Share

Janggal

Penulis: Dwrite
last update Terakhir Diperbarui: 2022-07-21 16:48:42

Kamila menghela napas panjang, lalu menyambar kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah yang ada di depan.

"Jadi, ceritanya mereka mau balas dendam? Cih, nggak elegan. Mainnya keroyokan." Kamila mengedikkan bahu. "Dipikir aku takut ditinggal sendirian? Nggak layau, udah biasa. Lagian lebih enak juga begini. Aman, nyaman, dan ten--"

Kamila mematung diambang pintu saat melihat keadaan kamarnya yang benar-benar berantakan. Jejak air kotor yang dia ketahui berbau got tercecer di lantai bersama dengan beberapa pakaian yang tersebar koyak di beberapa bagian. Ranjangnya penuh dengan lumpur dan rumput taman. Dan yang semakin membuat Kamila geleng-geleng kepala, kunci yang tergantung di lemari pakaiannya hilang, kamar mandi dibiarkan terbuka dengan bau air seni yang menyengat hingga menyebar ke ruang kamar. Bahkan skincare dan bodycare-nya dibuat untuk menyumbat closet.

Kamila berlari kecil menuju balkon dan dibuat terkejut lagi saat melihat beberapa pakaian dalamnya dilempar ke kolam bere
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Perhatian

    "Sudah sedekat apa kamu dengan Revan? Setelah sebulan lalu aku melihat kalian berdua di Paris, lalu kemarin melihatnya mengantarmu membeli sepatu." "Pagi tadi, dia juga tiba-tiba mengirimkan surat resign tanpa alasan yang jelas. Apa ini ada hubungannya denganmu yang pergi ke sebuah vila yang ada di Puncak?"Kamila menelan ludah susah payah, sebisa mungkin dia mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang. Pertanyaan Wisnu jelas di luar perkiraan, apalagi Kamila juga baru tahu ternyata kembarannya saat itu pergi ke Paris bersama Revan. Hanya ada dua kemungkinan kenapa Revan tiba-tiba menghilang. Pertama dia dan Kalina memang ada hubungan, atau Revan pandai membaca situasi agar mereka tidak ketahuan bertukar peran. "Ekhmm." Kamila berdeham, lalu menegakkan tubuh menghadap Wisnu. "Bukannya Revan adalah asisten pribadimu? Seharusnya kamu yang lebih tahu! Jangan coba untuk lempar batu sembunyi tangan, Wisnu. Cuma karena kamu melihat kami beberapa kali bersama, bukan berart

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-22
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Mengibarkan Bendera Perang

    "Nya, kita beneran minta maaf tentang semalem.""Nggak butuh klarifikasi!" ketus Kamila sembari menghindari Cici saat menjemur pakaian dalamnya yang semalam tercecer di kolam berenang. "Saya sama Wati sebenarnya pengen bantu, cuma kita takut dipecat.""Bodo amat.""Ayolah, Nya. Jangan ngambek. Lain kali kita bakal usahain bantu semampunya," bujuk Cici seraya terus-menerus mengikuti pergerakan Kamila dari jemuran satu ke jemuran lainnya. "Nggak percaya.""Please, Nya. Kalau Nyonya mau maafin nanti saya bantu ngambil diem-diem laptop Nyonya yang diambil paksa sama si Kuyang waktu itu. Kan, di sana banyak data-data penting Nyonya."Deg! Segala kegiatan Kamila langsung terhenti saat itu juga. Dia berbalik menghadap Cici dengan sorot serius yang kentara. "Laptop? Diambil si Kuyang?""Iya. Kenapa tiba-tiba amnesia, sih? Tuh, laptop, kan sering banget Nyonya bawa ke mana-mana."Kamila menghela napas panjang. Asumsinya langsung melayang menghubungkan antara kecelakaan, kebencian, juga ra

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-22
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Menantang

    "Ee, eeh ... Nyonya mau ke mana?" tanya Cici saat melihat Kamila hendak kembali ke kamar. "Ganti baju.""Ngapain? Bukannya udah diperingatin sama Nyonya Besar kalau hari ini Nyonya Kalina nggak boleh keluar kamar," ingat Cici. "Larangan sama depan perintah bagiku, Ci. Lagian istri mana yang dengan tolol diem aja liat suaminya memperkenalkan wanita lain sama keluarganya seolah masih bujangan, atau baru menyandang titel duda," tegas Kamila sembari membusungkan dada. "Lah, bukannya nyonya yang selama ini diem aja?" celetuk Cici santai. Kamila menepuk dahi. "Dahlah, cape ngomong sama kamu mah, Ci." Tak mau memperpanjang perdebatannya dengan Cici, bergegas Kamila berlari kecil menuju kamar. Setibanya di kamar, dia memilih outfit yang terlihat paling elegan dan mahal. Lalu duduk di depan meja rias dan mematut diri dengan skincare dan make up yang baru dia beli menggunakan uang Wisnu. Terlihat di dalam cermin pantulan wanita dewasa yang sangat cantik dengan kulit kuning langsat. Wajahn

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-23
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Sesuatu yang Disembunyikan

    Teriknya Matahari siang ini sama sekali tak mengurungkan niat Kamila untuk menemui Revan di sebuah kafe, seperti janjinya dalam email pagi tadi. Mobil Mercy Biru itu membawanya ke Jalan Soekarno-Hatta dan berhenti di depan tempat nongkrong sederhana yang tak terlalu banyak peminatnya. Sembari mengunyah permen karet yang sudah memucat, Kamila turun dari mobil dan memeriksa penampilannya di kaca spion yang terpampang sebelum masuk ke dalam. Entah tujuannya apa. Kamila yang biasa cuek dengan penampilan, bahkan tak mengerti dengan dirinya sendiri.Seperti yang sudah dijanjikan, Revan terlihat sudah menunggu di meja yang ada di sisi kanan kasir. Tak seperti biasanya lelaki tampan itu kini terlihat santai dengan kaus, jins, dan sneakersnya. Bruk! Kamila sengaja menjatuhkan tasnya tepat di hadapan Revan yang membuat lelaki itu sempat terlonjak. Plop! Balon permen karetnya meletus bersamaan dengan bokong Kamila yang menyentuh kursi. Kemudian dia melepehnya dan membuang dalam asbak yang

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-23
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Baru Mengakui

    "Tidak, Kamila. Kami tak memiliki hubungan khusus semacam itu."Gelengan kepala diikuti senyum getir Revan sudah cukup membuktikan asumsi Kamila tentang hubungan spesial yang terjadi di antara mereka. "Bukannya sudah kubilang kalau hubungan kita hanya sebatas teman?Walaupun aku sering kali menunjukkan perhatian lebih, tapi Kalina tak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang spesial."Meskipun ekspresi yang ditunjukkan masih terkesan datar dan tenang, tapi cara Revan memalingkan pandangan dengan tangan terkepal sudah cukup membuktikan bahwa lelaki itu menyimpan perasaan terpendam pada Kalina. "Terus, anak siapa yang dikandung Kalina sebenarnya?" Kamila kembali pada pertanyaan yang sebelumnya, tanpa membahas lebih jauh tentang hubungan Revan dan saudara kembarnya. "Besar kemungkinan anak Wisnu, tapi kita masih belum bisa memastikan selama kebenaran itu tidak terucap dari mulut Kalina sendiri."Jdug! "Sial."Kamila membenturkan dahinya ke atas meja."Kenapa Kalina harus koma dengan

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-23
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Bukan Lawan Seimbang

    Kamila melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, saat menjejakkan kaki di ruang tengah. "Masih ada tiga jam sebelum keberangkatan. Waktunya bobo ca--"Byur! "Enak banget lo, ya. Keluyuran nggak bilang-bilang, pekerjaan rumah diabaikan. Makin hari makin ngelunjak kelakuannya."Kamila mengepalkan tangan kuat, dadanya naik turun sembari menatap tajam Yayang yang menyiramnya dengan air bekas rendaman pel dari lantai dua. "Apa lo liat-liat! Nggak terima? Mau ngelawan, berani lo sama gu--""Bangsat lo, Kuyang Dakjaaal!" teriak Kamila tak terelakkan. Mata Yayang melebar saat melihat Kamila melempar kedua sandal wedges-nya dan berlari cepat menghadang perempuan berambut pendek itu sesaat sebelum dia melarikan diri. "Aaargh!" Sekuat tenaga Yayang melakukan perlawanan walaupun Kamila jelas bukan tandingan. Dia tak berdaya dalam kukungan perempuan yang lebih dari empat tahun menjalani pelatihan fisik yang berat di STIN untuk bidang Agen. "Apa lo bilang tadi? Enak-enak keluyuran? Pe

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-23
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Waspada

    "Sebenarnya apa yang terjadi padamu setelah kecelakaan itu? Bagaimana bisa kamu berubah se-barbar ini hanya dalam waktu dua bulan?" tanya Wisnu sembari mengompres lebam kecil di sudut bibir dan dahi Kamila. "Semua orang bisa berubah. Kucing yang jinak juga bisa menggigit kalau ekornya diinjak," jawab Kamila datar. "Lagian kenapa kamu sok peduli, sih? Urusin aja, tuh si lakor yang tadi pagi kepanasan, karena diabaikan." Dia menepis tangan Wisnu yang berusaha memulihkan luka-luka di wajahnya. Wisnu menghela napas panjang."Untung saja tadi Yayang melakukan perlawanan, kalau tidak sudah pasti kamu bisa dikenai tuntunan penganiayaan. Dilihat dari luka yang lebih banyak dia dapatkan, jelas kamu bukan tandingannya." Wisnu sengaja mengalihkan pembicaraan, karena bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang Yuna sekarang. "Jelas. Dia memang nggak ada apa-apanya selain bacot yang dibanyakin," cetus Kamila sembari beranjak dari ranjang dan mengeluarkan koper kecil dari dalam lemari. "Gara-g

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-23
  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Perubahan Rencana

    "Ngapain?" tanya Kamila setengah terpekik. "Kalau kamu takut aku ngadu, itu cuma becanda sumpah.""Aku tahu," potong Wisnu. "Lagi pula kamu bukan orang yang seperti itu.""Terus kenapa mau ikut? Kalau kamu ikut yang ngelonin si lakor siap--"Brak! Kamila terlonjak saat Wisnu tiba-tiba memukul lemari yang ada di belakang mereka sampai benda setinggi dua setengah meter itu bergoyang dibuatnya. "Berhenti membahas Yuna saat kita hanya berdua! Aku tak suka." Wisnu menyudurkan Kamila dan mengukungnya di antara kedua tangan. "Memangnya kenapa kalau aku ingin mengunjungi mertuaku? Jangan membuatku semakin curiga karena kamu menolak permintaan kecil ini, Kalina!" Meskipun sempat terkesiap hingga menyebabkannya beberapa kali memejamkan mata, ternyata Kamila cukup pandai membalikkan situasi. "Fine!" pekiknya sembari menepis kedua lengan Wisnu. "Minta baik-baik nggak usah ngegas, kan, bisa?!"Wisnu menarik diri. "Lagi pula mereka juga tak akan mengizinkanmu pergi, kalau tidak denganku," sambu

    Terakhir Diperbarui : 2022-07-23

Bab terbaru

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Extra Part (3)

    "Loh, Papa." "Papa?""Uncle?""Wisnu, sejak kapan kamu berdiri di sana?"Barra yang lebih dulu sadar, berjalan mengampiri, diikuti Thea, Terra, dan terakhir Bu Dahlia. Kamila yang mendengar itu semua sontak langsung menendang Revan, lalu bangkit dan membenahi penampilan yang sejujurnya sudah tak bisa lagi terselamatkan."Wi-Wisnu.""Ma-maaf aku datang tanpa kabar. Soalnya sejak tadi ponselmu tak bisa dihubungi dan aku dengar dari Mama sedang ada acara di sini.""Ng, anu, nggak apa-apa, kok. Silakan duduk, ngobrol-ngobrol sama yang lain dulu. Aku ke atas sebentar, ya." Tanpa menunggu persetujuan dengan gerakan seribu bayangan, Kamila langsung berlari menuju kamar. Dan mengurung diri di sana.***Tok! Tok! Tok!"Mil, boleh aku masuk?" Di depan pintu kamar Kamila, Kalina berdiri. Sudah satu jam sejak pamit ke atas, dia masih belum kembali, hingga Kalina inisiatif menghampiri."Masuk aja, Kal. Nggak dikunci." Teriakan Kamila terdengar dari dalam, perlahan Kalina membuka pintu, lalu meng

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Extra Part (2)

    "Hatchiiim."Dari arah kamar terdengar suara bersin keras, hingga membuat orang-orang yang akhir pekan ini sedang berkumpul di rumah besar itu terlonjak kaget."Kak, are you, okay?" Kepala Cici menyembul dari arah pintu."Ya, aku nggak apa-apa. Biasanya kalau tiba-tiba bersin kayak gini, pasti ada yang ngomongin," tuturnya sembari melempar selembar tisu yang sudah digunakan ke tempat sampah.Cici manggut-manggut, lalu berjalan menghampiri ke kamar. "Btw tumben rapi banget hari ini, nggak mungkin kalau cuma sekedar reuni keluarga Kak Mila sampai dandan cantik begini. Rambut digerai, pake dress tanpa lengan, heels lima senti.""Sshhh ... hari ini aku ada janji, jadi tolong wakilin jamu aja semua tamu, ya.""Ta--""Mil-- oh my God. Setan apa yang merasukimu hari ini, Mila?" Feri yang baru saja muncul terlihat membekap mulut melihat penampilan Kamila."Diem, lu, Fer. Komen sekali lagi gue gebok.""Nggak, nggak mungkin. Ini pasti bukan Kamila, ini pasti Kamile--hmmpt." Buru-buru Kamila mem

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Extra Part (1)

    "Bagaimana kabarmu?"Pertanyaan itu Wisnu ajukan sesaat setelah Kamila dan Barra duduk di hadapannya, di ruang Head Teachers."Ba-baik." Entah kenapa afmosfer yang tercipta di antara keduanya terasa kikuk dan canggung. Sementara Barra yang duduk di tengah-tengah mereka malah sibuk memindai ekspresi dari tante dan ayah kandungnya itu."Jantung berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya, telapak tangan dingin, wajah pucat, bicara terbata-bata, terdeteksi salting. Reaksi ini biasa juga disebut dengan gugup." Barra meletakkan tangan di dada Kamila."Astaga Barra." Kamila memelotot sembari menepis tangan bocah tujuh tahun itu.Wisnu terkekeh pelan. "Maaf kalau aku membuat kalian tak nyaman." Lelaki itu sesekali menyentuh hidung dan menggaruk dahi."Gelagat itu menunjukkan kalau Papa yang justru nggak nyaman.""Hei, berhenti sembarangan baca emosi orang!" sentak Kamila kembali mengingatkan."Tapi kakek bilang mengenali ekspresi wajah merupakan cara penting untuk meraba apa yang dirasakan

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Memulai Hidup Baru

    Tujuh tahun kemudian ...."Bangun, Barra. Ini hari pertama kamu masuk sekolah! Seragam sama semua perlengkapan udah Mimi siapin. Jangan lupa sarapan juga. Ada nasi goreng di atas meja!"Kamila mengguncang tubuh bocah yang menggeliat panjang dalam selimut tebal, di atas ranjang berbentuk mobil-mobilan."Bentar lagi, Mi. Biasa juga sekolah internasional masuknya agak siang. Ini baru jam enam pagi, ya Tuhan.""Buset nih bocah. Siapa juga yang bilang kamu bakal masuk ke sekolah international? Yang ada kamu masuk swasta!"Mendengar kata sekolah swasta bocah berumur tujuh tahun itu langsung terlonjak dari tempatnya."Swasta? Seriously? Kita jauh-jauh pindah ke Jakarta cuma buat daftar di sekolah swasta!""Ya ampun, nih bocah nggak ada bersyukurnya. Udah untung kamu masuk sekolah swasta yang elite. Coba Mimi dulu, udah mah masuk negeri yang ikut program pemerintah, masih kudu bikin surat keterangan tidak mampu, biar nggak perlu bayar SPP lagi. Dah, ah. Buruan mandi! Atau mau langsung Mimi lu

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Tak Terpisahkan

    Orang bilang, level tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan. Entah itu mengikhlaskan dengan yang lain, atau yang lebih menyakitkan mengikhlaskannya pergi ke pangkuan Tuhan. Entah itu cinta antar pasangan, cinta antara anak dan orangtua, maupun cinta antar saudara.Tak ada rencana yang lebih sempurna selain takdir yang telah Tuhan gariskan. Bagaimana dua orang saudara kembar yang sudah berpisah selama lebih dari tiga puluh tahun kembali dipersatukan untuk membalas satu keluarga zalim yang merasa kekuasaan yang dimiliki mampu menutupi seberapa busuknya tingkah laku mereka, sampai lupa bahwa roda kehidupan itu berputar, dan dalam beberapa keyakinan karma itu nyata adanya.Kurang dari setahun, tepatnya delapan bulan, saudara kembar Kamila dan Kalina mampu mengantar kehancuran untuk Keluarga Wijaya. Keluarga konglomerat yang dikenal publik dengan berbagai prestasi, keluarga yang dikenal memiliki toleransi tinggi, serta kerukunan yang patut diacungi. Namun, siapa yang tahu di balik im

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Pergi dengan Damai

    Welcome Kalina Fathira Hartono dan Kamila Anindira Hartono.Tulisan besar dari karangan bunga yang khusus dipesan tergantung di lantai dua kediaman keluarga yang bisa dibilang terkaya di Kota Surabaya.Kamila membekap mulut sembari memeluk Dahiyang di pangkuan tangan.Tak pernah terpikir dalam benak Kamila sekalipun bahwa akhirnya dia sampai di posisi ini. Posisi yang selalu ibunya katakan suatu saat akan bisa dia daki. Roda yang selama ini berhenti berputar akhirnya menempatkan dia di sini. Ternyata masa depan yang selalu dia harapkan ekspekstasinya lebih dari yang mampu dia impikan.Orang-orang dengan setelan serba-hitam yang diketahui staf dan beberapa karyawan PT. Poltaris Jaya menyambut mereka. Berjejer di antara kolam pancuran yang membentang sepanjang pelataran. Bu Hilma terlihat berjalan mendorong kursi roda Pak Hari untuk menghampiri mereka. Dua buket bunga terlihat di pangkuannya.Kamila langsung berlari dan berhambur dalam pelukan ayahnya. Di belakang Kalina menyusul dengan

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Anggota Keluarga Lain

    Kalina terkekeh sesekali saat melihat Kamila yang terlihat begitu bersemangat pagi ini. Di dalam kamar tadi bahkan dia membongkar seisi lemari hanya untuk mencari pakaian terbaik yang bisa digunakan untuk acara hari ini. Menjadi bisnis women atau mengelola bisnis mungkin memang bukan passion Kamila. Namun, penegak hukum, aparat, serta badan inteligen adalah pekerjaan dan kecintaannya.alina tahu, meski tak mengatakannya Kamila pasti sangat ingin kembali. Walapun mustahil untuk kembali menjadi bagian dari BIN, setidaknya dia berharap bisa menjadi salah satu anggota kepolisian tak peduli apa pun tingkatnya."Mil?" Kalina meletakkan tangan di bahu Kamila yang nampak duduk tenang di kursinya menunggu panggilan."Ya?" Kamila menoleh antara gugup dan senang yang membuat Kalina agak tak tega untuk mengungkap kebenarannya. "Sebenarnya ...." Kalina sengaja mengulur-ulur waktu yang membuat dada saudaranya semakin berdegup kencang."Sebenarnya apa, sih, Kal? Buruan deg-degan el--""Kompol Warma

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Pamit

    Di atas pusara dengan nisan bertuliskan Zahira P. Putri itu, Kamila dan Kalina duduk bersimpuh. Meletakkan buket bunga di atas gundukan tanah yang sudah lama mengering dan dilindungi tembok marmer berpondasi kokoh.Kamila terlihat menuntun tangan saudara kembarnya untuk menyiram nisan dan sebagian tanah yang terlihat."Halo, Bu. Apa kabar? Sekarang Kamila nggak datang lagi sendiri, ada Kalina juga. Akhirnya, Bu. Kita bisa tumbuh jadi anak kebanggaan ibu. Baik-baik di Surga sana, ya. Salam sayang dan peluk cium dari kami." Kamila tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Merengkuh tubuh Kalina yang sudah lebih dulu terisak di sampingnya."Nggak apa, Kal. Yang penting ibu udah liat semuanya dari atas sana." Kamila meyakinkan saudaranya sembari menyeka air mata Kalina."Bagaimana rasanya pelukan ibu, Mil?" tanya Kalina lirih."Tentu saja lebih hangat dari pelukan ayah dan lebih berkesan daripada pelukan mantan.""Kamila." Kalina mengerucutkan bibir sembari mencubit pelan perut saudaranya."Dah

  • MENANTU yang DIREMEHKAN TERNYATA MERESAHKAN   Selebrasi

    "Apa-apaan ini? Masa merayakan kemenangan di Rumah Makan Padang?" Kamila menggerutu, sembari berkacak pinggang di depan sebuah rumah makan yang cukup besar di daerah setempat."Dah, terima kenyataan, Nya! Nyonya Kalina sama Pak Revan dah keseringan makan di resto bintang lima." Cici menepuk pundak Kamila, kemudian berlalu ke dalam."Tap-tapi aku juga dah keseringan makan di rumah Makan Padang. Bahkan sampe kolesterol dan mencret-mencret!" Kamila mengerucutkan bibir, menoleh menatap saudara kembarnya dan Revan yang baru saja turun dari dalam mobil."Aku janji, makan malam nanti kamu yang tentukan," sahut Kalina sembari tersenyum simpul."Seriously?" Bola mata bulat itu berbinar penuh harap."Iya. Harus berapa kali kubilang milikku, milikmu juga," tukas Kalina sembari merangkul bahu saudaranya."Resto Lavender, boleh? Ruang VIP yang view-nya macam di pelem-pelem bucin? Aku pernah ke sana, tapi cuma buat denger umpatan sampah para Wijaya Family." Kamila kembali mengerucutkan bibir."Iya

DMCA.com Protection Status