LOGINWelcome to the bottom of hell, leave all your dreams and hopes outside. You won’t need them anymore, once you’re in, you’re in for life, how many people have gotten into hell and got the chance to get out ever again. That was Eden's life, until they came in, until they saved her from the bottom of hell, turn out there was a line out of there, they turned her life into a literal Eden. But not all sweet things last forever, do they? Enjoy their ride of ups and down and their relationship. This is a CGL story, you've been warned. Apologize for any misspelling or Grammar mistakes.
View MoreKAMU YANG KUCINTAI
Part 1 Ikut denganmu? "Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan. "Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe. Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu." "Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik. "Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digenggam dengan kedua tangannya. Wajah itu terlihat begitu resah. Kakak tirinya itu tidak pernah bicara kasar. Tapi matanya selalu mengikutinya. Di meja makan, di lorong rumah, bahkan dia seperti berdiri di depan pintu kamarnya saat malam sudah larut. Kimmy pernah cerita pada sang mama. Tapi wanita itu bilang, Kimmy terlalu berlebihan. Padahal Arsel itu sopan dan pendiam. Bagi Kimmy, pria seperti itu bisa saja menjadi predator yang bersembunyi di balik wajah tampan, kemeja rapi, dan senyum sopannya. "Mereka keluargamu. Lebih aman bersama keluarga daripada dengan orang asing, Kim. Belum tentu aku terus baik seperti sangkaanmu." "Kita bukan orang asing, kan? Kita sudah berteman sejak kecil lagi. Sejauh ini aku aman bersamamu." Hening. Kimmy memandang Langit. Tapi pria itu mengalihkan perhatian pada suasana jalanan di bawah kafe sana. Kemacetan di tengah kota Surabaya tampak seperti aliran lava merah yang membara. Rahangnya yang tegas tampak menengang. Langit ingin lari dari sangkar emas. Ia muak dengan intrik bisnis ibu tirinya, muak dengan kekuasaan yang dibangun di atas air mata orang lain. Baginya pergi dari rumah adalah kematian baginya, tapi membawa Kimmy pergi adalah perjudian nyawa. Keluarga Fardhan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari Kimmy hingga ke lubang semut sekali pun. Ia seperti halnya Kimmy. Papanya menikah lagi dengan rekan bisnisnya. Dan wanita itu penuh ambisi untuk menguasai semuanya. "Mas Langit, hendak pergi ke mana?" Pertanyaan Kimmy memecah lamunan berat lelaki itu. "Jauh dari sini," jawab Langit terdengar parau menahan sebak dalam dada. Dia tidak ingin pergi. Tapi memang tidak punya pilihan selain menjauh. Ia ingin merengkuh Kimmy, memberinya perlindungan, tapi hidupnya sendiri entah bagaimana setelah pergi dari keluarga. "Di mana?" Kimmy mendesak. "Ke tempat di mana aku nggak dikenali, Kim. Ke tempat di mana aku cuma Langit, bukan pewaris apa pun." Kimmy menggeser duduknya, merapat ke meja. "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku bisa masak, aku bisa bersih-bersih, aku nggak akan merepotkan. Nanti aku juga akan bekerja, jadi nggak bergantung hidup padamu. Selain Mama, kamu yang kupunya." Langit memandang Kimmy. "Aku juga nggak akan menjadi penghalangmu jika suatu saat nanti Mas Langit menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi. Bil-bilang saja aku adikmu." Suara Kimmy bergetar dan dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Kimmy menarik napas sejenak. "Aku nggak tahan di rumah itu, Mas. Salsa juga terus-terusan menyindirku. Dia bilang aku dan Mama hanya benalu yang mau merebut harta papanya." "Harta ini benda mati yang bisa membuat manusia menjadi iblis, Kim." "Tapi aku dan mamaku bukan iblis, Mas." "Maaf, aku tidak mengataimu begitu. Aku bicara tentang wanita lain." "Iya. Aku ngerti." "Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Aku pergi dan nggak tahu bagaimana nasibku nanti. Bisa jadi aku mungkin akan tidur di pom bensin, atau di emperan toko." Mendengar itu Kimmy tersenyum tipis. Tidak mungkin seorang Langit tak punya uang. Sekalipun dia bilang pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Ia lebih baik tidur di aspal bersama Langit daripada tidur di kasur empuk tapi harus mengunci pintu karena takut Arsel masuk. Namun ia sadar, tidak bisa memaksakan diri karena Langit mungkin juga ribet kalau dirinya ikut. Apalagi dia hanya teman bagi pria itu. Teman yang suka merepotkannya. "Bertahanlah, selesaikan dulu kuliahmu. Tinggal setahun lagi, kan?" ujar Langit yang akhirnya membuat Kimmy mengangguk lemah. Ia menyerah. 🖤LS🖤 "Baru pulang berkencan, ya? Jam segini baru nongol. Wangi asap jalanan banget sih, nggak cocok sama parfum ruangan di sini," ejek Salsa. Saat Kimmy masuk lewat pintu samping rumah. Gadis itu duduk bersedekap di sofa kulit impor. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Matanya yang dipulas eyeliner tajam memindai penampilan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa perempuan jalanan yang salah masuk ke rumah mewah. Kimmy memilih membisu. Ia menunduk sambil merapatkan jaketnya dan terus melangkah melewati ruang tengah secepat mungkin. Namun langkah Salsa lebih gesit. Ia berdiri, menghalangi jalur menuju tangga. "Ditanya itu dijawab, Kim. Mamamu nggak pernah ngajarin sopan santun kalau masuk rumah orang?" desis Salsa. "Belagu banget. Numpang di sini tapi nggak mau jawab saat ditanya tuan rumah. Harusnya kamu sadar posisi, dong. Kamu dan Mamamu itu cuma tamu yang kebetulan dapet 'tiket gratis masuk ke sini' karena Papa merasa kasihan." Kata-kata itu menghujam ulu hati Kimmy, tapi ia hanya mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Tidak ingin memicu keributan yang akan membuat sang mama menasehatinya panjang lebar. Dengan gerakan menghindar, Kimmy memutar tubuh dan menaiki anak tangga satu per satu. "Jangan pikir karena Papa baik, kamu bisa seenaknya di sini!" teriak Salsa dari bawah. "Kamu itu nggak lebih dari benalu, Kimmy!" Kimmy menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang sesak nyaris meledak. Kalau ada orang tua mereka, Salsa tidak akan berkata demikian. Pasti bersikap sok manis. Makanya sang mama tidak percaya dengan cerita Kimmy. Dan sudah dua hari ini, sang mama ikut suaminya ke luar kota. Kimmy benar-benar sendirian di rumah itu. Lantai dua terasa lebih sunyi, tapi suasananya jauh lebih mencekam. Kamar untuk anak-anak ada di lantai dua semua. Kimmy ingin pindah ke bawah, tapi tidak diperbolehkan oleh Pak Fardhan. Papa tirinya. Untuk mencapai kamarnya, Kimmy harus melewati balkon ruang tamu atas. Dan di sana, di bawah temaram lampu gantung, sosok tinggi tegap itu berdiri. Arsel menoleh dan memandangnya sekilas. Namun tatapan itu tajam. "Dari mana kamu?" Next ....Eden POV.It's summertime, I was finally allowed out of the house when I wanted to be, I haven't shifted yet, but the doctor said the fresh air could help me do it, I was scared of doing so, even with daddy being my daddy again. Today Beta Mai dressed me in a knee-length flowy white dress, she had my hair styled with ribbon in them. I finally got my blue strand in my hair, it wasn't as cool as Arlo's colored hair but I loved it too. Tristan and daddy were going to play with playing me outside today, they promised, but first breakfast, I'm back to mostly big girls' food. Daddy cut my food for me but I can eat like a big girl finally, today's breakfast was waffles with strawberries. Daddy groaned while I clapped happily, this is my favorite. "She's wearing white" daddy says again making me giggle, I do tend to get my clothes dirty and do a mess."Good luck bro" Tristan says with a laugh sitting on my other side, he let me taste his coffee once, not that good. "Come here princess" da
Nathaniel POV.The guilt was killing me, she's afraid of me, every time I get too close she'd scream and yell. Arlo told me he tried to speak to her but she ran away, Tristan refuses to even open the subject with her, saying she's too fragile. If I keep failing her, Tristan would have to become her daddy, he'd do a better job than I ever did. The pain from losing my mate was still there, lingering in the back, the thing that hurt me the most was Eden rejecting me, an Oméga rejecting her alpha, it was unheard off. I don't want anyone to feel the pain that I'm feeling, it's crushing my soul, crushing my heart, making breathing hard. Not wanting to seem weak anymore, I tried to swallow my pain, I'd hide my tears away. My wolf would howl sometimes, letting off some of our emotions out, sometimes others would join me howling, other's it's just me and the moon. Eden wasn't shifting, dad told me how worried he is about it, but if she doesn't wanna shift that's okay, she need some time to
Eden POV.They all say big silly words, most of the time the words make me smile or giggle, I haven't talked again, I don't want to ever talk again, talking is no fun. I decided to keep my mouth shut, the ghost still hunts me from time to time, it'll come in the room, he'll cry, he'll try to hold me, but I was too scared of him. I sleep with momma and dad evey night, I only eat soft food, the lady with white gown told them the trauma had me to regress to infant years. Whatever that means, momma asks me if I need to pee all the time, I can walk on my own, I prefer being held, I still use the bathroom although sometimes I get accidents and would end up wetting my pull-ups. Everyone is nice to me, they always were but now they are extra nice, dad tried to make me shift. He tried talking, threatening, making me stand in timeout, he even tried to order me with his alpha voice, but my wolf didn't want to come out, she was scared. They think I don't understand their words, at first I didn
Eden POV.This was much worse than everything I ever went through, it wasn't the physical pain, the physical pain was something I'll be used to, something I can manage but the emotional one. They kept telling me that Nathaniel doesn't want me, Gabriella brought me here under his orders, saying he got enough from me. That was what almost killed me, being hated, being rejected by him, Gabriella came back again, she said the worse news I could ever hear, the last thing I ever wanted to be, she told me the worse news in the whole world. "Nathaniel died" she says with tears in her eyes, she was serious, she came back here because of the pain, the pack kicked her out after he died. "He c..c...ca...ca...." I couldn't finish the sentence, he can't be dead, that's what I meant to say but words wouldn't leave my mouth although I tried to talk, to say it. "He did! He died cause of you!" Gabriella kept saying that over and over again, I didn't understand how it was my fault, but I believed he
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.