Beberapa kali Ezra berkedip menatap langit-langit kamarnya sebelum ia bangkit dari kasurnya yang terasa sangat nyaman. Ia merenggangkan kedua tangan sambil menggeliat.
“Sudah dua hari sejak kedatangannya … misi untuk regu medis mendadak sepi. Tapi karena itu aku bisa fokus menjaganya selama dua hari ini,” pikir Ezra.
Dia membuka pintu kamar yang tercium bau obat-obatan itu. Ia menatap tubuh gadis yang masih belum sadarkan diri sejak kali pertama dia ditemukan. Bahkan beberapa kali dia ragu apakah gadis itu akan sanggup bertahan melawan rasa sakit yang luar biasa itu.
“Seharusnya hari ini aku sudah tahu identitasmu. Hmmm … mungkin siang ini. Cepatlah bangun agar aku tahu kau akan dikemanakan!” ucap Ezra sambil memeriksa lengan Bian.
Tok tok tok!
“Tuan … Tuan Dio telah tiba!” ucap Aji.
“Aku harap dia punya berita gembira. Suruh dia menunggu terlebih dahulu! Aku akan bersiap-s
Ezra memutar bola matanya ke arah dinding pintu rumahnya. Ia bisa melihat Bian sedang mengintipnya dari balik dinding itu. Setelah menghela napas, ia pun melontarkan senyuman.“Sepertinya keadaanmu berkembang pesat. Kau sudah bisa berjalan normal ya?”Pandangan Ezra langsung teralihkan dengan kedatangan Aji di tempat itu. Aji tampak mendekat dan duduk sejajar dengan pria itu.“Kemaren tetua datang melihatnya. Mereka menanyakan beberapa hal pada gadis itu dan tak menemukan jawaban. Tetua juga berpesan agar setelah pulang agar Tuan menemui beliau.”Ezra mengangguk dan langsung melambaikan tangannya pada pria itu. Setelah kembali melirik gadis itu, Ezra segera berdiri dan kembali keluar dari rumahnya.“Bukannya kau baru pulang? Kenapa kau tidak beristirahat dahulu?” tanya tetua.“Karena saya mendengar jika tetua mengunjungi salah satu penghuni saya. Karena itu saya langsung bergerak ke sini.”
Suara gedoran pintu membuat Ezra mengerutkan keningnya pada dini hari itu.“Maaf Tuan, gadis itu tidak ada di kamarnya! Saya juga sudah mengecek seluruh perumahan ini,” ucap Aji.“Kau yakin?”Aji menganggukkan kepalanya.“Biarkan saja! Kembalilah bekerja!”Aji menunduk lalu melanjutkan pekerjaannya.Ezra kembali ke kasurnya. Ia kembali memejamkan mata untuk mengikuti keinginan rasa kantuknya. Sayangnya, pikirannya tak mengizinkannya untuk istirahat dengan tenang. Kepalanya seketika berdenyut hebat. Hatinya segera memaksa sang otak agar membuka mata dan segera mencari gadis itu.“Semenjak gadis itu tiba, pikiranku tidak bisa tenang. Kenapa aku harus mengejar dia? Jika dia pergi berarti dia memang menipuku’kan?” gerutu Ezra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Ia segera bangkit dan mencari pakaiannya. Tak lupa pula, dia mengenakan jubah untuk berjaga-jaga. Dia segera membuka pi
Ezra mengeluarkan sebuah cincin dengan permata putih dari sakunya. Ia pun menarik tangan kiri Bian dan memasangnya tepat pada jari manis gadis itu. Gadis itu hanya diam dan memandangi jarinya.“Ini bukan cincin pernikahan! Aku sudah meminta izin dengan para tetua untuk merahasiakan statusmu! Mulai sekarang … kau berstatus sebagai tunanganku. Ini hanya sebuah status biasa, kau tetap akan bekerja bersama juru masak di sini. Jika kau tanya sampai kapan … jawabannya sampai kau siap menjalani kehidupanmu sendiri,” jelas Ezra.“Sampai kapan pun, aku tidak akan menyerahkanmu pada perguruan wanita. Aku tidak ingin ada orang sepertimu masuk lagi,” sambungnya.Ezra pun melangkahkan kaki menjauhi Bian. Mereka pun mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ezra semakin sibuk dengan pekerjaannya yang terus berdatangan. Misi bahkan pelatihan medis untuk anak didiknya. Di sisi lain, dia juga sibuk mengajarkan ilmu bela diri pada murid
Ezra memperlihatkan ukiran yang terdapat di kipas milik Bian itu. Ukiran yang menuliskan sebuah tanggal kejadian. Tanggal yang tidak diketahui sejarahnya.“Usiaku sudah dua puluh dua tahun. Meski begitu … aku tetap tetua termuda di perguruan ini. Aku anggap ini sebagai tanggal lahirmu … aku penasaran berapa tahun usia kita terpaut. Tapi berdasarkan informasi seharusnya kau lima belasan,” terang Ezra.“Dengar … aku tidak bermaksud menjadikanmu sebagai petarung. Aku hanya mengajarimu ilmu dasar agar kau bisa melindungi dirimu sendiri. Aku harap kau tidak pernah membunuh satu pun manusia seumur hidup. Lari saja … jika masih bisa. Kecuali jika kau terdesak dan tidak ada pilihan lain … maka lindungilah dirimu apapun caranya. Ilmu yang kuajarkan padamu akan sedikit berbeda. Kau tidak akan mengikat kontrak ghaib … aku hanya akan menghubungkan tenagamu dengan senjata yang kuberikan nanti. Kuingatkan … senjatamu
Semua penghuni medis utara berkumpul di arena tarung. Semuanya bertanya-tanya apa yang terjadi hingga suara berisik yang tidak jelas terasa merisihkan telinga yang mendengarnya.Drap!Suasana seketika hening saat Ezra keluar dari pondok yang berada di pojok depan arena tarung. Ezra melirik setiap penghuni yang telah memasang telinga padanya.“Aku sengaja mengumpulkan kalian di sini, agar kalian bisa melihat kebenaran dari kabar burung yang terus beredar selama ini. Sebenarnya aku tidak ingin mengambil langkah kasar ini … karena itu sebelum terjadi yang tidak diinginkan … siapa pun … yang merasa telah mengganggu tamu istimewaku … segera tunjukkan diri kalian di hadapanku!” ucap Ezra.Seketika suasana kembali gaduh. Mereka saling mempertanyakan siapa pelaku dari kejadian yang ada dikabar burung itu.“Aku akan memberi kelonggaran! Kirimlah utusan kalian ke depan sini untuk mewakili permintaan maaf kalian!
Debaran jantung semakin tak terkendali saat Tetua Cabang mulai memasuki ruangan itu. Langkah kaki tegas yang menginjak lantai kayu semakin membuat keringatnya bercucuran.Kreet!Suara kursi bergeser.Deg! “Belen … aku yakin kau sudah tahu apa yang akan kau hadapi. Karena berdasarkan pengakuan saudaramu, kau yang memintanya untuk melakukan ini semua. Ada beberapa hukuman yang akan kau terima. Pertama, pengasingan kakakmu dan pembantunya. Lalu. Kedua, mengembalikanmu kepada perguruan wanita dan yang terakhir peringkatmu akan dicabut dan semua gelar istimewamu!” terang Ezra.Brak!Belen dan saudaranya langsung terududuk mendengar penjelasan Ezra. Mereka tahu hukuman yang mereka terima bukanlah hukuamn sembarang.“Aku akan mendengar pembelaan kalian!”“T-tuan … tak bisakah kau meringankan hukuman kami?&rd
“Tuan … kenapa tuan tidak berniat menjadikannya sebagai kesatria Lingkar Hitam? Bahkan tuan tidak mengajarinya medis, padahal dia tinggal di cabang medis.” tanya Dio.“Karena … yang dia butuhkan bukanlah hal semacam itu. Yang dia butuhkan adalah kepercayaan dirinya. Kau lihat sendiri’kan bagaimana hancurnya jiwanya? Bahkan … itu disaat dia tidak mengingat kejadian masa lalunya. Bagaimana seandainya dia mengingatnya? Pasti dia akan lebih hancur. Itu alasan aku lebih mengutamakan kesembuhan jiwanya terlebih dahulu.”**Brak!Bian tersungkur saat mencoba melarikan diri dari segerombol pria yang terus menerus menerornya.Krak!Semua pria itu terkejut ketika batang pohon yang digunakan Bian sebagai pegangannya untuk berdiri hancur setelah disentuhnya.“Sial … tenaganya tidak terkendali seperti itu! Bisa-bisa kita mati jika dia tidak bisa mengendalikan tenaganya!” ucap se
Semua seperti dugaanya. Baru saja dia menginjakkan kaki di gerbang kerajaan, dia merasakan aura yang berbeda di tempat itu. Semua kenangan yang terasa familiar terus berlarian dalam ingatannya. Semakin ia berjalan mendekati istana, semakin berat pula kakinya ingin melangkah. Tubuhnya terasa ingin berdiam diri dan mematung menyaksikan keramaian kerajaan itu.“Hei … kenapa kau berkeliaran dengan pakaian seperti ini? Kenapa kau memakai jubah dan menutup kepalamu dengan tudung? Pengelana pun punya aturan di tempat ini!” tanya seorang pria yang berseragam pengawal istana.“Sebaiknya kau ikut kami untuk pemeriksaan! Ayo!” pria yang lain mendorongnya dengan tongkat tombak yang dipegangnya.Bingung dengan apa yang terjadi, Bian memilih mengikuti arahan dari para penjaga itu.“Buka tudungmu! Ini ruang pemeriksaan!” perintah petugas yang lain.“Siapa dia?” tanya pria dengan seragam yang sedikit berbeda.
Syuut!Trang!Bian berhasil menangkis satu peluru yang hampir mengenainya. Ruangan itu tampak hening meskipun pasukan profesor telah bersiap-siap untuk pergi.“Dua? Tiga? Mereka hanya sedikit namun mereka menyebar dalam ruangan ini. Aku tidak tahu pasti di mana mereka. Yang bisa kulakukan adalah menunggu mereka menyerang,” pikir Bian.Profesor dan yang lain mulai bergerak.Trang!“Ketemu!”Wuush!Ngiiing!“Arrrgh!”Teriakan itu pun seketika berhenti.“Dia berniat mengejar mereka. Setidaknya itu bisa memperingatkan yang lain jika mereka lebih aman jika diam di tempat!”Syyut!Trang!“Arrgh!” Bian terduduk ketika salah satu peluru mengenai perut bagian bawahnya. Darahnya mulai mengalir deras.“Setidaknya aku menemukan satu dari mereka!”Wuush!“Arrrgh!”“Tinggal satu lagi. Aku harus mencarinya sebelum aku kehabisan darah. Di mana kau?” gerutunya. “Perasaanku mulai tidak tenang! Aku harap dia baik-baik saja!” pikir Alva.“Alva! Jangan melamun!” sorak Kevin.Dor!Suara pistol mulai kemba
Pulau Gati telah terlihat. Mereka mulai memenuhi pelabuhan yang tetap ramai seperti biasa.“Prof. Pulau ini memang memiliki banyak pelabuhan. Tetapi … melihat mereka yang sudah tahu dengan kedatangan kita. Bukannya hal yang mungkin jika mereka sudah melarikan diri atau pun mereka membunuh kita saat tiba?” bisik Alva.“Benar. Tetapi … lihatlah sekitar laut! Kapal-kapal itu bukan berlayar tanpa alasan. Mereka berpatroli dan mengepung pulau ini agar tidak ada yang melarikan diri.”“Lalu … kenapa mereka bisa menyerang kita kemaren?”“Itu karena kita sudah masuk wilayah dalam penjagaan. Maksudnya kita sudah masuk dalam sarang mereka, sedangkan para kapal hanya berjaga dalam jarak tertentu agar mereka tidak keluar. Mereka harus menjaga jarak agar tidak mudah diserang musuh. Kemungkinan besar, kemaren mereka masuk melalui penyusupan.”“Apa kalian semua tahu soal kapal penjaga itu?”“Tidak. Aku tidak percaya dengan anak buahku sekarang. Aku merasa salah satu dari teman-temanmu itu ada yang me
Angin laut mulai berhembus kencang. Dua kamar yang dipesan, satu untuk Bian dan satu untuk Alva dan Kevin secara bergantian. Cara terbaik untuk lebih menghemat uang, mengingat mereka masih harus menyewa satu kapal lagi. Namun, sebuah pertemuan yang tidak diduga. Alva kembali bertemu dengan rombongan sang profesor.“Kau … masih hidup?” tanya profesor yang melihat Bian diantara mereka.“Umurnya lebih panjang dari dugaan. Kenapa? Kalian hendak membunuhnya lagi? Jika iya, maka langkahi dulu mayatku!” terang Kevin memasang badan dengan nada tegasnya.“Kau … siapa?” tanya anggota yang lain.“Aku adalah orang yang mengobatinya setelah terjatuh dari tebing itu. Karena itu … aku tidak akan terima jika ada orang yang akan melukainya lagi!”Deg!“Sudahlah … kita tidak ada urusan lagi dengan Lingkar Hitam. Sekarang misi kita hanyalah Regu Venom,” terang profesor.“Kebetulan sekali Prof! Kami memang hendak ikut membantu penyerangan itu!” ucap Alva.“Dari mana kau tahu soal penyerangan itu?”“Seseo
Alva sedikit menenggak ludah lantaran jendral membicarakan soal Lingkar Hijau.“Tuan … apa anda mengetahui semua urusan istana?” tanya Kevin.“Beberapa. Terkadang mereka merahasiakannya dariku!”“Apa Tuan … tahu soal Ariana?” sambung Alva.“Tentu saja. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa ada untuknya. Saat pemindahan ke Rubi bahkan saat pengirimannya ke perbatasan … aku tidak tahu soal kebijakan itu karena aku sibuk mengurus daerah Timur. Tahu-tahu … dia sudah tidak ada di tempat. Saat aku ingin menjenguknya di Istana Rubi … aku dilarang keras oleh Petinggi. Karena itu … aku hanya bisa mengirim sedikit hadiah dariku melalui pelayan untuknya. Aku pun tidak tahu apa itu benar – benar tersampaikan padanya atau tidak.”“Bahkan anda tidak mengetahui soal pemindahan itu?”“Iya. Rasanya sedih, aku tidak tahu kenapa. Sepertinya mereka berniat menjauhkanku darinya. Padahal aku sangat menyayanginya. Meskipun banyak muncul gosip yang tidak mengenakkan, bagiku … aku sudah menga
Ting!Bian berhasil menangkis pedang yang hampir memenggal leher pangeran.Buk!Penyusup itu tertatih – tatih lantaran kakinya yang terasa amat nyeri. Alva dan Kevin pun segera keluar dan membantu mereka.“Alva! Anak itu!” panggil Bian.Alva menoleh dan melihat pangeran yang mulai memucat. Dia mendekat dan mengecek keadaannya.Sreet!Dia pun menyobek lengan baju pangeran yang telah berlumuran darah.“Membiru!” batinnya.Dia pun menoleh kesekitaran yang terlihat sepi.“Ck … keadaan seperti ini pun tidak ada medis yang berjaga?” gumamnya.“Aku harus memberikan pertolongan pertama padanya!” sambungnya.“Arrgh!”Anindira pun mulai terkena sayatan pedang.“Mereka hanya bertiga … tetapi menjadi sulit karena mereka pengguna racun meskipun memang satu lawan satu,” batin kevin.Dengan matanya yang mulai berkunang-kunang, Anindira tetap berusaha melihat pertarungan di sekitarnya. Musuh yang mulai mengabaikannya mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang yang lain.Matanya terbelalak saat mel
Semuanya langsung terfokus pada suara yang berasal dari tempat duduk sekitaran ratu. Pedang Ro telah menancap di langit-langit setelah dihadang oleh kipas Bian. Alva yang merupakan sasaran pedang itu seketika menjadi panas dingin setelah melihat kipas Bian yang menancap pada dinding batu. “Cerdik sekali Tuan Puteri! Sebaiknya jangan lakukan itu lagi! Jangan sembrono! Semua tempat ini dalam jangkauan kami!” gertak Kevin yang sebenarnya terkejut dengan kejadian itu. “Itu … karena kemampuannya! Kau sudah membunuhnya tadi! Dia menggunakan semacam sugesti pada Yang Mulia Ratu! Kami memang merubah sistem kerajaan semenjak pemerintahan Ratu Indriana. Kami memang mengasingkan Puteri Ariana karena kami takut ramalan itu benar. Kami hanya melakukan tugas kami untuk melindungi kerajaan!” “Ramalan ya! Sepertinya ramalan itu benar! Sebuah kebetulan! Dia datang kembali setelah enam tahun lamanya dengan kemampuannya yang tidak bisa dinalar oleh otak. Bagaimana menurutmu? Dia benar-benar datang unt
Srak!Drap!Dua ekor kuda kembali berpacu. Bedanya kini Bian menunggangi kuda yang sama bersama Kevin. Alva yang telah kembali normal telah mendengar semua cerita beberapa hari yang lalu. Malu dan bersalah, setidaknya itulah yang dia rasakan saat menatap mata Bian.“Maaf, aku tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika tubuhku berusaha melawan racun!”Itulah pembelaan yang dia katakan ketika tangan Bian mendadak dingin saat ia tarik agar mau mendengarnya berbicara. Sesudah itu, mereka masih belum ada bicara hingga saat ini.Canggung!“Aku penasaran siapa yang menyerang kita kemaren!” ucap Alva.“Sepertinya hanya perampok! Aku tidak menemukan apapun yang mencurigakan dari salah satu anggota mereka.”“Hmm … mereka hebat juga!”“Kuakui itu. Mungkin mereka mantan dari suatu perkumpulan!”“Ngomong-ngomong … kita akan masuk dari mana? Penjagaan di istana itu pasti sangat ketat!”“Aku sudah tahu jalan masuknya. Kita akan masuk dari Istana Rubi. Tempat itu sangat dekat dengan ruang kerja peting
Drap!Srak!Dua ekor kuda berlari dengan kencang ke arah ibu kota Kerajaan Amara. Tempat yang harus di tempuh selama tiga hari dengan berkuda tanpa halangan.“Kau benar – benar sudah tidak apa-apa?” tanya Alva.“Tentu saja, aku baik-baik saja. Perasaanku jauh lebih baik setelah memukulmu!”“Haa? Tidak terdengar seperti pujian untukku!” jawab Alva.“Yaa … setidaknya kau harus meningkatkan bentuk tubuhmu agar bisa bertahan dengan serangan mendadakku. Kulihat tanganmu membiru!”“Tak bisakah sedikit saja kau merasa berdosa padaku setelah melakukan hal itu?”“Kenapa? Kau sendiri yang memanasiku! Kau harus terima resikonya!”Alva hanya bisa tersenyum mengiyakan pernyataan Kevin yang benar.“Pinggangmu tidak sakit duduk menyamping begitu?” tanya Alva pada Bian.“Ini lebih baik!”“Alva, awas!” teriak Kevin.“Ngiiik!” Kuda yang mereka tunggangi sontak menukik. Dengan sigap Alva memeluk Bian dan memposisikannya agar tidak langsung terjatuh ke tanah.Trak!Kevin melepas anak panahnya ke tempat k
“Ternyata begini caramu memandangi nasib ya?” ejek Alva.Kevin hanya berdecak dan mengabaikannya.“Aku kira kau akan memilih balas dendam seperti sebelumnya!”Pria itu tampak terkejut dan memandangi Alva yang telah duduk di sampingnya.“Tidak ada yang memberitahuku. Aku hanya menebak ke mana kau pergi selama dua tahunan itu. ““Kenapa aku harus mencari jauh-jauh jika orang yang kucari ada di depan mata?” tanya Kevin dengan tatapannya yang tajam.“K-kau bercanda’kan?”Srak!Brak!“Uggh!” Alva terhempas jauh setelah berhasil menangkis serangan Kevin yang mendadak.“Sebaiknya kau jangan ikut campur!” gertak Kevin pada Bian yang hendak mendekat.“Sialan. Ternyata kau serius … baiklah jika itu maumu! Akan aku layani dengan serius!” ucap Alva riang.Syuut!Trak!Bian hanya bisa diam memandangi Alva dan Kevin saling beradu pukulan. Beberapa kali mereka saling terhempas akibat serangan bertenaga mereka. Dia pun berpindah ke atas pohon yang lebih teduh.Setelah tiga puluh menit berlalu, pertar