LOGINWhat happens when two worlds collide? Lycan Alpha King Xander Alston and his twin brother Xavier have been searching over a century for their mate. What happens when they find out the the Goddess has paired them with not one but two mates? Royal Mermaid Mates! Can the possessive brothers and their beasts find a way to protect their fearless powerful mates from the impending war that was prophesied long before either one of them were born? "Twins shall be born, separated at birth. Together they are the most powerful the sea has ever seen. When they find their other halves the war will begin, Royal with Royal, Land with Sea, together they become One Entity. Heartache and pain will test them along the way, but Love will win and they shall gain. If they succeed the future will Reign. Their lost and pain will pave the way". Will they be able to save their Kingdoms? To save the supernatural world as they know it? Join Xander, Xavier, Selene, and Naha in book one of The Royal Hybrid Series. An Adventure and Fantasy world of love, passion, truth, and destiny. A story sure to keep you on your feet and on the edge of your seat.
View MoreJuli, 2011
~•°•~"Rindu, Ibu minta maaf tidak bisa memberimu izin membawa ijazah ini pulang. Silakan kamu sidik jari dan catat nilainya, ya. Supaya bisa diperlihatkan pada ibunda di rumah."Aku mengulum senyum mendengar penjelasan Ibu Marni, Kepala Bagian Kurikulum. Di atas meja tepat di hadapanku, terhampar ijazah sebagai tanda selesainya pendidikan di sekolah ini. SMAN 01 Gunung Sandi.Harmoni Rindu Umayyah, tertulis dengan huruf besar dan sedikit timbul. Sebelum menempelkan sidik tiga jari di dekat pas foto, aku raba sedikit kertasnya. Ada harapan yang mengalir melalui pori-pori kulitku rasanya."Sabar ya, Nak. Pasti akan ada jalan untuk membawanya pulang." Bu Marni terdengar menguatkan.Aku menatap sebentar ke arah Bu Marni. Manik-manik kaca terbentuk di sana. Bukan tanpa alasan ijazahku sampai tertahan. Tunggakan uang sekolah, tidak bisa ditolerir lagi."Masih untung ananda diizinkan ikut ujian. Namanya sekolah memang butuh biaya, tidak ada yang gratis." Kalimat itu kuterima saat mengambil nomor ujian. Aku tahu maksud petugas TU bagian keuangan itu baik. Sepertinya aku saja yang baper. Terlalu mengambil hati. Hingga sampai detik ini, jika teringat beliau berkata begitu ... ada desir yang entah apa namanya.Tak patut aku marah pada beliau. Semuanya murni kesalahan diriku. Aku yang tidak sanggup mencicil tunggakan uang sekolah selama setahun berakhir. Maka tak lantas harus jengkel dengan cara petugas TU memberikan pelayanan.Bapak sudah pergi setahun lamanya. Sejak saat itu, kami tertatih-tatih untuk bertahan. Pernah aku ingin berhenti sekolah, tapi Emak memukuliku dengan ikat pinggang milik Bapak. Rasanya sakit dan perih. Setelah itu tidak berani lagi aku mengungkit soal berhenti sekolah."Kasihan sekali Rindu ya, Bu Marni. Padahal nilainya paling tinggi loh di jurusan IPA. Nomor 2 terbaik di sekolah kita. Nomor 6 terbaik setingkat kabupaten. Masya Allah. Andailah aku ada rezeki lebih, mau aku menguliahkan anak itu." Samar-samar kudengar pembicaraan Pak Huspri kepada Bu Marni."Betul, Pak. Saya juga prihatin sekali. Rindu itu anak baik. Selama tiga tahun sekolah di sini, tidak pernah ada rekam jejak jeleknya. Nantilah kasus berat, datang terlambat saja dia tidak pernah. Semangat untuk bersekolah itu tinggi. Nasibnya saja kurang beruntung."Bukan maksudku menguping pembicaraan guru. Tidak sengaja terdengar ketika hendak meninggalkan ruangan tersebut. Diam-diam ada yang nyeri di dadaku. Barangkali betul apa yang dikatakan oleh Bu Marni. Nasibku saja yang kurang beruntung.Secarik surat berisi keputusan beasiswa ada dalam genggaman. Tinggal memilih YA atau TIDAK untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ternama di kota Padang. Di saat orang-orang berjuang dengan persaingan yang ketat untuk bisa kuliah di sana, aku justru diundang agar berkuliah tanpa tes. Tidak hanya itu, pilihan jurusannya juga favorit semua orang.Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas. Menjadi mahasiswa undangan, diberikan beasiswa penuh. Akan tetapi, apakah jalan itu bisa aku lalui?Ingin rasanya memberitahu Emak kabar bahagia ini. Hanya saja aku khawatir, kabar ini justru akan menjadi pemberat pikiran beliau. Emak pasti akan memaksa agar mengambil kesempatan itu.Sebelum pulang, sengaja aku mampir ke pusara Bapak. Sudah sebulan lebih aku tidak berkunjung ke rumah peristirahatan beliau. Ada rindu di hati, seperti nama yang beliau sematkan untukku.Rumput mulai meninggi di tanah makam bapak. Daun-daun kering menumpuk cukup banyak. Sudah lama aku tidak datang. Semoga bapak tidak marah."Pak, apa kabar?"Daun-daun kering yang menutupi nisan, aku singkirkan. Rumput-rumput liar aku cabut satu persatu. Aku merapikan kembali batu-batu yang bergeser letaknya."Rindu bawa kabar baik, Pak. Pertama, alhamdulilah akhirnya sekarang Rindu sudah tamat SMA. Kedua, alhamdulilah lagi karena nilai Rindu bagus semua, tertinggi nomor 2 di sekolah. Tetapi, maafkan Rindu belum bisa membawa pulang ijazahnya.Perlahan tapi pasti, mataku memanas. Beginilah rasanya teringat akan bapak, tapi hanya bisa bicara sendiri sambil menatap nisan yang bisu. Ada yang meremas hati ini, pedih."Oh ya, Pak. Rindu dapat undangan ke UNAND. Kata guru di sekolah ini seperti tiket untuk ujian masuk ke sana. Tinggal ikut ujian saja, Pak. Peluang kelulusan juga 70% kurang lebih."Tidak, aku tidak boleh menangis. Kata Emak, menangis bisa memberatkan bapak di sana."Dulu bapak pernah bilang, Rindu harus jadi dokter. Biar kalau bapak sakit, ada yang obatin. Sekarang langkah menuju harapan bapak itu terpampang di depan Rindu. Entahlah, rasanya bingung, Pak. Rindu takut menjadi beban untuk Emak."Tanpa terasa sudah rapi lagi makam bapak. Tidak ada rumput liar dan dedaunan kering. Batu nisan bapak sudah aku lap bersih dengan tisu. Cantik lagi rumah bapakku."Rindu pamit dulu, Pak. Lusa insya Allah mampir lagi."Aku munajatkan alfatihah, sebelum beranjak meninggalkan pusara. Meski begitu saja yang aku bisa, bicara sendiri pada batu-batu, sudah membuat sedikit rasa lega. Hasrat yang tadi memenuhi rongga dada, terlepaskan barang seadanya.Dari pusara, aku tak langsung pulang. Sengaja aku mampir dulu ke rumah kakakku satu-satunya, Kak Kasih. Kami hanya dua bersaudara. Jarak usia kami terpaut jauh. Kak Kasih sudah 27 tahun, aku baru 18 tahun.Dia tinggal tidak jauh dari rumah Emak. Sengaja mengontrak, ikut suaminya. Katanya supaya tidak ada kesan-kesan tidak mengenakkan. Setiap hari ia biasanya datang mengunjungi Emak.Sehari-hari Kak Kasih bekerja sebagai buruh harian. Membersihkan bawang merah punya juragannya. Diupah berdasarkan banyak kilo yang terselesaikan. Sambil menjaga anak-anak, Kak Kasih setiap hari bergelimang dengan daun-daun bawang yang sudah kering."Assalamualaikum, Kak.""Walaikumsalam. Dari sekolah, Rin?""Iya, Kak. Banyak kerjaan ya, Kak. Boleh Rindu ikut?""Janganlah, ini sedikit namanya, Dek. Besok kalau masuk bawang baru, bolehlah ikut, ya. Ini nanggung juga.""Bener ya, Kak.""Iya, Insya Allah. Kamu habis menangis, Rin? Sudah makan, kalau belum makanlah dulu. Kakak ada masak orek tempe tadi.""Nanti Rindu makan."Kak Kasih menghentikan kegiatan. Kini dia menatap padaku lekat. Rasanya sekali lagi ingin menangis keras, membagi rasa kerinduan pada bapak padanya. Aku tahan, aku tahan, Kak Kasih jangan sampai ikut sedih."Kenapa, Rin?" lirihnya."Nggak ada apa-apa." Suaraku mulai bergetar dan tenggelam."Apa, Rin?""Nggak ada, Kak." Kuhela napas sedalam-dalamnya."Ceritakan, Dek!""Rindu dapat undangan, Kak. Un--undangan kuliah ke-dok-te-ran di UNAND." Aku takut-takut menyelesaikan kalimatnya."Masya Allah, Rindu!" pekik Kak Kasih menghambur memelukku. "Masya Allah.""Alhamdulilah, Kak." Aku telah menangis juga."Emak sudah tahu? Masya Allah, betapa bangganya bapak kita melihatmu, Dek. Kakak sampai bingung mau bilang apa. Dek, ayo kita ke Emak. Secepatnya Emak harus tahu kabar bahagia ini."Kak Kasih segera berdiri. Merapikan roknya sebentar. Menutup pintu dan menggendong anaknya yang bungsu. Satu tangan lagi menggandeng tanganku. Kak Kasih tidak peduli dengan aku yang keberatan dengan rencananya."Kak, tunggu.""Tunggu apalagi, Rin. Buruan."Jangan kasih tahu emak dulu, Kak. Rindu belum siap. Hanya bisa menolak dalam hati. Aku kalah melihat antusias Kak Kasih.~•°•~To be continue!Chapter 40Epilogue8 Years LaterSelene and Nahla were preparing breakfast for their mates and children. Loralei and Lennox were sitting at the table waiting for breakfast to be served. It has been eight years since the war and battles took place. Silver Moon has been peaceful since then. Xander and Xavier with the help of Shane and Theo still train the warriors vigorously. Lee has taken on most of the responsibility when it comes to their Companies and Business’. The quad children have been training for a few years now, their bodyguards teach them basic combat and their father’s teach them the more aggressive forms of fighting. Selene and Nahla teach the children the art of weaponry and how to master their gifts. They are extremely skilled and will be great leaders when their time comes. “Adonis, Ares where the hell are you two!?“ screamed Xavier.“Nahla, when I find your sons they’re in big trouble!” screamed Xander. Their mates ran into the kitchen, their hair dyed green. The
Chapter 39Tears Of A MotherPrince Arno, Adrian’s younger brother had a electrogenic shield surrounding his family. The King, Queen, Adrian, and Lunan were being held hostage by Arno, but why? Arno had yet to notice that Selene was several feet behind him.“It’s nothing personal brother, I’m the better choice for Bloom, my whole life I’ve lived in your shadow. Always second choice, but Jasmine helped me understand and put it into perspective. I’m the better choice, I deserve to be King! But your precious Selene and her mates had to kill her!”, Arno was ranting out loud. The shield had made his family sleep, so he was speaking to no one in particular.“Who the hell is Jasmine and when did I kill her?”, Selene thought to herself.Selene quickly electrocuted Arno until he passed out, using her geokinesis, tree roots secured him in place, he was unable to move.“Nahla, bring Xander and Xavier now! The bodyguards are to stay with the children”, she mind linked.Nahla could hear the urgenc
Chapter 38The pack members who aren’t fighting are now in the safe house, Nahla and Sienna are getting the kids settled. The quad babies were asleep and Ava keeps calling for her “my”. Sienna is trying to explain to her daughter that she needs to let Lennox sleep, Ava is finally distracted with some books that her mom brought. “Why do people feel the need to attack at night?”, Sienna asked out loud. “Probably because, they assume the night shift won't be as alert. Which is an amateur move. Most packs, covens, and pods have their best warriors on night patrol”, Nahla answered. Sienna nodded her head in understanding. “So their not trying to be mysterious?” Sienna joked and Nahla chuckled.Nahla looked at the children and Ava was finally asleep, she raised her hands and created a shield over them. Now only she can grab the kids. “The shield is like a cocoon, no one can get in and because, I’m the maker I’m the only one who can”, Nahla explained. “What happens if I try to grab the
Chapter 37Glamour“Alpha, Jared, Shane, do not take Ava out of your sight! Khloe just glamoured herself to look like Sienna!”, Lachlan roared through mind link. “You saved my daughter, I owe you my life”, Shane said. “Meet us at the child care center”, Xavier said. “The fake Sienna just arrived at the child care center”, Jared snarled, his wolf Bronx was fighting for control. “Control Bronx and keep the bitch busy, we’re on our way”, Xander ordered.Lachlan ran towards the daycare, his wolf Bronx was fuming, he was out for blood. Xander must have informed Mariana because she was here as well. They walked into the daycare just in time to hear the fake Sienna yelling at Jared. “Give me my daughter, what is your problem!”, she yelled. Ava had been crying holding onto Jared, “No! Bad! Bad!”, she kept repeating. “What’s the problem”, Xander boomed, startling them. “Alpha, Jared won’t hand my daughter over to me”, she said confidently. “Is that so?”, he raised an eyebrow. “Jared
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews