadi semakin suka kan jadinya, risaunya.
Setelah beberapa saat hanya sibuk menatap "hadiah" ini, tatapannya kembali ke arah pintu dan sialnya, Joy masih di depan sana—agak jauh dari pintu dan karena posisi duduknya persis berhadapan dengan pintu maka hanya dialah yang bisa melihat sosok itu masih berada disana.
Joy menyunggingkan senyum kecil kearahnya yang berhasil membuat pipinya semakin memerah. Saking malunya, dia sampai menunduk dan menutup wajahnya ke atas meja dengan tangan kiri sebagai tumpuan dahinya. Tangan kanan memegang dada disebelah kiri, tepat di jantung.
Rasanya jantungnya berdebar dengan kencang sekali.
Gawat.
Carlo.I inhaled from my cigarette, watching the smoke float into the air. I've been attempting to rid myself of this anger that's been consuming me, but unfortunately, my efforts have been in vain. All of Zeke's words, his act of betrayal, and the secrets he kept—I never expected him to do something like this.I would have killed him yesterday if Catrina's screams hadn't alerted the others to come. It took Jonah, Alex, and two other warriors to separate me from Zeke.I had already injured Zeke when they finally succeeded in separating us. As blood trickled from the deep gash I inflicted on his neck, dangerously close to his veins, I almost killed him..."Let me kill him," I growled, giving a warning that if they interfered, I might not hesitate to kill them too."What happened? Alpha, we didn't mean to interrupt or interfere, but...you could have killed him!""Just let it be. He deserved it," I answered.My gaze was sharp at Zeke. He didn't say anything. Of course, he had no explanat
Catrina."Is everything alright? I saw two wolves jump to you from the direction of the forest." Zeke and Carissa hurriedly approached us, catching our attention. "Yes. There's nothing to worry about." Carlo answered. "They're just rogues and their pups around here, but Catrina senses that the female is pregnant. So, it seems like we'll be welcoming a new member to our pack soon." Carlo's sentence brought a comforting feeling to my chest, as he genuinely considered my suggestion, which I truly appreciated.'Thank you so much,' I smiled and said through our link.'Anything for you.'Carissa grinned, mirroring Zeke's proud expression. He turned to me and exclaimed, "Cat, you're a true Luna that any pack would be lucky to have! Not only are you powerful, but your attention to detail like this will provide them with a feeling of safety.""Thanks, that was so kind," I said to him.I noticed Zeke and Carlo exchange glances, and I realized that they were communicating through the link. Ze
CatrinaI sensed Carlo's presence in the dining room without even glancing at the door, as his intoxicating smell wafted towards me. I immediately rushed towards him, and he pulled me closer by my waist. We kissed, savoring the moment without any sense of urgency. The way he kisses me and expresses his emotions always brings me so much joy and makes me feel incredibly loved. He didn't just kiss me when he wanted sex."The food is ready..." Mathilda announced, capturing the attention of the men.There are also some warriors, Carlo's closest confidant, who brought along their mate. Fortunately, we prepared a generous amount of food, so it seems we'll be able to enjoy a delightful meal this morning. "Come one, come on.""I'm already so peckish," Jonah murmured.Carlo invited the others to take a seat. They promptly made their way to the dining table and began helping themselves to the delicious spread of food."Invite Edna to join too." Carlo said to an Omega, then asked me, "Is Lacie aw
Catrina.Three days later...After freshening up and changing my outfit, I made my way to the kitchen, drawn by the joyful sounds of laughter and conversation. Today was a vibrant morning, with the sun shining brightly. From the open window, the air carried the delightful fragrance of flowers from the garden and the mouthwatering aroma of cooking from the stove.Carissa stood next to the stove and seemed to be stirring something in a pot. It must be a soup—a flavorful and aromatic soup that is full of richness..."I already have a feeling it will be really good." I walked over.Edna looks after Lacie in the living room. Morea glanced at the oven, noticing the cake batter she had recently placed inside. It seemed she had planned to bake a cake this morning. Meanwhile, Mathilda set up multiple utensils and placed them neatly on the dining table."Let me help," I offered, retrieving a sleek bowl from the cupboard and placing it on the dining table."Didn't I mention that you could come






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰더 하기