"Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Rain usai melerai tubuhnya.
"Masih biasa aja sih," sahut Kiran sambil menarik kursi untuk duduk suaminya.
"Masa sih? Bukannya kalo orang hamil biasanya suka mual-mual, pusing, sakit, bahkan katanya ada yang bertingkah laku aneh," ujar Rain duduk pada kursi yang sudah istrinya siapkan.
Kirani tersenyum. Baru kali ini dia mendengar suaminya berbicara panjang seperti itu. "Semoga aja aku hamilnya sehat-sehat saja."
Kirani lantas meraih plastik yang Rain bawa. Air liurnya seakan menetes melihat makanan yang ia idam-idamkan selama beberapa hari ini. Wanita berbaju tidur motif karakter Doraemon itu memindahkan asinan ke dalam dua piring. Dirinya menyodorkan pada sang suami.
Sebenarnya perut Rain masih sangat penuh. Karena tadi di Shila dia makan cukup banyak. Pasalnya masakan Bibik baginya juara.
Namun, demi meng
Kirani bangun kesiangan. Suaminya sudah tidak ada di tempatnya. Ke mana perginya?Kirani merenggankan otot. Dia merasa kepalanya cukup pusing. Ketika dia hendak bangkit tiba-tiba perutnya kembali bergejolak.Wanita itu langsung terbirit menuju kamar mandi. Dia muntah lagi. Bahkan sampai mengeluarkan cairan berwarna kuning yang rasanya amat pahit."Kenapa, Ran?" Suara sang suami terdengar di pintu."Gak tahu nih mual banget," jawab Kirani lemah.Dia membasuh mulutnya hingga bersih. Karena sih ada waktu untuk ibadah pagi, Kirani sekalian berwudhu. Ketika keluar, Rain sudah tidak ada lagi.Wanita itu menggelar sajadah sajadah walau waktu sudah mau pukul enam pagi. Tidak biasanya dia terlambat bangun seperti ini. Lebih anehnya tiba-tiba Kirani merasa tubuhnya tidak nyaman.Usai mengucap salam, Kirani melipat mukenanya. K
"Selamat ya, Ran." Akhirnya setelah mampu mengendalikan perasaan, bibir Shila mampu berucap kalimat demikian. Walau pun senyumnya terlihat begitu amat dipaksakan. Gadis itu menyelonongkan tangan. "Makasih banyak, Mit," balas Kirani bahagia. Dia yang biasa dekat dengan Shila langsung menjabat tangan mungil itu. Kirani juga memeluk sahabat akrabnya tersebut. Namun, wanita itu merasakan jika Mita hanya diam bergeming tanpa mau membalas dekapannya. "Ini tumben Kak Nathan main ke sini pagi, biasanya ada di sini pagi itu kalo nginep malemnya," ujar Kirani usai melepas pelukan. "Shila minta diantar ke sini. Penasaran dengan markas," sahut Nathan sedikit mengerling pada Shila. "Aduh ... dulu padahal udah sering banget aku ajak Mita mampir ke sini. Tapi dianya gak mau," tutur Kirani dengan tersenyum kecil. Shila hanya terdiam. Baginya jika dulu dia enggan ke markas demi bisa menghindari perasaan aneh yang mendera, yakni menyukai Rain. Ber
Setelah Kirani duduk, Rain membuka pintu mobil depan. Dirinya duduk berdampingan dengan Ayon yang pegang kemudi. Jam sibuk sudah berlalu. Sehingga Ayon tidak terjebak macet. Pria itu membawa bos dan istrinya ke rumah sakit terdekat di daerah Fatmawati.Hanya dua puluh menit berkendara, Ayon sudah bisa memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran rumah sakit. Ketiganya turun dari mobil. Rain dan Kirani berjalan menuju lobi. Sedangkan Ayon pergi mencari tempat tongkrongan yang asyik buat menunggu. Rain dan Kirani menuju loket untuk mengantri nomor antrian. Begitu dapat keduanya menuju poli kandungan. Beruntung karena poli Obgyn sedang tidak terlalu ramai. Sepuluh menit menanti, akhirnya nama Kirani pun dipanggil perawat. Pasangan suami istri itu masuk ke ruang praktek dokter. Kirani mendapatkan pemeriksaan dengan baik. Ternyata usia kandungan Ki
"Ngga, cari keberadaan Shila saat ini!" suruh Tama dengan menahan emosi."Mo ngapain?" Mata Ingga menyipit."Lu b*dek apa pura-pura b*go?" Mata Tama terbeliak lebar, "udah jelas gue butuh duit dari dia, pake nanya segala," ketusnya terlihat sekali geram."Tam, plis deh!" Ingga menatap sobat dengan lurus tanpa ada rasa takut. "Udah berapa kali gue bilang? Jangan grusa-grusu kek gitu! Bikin ancur segala planning kita. Terus juga yang ada Shila makin jauh sama kita," paparnya memperingatkan."Terus sekarang gimana? Barang gue berhasil digagalkan. Gue butuh duit," cerocos Tama menyugar rambutnya."Calm down, Beibz," bisik Ingga dengan sedikit meniup bagian belakang telinga Tama. Gadis itu tahu titik-titik terlemah sang pria. Dan itu cukup meredam emosi Tama yang sempat meledak-ledak barusan. "Biarkan Shila merampungkan kerjaannya dulu. Kalo sudah kembali ke Jakarta baru kita dekati.""Alaaah ... kelamaan!" sahut Tama tidak sabaran. Lelaki itu me
Walau begitu dia berusaha menekan suaranya selirih mungkin. Shila tidak ingin Kirani terbangun karenanya. Memalukan sekali jika sampai Kirani tahu kalo dirinya masih mengemis cinta suaminya."Kita dalam fase break saat kamu menghilang pergi, Shil. Itu sama aja kita lagi gak ada hubungan," jelas Rain mencoba tenang. Ada rasa bersalah saat melihat mata Shila berkaca-kaca lewat spion.Shila sendiri juga tetap menatap Rain lekat lewat spion. Dapat ia tangkap jika manik elang Rain mengandung keseriusan."Bertahun-tahun aku memang sangat menyesal atas menghilangnya kamu. Aku bahkan sempat berpikir tidak mau akan mengenal perempuan lain lagi selain kamu. Ternyata takdir berkata lain, Shila," tutur Rain hati-hati.Selain menjaga perasaan Shila, dia juga tidak mau pembicaran ini sampai terdengar oleh Kirani. Karena Rain tahu, istrinya pasti akan merasa bersalah karena telah menjadi penghalang suatu hubungan di masa lalu."Sebentar lagi aku akan menjad
Kirani tertegun melihat aksi dramatis dari sahabatnya. "Mita ....""Jangan sentuh aku!" tolak Shila ketika Kirani mengulurkan tangan. "Dan sekali lagi aku tekankan, jangan pernah panggil aku dengan nama Mita! Namaku adalah Shila," tegasnya dengan mendongak tajam."Kenapa jadi kekanak-kanakan begini, Shila?" tegur Rain terlihat kecewa, "Shila yang kukenal adalah seorang gadis yang berpikiran dewasa.""Mitaku juga seorang gadis yang selalu bersikap lemah lembut. Tidak pernah marah sekali pun terluka." Kirani ikut menambahkan.Berpegangan pada tangan Nathan yang terulur, Shila mencoba bangkit. " Manusia pasti punya batas kesabarannya, Kiran. Dan jujur aku cukup sakit hati karena telah dikhianati oleh kawan karib sendiri."Kirani terpaku. Dia tidak menyangka jika patah hati mampu merubah karakter seseorang. Melihat Shila berurai air mata, hatinya menjadi kacau.
Gadis itu meraih handuk. Shila mengeringkan badan. Karena lupa tidak membawa pakaian ganti, dirinya terpaksa memakai bajunya yang tadi. Shila pun lekas membuka pintu kamar mandi."Non Shila ditunggu teman-temannya di meja makan," kata Bibik begitu Shila keluar."Eum ... antarkan saja makanannya ke kamar aku ya, Bik!" suruh Shila pelan."Baik." Bibik mengangguk.Shila menderap langkah menuju kamar. Di meja makan dia melihat Rain tampak sibuk menyuruh sang istri untuk makan. Sementara Nathan langsung melambai padanya.Shila tidak menggubris lambaian itu. Dirinya terus mengarah ke kamarnya sendiri. Begitu masuk ternyata ponselnya tengah berdering. Ada nama Tama terpampang di layar. Pemuda itu melakukan panggilan video."Hai ... Sayang." Di seberang sana Tama langsung melambai begitu Shila mengangkat teleponnya.Shila se
"Mencintai suami orang itu dosanya besar. Sedangkan mencintai lajang seperti aku, halal," ujar Nathan tampak begitu serius.Sementara bagi Shila, pernyataan Nathan seperti tamparan keras baginya. Dia merasa terlalu menuruti keinginan hati yang salah, yakni memaksakan cinta dari suami orang. Bahkan statusnya suami kawan sendiri."Kenapa bengong? Lagi membenarkan omongan aku?"Tebakan jitu dari Nathan membuyarkan lamunan Shila. Gadis itu menipiskan bibir. Sedikit tersipu karena isi pikirannya mampu diterka oleh Nathan."Gaklah! Kamu ngomong apa sih?" Shila pura-pura sewot untuk mengalihkan perhatian."Kalo hati kecil kamu ngebenerin omongan aku, itu tandanya hati nuranimu masih hidup, Shil." Nathan berbicara dengan serius, "karena seorang wanita pasti tahu rasanya sakit hati jika suaminya direbut orang. Apalagi oleh orang yang dekat dengan kita."Sindiran telak dari Nathan membuat Shila terbungkam."Andai juga kamu berhasil memaks
Rain dan Kirani sendiri langsung menuju kamar. Sementara Iqbal memilih bergabung dengan teman-temannya di gazebo belakang rumah. Anak-anak sedang main gitar dan bakar-bakar."Aduuuh!" Kirani mengaduh saat memasuki kamar."Nendang lagi?" tanya Rain melihat istrinya mengernyit menahan nyeri. Pria itu membimbing Kirani duduk di tepi ranjang."Kayaknya gak nendang lagi, tapi lagi koprol deh," balas Kirani menyandarkan tubuhnya pada headbed.Rain tersenyum mendengar jawaban lucu sang istri. Mata menangkap ada pergerakan pada perut buncit istrinya. Tangannya tergerak untuk mengelus.Tidak puas mengelus, Rain ingin mengecup permukaan perut Kirani. Dirinya ingin mengajak calon bayinya berbincang. Namun, saat ia membuka baju atas, tangan istrinya mencegah."Kenapa?" tanya Rain bingung.Kirani menggeleng lemah. "Malu."
Lima bulan kemudian.Rain dan Nathan baru saja pulang dari kantor. Semenjak melamar Shila di rumah sakit dulu, Nathan memutuskan untuk tinggal di markas. Karena rasanya tidak etis jika harus seatap bersama Shila padahal keduanya belum sah. Walau pun ada si Bibik di antara mereka.Nathan dan Shila tidak segera melangsungkan pernikahan karena banyak banget agenda yang menunggu di depan mata. Di antaranya adalah menghadiri sidang kasusnya Ingga dan Tama. Baik Rain, Nathan, Shila, Kirani, dan Iqbal datang untuk memberikan kesaksian tentang kelakuan busuk sejoli itu.Setelah melewati beberapa kali sidang, akhirnya hakim memutuskan jika Tama dan Ingga dijatuhi vonis dua puluh tahun penjara. Keduanya divonis bersalah telah melakukan percobaan pembunuhan.Selain kasus, ada agenda lain yang membuat Nathan dan Shila menunda hari bahagia mereka yakni tentangpenyerahan aset. Shila sudah ditemukan. Rain dengan kesadaran diri menyerahkan hak milik gad
Shila tidak menjawab. Dia hanya menghambur pada dada yang terlapis baju khusus rumah sakit berwarna hijau tersebut. Gadis itu menyembunyikan wajahnya pada dada Nathan."Lho-lho ... kok udah main peluk-pelukan begini?"Tiba-tiba Rain datang sembarim merangkul pundak Kirani. Sementara tangan sang wanita memegang kue tart dengan beberapa lilin kecil. Lalu ada Ayon, Iqbal, Gadis, dan Ibu Sakina di belakang mereka. Melihat ada banyak orang yang masuk tentu saja Shila melerai pelukannya."Lho ... siapa yang ulang tahun, Ran?" tanya Shila bingung melihat kue yang dibawa istri sahabatnya itu."Kamu, Mit, eum maksud aku Shila." Kiran menjawab usai mendekati sahabatnya.Shila menyipit. Gadis itu tampak berpikir sejenak. Dia tengah mencoba mengingat sesuatu.Peristiwa terbenturnya kepala akibat pendorongan yang dilakukan Tama tempo hari membuat ingatan Shila sedikit demi sedikit kembali. Gadis itu memejam. Tiba-tiba kenangan akan sweet seve
"Eum ... kata dokter bayi kita ....""Apa?" potong Kirani tidak sabaran. Rain terdiam. Pria itu mendongak, lantas menarik napas perlahan. "Kak, jawab! Jangan buat aku mati penasaran!" Kirani mengguncang lengan suaminya. Ketakutan membuatnya super panik."Tenang, Kiran," pinta Rain pelan. Tangannya mengusap lembut rambut sang istri."Gimana aku bisa tenang kalo kamu lama ngejawabnya?" sergah Kirani kasar. Hal yang belum pernah ia lakukan selama hidup dengan Rain. "Aku inget banget, tadi siang perutku sakitnya kayak ditusuk-tusuk pisau. Aku ... aku takut dia gak selamat." Tangis Kirani pecah.Rain memeluk istrinya. "Husst ... gak ngomong yang buruk-buruk! Gak baik itu." Dia menasihati sang istri."Tapi, aku takut, Kak." Kirani merengek.Rain mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya. "Gak ada yang perlu ditakutkan, kamu hanya butuh bedrest total saja," terangnya kalem.Kirani menatap suaminya dengan serius. "Maksudnya bedrest aja b
Dia merasa ada banyak tangan yang meremas perutnya. Ketika rasa sakit itu kian menggigit, maka wanita itu akan mencengkeram kuat lengan Rain."Sabar, Sayang. Demi anak kita," ujar Rain lembut. "Tolong tambah kecepatan, Bal!" titah Rain panik."Iya, Bang. Ini juga ngebut kok," balas Iqbal di depan.Rain terus saja menyuruh Iqbal untuk menambah laju mobilnya. Apalagi saat dia merasa cengkeraman kuat dari sang istri. Hatinya benar-benar dilanda takut.Rain bahkan mengumpat kesal saat lampu merah menyala. Dia tidak tega mendengar suara kesakitan sang istri. Andai bisa diwakilkan, Rain memilih dia saja yang merasakan sakit itu.Akhirnya setelah melewati jalanan macet dan beberapa lampu merah, Iqbal telah berhasil mencapai parkiran rumah sakit. Pemuda itu membantu membukakan pintu mobil.Rain keluar dengan hati-hati. Dirinya membopong tubuh sang istri
Shila terus saja tersedu menangisi kondisi Nathan yang tidak sadarkan diri. Wanita itu takut jika Nathan tidak bangun lagi untuk selamanya. Kepedulian dan perhatian Nathan selama beberapa hari terakhir begitu membekas di hatinya. Sementara hari ini dengan mata kepalanya sendiri, Shila melihat kesungguhan dalam diri Nathan.Nathan begitu tulus menjaganya agar tidak lecet sedikit pun. Bahkan pemuda itu rela berkorban nyawa demi dirinya. Melihat itu mata hati Shila terbuka lebar.Sekarang gadis itu tidak meragukan lagi keseriusan ucapan Nathan. Dalam hati Shila bertekad jika nanti Nathan sembuh dia akan lekas menjawab ungkapan hati pemuda itu tempo hari.Tidak jauh dari Shila dan Nathan berdiri Kirani. Dia dan sang suami tengah menunggu kedatangan ambulans untuk mengangkut Nathan ke rumah sakit. Tadinya Rain akan membawanya pulang saat komplotan Tama berhasil dibekuk oleh Komandan Bumi dan pasukannya. Namun, Kirani menolak dengan dalih ingin menemani Sh
Tama memuntahkan isi pistolnya. Nathan sempat menghindar dengan melengoskan tubuh. Namun, timah panas tersebut tetap mengenai lengan atasnya."Nathaaan!" Shila dan Kirani menjerit bersamaan melihat bisep pemuda itu sudah berlumuran darah. Shila langsung memdekap Nathan.*Satu jam sebelum kejadian di apartemen Tama.Di rumah sakit, Ijong tengah menjenguk Iqbal. Keduanya tengah asyik berbincang. Sementara di brankar sebelahnya Gadis asyik bermain game di gadget untuk menghilangkan jenuh.Dalam hati, Gadis merutuk kedatangan Ijong. Karena moment mengobrolnya dengan Iqbal jadi tertunda. Apalagi kedua lelaki itu berbicara topik yang tidak dipahami oleh Gadis. Pokok tentang dunia bisnis dan mafia.Ketika tengah asyik berbincang, ponsel Ijong bergetar. Pemuda setengah gondrong itu melihat siapa yang menghubungi. Ternyata Ayon."Ada apa, Yon?" tany
Tama bergegas menarik Shila kembali begitu mendengar peringatan dari polisi. Dia menjadikan Shila sebagai tawanan. Pistol di tangannya ia arahkan pada kepala Shila.Tentu saja gadis itu ketakutan. Tubuh Shila sampai bergetar saking ngerinya. Bibirnya merintih takut.Didan pun memperlakukan Kirani sama seperti bosnya. Wanita itu ia sekap. Moncong senjatanya ia arahkan pada pelipis istri dari Rain.Berbeda dengan Shila yang gemetar ketakutan, Kirani terlihat sedikit tenang. Bukan karena dia berani. Namun, keadaan ini sudah pernah ia alami sebelumnya. Dia memilih diam sembari memikirkan jalan keluar."Sekali kami peringatkan untuk membuka pintu apartemen ini atau kami buka paksa!" Suara Kapten Bumi terdengar lebih keras doorbell interkom.Tama mendekat pintu. Lewat layar LCD tujuh inchi dia bisa melihat keadaan di luar. Ada Komandan Bumi berserta anak buahnya dan
Tangannya bergerak cepat menarik pistol dari dalam persembunyian. Gegas ia todongkan senjata tersebut pada Rain.Kirani yang ngeri memekik keras. Dia masih trauma dengan insiden beberapa bulan lalu yang merenggut nyawa bapaknya."Tetap tenang dan terus berada di belakang aku," ujar Rain memenangkan hati sang istri. Dia menggenggam kuat tangan Kirani."Tama, buka pintunyaaa!" Sementara di atas Shila terus berteriak dan menggedor pintu. "Taaam!"Teriakan keras dari Shila sedikit mengalihkan perhatian Tama. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rain. Ketika Tama tengah mendongak, tangannya langsung menampik senjata yang tengah dipegang oleh Tama.Senjata api itu terjatuh ke lantai. Tama terkesiap. Lagi-lagi Rain tidak melewatkan kesempatan. Kakinya bergerak cepat menendang perut Tama hingga lelaki itu terjatuh.Rain dengan sigap meraih pistol Tama dengan kakinya. Setelah dapat dia mengarahkan senjata tersebut pada Tama."Kiran, kamu kel