LOGINTurvi Ahuja is a girl who only has two dreams one to become a famous dancer another is to marry Aashank Raichand whom she love. Her life was perfect but as we know nothing is perfect or nothing stays perfect for long.Join the journey of Turvi to know who destroyed her perfect life how love destroyed her
View More"Tuan Guru! Tuan Guru! Tuan Guru! dimana engkau berada tuan Guru," teriak Bajulgeni sembari menyingkirkan reruntuhan padepokan utama.
"uhuuuk! uhuuuk! aku disini bajulgeni," jawab Guru Mada sembari melambaikan tangan diantara reruntuhan padepokan."Syukurlah Tuan Guru selamat. Aku sangat senang sekali," ucap Bajulgeni sambil meneteskan air mata kepiluan.Tuan Guru Mada merupakan guru besar dari Perguruan Bela Diri Raja Malam, sedangkan Bajulgeni merupakan Asisten sekaligus murid terbaik di padepokan. Awalnya keadaan Padepokan masih baik-baik saja, sampai kemarin malam padepokan diserang oleh segerombolan orang yang tidak dikenal. Diperkirakan mereka adalah pasukan musuh yang hendak mengambil alih kekuasaan di Kerajaan Nusa."Apa sebenarnya yang telah terjadi Bajulgeni?" tanya Guru Mada."Kemarin malam ketika latihan rutin dilaksanakan tiba-tiba terdengar suara tembakan di tempat latihan. Saya yang pada waktu itu bersama Tuan Guru yang di padepokan seketika panik, dan langsung pergi ke tempat latihan sendiri, karena pada waktu itu Tuan Guru juga sedang beristirahat, saya merasa tidak enak, kalau membangunkan Tuan Guru. Ketika saya melihat tempat latihan dari gubuk pemantau alangkah terkejutnya saya ketika mendapati para murid dan guru-guru telah tergeletak di atas tanah," jawab Bajulgeni."Apa kau melihat pelakunya?" sambung Guru Mada. "Dari menara pemantau aku hanya melihat orang-orang berbadan besar yang mengenakan pakaian dari wol dan sepatu dari kulit, anehnya lagi aku tidak mendapati orang-orang itu membawa senjata, mereka hanya berbekal tangan kosong saja," ujar Bajulgeni."Setelah itu, apa yang terjadi?" tanya Guru Mada kembali."Saya sontak terkejut, karena tiba-tiba gubuk pemantau roboh karena diserang, saya yang pada waktu itu tidak mempunyai persiapan apa-apa langsung tersungkur ke tanah dan wajah, tangan, punggung, serta kaki saya dipukul habis-habisan oleh orang-orang berbadan besar tersebut," jawab Bajulgeni."Jadi mereka bermaksud meninggalkanmu dan membiarkan kamu mati secara perlahan-lahan, begitu?" Tanya Guru Mada."Tidak Tuan Guru, mereka juga melempar saya ke sungai sebelah tempat latihan. Kemudian mereka melemparkan sebuah bongkahan kayu yang lancip tepat ke arah dada saya, namun seperti biasa, saya selalu menaruh buku catatan di dalam baju, alhasil buku itu menyelamatkan nyawa saya," Jawab Bajulgeni sambil mengeluarkan sebuah buku kecil yang rusak dan sobek tidak karuan akibat terkena dorongan dari lemparan bongkahan kayu lancip."Lantas, mereka tidak curiga kalau kau masih hidup?" tanya Guru Mada keheranan. "Mungkin tidak guru dikarenakan sebelumnya tubuh saya sudah memar dan mengeluarkan banyak darah, jadi meski bongkahan kayu yang dilempar tidak mengenai saya tepat. Aliran darah yang terus keluar dari tubuh saya yang terus menggenang di sungai membuat mereka berpikir kalau saya sudah tewas," terang Bajulgeni.Setelah menceritakan hal yang dialaminya, Bajulgeni membantu Guru Mada untuk mencoba berdiri. Ia sangat berhati-hati membantu sang guru, karena ia melihat kaki sang guru memar penuh luka."Apakah Tuan Guru masih bisa berjalan?" tanya Bajulgeni dengan napasnya yang masih terengah-engah."Ya, kakiku hanya luka sedikit, tetapi tidak apa-apa, aku masih bisa berjalan," jawab Tuan Guru Mada sembari berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terluka berat akibat tertimpa reruntuhan."Kau sudah melihat keadaan semua murid dan para guru?" tanya Guru Mada."Sudah tuan Guru, namun tidak ada yang selamat diantara mereka semua, aku sangat bersyukur karena Tuan Guru selamat, aku sudah mengumpulkan jenazah mereka di tempat latihan," Jawab Bajulgeni sambil menunjukkan dimana letak jenazah para murid dan para guru."Baiklah, kita akan mengubur mayat mereka, tapi sebelum itu kita berganti pakaian terlebih dahulu dengan pakaian bersih yang masih tersisa," Tutur Guru Mada."Siap, laksanakan!" jawab Bajulgeni.Setelah membersihkan diri, Guru Mada dan Bajulgeni menyisiri hutan menuju tempat latihan, mereka terkejut bukan main melihat banyak pohon tumbang dan hewan-hewan juga mati akibat serangan kemarin malam. Sesampainya di tempat latihan tak henti-hentinya Guru Mada menangis, melihat teman-teman seperjuangannya mati mengenaskan. Selain itu Tempat latihan yang awalnya asri sekarang menjadi lautan darah. Segera Bajulgeni membuat sebuah liang lahat yang cukup besar di tempat latihan tersebut.Author's povIt says that time heals every wound, every scar but is it really healed or with time we just learn to live with it?Something like that happened with Turvi and Aaryav as well.They both left everything behind and started the journey of their life together from a new point but does it mean they forgot about the past? The answer is no. They didn't forget anything about their past but have learned how to pretend they don't remember anything.1 year and 3 months has passed since they decided to start everything from the start.They both have given their 100 percent in their relationship and it has worked out really well.Turvi is the best obedient wife that Aaryav wanted and Aaryav also has become a dream man for her…Aaryav still punishes her if she breaks any rules but those punishments aren't severe.
Author's pov Aaryav has come back immediately after he was informed that Turvi has asked him to come back as soon as possible.He was shocked but happy as well when he heard it.Turvi is waiting for him to return so she can tell him what she wants."Butterfly," Aaryav called Turvi when he saw her sitting near the window staring at the sea aimlesslyTurvi turned towards him and smiled a bit. And that was a real shock for him.After her miscarriage she has only cried nothing else. She didn't even look at him for once and isolated herself from him so this is something really new for him and unexpected as well."So finally you got time to be back for your wife?" Turvi asked him her words laced with sarcasm just like earlier time"It's not that butterfly. I just wanted to give you time to
Author's pov1 month has passed since that tragic incident. Turvi is only crying silently, nothing else.She isn't eating from time to time and that's bothering the maids.Sanya has left from here as her husband needed her back. Trisha is here and so are the doctors.They can't see Turvi like this in pain all alone. Turvi has tried to commit suicide as well but Aaryav saved her but didn't punished her as punishment can make her situation worse than it is already.He has left for some business 15 days after that incident. This incident hasn't bothered him much. But Turvi's suicide attempt has really pissed him off so he left for long time. He is normal other than that but Turvi cares less about him at the moment."Mistress please eat something. Master will be angry if he found that you hadn't eaten anything since morning. It's 1 pm right now."
Turvi's povI opened my eyes and closed them again. The light is irritating my eyes.I again open my eyes slowly trying to adjust with the bright light.I am in my room and few machines are attached to my body.I don't remember completely what happened last time but I only remember that I had pain in my lower abdomen and I was bleeding.Bleeding? My babies?I looked at my stomach and found it flat. No no it can't happen.."Aaryav! Aaryav where are you?" I screamed and started to cryMy babies! I can't live without them…"Butterfly you're awake." Aaryav said coming from outside"My babies what happened to them? Why is my bump not present? Why is it flat? Tell me." I asked him or better demanded from him"Calm down Butterfly, this
Author's povAaryav is sitting on the couch and looking intensely at his wife or I say slave who is getting treatment from the lady doctor who has tears in her eyes but she can't show it to the devil who is sitting in front of her.She know
Author's pov"What did you think butterfly? That escaping from me is that easy?" Aaryav asked and Turvi shook her head in no hurriedlyShe is tied in a chair right now in his basement."Then why did you dare to escape butterfly?
Author's pov3 months later"Mistress!" Trisha called Turvi but she didn't reply but just looked at her"It's time to eat your lunch." She informed and Turvi nodded mutelyShe tried to got up fr
Turvi's povI glared at him with pure hatred. What does he want from me now? Isn't he happy seeing me in this state? He should, right?"What do you want, Aashank? After sending me in this hell what the fuck you want from me? Or you're here to see my






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore